Showing posts with label sanity(?). Show all posts
Showing posts with label sanity(?). Show all posts

Thursday, 15 December 2022

Happy birthday, me.

Thursday, December 15, 2022 5


The title says it all.  

So, yeah.

Today is my birthday.


Another year added to my gear. And I've been counting all the things I hold dear. It's not a lot, but it's also not just a single plot. The greatest thing about being a December-born person is that, in a way, your birthday feels like the concluding event of the year. The encore of a show that you run solitarily. You know, like a Spotify Wrapped but make it your own life. You can look back on what you've been through during the whole twelve months and reminisce things like, "Probably I spent 267 hours crying, 2500 hours fangirling, and 198 hours overthinking all night while listening to Taylor Swift's Midnights album" or "May was truly the month when I felt the shittiest about myself, rating 0 out of 5" or "Holy shit COVID-19 got me twice this year and it happened on the first and the last month as if it is an opening and ending theme for my 2022".

Throughout my life, how I think about my own birthday and react to it varied. They changed and evolved. Not gonna lie, there was a time when I thought birthdays only mean you were getting closer to death, which leads to the conclusion that birthdays are not something that should be celebrated. It's not exactly a 'wrong' thought, since we undoubtedly walk towards death the moment we are born, but that's such a bleak take for something that will definitely happen once a year. It didn't spark joy at all.

There was also a very, very long period when I dislike my birthday because it reminds me of those birthday parties and celebrations I couldn't have because of my family's financial situation. And maybe because I didn't have enough friends, or 'cliques'. And maybe because deep down, there was this feeling of shame lingering around. My schoolmates always had nice birthday parties; good clothes, good food, and good gifts. What my family could afford was far from those 'standards' I have seen multiple times, and I didn't want my day to be compared. Kids are shallow, you see. We want the same things our peers have, and I tried my best to be a 'good, understanding child' who never asks for anything her parents cannot obtain. Thus "nice birthday parties" become my what-ifs, my longtime fancy, my dream that never came true. I buried that wish so deep and it turned into thorns in my flesh. 

Now I think having your birthday, again and again, means you didn't die. Not yet, at least. I haven't made up my mind about how to feel on this particular day. I don't hate it anymore, but it's not like I can shout "Yaaay! My birthday!!!" from the rooftop gleefully. It's quite an awkward relationship. We're still on the 'bridging the gap and testing the boundaries' term.

But I want to stand tall and accept the fact that I'll only be getting older like a champ. I want to be proud that I've lived all these decades, learning, de-learning, and re-learning things as I go. Maybe I didn't always do my best, but I want to believe I did enough. I did what I could, while dealing with whatever shit I was feeling at that time. And I want to be grateful simply for being alive. As Stephen King wrote, "The good thing about being old is that you don't have to worry about dying young".

That's what I want.

I want those days when I feel relieved I didn't die young to come.


Flowers from me to me, because why not?

Today, I am no longer whatever age written beside my name for the last 12 months. I also will never be 25 again, which means I will never get married at the same age as my mother. I will never give birth to a child at the same age as my mother. I am officially strengthening my foothold in the demographic segmentation to whom society LOVES to ask the ultimate question: "Kapan nikah??"

Or they will simply talk and gossip behind my back. Whispering that there must be something wrong with my personality, because I fall right into "Udah umur segitu kok ya belum nikah-nikah" pool. They will question the overall standards I hold for people and give advice like "Kamu tuh mbok ya jangan terlalu pemilih". Society will see me as an unfortunate person because my marriage status remains unchecked. There will be people who compare girls like me to leftovers, to spoilt milk, to anything else but a human being. They say I have less value now because I cannot get any younger.

But that, is not true at all.

I don't feel I become less of a human by getting older.


I still feel like myself. My way of thinking, my personal traits, my knowledge, my experiences, and everything else that makes me "Me" are still mine. I still love all the things I've been loving for the past years: books, music, comics, taking a bus ride with no particular destination, strolling around the city, all that stuff. And I hope to keep it that way. I don't wanna let them dictate how to see my personal worth. If society thinks I no longer have the appeal to be loved by other people, I will prove them wrong by loving and respecting myself better. Probably won't be an easy fight in the long run, but I'm used to picking the trickier road and walking it.

It will be okay.

I should be okay.

Once again, happy birthday, me.
Live long, prosper, and be happier than ever.

Amen.

z. d. imama

Tuesday, 31 July 2018

It's cool to be good. To do good.

Tuesday, July 31, 2018 2

July is emotionally taxing. Emosi saya rasanya terkuras habis bulan ini, untuk berbagai macam alasan berbeda. Separuh awal Juli saya gunakan untuk mengikuti berita terjebaknya satu tim sepakbola U-16 Thailand, "Wild Boar" di dalam gua Tham Luang (yang salah satu foto dokumentasi saya embat untuk pembuka tulisan ini) sampai ke aksi penyelamatan. Good news: they pulled it off. Operasi penyelamatan berhasil diselesaikan tuntas. Bad news: jatah umur saya kayaknya langsung berkurang puluhan tahun hanya dalam dua minggu―wait, isn't this another good news?

Peristiwa tim Wild Boar dan pelatih mereka, Coach Ek, terjebak di dalam kompleks gua Tham Luang adalah kondisi langka di mana saya tumben-tumbenannya dilanda baper berkepanjangan. Gelisah seharian dan susah tidur gara-gara kepikiran nasib mereka. Padahal kenal aja enggak. Terakhir kali saya secemas ini tuh ya pas Tohoku Daishinsai―alias gempa Jepang tahun 2011 silam yang saking besarnya sampai memicu tsunami. Tapi itu pun saya deg-degan karena ada sejumlah kawan dan kerabat host family yang tinggal di wilayah tersebut. Lah, dedek-dedek Wild Boar dan pelatihnya ini mah beneran bukan siapa-siapa saya. Cuma ya.. gitu. Sejak pertama kali tahu tentang situasi mereka tanggal 4 Juli lalu, tiap hari saya kerjaannya ngulik berita-berita terbaru. Mencari update informasi perkembangan terkini. Kelar baca satu artikel pasti nangis. Duh, dek. Nggak kebayang lagi deh gimana perasaan orang tua ataupun kerabat dan kawan-kawan mereka. 

Banyak kerabat dan anggota keluarga yang berdoa di sekitaran gua Tham Luang. Foto dari sini.

