Showing posts with label books. Show all posts
Showing posts with label books. Show all posts

Monday, 6 June 2022

Langganan Majalah BOBO di tahun 2022: WHY NOT?

Monday, June 06, 2022 2

 

Hello, lovely internet folks! Finally. My first ever post in 2022, and also, the first time in forever.  Tanpa banyak babibu dan fafifu, saya akan langsung masuk ke topik bahasan kita kali ini. Yah, sebenarnya juga sudah ke-spoiler dari judul postingan sekaligus gambar pembuka, sih.

Pada suatu sore di pertengahan tahun 2022 (maksudnya hari ini), tiba-tiba seorang netizen yang tinggal di sebuah kos-kosan di Jakarta-alias saya-tersentak dari e-book yang sedang dibacanya. Suatu pikiran random muncul dari benaknya: 

"Majalah BOBO sekarang apa kabar, ya?" 


Rada aneh, memang. Padahal sejenak sebelumnya, si netizen ini-alias saya-sedang menikmati sebuah novel misteri yang sama sekali nggak punya sangkut-paut dengan majalah BOBO. Layaknya netizen pada umumnya, manusia satu ini kadang-kadang memang suka berkelakuan ajaib.

Dahulu kala, di suatu masa sebelum pandemi menyerang, saya pernah menyentil betapa majalah BOBO berjasa besar dalam postingan tentang Magic Knight Rayearth. Ibu selalu membelikan edisi-edisi lawasnya dari tukang loak dan pedagang majalah bekas, untuk saya gunakan berlatih membaca. Sekaligus, tentu saja, untuk disobek-sobek dan digunting-gunting (karena setiap anak kecil adalah tornado ukuran mini yang bisa jalan-jalan dengan dua kaki). Sewaktu bangku Sekolah Dasar pun, saya pernah memenangkan suatu perlombaan yang hadiahnya adalah langganan gratis majalah BOBO selama beberapa bulan. 

Majalah BOBO adalah salah satu bagian penting dalam hidup saya. Saya juga yakin bahwa yang merasakan seperti ini bukan cuma saya seorang. Berhubung tiba-tiba kepikiran, saya memutuskan duduk di depan laptop. Membuka browser. Mencari-cari informasi. Pertanyaan yang saya ingin temukan jawabannya sudah jelas: Majalah BOBO masih ada nggak sih sekarang? Apa masih bisa langganan? Tersedia versi cetak atau sudah jadi majalah digital?

Jawabnya ada di ujung langit.

Masih ada. Bisa. Tersedia baik cetak maupun digital.


WOW.
Saya mangap.

Bisa langganan majalah BOBO! Yay!

Hasil awal browsing saya mengantarkan langsung ke laman Gramedia Digital. Dari situ, saya jadi tahu beberapa hal:
  • Harga eceran majalah BOBO (per edisi) sekarang Rp15,000
  • Beberapa paket langganan Gramedia Digital bisa dipakai mengakses majalah BOBO
  • Logo dan huruf majalah BOBO sampai saat ini tetap nggak berubah

Masih kurang puas, saya kembali meneruskan perjalanan menjelajah internet. Gramedia Digital, sebagaimana namanya, memberikan akses majalah BOBO versi e-book. Bagaimana dengan versi cetak? Ke mana saya harus menghubungi kalau ingin beli majalah BOBO edisi konvensional? Ayolah internet, pinjamkan kehebatanmu!!

Tak seberapa lama kemudian, misteri terpecahkan.

Opsi langganannya lebih banyak! Harganya lebih murah!

Saya terdampar di sebuah situs bernama Grid Store. Usut punya usut, Grid Store ini merupakan situs yang menjual produk-produk majalah dan tabloid terbitan Grid Network, Kompas Gramedia. Majalah anak-anak yang tersedia dalam katalog tidak hanya BOBO, tetapi juga ada BOBO Junior (walaupun terus terang saya nggak tahu apa beda target pasarnya dibandingkan BOBO-senpai), MOMBI, dan MOMBI SD.

Bisa dilihat dari screenshot di atas, Grid Store menyediakan lebih banyak opsi langganan dibanding Gramedia Digital. Tidak cuma itu, harganya pun lebih murah. Tarif per eksemplar bahkan ada selisih seribu Rupiah. Lumayan cuy.

Tanpa pikir panjang, saya klik salah satu rencana langganan dan menekan Masukkan Keranjang. Barangkali inilah kekuatan kangen. Inilah kesaktian rasa sayang. Bikin ikhlas melakukan hal-hal yang sejatinya nggak butuh-butuh amat. Apalagi timbunan bacaan pribadi tingginya setara Monas dan nggak kunjung berkurang.

Isi keranjang belanjaan

Bisa dibayar dengan berbagai macam cara!

Proses transaksinya nggak berbeda dengan kebanyakan lapak belanja online lainnya: bikin akun baru terlebih dahulu baru bisa belanja. Nggak terlalu banyak data yang dibutuhkan Grid Store. Cukup nama, alamat email, nomor ponsel, tanggal lahir, serta gender—yang sayangnya, tapi juga sudah bisa diduga, masih hanya tercantum Laki-Laki dan Perempuan.

Setelah pembayaran dilunasi, majalah BOBO yang jadi belanjaan saya langsung bisa diakses dari kolom Bookshelf. Muncul dalam sekejap mata. Works like magic. Sungguh luar biasa kekuatan internet dan konten digital.

It sits prettily, ready to wait for me <3

Jika kalian nggak ikhlas merogoh saku untuk berlangganan mingguan, beberapa konten majalah BOBO secara terbatas juga bisa diakses gratis via situs resmi di sebelah sini. Silakan kakak-kakak yang mau nostalgia kehidupan masa kanak-kanak. Everything is just one click away~

Saya mau pamit dulu. Sudah ditunggu Bobo, Coreng, dan Upik. And really, the greatest perk of being an adult, with your own hard-earned money, is that now you can pay for things you love as a child, and nobody can stop you from doing so

z. d. imama

Tuesday, 30 November 2021

"Pasukan Buzzer": Siapa pun bisa menjadi siapa pun di internet

Tuesday, November 30, 2021 1

Jika bukan karena membaca ringkasan di sampul belakang buku dan memergoki tulisan “Novel” yang tertera di sudut kanan bawah buku, saya hampir mengira “Pasukan Buzzer” karya Chang Kang-Myoung (judul asli: 댓글부대 Daetgeulbudae) adalah buku nonfiksi. Rasanya prasangka ini tidak berlebihan. Buzzer adalah istilah yang sejak beberapa tahun belakangan ini semakin marak diperbincangkan, sangat dekat dengan hal-hal yang berbau kampanye. Pilpres, pilgub, pilkada, kebijakan-kebijakan publik kontroversial, peluncuran produk baru, entah apa lagi. Bahkan sebagai pengguna media sosial yang lumayan aktif, tidak jarang cuitan saya di Twitter yang mengandung kata kunci tertentu mendadak disambar seenaknya oleh akun-akun bot yang menimpali dengan makian atau kalimat-kalimat pembelaan berlebihan. Pokoknya menyebalkan. Begitu tahu bahwa “Pasukan Buzzer” merupakan novel, saya langsung punya firasat yang mengatakan buku ini bukan sesuatu yang bisa saya baca sebagai hiburan semata. Bukan cerita haha-hehe. 

Dua ratus delapan puluh sekian halaman kemudian, insting saya terbukti benar.

(Memang) Bukan bacaan ringan.


“Pasukan Buzzer” menyoroti Tim Aleph, perusahaan pemasaran online yang menawarkan jasa promosi, baik produk hingga perusahaan. Tim Aleph digawangi oleh Sam-goong yang jago bersiasat sekaligus pakar fafifuwasweswos, Chatatkat yang luwes merangkai kata, dan 01810, yang hingga akhir kisah tak pernah diungkap nama sebenarnya, sebagai ahli komputer. Proyek-proyek manipulasi opini yang mereka bertiga tangani selama ini bisa terbilang berjalan mulus, sehingga boleh dikatakan tampaknya ketiganya cukup berbesar kepala. Percaya diri bisa melakukan apa saja. Tatkala sebuah tawaran pekerjaan yang tidak lazim muncul di hadapan mereka, yakni menghancurkan situs Kafe Jumda dalam rentang waktu satu bulan dengan imbalan sembilan puluh juta won, Tim Aleph pun mengiakan. Meski Chatatkat dan 01810 sempat bimbang. Tanpa dinyana, proyek Kafe Jumda ini menjerumuskan Tim Aleph dalam suatu permainan yang lebih besar, yang entah apakah ketiganya berhasil keluar dari sana. 

Hidup-hidup, tentunya.

Satu hal yang paling awal mencuri perhatian saya ketika membuka “Pasukan Buzzer” adalah judul-judul tiap bab yang tertera dalam Daftar Isi. Novel ini tampak menganggap serius dirinya sendiri. Penulisnya sengaja mengutip kata-kata Joseph Goebbels yang beredar di internet, walau kemudian disertai penafian bahwa tidak bisa dipastikan apakah Goebbels benar-benar pernah mengucapkan hal-hal yang dikutip tersebut. 

Di titik ini, alis saya sudah terangkat. 
Hmm. Menarik.

