Showing posts with label schoolpride. Show all posts
Showing posts with label schoolpride. Show all posts

Friday, 7 October 2016

On being Luna Lovegood-ish (and not Hermione)

Friday, October 07, 2016 10

EARLY WARNING: 
This is a long, long, rambling. So read it at your own risk.
___

Saya mulai membaca buku Harry Potter ketika kelas empat SD, berkat hadiah dari wali kelas. Ketika itu buku Harry Potter and the Order of the Phoenix baru saja diterbitkan oleh Gramedia. Saya menamatkannya dalam semalam, dan ketagihan. Ingin melengkapi seluruh serinya. Berhubung harga buku Harry Potter lumayan mahal untuk anak SD, saya pun menghabiskan seluruh angpau hadiah ranking pertama  yang saya terima dari om dan tante untuk memborong seluruh seri yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Iya, keluarga saya memang tidak mengenal istilah 'dibelikan orang tua' untuk masalah hobi. Jadi ya sejak kecil saya dibiasakan menyisihkan uang saku sendiri jika ada barang tertentu yang ingin saya miliki.

Saat masih kecil, saya beranggapan bahwa saya adalah Hermione Granger


Ini bukan masalah sok ngaku-ngaku atau gimana. I had my reasons. And of course, I didn't mean it literally. Boro-boro belajar ilmu sihir di Hogwarts, mentransfigurasi cangkir menjadi tikus sesuai instruksi Profesor McGonagall, realitanya saya belajar di sekolah dasar swasta Islam yang melarang siswa-siswinya membaca novel-novel Harry Potter karena dianggap menyesatkan umat. Oke. Tapi ya dasarnya saya punya bakat keras kepala, tetap saja nekat membaca (bahkan mengoleksi) dengan dalih klasik: "Bodo amat yee..."

Saya memang cuma seorang siswi SD normal yang satu-satunya pelajaran paling extraordinary adalah Life Skill, di mana murid-murid diajari sejumlah keterampilan hidup seperti bagaimana menyeterika baju, menjahit pakaian sobek atau kancing lepas, memasak beberapa menu sederhana, hingga membuat beberapa prakarya berguna seperti... kotak tisu atau sarung bantal. Namun meski begitu, orang-orang di sekeliling saya (baik saudara, tetangga, kawan-kawan orang tua, hingga para guru) selalu mengatakan bahwa saya adalah anak pandai, berbakat, dan berpotensi. And basically I was kind of close to being called "the brightest kid of her class", the same way Hogwarts professors called Hermione "the brightest witch of her age". So yeah. I started thinking of myself as a Muggle version of Hermione... lengkap dengan unsur kearifan lokal di sana-sini.


Saya bisa lancar membaca bahkan sebelum masuk Taman Kanak-Kanak (waktu itu kayaknya para orang tua belum seambisius sekarang, jadi playgroup dan PAUD belum heboh dan isinya paling main-main doang). Ayah dan ibu bahkan sempat disarankan kepala Taman Kanak-Kanak agar langsung mendaftarkan saya masuk SD saja. Esai-esai serta tugas-tugas mengarang saya selalu mendapatkan nilai tertinggi di sekolah, catatan pelajaran saya paling lengkap dan jadi langganan difotokopi khalayak umat satu kelas, dan guru kerap menunjuk saya untuk mengikuti lomba pidato, membuat cerpen, sinopsis, hingga resensi buku. Banyak orang mengatakan bahwa saya punya banyak potensi. Semasa kecil, saya tidak terlalu paham apa makna 'potensi', tapi kata itu terdengar bagus dan menyenangkan saat ditujukan pada saya.

Sama seperti Hermione, rambut saya ikal, berantakan, dan jelek―ini masih bertahan sampai sekarang. Buku adalah teman saya sebagaimana bola adalah temannya Ozora Tsubasa. Novel Harry Potter tidak pernah mendeskripsikan Hermione sebagai siswa yang cantik (meskipun kita semua tahu kalau Emma Watson cakep minta ampun), sehingga saya yang plain-looking at best ini juga tidak merasa kepedean karena telah mengidentifikasikan diri sendiri sebagai Hermione.