Barangkali faktor kebaperan saya bukan sekadar terjebaknya dedek-dedek dan pelatihnya. Bagaimana masyarakat Thailand dan pihak-pihak berwenang menyikapi hal ini tuh ya.. jempolan. Berapa jempol? Jempol semua orang satu negara lah. Cirambay banget sampai sekarang kalau nginget-inget. Kalau ngulik-ngulik lagi semua artikel dan tweet bertagar #ThaiCaveRescue. Bayangkan. Sepanjang operasi pencarian dan penyelamatan, nggak ada barang sebiji berita resmi yang isinya spekulasi nyari-nyari kambing hitam; kepada siapa kesalahan sebaiknya ditimpakan. Paling-paling ya sebatas netizen ribut sendiri. Berbagai lapisan masyarakat bahu-membahu mengerahkan kemampuan mereka masing-masing, sesuai keahlian. Mereka seolah nggak peduli sama sekali terhadap hal-hal yang tidak bisa dilakukan karena keterbatasan diri. Apa yang bisa dikerjakan, itu yang ditangani. Mulai dari yang grand nan mentereng seperti menyelam di gua demi mencari rute keluar, sampai tindakan-tindakan behind the scene macam memasak makanan untuk regu penyelamat, nyuciin baju-baju penyelam dan rescuer yang kotor, ikhlas sawahnya digenangi air pompaan gua, sampai ngebersihin toilet dan kamar mandi darurat di sekitaran TKP. Target mereka satu: operasi penyelamatan berjalan selancar mungkin.


Gimana nggak mewek ngeliatnya.

Belum segambreng orang-orang yang berbondong-bondong bikin encouragement messages lewat ilustrasi, video, atau surat ke regu penyelamat dan tim Wild Boar. Widih. Bagaikan diserang fruit ninja akrobat ngerajang-rajang bawang. Ketika akhirnya―menyudahi perut mules berhari-hari―ketigabelas orang tim Wild Boar berhasil dibawa keluar oleh tim penyelamat setelah dua minggu lamanya tidak menatap matahari, saya refleks sujud syukur. Sambil nangis beler, tentu saja. Selega itu. Sehepi itu. Sebaper itu. Pengin pelukin dedek-dedek Wild Boar dan anggota kru satu per satu. Pengin ngucapin, "You did great!!" ke semua orang yang ada di TKP. Pengin cium-cium pelatih Ek karena sebagai satu-satunya orang dewasa di kondisi seterjepit itu, di tengah precil-precil, he showed immense amount of responsibility.

I write this down here so I will not forget. That updates and news regarding Tham Luang cave rescue remind me that this is exactly the kind of world I want to live in: so much empathy, compassion, good wishes, and helping hands offered without hesitation to those in need. Benevolence is, and will always be, cool.

This image has gone viral, but here's one source.

Terima kasih, semuanya. Terima kasih atas usaha dan pengorbanan kalian. Terima kasih telah menunjukkan pada dunia―termasuk saya―tentang betapa keren dan luar biasanya menjadi manusia yang mengedepankan kemanusiaan. Terima kasih, Pak Saman Gunan, atas pengorbanan nyawa yang telah dilakukan. Dedek-dedek Wild Boar dan Coach Ek sekarang sudah keluar dari rumah sakit tanpa menderita suatu apa. Your passing will be remembered. It's not in vain, at all.

z. d. imama

Monday, 23 July 2018

"Your standards for a man are way too high," they say.

Monday, July 23, 2018 7

I've written several pieces of posts regarding relationships here. Tidak ada yang berisi nasihat. Rata-rata hanya curhat. Bercampur sambat. Baik itu tulisan ini, yang ini, coretan ini, atau sebelah sini. Lalu semalam, setelah 2,5 jam ngobrol seru dengan seorang teman (sebut saja A), saya terpikir untuk menuturkan isi pikiran dan uneg-uneg yang tertumpah di blog pribadi. And as you can see, I've put a title up there which insinuates what this piece is about.

Time to take a guess.

Perjalanan romansa saya boleh dibilang setandus gurun Gobi. Saat orang-orang bertukar cerita, menghitung mantan-mantan pacar sambil tertawa-tawa dan nostalgia di sosial media, saya hanya terdiam. Cannot relate. I've gotten myself one or two relationships previously, but both were very different experience that I cannot even dare to compare one to the other. Tapi saya sudah berkali-kali menyukai orang. Gebetan, kecengan―terserah apa pun sebutannya, intinya orang yang disuka―saya jumlahnya sampai hari ini ada lebih dari selusin. Dihitung sejak pertama kali mengalami cinta monyet. Oke saya memang fangirl, tapi orang-orang ini bukan kategori 'karakter fiksi' maupun 'selebriti idola'. Suer. They are regular people. And I liked them very much so. I've received rejections after rejections but then again my feelings managed to linger for quite awhile, and even now I still remember what made me have feelings for them back in the days. How they made me feel.

Nyatanya, hingga hari ini saya jomblo.
*plays Beyonce's Single Ladies*


Tidak jarang saya bertanya-tanya pada diri sendiri. Apalagi waktu sedang fase patah hati. Emang gue sejelek itu ya sebagai seorang cewek? Like, physically? And perhaps personality-wise? Am I THAT undesirable? Sampai hari ini saya pernah naksir lebih dari dua belas cowok dan persentase saya ditolak kayaknya tinggi banget hingga males ngitung. Jadi, apakah kejombloan berkelanjutan ini disebabkan oleh saya yang memang tidak pernah masuk pertimbangan para gebetan saking jeleknya? Jangan-jangan yang berkenan sama cewek kayak saya cuma mamang-mamang tukang nongkrong di pinggir jalan yang hobi menyiuli perempuan lewat secara random? What the hell with this status quo?

"Standar cowoknya ketinggian, kali?"

I've heard this. Plenty of times. Way too often than my liking. Sering diucapkan oleh anggota kerabat. Tetangga. Orang-orang yang ketemunya jarang tapi komentarnya penuh semangat. Atau mereka yang terpaksa rajin ditemui karena tuntutan aktivitas. And I gave it a serious thought... do I surprisingly have very high standards for a man?

But the answer is: ugh... really? Kayaknya nggak juga. I'm just hoping for a decent human being. Seseorang yang punya nilai kemanusiaan. Nggak diskriminatif dengan orang-orang yang punya seksualitas berbeda, agama berbeda, lahir dari ras yang berbeda. Nggak bersikap kayak tai terhadap orang-orang yang bekerja di bidang jasa. Punya empati. Bukan misoginis. Bukan mereka yang marah-marah, menertawakan, atau justru sinis saat perempuan bercerita akan ketidaknyamanan disiul-siuli dan digoda orang asing. Mau belajar jadi lebih baik. Menghargai saya sebagai individu yang punya otonomi diri, bukan sebagai target hidden agenda demi keuntungan pribadi (see this post for case example). And if 'a decent human being' is considered way too high for a standard, I wonder how low quality of men actually is? Don't you wonder, too?