Jajaran judul bab pada novel "Pasukan Buzzer" yang sungguh lain dari yang lain

Cerita disajikan dalam bentuk kombinasi narasi dan transkrip rekaman wawancara yang alurnya maju-mundur. Agak membingungkan, terus terang. Butuh konsentrasi khusus agar tidak tersesat di tengah-tengah membaca. Komposisi tiap bab tergolong formulaik: transkrip rekaman, foya-foya, seks atau aktivitas sejenis, paparan kegiatan manipulasi opini. Ulangi. Ketika progres membaca saya mencapai sekitar 50%, benak saya mulai mempertanyakan apakah skena seperti ini memang identik dengan dunia seks? Ataukah penulisnya, Chang Kang-Myoung, hanya ingin memasukkan detil-detil adegan perlendiran yang tidak berkaitan dengan pokok permasalahan agar tulisannya terdengar dewasa, maskulin, dan gagah? Atau barangkali ingin mengekspos betapa misoginisnya pria-pria Korea Selatan kepada dunia?

Kira-kira yang mana nih?

Secara umum, “Pasukan Buzzer” adalah suatu cerita yang digerakkan oleh plot. Bukan tokoh-tokohnya. Penokohan tiap karakter yang muncul terasa hanya sebatas pemukaan. Pembaca tidak belajar banyak tentang sosok Sam-goong, Chatatkat, dan 01810, selain bahwa ketiganya terbilang cukup kikuk di kehidupan nyata dan mudah terbuai perhatian perempuan. Pembaca yang lebih peduli pada keutuhan karakter dibandingkan kompleksitas plot (seperti saya, misalnya) bisa jadi akan merasa kecewa.

Sebagai kompensasi tipisnya karakterisasi tokoh, “Pasukan Buzzer” penuh sesak dengan referensi kasus-kasus, gosip, dan isu sosial di Korea Selatan. Mulai dari rapper hingga pemilihan presiden. Chang Kang-Myoung benar-benar tidak menahan diri dalam mengerahkan berbagai pengetahuan dan referensi yang dia peroleh selama berkarir sebelas tahun sebagai reporter. Jujur, ada beberapa momen di mana saya merasa semua informasi yang dilemparkan ini bikin jengah. Begah. Eneg. Seakan-akan saya sedang duduk bersama seorang laki-laki yang sibuk berceloteh seorang diri, menjabarkan betapa luas wawasannya tanpa sedikit pun berhenti untuk memperhatikan apakah lawan bicaranya menunjukkan minat pada apa yang dia bicarakan. Tidak mengambil jeda untuk peduli apakah lawan bicaranya punya opini untuk disampaikan. Asumsi awal saya yang menduga novel ini menganggap serius dirinya sendiri sepertinya tidak bisa dibilang meleset.

Meski begitu, “Pasukan Buzzer” bukan novel yang buruk. Saya tidak bisa berbahasa Korea, sehingga tidak mungkin memberikan penilaian terhadap cara penuturan kisah ini dalam bahasa aslinya, tetapi terjemahan bahasa Indonesia dari tangan Iingliana terasa mulus dan mengalir. Enak banget. Catatan kaki yang nongol di sana-sini, menjelaskan berbagai referensi kasus maupun istilah-istilah khas budaya Korea Selatan juga sangat membantu pemahaman pembaca. Andaikata skor novel “Pasukan Buzzer” ini 8 dari 10, 5 poin akan saya dedikasikan untuk Iingliana selaku pengalih bahasa. 

Engkaulah juaranya.
Sudah sana ambil sepedanya, Kak. Ambil sepabrik-pabriknya.

Salah satu contoh catatan kaki. Menolong sekali yang gini-gini, tuh.

“Pasukan Buzzer” juga sedikit-banyak memantik renungan. Internet adalah ruang bebas. Terlalu bebas, malah. Di Internet, siapa pun bisa menjadi siapa pun. Membuat akun palsu. Mereka-reka identitas baru. Mengaku-ngaku. Apa yang kita baca, dengar, dan temukan di internet belum tentu sepenuhnya fakta. Opini bisa digiring. Imej bisa dibangun. Apa yang benar dan apa yang dipercaya khalayak umum bisa jadi adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Informasi palsu sekalipun, jika disebarkan oleh cukup banyak orang, akan diinterpretasikan sebagai kebenaran. Sebagai #SaksiPasukanBuzzer, barangkali keraguan adalah sahabat baik yang akan dapat menyelamatkan kita di internet. Sebab seperti halnya Chatatkat yang sanggup menulis artikel “Perjalanan Kami sebagai Suami-Istri Menjelajahi Amerika Utara dengan Mobil” dilengkapi lima ratus lembar foto padahal nyatanya sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di Amerika Serikat, bisa jadi ulasan ini juga ditulis oleh orang yang sebenarnya sama sekali tidak membaca novel “Pasukan Buzzer”.

Jadi, sekarang apa yang mau dipercaya?

____________________________________

"Pasukan Buzzer" - Chang Kang Myoung «««

288 halaman, Gramedia Pustaka Utama (2021)
Diterjemahkan dari 댓글부대 (Daetgeulbudae) ke bahasa Indonesia oleh Iingliana
Editor: Juliana Tan & Raya Fitrah

z. d. imama


*PS: Ulasan ini ditulis untuk berpartisipasi dalam kompetisi Tantangan Membaca #SaksiPasukanBuzzer dari @fiksigpu. 
**PPS: Ulasan ini berhasil menjadi pemenang dalam kompetisi Tantangan Membaca #SaksiPasukanBuzzer dari @fiksigpu.

Thursday, 31 October 2019

Magical Tales of Gandaloka: long post about thoughts on the first batch

Thursday, October 31, 2019 7

Semasa kanak-kanak, membaca (sekaligus mengoleksi beberapa macam) novel serial untuk anak-anak dan remaja merupakan kegemaran saya. Pasukan Mau Tahu? Cek. Goosebumps dari R. L. Stine? Cek. Animorphs, the most magnificent teenagers-vs-alien war story ever? Cek. Ada sejumlah judul-judul lain yang pada tahun 2018 lalu sempat saya tuliskan juga dalam sebuah postingan lama yang notabene memang membahas bacaan nostalgia. Kalau berminat ngintip apa sajakah mereka, silakan klik bagian 'sebuah postingan lama' di kalimat sebelumnya, atau arahkan kursor ke sebelah sini

Ketika Naobun Project merilis Magical Tales of Gandaloka pada awal Oktober 2019, saya langsung menaruh minat pada serial novel yang terinspirasi konsep Goosebumps dan Animorphs ini. Keseluruhan cerita akan mengambil latar tempat yang sama, yakni "Gandaloka", sebuah kota fiktif yang lokasinya dikisahkan tak terlalu jauh dari DKI Jakarta. Walaupun secara kasat mata ia tampak seperti kota biasa, sejatinya Gandaloka menyimpan kekuatan magis yang sangat besar. Sejak lama, Gandaloka adalah tempat bermukim kaum siluman yang dijuluki―atau mereka justru menjuluki diri sendiri?―Demit. Para Demit ini tinggal di antara manusia, meniru penampilan manusia, dan menjalani cara hidup ala manusia. Singkat kata, setiap installment Magical Tales of Gandaloka akan menceritakan dinamika dan riak interaksi Demit maupun manusia yang menjalani hari-harinya di kota magis itu. Tapi alih-alih seperti Goosebumps, Pasukan Mau Tahu, ataupun Animorphs yang ditulis oleh satu orang―dan lusinan ghostwriter karena... oh come on!―, masing-masing buku Magical Tales of Gandaloka justru dihadirkan dari tangan-tangan berbeda. Entahlah apabila nantinya akan ada penulis yang menyumbang lebih dari satu judul untuk Gandaloka.

Saya rasa kelima buku Magical Tales of Gandaloka tidak punya nomor urutan tertentu. Sehingga kita boleh-boleh aja ngambil asal buku mana pun dan dinikmati tanpa harus mencemaskan bagaimana kalau bacanya kebalik-balik. That being said, I'll write down my thoughts that came up upon reading each book―and I will put these thoughts in my reading order―and maybe here and there, I will express my thoughts about the whole batch of this series. IMPORTANT NOTICE: there will be spoilers. Barangkali sebatas hal-hal kecil. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa apa yang saya paparkan termasuk hal krusial. So please proceed at your own discretion. Jika kalian sama-sama sudah baca keseluruhan Magical Tales of Gandaloka, atau termasuk kalangan orang-orang yang justru baru akan tergerak untuk menikmati suatu karya setelah dapat bocoran mumpuni dari kanan-kiri, yuk ah gas terus.


Gambar di atas memaparkan urutan saya membaca kloter awal serial ini. Dimulai dari Home yang ditulis oleh Keinesasih, dan dilanjut terus ke Stay Ugly dari Kahlui, kemudian Halfie dari Priscila Stevanni, lalu ke Your Wings-nya Eve Shi. Ditutup dengan Welcome to the Fandom persembahan Utiuts. Kelima buku Magical Tales of Gandaloka diberikan rating 13+, sehingga jelas bahwa target utamanya memang para remaja yang sudah duduk di bangku pendidikan sekolah menengah. Namun saya pikir-pikir, kayaknya sebagian besar dari kelima buku ini secara khusus nggak akan bermasalah andaikan dibaca oleh anak-anak usia sepuluh tahunan. Lho, kok 'sebagian besar' aja? Kenapa nggak semua? Nanti kita bahas ya. Pelan-pelan.

