Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts

Monday, 6 June 2022

Langganan Majalah BOBO di tahun 2022: WHY NOT?

Monday, June 06, 2022 2

 

Hello, lovely internet folks! Finally. My first ever post in 2022, and also, the first time in forever.  Tanpa banyak babibu dan fafifu, saya akan langsung masuk ke topik bahasan kita kali ini. Yah, sebenarnya juga sudah ke-spoiler dari judul postingan sekaligus gambar pembuka, sih.

Pada suatu sore di pertengahan tahun 2022 (maksudnya hari ini), tiba-tiba seorang netizen yang tinggal di sebuah kos-kosan di Jakarta-alias saya-tersentak dari e-book yang sedang dibacanya. Suatu pikiran random muncul dari benaknya: 

"Majalah BOBO sekarang apa kabar, ya?" 


Rada aneh, memang. Padahal sejenak sebelumnya, si netizen ini-alias saya-sedang menikmati sebuah novel misteri yang sama sekali nggak punya sangkut-paut dengan majalah BOBO. Layaknya netizen pada umumnya, manusia satu ini kadang-kadang memang suka berkelakuan ajaib.

Dahulu kala, di suatu masa sebelum pandemi menyerang, saya pernah menyentil betapa majalah BOBO berjasa besar dalam postingan tentang Magic Knight Rayearth. Ibu selalu membelikan edisi-edisi lawasnya dari tukang loak dan pedagang majalah bekas, untuk saya gunakan berlatih membaca. Sekaligus, tentu saja, untuk disobek-sobek dan digunting-gunting (karena setiap anak kecil adalah tornado ukuran mini yang bisa jalan-jalan dengan dua kaki). Sewaktu bangku Sekolah Dasar pun, saya pernah memenangkan suatu perlombaan yang hadiahnya adalah langganan gratis majalah BOBO selama beberapa bulan. 

Majalah BOBO adalah salah satu bagian penting dalam hidup saya. Saya juga yakin bahwa yang merasakan seperti ini bukan cuma saya seorang. Berhubung tiba-tiba kepikiran, saya memutuskan duduk di depan laptop. Membuka browser. Mencari-cari informasi. Pertanyaan yang saya ingin temukan jawabannya sudah jelas: Majalah BOBO masih ada nggak sih sekarang? Apa masih bisa langganan? Tersedia versi cetak atau sudah jadi majalah digital?

Jawabnya ada di ujung langit.

Masih ada. Bisa. Tersedia baik cetak maupun digital.


WOW.
Saya mangap.

Bisa langganan majalah BOBO! Yay!

Hasil awal browsing saya mengantarkan langsung ke laman Gramedia Digital. Dari situ, saya jadi tahu beberapa hal:
  • Harga eceran majalah BOBO (per edisi) sekarang Rp15,000
  • Beberapa paket langganan Gramedia Digital bisa dipakai mengakses majalah BOBO
  • Logo dan huruf majalah BOBO sampai saat ini tetap nggak berubah

Masih kurang puas, saya kembali meneruskan perjalanan menjelajah internet. Gramedia Digital, sebagaimana namanya, memberikan akses majalah BOBO versi e-book. Bagaimana dengan versi cetak? Ke mana saya harus menghubungi kalau ingin beli majalah BOBO edisi konvensional? Ayolah internet, pinjamkan kehebatanmu!!

Tak seberapa lama kemudian, misteri terpecahkan.

Opsi langganannya lebih banyak! Harganya lebih murah!

Saya terdampar di sebuah situs bernama Grid Store. Usut punya usut, Grid Store ini merupakan situs yang menjual produk-produk majalah dan tabloid terbitan Grid Network, Kompas Gramedia. Majalah anak-anak yang tersedia dalam katalog tidak hanya BOBO, tetapi juga ada BOBO Junior (walaupun terus terang saya nggak tahu apa beda target pasarnya dibandingkan BOBO-senpai), MOMBI, dan MOMBI SD.

Bisa dilihat dari screenshot di atas, Grid Store menyediakan lebih banyak opsi langganan dibanding Gramedia Digital. Tidak cuma itu, harganya pun lebih murah. Tarif per eksemplar bahkan ada selisih seribu Rupiah. Lumayan cuy.

Tanpa pikir panjang, saya klik salah satu rencana langganan dan menekan Masukkan Keranjang. Barangkali inilah kekuatan kangen. Inilah kesaktian rasa sayang. Bikin ikhlas melakukan hal-hal yang sejatinya nggak butuh-butuh amat. Apalagi timbunan bacaan pribadi tingginya setara Monas dan nggak kunjung berkurang.

Isi keranjang belanjaan

Bisa dibayar dengan berbagai macam cara!

Proses transaksinya nggak berbeda dengan kebanyakan lapak belanja online lainnya: bikin akun baru terlebih dahulu baru bisa belanja. Nggak terlalu banyak data yang dibutuhkan Grid Store. Cukup nama, alamat email, nomor ponsel, tanggal lahir, serta gender—yang sayangnya, tapi juga sudah bisa diduga, masih hanya tercantum Laki-Laki dan Perempuan.

Setelah pembayaran dilunasi, majalah BOBO yang jadi belanjaan saya langsung bisa diakses dari kolom Bookshelf. Muncul dalam sekejap mata. Works like magic. Sungguh luar biasa kekuatan internet dan konten digital.

It sits prettily, ready to wait for me <3

Jika kalian nggak ikhlas merogoh saku untuk berlangganan mingguan, beberapa konten majalah BOBO secara terbatas juga bisa diakses gratis via situs resmi di sebelah sini. Silakan kakak-kakak yang mau nostalgia kehidupan masa kanak-kanak. Everything is just one click away~

Saya mau pamit dulu. Sudah ditunggu Bobo, Coreng, dan Upik. And really, the greatest perk of being an adult, with your own hard-earned money, is that now you can pay for things you love as a child, and nobody can stop you from doing so

z. d. imama

Tuesday, 12 October 2021

Maybe it was me, but maybe it was also you.

Tuesday, October 12, 2021 1

Saya tidak akan berpura-pura. Terkadang saya cukup menikmati menjadi pengamat hubungan orang-orang, baik yang saya kenal langsung maupun cuma pernah lihat sepintas dua pintas sebagai sesama netizen. Memperhatikan bagaimana mereka melontarkan pujian setinggi langit kepada seseorang seolah-olah sosok itu tak bercela ketika sedang mabuk kepayang, lalu secara konstan dan berkala melemparkan makian, cercaan, atau mengungkit hal-hal buruk dan menimpakan segala kesalahan kepada orang yang sama ketika masa-masa indah sudah berakhir. Begitu terus. Berulang. Rinse and repeat. Saya paham bahwa ada yang namanya coping mechanism, tapi ya memang hakikatnya manusia sering terlalu gengsi untuk introspeksi dan menghadapi apakah memang kita juga punya andil dalam kesalahan. Ada perasaan "Mana mungkin gue yang salah!" yang berteriak lantang, keras kepala, apalagi kalau selama hubungan itu kita merasa sudah cukup banyak melakukan 'pengorbanan'.

Tiba-tiba saya jadi teringat kisah romansa gagal milik saya sendiri.

Cerita ini sudah lama. Sekian BC yang lalu, alias Before Covid. Saya tidak pernah menceritakan, apalagi menuliskan, hal ini di mana pun, karena mungkin saya belum tahu bagaimana cara mengartikulasikan emosi saat itu dengan benar. Dengan baik. Dengan tepat. Atau mungkin justru karena pada saat itu mengingat-ingat adalah hal yang masih menyakitkan.

Sekitar beberapa bulan setelah putus dari seseorang yang saya pacari semasa kuliah, saya iseng-iseng membuka akun media sosialnya. Bukan karena ingin menyiksa diri sendiri. Nggak. Saya sudah kenyang menangis selama mungkin hampir sebulan. Ketika itu motivasi saya murni karena ingin tahu kabar terakhirnya. Saya rasa dia akan baik-baik saja; tapi saya tetap penasaran. Apakah pindah kantor dan dapat pekerjaan baru? Apakah habis piknik dan jalan-jalan dengan keluarganya? 

Bahwa kepo itu ialah hak segala bangsa.

Saya mengetikkan username-nya di kolom Search.

Klik.

Halaman profil terbuka. Saya scroll sedikit. Sumpah, bener-bener cuma sedikiiiiiiiittttttt... dan saya langsung tiba di postingan yang mengisyaratkan kalau dia sudah punya pasangan baru. Tapi bukan itu yang bikin jantung saya berhenti. Serius. Saya tidak mempermasalahkan dia mau ganti pasangan secepat kilat atau justru bertahun-tahun selibat. Pandangan saya tertumbuk pada satu kalimat yang dia tulis yang terus terang membuat saya seperti ditombak. Dada saya ampek luar biasa. Saya kurang ingat bagaimana kata-kata persisnya; mungkin karena kejadiannya sudah cukup lama atau barangkali alam bawah sadar saya tidak berkeinginan mengingat-ingat secara detil. The gist of it was:

"...Akhirnya aku bertemu orang yang benar-benar menyayangiku."


That's it.

And I saw everything within the next second, flashes of flashbacks, in all red. Bright, blinding, burning red
. And it hurt. Holy shit it hurt. I was angry and sad and betrayed and in disbelief and so many emotions rose up at the exact same time like a bubbling sugar mixture: hot and scalding and ready to burst. Membaca kalimat itu berkali-kali lipat lebih menyakitkan ketimbang hari di mana saya menyadari bahwa hubungan kami berdua tidak mungkin dilanjutkan. Hari di mana saya memilih berjalan sendiri daripada kehilangan diri sendiri. Because, newsflash, baby, my feelings were real

Everything was real to me.


