Showing posts with label movies. Show all posts
Showing posts with label movies. Show all posts

Friday, 13 September 2019

I left the studio after "Gundala" feeling confused and angry.

Friday, September 13, 2019 6

Malam itu, saya masuk ke studio bioskop yang menayangkan Gundala―film perdana dari rangkaian Jagat Bumilangit―dengan suasana hati biasa-biasa saja. Tanpa ekspektasi. Dua jam kemudian, setelah lampu bioskop kembali dinyalakan dan ending credit bergulir di layar, saya punya hasrat kuat untuk menjambak-jambak rambut sembari melolong. Saya marah. Sekaligus bingung. Sepanjang perjalanan pulang isi kepala saya masih kusut. Setiba di kosan, saya mandi dan beranjak tidur. Berharap di pagi hari emosi yang bergejolak di dalam diri sudah jauh lebih terkendali, dan saya bisa menyingkirkan hal-hal yang membuat Gundala terasa mengganjal. Ternyata, nggak juga. Keinginan untuk ngomel-ngomel masih tetap menggelora.

Saya marah. Saya frustrasi. Rasa marah dan frustrasi ini muncul karena berkali-kali, sepanjang duduk manis di hadapan layar lebar, saya harus berusaha menghibur diri dengan mengingatkan, "Ini baru film pertama dari satu semesta.. Masih banyak yang bisa diungkap di belakang" tiap kali kening berkerut karena dipertontonkan hal-hal mengundang tanda tanya. Tapi sampai kapan mau berlindung di balik tameng 'pembuka sebuah jagat sinema' ketika nyatanya memang Gundala tidak cukup solid dan koheren sebagai film mandiri?

I want to like this movie. Ooooh dear Lord I really do. The first thirty to forty-five minutes was incredibly fun to watch. But as a whole, Gundala to me ends up being something that I can't bear to watch for the second time. And yet at the same time I cannot hate Gundala because, let's face it and let's be real, when it's chopped up into many small shards, even I have my favorite parts. Here and there, it has glorious moments.


"Style over substance"―is what I think describes Gundala's problem in a nutshell. Namun sebelum saya memuntahkan kata demi kata sebagai pelampiasan uneg-uneg pribadi selaku penonton, ada baiknya kepingan-kepingan favorit dibeberkan lebih dulu. Supaya tulisan ini nggak sekadar sambat. Here we go. Also, please welcome: SPOILERS. Proceed only if you've seen this movie, or not minding good scenes being spoilt.

Favorite Piece #1: Masa Kanak-Kanak Sancaka

Bagian terfavorit sepanjang Gundala. Hands down. Interaksi Sancaka dengan tetangganya, dengan keluarganya, dengan anak-anak jalanan lainnya sangat jelas mengarahkan film ini mau ke mana. Meskipun yaa cukup bergelimangan dialog-dialog cheesy di sana-sini. Tapi masih bisa diampuni. Akting Muzakki Ramdhan sebagai Sancaka kecil juara banget. Clueless-nya dapet. Because sometimes life is too quick to keep up with and too much of a nonsense, yet despite your zero understanding, it goes on nonetheless. Adegan Sancaka kecil nendang rantang kiriman tetangga yang mengkhianati keluarganya sampai berserakan―untuk kemudian dipunguti lagi sisa-sisa makanannya dari tanah saking kelaparan sungguh luar biasa. Too stronk.

Sosok Sancaka di sini gamblang tergambar sebagai orang yang lahir dan tumbuh di tengah kemelaratan, sibuk bertahan hidup di tengah kerasnya dunia. Meskipun bapaknya punya semangat berkobar-kobar memperjuangkan keadilan dan peduli pada sesama, Sancaka sepanjang hidupnya justru digempur 'pelajaran' bahwa ikut campur urusan orang lain cuma bikin sengsara, yang dia alami sejak matinya sang ayah. Terus terang, pertanyaan yang muncul di paruh awal film sangat menarik: gimana ceritanya protagonis yang masa bodoh terhadap sekitarnya ini bisa jadi pahlawan?

Tolong siapapun yang bisa ketemu dek Muzakki Ramdhan, saya titip satu kekepan yang kenceng.

Bapaknya Sancaka yang mati dibacok oknum pas sibuk demo buruh.

Favorite Piece #2: Awang, the Best Shounen Boi

Gila. Gila, gila. Pertemuan Sancaka yang nyaris dikeroyok anak jalanan dengan Awang yang datang menolong (padahal aslinya paling malas nimbrung urusan orang lain) adalah personal highlight Gundala bagi saya. Keren banget. THAT ENTRANCE. THAT FUCKING HAIR FLIP. THAT STREET BRAWL SCENE WHICH LOOKED LIKE TAKEN STRAIGHT OUT OF MANGA PAGES, OR ANIME. Oooooooooh boy. I fell in love. Saya berbinar-binar di atas bangku penonton sepanjang durasi kemunculan Awang. Dari sekian banyak karakter yang nongol sepanjang Gundala, boleh dibilang Awang adalah sosok paling efektif. Peranan dia di hidup Sancaka sangat jelas. Awang tidak butuh monolog moralis yang bikin meringis untuk bikin penonton paham bahwa nilai-nilai pragmatis yang dia yakini kadang bertolak belakang dengan suara nurani.

Faris Fadjar you rock!!!! 

Favorite Piece #3: Style (especially when there is little to no substance needed)

Gundala ini film style-over-substance kan, ya. Banyakan fokus ke gaya daripada naruh perhatian ke cerita. Sehingga pada adegan-adegan atau frame yang memang nggak butuh-butuh banget esensi karena bergantung di camerawork atau pengemasan visual, hasilnya emang keren nampol. Butuh contoh? Ghazul disorot dari samping sehingga hanya siluet wajah yang tampak jelas. Anak-anak bekas asuhan Pengkor muncul satu per satu dan siap-siap berangkat bareng naik mobil dengan slow-motion. Those kind of cuts.

Gundala punya banyak visual highlight yang menunjukkan film ini memang punya budget dan para pembuatnya memiliki modal pengetahuan yang mumpuni perihal 'film language', serta bagaimana menonjolkan suatu hal melalui visual dan teknik pengambilan gambar. This is not necessarily a bad thing to flaunt about, really. Bisa menyajikan visual oke? Cool. It's a great thing for your eyes to enjoy. Setidaknya sampai para penonton tersadar betapa memprihatinkannya Gundala dari segi penceritaan.

Now, we're getting into the main course.
HERE COMES MY RANTS, FILLED WITH DISAPPOINTMENT.


Ultimate Problem: The writing. You know.. plot, pacing, storytelling. That.

Gusti Rabbi, pancen kudu nangis. Ambyar, cuk. Banyak suara-suara di media sosial yang menyuarakan perkara plot hole, tapi saya tidak setuju. Gimana mau ngomongin 'lubang' di alur kisah jika alurnya aja... ngalor-ngidul-ngetan-ngulon, semrawut, amburadul, seakan-akan film Gundala juga nggak ngerti mau menceritakan apa? Nggak tahu mau menuju ke mana selepas setengah jam (oke, anggep aja empat puluh lima menit) awal? Penceritaannya lompat-lompat ke sana dan kemari. Banyak hal-hal krusial yang hasil akhirnya kentang. Setengah matang. Gundala should be an origin story. And considering where he comes from, his background, his story should be grounded enough so the audience cares about it. Penonton seharusnya jadi bisa punya kepedulian terhadap Sancaka. Terhadap bagaimana dia akhirnya merasa terpanggil untuk membela mereka yang terpojok, meskipun bertahun-tahun hidup sibuk nyari aman sendiri. Nyari selamat sendiri. Ogah direpotkan oleh masalah orang lain. Namun film ini secara ajaib berhasil bikin saya makin lama makin masa bodoh terhadap protagonisnya. Protagonis, lho!

Momen besar yang menyebabkan Sancaka memutuskan aktif 'menolong orang' dan berhenti bersikap pasif nan apatis gagal dihadirkan. Tidak terasa. Tidak berbekas. Tidak ada hal yang membuat penonton mak dheg di bangku masing-masing dan terkesan dengan pilihan Sancaka. There is nothing at stake here. Padahal motivasi Sancaka untuk nggak mau tahu urusan orang sangat nyata: bapaknya mati dibunuh gara-gara memperjuangkan orang lain, ibunya hilang tiada kabar, dia jadi sebatang kara dan menggelandang sedari kecil. Tapi perkara apa yang berhasil bikin dia mau jadi pahlawan? Karena cetusan satpam senior pas nganterin copet menyerahkan diri? Karena Tara Basro kebetulan ngomong hal yang sama dengan almarhum bokapnya? Lah, ngapain dia harus tertohok sedemikian dalam terhadap kata-kata mereka? Emang mereka berdua siapanya Sancaka? Punya keterlibatan emosional sejauh apa? Lantas orang-orang pasar yang selalu dijadikan alasan Tara Basro mendesak partisipasi Sancaka to the level of guilt-tripping ini punya dampak pribadi apa bagi dia? Becoming superhero is a job that demands constant selflessness, yes, but the reason for that huge first step is almost always.. arguably selfish. Something, someone, or whatever immensely close to youPersonal. Yet I shall repeat: there is nothing at stake here.