*Cracking fingers.*

Here we go.

"HOME"

Penulis: Keinesasih


Ayah Riona tiba-tiba memutuskan akan menjual rumah keluarga yang diwariskan dari kakek. Sebuah penyelidikan kecil-kecilan mengantar Riona pada sebuah fakta: kedua orang tuanya dikenai hipnosis oleh konglomerat properti bernama Darius Tejakusuma agar bersedia menyerahkan tempat tinggal mereka. Masalah makin tumpang-tindih ketika Riona menyadari bahwa anak-anak Darius, Samuel (yang tampangnya relatif lokal tapi ganteng) dan Haniel (blasteran bule yang katanya jauh lebih ganteng), ternyata satu sekolah dengannya. Malahan, salah seorang dari mereka adalah rekan sekelasnya. Riona harus memutuskan apakah kedua cowok itu lawannya, atau mereka cukup bisa dipercaya untuk dijadikan kawan dalam usahanya mempertahankan rumah keluarga. Sebab bagaimanapun, sulit bagi anak sekolahan melawan pengusaha kaya raya seorang diri.

Begitu kira-kira garis besar cerita Home.

Novel ini adalah sebuah perjalanan. Setidaknya itu yang terlintas di benak saya sewaktu membaca. Entah benar atau tidak, saya merasakan ada bagian di mana seolah-olah sebuah switch dinyalakan, dan mbak Ines selaku penulis berhasil menemukan posisi pewe dalam menuturkan cerita. Bab-bab eksposisi di awal masih mempunyai sedikit kesan canggung. Seiring lembaran demi lembaran buku saya balik, kesan itu lebur. Persis seperti berkenalan dengan orang baru. Semula hanya satu-dua patah kalimat interaksi obligatory yang ada, tapi selang beberapa saat kemudian kita tertawa-tawa bersama seolah sudah berkawan sejak lama.

Foto di atas memang sengaja diambil #DemiKonten. Sudah, jangan protes.

Satu hal yang sangat, sangat, SANGAAAT saya sukai dari Home adalah penampilan fisik Riona, meski ia seorang protagonis, hampir sama sekali tidak dideskripsikan lebih lanjut sepanjang cerita. Oke, kita para pembaca sempat diberitahu bahwa rambutnya lurus dan tidak berponi. Tapi ya udah. Gitu doang. Apakah berat badannya ideal? Tinggi badannya berapa? Jerawatan, nggak? Apa pipinya tembem? Punya lesung pipit atau gingsul, nggak? Cantikkah? Jelekkah? Jangan-jangan B aja? Berkulit hitam, sawo matang, kuning langsat, atau putih cerah bak bintang iklan Shinzui? Tidak pernah ada penjelasan. Bahkan di kaver bukunya pun sosok Riona cuma digambarkan sebagai siluet! Suatu hal yang tidak biasa.

But I'd opine that this unexplained detail is what makes Riona so great for the readers. This is self-insert time, people. Siapa pun dari kita bisa, dan boleh, menjadi Riona. Asalkan kita memiliki hobi yang sama dengannya. Asalkan kita pernah mengalami atau merasakan hal-hal yang ia alami dan rasakan. As long as you can relate with her way of thinking or her life problems. Bingung menemukan tempat dalam pergaulan untuk berbagi percakapan tentang hobi yang kerap dipandang sebelah mata oleh orang lain pada umumnya? Hello, so you're another Riona! Nice. Lagipula, beragam permasalahan dan konflik yang harus dihadapi oleh Riona sama sekali tidak berkaitan dengan penampilan fisiknya. Her appearance doesn't matterShe could look like Maudy Ayunda, or she could look like me, and none of those options would disturb the story.

Home memberikan lebih banyak porsi character growth kepada kedua anak-anak Darius Tejakusuma, Samuel dan Haniel, alih-alih protagonisnya. Riona, di mata saya, adalah sesosok karakter yang 'sudah jadi'. Ia memang mengalami hal-hal baru seiring berjalannya kisah, namun relatif tidak ada self-discovery. She's got this. Saya tahu Riona akan baik-baik saja, sehingga saya punya waktu luang dan kapasitas mental untuk dibikin baper jumpalitan oleh segala pergolakan batin yang dialami Samuel. YA ALLAH DEK.. RASANYA PENGIN MELUK. His pain feels too real for me. Saya nyesek bukan main ketika persaingan dua bersaudara itu menyebabkan mereka berantem gontok-gontokan sendiri sementara sang bokap yang―secara langsung maupun tidak―jadi biang kerok justru nggak tahu apa-apa. Barangkali nggak peduli juga. Ealah, Le...

"STAY UGLY"

Penulis: Kahlui


Sejak ia kecil, Solaria harus hidup dengan mengemban beban kutukan Kelambu. Sebuah sihir yang membuat wajahnya di mata orang lain tampak jelek dan menjijikkan. Safe space Sola di sekolah adalah ekstrakurikuler seni peran bernama Teater HaWe yang krisis anggota dan terancam dibubarkan dalam waktu dekat. Sola pun mati-matian berusaha mempertahankan satu-satunya tempat di mana ia tidak harus menghadapi dunia yang selalu berpaling tiap melihatnya (dan saat pementasan teater, orang-orang justru harus menatapnya) dibantu Yudhistira―alias Yasha; di bukunya dijelasin kok kenapa panggilannya geser jauh banget dari nama asli―, cowok cakep bertampang mirip (lagi-lagi) blasteran yang lumayan populer seantero sekolah sekaligus penyumbang penonton terbesar di setiap pementasan HaWe. Tetapi Sola curiga manusia rupawan seperti Yasha punya udang di balik batu karena Yasha mau bersikap sebaik itu padanya, si buruk rupa yang dihindari semua orang.

Apabila Kahlui bermaksud menciptakan seorang protagonis yang bikin pembaca kebelet menjitak dan adu otot leher dalam duel bentak-bentakan sewot saking sebalnya, saya harus mengakui: ia sukses besar. Anjiiiiiiiiiiiiiiir gedeg banget sumpah ngadepin Solaria. Terakhir kali saya segondok ini terhadap karakter utama tuh saat ketemu tokoh Marianne Dashwood dari Sense and Sensibility-nya Jane Austen, walau di dua kasus ini kekesalan saya punya sebab-musabab berbeda. Well... I'm a huge ball of insecurities myself, and sometimes I'm trapped inside my own bubble of wild assumptions, but it feels like Solaria turned it up to the max and poured a gallon of steroid on that matter. Terdapat sejumlah adegan-adegan di mana saya secara sadis meneriaki dalam benak, "LO TUH KALAU UDAH JELEK YA KELAKUAN JANGAN IKUTAN RESEK????" Semua orang diketusin. Semua dikenai prasangka. Dikit-dikit ngegas ke kanan-kiri. Hih.

Emotional relapse yang berulang kali dialami Solaria sangat tidak mudah saya lewati sebagai pembaca. Ada perasaan jengkel, "Yaelah gini lagi????" ketika ia berkali-kali mencurigai orang-orang yang peduli kepadanya. Padahal meskipun sering kena damprat, mereka masih ikhlas dan mau-mau aja bertahan menemani Solaria. Tetapi saya harus sadar diri. Saya pun tidak jarang mengalami emotional relapse, menghabiskan semalaman menangis di tempat tidur lantaran memikirkan hal-hal yang sudah pernah sejuta kali saya pertanyakan dalam hati. 

That shit happens

Mungkinkah kekesalan pada Solaria timbul karena hal-hal picik yang ia pikirkan juga tak jarang melintasi benak saya? Am I seeing pieces of myself in her and that's why many scenes and talks and thoughts feel like personal attacks? Hmm. Tampaknya, Stay Ugly dan segala tetek-bengeknya akan lama singgah di kepala.

"HALFIE"

Penulis: Priscila Stevanni


Pindah dari Jakarta ke Gandaloka lantaran ibunya dimutasi, Naira bertekad mengisi hari-harinya di sekolah baru dengan berbagai kegiatan positif seperti jadi pengurus OSIS. Sayang, rencananya harus gagal total lantaran ia terperangkap di tengah-tengah perkelahian dua sosok Demit (yang mana salah satunya adalah rekan sekelasnya, Gesta) dan nyaris kehilangan nyawa. Gesta secara sepihak memutuskan untuk menyelamatkan Naira dengan menyumbangkan kekuatannya―menjadikan Naira sesosok Halfie, alias separo-Demit. Naira kini harus bisa berdamai dengan hidup barunya yang jauh lebih merepotkan, mengatasi kemarahannya terhadap Gesta, sekaligus menyadari bahwa with great power, comes great danger (I'm not even sorry for ripping off Spider-Man quote here, and it rhymes, so yay me).