There were days when I really, really, really, liked him. There was one time when my world felt so much fun because we were together. I truly, genuinely, cared. I laid all my cards on the table since Day One and he said yes.  I let him know what kind of person I am, told my story, and he accepted. Until he doesn't. Until he said that he had a particular, ideal version of a partner in his mind and I must fit into the mold. A mold that isn't me at all. But every single thing that happened during that time was real to me. "Orang yang benar-benar menyayangi", katanya. Dear Lord how I hate that. Jadi perasaan saya waktu itu dianggap apa? Harus melakukan apa agar apa yang saya rasakan divalidasi dan tidak dilepeh seperti buah mentah yang jatuh prematur dari pohonnya?

Mungkin saya memang tidak pandai mengekspresikan apa yang dirasakan. Mungkin saya tidak melakukan apa yang 'semestinya' dilakukan orang-orang pada umumnya ketika berhadapan dengan orang yang saya sukai. Bahkan saya sayangi. Mungkin saya kikuk. Mungkin saya, karena tidak tahu apa yang sebaiknya dikatakan, memilih untuk tidak bicara apa-apa ketika seharusnya saya mengatakan sesuatu. Mungkin saya, karena tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan, memilih untuk tidak melakukan apa-apa ketika seharusnya saya mengambil sebuah tindakan. So maybe I was at fault. Maybe I contributed something for the relationship to end. Tapi apa itu semua membuat perasaan saya jadi layak untuk dimentahkan? I don't think so. Because I felt it all. Maybe my feelings were not enough for him, but it was true and genuine all the same.

It was real. To me.

And if someone else says it wasn't, perhaps it's their problem.
Not mine. No more.

z. d. imama

Sunday, 5 September 2021

I love reading, but... what if I can't even finish one book in a month?

Sunday, September 05, 2021 2

 


Bukan hal berlebihan jika saya bilang, buku adalah teman pertama saya. Dibesarkan di keluarga dengan kedua orang tua yang sama-sama bekerja (karena kalau nggak kerja perekonomian rumah tangga nggak jalan, baby) dan tidak selalu punya kemewahan dibantu asisten rumah tangga, saya sering menghabiskan waktu sendirian. Bahkan sejak balita. Ibu mencari akal bagaimana caranya supaya saya bisa tenang beraktivitas sendirian. Akhirnya yang tebersit di benak Ibu adalah: anak ini kalau bisa baca, mungkin dia bisa ngubek-ubek tumpukan majalah bekas yang dibeli di tukang loak tanpa rewel selama ditinggal beraktivitas. Alhasil, saya sudah lancar membaca bahkan sebelum masuk Taman Kanak-Kanak. Thank god waktu itu kami belum punya televisi dan smartphone baru sebatas imajinasi halu di suatu episode Doraemon. Sebab barangkali ceritanya akan lain lagi. 

Semakin dewasa, saya mulai berkenalan dengan banyak kegiatan. Bahkan hal-hal yang saya baca pun jadi beraneka ragam. Komik, novel, fanfiction, artikel di internet, utas pembongkaran aib orang di media sosial (dari yang EYD-nya rapi dan ceritanya terstruktur sampai yang bikin pusing karena penulisnya kayak nggak pernah belajar fungsi tanda baca), dan entah apa lagi. Kegemaran saya bertambah. Kita semua tahu ada peribahasa yang berbunyi "Besar pasak daripada tiang". Nah, barangkali rangkuman terbaik untuk permasalahan yang saya alami adalah "Banyak hobi daripada waktu luang".

Saya menikmati proses membaca. Itu satu hal yang saya bisa akui dari lubuk hati terdalam. Rasanya seperti diajak main dan berjalan-jalan dengan seorang teman lama, mengarungi berbagai cerita berbeda-beda. Kadang kisahnya jelek dan bikin marah. Kadang bagus banget sampai saya rela tidak tidur. Tapi perasaan dan pengalaman serupa juga saya temukan ketika melakukan hobi yang datang belakangan. Misalnya menonton berbagai judul dorama maupun film-film Jepang. Atau anime. Atau film maupun serial televisi Amerika dan Eropa. Atau nonton konser maupun variety show yang memunculkan idola-idola kesayangan saya.

Dulu, menyelesaikan satu novel—anggaplah rata-rata tebalnya 300-400 halaman—adalah perkara sepele. Sepulang sekolah, saya cukup ganti baju dan duduk leyeh-leyeh di lantai kamar di samping jendela dan membalik halaman demi halaman buku yang saya pinjam dari perpustakaan sekolah. Agak sorean dikit nonton serial kartun yang tayang di televisi lokal. Habis mandi baca lagi. Kadang-kadang selepas bikin PR saya masih bisa meneruskan satu-dua bab. Buku perpustakaan bisa saya kembalikan dalam satu atau dua hari. 

Sekarang?

Tiap ada buku yang berhasil saya tamatkan dalam tiga hari rasanya udah ingin sujud syukur. Masa kejayaan progres membaca ini sudah pergi entah ke mana.


Perjalanan menyelesaikan suatu buku yang jadi berkali-kali lipat lebih lama ini tak ayal membuat saya mempertanyakan: apakah saya masih berhak mengklaim diri sebagai seseorang yang gemar membaca? Do I have the rights to self-proclaim as a Reader? 

Barangkali (barangkali, ya) suasana hati saya sedikit-banyak mirip mereka yang ditodong dan dicurigai oleh pasangannya—minimal orang-orang yang sedang dekat—tentang kenapa tidak pernah mengunggah foto berdua ke akun media sosialnya. Atau lebih tepatnya, mereka yang diragukan perasaannya karena tidak cukup banyak menghabiskan waktu bersama pihak-pihak yang disukai. "Kamu tuh bener-bener sayang aku nggak, sih? Apa kamu jangan-jangan malu kalau ketahuan lagi sama aku? Kamu nggak inget ya kalau aku udah ada di sini sejak dulu? Bahkan sebelum kamu kenal internet dan bisa baca atau nonton berbagai hiburan lain itu?? Aku nggak cukup penting buat kamu, makanya kamu jarang mempedulikan aku??? JAWAB!!!"

Repot, kan.

Intensitas membaca yang mbuh banget ini sedikit banyak juga menghalangi saya untuk bergabung buddy reading dengan orang lain. I don't even know if I can finish it on time, or even at all. Katakanlah saya menemukan waktu untuk membaca secara rutin setiap harinya, yaitu sembari ngeden di atas kloset (yang dengan bangganya saya sebut kegiatan ini BASARA—baca sambil berak). Saya masih perlu mengambil keputusan: bacaan mana yang akan saya lanjutkan di waktu yang terbatas itu. Apakah mau menambah satu bab di novel thriller yang sejak tiga minggu lalu nggak kelar-kelar dibaca? Ataukah memilih menikmati bab terbaru shounen manga yang baru dirilis kemarin? Mungkin sebaiknya saya baca artikel viral terkait pengalaman wartawan iseng-iseng jadi kurir marketplace yang sudah berhari-hari mangkrak di tab Bookmark? Atau justru mencoba bab perdana dari webtoon yang direkomendasikan hampir seluruh orang yang saya kenal?

Decision, decision...

Terus terang, ketika sesama pembaca buku memaparkan pencapaian mereka, misalnya "Aku baca 25 buku dalam sebulan, ini dia judul-judulnya!" saat itulah benak saya kembali mempertanyakan apakah diri ini masih layak menyatakan klaim sebagai orang yang suka baca. Muncul keraguan dan kecurigaan yang menyeruak. "Tuh lihat, orang lain yang ngaku suka baca tuh bisa melakukan sejauh itu, kok. Kamu apa kabar?" Jangan-jangan saya ini impostor? "What if I am nothing more than a poser?" Terlebih ketika mendengar cerita bahwa seseorang yang saya kenal sedang mengalami reading slump dan hanya sanggup membaca buku sejumlah jari sebelah tangan. Hati kecil saya berbisik, "Kamu pas reading slump bisa nggak menyentuh apa pun sama sekali dalam sebulan, lho. Apa nggak malu?"

While I know this thought is not the healtiest, if at all, it's just inevitable. Bukan berarti saya melarang-larang atau tidak suka melihat orang lain menceritakan keberhasilan perjalanan membaca mereka. My feelings are my own business. Me ending up questioning myself is not anyone's fault. Really

But then again, does my love for reading still count and matter when I cannot even finish one book? What kind of reader does that make me?


Saya sampai detik ini masih berusaha mencari jawabannya.

z. d. imama

Sunday, 25 July 2021

(Maybe) I don't want kids and people are mad about it.

Sunday, July 25, 2021 1


Mau mulai dari mana, ya. Bingung juga. Beberapa hari terakhir ini feed media sosial saya (Twitter) ramai membicarakan tentang keputusan orang-orang untuk tidak memiliki anak, yang istilah populernya adalah "Child-free". Jujur, saya tidak terlalu menyukai terminologi ini. Frase "Voluntary childlessness" yang ada di Wikipedia justru lebih cocok bagi saya sendiri. Tapi itu perkara lain. Saya nggak mau membahas semantik. Berhubung "childfree" lebih populer, selanjutnya saya akan pakai istilah itu di sini meskipun nggak demen-demen banget.