My value as a person came from my good grades. I was worth something because I was smart. Hey, I was a straight As student. My family financial condition did not allow me to find something else to excel at, so I excelled at school. No one told me that I had to get straight As for nearly every subject, but nevertheless I came up with that on my own. Or else, I would feel as if I had nothing to be defined as my 'strongest trait'.

Tapi kemudian saya menyadari sesuatu.

Memasuki masa remaja, posisi akademis saya tidak lagi di puncak. Being a member of an advanced class at school came together with its tough competition. Bukan berarti semua orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik (meski harus diakui ada sejumlah rekan sekelas yang sangat obsesif dengan peringkat tertinggi), namun saya makin disadarkan bahwa sekeliling saya adalah anak-anak yang sama pintarnya. They have their own strongest point, and their ability was seen by my school as something more special than mine. While I crafted my own stories or essays, wrote for school paper, and conducted the student magazine, my other classmates were called forward in weekly ceremony on Monday for winning a national science competitionIt came to my realization that I was not that specialBeing in the middle of the herd, was painful to admit at first. A gifted child growing up into a so-so teenager. Probably would end up as a mediocre adult. And hey, who are her friends again? Does she even have a circle or anything?

Saya, yang tidak menikmati nongkrong di kantin, mulai dilabeli "anak aneh" oleh sejumlah orang di lingkaran pergaulan. Teman-teman sekelas. Saya, yang menggemari hal-hal yang cenderung kurang dinikmati di kalangan kawan-kawan, berangsur kehilangan tempat di tengah-tengah mereka. Bahkan pernah, anak cowok yang saya taksir semasa abege nggak bersedia bicara langsung kepada saya karena katanya ilfil berat. Hahaha. I then realized that I was that "straight A student who fails to get along with her peers". I had no BFFs. I had no 'squad' like Taylor Swift. I had no particular person who spends much time by my side, like Harry or Ron, for whatever reason.

I was never Hermione Granger.

I was a kinda Luna Lovegood.

(For lack of a better comparison.)


Well, characteristically I might not as distinctive as her, but Luna was sorted into Ravenclaw by The Sorting Hat, and my entrance examination result put me into a class full with bright students. We are kind of an 'outcast' in our own peers. Sure both me and Luna had friends, but none of them were close enough; none of them could meet me on daily basis. I had good friends, but mostly, people would find me doing something alone.

It sounds pretty suck and lonely, I know.


But when I started thinking of myself like I think of Luna Lovegood, everything got better. Luna is just... being Luna. She embraces herself. She is smart; at least clever enough for Sorting Hat to put her into Ravenclaw. She has her own good points and she doesn't even need validation from someone else. Mungkin dia memang agak dihindari oleh teman-temannya, tapi Luna tidak pernah menyingkirkan atau menolak siapa pun yang menghampirinya. She is kind to everyone who's willing to get close to her.

Perhaps I can do that. I can try to just be myself. Mungkin saya bisa berusaha menerima diri sendiri apa adanya―which is suuuper hard and I think I'm still failing. Berusaha hidup tanpa terlalu peduli-peduli amat terhadap validasi dari lingkungan sekitar. Barangkali saya bisa melatih diri untuk selalu bersikap dan berbuat baik; minimal tidak menyusahkan orang lain. Rambut saya mungkin kusut dan jelek dan berantakan, selera berpakaian saya mungkin mengerikan, hal-hal yang saya sukai mungkin dianggap aneh atau kekanakan bagi sebagian orang. But I can always try to live my life genuinely.

Maybe Luna Lovegood is not that bad.

(And she didn't have to experience a torture from Bellatrix Lestrange.)

z. d. imama

Monday, 9 July 2012

Friday, 15 June 2012

start of my college days

Friday, June 15, 2012 0


opening picture gue troll banget deh, haha.
pasti banyak orang yang langsung ngeklik tombol silang merah di pojok kanan atas begitu ngebuka blog ini~
*brb nyembah biar pada gak kapok buat main ke sini*
*kayak ada orang yang ngebaca aja*
http://www.emocutez.com


well, bahwasanya saya yang (akhirnya) berhasil jadi maba juga ini sedang dilanda stres ala manusia di masa transisi. bawaannya tiap hari cuman pengen nyanyi" geje sambil muter" kepala gaya Tiga Macan. syukur" sambil bawa gitar biar keliatan lebih kece.
kayak gini: http://www.emocutez.com