And dear Lord, why is the storyline THIS convoluted???? Cerita Gundala rusuh banget sampai-sampai semua terasa seperti subplot, bahkan untuk kisah semendasar perjalanan―baik fisik maupun psikologis―Sancaka jadi Gundala. Which is immensely sad, because isn't the origin story of Gundala supposed to be the main body of this movie?


Saya juga mau bahas sedikit tentang Pengkor. Sure he is great villain, the one people should be careful about, or even fear. Pemaparan betapa menakutkannya Pengkor dengan memanfaatkan seorang anggota DPR muda tereksekusi dengan sangat, sangat, SANGAT bagus. Tensinya kece sumpah. Sang anggota dewan mempermalukan Pengkor di hadapan orang lain. Dia diingatkan kenapa sebaiknya tidak macam-macam terhadap Pengkor. Sepanjang perjalanan pulang, dia kepikiran dan diselimuti ketakutan, yang lalu berakhir dengan kematiannya. Anggota DPR tersebut terjun dari gedung apartemen akibat efek hipnosis anak buah Pengkor. Sepanjang satu kasus ini, ketegangan dan suspense yang dihadirkan benar-benar terjaga. The audience could actually sense the danger. Mantap.

Sayang, keemasan ini justru dirusak sendiri oleh film Gundala di penghujung film. Setelah terluka parah di showdown pamungkas dengan Sancaka―which was painfully anticlimactic and lukewarm at best, Pengkor sibuk bermonolog panjang memaparkan motivasinya menyebarluaskan serum amoral dan antidote palsu yang mana saya sama sekali nggak ngerti. Sekaligus nggak percaya. I don't buy his bullshit at all. Pengkor, sosok antagonis buruk rupa yang hidupnya susah lantaran jadi korban pembakaran, disiksa pengurus panti asuhan, dicibir, digunjing, dan disepelekan, saya pikir nggak punya urusan terhadap apakah rakyat pintar atau bodoh. Apakah generasi baru akan bisa membedakan hal baik dengan hal buruk atau tidak. Barangkali saya justru jauh lebih maklum dan paham jika alasan Pengkor menyebarkan serum berbahaya yang dampaknya bikin bayi terlahir cacat adalah―misalnya―keinginan agar orang lain merasakan yang dia alami. Hidup dipandang sebelah mata dan ditatap dengan raut aneh hanya gara-gara fisiknya rusak. Karena cacat. As petty as it is, at least such personal revenge is believable. Not everyone should be anything like Thanos whose 'selfless' ambition affects all living things, you know.


Lagipula ngapain sih konfliknya harus bawa-bawa rakyat dan DPR? Harus bawa-bawa masa depan generasi penerus bangsa? Pakai bawa-bawa keadilan sosial? Kejauhaaaan. Kegedeaaaan. Cannot relate, brothers and sisters. Pahlawannya bahkan baru di level berantem lawan preman perusuh dan pelaku pembakar pasar! Kostumnya masih makeshift dari benda-benda yang bisa didapet di Ace Hardware! Emang kenapa kalau secara kebetulan Sancaka hadir tepat waktu untuk nolong anggota DPR yang diserang pembunuh di perhentian kereta api? Apakah itu cukup kuat untuk bikin dia iya-iya aja saat dituntut turun tangan menangani masalah skala nasional? Apakah itu juga membuat Sancaka bisa dengan tenang pakai kostum baru yang secara terang-terangan dibilang bahwa dibiayai oleh uang rakyat?

I... don't think so.

Gundala is also unbelievably preachy. And ambitious. And pretentious. Andaikata saya nenggak alkohol tiap kali nongol ceramah moral lewat dialog, pas ending credit bergulir mungkin udah sukses jackpot di toilet bioskop. Saya bisa banget lho hidup tanpa harus menatap anggota DPR ngomong dengan muka memenuhi layar, "Apa itu amoral? Jadi LGBT?" atau bapak-bapak satpam tua ngomel, "Kalau gak peduli sesama, ngapain jadi manusia?" sambil naik motor butut saat dia berangkat nganter copet yang diuber warga ke pos polisi terdekat. Padahal nggak mustahil untuk bikin adegan-adegan bermuatan positif tanpa harus berulang kali, bertubi-tubi, melemparkan kalimat-kalimat yang seolah menuntut dilabeli 'PESAN MORAL' ke penonton. Then why going this route?


Kalau sampai sekarang masih nggak ada satu orang pun di lingkungan terdekat yang menepuk bahu Joko Anwar―atau barangkali hati nuraninya sendiri sudah terketuk―dan bilang, "Jok, mendingan lo rekrut penulis skenario film untuk proyekan Bumilangit ke depannya deh. Lo bisa fokus di penyutradaraan" demi perkembangan jagat sinema ini.. ya hehehe aja. Tenggelam dalam kubangan yes-man memang menyenangkan, kok.

To be fair, Joko Anwar is NOT necessarily a bad scriptwriter. However, I dare to say that Gundala is his most messy work in the last few years of his career. Joko Anwar's strong point, I think, is that he's good at smoothly elaborating simple story into a particular length. But first, the essence or the nucleus of such story must be 'small' enough, as proven in A Copy of My Mind or even Pengabdi SetanWhich isn't exactly the case with Gundala.

Saya udah cukup berpartisipasi dalam mencerahkan masa depan perfilman nasional di Indonesia apa belum nih, om Joko Anwar? Saya, seorang penonton semenjana, apakah telah menjelma jadi ahli skenario dadakan menurut om Joko?


Hingga Gundala rilis, jujur nih, tadinya saya termasuk salah satu dari orang-orang yang berprasangka baik terhadap bagaimana Joko Anwar menghadapi kritik. Khususnya yang disampaikan secara apik, jelas, dan terstruktur, syukur-syukur sopan. Kritik yang nggak sekadar ngomong "Apaan nih jelek" doang, baik itu dilakukan oleh penonton maupun sesama pekerja dunia perfilman. Ternyata ya.. segitu-gitu aja. Hehehe.

z. d. imama

Friday, 2 August 2019

A very spoilery review of Meitantei Conan 23rd movie: Konjou no Fist

Friday, August 02, 2019 5

Bicara tentang film-film bioskop Meitantei Conan, entah sejak kapan―kayaknya sih mulai dari film keduabelas―segala pola, repetisi, hingga hal-hal ajaib yang muncul membuat perspektif saya dalam memandang film Conan berubah. Pindah genre. Jadi komedi. Sehingga, alih-alih kesal atau gondok saat berhadapan dengan adegan atau dialog yang dih-apaan-banget-anjir, saya menerima hal-hal itu sebagai sebuah lelucon. Conan dilempar keluar kabin pesawat oleh penjahat? Ahzek. Conan mendadak bisa menyanyikan suatu lagu secara pitch perfect padahal dia sejatinya paling buta nada? Bagooos. Conan naik skateboard dan sanggup mengimbangi kecepatan mobil sport yang sedang ngebut bahkan ngobrol dengan pengemudi mobilnya? Mantap gan.

It works wonder to me.

Sebagai penggemar veteran serial berkepanjangan ini, tentu saya tidak pernah melewatkan kesempatan nonton filmnya yang diboyong ODEX ke Cinemaxx dan CGV. Begitu pun dengan film terbaru tahun ini. Meitantei Conan: Konjou no Fist―yang dialihbahasakan menjadi Detective Conan: The Fist of Blue Sapphire―jelas wajib saya saksikan. Maklum, haus hiburan. Saya berangkat tanpa menyimak trailer maupun teaser sama sekali. Biar lebih greget. Woro-woro bahwa film ini berlatarkan di Marina Bay Sands, Singapura bikin saya makin antusias. Ekspektasi saya hanya satu: landmark populer milik negara tetangga itu jelas akan hancur berantakan. Luluh lantak jadi puing. Lemme witness!!

PERINGATAN:
Sebagaimana judul tulisan di atas, ulasan ini akan berhias screenshot dari trailer serta teaser clip, bertaburan spoiler dan komentar-komentar menyebalkan penuh rasa cinta, dedikasi, dan kasih sayang. Proceed only when such things are your kink. I mean, when you're into that stuffs. If that's your interest.

"Sudah siap? Pokoknya jangan di-salty-in yah!!!" - Kaito Kid.

Film dibuka dengan sebuah adegan pembunuhan yang terjadi terhadap cici-cici pengacara Singapura setelah dia ngobrol di restoran hotel dengan bapak-bapak dandy kumisan bernama Leon Lowe, dalam bahasa Inggris yang sama sekali nggak punya nuansa Singapura. Baik logat maupun struktur bahasanya. Where's the Singlish??? Gak riset gara-gara sibuk berkubang day job kayak Ika Natassa atau gimana nih?? Yaudah gapapa. Namun kemudian bom meledak di parkiran, orang-orang berhamburan panik, dan Merlion pun tiba-tiba muntah darah memancurkan air berwarna merah. Wow, mejik! Muncratnya ngegas banget, pula. Tapi tenang. Gak ada korban jiwa. Tujuan adegan tersebut akan terkuak di akhir cerita.. yang sebenernya tetep menggelikan.