Semalam saya secara tidak sengaja menemukan postingan di internet yang mengkritisi penyebarluasan pemahaman konsep childfree sebagai 'masalah'. Perspektif ini bikin dahi saya berkerut. Apalagi, yang menuliskan seorang laki-laki, yang jelas tidak mengalami kehamilan, melahirkan, menyusui, dan secara umum tuntutan sosial terhadap keterlibatan dia di masa tumbuh-kembang anak tidak seintens perempuan. Bagaimana postingan tersebut mencampuradukkan komentar klasis ala-ala netizen abai seperti "Kalau miskin jangan punya anak dulu" dan secara tidak langsung mengasumsikan childfree sebagai sesuatu yang antagonistik juga tidak menolong. 

Terlepas dari alasan-alasan pribadi yang membuat seseorang tidak berkenan memiliki anak, pada hakikatnya childfree merupakan kesadaran bahwa berketurunan adalah pilihan. Bahwa untuk tidak memiliki anak, terlebih lagi anak biologis, merupakah sebuah opsi yang solid di kehidupan. It's not a crime when you choose not to have kids. Not to give birth. It's not a shame. It's just another choice in this life of yours. Intinya kan di situ.


Kenapa kesadaran bahwa "berketurunan atau tidak merupakan hal yang bisa dipilih" menjadi penting untuk diinformasikan kepada yang lain? Meme di atas, meskipun niatnya pasti cuma buat lelucon, justru merangkum salah satu perkara terbesar terkait masalah keturunan ini: tekanan sosial. Manusia, khususnya perempuan, sudah terlalu lama dinilai dan distigmatisasi berdasarkan kondisi serta kemampuan reproduksinya. Apakah dia perawan atau tidak. Bisa punya anak atau tidak. Sudah dewasa tapi belum menikah, ditakut-takuti nanti tidak bisa punya anak. Bahwa tidak ada yang mau menerima sebagai pasangan. Jangan mau dengan perempuan yang lebih dewasa, dia sudah tua dan organ reproduksinya tidak seaktif sebelumnya. Kemandulan adalah aib. Tidak berketurunan diberikan berbagai label tak mengenakkan, mulai dari egois hingga menyalahi kodrat. Tidak perlu bersikap munafik atau menampik dengan mengatakan "Nggak ada yang maksa untuk punya anak" atau "Komentar kayak gitu sih kamu karang-karang sendiri". We knew. We've heard of them. The pressure is real. And when people cave in to these pressure, there are real life consequences. Abandoned children. Unhappy family. Build-up hatred. Losing self-worth. Masih banyak lagi kondisi-kondisi fatal yang tidak bisa saya jabarkan satu per satu di blog yang isinya cuma buat curhat dan nyerocos tentang kultur pop ini.


Pandangan bahwa sebuah keluarga tidak sempurna dan tidak lengkap tanpa anak juga bukan sesuatu yang saya setujui. Maybe we all need to learn to feel 'enough'. Sama halnya dengan keluarga yang hidup bahagia tanpa ayah atau tanpa ibu, saya percaya bahwa pasangan suami-istri yang tidak memiliki anak juga tetap harus diakui bersama sebagai satu keluarga yang solid. Saya sendiri hingga detik ini tidak berencana berketurunan (ini saatnya kalian mengejek saya, "Yaelah nikah aja belum tentu bisa atau enggak, udah mikirin perkara anak!"). This planet is dying, disease-ridden, and the adults are awful and I just don't want to deliver another soul to this terrible, horrible world. My eggs are going straight to the menstrual pads and cups for the time being. Take this whatever way you want, oh dear strangers on the Internet realm.

Salah satu hal yang paling sering diributkan adalah tuduhan bahwasanya childfree menganggap anak-anak sebagai beban. Menurut saya sih ini agak kocak, karena secara umum memang anak-anak dikategorikan 'tanggungan orang dewasa'. Memang perlu ada kompromi. Memang perlu ada pengorbanan di level tertentu ketika seseorang merawat dan mengasuh anak-anak—terlebih yang usianya masih sangat belia. Some people might not want that because they have other things to prioritize. Some just doesn't feel having the capacity to do so. It's fine. Lagipula, apakah bukan kita yang kerap mengucapkan, "Wah lu enak ya masih bisa jalan-jalan, gue mah ada anak sekarang"? Apakah bukan kita yang kerap bersikap kurang menyenangkan, mendesak orang dengan menggunakan anak-anak sebagai buffer? Memotong antrean dengan kalimat "Saya diduluin dong, ini mau nganter anak ke sekolah"? Haven't we for years been using kids as our excuse? Why you mad now, Bro?

Pada akhirnya peran utama konsep childfree yakni memberikan dukungan kepada mereka yang megap-megap di bawah tekanan, serta mereka yang tidak menghendaki keturunan—apa pun pertimbangan pribadinya. You don't have to. There is no need to be ashamed. It does not lessen our value as a person. It's not a 'wrong' thing to do. It's a valid life choice. Sama halnya dengan seseorang bisa mengonsumsi minuman beralkohol karena punya organ pencernaan tapi memilih untuk tidak mabuk, sah-sah saja bagi seseorang apabila ingin tidak menggunakan organ reproduksinya untuk berketurunan. Jika ada yang merasa terganggu dengan diakuinya pilihan childfree ini dan tidak suka terhadap semakin banyaknya orang yang menyadari bahwa keputusan ada di tangan mereka, then I don't know, dude, maybe you're a chunk of the problem iceberg?

Dah gitu doang.
Saya mau balik ngewibu lagi.

z. d. imama

Wednesday, 7 October 2020

#smellofsoapandshampoo: Reviewing SCARLETT body care series

Wednesday, October 07, 2020 0

 


Saya termasuk orang yang memuja me-time. Pokoknya dalam sehari, harus ada waktu yang didedikasikan khusus kepada diri sendiri untuk menikmati hal-hal yang disuka. Ragamnya macam-macam: bisa nonton video idola, baca buku, bahkan mandi. Iya, mandi. Momen mandi, terus terang, adalah suatu hal yang cukup sakral bagi saya karena kegiatan itu saya asosiasikan dengan membilas bersih rasa lelah seusai beraktivitas seharian. Atau, berhubung semasa pandemi ini kantor saya menjalankan sistem bekerja dari rumah, saat mandi merupakan kesempatan mencuci bersih mood suntuk dan pegal yang timbul akibat berjam-jam berkutat di hadapan laptop kantor. Ada sesuatu yang menyenangkan hati ketika menuang sampo dan sabun ke telapak tangan lalu aromanya menguar ke segala penjuru kamar mandi. Auto happy.

Makanya saya demen banget berburu sabun mandi.
Iya, ini pengakuan dosa.

Saya senang sekali mencari-cari sabun mandi, baik batang maupun cair, yang aromanya menarik minat mencoba. Kadang merembet ke body scrub juga, berhubung kadang badan terasa lebih kotor dari biasanya lantaran ada daki yang mengerak jadi lapisan kulit baru. Pokoknya tiap mampir supermarket, lorong body care selalu menjadi tempat mangkal saya. Bisa betah deh saya bermenit-menit di sana. Mengendus-ngendus aroma sabun mandi, membandingkan satu sama lain. Mungkin perilaku ini tidak layak diteladani, tapi setiap manusia berhak berkelakuan aneh dengan cara masing-masing kan ya? Eh, iya kan?

Anyway,

Kurang lebih beberapa minggu lalu, saya mulai mencoba serangkaian body care dari SCARLETT.


Paket rangkaian perawatan tubuh ini datang ke dekapan saya dalam kotak merah mentereng yang bisa dengan mudah di-repurpose jadi boks penyimpanan barang. Seriusan. Agak sayang kalau dibuang begitu saja. Cakep, kok. Sturdy, pula. Lumayan kokoh dan nggak mudah ambrol. 

Boks ini memuat total enam produk perawatan tubuh, mulai dari shower scrub hingga body lotion. Harganya pun relatif masih oke di kantong, dengan per produk dibanderol Rp75,000. Jika mau dapat boks eksklusif seperti yang nongol di foto atas, bisa ambil paket hemat berisi lima jenis produk seharga Rp300,000. Lebih murah. Nanti masih ditambah dapat free gift. Asyik, kan?

"Be your own kind of beautiful," it says. "Make time for yourself," it says. YES and YES.

Keseluruhan rangkaian body care SCARLETT yang saya coba yaitu tiga varian Brightening Shower Scrub (Pomegranate, Mango, Cucumber), Body Scrub (Romansa), dan dua macam Fragrance Brightening Body Lotion (Charming, Romansa). Bahan kandungan yang dikedepankan oleh produk-produk SCARLETT adalah vitamin E dan glutathione, yang menurut artikel-artikel di internet terkait skincare yang saya baca, berkhasiat menutrisi kulit, melembapkan, serta mencerahkan.

Satu nilai plus untuk SCARLETT yang saya ketahui sewaktu membongkar paket: not tested on animals. Ini klaim bagus sekaligus berani, sih, karena saya masih cukup jarang menyaksikan ada merek lokal yang peduli tentang animal cruelty sampai meletakkannya di kemasan produk. Meski tergolong pendatang baru, SCARLETT juga sudah terdaftar BPOM. Nggak perlu khawatir ada komposisi yang berbahaya, lah. Aman.

Tuh, kelihatan kan? "NOT TESTED ON ANIMALS" mengitari logo kelinci lucu.

Alright.
Now we go straight to the review.

Part I: Brightening Shower Scrub (Pomegranate, Mango, Cucumber)

Behold the Three Musketeers of Shower Scrubs!!!