Selain itu, kenapa begitu banyak perempuan didesak untuk menurunkan standar―"Mbok kamu itu jadi cewek yang realistis, jangan halu... Mumpung ada yang mau tuh terima aja lamarannya."―namun laki-laki rasanya jarang ditapuk ben sadhar? Tak peduli bagaimana kualitas diri sendiri, mereka bisa merasa oke-oke saja berkoar-koar bahwa perempuan solehah berat badannya tidak boleh lebih dari 55 kilogram, menyamakan perempuan dengan permen maupun barang lainnya, atau bebas-bebas saja menyatakan bahwa sudah fitrah lelaki menginginkan teman hidup yang sejuk dipandang. Hal-hal yang sekadar menitikberatkan pada penampilan.


Nek njaluk konco urip koyo bidadari ki yo minimal bentukanmu dhewe ojo macem remukan peyek teri, Mas.. Women don't exist to be your eye-candies to begin with, but women also have a say whether or not they want someone who make efforts to present themselves nicely, be it men or fellow women. Terima kasih banyak feminisme karena telah membuka kesempatan bagi perempuan untuk protes dan ngomel-ngomel mengenai hal-hal kampret seperti ini. Setidaknya di akun media sosial. Atau di blog pribadi, sebagaimana yang sedang saya lakukan.


Namun anggap saja saya bertemu seseorang yang baik. Ini juga tidak menjamin kami akan berakhir sebagai pasangan. Is he single? Does his sexual orientation matches mine? Does he like me back? Do we have shared interests that we can discuss passionately? Memang sih opposites attract, tapi kalau sama sekali tidak ada hal yang bisa dibahas bersama-sama, aktivitas di luar rutinitas kehidupan dasar yang dapat dilakukan bareng-bareng, won't it affect the relationships in a not-so-good way? Because I've seen the living proofs of this kind of thing and one of the examples is my own parents. Hell, finding the good ones is difficult enough. But guess what sucks? Even if we know some of the good ones, they are not always the right ones.

Being a person who's struggling with self-esteem on daily basis, I still need to tell myself every day that maybe I'm just not that lucky. That it's not my fault. That my 'standards for a partner' are NOT too high. (Well, if I could dream, I want to marry the ass of a Gundam pilot but then it means we shall have another World War first).

z. d. imama

Sunday, 24 June 2018

Unconditional love

Sunday, June 24, 2018 0

Unconditional love is that one concept I can't seem to grasp perfectly. Banyak orang bilang bahwa unconditional love―atau 'cinta tanpa syarat'―adalah milik seorang ibu terhadap anaknya. But I've known rather plenty examples of horrible parents, mothers included, which makes me question whether or not they actually love their children. Sehingga misteri seperti apa sejatinya 'cinta tanpa syarat' ini masih tidak mampu saya pecahkan. Namun hidup selama dua dekade sedikit-banyak memberi saya kesempatan berpikir. Merenung. Bertanya-tanya. Pusing sendiri. Lalu kembali ke proses awal. Siklus tersebut pada akhirnya mengantarkan saya pada sebuah pemikiran, bahwa mungkin, muuuungkin, pada dasarnya yang dimaksud dengan 'cinta tanpa syarat' adalah bagaimana kita hanya mengharapkan hal-hal terkrusial terhadap seseorang. Tanpa fitur ekstra. Ibarat ponsel, standarnya ya cuma bisa dipakai telepon dan kirim SMS.

Perhaps, unconditional love is when we can genuinely wish for someone just to be alive and healthy. And preferably, happy. 

Tidak penting apakah seseorang itu prestasinya mentereng di sekolah atau tidak. Tidak penting apakah seseorang itu kaya-raya bergelimang harta. Tidak penting apakah seseorang itu bodoh dan sering dijadikan tertawaan bersama-sama di internet. You just want them to be alive. And healthy. Because nothing can happen if they are gone. Because as long as they are alive, they can still learn. They can still thrive. They can still be better. There are chances. As long as they are willing to become a better person. And maybe if they face difficulties and suffer, as long as they are alive, you can try to help. You just want them to be here, in this world, with you.

Meski pemahaman saya belum tentu benar, barangkali yang seperti ini tidak buruk juga. Apalagi mengingat banyaknya peredaran buku-buku serta artikel self-help berisikan tips menjadi pribadi yang lovable, seolah-olah kasih sayang dan cinta hanya pantas diberikan kepada manusia tertentu, dan orang-orang di luar kriteria akan terdiskualifikasi secara otomatis. Walaupun, saya tetap berharap semoga mereka yang mencintai seseorang tanpa syarat, tidak seenaknya dimanfaatkan a.k.a taken for granted oleh pihak-pihak yang menerima afeksi. Suatu hal yang―ironisnya―juga tidak jarang terjadi.

z. d. imama

Thursday, 12 April 2018

About Group Chat and the Bystander Effect

Thursday, April 12, 2018 11

Saya rasa hampir semua orang tergabung dalam minimal satu group chat di aplikasi chatting yang dimiliki. Entah itu grup kelas, angkatan, kantor, atau alumni. As almost-peerless as I am, I do join a few group chats. Salah satunya ya grup teman-teman lama semasa sekolah, yang mana secara kebetulan sekarang sama-sama berdomisili di satu kota: Jakarta. It has only around 40 members―nggak banyak-banyak amat karena isinya memang hanya 2-3 angkatan. It's a group where every member knows every member. You see, old fellas and stuff. The group never gets very chatty, but sometimes someone drop occasional information or an invitation for meetups. That being said: nothing important gets 'drowned' by the intense amount of feed.

Pada postingan sebelumnya, saya telah menulis tentang hidup sendiri sebagai anak kos, yang mana dimotivasi oleh menurunnya kondisi kesehatan sehingga tergeletak begitu saja di dalam kamar. Little did I know that hours later, or the next day to be more precise, my condition deteriorates to the point where I was so scared I might not make it until morning. I knew I had to go see doctors, straight to the hospital, but as far as my personal experience says, unless you're bleeding to death, you don't get immediate treatment if there's no one with you to fill the paperwork; to take care of the registration and payment and other stuffs. Harus ada pendamping untuk ke rumah sakit, lah. Pertanyaannya: siapa?