Balik ke Jepang dulu. Conan merengek-rengek di hadapan Haibara Ai agar dikasih antidote sementara APTX4869 supaya dia bisa naik pesawat ke Singapura sebagai Kudo Shinichi, jalan-jalan bareng Suzuki Sonoko dan Mouri Ran yang mau nonton pertandingan karatenya Kyogoku Makoto. Adegan ini kian menyakinkan anggapan saya bahwa posisi Haibara Ai didegradasi secara drastis dari rekan a.k.a partner ke tukang obat at your convenience. Bedebah. Tentu saja, Ai nggak kasih. Good girl. Jangan mau diperalat seenaknya demi agenda pacaran Shinichi! Di perjalanan pulang dari rumah Profesor Agasa Hiroshi sambil bersungut-sungut, Conan malah bertemu Kaito Kid yang menyamar sebagai Ran, dan diculik.

Bangun-bangun udah di Singapura aja.
Di dalam sebuah koper besar yang terbuka di tengah-tengah ruang publik.
Lengkap dengan kulit sekujur tubuh mendadak jadi item keling. I shit you not.


Emejinggg.

KALIAN MEREMEHKAN CHANGI, YHA. MEREMEHKAN KEAMANAN BANDARA INTERNASIONAL? "Ya udah nanti kamu diselundupin aja masuk koper" adalah guyonan lawas yang sering dilontarkan saat ada orang ingin ikut bepergian jauh namun tak mampu, tapi saya tidak menyangka akan diamini film ini. Tatkala Kuroba Kaito alias Kaito Kid berargumen, menjelaskan kecanggihan dan kemutakhiran koper yang sanggup ngebawa Conan masuk Singapura, saya tidak bisa menahan geli. Mampu kasih suplai oksigen sampai 24 jam? Kebal scan X-ray di gerbang keamanan bandara? Yaelah, gan. Justru bakal dibuka langsung di tempat noh sama petugas.

Sepanjang di Singapura, Kaito menyamar sebagai Shinichi―pilihan bijak, sebab pada dasarnya muka mereka berdua sama―dan Conan harus sok ngaku-ngaku sebagai bocah lokal Singapura keturunan Jepang bernama Arthur Hirai yang ditinggal orang tuanya sehingga hidup sendirian. Iyain aja deh. Toh semua karakter di sana juga percaya-percaya wae. Saya mah kagak. Penduduk Singapura yang berkulit sawo matang bukannya biasanya keturunan India atau Melayu.. Tim produksi film ini tuh mikir apaaaa? Mereka sangka Singapura isinya kebanyakan siapaaaa? Manusia kecil yang diklaim separo Yaban separo bule gitu mana mungkin gosong. Duh Gusti. It's already hilariously funny and we're just at the beginning.

Lanjut cerita dari mana lagi, ya.

Masih inget pembunuhan yang menimpa cici-cici pengacara di paragraf atas? Masalah bermula lantaran ditemukannya kartu bersimbol Kaito Kid di TKP insiden tersebut. Berhubung sejatinya Kaito Kid nggak pernah merasa melakukan itu, makanya dia repot-repot pergi ke negara kecamatan dan ngegondol Conan biar nggak kesusahan menguak misteri seorang diri. Masa udah kena fitnah masih harus berjuang sendokiran. Kasihan atuh. Motivasi Kaito ke Singapura makin besar karena pertandingan karate yang diikuti Kyogoku Makoto ternyata memperebutkan sabuk juara berhias batu safir biru legendaris seharga dunia-akhirat. Mana mungkin dia nggak tertarik kan?

Makanya lain kali bikin trademark icon yang gak gampang ditiru orang

Conan dan Kaito pun bekerja sama. Berkenalan dengan sesosok polisi lokal berpangkat sepele ceremende yang konon, kalau saya nggak lupa-lupa ingat, mengajukan diri secara sukarela untuk mengusut kasus pembunuhan sekaligus prospek pencurian batu safir oleh Kaito Kid. Namanya? Rishi Ramanathan. Gak ngerti sumpah siapa yang sok ngide bikin nama-nama karakter. Sama seperti Conan―eh, maksudnya Arthur―, kulit Rishi item keling sebadan-badan. Sipit juga iya. Bahkan matanya emang merem terus di mayoritas durasi film. Jujur aja penampakan Rishi ibarat anak haram Amuro Tooru dan Okiya Subaru. Hasil percampuradukan yang kualitasnya tidak lulus batas tuntas. Tapi biar desainnya ancur begitu, minimal Rishi banyak berjasa membeberkan semua informasi yang dia ketahui ke Conan, Kaito, serta tentu saja Mouri Kogoro.

Ternyata selain koaya roaya bermandikan harta, Leon Lowe juga anggota kepolisian Singapura. Khususnya sebagai ahli psikologi kriminal. Sabuk turnamen karate berada dalam pengawasan dia, dan bak Suzuki Jirokichi, Leon mengandalkan teknologi supercanggih yang seolah gak peduli berapa duit pas bikin sistemnya demi ngejagain batu permata dari tangan Kaito Kid. Saking ampuh dan cerdiknya perangkap Leon, Kaito nyaris terbunuh. Untung bisa kabur.

Semua tampak oke-oke aja.
Sampai Kaito dicegat Kyogoku Makoto yang mak jegagik nongol di pelataran gedung. Lari menyeruak dari balik kabut dan asap biar makin dramatis.



Sungguh strategi brilian, Pak Leon. Buat apa mengerahkan pengawasan polisi profesional dan ngabisin anggaran kalau tersedia bocah SMA overpowered yang secara sukarela bisa direkrut jadi tukang pukul? Cerdas. Groundbreaking. Saya salut!

Jiper dong Kaito pas lihat siapa lawan yang nongol di depannya. Kyogoku Makoto kan pokoknya dewa banget. Nggak pernah kalah di 400 pertandingan. Semua orang yang kepapar tinju saktinya langsung mental dalam sekali hantam. Terbang. Bagai anai-anai bertebaran. Detik-detik menjelang gepeng kena bogem mentah, nasib Kaito diselamatkan oleh benda bulat misterius yang berekor kayak sperma komet dan bercahaya terang yang melesat secepat kilat ke arah Makoto. Ulangi: BENDA BULAT. BERCAHAYA TERANG.  MELESAT CEPAT. YANG LANTAS DITINJU MAKOTO SAMPAI PECAH BERANTAKAN.




Pada titik ini saya mengalami kesulitan bernapas. Kebanyakan terkekeh. Usut punya usut, benda bercahaya itu cuma bola sepak yang ditendang Conan dari atap bangunan di dekat TKP. Khan maen. Udah macem tendangan-tendangan khas komik Kapten Tsubasa. Namun seolah tidak mau kalah sangar, sepanjang durasi film ini penonton disuguhi kedahsyatan demi kedahsyatan karateka remaja yang terbukti sanggup mengalahkan Thanos dan Avengers sekaligus―minimal di box office.

  • Kyogoku Makoto menghajar segerombolan preman Singapura? Checked.
  • Kyogoku Makoto menghantam bola bercahaya hingga berkeping-keping? Checked.
  • Kyogoku Makoto berlari di tembok layaknya ninja? Checked.
  • Kyogoku Makoto berantem sampai menimbulkan kepulan debu? Checked.
  • KYOGOKU MAKOTO BISA MENGELUARKAN TINJU BERCAHAYA SAAT PERTARUNGAN PUNCAK???? CHECKED.

Widihhhh. Kacoooooo. Berasa nonton Prince of Tennis atau Dragon Ball, dah. Akan tetapi segala keajaiban ini bisa dimaklumi semuanya tanpa terkecuali karena ada kata 'Goku' dalam 'Kyogoku'. Saya ingatkan sekali lagi: ADA KATA 'GOKU' DALAM 'KYOGOKU'.


Leon Lowe yang sejak awal diposisikan seolah sebagai tokoh antagonis, penjahat, sekaligus otak di balik segala kekisruhan dan kerusuhan yang terjadi, ternyata memang demikian adanya. Jangan senang dulu. Penulis skenario Konjou no Fist tampaknya sama-sama terobsesi dengan plot twist, layaknya banyak penonton film bioskop di Indonesia, sehingga pada sepertiga―atau seperempat?―akhir cerita, dimunculin tuh sosok serigala berbulu domba dan bumbu pengkhianatan. Siapa lagi biang keroknya kalau bukan anak haram Amuro Tooru-Okiya Subaru Rishi Ramanathan sang polisi random. Mata yang sejak awal cuma digambar segaris alias sipit pun mendadak melek. Melotot lebar saat Rishi memaparkan backstory tragis penyebab dia punya tujuan balas dendam.

Terus terang, ceritanya panjang dan kusut banget. Bahkan ada kandidat juara turnamen yang motivasi untuk duel versus Makoto begitu besar, hingga mau-mau aja direkrut penjahat. Wow. Benar-benar suatu tekad tak tergoyahkan. Nothing makes sense here, and yet the movie desperately and pathetically try to convince and explain that there is a logical sense in everything, which makes the movie maneuvering sharply from a (hopefully) suspenseful, serious, and mysterious story to something ridiculous and very much full-on comedy. Apakah ceritanya bagus? Nggak. Jelek banget, malah. Apakah menghibur? Suangattt. Infinity level out of ten.