Masih ingat saya di paragraf atas ngaku-ngaku sebagai orang yang menganggap momen mandi sebagai me-time? I'm staying in character, y'all. Shower scrubs adalah produk SCARLETT pertama yang saya sambar, bawa ke kamar mandi, dan coba pakai di hari itu tanpa pikir panjang. Hingga hari ini, saya masih menggunakan ketiganya secara bergantian tergantung mood. My favorite? Mango. Suuuuumpah wanginya muaniiiiissss banget berasa bermandikan jus buah. Paling saya awet-awet juga saking sayangnya. Keharuman varian Pomegranate lebih lembut dan agak samar, sedangkan aroma Cucumber relatif segar, seakan-akan ada kesan cooling ketika baunya tercium hidung. Masing-masing punya ciri khas tersendiri. Each brings forth different mood.

Tekstur produk ini sedikit lebih encer dan runny ketimbang shower gel, namun lebih kental apabila dibandingkan body wash. Butiran scrub-nya terbilang haluuuuus maksimal. Kulit hampir nggak terasa kalau lagi 'digosok'. Lumer aja gitu dengan gampangnya. And you know what's best? SCARLETT Shower Scrubs pada saat dibilas nggak bikin kulit jadi kering kesat! Woooohooooo!!!! Asli. Segembira itu. Saya capek di-PHP sabun, shower gel, shower scrubs dan teman-temannya yang setelah dibilas justru membuat kulit cekit-cekit saking kesatnya. Saya ini manusia, bukan piring berlumur minyak dan lemak!

Part II: Body Scrub (Romansa)

See the pretty white jar there?

All right. We're getting a bit more scrubby. Selain varian Romansa, SCARLETT juga menyediakan body scrub dalam varian Pomegranate (yang sebagaimana dapat kita lihat di gambar, tidak ikut saya coba karena tidak punya). Sewaktu pertama kali mengangkat jar body scrub SCARLETT ini, terus terang agak kaget. BERAT, SIS. Saya tidak mengalami kekecewaan sedikit pun ketika membuka tutup kemasan dan melepas segel pelan-pelan. The jar is full to the brim. Isinya buanyaaaaaaaaak! Yakin deh, SCARLETT Body Scrub bisa bertahan beberapa bulan lamanya bahkan dengan pemakaian rutin satu atau dua kali seminggu. Padet banget. 

Saya nggak usah berpanjang lebar membahas manfaat body scrub lah, ya. Kita semua sama-sama paham bahwa scrubbing membantu proses eksfoliasi alias pengelupasan sel kulit mati. Membuang dekil. Nah, setelah dicoba, ternyata saya suka sekali bagaimana body scrub dari SCARLETT ini menunaikan tugasnya. Buliran scrub kali ini lebih potent dan terasa ketimbang Shower Scrubs, tetapi masih tetap halus sehingga nggak menimbulkan sakit pas digosok. Nggak perlu khawatir kulit jadi perih apalagi lecet karena tergores scrub kasar. Berhubung body scrub ini juga wangi luar biasa, akhirnya setiap habis mengamplas diri sambil mandi, saya nggak repot-repot pakai sabun atau shower scrub lagi. Supaya aromanya nggak tabrakan.

Part III: Fragrance Brightening Body Lotion (Romansa, Charming)

The popular pair.

Denger-denger, produk SCARLETT yang paling populer alias best-selling adalah body lotion. Tersedia tiga varian, yakni Charming, Romansa, dan Fantasia. Sama halnya shower scrubs, body lotion dikemas simpel dalam wadah identik dengan warna berbeda untuk membedakan antarvarian. And thank god for the pump bottle! Siapa pun anggota tim SCARLETT yang mengusulkan desain botol pompa, you're da MVP. Setidaknya saya tidak perlu repot-repot menjungkirbalikkan botol dengan tangan masih setengah berlumur body lotion. Bagian atas pompa dilengkapi stopper atau safety lock, maka botol bisa mudah dibawa-bawa bepergian tanpa harus memindahkan isi lotion ke wadah lain. Praktis.

Tekstur body lotion dari SCARLETT relatif kental jika dibandingkan merek lain. Saking 'padet'-nya, butuh sedikit waktu untuk memompa produk sampai berhasil keluar pertama kali dari botol. Awalnya sempat cemas bakal sulit diserap kulit, eh ternyata saya salah sangka! Lotion-nya tidak butuh waktu yang lama untuk meresap dan setelahnya tidak lengket. Setelah ngulik info kanan-kiri, saya jadi tahu bahwa ternyata lotion yang bisa memberi efek instant brightening—seperti SCARLETT body lotion—memang teksturnya cenderung lebih kental. #TheMoreYouKnow

Aroma kedua varian body lotion ini juga menyenangkan, bikin rileks, dan yang lumayan mengejutkan: cukup tahan lama. Awet nempel harumnya. Untuk Romansa sih nggak beda-beda amat dengan versi body scrub, bernuansa wangi floral. Saya suka mengombinasikan body lotion Romansa setelah mandi dengan body scrub Romansa (biar makin mantap) atau shower scrubs Pomegranate. Varian yang satu lagi, Charming, it has a tad stronger oriental floral scent, sekaligus diklaim sejumlah orang memiliki harum yang mengingatkan pada parfum Maison Francis Kurkdjian Baccarat Rouge 540. However, to be honest, I cannot vouch for that because I have no idea how that perfume smells like at the first place. Selama ini saya tidak pernah mengendus aroma parfum tersebut, sehingga apabila kalian penasaran, bertanya-tanya setengah tidak percaya, "Bener nggak sih baunya kayak parfum mahal?"

...silakan coba beli dan buktikan sendiri!
*reminiscing that day when I received my care package.*


Kalau tertarik untuk ikut mencoba, produk-produk SCARLETT bisa dengan mudah diperoleh melalui berbagai platform, antara lain:  LINE (@scarlett_whitening), Instagram (scarlett_whitening), Shopee (scarlett_whitening), Sociolla, atau bisa juga via chat WhatsApp ke 087700773000. Niat bener ya saya ini, semua-semuanya dilampirkan...

Ayo mandi pakai sabun wangi supaya tidak mudah stres!

z. d. imama

Thursday, 31 October 2019

Magical Tales of Gandaloka: long post about thoughts on the first batch

Thursday, October 31, 2019 7

Semasa kanak-kanak, membaca (sekaligus mengoleksi beberapa macam) novel serial untuk anak-anak dan remaja merupakan kegemaran saya. Pasukan Mau Tahu? Cek. Goosebumps dari R. L. Stine? Cek. Animorphs, the most magnificent teenagers-vs-alien war story ever? Cek. Ada sejumlah judul-judul lain yang pada tahun 2018 lalu sempat saya tuliskan juga dalam sebuah postingan lama yang notabene memang membahas bacaan nostalgia. Kalau berminat ngintip apa sajakah mereka, silakan klik bagian 'sebuah postingan lama' di kalimat sebelumnya, atau arahkan kursor ke sebelah sini

Ketika Naobun Project merilis Magical Tales of Gandaloka pada awal Oktober 2019, saya langsung menaruh minat pada serial novel yang terinspirasi konsep Goosebumps dan Animorphs ini. Keseluruhan cerita akan mengambil latar tempat yang sama, yakni "Gandaloka", sebuah kota fiktif yang lokasinya dikisahkan tak terlalu jauh dari DKI Jakarta. Walaupun secara kasat mata ia tampak seperti kota biasa, sejatinya Gandaloka menyimpan kekuatan magis yang sangat besar. Sejak lama, Gandaloka adalah tempat bermukim kaum siluman yang dijuluki―atau mereka justru menjuluki diri sendiri?―Demit. Para Demit ini tinggal di antara manusia, meniru penampilan manusia, dan menjalani cara hidup ala manusia. Singkat kata, setiap installment Magical Tales of Gandaloka akan menceritakan dinamika dan riak interaksi Demit maupun manusia yang menjalani hari-harinya di kota magis itu. Tapi alih-alih seperti Goosebumps, Pasukan Mau Tahu, ataupun Animorphs yang ditulis oleh satu orang―dan lusinan ghostwriter karena... oh come on!―, masing-masing buku Magical Tales of Gandaloka justru dihadirkan dari tangan-tangan berbeda. Entahlah apabila nantinya akan ada penulis yang menyumbang lebih dari satu judul untuk Gandaloka.

Saya rasa kelima buku Magical Tales of Gandaloka tidak punya nomor urutan tertentu. Sehingga kita boleh-boleh aja ngambil asal buku mana pun dan dinikmati tanpa harus mencemaskan bagaimana kalau bacanya kebalik-balik. That being said, I'll write down my thoughts that came up upon reading each book―and I will put these thoughts in my reading order―and maybe here and there, I will express my thoughts about the whole batch of this series. IMPORTANT NOTICE: there will be spoilers. Barangkali sebatas hal-hal kecil. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa apa yang saya paparkan termasuk hal krusial. So please proceed at your own discretion. Jika kalian sama-sama sudah baca keseluruhan Magical Tales of Gandaloka, atau termasuk kalangan orang-orang yang justru baru akan tergerak untuk menikmati suatu karya setelah dapat bocoran mumpuni dari kanan-kiri, yuk ah gas terus.


Gambar di atas memaparkan urutan saya membaca kloter awal serial ini. Dimulai dari Home yang ditulis oleh Keinesasih, dan dilanjut terus ke Stay Ugly dari Kahlui, kemudian Halfie dari Priscila Stevanni, lalu ke Your Wings-nya Eve Shi. Ditutup dengan Welcome to the Fandom persembahan Utiuts. Kelima buku Magical Tales of Gandaloka diberikan rating 13+, sehingga jelas bahwa target utamanya memang para remaja yang sudah duduk di bangku pendidikan sekolah menengah. Namun saya pikir-pikir, kayaknya sebagian besar dari kelima buku ini secara khusus nggak akan bermasalah andaikan dibaca oleh anak-anak usia sepuluh tahunan. Lho, kok 'sebagian besar' aja? Kenapa nggak semua? Nanti kita bahas ya. Pelan-pelan.