Halfie bukanlah interaksi pertama saya dengan Gandaloka dan unsur-unsurnya. Home dan Stay Ugly yang mengambil latar sekolah sama, yakni SMA Gandaloka, telah berhasil menciptakan suatu imaji dalam otak. Khayalan pribadi saya sudah terbentuk. Bagaimana kira-kira suasana di SMA Gandaloka. Seperti apa anak-anak remaja yang bersekolah di sana. Bagaimana mereka menikmati jam pelajaran hingga menggeluti kesibukan ekstra kurikuler. Tak dinyana, Halfie menggoyang apa yang saya percayai tentang mereka. Semula saya duga, meski sekolah menengah swasta, SMA Gandaloka merupakan tempat ramah untuk beragam siswa dari berbagai latar belakang. Baik itu yang ekonominya biasa-biasa (baca: dibilang kaya tak sampai, dibilang miskin kok hidupnya masih memadai), bergelimang harta bak anak-anak Darius Tejakusuma, sampai penerima program beasiswa. Semuanya berbaur. Tak ada yang perlu merasa terasingkan dalam percakapan karena keterbatasan ekonomi. Semacam ada konsensus sosial yang digalakkan Sukmaloka sang Kepala Sekolah, bahwa tak peduli seberapa besar-kecil uang yang dimiliki orang tua murid, penting untuk menjaga lingkungan sosial di balik pagar SMA Gandaloka agar selalu bersahaja.

Sepanjang Halfie, saya tidak bisa memungkiri timbulnya perasaan bahwa SMA Gandaloka tiba-tiba telah berubah seratus delapan puluh derajat. Percakapan demi percakapan bergulir, interaksi demi interaksi saya saksikan, dan mendadak saya tidak lagi merasa disambut di tengah-tengah mereka. Saya merasa asing. Saya kebingungan mencari tempat. Seolah-olah dalam sekejap mata saya diceburkan ke lingkungan sekolah swasta internasional berbiaya selangit, di mana kisah wisata mahal ke ujung negeri saat libur semester, saling pamer pakaian dalam bermerek premium ketika ganti seragam olahraga, atau pertanyaan panik para siswi kepada teman segengnya apakah sudah butuh berlatih angkat beban (apa ini maksudnya nge-gym?) untuk menghilangkan lemak-lemak di tubuh adalah dengungan lumrah di tiap sudut bangunannya.

I just.. cannot relate.

Me, questioning the validity of my personal experience and feelings.

But these feelings of being disconnected and confused actually get me to wonder about which one is the real 'SMA Gandaloka'. Am I just fantasizing things out of nowhere for two whole novels? Is this high school just another portrayal, another representation of rich kids society? Don't we have enough of those people in our television screen, Instagram feed, or any other platform..?

WAIT, WAIT―

Apa jangan-jangan saya merasakan ketidaknyamanan ini lantaran sudah bukan remaja lagi?
Apa jangan-jangan kaum remaja sekarang tuh betul-betul kayak gini, dan saya doang yang nggak ngerti?

So I've got my tenth-grader sister at home to read the book and asked for her opinion. Later she said something like, "Aku nggak mungkin bisa nyari temen dengan nyaman kalau tipe anak-anaknya kebanyakan kayak gini. Nggak konek", which makes two of us now. Then I wonder again, is it because I am a person who was born and raised in a particularly small town, thus I simply don't understand all these clamor and glamour of the people growing up in Jakarta and its neighboring cities? Jangan-jangan saya―dan adik saya―cuma merasa nggak nyambung karena sejatinya diri ini ya wong ndeso? Entahlah.

Selaku protagonis, Naira dikisahkan sebagai anak tunggal yang hidup hanya bersama ibunya. Ia dibesarkan oleh single mother yang sibuk bekerja keras memenuhi tugas kepala rumah tangga sekaligus peranan orangtua. Barang-barang pribadinya cenderung biasa-biasa saja karena enggan membebani ibu dengan pengeluaran tambahan. Saya menduga penulis bermaksud menobatkan Naira jadi seorang anomali di lingkungan pergaulan sekolah, sebagaimana Naira juga merupakan anomali dalam identitasnya, terombang-ambing di antara manusia maupun Demit. But after meeting Riona, Yuni, Hosea, Yoga, Solaria, and so many other characters who go to the same school as Naira... this particular setup doesn't feel like cutting it. Naira should not be 'that different kid' at school. To me, this totally unexpected maneuver is deeply disconcerting.

Apabila dipandang sebagai satu novel independen, kisah Halfie cukup solid dan menarik. Memaparkan bahwa seseorang tidak harus sepenuhnya manusia atau sepenuhnya Demit; you can be a bit of both and it's a cool thing, tooPerjalanan Naira menerima identitas baru hingga akhirnya mampu berkontribusi dalam pertikaian klimaks nyaris menyerupai origin story superhero. I'm not saying the book isn't good enough, no. It's just that... when put together with the rests of Magical Tales of Gandaloka series, I no longer know whether or not a person like me has a place to belong in this school named 'SMA Gandaloka'.

"YOUR WINGS"

Penulis: Eve Shi


Chendra yang hubungan romansanya baru kandas karena diakhiri sepihak oleh Fifi, mengalami kesulitan untuk move on. Seakan-akan dikerjai semesta, kelasnya kedatangan murid baru bernama Amel, yang meski nggak ada mirip-miripnya dengan Fifi, membuat Chendra teringat mantan pacarnya. Kondisi ini bikin Chendra uring-uringan sendiri dan berdampak pada sikap cueknya terhadap Amel. Suatu kebetulan menyebabkan Chendra tanpa mengaja memergoki Amel yang tengah berbincang dengan Damion membentangkan sayap, dan saat itulah ia mengetahui bahwa Amel bukan manusia biasa. Ia sesosok Demit. Rasa penasaran Chendra ternyata berhasil mengalahkan rasa takutnya terhadap segala hal berbau gaib nan mistis, dan hubungannya dengan Amel pun kian akrab.

Your Wings is that classic boy-meets-girl storyCompared to the other installments of Magical Tales of Gandaloka I've finished, its core is more of a sweet-colorful-and-flowery transition from awkwardness to friendship, and then from friendship to budding romance. Terus terang, saya tidak punya cukup banyak opini yang dapat disampaikan panjang lebar. Pilar besar novel ini adalah bagaimana Chendra berupaya mengenal Amel lebih jauh dan menerima situasi unik mereka sebagaimana adanya. Mungkin hal ini nggak akan seberapa rempong kalau saja Gardalor, klan bangsawan yang berperan selaku penjaga keamanan dan keseimbangan sosial-masyarakat para Demit, tidak mengendus fakta bahwa Chendra tahu identitas Amel yang sebenarnya dan menerapkan tindakan penanggulangan demi keselamatan komunitas Demit. Gardalor percaya, "Janji manusia ringan bobotnya. Mudah dilanggar dan dilupakan".

Nggak salah-salah amat, sih.

Detik demi detik, menit demi menit, dan jam demi jam yang saya habiskan untuk membaca Your Wings berlangsung penuh kedamaian. Menurut saya, novel ini akan menyenangkan bagi pembaca yang suka kisah-kisah romansa macam A Walk to Remember-nya Nicholas Spark. Or.. John Green, perhaps?

"WELCOME TO THE FANDOM"

Penulis: Utiuts


Finally we've reached the fifth book (based on my reading order, mind you, not the official one). Arakisya Maltarani, yang akrab disapa Kisya, adalah Demit dengan kemampuan sihir kromatik. Profesi sehari-harinya ialah penggemar berat grup K-Pop bernama Fireen sembari jadi pelajar. Berhubung pada dasarnya Kisya senang bermusik, bersama teman-teman dekatnya yaitu Angel dan Adrian (yang lantas menggaet dua anggota tambahan: Kukun dan Lukas), ia membentuk band Taylor's Alive. Setelah terus-menerus berlatih dan melalui proses audisi, kesempatan mereka untuk manggung perdana di pentas seni sekolah lain akhirnya tiba. Sayangnya di hari yang sama, kesempatan Kisya untuk hadir menyaksikan langsung konser Fireen juga datang! Kisya harus memutar otak agar bisa menang banyak dan tidak perlu mengorbankan salah satu acara. Ia bahkan siap mengeksploitasi kemampuan sihir khas Demit demi mengejar ambisi fangirl-nya. Tekadnya yang kelewat kuat membuat Kisya melupakan kata pepatah: Demit berencana, Tuhan menentukan.

Saya sudah tidak lagi mendengarkan K-Pop sejak bertahun-tahun silam. Namun, segala yang Kisya rasakan terhadap Fireen sama sekali tidak berbeda dengan gejolak jiwa saya yang menggandrungi karya-karya musisi dari Jepang, baik itu band, solo artist, sampai grup idola. Mulai dari ONE OK ROCK, Hamasaki Ayumi dan Utada Hikaru, hingga the one-and-only legendary Arashi. Saya merasa terwakili. Saya pun sangat memahami bagaimana para idola (yang bahkan nggak tahu keberadaan saya di dunia ini) mengalami proses pergeseran peran di hati. Awalnya sekadar memberikan hiburan, memicu rasa penasaran, lambat laun berubah menjadi sumber kekuatan.

Ajaib, memang.

Pemaparan backstory Kisya dengan keluarganya yang mengantarkannya ke haribaan Fireen terasa begitu personal bagi saya hingga di sejumlah halaman, saya nyaris sulit melanjutkan. Membalik kertas saja makan waktu lama karena sibuk mewek sendirian. Funny, I know. Welcome to the Fandom is so light, fluffy, warm, full of love so explosive and sincere. Yet here I am shedding my tears upon reading where the money for Kisya's education actually comes from. I know how it feels, Kisya. I really, really know.