Seperti ekspektasi awal saya: Marina Bay Sands remuk redam. GARA-GARA DIRUDAL BAJAK LAUT. Plus, nyaris ditubruk kapal tanker nyasar. Saya jadi paham alasan iklan turisme Singapura ikut ditayangkan bersama film ini. Demi menyakinkan calon pengunjung bahwa kondisi negara kecamatan tersebut nggak seabsurd apa yang ditunjukkan di layar lebar.

Since there's only one truth, I will make my confession: I had a fair share of laughter, Edogawa Conan Arthur Hirai. Thanks a bunch from your veteran fan. It's been long overdue that you give me an appreciation badge for sticking up all these years. Through your shitty moment to your shittier ones.

z. d. imama

My other posts in 'A very spoilery review' series:
  1. Resident Evil: The Final Chapter
  2. The Maze Runner: The Death Cure

Sunday, 19 May 2019

"Perfect World" drama series is a redemption of its movie

Sunday, May 19, 2019 4

Setelah sebulan blog ini mengalami kegelapan―please don't make me explain anything―, saya akhirnya menemukan sesuatu yang ingin ditumpahkan uneg-unegnya secara panjang lebar. Desember 2018 lalu, pada event Japan Cinema Week yang ulasannya saya sampaikan dalam dua tahap (di sebelah sini dan sini), saya menonton Perfect World. Diadaptasi dari manga populer berjudul sama, film tersebut mengisahkan tentang kisah romansa seorang perempuan yang di dunia kerja bertemu lagi dengan kakak kelas gebetannya semasa SMA dalam kondisi duduk di atas kursi roda akibat kecelakaan semasa kuliah, dan sukses membuat saya menangis... saking frustrasi memikirkan betapa medioker karya ini. Padahal sudah bawa-bawa Sugisaki Hana, salah satu aktris muda favorit saya yang paling bisa dipercaya dalam berakting dibanding seangkatannya, sebagai protagonis. Itu pun filmnya gak ketolong. Sangat sulit untuk menikmati filmnya saking membosankan dan segalanya terasa berjalan sangat lambat. Heran.

Fast forward ke 2019, tepatnya musim semi, tampaknya ada sejumlah manusia-manusia yang gemes dengan kualitas film Perfect World dan memutuskan bikin ulang semuanya. Jajaran aktor dan aktris berbeda. Tim produksi berbeda. Bahkan medium berbeda, sebab kali ini Perfect World dihadirkan sebagai serial drama televisi. Saya hampir tidak mau nonton. Ternyata lumayan trauma juga sama filmnya, men. Tetapi setelah mempertimbangkan banyak hal.. sekaligus karena rupanya saya banyak waktu luang, tombol Play di laptop pun saya tekan. Adegan demi adegan bergulir.

WOW THIS IS ACTUALLY RATHER GOOD????

Kawana Tsugumi versi film bioskop (2018): Sugisaki Hana.

Kawana Tsugumi versi serial drama (2019): Yamamoto Mizuki

Thanks to enough screen time, so many happenings, backstories, and details are well-put in the drama series. While its movie counterpart is cliche scene after cliche scene along with equally cliche lines (and sometimes with "How the hell is this happening????" inward scream), the drama series fleshes out everything in between and ACTUALLY MAKES THINGS WORK. I haven't read the manga so I don't really know how they both compare with the highly-praised original material, but there are some small differences that I think the drama series gets them right.

  • Kawana Tsugumi dan Ayukawa Itsuki (Matsuzaka Tori) dikisahkan sebagai teman sekelas, alih-alih senior-junior SMA sebagaimana filmnya
Saya curiga kalau versi film pasti diubah dari manga karena emang maksain mau nampilin Iwata Takanori dan Sugisaki Hana sebagai protagonis, tapi mereka berdua jarak usianya cukup terlihat. This ex-classmate trope works wonders in this story because there is a particular closeness and familiarity built up, it makes exchanging banters and hangout invitations feel so much natural. Both characters are on a level ground instead of blind adoration of a junior to her senior. Interaksi Kawana dan Ayukawa versi serial drama sangat menyenangkan disimak, dan karakter Ayukawa dihidupkan sedemikian rupa oleh Matsuzaka Tori sampai-sampai saya kadang lupa kalau dia duduk di atas kursi roda. His personality is very much apparent and it comes forward beautifully and if this doesn't mean justice to any handicapped people out there in real life then I don't know what does. Umur masing-masing tokoh utama yang digambarkan sudah mencapai (atau hampir) 30 tahun pun membuat banyak hal lebih masuk akal, khususnya realita bahwa adulting is hard. Huhuhu.

Menikmati pemandangan sakura di atas bukit: Perfect World drama series (2019)

  • Relasi keluarga dan sosial yang bisa dipercaya.
I really like how social interaction in the drama series turns out. Masing-masing punya keluarga, teman, rekan kerja, bahkan... mantan, dengan hubungan yang meyakinkan. Nggak bikin kita merasa "Ini masa di hidup mereka gak ada siapa-siapa sama sekali sih??" yang kadang justru tidak masuk akal. Bahkan ayah Tsugumi yang rajin menelepon demi ngogrek-ogrek anak perempuannya agar pulang kampung setiap pekan karena "Toh di perantauan kamu nggak dapet pacar dan kerjaan juga gitu-gitu aja" terasa sangat dekat dengan apa yang bisa terjadi pada kehidupan nyata. Well, okay, perhaps that's just me. But hey, we even get spectacles-wearing Seto Kouji as Koreeda Hirotaka, Tsugumi's best friend since school days, and that serves as cherry on top.


Pola hubungan antara Tsugumi dan Hirotaka sebenarnya sangat tidak asing: yang cowok sebenarnya naksir sejak lama tapi bertepuk sebelah tangan, dan yang cewek sama sekali tidak menyadari kalau ada yang naksir. A bit worn and overused trope, however, this series use that scenario rather wisely, as the second male lead can pull off the disruptive role without making us the audience pity him unnecessarily, or turning him into the 'villain'.

  • Overall color palette.. or scheme? Whatever you name it.
ITU LOH WARNA FILM SECARA KESELURUHAN. Apa sih namanya???? Perfect World versi film terasa dipaksakan agar tampak bubbly, dreamy, berasa dikasih dandanan berlapis-lapis filter Instagram. Cakep sih.. tapi lama-lama capek juga di mata kalau nggak berhenti-berhenti selama satu setengah jam durasi pemutaran film. Apalagi layar yang dipantengin segede gaban. Bandingkan dengan shot dari serial drama yang lebih.. biasa aja, nggak di-gloss over pakai apa-apa.

Adegan rumah sakit: Perfect World movie version (2018)

Adegan rumah sakit: Perfect World drama series version (2018)

In summary: this drama is a good redemption attempt of its movie counterpart. Walau bercerita tentang seseorang dengan keterbatasan fisik, Perfect World versi drama nggak berminat menjual menye-menye, dan sejauh empat episode yang sudah tayang sampai tulisan ini dibuat, saya rasa tim produksinya berhasil. Love does apply to everyone. No matter how, what, and who you are.

z. d. imama

Monday, 17 December 2018

Japan Cinema Week 2018: Movie Recap Part #2

Monday, December 17, 2018 4

Baru kali ini ada dua tulisan beruntun dengan opening image yang sama persis. Mohon maaf, saya cuma malas bikin dokumentasi sendiri, dikombo dengan rasa tidak percaya diri untuk foto-foto di lokasi. Barangkali terdengar agak kontradiktif mengingat saat Asian Games 2018 dan Asian Para Games 2018 lalu saya cukup banyak mengunggah foto pribadi, tapi ya emang gini orangnya. Musiman. Sakdhet-saknyet, kalau menurut istilah bahasa Jawa. Anyway, setelah pekan lalu saya menghabiskan dua hari penuh maraton setengah lusin film di Japan Cinema Week 2018 yang diselenggarakan di CGV Grand Indonesia, 7-16 Desember 2018, di tulisan paruh akhir ini jauh lebih toned down dan selow karena saya hanya membeli tiket penayangan dua film karena kebetulan banyak kegiatan kepentok keterbatasan dana.

Yuk mari dibahas.

Yoake Tsugeru Lu no Uta

(Lu Over the Wall)


Seorang siswa SMP penyendiri, Ashimoto Kai, yang hidup di desa terpencil bernama Hinashi bersama kakek dan ayahnya, menghabiskan waktu luang sehari-hari dengan bermain musik dan mengunggah rekaman permainannya ke internet. Suatu hari, akunnya ketahuan teman satu sekolah, Yuho dan Kunio. Mereka mengajak (setengah memaksa) Kai bergabung dalam band iseng-iseng yang dinamai Seiren. Ketiganya pun mulai berlatih diam-diam di Pulau Duyung yang dihindari warga desa lainnya. Ternyata, suara permainan musik mereka menarik perhatian seorang―atau seekor?―putri duyung kecil bernama Lu. Masalah muncul ketika sosok Lu terekspos di hadapan khalayak umum, sementara sejumlah penduduk punya kepercayaan bahwa duyung hanya akan mendatangkan bahaya bagi manusia.