Saya tidak punya seseorang spesifik yang bisa dimintai tolong dalam kondisi darurat. Bahkan ketika nyaris kolaps Minggu malam kemarin, saya masih tidak tahu harus menghubungi siapa, di tengah-tengah menahan kesakitan. Beberapa teman yang saya kenal lebih dekat dibanding yang lain, secara apes, posisi geografinya sama sekali tidak dekat. "Jauh di lokasi dekat di hati" at its best. So out of desperation, I tried to ask for help by dropping a message on group chat. The "old fellas" group chat. Susah payah mengetik karena pandangan mulai buram (bukan karena miopia) dan jari tangan gemetaran.

This was a screenshot retrieved from someone else's record because I've quitted the group.

Setengah jam semenjak mengirimkan call for help, saya menerima notifikasi "Read by 28", menandakan bahwa pesan tersebut telah dibaca sekian banyak orang. Namun sebagaimana yang terlihat di atas: tidak ada respon. Tidak ada tanggapan. Bahkan tidak ada yang bertanya posisi saya saat itu ada di mana. Bystander effect is real, and I'm having the first-hand experience of it. Done by my own "old fellas". Nice. No, really. It fucking hurts. Saya sangat mengerti bahwa besar kemungkinan ada pihak-pihak yang barangkali posisinya sedang jauh, atau sedang pulang kampung mumpung long weekend, atau lagi sibuk boker tapi seret nggak keluar-keluar... cuma ya nggak zero response juga, kek. How could they decide that their position is "too far" from me when they didn't even ask where I was? That night I was so in pain and the best thing I could get from them was: read by 28.

I'm writing this more as personal reminder. So that I won't forget how it feels; all the hurt and disappointment. So I will not do this kind of thing to other people. To anyone else. Because I've known. Hidup saya memang nggak penting-penting amat. Boleh dibilang, sama sekali nggak signifikan untuk membangun bangsa. Tapi apakah saya tidak semestinya sakit hati karena merasa diabaikan keselamatannya oleh sosok yang dianggap teman-teman sendiri? Setiap kali ada kabar tentang orang mati di group chat, semua dengan sigap berlomba mengucap belasungkawa, mengetikkan "Innalillahi". Namun giliran ada yang masih hidup dan minta tolong dibantu mendampingi ke UGD, semua bisu. Lucu.

Sungguh humor terbaik 2018.
Apa-apaan.

That night, I got helped by Puti's friend. We never knew each other before, so we exchanged names on our way back from the hospital hours later, when I eventually was stable enough to return home. Thank you, guys. Such a lifesaver―literally. I will remember this kindness forever. Also, thank you for offering your number to be my emergency contact; I really appreciate it. And you know who you are.

z. d. imama

Friday, 12 January 2018

"You should buy experience," they say. "Not things," they say.

Friday, January 12, 2018 5

Yakin, deh. Kayaknya semua orang sudah pernah dapat nasihat yang saya tuliskan sebagai judul postingan ini. Baik lewat artikel-artikel (dari koran, tabloid, majalah, sampai blog pribadi), rekaman video, hingga diomongin langsung di depan batang hidung. Spending money on experiences is the secret to happiness, Forbes said. It will be more satisfying, The Atlantic added. And Bloomberg chimed in with, "You'd better not splurge on a supercar". Seolah belum cukup, pandangan ini di-backup oleh penelitian ilmiah yang menyatakan bahwa ada kesalahpahaman nilai ekonomi bagi orang-orang yang gila belanja. Menurut hasil penelitian tersebut, pada umumnya tolok ukur value sesuatu adalah harga. Alias price tag yang melekat pada barang. Sementara pengalaman cenderung hanya menyisakan kenangan di benak kita sehingga lebih sukar ditempeli angka nominal demi pertimbangan ekonomis.

Alright.

I don't have the slightest intention to debate the result of an academic research. Terlalu berat untuk isi blog semenjana ini―berat badan saya selaku penulis sudah lebih dari cukup sebagai beban. Lagipula tampaknya apa yang jadi perhatian saya tidak sama dengan perspektif riset tadi. Tapi ya mau nggak mau, saya harus mengakui kalau muncul pertanyaan-pertanyaan di dalam benak terkait anjuran yang makin ke sini rasanya makin nyerempet ke arah propaganda saking ganasnya diserukan itu. Shall we talk about that? I don't know if we should, but I will do it anyway.

What they call as 'experiences' we are advised to buy.


Ayo bahas ini dulu sebagai langkah awal. Apa sih hal-hal yang cenderung direkomendasikan untuk dibeli sebagai 'pengalaman'? Menilik dari berbagai sumber yang saya temukan (beberapa di antaranya sudah saya sertakan tautan di atas), mayoritas menyarankan:

  • Traveling expenses.
  • Meals for day (or night) outs with friends/relatives.
  • Admission fees for events.
  • Concert tickets.
  • Movie premiere showings.

There are still tons of other variations, but I guess you know the gist of it at this point. Generally speaking, you're encouraged to purchase something that will make you interact with more people (or at the very least, see them around you) than usual. Jalan-jalan ke Makassar sendirian, misalnya, akan bikin kalian ketemu orang-orang yang nggak dijumpai di Solo. Interaksi dengan petugas bandara di gerbang Departure. Berbagi antusiasme bareng sesama fans pas ngantri masuk venue konser atau pertunjukan lain. Quality time  sambil makan-makan enak setelah sekian beberapa lama tidak bertemu kerabat maupun teman-teman, mengobrol, bercanda, menertawakan masa lalu atau sekadar nggrantes berjamaah merenungi masa depan yang kok ya kayaknya surem terus. These kinds of things are 'experiences', according to many. Ya nggak salah juga sih.

Mestinya saya disebut Solo Traveler sejati karena sudah asli warga Solo, ke mana-mana selalu sendirian pula.

However, the border between what are 'things' and 'experiences' is not always clear. More often than not, it's kinda blurry and overlapping each other. Sekarang kalau mau jalan-jalan ke luar negeri, kita perlu beli tiket pesawat juga kan. Bentuk fisik tiket jelas berupa barang, mulai dari boarding pass hingga QR code di ponsel pintar kita masing-masing yang dipakai online check-in. Tiket konser pun demikian. Makanan serta kopi-kopi Instagram-able yang dibeli di kafe-kafe fancy untuk menemani nongkrong. Semuanya benda. Namun yang paling saya pertanyakan melebihi kerancuan tersebut adalah: sejauh apa 'pengalaman' punya ruang lingkup?

What is 'experience' anyway?