Mengatasnamakan budaya fangirl, dengan ini saya mengizinkan diri sendiri untuk secara sewenang-sewenang membuat tagar #GandalokaReadersSelcaDay agar foto-foto bersama novel-novel Magical Tales of Gandaloka yang saya unggah di sini punya sekelumit argumen dasar.

Yep. I'm embracing my fangirl self by wearing Arashi's 24hr TV Charity T-shirt 2019.

Nun jauh di atas sana―coba scroll ke atas sampai lumayan mentok jika lupa―saya sempat mengemukakan bahwa sebagian besar cerita-cerita di Magical Tales of Gandaloka dapat dikonsumsi oleh anak-anak yang belum menginjak usia remaja. Kok, cuma sebagian besar? Alasannya apa? Gini. Tiap-tiap novel Gandaloka punya cukup banyak muatan bahasa Inggris tanpa dilampirkan terjemahan, entah itu sebagai catatan kaki atau dibuatkan daftar sendiri di bagian akhir. Bahkan jika saya tidak salah ingat, tidak ada satu buku pun yang tidak menyelipkan kalimat lengkap berbahasa Inggris. Baik itu sewaktu perbincangan antartokoh atau monolog semata. Kalimat-kalimat utuh berbahasa asing yang tidak disertai bantuan terjemahan ini barangkali dapat mengganjal pembaca-pembaca belia yang kebetulan masih kurang terekspos dengan penggunaan bahasa Inggris di keseharian mereka. Ada sejumlah bagian yang mungkiiiiiiiin bakal mereka 'lompati' atau tidak dipedulikan karena tidak mengerti.

Mungkin, lho ya.

Sebaliknya, justru tidak ada tokoh yang menyeletuk dalam bahasa daerah mana pun. Termasuk Yudhistira, padahal ia diceritakan sempat pindah tinggal beberapa lama di suatu wilayah bermuatan lokal relatif kental. Rasanya agak... sayang aja. Walau saya tahu lokasi Gandaloka memang digambarkan tidak seberapa jauh dari Jakarta, Magical Tales of Gandaloka masih belum lepas dari kesan yang mengatakan seakan-akan ia ditulis sebatas untuk warga ibukota dan kota-kota yang menempel lekat di pinggirannya, yang mayoritas menggunakan kata ganti "lo-gue" dan gampang kegeeran saat disapa dengan kata ganti "kamu" oleh seseorang yang menyebut dirinya "aku".

Ngomong-ngomong, unsur paling memikat dari Magical Tales of Gandaloka ya semestanya. World building-nya rapi, anjir. Tata kota yang dibagi dalam sektor-sektor dengan ciri khas tertentu, kesepakatan sosial agar Demit dan manusia sanggup hidup berdampingan, serta penjelasan tentang pihak-pihak berwenang yang secara turun-temurun saling bekerjasama demi mempertahankan keseimbangan dan 'kedamaian' di Gandaloka benar-benar mempermudah terbentuknya imajinasi atas kehidupan di kota fiktif tersebut. Bikin kepengin menyurati Naobun Project, sumpah. Isi suratnya? Tuntutan warganet semenjana agar peta kota Gandaloka dirilis. Seriusan. Pengin lihat petanya beneran, nih. Andaikan harus nongol sebagai merchandise pun saya beli, deh.

Magical Tales of Gandaloka adalah bacaan ringan berkonsep segar yang perlu dijajaki. Silakan mulai dari buku mana saja. Silakan pilih untuk menyusuri dunia Gandaloka bersama siapa saja. Silakan tarik kesimpulan dari tiap kisah yang telah dilewati. Silakan ajak saudara serta teman-teman untuk mencoba melirik ke dalam Gandaloka. You (or they) may have a completely different perspective and reading experience from my own, and draw a different opinion, but whatever it's gonna be, I think it's worth to find out.

Semoga akan ada novel-novel Magical Tales of Gandaloka jilid berikutnya yang diterbitkan. Lima buku tuh masih kurang. *fingercrossed*


*P.S.: Seluruh foto-foto terlampir dalam tulisan ini berasal dari jepretan jemari sakti mandraguna mas Eronu. Silakan kontak langsung di akun Twitternya apabila berminat ngasih duit jajan tambahan lewat proyekan (supaya ia bisa jajan Gundam lebih banyak lagi dan selalu hepi).

z. d. imama

Tuesday, 25 June 2019

Calling for willing adopters: (another) Book Giveaway!

Tuesday, June 25, 2019 20

Belakangan hari, saya banyak pikiran dan banyak bersedih. Laptop entah kenapa tidak mau mendeteksi wifi kosan (logo di bawah selalu menunjukkan kabel disilang dengan tulisan "Connection are unavailable" padahal saya tahu itu tidak benar!!!), beberapa buku milik pribadi tidak mendapat tempat penyimpanan di lemari. Gimana nggak surem... hiks. Akhirnya saya putuskan untuk mencarikan mereka rumah baru saja. Mencari orang-orang penikmat buku bacaan yang akan menyayangi mereka dan memberikan buku-buku saya tempat tinggal berikutnya. Semua masih dalam kondisi sangat bagus. Beberapa bahkan belum dikeluarkan dari plastik segel (tolong tidak usah tanya kenapa, toh nggak bakalan saya jawab jujur juga), sehingga terus terang saya bisa-bisa aja menjual buku-buku tersebut dengan harga miring alih-alih bikin giveaway. Mayan kan dapet cuan demi menyambung hidup. Namun lantaran saat ini saya sedang dihempas cobaan―masih ingat kisah laptop menolak mendeteksi sinyal wifi kos?―dan tengah berupaya menyogok Tuhan agar mengeluarkan saya dari azab ini menabung karma baik, ya sudahlah saya ikhlaskan melepas mereka secara gratis.

Ada sembilan buku yang tersedia untuk diadopsi. Sebagian besar merupakan karya penulis Indonesia, ada pula yang dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia alias terjemahan. Cuma satu buku impor yang masih dalam bahasa asli, yakni bahasa Inggris. Sebelum masuk ke penjelasan cara mengikuti giveaway ini, saya akan bahas sedikit masing-masing buku bercerita tentang apa. Biar nggak kayak nadah kucing dalam karung, gitu.

Entry One:

Bernard Batubara - Asal Kau Bahagia


Masih bersegel plastik. Hehehe. Hehe. He. Lahir dari skenario film berjudul sama, yang katanya terinspirasi dari lagu Armada. Beberapa dari warga media sosial barangkali lebih familier dengan penulisnya, Bernard Batubara, yang juga lumayan aktif di akun-akun pribadi. Film cikal-bakal novel ini pun belum lama rilis kok. Kayaknya akhir tahun lalu deh. 

Berikut cuplikan sinopsis yang tertera di kaver belakang:

"Waktu kutanya apa kau benar mencintaiku, dengan yakin kau menjawab iya. Saat aku takut kau akan meninggalkanku, sambil tersenyum menenangkan kau mengusir segala ketakutan itu. Kau selalu tersenyum bahagia saat kita bersama, kau tak pernah absen menunjukkan betapa kau sayang padaku. Dan aku dengan mudahnya jatuh cinta semakin dalam padamu. Tapi, kini dengan mataku, aku melihatmu dengan yang lain. Tangannya menggenggam erat jemarimu. Kalian tersenyum. Lalu dia memelukmu. Aku ingin marah, tapi aku merasa takut. Lalu aku sadar mungkin sudah saatnya aku melepasmu. Asal kau bahagia dengan yang lain."

Entry Two:

Alanda Kariza - Travel Young


"Alanda Kariza berbagi kisah perjalanan yang mendewasakan dirinya saat ke New York, Vatikan, London, Doha, Pittsburgh, dan tempat menarik lainnya. Banyak hal yang bisa jadi pelajaran menarik, seperti keluar dari zona nyaman, berani mengambil keputusan, percaya diri, dan bisa menyikapi suatu masalah tanpa keluhan. Baginya, traveling is about discovering yourself and also your flaws."

Sudah jelas yah dari paparan di kaver belakang bahwa buku ini―berbeda dengan kedelapan temen-temennya―bukan novel fiksi. Semacam jurnal perjalanan dengan bahasa penulisan yang mudah diikuti. Tidak sempat saya lapisi sampul plastik bening, tetapi kondisinya masih super bagus. Mulus. Percaya deh.

Entry Three:

Ika Natassa - Antologi Rasa


Edisi rilisan ulang dengan kaver film, yang juga belum lama ini dirilis ke pasaran. Lengkap dengan tanda tangan penulisnya, nangkring di kaver depan. Wakakaka. Udah, udah. Nggak usah nanya aneh-aneh tentang dapetnya gimana atau saya pernah ikut acara apaan. Terima aja. 

Mengantisipasi kalian yang memang belum pernah baca novel ini sekaligus tidak nonton filmnya sewaktu tayang di bioskop lokal, Antologi Rasa in a nutshell adalah kisah cinta saling-silang antara tiga karakter: Keara, Harris, dan Ruly. Formula klasik, yang mana oke-oke aja sepanjang penuturan kisahnya tetap menarik serta mampu melibatkan emosi para pembaca.