Disutradarai oleh Yuuasa Masaki yang cukup populer di kalangan wibu pengguna Netflix lantaran Devilman Crybaby (meski sejatinya serial anime tersebut rilis belakangan dibandingkan film ini), dan screenplay yang ditulis Yoshida Reiko, Yoake Tsugeru Lu no Uta menghadirkan konsep animasi unik yang bikin bingung memutuskan: ini tuh jadul atau modern? Klasik atau groundbreaking? Tiap desain karakternya terlihat sangat hemat tarikan garis―nggak ada tuh helai-helai rambut njlimet atau kibaran baju digambar mendetil, namun rupanya sama sekali tidak mengurangi pesona filmnya. Yoake Tsugeru Lu no Uta adalah suatu karya yang sebaiknya disaksikan dengan mengosongkan bermacam standar animasi yang pernah kita ketahui dan cukup menikmati frame demi frame yang disuguhkan di hadapan mata. It was colorful, fascinatingly teetering between weird and charming at the same time for the whole 112 minutes.

Meski Yoake Tsugeru Lu no Uta menjuarai Annecy International Animated Film Awards di Prancis tahun 2017, faktor utama yang bikin saya kepengin menyaksikan film ini justru nama penulis skenarionya. Yoshida Reiko. She was the one who wrote the screenplay of my ultimate baper-inducing Koe no Katachi back in 2016. And apparently, one important fact that I only learned a couple weeks ago thanks to Wikipedia, she was also one of the scriptwriters for 1999's Digimon Adventure TV series. I shit you not.

DIGIMON. FREAKING. ADVENTURE.

Dengan kata lain: budhe Yoshida adalah salah satu terdakwa yang telah berjasa menjerumuskan saya ke dalam palung perwibuan dan tidak bisa keluar-keluar lagi. Mana mungkin saya nggak berbakti pada beliau lewat nonton kan?


Kamera wo Tomeruna!

(One Cut of the Dead)


Yassssssss. Akhirnya bisa juga nonton film yang heboh dibahas di media sosial, khususnya Twitter. Begitu keluar dari studio teater CGV Grand Indonesia 90 menit setelah penayangan dimulai, saya bener-bener ngerti rasa frustrasi teman-teman penonton yang kebelet ngebahas film ini tapi nggak bisa lantaran nyaris mustahil membicarakannya tanpa ngasih spoiler. I feel you, guys. Kacau lah film ini. Bedebah luar biasa. Gimana ya... pengin ngakak sekaligus mengumpat di setiap adegannya. Berhubung memang sengaja tidak mencari informasi apa pun tentang Kamera wo Tomeruna, semula saya pikir film ini modelnya kayak found footage gitu lho, macem REC (yang sama-sama tentang zombie apocalypse) atau The Blair Witch Project.

Boy, I've never been more wrong.

Peringatan tunggal yang mampu saya sampaikan mengenai Kamera wo Tomeruna sama persis seperti nasihat yang pernah dikatakan sesama penonton lain: apapun yang kalian rasakan atau pikirkan sepanjang 30 menit awal, TAHAN. Jangan ke mana-mana. HOLD YOUR POSITION. Walk out adalah keputusan paling tidak bijaksana yang mampu kalian lakukan dalam karir seumur hidup sebagai pemirsa film bioskop. Kesabaran akan berbuah manis. Percaya deh. Jika nggak yakin dengan opini pribadi saya, yakinlah pada opini segenap khalayak di luar sana yang sama-sama super terhibur.

It was a fun two weeks. Japan Cinema Week 2018 menghadirkan lebih banyak film dibanding 2017 lalu, padahal slot waktu yang tersedia sama-sama dua minggu. Nggak heran kalau masing-masing kebagian jatah jam tayang dua kali doang, yekan. Meski jumlah film yang menarik dominan jauh, sayang sekali tetap ada beberapa judul yang kayaknya bisa-bisa aja tuh digantikan oleh karya lain yang lebih oke. Misalnya Perfect World (sebagaimana tulisan sebelumnya). Kan mending ditukar apa kek... Laplace no Majo, Uso wo Aisuru Onna, Hitsuji to Hagane no Mori, atau malah blockbuster 2018: Code Blue The Movie. Huft. My wishful thinking.


z. d. imama

Monday, 10 December 2018

Japan Cinema Week 2018: Movie Recap Part #1

Monday, December 10, 2018 4

Desember. Memasuki penghujung 2018, akhirnya datang juga festival penayangan film-film Jepang yang selama ini rutin digelar tahun ke tahun di CGV Grand Indonesia, bahkan sejak namanya masih Blitz Megaplex. Acara yang kali ini bertajuk Japan Cinema Week (atau nama lokalnya: Pekan Sinema Jepang) resmi dibuka hari Jumat, 7 Desember 2018 dan akan berlangsung hingga Minggu, 16 Desember 2018. Rasanya seolah-olah acara ini diadakan untuk merayakan ulang tahun saya. Dasar kegedhen rumangsa. Kepedean kronis, memang. Anyway.. ada lebih dari 30 film produksi Jepang yang diboyong ke Indonesia untuk JCW, dengan tiket dijual cukup Rp25,000 saja per lembarnya. Sebagai manusia kurang hiburan, ingin bersenang-senang, namun keterbatasan uang, tentu saja saya tidak sudi melewatkan kesempatan emas ini. Tahun lalu, saya hanya sempat menyaksikan Yu wo Wakasu Hodo no Atsui Ai dan Shinobi no Kuni. Mumpung sekarang momennya pas dengan bulan kelahiran, saya sudah membulatkan tekad untuk menghabiskan sebanyak mungkin waktu di acara ini. Self-reward for staying alive. Splash that cash, bitch.

Akhir pekan kemarin saya benar-benar seharian menghabiskan waktu di CGV Grand Indonesia. Sitting through movie to movie. Demi meramaikan acara dan kewajiban moral selaku self-proclaimed #BudakYapan, lewat postingan ini saya mau berbagi ulasan serta kesan terhadap film-film yang telah ditonton pekan lalu. Ada beberapa film yang saya rasa wajib ditonton karena berbagai alasan, dan berhubung satu judul hanya mendapat jatah dua kali pemutaran, sayang aja gitu kalau nggak termanfaatkan.

Oke. Saatnya mulai nyerocos.
GAS POL!

Mary to Majo no Hana

(Mary and the Witch's Flower)

Karya debut Studio Ponoc, sebuah studio animasi kemarin sore yang baru mulai beroperasi tahun 2015. Melihat poster, typeface judul, desain karakter, dan berbagai hal sebelum masuk ruangan teater, saya tidak bisa berhenti berpikir: "Yakin nih, yang bikin 'Studio Ponoc'? Bukan Studio Ghibli? Apa jangan-jangan Ghibli re-branding?" dan rasanya tidak aneh jika saya menduga demikian. Belakangan saya tahu bahwa Nishimura Yoshiaki, pendiri Studio Ponoc, dulunya merupakan produser film di Studio Ghibli dan pernah menangani sejumlah karya besar seperti Howl no Ugoku Shiro, Kaguyahime no Monogatari, dan Omoide no Marnie. Bahkan sutradara, animator, serta staf yang mengerjakan film ini pun kebanyakan merupakan mantan staf Studio Ghibli. That very much explains why Mary to Majo no Hana really screams "Ghibli! Ghibli! Ghibli!" all over, from its mere appearance to the storytelling style.

Film berdurasi 103 menit ini mengisahkan petualangan Mary Smith (disuarakan oleh Sugisaki Hana sang Cahaya Asia), gadis kecil yang dititipkan di rumah kerabat jauhnya Bibi Charlotte yang terletak di pedesaan. Bosan setengah mati karena tidak punya teman bermain, suatu hari Mary mengejar kucing milik keluarga tetangga bibinya, Peter, masuk ke dalam hutan. Di sanalah dia mendapati bunga ajaib berkekuatan sihir. Masalah bermunculan karena ternyata bunga tersebut diburu selama bertahun-tahun oleh para penyihir, dan Mary pun harus membereskan semua hal yang berantakan akibat konsekuensi ulahnya.

This movie is fun. Sugisaki Hana does a good voice acting job: she manages to sound really annoying when she's supposed to be. Kamiki Ryunosuke as Peter is lovely, too. And I'll say it again: everything feels and looks like Studio Ghibli 2.0, only with less intriguing scenes. Jadi bagi yang demen nonton film-film dari Studio Ghibli pasti bakal bisa menikmati Mary to Majo no Hana. Satu-satunya perbedaan yang paling terasa adalah nyaris tidak ada adegan-adegan eerily fascinating a la Ghibli di tangan Miyazaki Hayao, seperti Kaonashi ngamuk ngabisin makanan sambil bagi-bagi emas di Sen to Chihiro no Kamikakushi, atau momen di Tonari no Totoro sewaktu Totoro menguap sehingga giginya yang segede roda mobil kelihatan berjajar.