*Cracking fingers.*

Here we go.

"HOME"

Penulis: Keinesasih


Ayah Riona tiba-tiba memutuskan akan menjual rumah keluarga yang diwariskan dari kakek. Sebuah penyelidikan kecil-kecilan mengantar Riona pada sebuah fakta: kedua orang tuanya dikenai hipnosis oleh konglomerat properti bernama Darius Tejakusuma agar bersedia menyerahkan tempat tinggal mereka. Masalah makin tumpang-tindih ketika Riona menyadari bahwa anak-anak Darius, Samuel (yang tampangnya relatif lokal tapi ganteng) dan Haniel (blasteran bule yang katanya jauh lebih ganteng), ternyata satu sekolah dengannya. Malahan, salah seorang dari mereka adalah rekan sekelasnya. Riona harus memutuskan apakah kedua cowok itu lawannya, atau mereka cukup bisa dipercaya untuk dijadikan kawan dalam usahanya mempertahankan rumah keluarga. Sebab bagaimanapun, sulit bagi anak sekolahan melawan pengusaha kaya raya seorang diri.

Begitu kira-kira garis besar cerita Home.

Novel ini adalah sebuah perjalanan. Setidaknya itu yang terlintas di benak saya sewaktu membaca. Entah benar atau tidak, saya merasakan ada bagian di mana seolah-olah sebuah switch dinyalakan, dan mbak Ines selaku penulis berhasil menemukan posisi pewe dalam menuturkan cerita. Bab-bab eksposisi di awal masih mempunyai sedikit kesan canggung. Seiring lembaran demi lembaran buku saya balik, kesan itu lebur. Persis seperti berkenalan dengan orang baru. Semula hanya satu-dua patah kalimat interaksi obligatory yang ada, tapi selang beberapa saat kemudian kita tertawa-tawa bersama seolah sudah berkawan sejak lama.

Foto di atas memang sengaja diambil #DemiKonten. Sudah, jangan protes.

Satu hal yang sangat, sangat, SANGAAAT saya sukai dari Home adalah penampilan fisik Riona, meski ia seorang protagonis, hampir sama sekali tidak dideskripsikan lebih lanjut sepanjang cerita. Oke, kita para pembaca sempat diberitahu bahwa rambutnya lurus dan tidak berponi. Tapi ya udah. Gitu doang. Apakah berat badannya ideal? Tinggi badannya berapa? Jerawatan, nggak? Apa pipinya tembem? Punya lesung pipit atau gingsul, nggak? Cantikkah? Jelekkah? Jangan-jangan B aja? Berkulit hitam, sawo matang, kuning langsat, atau putih cerah bak bintang iklan Shinzui? Tidak pernah ada penjelasan. Bahkan di kaver bukunya pun sosok Riona cuma digambarkan sebagai siluet! Suatu hal yang tidak biasa.

But I'd opine that this unexplained detail is what makes Riona so great for the readers. This is self-insert time, people. Siapa pun dari kita bisa, dan boleh, menjadi Riona. Asalkan kita memiliki hobi yang sama dengannya. Asalkan kita pernah mengalami atau merasakan hal-hal yang ia alami dan rasakan. As long as you can relate with her way of thinking or her life problems. Bingung menemukan tempat dalam pergaulan untuk berbagi percakapan tentang hobi yang kerap dipandang sebelah mata oleh orang lain pada umumnya? Hello, so you're another Riona! Nice. Lagipula, beragam permasalahan dan konflik yang harus dihadapi oleh Riona sama sekali tidak berkaitan dengan penampilan fisiknya. Her appearance doesn't matterShe could look like Maudy Ayunda, or she could look like me, and none of those options would disturb the story.

Home memberikan lebih banyak porsi character growth kepada kedua anak-anak Darius Tejakusuma, Samuel dan Haniel, alih-alih protagonisnya. Riona, di mata saya, adalah sesosok karakter yang 'sudah jadi'. Ia memang mengalami hal-hal baru seiring berjalannya kisah, namun relatif tidak ada self-discovery. She's got this. Saya tahu Riona akan baik-baik saja, sehingga saya punya waktu luang dan kapasitas mental untuk dibikin baper jumpalitan oleh segala pergolakan batin yang dialami Samuel. YA ALLAH DEK.. RASANYA PENGIN MELUK. His pain feels too real for me. Saya nyesek bukan main ketika persaingan dua bersaudara itu menyebabkan mereka berantem gontok-gontokan sendiri sementara sang bokap yang―secara langsung maupun tidak―jadi biang kerok justru nggak tahu apa-apa. Barangkali nggak peduli juga. Ealah, Le...

"STAY UGLY"

Penulis: Kahlui


Sejak ia kecil, Solaria harus hidup dengan mengemban beban kutukan Kelambu. Sebuah sihir yang membuat wajahnya di mata orang lain tampak jelek dan menjijikkan. Safe space Sola di sekolah adalah ekstrakurikuler seni peran bernama Teater HaWe yang krisis anggota dan terancam dibubarkan dalam waktu dekat. Sola pun mati-matian berusaha mempertahankan satu-satunya tempat di mana ia tidak harus menghadapi dunia yang selalu berpaling tiap melihatnya (dan saat pementasan teater, orang-orang justru harus menatapnya) dibantu Yudhistira―alias Yasha; di bukunya dijelasin kok kenapa panggilannya geser jauh banget dari nama asli―, cowok cakep bertampang mirip (lagi-lagi) blasteran yang lumayan populer seantero sekolah sekaligus penyumbang penonton terbesar di setiap pementasan HaWe. Tetapi Sola curiga manusia rupawan seperti Yasha punya udang di balik batu karena Yasha mau bersikap sebaik itu padanya, si buruk rupa yang dihindari semua orang.

Apabila Kahlui bermaksud menciptakan seorang protagonis yang bikin pembaca kebelet menjitak dan adu otot leher dalam duel bentak-bentakan sewot saking sebalnya, saya harus mengakui: ia sukses besar. Anjiiiiiiiiiiiiiiir gedeg banget sumpah ngadepin Solaria. Terakhir kali saya segondok ini terhadap karakter utama tuh saat ketemu tokoh Marianne Dashwood dari Sense and Sensibility-nya Jane Austen, walau di dua kasus ini kekesalan saya punya sebab-musabab berbeda. Well... I'm a huge ball of insecurities myself, and sometimes I'm trapped inside my own bubble of wild assumptions, but it feels like Solaria turned it up to the max and poured a gallon of steroid on that matter. Terdapat sejumlah adegan-adegan di mana saya secara sadis meneriaki dalam benak, "LO TUH KALAU UDAH JELEK YA KELAKUAN JANGAN IKUTAN RESEK????" Semua orang diketusin. Semua dikenai prasangka. Dikit-dikit ngegas ke kanan-kiri. Hih.

Emotional relapse yang berulang kali dialami Solaria sangat tidak mudah saya lewati sebagai pembaca. Ada perasaan jengkel, "Yaelah gini lagi????" ketika ia berkali-kali mencurigai orang-orang yang peduli kepadanya. Padahal meskipun sering kena damprat, mereka masih ikhlas dan mau-mau aja bertahan menemani Solaria. Tetapi saya harus sadar diri. Saya pun tidak jarang mengalami emotional relapse, menghabiskan semalaman menangis di tempat tidur lantaran memikirkan hal-hal yang sudah pernah sejuta kali saya pertanyakan dalam hati. 

That shit happens

Mungkinkah kekesalan pada Solaria timbul karena hal-hal picik yang ia pikirkan juga tak jarang melintasi benak saya? Am I seeing pieces of myself in her and that's why many scenes and talks and thoughts feel like personal attacks? Hmm. Tampaknya, Stay Ugly dan segala tetek-bengeknya akan lama singgah di kepala.

"HALFIE"

Penulis: Priscila Stevanni


Pindah dari Jakarta ke Gandaloka lantaran ibunya dimutasi, Naira bertekad mengisi hari-harinya di sekolah baru dengan berbagai kegiatan positif seperti jadi pengurus OSIS. Sayang, rencananya harus gagal total lantaran ia terperangkap di tengah-tengah perkelahian dua sosok Demit (yang mana salah satunya adalah rekan sekelasnya, Gesta) dan nyaris kehilangan nyawa. Gesta secara sepihak memutuskan untuk menyelamatkan Naira dengan menyumbangkan kekuatannya―menjadikan Naira sesosok Halfie, alias separo-Demit. Naira kini harus bisa berdamai dengan hidup barunya yang jauh lebih merepotkan, mengatasi kemarahannya terhadap Gesta, sekaligus menyadari bahwa with great power, comes great danger (I'm not even sorry for ripping off Spider-Man quote here, and it rhymes, so yay me).