*sejumlah orang kembali memencet tombol silang merah di pojok kanan atas*
*aku pun terdiam....*
*...dan membisul*
http://www.emocutez.com


aaaanyway,
sekarang ini aku lagi setengah pusing mikirin jadwal ospek.
atau sekarang nama bekennya di UI adalah OKK (Orientasi Kehidupan Kampus; not that i care about what that stands for, after all -___-).


tugasnya: die banget.
http://www.emocutez.com


ada tugas mandiri.
ada tugas kelompok.
ada seabrek aturan mengenai tugas kelompok.
dan yang jelas kayaknya bakal dibejek" sama kakak tingkat, karena temen gue (mantan seangkatan, tau sendirilah saya ini SMA empat tahun~ *mata menerawang*) dengan santainya bilang,

"kayaknya taun ini OKK kamu rada keras dikit deh, zul.
yaaah lebih keras dari jamanku lah. ini temen-temen aku pada excited banget bikin acara aneh soalnya, hihihi~"


...

oh. God. why.
http://www.emocutez.com


semoga gak mati gegara ospek,
z. d. imama

Saturday, 2 June 2012

the golden ticket called SNMPTN Undangan

Saturday, June 02, 2012 3

this is quite a serious entry.
hanya sekadar menyampaikan apa yang ada di kepala.
ini sebatas opini saya.

perasaan saya.
curhatan saya. http://www.emocutez.com

wanna know the trigger?
well, gegaranya di pelepasan siswa sekolah gue, sebanyak hampir seratus orang murid yang sudah mendapatkan kursi di kampus lewat SNMPTN Undangan diminta duduk di kursi barisan depan.

and, after hearing the sitting arrangements, some people shouted, “Boo!!”
untung waktu itu baru gladi resik, jadi yang denger hanya orang-orang sekolah aja, nggak ada orangtua atau wali murid (kecuali bagi anak yang orangtuanya jadi guru di sekolah gue).



honestly i felt a little offended.
lalu saya mendengar bisik-bisik semacam ini dari teman-teman yang duduk di kanan-kiri:

“kenapa sih duduknya harus dibedain?”

“padahal kita sudah susah-susah menghilangkan pembatas antara yang dapat Undangan dengan yang enggak…”

“sekolah nggak bisa biasa aja gitu, ya?”

….and some more similar whispers.


yang terlintas pertama di kepala saya:
“kok elo malah nyalahin pihak sekolah, sih?”
http://www.emocutez.com

tidakkah itu wajar jika suatu sekolah ingin menunjukkan pada wali murid dan orangtua bahwa ada nyaris seratus siswa yang sudah berhasil diterima kuliah?

tidakkah itu normal jika suatu sekolah ingin memberikan sedikit kebanggaan lebih terhadap orangtua dan wali murid siswa-siswi tersebut?



and if i may remind you, pals,
siswa-siswi yang diterima lewat SNMPTN Undangan tidak diistimewakan.
saya (alhamdulillah) termasuk murid yang sudah memperoleh kuliah via Undangan, dan saya diperlakukan biasa-biasa saja. tidak ada perlakuan khusus, no.

saat pelepasan siswa,
saya duduk di kursi yang mereknya sama.
dalam gedung yang sama sempit dan sama panasnya.
akan menerima rapor dan ijazah yang terbuat dari bahan yang sama.
sama halnya dengan teman-teman lain yang masih harus bersaing di SNMPTN Tulis.

saya hanya duduk sedikit lebih di depan.
itu saja.
http://www.emocutez.com


kenapa saat salat berjamaah kalian tidak meributkan siapa yang berhasil dapat shaf paling depan, tapi meributkan siapa yang duduk di depan sewaktu wisuda SMA?

kenapa kalian yang diterima lewat SNMPTN Undangan merasa telah menghilangkan pembatas? memangnya ada?

kenapa kalian, yang dengan hebat berusaha berjuang sekali lagi di SNMPTN Tulis,
menyoraki saat teman-teman yang lain diminta duduk di barisan depan?
merasa direndahkan? siapa yang merendahkan?