*Next viewing: December 16, 2018 (Sunday). 13:30. 
Ghibli fans, go watch it.


Hachinen-goshi no Hanayome

(The 8 Year Engagement)


Drama romansa template di mana salah satu dari pasangan tokoh utama sakit dan keduanya harus melalui masa-masa sulit. Pengin nikah pun mau tidak mau jadi tertunda delapan tahun. Bicara tema cerita sih, sudah pasaran ya. Namun ada beberapa hal yang menyelamatkan Hachinen-goshi no Hanayome, membuatnya cukup menarik untuk ditonton walau masih tetap tidak menjadikannya terlalu istimewa di antara lautan cerita serupa. Chemistry antara Tsuchiya Tao sebagai Mai dan Sato Takeru selaku Hisashi tidak main-main, saudara sekalian. Nontonnya enak banget. Gemes. Manis tanpa bikin mabok gula. Udahlah kalian jadian beneran ajalah, saya merestui. Hachinen-goshi no Hanayome sangat layak jadi escape route orang-orang yang sejatinya menyukai cerita romansa bittersweet tapi paling nggak tahan ketika ada temen curhat berapi-api membagi kehidupan cintanya, "Eh eh dengerin dong masa cowok gue―!!"

I'm staring at my own reflection here.
#SadarDiri

Selain itu, siapa pun yang nyuruh Sato Takeru untuk potong cepak demi peran ini: you seriously deserved a raise. To date, I never really think of Sato Takeru as one of the 'pretty boys' like Miura Haruma or Okada Masaki. Gimana ya.. dia tuh 'keren' alih-alih 'ganteng' atau 'cowok cakep'. Sehingga tiap kali didandanin a la masyarakat pada umumnya efek yang ditimbulkan makin menggelegar karena rasanya nggak asing ada mas-mas berpenampilan macam itu di sekeliling. Duh. Memicu halu.

*Next viewing: December 15, 2018 (Saturday). 15:15.
Watch only if you're into this genre. Otherwise, you may pass this and there will be no regret. Bukan film yang harus dibela-belain nonton ketika kalian sama sekali tidak tertarik dengan kisah cinta berhias derita, kok. 


SUNNY: Tsuyoi Kimochi Tsuyoi Ai

(SUNNY: Our Hearts Beat Together)


Hidup Abe Nami (diperankan salah satu tante favorit saya, Shinohara Ryoko) sebagai ibu rumah tangga mulai terasa muram. Suaminya cuma peduli pada pekerjaan dan anak perempuan tunggalnya sedang masuk masa membangkang. Saat menjenguk ibunya di rumah sakit, tanpa sengaja Nami bertemu Ito Serika (Itaya Yuka) salah seorang sahabatnya di SMA yang juga dirawat inap karena menderita kanker kronis dan divonis dokter hanya punya sisa waktu hidup sebulan lagi. Kepada Nami, Serika minta tolong untuk mengumpulkan kembali anggota geng SMA mereka yang tercerai-berai selama 26 tahun lamanya.

Remake dari film Korea bertajuk sama yang dirilis 2011 lalu, SUNNY: Tsuyoi Kimochi Tsuyoi Ai berkhianat dari materi asli pada satu titik tema: zaman. Jika versi Korea berlatarkan present day versus Korea in 80s, adaptasi Jepang menyeret kita ke tahun 90-an di mana hampir semua cewek-cewek SMA jadi gal berseragam loose socks, rok pendek hasil digulung, sweater Ralph Lauren, dan pergi sekolah dengan wajah full makeup ngejreng warna-warni. Sepulang sekolah nongkrong di family restaurant atau kelayapan keliling Shibuya, Ikebukuro, Shinjuku, dan baru pulang malam hari. The time when Amuro Namie and TRF was the peak definition of cool, when Hamasaki Ayumi hadn't even debuted.

SO FUN SO GOOD

Meski nyaris segala detil plot setia mengikuti kisah asli versi Korea,  namun keputusan menggeser era remaja karakter-karakternya ke tahun 1990-an dan bukan 1980-an adalah hal terbaik. 1990s Japan was explosive. Rasa-rasanya SUNNY nggak bakal se-charming ini jika yang diangkat bukan tahun-tahun kejayaan cewek-cewek gal yang rusuh, komunal, dan berisik ampun-ampunan. Hirose Suzu yang ketiban sampur memerankan Abe Nami ABG juga tidak mengecewakan, namun bintang sesungguhnya dalam setiap adegan kilas balik masa muda justru Yamamoto Maika, portraying young leader of the gang Ito Serika. I've been watching her and for the last two years I can tell that she improved a lot.

*Next viewing: December 14, 2018 (Friday). 20:45. 
I'd say, catch this movie. Jam penayangan SUNNY selalu paling larut karena memang cukup banyak dialog eksplisit dan unsur kekerasan berupa bullying. Viewer discretion advised. Not for kids. Plis lah jangan jadi penonton nggak bertanggung jawab yang ngajakin anak-anak kecil menyaksikan film yang nggak sesuai usia mereka tapi lantas ngomel-ngomel sendiri ketika ada dialog-dialog relatif dewasa. 


Inori no Maku ga Oriru Toki

(The Crime That Binds)


Salah satu film terbaik yang masuk ke lineup Japan Cinema Week 2018. Diadaptasi dari novel seri tentang detektif polisi Kaga Kyoichiro karya novelis populer Higashino Keigo, Inori no Maku ga Oriru Toki sukses membuat saya (dan banyak orang di studio) sesenggukan di bangku masing-masing. Padahal saya sudah nonton lantaran DVD film ini belum lama rilis. Tapi ternyata ketika disajikan lewat layar lebar, efeknya tetap nampol. Ada sejumlah adegan yang bikin saya kesulitan bernapas saking nyeseknya. This story doesn't sugarcoat things; it tells everything as it is and that's what makes it so gripping. Dibandingkan film-film tentang Kaga Kyoichiro sebelumnya―Nemuri no Mori, Kirin no Tsubasa―, Inori no Maku ga Oriru Toki terbilang paling tepat dosis. Right amount of drama. Right amount of funny scenes for you to breathe. Right amount of suspense. Right amount of twists. Right timing of revelation. And every time you feel choked in your seat, it always comes naturally. Bisa dibilang, tema utama Inori no Maku ga Oriru Toki adalah cinta. Eksplorasi seberapa jauh kekuatan perasaan bisa menggerakkan manusia berbuat sesuatu. Sulit sekali ngomongin film ini tanpa ngasih spoiler. Jadinya yaaa kurang lebih segini saja potongan cerita yang bisa saya paparkan: 

Detektif polisi Kaga Kyoichiro (lagi-lagi dibawakan dengan apik nan karismatik oleh Abe Hiroshi) dan keponakannya, Matsumiya Shuhei (Mizobata Junpei), dihadapkan pada pembunuhan misterius yang mana pria tersangkanya sama sekali tidak ditemukan jejak. Penyelidikan nyaris buntu, tetapi rupanya kunci pemecah kasus tersebut ada pada sebuah benda yang diperoleh Kaga enam belas tahun silam.

*Next viewing: December 16, 2018 (Sunday). 15:45. 
WHAT ARE YOU WAITING FOR??? I swear to God, purchase your ticket and drag your ass to CGV Grand Indonesia. Nggak akan ada ruginya.


Teiichi no Kuni

(Teiichi: Battle of Supreme High)


Teiichi no Kuni bukan film baru kinyis-kinyis. School comedy masterpiece ini dirilis tahun 2017, dan terus terang saya sudah khatam menyaksikan via DVD-nya sejak sepertiga awal 2018. Saya betul-betul menikmati menit demi menit kegilaan yang mengalir lewat layar laptop pribadi. Bahkan saking sukanya, saya pernah mengunggah ulasan rekomendasi singkat lewat akun Twitter, tepatnya bulan Maret lalu di sebelah sini. Apakah masih dirasa penting untuk nonton di bioskop? YA. Apakah layar laptop atau televisi tidak cukup? NGGAK SAMA SEKALI. Holy hell, no. Teiichi no Kuni's exaggeration on everything is beyond hilarious and the power of big screen drastically multiplies the fun and craziness level. Seisi teater ngakak dan cekikikan tanpa terkontrol sepanjang durasi; you are guaranteed a lively movie experience.

Akaba Teiichi (Suda Masaki) berambisi menjadi Perdana Menteri Jepang, dan untuk mencapai cita-cita itu, dia harus memulai langkah awal sebagai ketua OSIS SMA Kaitei, sekolah prestisius yang dikenal telah mencetak satu demi satu politikus elit dan perdana menteri. Perjalanan Teiichi mewujudkan ambisi makin seru dengan kehadiran childhood rival licik Tougou Kikuma (Nomura Shuhei), anak beasiswa serba bisa dan sayang keluarga Ootaka Dan (Takeuchi Ryoma, yang tiap kali punggungnya disorot langsung bikin pening), senior demokratis Morizono Okuto (Chiba Yudai, Lord of Youthful Face), dan sahabat Teiichi yang rada feminin tapi ternyata teknisi handal selevel Profesor Agasa, Sakakibara Koumei (Shison Jun).