Halfie bukanlah interaksi pertama saya dengan Gandaloka dan unsur-unsurnya. Home dan Stay Ugly yang mengambil latar sekolah sama, yakni SMA Gandaloka, telah berhasil menciptakan suatu imaji dalam otak. Khayalan pribadi saya sudah terbentuk. Bagaimana kira-kira suasana di SMA Gandaloka. Seperti apa anak-anak remaja yang bersekolah di sana. Bagaimana mereka menikmati jam pelajaran hingga menggeluti kesibukan ekstra kurikuler. Tak dinyana, Halfie menggoyang apa yang saya percayai tentang mereka. Semula saya duga, meski sekolah menengah swasta, SMA Gandaloka merupakan tempat ramah untuk beragam siswa dari berbagai latar belakang. Baik itu yang ekonominya biasa-biasa (baca: dibilang kaya tak sampai, dibilang miskin kok hidupnya masih memadai), bergelimang harta bak anak-anak Darius Tejakusuma, sampai penerima program beasiswa. Semuanya berbaur. Tak ada yang perlu merasa terasingkan dalam percakapan karena keterbatasan ekonomi. Semacam ada konsensus sosial yang digalakkan Sukmaloka sang Kepala Sekolah, bahwa tak peduli seberapa besar-kecil uang yang dimiliki orang tua murid, penting untuk menjaga lingkungan sosial di balik pagar SMA Gandaloka agar selalu bersahaja.

Sepanjang Halfie, saya tidak bisa memungkiri timbulnya perasaan bahwa SMA Gandaloka tiba-tiba telah berubah seratus delapan puluh derajat. Percakapan demi percakapan bergulir, interaksi demi interaksi saya saksikan, dan mendadak saya tidak lagi merasa disambut di tengah-tengah mereka. Saya merasa asing. Saya kebingungan mencari tempat. Seolah-olah dalam sekejap mata saya diceburkan ke lingkungan sekolah swasta internasional berbiaya selangit, di mana kisah wisata mahal ke ujung negeri saat libur semester, saling pamer pakaian dalam bermerek premium ketika ganti seragam olahraga, atau pertanyaan panik para siswi kepada teman segengnya apakah sudah butuh berlatih angkat beban (apa ini maksudnya nge-gym?) untuk menghilangkan lemak-lemak di tubuh adalah dengungan lumrah di tiap sudut bangunannya.

I just.. cannot relate.

Me, questioning the validity of my personal experience and feelings.

But these feelings of being disconnected and confused actually get me to wonder about which one is the real 'SMA Gandaloka'. Am I just fantasizing things out of nowhere for two whole novels? Is this high school just another portrayal, another representation of rich kids society? Don't we have enough of those people in our television screen, Instagram feed, or any other platform..?

WAIT, WAIT―

Apa jangan-jangan saya merasakan ketidaknyamanan ini lantaran sudah bukan remaja lagi?
Apa jangan-jangan kaum remaja sekarang tuh betul-betul kayak gini, dan saya doang yang nggak ngerti?

So I've got my tenth-grader sister at home to read the book and asked for her opinion. Later she said something like, "Aku nggak mungkin bisa nyari temen dengan nyaman kalau tipe anak-anaknya kebanyakan kayak gini. Nggak konek", which makes two of us now. Then I wonder again, is it because I am a person who was born and raised in a particularly small town, thus I simply don't understand all these clamor and glamour of the people growing up in Jakarta and its neighboring cities? Jangan-jangan saya―dan adik saya―cuma merasa nggak nyambung karena sejatinya diri ini ya wong ndeso? Entahlah.

Selaku protagonis, Naira dikisahkan sebagai anak tunggal yang hidup hanya bersama ibunya. Ia dibesarkan oleh single mother yang sibuk bekerja keras memenuhi tugas kepala rumah tangga sekaligus peranan orangtua. Barang-barang pribadinya cenderung biasa-biasa saja karena enggan membebani ibu dengan pengeluaran tambahan. Saya menduga penulis bermaksud menobatkan Naira jadi seorang anomali di lingkungan pergaulan sekolah, sebagaimana Naira juga merupakan anomali dalam identitasnya, terombang-ambing di antara manusia maupun Demit. But after meeting Riona, Yuni, Hosea, Yoga, Solaria, and so many other characters who go to the same school as Naira... this particular setup doesn't feel like cutting it. Naira should not be 'that different kid' at school. To me, this totally unexpected maneuver is deeply disconcerting.

Apabila dipandang sebagai satu novel independen, kisah Halfie cukup solid dan menarik. Memaparkan bahwa seseorang tidak harus sepenuhnya manusia atau sepenuhnya Demit; you can be a bit of both and it's a cool thing, tooPerjalanan Naira menerima identitas baru hingga akhirnya mampu berkontribusi dalam pertikaian klimaks nyaris menyerupai origin story superhero. I'm not saying the book isn't good enough, no. It's just that... when put together with the rests of Magical Tales of Gandaloka series, I no longer know whether or not a person like me has a place to belong in this school named 'SMA Gandaloka'.

"YOUR WINGS"

Penulis: Eve Shi


Chendra yang hubungan romansanya baru kandas karena diakhiri sepihak oleh Fifi, mengalami kesulitan untuk move on. Seakan-akan dikerjai semesta, kelasnya kedatangan murid baru bernama Amel, yang meski nggak ada mirip-miripnya dengan Fifi, membuat Chendra teringat mantan pacarnya. Kondisi ini bikin Chendra uring-uringan sendiri dan berdampak pada sikap cueknya terhadap Amel. Suatu kebetulan menyebabkan Chendra tanpa mengaja memergoki Amel yang tengah berbincang dengan Damion membentangkan sayap, dan saat itulah ia mengetahui bahwa Amel bukan manusia biasa. Ia sesosok Demit. Rasa penasaran Chendra ternyata berhasil mengalahkan rasa takutnya terhadap segala hal berbau gaib nan mistis, dan hubungannya dengan Amel pun kian akrab.

Your Wings is that classic boy-meets-girl storyCompared to the other installments of Magical Tales of Gandaloka I've finished, its core is more of a sweet-colorful-and-flowery transition from awkwardness to friendship, and then from friendship to budding romance. Terus terang, saya tidak punya cukup banyak opini yang dapat disampaikan panjang lebar. Pilar besar novel ini adalah bagaimana Chendra berupaya mengenal Amel lebih jauh dan menerima situasi unik mereka sebagaimana adanya. Mungkin hal ini nggak akan seberapa rempong kalau saja Gardalor, klan bangsawan yang berperan selaku penjaga keamanan dan keseimbangan sosial-masyarakat para Demit, tidak mengendus fakta bahwa Chendra tahu identitas Amel yang sebenarnya dan menerapkan tindakan penanggulangan demi keselamatan komunitas Demit. Gardalor percaya, "Janji manusia ringan bobotnya. Mudah dilanggar dan dilupakan".

Nggak salah-salah amat, sih.

Detik demi detik, menit demi menit, dan jam demi jam yang saya habiskan untuk membaca Your Wings berlangsung penuh kedamaian. Menurut saya, novel ini akan menyenangkan bagi pembaca yang suka kisah-kisah romansa macam A Walk to Remember-nya Nicholas Spark. Or.. John Green, perhaps?

"WELCOME TO THE FANDOM"

Penulis: Utiuts


Finally we've reached the fifth book (based on my reading order, mind you, not the official one). Arakisya Maltarani, yang akrab disapa Kisya, adalah Demit dengan kemampuan sihir kromatik. Profesi sehari-harinya ialah penggemar berat grup K-Pop bernama Fireen sembari jadi pelajar. Berhubung pada dasarnya Kisya senang bermusik, bersama teman-teman dekatnya yaitu Angel dan Adrian (yang lantas menggaet dua anggota tambahan: Kukun dan Lukas), ia membentuk band Taylor's Alive. Setelah terus-menerus berlatih dan melalui proses audisi, kesempatan mereka untuk manggung perdana di pentas seni sekolah lain akhirnya tiba. Sayangnya di hari yang sama, kesempatan Kisya untuk hadir menyaksikan langsung konser Fireen juga datang! Kisya harus memutar otak agar bisa menang banyak dan tidak perlu mengorbankan salah satu acara. Ia bahkan siap mengeksploitasi kemampuan sihir khas Demit demi mengejar ambisi fangirl-nya. Tekadnya yang kelewat kuat membuat Kisya melupakan kata pepatah: Demit berencana, Tuhan menentukan.

Saya sudah tidak lagi mendengarkan K-Pop sejak bertahun-tahun silam. Namun, segala yang Kisya rasakan terhadap Fireen sama sekali tidak berbeda dengan gejolak jiwa saya yang menggandrungi karya-karya musisi dari Jepang, baik itu band, solo artist, sampai grup idola. Mulai dari ONE OK ROCK, Hamasaki Ayumi dan Utada Hikaru, hingga the one-and-only legendary Arashi. Saya merasa terwakili. Saya pun sangat memahami bagaimana para idola (yang bahkan nggak tahu keberadaan saya di dunia ini) mengalami proses pergeseran peran di hati. Awalnya sekadar memberikan hiburan, memicu rasa penasaran, lambat laun berubah menjadi sumber kekuatan.

Ajaib, memang.

Pemaparan backstory Kisya dengan keluarganya yang mengantarkannya ke haribaan Fireen terasa begitu personal bagi saya hingga di sejumlah halaman, saya nyaris sulit melanjutkan. Membalik kertas saja makan waktu lama karena sibuk mewek sendirian. Funny, I know. Welcome to the Fandom is so light, fluffy, warm, full of love so explosive and sincere. Yet here I am shedding my tears upon reading where the money for Kisya's education actually comes from. I know how it feels, Kisya. I really, really know.

Mengatasnamakan budaya fangirl, dengan ini saya mengizinkan diri sendiri untuk secara sewenang-sewenang membuat tagar #GandalokaReadersSelcaDay agar foto-foto bersama novel-novel Magical Tales of Gandaloka yang saya unggah di sini punya sekelumit argumen dasar.