personally, aku tidak pernah merasa ada perbedaan antara mereka yang berhasil diterima SNMPTN Undangan, mendaftar di SNMPTN Undangan tapi tidak diterima, dan sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk ikut seleksi jalur Undangan. pun, aku tidak pernah merasa sudah bersikap dan berperilaku untuk menghilangkan pembatas antara golongan-golongan tersebut.

karena sebenarnya bagiku garis pemisah itu tidak ada. http://www.emocutez.com


bagi yang merasa sudah berpartisipasi untuk ‘meniadakan’ pembatas…
bagi yang merasa dibeda-bedakan hanya karena urutan duduk saat wisuda…
bagi yang merasa seharusnya sekolah bersikap ‘biasa saja’…
i’m sorry to say, tapi di mataku justru kamulah yang menciptakan pembatas itu sendiri.

http://www.emocutez.com
kamulah yang diskriminatif.


Tuhan Maha Adil, kawan.
tidak ada bedanya antara mereka yang lewat jalur SNMPTN Undangan dan SNMPTN Tulis.  tidak ada yang lebih hebat.

mungkin kalian, teman-teman pendaftar SNMPTN Tulis, sering dihibur—atau menghibur diri—dengan kata-kata indah,

“peserta SNMPTN Tulis yang berhasil diterima itu lebih hebat karena bisa mengalahkan ribuan peserta.”
http://www.emocutez.com

tapi bagiku nggak gitu juga, tuh.
selama tiga tahun di SMA (atau empat tahun untukku), peserta SNMPTN Undangan mati-matian berusaha tetap fokus pada urusan studi ditengah godaan hanging-out, kegiatan organisasi yang asyik, kenikmatan futsal, nonton film, pacaran, dan lain sebagainya.

mereka kerja keras (mungkin lebih keras dari yang lain) dalam jangka waktu lama sampai akhirnya berhasil memperoleh tiket emas untuk ikut Undangan. jika pada akhirnya ada yang tidak diterima dan harus ikut SNMPTN Tulis, bisa saja itu karena memang persaingan di jurusan yang mereka pilih terlalu ketat dan nilai dari sekolah kurang mencukupi.


tidakkah sudah semestinya,
teman-teman kalian yang berdarah-darah selama tiga tahun kini tinggal menyemangati kalian peserta SNMPTN Tulis?

tidakkah sudah semestinya,
kalian yang usahanya selama tiga tahun mungkin kalah dari yang lain, selama satu atau dua bulan banting tulang untuk meraih mimpi?


bagiku,
perbedaan yang kamu sebut-sebut itu tidak pernah ada.
jika kamu merasa dibedakan, mungkin masalahnya ada pada dirimu sendiri :)


stay original since the day i was born,
z. d. imama

(finally) graduated

Saturday, June 02, 2012 0


i know, i know. http://www.emocutez.com
this blog has been hibernating for quite a long time, and many people who used to read it began to wonder whether i’m still alive or not. dan bagi pihak-pihak yang berharap saya sudah tewas, well, sorry people, i am still breathing. evenly.

terus kenapa vakum ngeblog lama banget zul?
sederhana sekali jawabannya sodara-sodara:

saya. gak. punya. koneksi. internet. di rumah.
*joget chaiyya-chaiyya*
*iye, emang gue jadul, bawel amat sih lo*

sungguh menyedihkan. http://www.emocutez.com
saya nggak pernah bisa move on dari kondisi gue semasa exchange di jepang kalo menyangkut koneksi internet dan download speed -________- rempong banget gak sih kalau tiap mau apdet blog harus memboyong diri ke net café terdekat? makanya aku vakum.


anyway,
dengan entry ini aku mau memberikan sebuah pengumuman yang (harusnya) spesial:


wooohoooo~~!!!
        i graduated from high school!!  
FINALLY.
http://www.emocutez.com

akhirnya.
LULUS JUGAAAAH~!
*sebar konfeti di atap rumah tetangga*

penantian panjang ini akhirnya kelar, kawan.
ternyata SMA empat taun itu bener-bener ngetes kesabaran yah…
*lap keringet pake kanebo*

jadi, hasil Ujian Nasional sekaligus pengumuman kelulusan diberikan kemaren tanggal 26 bulan mei taun 2012. jujur aja hari itu berkesan banget di hati aku (WARNING: entry ini kemungkinan akan jadi sedikit menye -____-), gegaranya sebelum pengumuman, ada kayak semacem fashion show baju adat di auditorium—bilang aja AULA zul, sok elit bener deh lo—dan lomba nyanyi fales.