*Next viewing: December 13, 2018 (Thursday). 18:00. 
Salah satu penampilan tergoblok Suda Masaki―I say this in a very, very good way―dan terus terang saya tidak bisa membayangkan orang lain memerankan Akaba Teiichi. This role fits him like a glove. Grab your ticket and have tons of fun in there.


Perfect World: Kimi to Iru Kiseki


I'll be frank. Not even Sugisaki Hana could save this movie from its mediocrity. Mengisahkan perjalanan romansa Kawana Tsugumi (Sugisaki Hana) dan cinta pertamanya, senior populer semasa SMA, Ayukawa Itsuki (Iwata Takanori) yang kini harus menjalani hidup di atas kursi roda akibat kecelakaan fatal di tahun ketiga kuliah, Perfect World bisa-bisanya sama sekali tidak meninggalkan kesan apa-apa pada diri saya. Hachinen-goshi no Hanayome, meski nggak spesial, masih terasa lebih superior dibandingkan Perfect World. I have my fair share of mediocre romance movies and this one falls right in the sea. 102 menit belum pernah berasa selama ini. Lambaaaaaaaaat bukan main. Gimana ya, padahal kalau dipikir-pikir aktingnya Iwata Takanori, Suga Kenta, Oomasa Aya, dan jajaran pemeran pendukung lain pun nggak seburuk itu. Is this bad directing? Bad screenplay writing? Perhaps both? I can't say for sure. Not really my expertise.

*Next viewing: December 16, 2018 (Thursday). 13:30. 
Kecuali ingin numpang tidur di bioskop, atau punya duit maupun waktu luang kebanyakan, mendingan beli tiket film lain deh. Mary to Majo no Hana yang sudah dibahas di atas, misalnya. Jam pemutarannya kan barengan tuh. Maafkan saya, Sugisaki Hana. In my defense, Perfect World doesn't deserve you at all. Untung theme song "Perfect World" dari E-girls bagus. Ending credit-nya lebih menarik disimak daripada keseluruhan film. Lmaooo.


Siapa di antara kalian yang hendak―atau malah sudah―bergerilya di Japan Cinema Week juga? Ada rekomendasi film lain? Silakan berbagi di kolom komentar yah jika berkenan. Tulisan ini bersambung ke Part #2, yang bakal diunggah minggu depan!

z. d. imama

Thursday, 1 November 2018

"Rules are made to be broken", says Gintama 2. A rambling review.

Thursday, November 01, 2018 5

I just had to. Beberapa lama tidak ngoceh tentang film yang sedang diputar di bioskop, akhirnya saya putuskan menulis setelah berhadapan dengan Sakata Gintoki dan geng gabutnya semalam. Bless ODEX Indonesia for bringing this 2 hours and 45 minutes of goofball here. Gintama 2: Okite wa Yaburu Tame ni Koso Aru is arguably a notable improvement from the first movie. Far less cringe-worthy scenes; I can only remember one or two. Better paced. Better editing. Hampir tiga jam di dalam studio teater dan sama sekali nggak ada rasa bosen. 

Sebelum saya memuntahkan seluruh gejolak emosi jiwa tanpa struktur, mari kita bahas ringkasan cerita secara umum. Saya janji sebisa mungkin nggak akan ngebeberin spoiler. Penting maupun tidak penting. Oh, ya. Mumpung inget, mau disclaimer dulu: cuplikan gambar-gambar yang terlampir di bawah sumbernya adalah screencaps dari trailer dan promotional artworks Gintama 2 plus sejumlah adegan film perdana ya. 

So, let's start the fangirl rant.

Gintama 2: Okite wa Yaburu Tame ni Koso Aru.



Hidup selow Sakata Gintoki, cewek spesies alien superkuat Kagura, dan part-timer abal-abal Shimura Shinpachi sebagai Yorozuya (Jack-of-All-Trades) kali ini direcoki oleh permasalahan internal yang melanda aparat keamanan Edo, Shinsengumi, sejak kehadiran sesosok prajurit berkarir cemerlang, Ito Kamotaro. Usut punya usut, kisruh tersebut bertalian dengan konspirasi yang menyangkut keamanan serta keselamatan Shogun, dan seperti biasa, geng Yorozuya menemukan diri mereka terlibat dalam pertarungan orang lain.

The movie production team has made adjustments here and there, changing details and sewing parts from various places to build the story. And they've done it well. Not exactly perfect, but still believable. Bahkan saya yang baca manga plus nonton serial animenya secara religius tidak merasa terganggu babar blas dengan sejumlah perubahan yang dibuat. Selain itu, meski kostumnya aneh-aneh dan banyak karakter hadir dengan rambut warna-warni, Gintama mampu membuat penonton melihat tiap tokohnya sebagai individu. Tidak sekadar, "Oh si aktor Anu lagi akting sambil cosplay". Nggak kayak Fullmetal Alchemist live-action yang mending dibakar hangus aja.

Tim produksi Gintama memang keren abis. Mereka paham level kenistaan dan kerecehan lelucon-lelucon di materi asli berupa manga buatan Sorachi Hideaki. They never think about 'smarting things up'. Yet I guess they do learn from the first movie and its feedback; what worked and what didn't quite work. Masih inget betapa kampretnya adegan pembukaan Gintama live-action pertama? Oguri Shun muncul sendokiran sebagai Sakata Gintoki dan namanya ditulis berulang kali dalam berbagai bahasa dengan editing ala kadarnya―yang ternyata opening cut tersebut dibikin Oguri Shun sendiri atas permintaan tim produksi pakai komputer pribadi.




Tenang, kawan-kawan seperwibuanku. Adegan pembuka Gintama 2 tidak kalah menyebalkan. Tetap goblok sejak menit pertama. Barangkali jika diibaratkan... macem solat Idul Fitri atau Idul Adha gitu. Takbiratul ihram-nya banyak. Parodi dan guyonannya pun luar biasa. Gila. Gila. GILA. Kena semua. Nggak yang pop-culture lokal, nggak yang Hollywood, nggak yang tentang para pemerannya sendiri. Ledakan tawa penonton dalam studio nyaris nggak pernah berhenti. Sejak film pertama tuh saya sudah heran. Gimana ceritanya―sekaligus caranya―adegan model begini bisa lolos sensor maupun copyright infringement dan dirilis ke masyarakat umum? 

Kacau bat anjir.

One thing that amazes me the most is the production scale. Kelihatan banget bahwa Gintama memang bukan 'film ngirit'. Mereka berani bikin set skala besar bergelimang figuran demi meyakinkan penonton tentang suasana kehidupan kota Edo, distrik Kabuki. Ikut seneng lah ketika tahu Gintama 2 berhasil dapet keuntungan melampaui 3 milyar yen dalam waktu sebulan pemutaran film.


Pakai stuntman kayak Presiden Jokowi ngga neh he he he ~

Secara umum, Gintama 2: Okite wa Yaburu Tame ni Koso Aru bagi saya meraih predikat cum laude. 3.5 out of 4.00. Great casts. Nggak ada yang jaim sama sekali. Mau didandanin kayak apa, disuruh pasang muka segeblek apa, all of them delivered. Terutama Shogun, yang perjuangannya takkan mudah dilupakan. Convincing sets. Beautiful camera works and editing. Sumpah buanyak banget adegan-adegan cakep yang ketika DVD-nya rilis nanti bakal bikin saya mengalami screenshoot frenzy dan buat folder baru berisi skrinkepan film Gintama 2. Penggunaan CGI pun nggak ganggu-ganggu amat, walau saya masih tetap pada pendirian awal bahwa Jepang jauh lebih oke di wire work ketimbang efek grafis komputer. One more important thing to note: congratulations, Miura Haruma. You've done your redemption here as Ito Kamotaro. Siapa itu Eren Jaeger? Nggak pernah kenal. Cuih.

Jangan salah gaul lagi ya mas, kasihan karirmu.

However, Gintama is not without flaw. What's playing as its key strength, unfortunately, is also its greatest weakness: only those who have enough references and understanding on pop-culture (especially Japanese) can enjoy it best. Selain itu, kalau selera humor si penonton kurang tiarap.. ya mungkin agak sulit kena sih. Mentok-mentok komentar, "Ih ini apaan deh gak jelas amat. Gak nangkep di gue".

Sehingga? Silakan tes kadar kerecehan diri masing-masing dengan menyaksikan Gintama 2: Okite wa Yaburu Tame ni Koso Aru di cabang CGV atau Cinemaxx terdekat... yang memutarkan film ini. Saya aja mau kok misalkan diajak nonton lagi. Asal ditraktir. #Kode.

z. d. imama

Friday, 23 February 2018

Fullmetal Alchemist live-action movie should be burned into ashes by Roy Mustang

Friday, February 23, 2018 9

Belakangan blog ini makin wibu saja. Isinya pop culture Yapaaaan melulu. Tapi sudahlah. Apa boleh buat. Kali ini, saya mau menambah daftar konten wibu sembari living up to my self-proclaimed title: whiny blogger. Selamat datang di omelan berapi-api mengenai adaptasi film dari Hagane no Renkinjutsushi, alias Fullmetal Alchemist Live-Action Movie (2017) yang belum lama ini masuk Netflix sehingga bisa ditonton siapa saja. I should tell you from the start, that despite the scathing title of my post, this movie is arguably much better than Shingeki no Kyojin―okay, Attack on Titan―live action adaptation (2015) because thank god the movie didn't get made into TWO parts unlike that Titan rubbish. But even so, the lowest bar is so fucking low.