Barangkali bagi masyarakat kelas menengah, yang dianggap sebagai 'pengalaman' adalah datang ke Coachella, Glastonbury Festival, METROCK, menyambangi Disneyland, mampir ke The Wizarding World of Harry Potter di Universal Studio Japan atau Orlando, dan kegiatan setara lainnya. Sedangkan untuk orang-orang lain belum tentu begitu. Saya aja deh yang jadi contoh. Selama ini baju-baju yang ada di dalam lemari pakaian adalah 1) hasil belanja di pasar, ITC, atau situs-situs yang menjual barang secondhand, serta 2) lungsuran alias bekas pemberian saudara-saudara bahkan kawan-kawan yang lebih tua. Sumpah. Coba tanya kak Chika. Atau kak Irma. Beliau-beliau ini pernah menjadi donatur apa yang saya kenakan.

Berdasarkan tolok ukur sedemikian gembel, ketika saya melewati toko Pull&Bear di sebuah mal, menyaksikan papan tanda besar-besar SALE 70% lalu mendapati ada beberapa buah pakaian yang sreg dan sanggup dibayar, hal itu merupakan pengalaman tersendiri: pertama kali berbelanja baju fast-fashion brand. Di tengah-tengah tumpukan kain harga goban, blus Pull&Bear yang didiskon sekian puluh persen dari harga awal menjadi hanya Rp125,000 mampu memberikan memori berbeda. Demikian halnya dengan ingin mengalami pakai sepatu New Balance original saat jalan-jalan, menggantikan alas kaki lama yang dibeli di lapak tepi jalan senilai Rp45,000. Merasakan enaknya pergi naik kendaraan pribadi setelah sekian tahun menyabarkan diri menghadapi layanan busuk dan pengapnya Metromini.

Ultimate villain di jalanan.

Hah? Mirip OKB dong?

Lho, memang.  Orang kaya baru―a.k.a OKB―tidak jarang adalah mereka yang nggak terbiasa mendapatkan akses ke hal-hal yang dalam kondisi normal hanya diperoleh orang-orang dengan kemampuan ekonomi di atas mereka. Makanya sering norak. Suka kalap. Masih tampak lusuh di tengah-tengah manusia yang kinclong berkilauan, atau justru tampil berlebihan seolah sangat ingin menunjukkan kekuatan finansialnya. Beberapa dari mereka mungkin lagi asyik-asyiknya mengumpulkan 'pengalaman' hidup enak.

To end this post, I can't tell you which is right or wrong. We're all trying to seek happiness. We're all wanting, and putting efforts, to be happy. We're trying to buy it in different forms and shapes, on different prices. "The adrenaline rush, excitement, and happiness gained from buying things are only temporary," said many people. But isn't it the same with attending concerts and all that? Sure you're left with good memories (at least until you're too old to remember it), but you're also left with a shining Maserati for years (until you crash it or you're tired of it) if you use your money to purchase one. I don't see so much differences between the two, that's why I cannot really recommend which one we should choose. At the end of the day, I'm that irresponsible person who can't pick sides and go with, "Whatever floats your boat" for an answer.

However, it's important to note that there are also people stuck with frugal living, who can only afford to buy things they need and never once what they want. Orang-orang yang jungkir-balik berusaha memperoleh kebahagiaan mereka semurah mungkin. Bahkan gratis kalau perlu. And I kinda wish for them to succeed. Deep down, I'm still hoping there are some happiness that we don't need to 'purchase', no matter what kinds they are coming in.

z. d. imama

Saturday, 25 November 2017

The 1000 Dollars Saving Project

Saturday, November 25, 2017 9

Sebagai millennials kere yang tidak punya uang apalagi aset (ini salah siapa sih sebetulnya?), menghidupi diri sendiri masih compang-camping, dan terlalu banyak impian-impian tak tergapai, hidup saya hampir setiap hari berada dalam survival mode. Apalagi sehabis gajian kemarin langsung kalap beli tiket konser ONE OK ROCK Ambitions Live in Singapore 2018 karena terbutakan oleh cinta, maka survival plan bulan ini secara otomatis jadi lebih gruesome dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Imajinasi kanak-kanak saya untuk hidup kaya-raya makin terasa fiktif. Bahkan untuk bisa bersenang-senang, saya harus disiplin dalam menerapkan aturan bagaimana cara berfoya-foya jika tak punya uang.

Ketika sedang iseng-iseng menggeledah internet dan portal-portal berita internasional, saya terdampar pada sebuah artikel Go Banking Rates yang mengatakan bahwa banyak penduduk Amerika saat ini yang tidak memiliki uang seribu dolar di rekeningnya. Ada juga yang nggak punya tabungan sama sekali. Survei tersebut dilakukan kepada 5,000 orang partisipan (ya nggak banyak sih dibandingkan jumlah penduduk asli Amerika), dan hasilnya adalah sebanyak 69% dari mereka fakir simpanan dana.


Me too, guys. Me too.


Sumber gambar masih dari artikel yang sama.

Berhubung saya tipe-tipe orang yang suka kompetitif untuk hal-hal yang nganeh-nganehi, membaca hasil survei tersebut cukup bikin saya terpelatuk. Ya habis gimana? Saya kan menyerupai 34% persen masyarakat peserta survei yang tidak memiliki simpanan uang di rekening mereka. Ikut tertohok dong. Huks. Saya pun memutuskan bikin proyek: nabung seribu dolar! Jika berdasar kurs satu dolar = tiga belas ribu rupiah, maka target tabungan saya adalah tiga belas juta rupiah. Nominal totalnya remeh banget anjir. Tapi saya bahkan tidak bisa mengira-ngira kapan tercapainya jumlah yang saya cita-citakan. Wakaka. Dasar milenial bokek.

Tidak apa-apa. Walau rasanya target masih nun jauh di antah berantah, rencana ini akan tetap saya laksanakan. Saya nggak akan kalah sama warga negara adidaya yang bisa-bisanya milih Donald Trump sebagai presiden. Lihat saja nanti. Kelak, saya akan punya duit simpanan senilai seribu dolar Amerika! *mengepalkan telapak tangan*

z. d. imama

Tuesday, 31 October 2017

Save your "Kirain kalian serius..." comment

Tuesday, October 31, 2017 10

Sebenarnya saya defisit pengalaman pribadi yang mumpuni sebagai dasar atau latar belakang tulisan ini. Jomblo. Jumlah mantan pasangan pun kalah banyak dengan jumlah lampu di tiang traffic light. Apa sih yang saya tahu? Tapi sewaktu mengingat kembali apa yang pernah saya alami, rasakan, serta ditambah mengamati orang-orang di sekitar, akhirnya saya putuskan untuk lanjut mengetik. Tidak ada salahnya uneg-uneg ini dilepaskan.