loh, kok? kok lomba nyanyi fales?

masalahnya yang nyanyi gak ada yang merdu sih
-__________-


banyak banget yang jerit-jerit di mikrofon pas nada tinggi.
banyak suara yang mblero karena salah ambil nada.
belum ditambah denging panjang mikrofon yang sering banget kejadian…
saya aja sampe nggak tega ngeliat ke panggung, dan akhirnya (sebelum kotoran kuping mengalir keluar bersama darah) buru-buru menyumbat telinga dengan earphone Sony Walkman.

maafin aku, teman-teman.
but, oh guys, seriously, apa kalian nggak pernah latian nyanyi apa gimana gitu di tempat karaoke? lantas apa gunanya RedBox? apa gunanya InulVista? kenapa suara kalian bisa ngalor-ngidul-ngetan-ngulon gini zzz
*berasa ratu karaoke*
*dibakar hidup-hidup*

bagian yang paling aku suka dari hari itu adalah:
flashmob session.
angkatan 2012 bikin flashmob di halaman tengah sekolah ~

unyu sekali :3
dan tentu saja sangat seru.
gue berasa jadi bintang iklan mizone dadakan, hahaha.
*dilempar botol sirup marjan*

dan dengan hari bahagia itu ikut datang sebuah berita mengejutkan.
not bad news, sih, but the timing was not right at all -___-
mendadak gue dapet sms dari temen yang terpercaya, plus link apdetan dari detikcom (iye, situs informasi yang beritanya suka gak penting dan dopost itu) yang mengatakan bahwa:

pengumuman SNMPTN Undangan dimajukan.
jadwal awal: 28 mei 2012
jadwal baru: 26 mei 2012, bisa diakses mulai pukul 17:00

*hening sejenak*
http://www.emocutez.com

oh. dear. god.
gue mau pingsan.
(oke ini lebay, tapi serius waktu itu aku gak mentally prepared sama sekali)


baru aja lulusan, udah harus siap-siap ngeliat pengumuman penerimaan kampus?
gue yang sejak pagi sampai sesi flashmob cengar-cengir langsung mendadak surem. bertapa. berdoa. bersemedi. komat-kamit berharap semoga SNMPTN Undanganku lolos.

kenapa?
kok segitu penginnya sih gue dapet Undangan?
habisnya… sejak kelar UN saya sama sekali tidak pernah menyentuh buku pelajaran, hihihi. gak kebayang kan gimana jadinya kalo harus ikut SNMPTN Tulis nanti -____- apalagi aku punya musuh berat, bos besar paling menakutkan yang gapengin kutemui:

matematika dasar.
http://www.emocutez.com
otak saya selalu lebih lemot dari yang lain jika menyangkut hitung-hitungan.


jadi bagi kalian, who can deal well enough with mathematics, saya sarankan untuk sujud syukur sekarang juga. karena gue pengen banget jadi kayak kalian, tapi Tuhan tidak mengizinkan itu untuk terjadi.
*dramatis*

ah, tapi sebego-begonya aku di mapel itu…
nilai UN matematikan saya masih bisa 9,25 kok, hehe.
hasil kerja keras berdarah-darah, sih... http://www.emocutez.com


think smart, not think hard.
z. d. imama

Saturday, 16 April 2011

Dear Friends, Yesterday & Today

Saturday, April 16, 2011 6

-->
background music:
flumpool – Over the Rain~光の橋~

happy good day ~

well, mungkin ini belum diceritakan.
tapi posisi saya sudah nggak lagi di jepang.


saya sudah pulang.

ke indonesia,
tanah kelahiran saya, yang, meski kian hari kian absurd, ditinggali oleh banyak orang” yang saya cintai dengan hati. kontrak student exchange saya memang cuma setaun, tapi jepang sudah benar” jadi rumah kedua. saya ingin bisa ‘pulang kampung’. dan dengan cita” itu gue akan berjuang di sini, di indonesia.
*kibar umbul-umbul*


tanggal 18 april, ada sebuah momentum bagi highschoolers seluruh indonesia. pertempuran empat hari yang efeknya sama seperti mempertaruhkan hidup-mati. klimaks dari segala konflik akademis yang pernah ditemui.