Sekadar informasi, saya sayang sekali dengan Fullmetal Alchemist. Baik itu serial komiknya, yang saya nobatkan sebagai "Most Unforgettable Shounen Manga" di sebelah sini, maupun adaptasi animasinya, Fullmetal Alchemist: Brotherhood (2009). Animasi versi tahun 2003 juga ada sih tapi B aja. Dilewat juga nggak ngefek. Terus terang saya sudah ketar-ketir saat mendengar pengumuman film live-action untuk Fullmetal Alchemist akan dibuat. Apalagi setelah diumumkan para pemerannya. Too many important characters are left out (they dared to let go of my precious Mustang Team!!!), and too many questionable choices of cast. And I worry about the time management, too. Fullmetal Alchemist is a very, very complex story, spanning about 64 episodes of anime series and 27 volumes of book. It's a given that the production team will cut here and there to make the storyline fits, or even creating several... uh, 'adjustments', but to what extent? 

Tombol Play saya tekan. Jantung berdegup kencang.

Transmutation Array yang digunakan para alkimia saat praktik.

Film dibuka dengan hamparan padang rumput, mengisahkan masa kecil kakak-beradik Edward dan Alphonse Elric ketika ibu mereka masih hidup. Akting ibunya kaku bener kayak kanebo kering. Yet the thing made me groaning in frustration already even if I'm only two minutes in was... the Elric brothers' eyebrows. I shit you not.

Siapa sih MUA-nya??? Sini saya ajak berantem???

Enam menit pertama habis dipakai memperlihatkan bagaimana Elric bersaudara melanggar larangan membangkitkan manusia yang sudah mati dengan alkimia. As a consequences of Law of Equivalent Exchange, Edward ended up losing some limbs and Alphonse lost his whole body, and his soul was bound to an armor suit by Edward using blood seal. Adegan persiapan melakukan proses transmutasi alkimia digambarkan dengan lumayan oke (karena film ini krisis hal bagus, maka jika ada hal yang bisa dipuji sebaiknya disampaikan) sebab Ed dan Al terlihat seperti dua bocah lagi bikin prakarya sekaligus mau ritual pemanggilan dedemit.




...and that was about it.

Not too pleasing CGI aside, the next scenes brought us to recent days. Edward Elric remaja (diperankan Hey! Say! JUMP's infamous pretty boy, Yamada Ryosuke) ditemani Alphonse dalam baju zirah sibuk bertarung melawan pendeta Cornello untuk mengambil cincin batu bertuah darinya. Ini udah melenceng dari plot komik maupun serial anime, sebab mendadak semua pemeran nongol satu per satu saat Cornello berupaya kabur. Adegan penangkapan berubah haluan ke sesi perkenalan.

Termasuk munculnya sniper junjungan saya, Riza Hawkeye (Renbutsu Misako), dan Kolonel Roy Mustang. My beloved Colonel Roy Mustang... portrayed by Fujioka Dean. Hadeh. Jadi gini ya. Fujioka Dean is cool, alright. Dia ganteng dan punya wibawa, cuma ya nggak sampai kelasnya Kolonel Mustang juga. Bagi saya, auranya cenderung menyerempet mas-mas Yapan kantoran yang sering saya temui di sekitaran SCBD. Versi berkali-kali lipat lebih cakep, tentu saja.


Fifteen minutes finally passed; I feel as though I am a century older already. A mish-mash of stuffs so whatever and I haven't been able to sense what this adaptation wants to convey. Namun rupanya itu belum apa-apa, sebab tidak lama kemudian di ruangan Kolonel Mustang hadirlah sesosok bapak-bapak mirip Soeharto yang tampak dihormati semua orang (termasuk Edward). The problem? His appearance doesn't even ring any bell.

PAKDHE??? WHO U AGAIN??

Oh, apparently he's supposed to be Major General Halcrow. Phew. Saya mengembuskan napas lega. If that man is King Bradley, the magnificent Fuhrer of Amestris... I swear to God, I'm gonna call the police for blasphemy. Asli.

Winry Rockbell yang diperankan Honda Tsubasa tidak terlalu mengecewakan. Sekaligus tidak punya keistimewaan. She's far less badass than her original characterizations and kinda 'simplified' into somebody who tags along without much thoughts, but she didn't especially tick me the wrong way. Saking banyaknya karakter dihapuskan (dan CGI untuk bikin sosok Alphonse mahal), Winry maupun tokoh-tokoh lain sering dilesakkan di bagian-bagian cerita yang mana semestinya mereka tidak ada. Sejumlah adegan tidak perlu justru ditambahkan demi screen time pemeran. Bukan pilihan bijak. Alur yang sudah mengkhawatirkan jadi makin bikin mengernyitkan dahi. Momen-momen penting terasa tawar. Less emotional.

But this movie surely gets me emotional. With rage.

Saya merasa butuh dipuk-puk juga seperti anjing(?)nya.

*Heavy sigh*

Fullmetal Alchemist Live-Action Movie didn't even bother to explain the origin of homunculi as the enemies, Mustang's ambitions and longtime relationship between him and Lieutenant Hawkeye, let alone the background story about Ishval and Central, and yet they chose to prolong unimportant scenes like Edward's and Winry's train journey. Somehow they also had the audacity to make Edward ask Roy to become 'someone with power'. Lah Ed lau sokaaaappppp???? Suruh-suruh Kolonel Mustang punya kuasa??? I wailed, literally pulling hair in front of my laptop. What a madness. This is such an ambitious attempt which fell flat on its face I can't even decide whether I should be having secondhand embarrassment or pure anger. Saya dari lubuk hati menyatakan belasungkawa kepada Hongo Kanata, udah tampil di Shingeki no Kyojin, eh sekarang nongol di film ini sebagai tokoh yang underdeveloped. He deserves much, much better.

Empat puluh menit terakhir benar-benar semrawut. I don't think you have to watch the anime series or read the manga to realize how disjointed the storyline is; how much plot holes it has so far. Berantakan banget. Hidup saya aja kalah. Wow, fantastic baby.


«« Hagane no Renkinjutsushi (Fullmetal Alchemist) live-action movie
GOOD POINTS:
  • Fujioka Dean. Not because of his Roy Mustang role, but for being there as "Fujioka Dean" wearing military uniform. I guess this clarifies it.
  • Rather okay portrayal of Edward Elric from Yamada Ryosuke. Penonton belum bisa sepenuhnya memandang dia sebagai 'Ed', aktingnya agak overkill di sejumlah adegan, namun tak ada hal-hal khusus yang perlu dicaci maki. Ibarat kelas kampus, dese masih lolos walau mepet-mepet KKM.
  • The set. Ya iyalah kece, syutingnya di Eropa...
  • Costume department. I shall repeat: costume department. Baju-bajunya cakep anjir. Apalagi baju Edward dan seragam militer tentara Amestris yang dipakai Kolonel Mustang plus rekan-rekannya. The attention to details is top-notch, it goes beyond parts we don't usually bother to look at. Berasa cosplay movie.


DISAPPOINTING POINTS:
  • The fact that this film is CGI-heavy, is a disappointment.
  • Unsalvageable storyline, topped with a mountain of plot holes.
  • Ketiadaan perkembangan karakter. Everyone is just... there. And doing things they're supposed to do. Penokohan ambyar. Multidimensional characters just as written by Arakawa Hiromu? Lmao. Keep dreaming. Tidak ada hal-hal yang menyebabkan penonton berempati. Bahkan konflik Edward dan Alphonse selaku saudara kandung terasa amat sangat nanggung.
  • Insufficient casts for such a grand story. Saya masih supersalty gara-gara tim Mustang dan sederet tokoh penting dihapuskan begitu saja padahal peranan mereka cukup penting.
  • A bunch of bad guys but no one's impressive enough to be considered as The Villain.
  • How Riza Hawkeye didn't get any spotlight. Sejak kasting pun kayaknya tim produksi film ini tidak menganggap mbak kesayangan saya sebagai karakter penting. What a pack of uncultured swines.

Shoot them down, sis.

That being said, Fullmetal Alchemist live-action movie mayyyy be still enjoyable for people who never got in touch with its original material... UNDER TERMS AND CONDITIONS that they will actually read the books or watch Fullmetal Alchemist: Brotherhood anime series. Pokoknya jangan sampai berhenti cuma nonton versi live-action. If you do that, I'll hunt you down, I'll find you, and I'll get you locked up inside a room until you finish reading the manga.

However if you ask me, in all honesty, I reckon that Roy Mustang should simply burn the whole movie down to ashes. He can save humanity that way. Let the flame go wild, Colonel. Wis film kui mending mbok obong wae.



Yes, Colonel. Exactly like that. 
Good job.

z. d. imama