Jadi begini. Memasuki usia 20-an tahun, entah kenapa orang-orang di sekeliling semakin rajin berkomentar terhadap kondisi hubungan romansa. Punya pasangan dikomentari. Nggak punya juga semakin dikomentari. Posisi default saya sih di kalimat kedua, but you knew that already. Tetapi ternyata ada sebuah kondisi tertentu yang juga cenderung sukses memancing komentar kanan-kiri: ketika kita punya pasangan―pacar, tunangan, partnerwhatever you name itdan berpisah setelah cukup lama bersama. Kebayang nggak sih seberapa malesinnya hal tersebut? Sudah patah hati, sedih bercampur kesal (apalagi jika bubarannya nggak terjadi secara baik-baik), eh masih dapat surplus ucapan-ucapan tak dibutuhkan. Salah satu contoh template yang lumayan sering dilontarkan orang adalah:

"Kirain kalian serius, lho."


Gusti Allah. Rasanya hasrat untuk menjungkirbalikkan meja, membanting kursi, memecahkan gelas biar ramai melesat ke ubun-ubun tiap ada yang komentar kayak gitu. Sabar. Sabar. Tarik napas. Oke, saya nggak tahu bagaimana menurut pendapat orang lain, tapi bagi saya secara personal, celetukan tersebut terasa sebagai suatu penghinaan.

Kenapa? Sebab mengasumsikan bahwa saya 'tidak serius' hanya karena hubungan tadi kandas dan tidak berlanjut―misal: bertunangan, pernikahan, artinya mereka menganggap segala perasaan yang saya alami ketika masih bersama pasangan tidak signifikan. Tidak penting. Barangkali nihil. Apa-apaan, coba. Bagaimana kalau setelah menginjak tahun ketiga berpacaran, atau bahkan sudah tunangan, baru ketahuan bahwa ternyata pasangan saya misoginis? Beranggapan perempuan adalah properti laki-laki, lalu sebaiknya tidak usah 'terlalu mandiri'? Bagaimana jika setelah sekian lama bersama, baru terasa bahwa hubungan kami abusif dan tidak sehat? Bagaimana kalau ternyata belakangan diketahui adanya perbedaan prinsip hidup yang tak mungkin dikompromikan?


Apa hubungan romansa antarmanusia hanya bisa dikatakan 'serius' apabila mereka menikah? Hanya boleh disebut 'serius' hanya kalau mereka membangun lembaga sosial terkecil? Lantas apakah, meski menyadari sedang berada dalam hubungan yang tidak sehat dan penuh ketidakcocokan, suatu pasangan harus tetap bersama selamanya sebagai bukti betapa 'serius' mereka? Doesn't that sound, and feel, incredibly wrong to you?

Saya pikir semua emosi yang dialami ketika patah hati, baik itu gara-gara bertepuk sebelah tangan dengan gebetan (persentase terjadi dalam hidup saya sebanyak 95%) maupun putus dengan pacar, adalah jejak keseriusan perasaan saya. Kemarahan. Kekecewaan. Kesedihan. Ketidakpuasan terhadap kenyataan. Segala hal yang bercampur aduk di dalam dada dan menyebabkan perasaan tidak karuan itu merupakan bukti. That I was serious about this thing. I seriously wanted to be with that person. I seriously liked, maybe even loved, that particular someone. I had a bunch of serious fun, and experienced serious happiness. We overcame serious obstacles together. I seriously believed what we had was real. But at the end of the day, I realized that it just didn't work out. All that seriousness is what makes me get brokenhearted. and those people who know nothing like Jon Snow still have the audacity to say, "Lho.. kirain kalian serius."

Seriously, shut up.

z. d. imama

Saturday, 2 September 2017

How to be a Pro at 'Simple Living'... When Nothing Happens in Your Life

Saturday, September 02, 2017 13

"Urip kok ngene-ngene wae."

Saya yakin ungkapan seperti itu pernah, minimal satu kali, mampir di telinga kita semua. Bahkan mungkin kalimat "Hidup kok gini-gini aja sih?" justru terlontar dari mulut kita sendiri. Termasuk saya. Entah bagaimana dengan orang lain, tetapi bagi saya yang pernah berkhayal tersedot ke dunia digital dan mendapatkan digimon partner lalu bertualang bersama sejumlah anak-anak terpilih lain, atau tiba-tiba mendapat surat bukti diterima di Sekolah Sihir Hogwarts, atau menyaksikan pendaratan Gundam di lapangan belakang sekolah, kehidupan nyata yang memiliki prinsip sesederhana 'Nothing comes without a price' terasa sangat biasa saja. Apalagi seperti yang telah diketahui melalui tulisan ini, saya tidak punya uang. Lalu hidup mau ngapain?

Saya tahu di luar sana bertebaran orang-orang yang mengkampanyekan prinsip "Live Your Life to Its Fullest", lengkap dengan berbagai argumentasi pendukung. Misalnya menyuruh banyakin jalan-jalan, piknik, traveling. Macam-macam. Bagus, sih. Cuma hal-hal tadi nyaris tidak ada yang applicable dalam hidup saya karena faktor finansial. Survival code saya yang terdiri dari 3 I: Internet, Indomie, dan inner beauty ini kesulitan mengikuti nasihat-nasihat ciamik tersebut.

That being said...

Kali ini saya akan menuliskan hal-hal yang dapat dilakukan untuk hidup yang lebih adem-ayem ketika kenyataannya mentok di segitu-gitu aja. Bodo amat. Memang hidup kadang-kadang bisa nggak keren, kok. All hail #KizminLyfe.


No Energy to Scrutiny People's Life

Sikap ini bisa diterapkan untuk menghindari rasa iri, dengki, atau kecenderungan bergunjing, bahkan membanding-bandingkan hidup sendiri dengan orang lain. Entah baik atau buruk, tapi saya terbilang malas meluangkan waktu meng-update diri sendiri mengenai hidup orang. Apalagi yang hubungannya tidak akrab-akrab amat. Saya nggak merasa perlu tahu siapa pacaran dengan siapa, siapa habis piknik ke mana, makan siangnya apa, habis belanja di mana, dan hal-hal sejenis. Terus terang saya bukan orang yang menyenangkan untuk dijatuhi gosip sebab biasanya tanggapan yang akan kalian dapatkan cuma, "Oh", atau "Wah", atau "Hmm".