musuh yang terdengar amat menyeramkan dengan kekuatan tak diketahui itu bernama:


ujian nasional
dengan lima buah kode soal berbeda.


kemaren,
teman” (mantan) seangkatan gue sibuk berdoa bersama sesuai agama masing”. setelah itu sibuk keliling sekolah, minta restu dan minta maaf ke guru” dan adik” kelas. suasana jadi persis kayak halal bihalal pas lebaran.
*brb keliling minta angpau*

namun saya hanya bisa melihat.
memperhatikan teman” saya, tersenyum dan sesekali menepuk bahu mereka saat diajak bersalaman, sembari mendoakan dalam hati.


ya. gue nggak bisa ikuts.
belum gilirannya.

(ngg—kayaknya nggak perlu pakai huruf ‘s’ deh zul)


jadi exchange student punya tarif khusus.
bermacam pengalaman satu tahun di negeri impian harus saya bayar mahal dengan perpanjangan satu tahun pendidikan SMA di realita negeri asal. not that i’m complaining, gue tau konsekuensi ini bahkan sejak sebelum tiket pesawat Garuda Indonesia tujuan Narita nyampe ke genggaman tangan.


akan tetapi,
menyaksikan mereka semua...
banyak di antaranya adalah kawan sedari smp, bahkan ada pula sahabat semenjak sekolah dasar, selalu bersama” hingga sma. sisanya ialah rekan” yang dipertemukan Tuhan di lingkungan sma negeri 1 surakarta, dan gue sayang mereka.



saya bahagia ada di tengah” mereka, meski sama sekali tak tahu seperti apakah mereka berpikir tentang saya (:



mati”an kejar deadline majalah sekolah,
pontang-panting bikin artikel bermutu,
frantically buat PR bareng” pagi hari di sekolah,
belajar sebelum ujian di depan ruangan sambil lesehan,
bikin forum di kelas dan ngerumpi,
banting tulang bikin annual festival kebudayaan jepang.


guys, semua itu kenangan bareng kalian.
harta karun SMA gue.

・・・

that’s true, gue bakal punya memori baru dengan adek” kelas yang kini jadi angkatan gue juga. yet every single person is irreplaceable. cerita dengan kalian tetap jadi satu hal yang beda, standing out in its own beauty.


melihat sosok kalian...
tiba” mata terasa memanas.
gabungan rasa sedih dan terharu.


dan saya menangis...
padahal yang mau ikut ujian nasional bukan saya.
*diinjek gajah tingting*


sedih, sebentar lagi gue sendirian.
nggak lagi bisa nyamperin ke koridor kelas duabelas, ngobrol bareng, mencerca dalam hati polah autis kalian yang kayaknya nggak pernah kehabisan stok.


saya akan jadi seorang diri.
well~ at least sampai @ayysp purna tugas dan mudik ke NKRI lah.
dan punggung kalian yang dulu di sisi saya bakal berubah jadi selangkah di depan. honestly speaking, somehow it hurts. ada nyeseknya. ah busuk, gue jadi nangis beneran lagi.
*ambil tisu gulung*
*ambil hairdryer buat ngeringin laptop yang banjir*

di sisi lain gue terharu.
saat pembuktian bagi kerja keras kalian selama tiga tahun bakal segera tiba. gue yakin, kalian nggak akan sia”kan itu. kalian nggak akan biarkan pendidikan tiga tahun ini berbuah mengecewakan.


kemudian kalian akan terbang.
menyebar laksana anak panah yang melesat.


Institut Teknologi Bandung... Universitas Gajah Mada... Universitas Indonesia... STAN... Universitas Bakrie... Universitas Diponegoro... Universitas Sebelas Maret... STEI... Universitas Padjajaran... perguruan tinggi di luar negeri...

kalian akan bisa ditemukan di mana saja.


tapi gue masih di sini,
bertahan di SMA Negeri 1 Surakarta,
menyelesaikan susunan puzzle yang belum selesai,
memperjuangkan satu tahun yang masih tersisa.


hingga suatu hari nanti,
aku akan sanggup menyusul langkah kalian (:


 





01:59am. anjrit, gue jadi menye kuadrat...
*sembur ingus ke tisu*

Tuesday, 18 January 2011

i dare you to read this!