Entry Four:

Alberthiene Endah - Athirah


Another one still inside its plastic seal. Saya punya satu jilid lagi, nangkring di rumah orang tua. Beli kedua kalinya pas diskonan untuk ditaruh kos, jaga-jaga siapa tahu ingin baca ulang suatu hari nanti, tapi ternyata tumpukan buku-buku baru saya membuatnya terlupakan. Sudah difilmkan juga. Penulisan narasinya bagus, mengingat sejauh yang saya tahu, mbak Alberthiene Endah yang merajut kata demi kata di buku ini juga merupakan seorang editor handal. Sayang beribu sayang, Noura Books selaku penerbit tidak memberikan desain kaver yang lebih oke untuk Athirah. Jadinya yaa kesannya gitu doang. Semenjana. Seadanya. Padahal buku ini sangat layak mendapat kaver yang jauh lebih menarik dan mengesankan.

"Emma tidak pernah punya gambaran tentang wanita yang dimadu. Sejak Bapak memilih tinggal di rumah keduanya, Emma sering terlihat merenung, tertunduk lesu. Ketika langkah Bapak semakin jarang terdengar di rumah kami, Emma semakin sendu. Namun, Emma tak membiarkan dirinya terlalu lama disiksa rindu. Dia segera berjuang untuk bangkit, menjadi wanita yang mandiri."

Entry Five:

Pradnya Paramitha - Better Than This


Sepanjang saya tidak salah ingat (atau tidak ketipu informasi hoax), ini adalah satu dari sekian banyak novel yang tadinya berada di dalam naungan platform Wattpad sebelum akhirnya diterbitkan sebagai buku cetak. Bagi yang menyukai formula romansa klasik benci-jadi-cinta, mungkin bakal menikmati kisah Saras dan Leo yang dipaparkan. Sinopsisnya kurang lebih kayak gini:

"Saras tahu pasti Leo membencinya. Sederet gelar positif mulai dari mahasiswa berprestasi nasional, kesayangan dosen, cowok tampan pujaan kita bersama, dan senior tingkat 4 yang terancam lulus suma cum laude, cukuplah untuk membuat Leo risih dengan keberadaan cewek malas, nyolot, bodoh, tukang taruhan, dan kuliah di Fakultas Hukum tapi satu-satunya yang dia tahu hanyalah fotografi. Tapi, memangnya Saras peduli? Dibenci Leo tak akan membuatnya mati. Sayangnya, mau tak mau Saras harus peduli karena saat ini Leo adalah kunci kehidupan bahagianya. Sebuah taruhan dengan musuh bebuyutannya, Morrie, membuat Saras harus menjadikan Leo pacarnya."

Entry Six:

Akmal Nasery Basral - Nagabonar Jadi Dua



Nagabonar Jadi Dua termasuk dalam salah satu film Indonesia pertama yang saya tonton di bioskop semasa kecil. Man, that was so fun and refreshing. Deddy Mizwar, before Jawa Barat happened, was such a good filmmaker wasn't he. Novel ini mengupas kisah yang sama dengan filmnya, yakni konflik lintas generasi antara Nagabonar dan putra tunggalnya, Bonaga. Penuturannya sangat bagus dan halus. Bahkan meski mengambil sudut pandang Nagabonar langsung―yang artinya novel ini membelot dari versi film yang menggunakan sudut pandang orang ketiga, sama sekali tidak terkesan narsistik atau janggal dibaca, padahal ada beberapa adegan yang memuat petuah-petuah serius yang dilontarkan oleh Nagabonar sendiri. Saya sempat iri dengan editor buku ini karena kayaknya dia nggak kerja ngapa-ngapain kecuali baca naskah dan cekikikan di depan layar komputer.

"Cinta itu memang luar biasa, Monita. Jika sebuah cinta tak menghasilkan hal-hal yang luar biasa bagi dua manusia yang terlibat di dalamnya, aku khawatir apakah perasaan yang menghubungkan mereka itu sungguh-sungguh cinta atau bukan."

Entry Seven:

Ayu Utami - Cerita Cinta Enrico


SHE SIGNED THE BOOK! LOOK!

Jangan tertipu dengan judulnya yang terkesan sangat simpel dan berbau teenlit. Jangan tertipu juga dengan desain kaver minimalis dan tampak manis. This is Ayu Utami, folks. You'll need a summary to know what's the real deal here and I will give you exactly that.

"Cerita Cinta Enrico adalah kisah nyata seorang anak yang lahir bersamaan dengan Pemberontakan PRRI. Ia menjadi bayi gerilya sejak usia satu hari. Kerabatnya tak lepas dari peristiwa '65. Ia menjadi aktivis di ITB pada era Orde Baru, sebelum gerakan mahasiswa dipatahkan. Merasa dikebiri rezim, ia merindukan tumbangnya Soeharto. Ini kisah cinta dalam bentangan sejarah Indonesia sejak era pemberontakan daerah hingga Reformasi."

Nah, kan. Apanya coba yang teenlit

Entry Eight:

John Green - Looking for Alaska


Versi terjemahan bahasa Indonesia terbitan GPU. Judul lokalnya: Mencari Alaska. Di buku keduanya ini, John Green berkisah tentang Miles Halter, pencinta biografi yang suka menghafal kata-kata terakhir para tokoh terkenal dunia. Dia baru saja lulus SMA, dan sebagai anak yang tidak populer di sekolah, tidak pernah berkencan, tidak punya teman akrab, kehidupan sosialnya garing, dan Miles senang bisa meninggalkan itu semua di Florida. Di lingkungannya yang baru, Miles bertemu orang-orang baru. Mendapatkan pergaulan baru. Salah satunya ya.. cewek bernama Alaska Young. Seseorang yang entah kenapa, nggak ada angin nggak ada hujan, nggak disamber geledek pun, mendadak pergi. Begitu saja.

Last Entry:

Rick Riordan - The Heroes of Olympus: The Lost Hero


The only book written in English among others in this giveaway! Penggemar Riordan pasti tahu seberapa seru dan kocak gaya penulisan beliau dalam tiap novel-novel karyanya. The Lost Hero adalah jilid perdana dari serial The Heroes of Olympus (spin-off serial Percy Jackson yang hits banget itu), sehingga kalian nggak akan kebingungan dengan apa yang terjadi, karena buku ini memang 'kepala' rangkaian buku-buku lain. Biasanya paling susah dicari juga. Ya, kan. Sering kan pengin ngikutin sesuatu tapi cuma bisa nemu jilid-jilid tengahnya doang? Tapi jika kalian males ngumpulin temen-temennya ya nggak masalah. 

"Welcome Jason Grace, a Roman demigod with no memory of his past. He, along with Piper McLean, a daughter of Aphrodite, and Leo Valdez, a son of Hephaestus, are given a quest to rescue Hera, the queen of gods, from the clutches of Gaea, the primordial goddess of the earth."

Kesembilan buku dalam satu frame. Iya, ini foto yang sama dengan gambar pembuka.

Jadi, cara ikut giveaway ini bagaimana?

Syaratnya mudah sekali, mbak-mbak dan mas-mas sekalian. Silakan tinggalkan komentar di bawah, yang mana wajib menyertakan hal-hal berikut ini:
  • Buku yang diinginkan dan alasannya. Contoh: "Aku mau adopsi Better Than This karena nggak punya akun Wattpad!" atau kalau rakus dan nggak pemilih, bisa juga "Buku yang mana aja boleh deh, mau semuanya kok".
  • Buku favorit, atau buku yang sekarang sedang dibaca.
  • Tulisan di blog ini yang kalian suka dari segala postingan carut-marut yang ada, beserta alasan singkat. Kayak gini misalnya: "Aku suka tulisan 'Asian Games Jakarta-Palembang 2018 Merchandise: a threat' karena gara-gara ulasan merchandise Asian Games itu akhirnya aku tahu barang apa yang mau kubeli!"
  • Sertakan akun Twitter (plis jangan Instagram, saya nggak punya) yang aktif, atau email. Agar saya bisa menghubungi kalian kalau-kalau menang.
Giveaway akan berlangsung hingga Juli 2019. Tanggal persisnya belum saya tentukan, namun berhubung saya perlu melegakan kamar sesegera mungkin, barangkali di pekan kedua sudah akan ada pengumuman pemenang. Monggo iseng-iseng dibaca konten blog tidak bejuntrung ini agar bisa menjawab poin persyaratan ketiga. Masih ada waktu sekitaran dua minggu, tuh. Sekadar saran: berhubung blog saya sempat mati suri, akan lebih bijaksana jika yang dibedah adalah postingan mulai tahun 2015 saja.