Yep. I'm embracing my fangirl self by wearing Arashi's 24hr TV Charity T-shirt 2019.

Nun jauh di atas sana―coba scroll ke atas sampai lumayan mentok jika lupa―saya sempat mengemukakan bahwa sebagian besar cerita-cerita di Magical Tales of Gandaloka dapat dikonsumsi oleh anak-anak yang belum menginjak usia remaja. Kok, cuma sebagian besar? Alasannya apa? Gini. Tiap-tiap novel Gandaloka punya cukup banyak muatan bahasa Inggris tanpa dilampirkan terjemahan, entah itu sebagai catatan kaki atau dibuatkan daftar sendiri di bagian akhir. Bahkan jika saya tidak salah ingat, tidak ada satu buku pun yang tidak menyelipkan kalimat lengkap berbahasa Inggris. Baik itu sewaktu perbincangan antartokoh atau monolog semata. Kalimat-kalimat utuh berbahasa asing yang tidak disertai bantuan terjemahan ini barangkali dapat mengganjal pembaca-pembaca belia yang kebetulan masih kurang terekspos dengan penggunaan bahasa Inggris di keseharian mereka. Ada sejumlah bagian yang mungkiiiiiiiin bakal mereka 'lompati' atau tidak dipedulikan karena tidak mengerti.

Mungkin, lho ya.

Sebaliknya, justru tidak ada tokoh yang menyeletuk dalam bahasa daerah mana pun. Termasuk Yudhistira, padahal ia diceritakan sempat pindah tinggal beberapa lama di suatu wilayah bermuatan lokal relatif kental. Rasanya agak... sayang aja. Walau saya tahu lokasi Gandaloka memang digambarkan tidak seberapa jauh dari Jakarta, Magical Tales of Gandaloka masih belum lepas dari kesan yang mengatakan seakan-akan ia ditulis sebatas untuk warga ibukota dan kota-kota yang menempel lekat di pinggirannya, yang mayoritas menggunakan kata ganti "lo-gue" dan gampang kegeeran saat disapa dengan kata ganti "kamu" oleh seseorang yang menyebut dirinya "aku".

Ngomong-ngomong, unsur paling memikat dari Magical Tales of Gandaloka ya semestanya. World building-nya rapi, anjir. Tata kota yang dibagi dalam sektor-sektor dengan ciri khas tertentu, kesepakatan sosial agar Demit dan manusia sanggup hidup berdampingan, serta penjelasan tentang pihak-pihak berwenang yang secara turun-temurun saling bekerjasama demi mempertahankan keseimbangan dan 'kedamaian' di Gandaloka benar-benar mempermudah terbentuknya imajinasi atas kehidupan di kota fiktif tersebut. Bikin kepengin menyurati Naobun Project, sumpah. Isi suratnya? Tuntutan warganet semenjana agar peta kota Gandaloka dirilis. Seriusan. Pengin lihat petanya beneran, nih. Andaikan harus nongol sebagai merchandise pun saya beli, deh.

Magical Tales of Gandaloka adalah bacaan ringan berkonsep segar yang perlu dijajaki. Silakan mulai dari buku mana saja. Silakan pilih untuk menyusuri dunia Gandaloka bersama siapa saja. Silakan tarik kesimpulan dari tiap kisah yang telah dilewati. Silakan ajak saudara serta teman-teman untuk mencoba melirik ke dalam Gandaloka. You (or they) may have a completely different perspective and reading experience from my own, and draw a different opinion, but whatever it's gonna be, I think it's worth to find out.

Semoga akan ada novel-novel Magical Tales of Gandaloka jilid berikutnya yang diterbitkan. Lima buku tuh masih kurang. *fingercrossed*


*P.S.: Seluruh foto-foto terlampir dalam tulisan ini berasal dari jepretan jemari sakti mandraguna mas Eronu. Silakan kontak langsung di akun Twitternya apabila berminat ngasih duit jajan tambahan lewat proyekan (supaya ia bisa jajan Gundam lebih banyak lagi dan selalu hepi).

z. d. imama

Friday, 13 September 2019

I left the studio after "Gundala" feeling confused and angry.

Friday, September 13, 2019 6

Malam itu, saya masuk ke studio bioskop yang menayangkan Gundala―film perdana dari rangkaian Jagat Bumilangit―dengan suasana hati biasa-biasa saja. Tanpa ekspektasi. Dua jam kemudian, setelah lampu bioskop kembali dinyalakan dan ending credit bergulir di layar, saya punya hasrat kuat untuk menjambak-jambak rambut sembari melolong. Saya marah. Sekaligus bingung. Sepanjang perjalanan pulang isi kepala saya masih kusut. Setiba di kosan, saya mandi dan beranjak tidur. Berharap di pagi hari emosi yang bergejolak di dalam diri sudah jauh lebih terkendali, dan saya bisa menyingkirkan hal-hal yang membuat Gundala terasa mengganjal. Ternyata, nggak juga. Keinginan untuk ngomel-ngomel masih tetap menggelora.

Saya marah. Saya frustrasi. Rasa marah dan frustrasi ini muncul karena berkali-kali, sepanjang duduk manis di hadapan layar lebar, saya harus berusaha menghibur diri dengan mengingatkan, "Ini baru film pertama dari satu semesta.. Masih banyak yang bisa diungkap di belakang" tiap kali kening berkerut karena dipertontonkan hal-hal mengundang tanda tanya. Tapi sampai kapan mau berlindung di balik tameng 'pembuka sebuah jagat sinema' ketika nyatanya memang Gundala tidak cukup solid dan koheren sebagai film mandiri?

I want to like this movie. Ooooh dear Lord I really do. The first thirty to forty-five minutes was incredibly fun to watch. But as a whole, Gundala to me ends up being something that I can't bear to watch for the second time. And yet at the same time I cannot hate Gundala because, let's face it and let's be real, when it's chopped up into many small shards, even I have my favorite parts. Here and there, it has glorious moments.


"Style over substance"―is what I think describes Gundala's problem in a nutshell. Namun sebelum saya memuntahkan kata demi kata sebagai pelampiasan uneg-uneg pribadi selaku penonton, ada baiknya kepingan-kepingan favorit dibeberkan lebih dulu. Supaya tulisan ini nggak sekadar sambat. Here we go. Also, please welcome: SPOILERS. Proceed only if you've seen this movie, or not minding good scenes being spoilt.

Favorite Piece #1: Masa Kanak-Kanak Sancaka

Bagian terfavorit sepanjang Gundala. Hands down. Interaksi Sancaka dengan tetangganya, dengan keluarganya, dengan anak-anak jalanan lainnya sangat jelas mengarahkan film ini mau ke mana. Meskipun yaa cukup bergelimangan dialog-dialog cheesy di sana-sini. Tapi masih bisa diampuni. Akting Muzakki Ramdhan sebagai Sancaka kecil juara banget. Clueless-nya dapet. Because sometimes life is too quick to keep up with and too much of a nonsense, yet despite your zero understanding, it goes on nonetheless. Adegan Sancaka kecil nendang rantang kiriman tetangga yang mengkhianati keluarganya sampai berserakan―untuk kemudian dipunguti lagi sisa-sisa makanannya dari tanah saking kelaparan sungguh luar biasa. Too stronk.

Sosok Sancaka di sini gamblang tergambar sebagai orang yang lahir dan tumbuh di tengah kemelaratan, sibuk bertahan hidup di tengah kerasnya dunia. Meskipun bapaknya punya semangat berkobar-kobar memperjuangkan keadilan dan peduli pada sesama, Sancaka sepanjang hidupnya justru digempur 'pelajaran' bahwa ikut campur urusan orang lain cuma bikin sengsara, yang dia alami sejak matinya sang ayah. Terus terang, pertanyaan yang muncul di paruh awal film sangat menarik: gimana ceritanya protagonis yang masa bodoh terhadap sekitarnya ini bisa jadi pahlawan?

Tolong siapapun yang bisa ketemu dek Muzakki Ramdhan, saya titip satu kekepan yang kenceng.

Bapaknya Sancaka yang mati dibacok oknum pas sibuk demo buruh.

Favorite Piece #2: Awang, the Best Shounen Boi

Gila. Gila, gila. Pertemuan Sancaka yang nyaris dikeroyok anak jalanan dengan Awang yang datang menolong (padahal aslinya paling malas nimbrung urusan orang lain) adalah personal highlight Gundala bagi saya. Keren banget. THAT ENTRANCE. THAT FUCKING HAIR FLIP. THAT STREET BRAWL SCENE WHICH LOOKED LIKE TAKEN STRAIGHT OUT OF MANGA PAGES, OR ANIME. Oooooooooh boy. I fell in love. Saya berbinar-binar di atas bangku penonton sepanjang durasi kemunculan Awang. Dari sekian banyak karakter yang nongol sepanjang Gundala, boleh dibilang Awang adalah sosok paling efektif. Peranan dia di hidup Sancaka sangat jelas. Awang tidak butuh monolog moralis yang bikin meringis untuk bikin penonton paham bahwa nilai-nilai pragmatis yang dia yakini kadang bertolak belakang dengan suara nurani.

Faris Fadjar you rock!!!! 

Favorite Piece #3: Style (especially when there is little to no substance needed)

Gundala ini film style-over-substance kan, ya. Banyakan fokus ke gaya daripada naruh perhatian ke cerita. Sehingga pada adegan-adegan atau frame yang memang nggak butuh-butuh banget esensi karena bergantung di camerawork atau pengemasan visual, hasilnya emang keren nampol. Butuh contoh? Ghazul disorot dari samping sehingga hanya siluet wajah yang tampak jelas. Anak-anak bekas asuhan Pengkor muncul satu per satu dan siap-siap berangkat bareng naik mobil dengan slow-motion. Those kind of cuts.