Tuesday, January 18, 2011 0

happy good day :D

ini adalah report yang aku tulis untuk yayasan beasiswaku, Kamenori Foundation. karena mereka" ini berbaik hati mau ngasih duit beasiswa-lah aku bisa kesasar di sini, sekolah dan menularkan ketidakwarasan terhadap warga sekitar.

ada yang bisa baca ini?
i dare you :)




title: 流れる時の中で ~in the flowing time~ 
written by: Zulfana Desnatya Imama


 

Sunday, 28 November 2010

for thanksgiving

Sunday, November 28, 2010 3


http://www.emocutez.com happy good day

beberapa hari yang lalu aku dan seorang kakak kelasku, Nakajima Yuika, bantu" guru inggris bernama Shiozaki-sensei bikin Pumpkin Pie untuk perayaan Thanksgiving.


secara agama sih gue ga ada hubungannya. http://www.emocutez.com
tapi secara pengalaman, ini kesempatan emas buat gue menjajah cooking room Tachibana, yang perlengkapannya komplit plit bak dapur hotel bintang tiga. hihihi.


http://www.emocutez.com yeah you`re right,
pelajaran PKK dan status sebagai member hand-making club masih belum kerasa cukup bagiku untuk memporakporandakan ruang masak sekolahan. *tawa licik*


aku kasih liat fotonya aja ya :D



pai sebelum dipanggang


kok narohnya di cawan plastik gitu jul? 
habis loyangnya lagi dipake buat manggang yang dioven :p
jadi keliatan gak higienis ya, wkwkwk 



ngocok adonan labu kuning


bagian yang paling makan waktu + bikin pegel tangan.
labunya harus direbus dulu, dikupas, ditumbuk, disaring dan dicampur dengan bahan lain, plus ngocoknya harus manual -__-

tanya kenapa?
kalo make mikser ntar hancur, kata ibu shiozaki ~ 



pai siap dipanggang !


ini adalah yuika-senpai.
tahun lalu dia exchanging di Melbourne, Australia lho :D
inggris dia termasuk bagus buat orang jepang ~ 



pumpkin pies fresh from the oven ~

dan beginilah jadinya :D
itu bener" baru nongol dari oven lho, masih panas kemramyas.


http://www.emocutez.com ada yang mau saya masakin?
hohoho ~ 


silakan sediakan alat dan bahan,
gue mah kalo cuman tinggal masak aja mau :3


oh iya ada yang kelupaan --"
lighting di foto" ini no edit lho ya.
foto asli pro reformasi. emang dasar pencahayaan lampu di cooking room kayak gitu. aku sama sekali tak melakukan apa" pada fotonya (soale nyet ramudeng photo editing, kan aku ndeso katrok hahaha)


now in 53,


Monday, 20 September 2010

YOU LOSE, boy

Monday, September 20, 2010 5

happy good day :D

 entri ini ditulis pagi" buta lhoo ~
alesannya karena sejak sore aku bobok siang dan baru bangun jam sepuluh malam, dengan durasi total tidur siangku sekitar tujuh jam (well, i know. itu sudah tidak layak dikatakan sebagai tidur siang lagi). sehingga sebagai efek samping, sekarang aku nggak bisa tidur lalala.

kalau misalnya,
selama ini ada di antara kalian yang bersedia memperhatikan deretan chapter yang tertera di pojok kiri atas tampilan halaman blog gue, seharusnya kalian mengetahui label" apa yang gue cantumkan untuk mengelompokkan postingan" yang pernah ditulis. dan mungkin saja, kalian akan menyadari sedikit perubahan yang gue tambahin ke jajaran label posting tersebut. ada yang bisa menemukan letaknya di mana?

yak, benar sekali!
gue baru selesai nyusun satu kriteria postingan baru.
dan nama dari kriteria paling gres yang baru saja dirilis itu adalah...