Saya tunggu partisipasinya yah! Semoga berkenan menjadi kediaman baru bagi buku-buku ini. Oh iya, sebagai tambahan informasi: pemenang belum tentu mendapatkan buku yang diminati. Poin pertama di atas hanya sebatas panduan bagi saya untuk bikin prioritas. Tapi selebihnya ya tergantung untung-untungan. Hehe. Gapapa kan?

z. d. imama

Monday, 17 June 2019

The Reading Dilemma

Monday, June 17, 2019 11

Sebagai salah satu manusia yang ngaku-ngaku kebanyakan hobi, saya selalu pusing membagi waktu untuk melakukan semuanya―dan masih berusaha menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab terhadap hidupnya sendiri dengan bekerja nyari nafkah sehari-hari, tanpa keenakan jadi pengangguran. Nonton serial drama atau film dan variety show, kirim-mengirim kartupos, pergi ke bioskop, jalan-jalan random tanpa tujuan, termasuk hobi saya yang paling senpai alias tertua: baca buku. Jenis buku langganan saya sebatas komik dan novel. Terus terang, saya tidak terlalu punya ambisi melahap buku-buku nonfiksi kecuali ensiklopedia―semata-mata lantaran buanyak dijejali foto-foto ilustrasi berwarna-warni yang sangat menarik hati.

Semasa kanak-kanak sampai remaja, mengoleksi buku cetak adalah satu-satunya hal yang terlintas di benak saya tiap ingin memiliki suatu judul. Ada puluhan, bahkan mungkin ratusan judul berjajar berdesakan memenuhi rak-rak dan lemari buku di kamar selama bertahun-tahun. Hingga saya masuk jenjang pendidikan tinggi, di mana para dosen banyak mengirimkan materi serta referensi belajar berupa buku elektronik (selanjutnya secara selang-seling akan saya sebut 'e-book' sebagaimana istilah populer) yang bisa dibaca melalui komputer. Udah nggak usah ngoreksi dengan nyebut, "Lho kan bisa pakai smartphone juga???" karena mahasiswa gembel macem saya baru berhasil nabung cukup untuk beli smartphone di penghujung tahun ketiga kuliah.

Dunia saya terguncang.

Gak kok. Itu gak lebay. I was really shooketh the first time I read a proper book from my handheld device. Sebelumnya kan mentok-mentok fanfiction ya.. dari situs terkait masing-masing. Nggak nyangka aja ternyata baca novel (dan materi kuliah) bisa sepraktis itu. Sekaligus sejereng itu―disclaimer: layar ponsel pintar saya di masa tersebut relatif sangat kecil.

But which one I prefer best amongst the two?


Buku-buku bacaan cetak punya banyak kekuatan. Terutama karena secara fisik mereka ada, sense of existence sangat kuat. Berasa banget ketika kita memang 'punya'. Bisa dilihat berjajar di lemari atau rak buku. Dipegang, digrepe, dan dibolak-balik sampul maupun halamannya. Bisa ketahuan secara jelas apakah buku-buku tersebut dirawat, dianiaya, atau ya terlupakan begitu saja keberadaannya setelah beberapa lama. ALSO, THE SMELL. Pernah nggak sih memperhatikan aroma kertas dari sebuah buku baru yang masih kinyis-kinyis? Wanginya tuh sangat menenangkan hati. Bau buku-buku bekas, atau buku lama, juga beda lagi. Mengendus-endus kertas buku adalah suatu pengalaman yang nggak akan bisa didapati jika kita berhadapan dengan versi non-cetak.

Saya rasa penyusunan buku cetak pun melibatkan lebih banyak manusia. Banyak pihak bahu-membahu dalam sebuah penerbitan, terutama ya karena mereka memang perlu diurus percetakan, digotong-gotong ke mana-mana saat proses distribusi, dipajang di toko buku yang butuh penataan khusus agar menarik, gudang penyimpanan, dan lain sebagainya. Maybe it's a sentimental value after all, but still a value nonetheless.

The biggest letdown is that printed books demand so much space. SO. MUCH. SPACE. Buset dah gimana nyimpennya kalau tempat tinggal gedenya segitu-gitu aja, rak buku juga cuma satu-satunya? Belum lagi jika ternyata sang kolektor adalah warga kos-kosan yang ruangannya sepetak doang. Mampus ae. Saya yang saat ini hanya mengoleksi beberapa judul komik cetak terbitan lokal sudah berasa empot-empotan karena rasanya nggak ada tempat layak lagi untuk naruh jilid-jilid baru yang rutin bermunculan kayak jerawat. Mau dibawa jalan-jalan pun harus super selektif. Tidak bisa seenaknya main cemplang-cemplung ke dalam tas lantaran berat. Bicara pemeliharaan, musuh buku cetak juga tidak sekadar waktu. Hewan-hewan kecil hama rumah tangga yang serangannya kadang tak bisa diduga harus diperhitungkan sebagai lawan tangguh. Lembar-lembar halaman berangsur menguning, lapuk, hingga bolong-bolong digerogoti kutu, rayap, tikus.. bahkan tidak jarang buku cetak justru rusak akibat keteledoran pemilik sendiri. Ketumpahan kopi, misalnya. Hhhhh. Makan ati. Perih.

Screenshot segelintir koleksi e-book pribadi. Please (don't) judge me.

Sementara itu, buku digital (atau yang biasa disebut e-book) memang tidak semelankolis buku fisik. Itu fakta. But oh dear Lord isn't it groundbreaking. Saya bisa bawa lusinan buku-buku yang saya miliki sekaligus saat bepergian ke mana-mana cukup dengan bermodal satu gawai elektronik―biasanya sih ponsel biasa, berhubung tidak punya Kobo ataupun Kindle―tanpa harus keberatan beban bawaan akibat menggotong-gotong ribuan lembar kertas. Malahan bisa santai nyolong-nyolong nyambi baca novel di komputer kantor sewaktu sedang jenuh ngadepin kerjaan dan perlu penyegaran pikiran (maafkan saya, Bapak dan Ibu bos). Anjer praktis syekale!!! Saya tidak berlangganan paket di situs baca tertentu seperti Gramedia Digital Store atau Bookmate sehingga selalu beli ketengan via Google Playbooks. Agak tidak cukup hemat jika dibandingkan ongkos pengeluaran paket baca bulanan, terlebih saat kalap, namun gini aja saya udah hepi banget karena ada banyak sekali judul-judul yang bisa ditemukan meski rilisan fisiknya udah dicari sampai jebol ke berbagai toko buku tetap kagak dapet-dapet.

Kelemahan terbesar dari e-book ya nggak bisa dipamerin. Taek banget, kan. Hahaha. No, really. I'm dead serious. Cenderung mustahil―atau setidaknya, sulit sekali―pakai buku-buku digital koleksi pribadi sebagai properti untuk foto-foto cantik dan diunggah ke media sosial. Seandainya temen, pacar, saudara, atau gebetan berkunjung ke tempat tinggal, tidak peduli mau seheboh apa katalog e-book kita di akun pribadi, nggak akan semudah itu kepergok bahwa ternyata kita seorang kolektor buku atau hobi membaca. Lah ya mau gimana wong wujud fisiknya nggak ada... Perhaps this can teach us one or two about humility? I don't know. I wonder?

Buku digital tidak butuh susah-payah dipersenjatai dari serangan hama rumah tangga lantaran tidak menggunakan kertas. Lebih mudah dirawat. Asalkan kita nggak lupa password atau melakukan tindakan bodoh lain yang menyebabkan akun terkunci selamanya, sih. Even it's arguably friendlier to nature. Ketakutan terbesar saya terhadap e-book yang berjajar manis dalam koleksi pribadi adalah membayangkan situs atau penyedia layanan buku digitalnya kukut suatu hari nanti. Bangkrut. Tutup usia. Tidak masalah jika datanya bisa diunduh dan disimpan sebagai salinan. Tapi kan nggak semuanya begitu, kamerad. Bohong kalau saya bilang buku digital bikin bebas kekhawatiran. Tetep cemas, hanya saja lain perkara. Wk.

Meski kerap terbelit dilema tentang buku cetak versus digital, belakangan ini saya lebih sering baca buku digital. Alasannya sederhana: kamar kos berukuran mungil. I need my precious space! Tidak akan saya serahkan lahan kosong untuk goler-goler di kamar saya, bahkan kepada buku sekalipun.

Ada yang berkenan bagi-bagi pengalaman berbeda?
Atau sekadar numpang curhat di kolom komentar?
Silakan, lho.

z. d. imama

Sunday, 10 March 2019

Fear no storm, if your ship(s) never sail

Sunday, March 10, 2019 7

Kadang, saat membaca atau menyaksikan suatu serial, saya mengernyitkan kening tanda tidak setuju dengan bagaimana sang penulis merancang pasangan tokoh rekaannya. Penentangan saya bisa hadir dalam beberapa pola. Pertama, sudah sejak awal eneg duluan. Kedua belah pihak―menurut pandangan saya selaku konsumen karya―nggak jelas dan nggak punya hal-hal yang menarik apalagi kontributif untuk disandingkan. Namun entah atas pertimbangan apa, pengarangnya gas pol aja.

Ini. Nyebelin. Banget. Tapi. Yodalah. Ya.

Kedua, skenario ketika saya sejatinya tidak punya masalah khusus dengan pasangan ini di awal-awal kisah, namun lambat laun kok salah satu pihak (atau justru semuanya) mengalami perkembangan karakter yang degradatif. Jadi nggak mutu. Jadi norak. Jadi bikin saya sebel. Jadi nggak punya lagi unsur-unsur yang bikin saya tertarik dengan nasib dan masa depan mereka selaku pasangan. Bayangkan saya berdiri mengamati di kejauhan, lengan terlipat di dada, memutar bola mata seraya nyeletuk bete, "Yaelaaah bubarin aja ngapa??" Cuma yaa.. berhubung sudah kepalang tanggung, penulis tetap maksain. Apalagi kalau protagonis utama. Beuh. Bakal kekeuh bener macem simpatisan capres-cawapres.