Wish for Impossible Things Instead of Achievable Things

Ada kan, tipe-tipe orang yang saking kepenginnya suatu barang, atau berhasrat mendapatkan sebuah pengalaman, sampai stres sendiri karena nggak kesampaian. Ingin punya mobil keren, misalnya. Nah... supaya tidak terjadi hal seperti itu, coba ubah keinginan-keinginan 'masuk akal' itu menjadi impian-impian halu. Kayak saya, misalnya. Jomblo kelamaan lalu berargumen ingin menikahi pilot Gundam saja. Mau naik pesawat nggak kebayar tiketnya? Berkhayallah jadi nabi, agar siapa tahu nantinya dikasih kesempatan naik Buraq juga oleh Tuhan YME. Tadinya ingin Porsche? Ganti menjadi ingin punya Firebolt, atau naga peliharaan.


The "Ngapain?" Principle

Salah satu siasat kunci untuk hidup yang lebih chill adalah mempertanyakan faedah dan signifikansi berbagai macam hal sebelum mengambil tindakan. Biasanya, ini akan berujung pada tidak adanya tindakan apa pun. Woles sekali, bukan. Mari kita cari contoh. Ada temen yang isi feed media sosialnya senang-senang terus? Party, jalan-jalan, makan enak di restoran fancy? Tergoda sih untuk meng-update feed kita dengan hal-hal serupa agar tidak kalah dengan teman dan kenalan... tapi ngapain? Kan sudah tahu kalau nggak punya uang. Ngapain dipaksain?

Be That Eco-Friendly Trash

Nggak apa-apa hidup gitu-gitu melulu. Bukan masalah seumur-umur nggak pernah menang penghargaan apa pun (boro-boro Nobel Prize, Murid Teladan saja tidak masuk nominasi). Bodo amat nggak jadi sosok manusia yang berkontribusi dalam terciptanya perdamaian dunia. Barangkali hidup kita memang cuma menuh-menuhin bumi, tapi selama kelakuan kita nggak menciptakan 'polusi' tambahan, ya sudahlah. Sebab di zaman sekarang banyak pihak berlomba-lomba menjadi orang yang tampak lucu, pintar, keren, atau populer... namun sedihnya, justru melupakan bahwa jauh lebih penting jadi orang yang baik.

Keep your head up straight, people.
It's totally cool to have a completely-not-cool life.

z. d. imama

Monday, 8 May 2017

Please. I don't understand this "I'm a gem" narrative.

Monday, May 08, 2017 4

Saya ini tidak pandai. Serius. Banyak sekali hal yang tidak saya ketahui, mengerti, dan pahami. Salah satunya ya... yang akan saya bahas di postingan ini. Jika di antara kalian ada yang bisa membantu memberi saya pencerahan atau sanggup menguraikan kekusutan dalam kepala, pertolongan kalian akan saya sambut dengan senang hati. Huhuhu.

Pernah dengar ini?

"I am a gem, so you must fight hard to get me."

Beberapa kali saya mendengar narasi tersebut dilontarkan oleh perempuan, baik yang usianya di atas saya, seumuran, hingga lebih muda, dari yang saya kenali maupun tidak. Kadang-kadang narasinya ditambahkan kata 'rare' (kayak kalau pesen steak di restoran) dan jujur saja... saya tidak paham. Maka lewat tulisan ini saya bermaksud menumpahkan ketidakpahaman pribadi supaya ada yang berkenan memberi pencerahan, atau minimal mencari teman untuk bingung bersama.

Mohon dibantu agar muka saya nggak kayak gini melulu...

Apanya sih yang tidak saya mengerti?

Saya akan coba berusaha menguraikan... sebisanya (kembali ke poin awal bahwasanya saya ini tidak pandai). Semenjak memasuki tahun 2000-sekian, saya mau tidak mau jadi berangsur menyadari kalau film-film ala fairytale Disney mulai banyak mendapatkan kritik karena hampir selalu menampilkan protagonis perempuan sebagai damsel in distress. Oh baiklah, lebih tepatnya princess in distress. Tuan putri, dengan beraneka ragam kondisinya (dari yang beneran terjajah seperti Cinderella, dipingit ala Rapunzel, dikatain masyarakat "Idih kamu ngapain pinter-pinter, kebanyakan baca buku?" sebagaimana Belle, atau yang cuma bosen doang jadi anak Sultan kayak Jasmine).

Putri-putri ini menunggu 'pangeran' yang berjuang demi mereka (kecuali Belle kali yah, karena berdasarkan kisahnya kan dia dapet kastil megah terpaksa hidup di kastil menemani Beast). Banyak perempuan modern yang memprotes narasi ini karena dianggap tidak empowering. Tokoh protagonis perempuan―alias para tuan putri―dalam kisah-kisah tersebut dipandang sering (meskipun tidak selalu) diposisikan sebagai pihak yang senantiasa butuh diselamatkan, dilengkapi, atau diperjuangkan untuk bisa 'didapatkan'.


I don't know, it just bugs me.

Sebab saya tidak melihat ada perbedaan antara narasi ala "Tuan Putri Disney klasik" dengan "I'm a gem so you must fight hard to get me". Mungkin karena dalam kehidupan nyata, sulit sekali untuk menjadi 'tuan putri' beneran sehingga diganti dengan menyebut diri sebagai gem? Entahlah. Namun bagi saya, yang tidak pandai ini, semuanya terdengar nggak ada bedanya. Sama-sama 'istimewa'; satunya tuan putri di antara rakyat jelata, sedangkan satunya adalah gemstone di antara... mungkin batu kali atau batu bata. Sama-sama menunggu pihak yang bersedia berjuang demi dirinya, sementara dia diperbolehkan untuk bengong saja atau sibuk dengan urusannya sendiri (Aurora, misalnya, sibuk tertidur).

Saya gagal paham.

Esensinya terasa sama saja menurut saya, cuma kata-kata yang diganti. Padahal ungkapan "I'm a gem so you must fight hard to get me" terdengar cukup kuat belakangan ini, yang mana berarti banyak dong perempuan modern yang menyetujui dan mengamini narasi tadi? Kok agak lucu. Membingungkan pun.

Would the 'prince' be forever the only one who needs to fight dragon?

Jadi saya maunya bagaimana?

Nggak mau apa-apa sih. Saya hanya berpikir bahwa semestinya, tidak peduli perempuan atau laki-laki, jika punya keinginan ya harus mau maju untuk 'berjuang'. You are not a gem, you just another human being. Nggak perlu lah sengaja memposisikan diri sebagai pihak untuk 'didapatkan'. Jika memang ada seseorang yang kalian inginkan untuk terus bersama-sama, go for it. Jika ternyata kalian terlalu sibuk untuk mencari pasangan, menganggap urusan jodoh bukan hal yang cukup menarik, atau sebatas nggak selera saja dengan pihak-pihak yang mendekati kalian, tolonglah nggak usah pakai bawa-bawa narasi, "I'm such a gem and he doesn't fight hard enough for me". Bete juga kan seandainya sekadar dianggap trophy girl?