"takatanifumiya"

yang gapercaya boleh dicek sendiri.
alasan tunggal kenapa cerita tentang takatani aku masukin label khusus adalah... karena pengalaman aku sama dia itu nganeh"i semua. dari awal kita ketemu di perpus sampe sekarang, penuh kebetulan nggak jelas yang selalu bikin aku heran sendiri sambil geleng".

dan sekarang,
saya lagi dalam masa kepengen nginjek itu mas" item keren. eh TUNGGU; gak harus nginjek sebenernya sih. boleh aja kalau bisa gigit dia, ngejotosin dia, ngejambak dia, atau nendang dia sampai lapisan langit ketujuh.

maaf kalo jadi anarki -__-
tapi ini suara hati huahahahahaha 

gemes banget deh sama itu orang. suer gemeees!!
bukannya benci yaa; saya tuh murni fansnya mas takatani, jujur. tapi aku gemes abis liat tingkahnya belakangan hari ini. apa pasal? hmm... buat yang belum tahu, semuanya bermula dari kisah ini yang berlanjut menjadi begini dalam waktu singkat. dan untuk memperpendek cerita, sampai sekarang takatani-senpai masih di tahapan `tengsin sama gue` yang gak kunjung sembuh".

 inilah perlakuan yang gue terima dari si kapten tengsin tesebut:

 (1) tiap ketemu di stasiun, dia selalu masuk gerbong kereta dari pintu berbeda, padahal sebelumnya masuk dari pintu yang sama juga gak masalah. dan lebih parah lagi ...


(2) tiap aku masuk gerbong dari--misalnya--pintu kanan, takatani-senpai langsung nyeret masaya buat masuk dari pintu kiri, meskipun tadinya mereka jelas" mapan buat masuk dari pintu kanan. yang beginian itu bikin pengen mites kan? emang gue apaan? virus menular?

(3) inti dari segala inti: takatani-senpai kabur dari gue tiap kali kita papasan. bangke.

 最低。 

selama bunkasai pun saya jadi gak bisa motret karena tuh orang SENGAJA nunduk pas aku motret stan kelas 3-1 di saat dia kebetulan jaga (serius itu coincidence banget. aku nggak pernah tau kalau di saat aku lagi hunting dokumentasi, takatani-senpai kedapatan shift ngejagain stan). kondisi tersebut diperparah oleh teman" di kampung halaman yang selalu nanyain "mana fotonya takatani-senpai, zul?" atau "fotonya takatani-senpai cepet diposting dong mbak!" tanpa henti, sementara wawancara hoax itu masih diproses persetujuannya sama guru".

namun,
bukan zulfana namanya kalo gak bisa berkutik.

sewaktu bunkasai diselenggarakan,
di lobby sekolah dipasang kayak semacam mading memori tiga tahun yang isinya foto anak" kelas tiga... dan dari situlah jiwa `kreatif saat kepepet` khas aku nongol dengan alamiah. foto"nya takatani-senpai aku potret ulang pake kamera digital. lumayan buat ganjelan sementara lah... lagian siapa tau gak akan ada kesempatan kayak begini buat motret produk aslinya (berasa ngomongin barang dagangan)

ada tiga lembar foto yang bakalan aku kasih liat ke kalian.
tiga biji itu pun dengan timeline berbeda, jadi silakan nilai sendiri bagaimana pertumbuhan dan evolusi sosok seorang Takatani Fumiya. check these out beybeh !!

masa" kelas satu SMA; sekitar tahun 2008 berarti.
gatau sama siapa aja, tapi kayake berkaitan sama klub olahraga.  
can you find him anyway?


menjelang akhir kelas dua SMA,
saat rame" seangkatan school trip to somewhere i don`t know
(seharusnya.. dengan foto blawur yang kusertakan sebelum ini, kalian sudah bisa dengan mudah melacak yang manakah takatani-senpai) 


    lembar terakhir dan paling gres:
sport festival 2010, third grader, as the blue team leader.
laporan tentang festivalnya bisa dibuka dari sini



hey dude... let me tell you something.
"you may run away from me, but you cannot hide."

terus terang aku lebih suka nggak mengatakannya di depan umum,
tapi sepertinya takatani-senpai mau kagak mau harus mengakui, bahwa:

saya jauh lebih pintar daripada dia... 
untuk urusan semacam ini.



YOU LOSE THE MATCH, CAPTAIN !! 
the winning one is ME.


salam kemenangan,