Pola ketiga terjadi apabila ada faktor kejutan. Anggaplah dua tokoh yang sejak awal interaksinya akrab, menyenangkan, kompak sekaligus komplementatif satu sama lain sehingga pembaca―atau penonton―berharap dengan antusias, menunggu kapan mereka akan diceritakan 'resmi' bersama-sama sebagai pasangan. Eeeeeeeh ndilalah kok tiba-tiba sang penulis cerita menukik, menikung, melakukan manuver tajam dan tanpa tedeng aling-aling dia menumpas segala kemungkinan yang ada selama ini dengan seenaknya menjodohkan tokoh-tokoh tadi dengan tokoh lain yang... nggak dapet aja chemistry-nya. Apakah sekarang ada yang sedang melirik koleksi komik Bleach di lemari? Tenang. Saya mengerti perasaan itu.

Sampai sini sudah jelas kan bahwa saya nggak akan ngomongin teknik perkapalan atau hal-hal ilmiah sejenisnya? Jangan salah jamaah, guys. Apa yang hendak saya paparkan jauh lebih tidak berfaedah untuk kemaslahatan umat dunia: beberapa contoh tokoh-tokoh fiktif yang merebut hati saya dan bikin saya ingin mereka bisa jadi pasangan, tetapi kapalnya tidak pernah berlabuh.

"Me versus the author" moments.

Hermione Granger x Draco Malfoy

From: Harry Potter and the Whole-ass Series about The Boy Who Lived.

Artist's credit as written on the art.

ALAMAKJANGGGG. I ship this pairing. Wholeheartedly. So. Fucking. Hard. Ketika baca novel Harry Potter and the Prisoner of Azkaban dan ada adegan Hermione nonjok Malfoy, saya sebenernya sudah mulai merancang skenario sendiri di benak terkait mereka berdua. Ngayal halu. Terus terang, saya termasuk pihak-pihak yang tidak setuju Hermione dikisahkan menikah dengan Ron. Apalagi konon katanya budhe Rowling semula memang tidak berniat menjadikan mereka pasangan, kan. Banyak orang berpikir bahwa Hermione terlalu pintar untuk Ron, tapi saya justru tidak mempermasalahkan itu. Ada hal-hal yang lebih bikin saya kepikiran dengan kehidupan mereka selaku pasangan dibanding perbedaan level intelegensia. Gimana, ya. They are friends for years and have experienced many adventures, also dangers, together, but I don't think they match as romantic partners. As lovers. As two people living under the same roof every day and spend countless hours near each other. Do Hermione and Ron provide room for each other to grow? Do they have shared interests to talk about (other than Harry and their past adventures) and things to do and explore together? Does this fictitious couple... work?

All I can tell is that Hermione settles.
And bet my ass, it really doesn't feel like her. 
This matchmaking between Ron and Hermione is anime level of betrayal.

Sementara itu, saya mengamati bahwa Hermione dan Draco justru punya banyak momen di mana kepribadian mereka bisa bergerak dan berkembang karena dipicu satu sama lain. Apalagi mempertimbangkan arah plot canon dari budhe Rowling yang menyatakan bahwa Draco tidak berhasil jadi orang jahat. He questions. He gets confused. He does his share of evil work as a teenager under constant pressures and threats. Dia cuma salah asuhan; dibesarkan di tengah keluarga Darah-Murni yang membenci setiap orang yang lahir berbeda. Keturunan campuran dicibir, punya orang tua Muggle dianggap hina, bahkan sesama Darah-Murni tapi kere ceremende juga direndahkan. Saya sanggup berbusa-busa sampai tahun 2020 ngomongin betapa Hermione harusnya bisa bersama-sama Draco. Sehingga agar volume tulisan ini masih terkendali, mari kita sudahi sejenak. Lanjut di kolom komentar saja (itu pun jika ada yang berkenan meninggalkan satu atau dua jejak).

Edogawa Conan x Haibara Ai

(or Kudo Shinichi x Miyano Shiho if you prefer their actual names)
From: the neverending series called "Meitantei Conan" I once wrote a whining post about.


Selain Hermione dan Draco, Conan dan Ai adalah pasangan yang saya dukung sepenuh hati. Awalnya, saya biasa-biasa saja terhadap Ran. Tokohnya masih terasa lucu dan cukup menyenangkan lah. Kuat, jago bela diri, tapi takut setan. Rada cerewet dan galak pun. Saya tidak punya masalah besar dengan kepribadian Mouri Ran di volume-volume awal serial Detektif Conan. Namun seiring waktu (apalagi setelah tankoubon jilid ke-50 dan diperparah lewat film demi film), mbak karateka yang konon jawara kompetisi ini kok makin lama kayaknya makin minta ditenggelemin Bu Susi ke dasar Laut Arafuru. Apa-apa dikit manggil-manggil Shinichi. Dapet masalah dikit, tanggung jawab dilimpahin ke Shinichi. Bapaknya ditangkep polisi karena tuduhan palsu, marahnya justru ke Shinichi lantaran nggak ada di lokasi―kalau dese nongol kan ngarepnya penangkapan Kogoro dicegah. Belakangan Ran juga sering lupa tentang fakta bahwa dia mampu berantem, harus nunggu dikasih motivasi Mario Teguh atau Erlangga Greschinov Shinichi dulu (entah lewat telepon atau flashback masa lalu) baru deh bak-buk-bak-buk-dhuar kicking asses here and there.

Anjir. Ngetik gini aja udah bete.
*Melolong, menjambak-jambak rambut sendiri, menggelepar di lantai kamar.*

Kemunculan Haibara Ai di jilid 18 justru semula saya cuekin. "Sokap neh anak baru???" demikian kira-kira yang terlintas di benak saya. Sambil lalu. Eeehhh lambat-laun saya menyadari bahwa dinamika sosialnya dengan Conan sangat menarik diperhatikan. Diamati. Dikapalin. Mereka punya level kepercayaan yang seimbang. Mampu berdiskusi tentang banyak hal bareng-bareng. Bahkan tiap Conan fanboying Sherlock Holmes maupun Arthur Conan Doyle, Ai nggak protes. Nggak mengeluh. Justru santai menimpali―karena paham materinya―walau terkadang tanggapannya rada nge-troll. Hubungan mereka jauh, jauh, jauuh lebih sehat dan progresif.

Saya curiga hal ini disadari Aoyama-sensei sendiri. Sebab seiring dengan tumbuhnya penggemar pasangan Conan dan Ai, porsi episode fanservice Shinichi dan Ran akhir-akhir ini jadi membludak. Seolah-olah mengingatkan pembaca, siapa sebenarnya main couple di cerita yang kagak tamat-tamat itu. Haibara Ai dipaksa mundur jauh. Perannya hanya muncul sekelebat sebagai tukang obat. Nongol-nongol ngasih antidote percobaan ke Conan, yang lantas membesar jadi Shinichi selama beberapa waktu dan ngabisin durasi untuk pacaran sama Ran. I'm fuming. I'm enraged. I'm!!! Freaking!!! Angry!!!

Daidouji Tomoyo x Hiiragizawa Eriol

From: Cardcaptor Sakura, which was the first ever series teaching me about sexuality without a single sexual scene. #LoveWins, people.

Shoutout to this person for editing the picture above.

Now, THIS is the power couple I'm talking about. Yes I know Tomoyo loves Sakura, but I deeply wish she'd be just like Kinomoto Touya who's bi af and end up together with Eriol, because... WON'T IT BE AWESOME?? And twisted as hell. Dark, twisted, and fucked-up romance is my biggest kink, I guess? And it would be nice seeing someone who don't own any drop of magical prowess stands together with once-the-strongest-wizard-ever who lived hundreds of year before reincarnated himself.

Tentu saja angan-angan saya tidak terkabul.
If any of my ship(s) sail, this kind of post would not be written.

Sebenarnya saya masih punya lebih banyak pasangan-pasangan tokoh fiksi non-canon. Mereka yang saya dukung segenap jiwa agar bersama-sama, tetapi keinginan tersebut tidak sesuai dengan kehendak penulis. Plus editor. Sayangnya jika saya paparkan semua, tulisan ini nggak bakal ada ujungnya. Lebih baik disudahi saja sebelum makin luber ke mana-mana. Sebagai penutup, saya akan menyatakan bahwa Oozora Tsubasa dan Nakazawa Sanae layak dipertanyakan sebagai pasangan yang dikisahkan menikah atas dasar cinta. Okelah, Sanae memang sudah head-over-heels dengan Tsubasa sejak belum menstruasi (do NOT argue with me on this), tapi Tsubasa...? Sejak kapan? Sejauh ingatan saya, dia justru lebih berapi-api saat ditendangi bola oleh Hyuga Kojiro dibanding momen apa pun dengan Sanae. Does he marry her for convenience only? Daripada nyari baru mending tembak aja yang udah jelas naksir, gitu.

Isi kepala saya memang gini-gini doang.

z. d. imama