Gundala punya banyak visual highlight yang menunjukkan film ini memang punya budget dan para pembuatnya memiliki modal pengetahuan yang mumpuni perihal 'film language', serta bagaimana menonjolkan suatu hal melalui visual dan teknik pengambilan gambar. This is not necessarily a bad thing to flaunt about, really. Bisa menyajikan visual oke? Cool. It's a great thing for your eyes to enjoy. Setidaknya sampai para penonton tersadar betapa memprihatinkannya Gundala dari segi penceritaan.

Now, we're getting into the main course.
HERE COMES MY RANTS, FILLED WITH DISAPPOINTMENT.


Ultimate Problem: The writing. You know.. plot, pacing, storytelling. That.

Gusti Rabbi, pancen kudu nangis. Ambyar, cuk. Banyak suara-suara di media sosial yang menyuarakan perkara plot hole, tapi saya tidak setuju. Gimana mau ngomongin 'lubang' di alur kisah jika alurnya aja... ngalor-ngidul-ngetan-ngulon, semrawut, amburadul, seakan-akan film Gundala juga nggak ngerti mau menceritakan apa? Nggak tahu mau menuju ke mana selepas setengah jam (oke, anggep aja empat puluh lima menit) awal? Penceritaannya lompat-lompat ke sana dan kemari. Banyak hal-hal krusial yang hasil akhirnya kentang. Setengah matang. Gundala should be an origin story. And considering where he comes from, his background, his story should be grounded enough so the audience cares about it. Penonton seharusnya jadi bisa punya kepedulian terhadap Sancaka. Terhadap bagaimana dia akhirnya merasa terpanggil untuk membela mereka yang terpojok, meskipun bertahun-tahun hidup sibuk nyari aman sendiri. Nyari selamat sendiri. Ogah direpotkan oleh masalah orang lain. Namun film ini secara ajaib berhasil bikin saya makin lama makin masa bodoh terhadap protagonisnya. Protagonis, lho!

Momen besar yang menyebabkan Sancaka memutuskan aktif 'menolong orang' dan berhenti bersikap pasif nan apatis gagal dihadirkan. Tidak terasa. Tidak berbekas. Tidak ada hal yang membuat penonton mak dheg di bangku masing-masing dan terkesan dengan pilihan Sancaka. There is nothing at stake here. Padahal motivasi Sancaka untuk nggak mau tahu urusan orang sangat nyata: bapaknya mati dibunuh gara-gara memperjuangkan orang lain, ibunya hilang tiada kabar, dia jadi sebatang kara dan menggelandang sedari kecil. Tapi perkara apa yang berhasil bikin dia mau jadi pahlawan? Karena cetusan satpam senior pas nganterin copet menyerahkan diri? Karena Tara Basro kebetulan ngomong hal yang sama dengan almarhum bokapnya? Lah, ngapain dia harus tertohok sedemikian dalam terhadap kata-kata mereka? Emang mereka berdua siapanya Sancaka? Punya keterlibatan emosional sejauh apa? Lantas orang-orang pasar yang selalu dijadikan alasan Tara Basro mendesak partisipasi Sancaka to the level of guilt-tripping ini punya dampak pribadi apa bagi dia? Becoming superhero is a job that demands constant selflessness, yes, but the reason for that huge first step is almost always.. arguably selfish. Something, someone, or whatever immensely close to youPersonal. Yet I shall repeat: there is nothing at stake here.

And dear Lord, why is the storyline THIS convoluted???? Cerita Gundala rusuh banget sampai-sampai semua terasa seperti subplot, bahkan untuk kisah semendasar perjalanan―baik fisik maupun psikologis―Sancaka jadi Gundala. Which is immensely sad, because isn't the origin story of Gundala supposed to be the main body of this movie?


Saya juga mau bahas sedikit tentang Pengkor. Sure he is great villain, the one people should be careful about, or even fear. Pemaparan betapa menakutkannya Pengkor dengan memanfaatkan seorang anggota DPR muda tereksekusi dengan sangat, sangat, SANGAT bagus. Tensinya kece sumpah. Sang anggota dewan mempermalukan Pengkor di hadapan orang lain. Dia diingatkan kenapa sebaiknya tidak macam-macam terhadap Pengkor. Sepanjang perjalanan pulang, dia kepikiran dan diselimuti ketakutan, yang lalu berakhir dengan kematiannya. Anggota DPR tersebut terjun dari gedung apartemen akibat efek hipnosis anak buah Pengkor. Sepanjang satu kasus ini, ketegangan dan suspense yang dihadirkan benar-benar terjaga. The audience could actually sense the danger. Mantap.

Sayang, keemasan ini justru dirusak sendiri oleh film Gundala di penghujung film. Setelah terluka parah di showdown pamungkas dengan Sancaka―which was painfully anticlimactic and lukewarm at best, Pengkor sibuk bermonolog panjang memaparkan motivasinya menyebarluaskan serum amoral dan antidote palsu yang mana saya sama sekali nggak ngerti. Sekaligus nggak percaya. I don't buy his bullshit at all. Pengkor, sosok antagonis buruk rupa yang hidupnya susah lantaran jadi korban pembakaran, disiksa pengurus panti asuhan, dicibir, digunjing, dan disepelekan, saya pikir nggak punya urusan terhadap apakah rakyat pintar atau bodoh. Apakah generasi baru akan bisa membedakan hal baik dengan hal buruk atau tidak. Barangkali saya justru jauh lebih maklum dan paham jika alasan Pengkor menyebarkan serum berbahaya yang dampaknya bikin bayi terlahir cacat adalah―misalnya―keinginan agar orang lain merasakan yang dia alami. Hidup dipandang sebelah mata dan ditatap dengan raut aneh hanya gara-gara fisiknya rusak. Karena cacat. As petty as it is, at least such personal revenge is believable. Not everyone should be anything like Thanos whose 'selfless' ambition affects all living things, you know.


Lagipula ngapain sih konfliknya harus bawa-bawa rakyat dan DPR? Harus bawa-bawa masa depan generasi penerus bangsa? Pakai bawa-bawa keadilan sosial? Kejauhaaaan. Kegedeaaaan. Cannot relate, brothers and sisters. Pahlawannya bahkan baru di level berantem lawan preman perusuh dan pelaku pembakar pasar! Kostumnya masih makeshift dari benda-benda yang bisa didapet di Ace Hardware! Emang kenapa kalau secara kebetulan Sancaka hadir tepat waktu untuk nolong anggota DPR yang diserang pembunuh di perhentian kereta api? Apakah itu cukup kuat untuk bikin dia iya-iya aja saat dituntut turun tangan menangani masalah skala nasional? Apakah itu juga membuat Sancaka bisa dengan tenang pakai kostum baru yang secara terang-terangan dibilang bahwa dibiayai oleh uang rakyat?

I... don't think so.

Gundala is also unbelievably preachy. And ambitious. And pretentious. Andaikata saya nenggak alkohol tiap kali nongol ceramah moral lewat dialog, pas ending credit bergulir mungkin udah sukses jackpot di toilet bioskop. Saya bisa banget lho hidup tanpa harus menatap anggota DPR ngomong dengan muka memenuhi layar, "Apa itu amoral? Jadi LGBT?" atau bapak-bapak satpam tua ngomel, "Kalau gak peduli sesama, ngapain jadi manusia?" sambil naik motor butut saat dia berangkat nganter copet yang diuber warga ke pos polisi terdekat. Padahal nggak mustahil untuk bikin adegan-adegan bermuatan positif tanpa harus berulang kali, bertubi-tubi, melemparkan kalimat-kalimat yang seolah menuntut dilabeli 'PESAN MORAL' ke penonton. Then why going this route?


Kalau sampai sekarang masih nggak ada satu orang pun di lingkungan terdekat yang menepuk bahu Joko Anwar―atau barangkali hati nuraninya sendiri sudah terketuk―dan bilang, "Jok, mendingan lo rekrut penulis skenario film untuk proyekan Bumilangit ke depannya deh. Lo bisa fokus di penyutradaraan" demi perkembangan jagat sinema ini.. ya hehehe aja. Tenggelam dalam kubangan yes-man memang menyenangkan, kok.

To be fair, Joko Anwar is NOT necessarily a bad scriptwriter. However, I dare to say that Gundala is his most messy work in the last few years of his career. Joko Anwar's strong point, I think, is that he's good at smoothly elaborating simple story into a particular length. But first, the essence or the nucleus of such story must be 'small' enough, as proven in A Copy of My Mind or even Pengabdi SetanWhich isn't exactly the case with Gundala.

Saya udah cukup berpartisipasi dalam mencerahkan masa depan perfilman nasional di Indonesia apa belum nih, om Joko Anwar? Saya, seorang penonton semenjana, apakah telah menjelma jadi ahli skenario dadakan menurut om Joko?


Hingga Gundala rilis, jujur nih, tadinya saya termasuk salah satu dari orang-orang yang berprasangka baik terhadap bagaimana Joko Anwar menghadapi kritik. Khususnya yang disampaikan secara apik, jelas, dan terstruktur, syukur-syukur sopan. Kritik yang nggak sekadar ngomong "Apaan nih jelek" doang, baik itu dilakukan oleh penonton maupun sesama pekerja dunia perfilman. Ternyata ya.. segitu-gitu aja. Hehehe.

z. d. imama