Ayolah. Kan katanya perempuan modern.
(Eh... iya nggak sih? Coba tolong saya diajarin.)
z. d. imama

Monday, 16 January 2017

You just don't change people.

Monday, January 16, 2017 6

Kali ini bahasannya agak serius nggak apa-apa ya. Dikit aja, kok. Terkait "acceptance", alias penerimaan, yang mana tampaknya merupakan sesuatu hal sulit untuk dilakukan umat manusia termasuk saya. Kecuali penerimaan gaji, mungkin. Eh nggak juga, ding, untuk bisa dapat gaji juga nggak gampang.

...Lah, malah melantur.

Saya entah kenapa merasa bahwa menerima seseorang, atau sesuatu, secara apa adanya masih merupakan PR yang cukup sulit dikerjakan. Apalagi diselesaikan. Even to accept yourself as what you are, who you are, and how you look is considerably difficult because oftentimes, society and people around us seem to always know that something is wrong with yourself. Not to mention that they also like to push on you about what or what not to do for your life choices. Alias memaksakan social script mereka terhadap orang lain, dan tentunya disertai dengan argumentasi-argumentasi yang, kalau nggak terdengar tolol nan ridiculous, ya sangat relatif secara personal.

Yaa Rabb tolonglah.gif

Kasus lain yang cukup kerap terjadi (dan ingin saya bahas di tulisan kali ini) adalah sengaja melakukan pendekatan terhadap seseorang yang dipandang 'salah' atau 'sesat' dengan misi terselubung 'mengembalikan dia ke jalan yang benar'. Salah seorang teman kenalan (kata 'teman' saya coret karena sesungguhnya hubungan kami juga nggak deket-deket amat) beberapa waktu lalu memutuskan untuk berpacaran dengan seorang laki-laki yang kebiasaannya bertolak belakang. Kenalan saya―sebut saja namanya Berbi―bisa dibilang adalah anak yang sangat alim. Mulutnya mungkin tidak pernah digunakan untuk yang aneh-aneh, selain makan dan minum yang berlabel halal, bersin, cegukan, menguap, berbicara, mengaji, ditambah yaa... nggosip sesekali. Sementara pasangan terbarunya adalah versi kebalikan 180º, if you know what I mean.

Ya nggak apa-apa sih, toh segala hal dalam hidup Berbi tidak berdampak gimana-gimana pada kehidupan pribadi saya. Silakan-silakan saja kalau mau menjalin hubungan romansa dengan siapa pun. People often say that opposite attracts, right? Tetapi saya jadi tergelitik ketika Berbi mengatakan hal yang kurang lebih intinya begini: "Gue percaya kalau dia sama gue, nanti dia bakal bisa tobat kok."

And I tried my best not to roll my eyes.


It was so hard to not comment, "Lah elu siape?" to her at the moment. Arogan sekali saya pikir. Selain agak-agak holier-than-thou, yang menjadikan saya tidak simpatik dengan sikap Berbi ini adalah bagaimana dia terasa cenderung memuja imajinasinya sendiri dibandingkan realita yang ada di hadapannya. Seolah dia punya fantasi pribadi tentang bagaimana pacarnya harus bersikap dan bagaimana dia memiliki target bahwa selama mereka bersama, si pacar ini perlu ditransformasi agar menyesuaikan harapan, ekspektasi, dan keinginan Berbi. I am not saying that it's wrong to set up "My Ideal Partner" standards, but to impose them on somebody else is another matter. Situ mau cari pasangan atau mencetak kader parpol sih? (Damn, it's so hard to put my thoughts into words. Pardon the insufficiency.)

I'm not the type who subscribes to the "Dia bakal berubah jadi baik kalau sama gue" bullshit. I guess, my stand is that you do not change people. They change themselves. Sure you can be a catalyst, but it's never up to you. It's up to them. Penting bagi kita untuk belajar menerima bahwa seseorang mungkin tidak akan pernah berubah seumur hidupnya, alias gitu-gitu saja, atau justru berubah ke arah yang tidak sesuai dengan pola pandangan yang kita setujui. Ya nggak apa-apa. For God's sake, unless you are Coldplay, or Chris Martin, don't think that you exist to 'fix' people. Kecuali jika perilakunya merugikan orang lain apalagi masyarakat umum, seperti punya anak kebanyakan lalu ditelantarkan, doyan tawuran, hobi memicu huru-hara, atau bahkan maling jemuran. Nah kalau yang seperti itu memang perlu diarahkan. Ingat kan, bahwa hak kita masing-masing dibatasi oleh hak orang lain juga?

Piye? Setuju?

Maka menurut saya, di luar hal-hal yang merugikan sesama, saya pikir manusia nggak berhak memaksakan pemikiran atau standar hidup pribadi kepada pihak lain. Jika memang berseberangan, tidak sepaham, tidak seprinsip, ya sudah. Merasa tidak bisa berdampingan dalam perbedaan? Ya cari sajalah yang memang sama sejak awal...

We still have a lot to learn about acceptance.
*sigh*

z. d. imama

Tuesday, 22 November 2016

Closure.

Tuesday, November 22, 2016 12

"I really hate myself for being incapable of moving on unless I get proper closure."

Kalimat pembuka di atas merupakan sebuah postingan dari akun Twitter pribadi saya beberapa waktu lampau. Frase 'moving on' di sini nggak terbatas pada urusan romansa saja ya, walau tidak memungkiri kalau topik itu juga terlibat. Hohoho. Tetapi pada intinya, saya adalah tipe manusia yang butuh mendapat proper closure nyaris untuk segala hal, agar bisa melanjutkan langkah tanpa kepikiran lagi tentang masalah yang itu-itu melulu.. hanya karena statusnya masih nggantung. Tanpa ending. Belum kelar. Ibarat kalimat tanpa tanda titik. Atau tulisan yang nggak beres diketi

(Barusan itu disengaja, ya.)

Coba saya kasih ilustrasi sederhana saja. Contoh paling normal yang mestinya pernah dialami semua makhluk Homo socialis: bikin janji bertemu teman. Ketika saya janjian dengan seseorang untuk hang out bersama, kemudian tiba-tiba acaranya batal atau mendadak orangnya nggak mood keluar rumah, saya butuh informasi. Butuh pemberitahuan. Butuh kabar. Ada kan, tipe-tipe siluman kaleng sarden yang bersikap semena-mena dengan janji yang sudah dibuat bersama orang lain? Sepakat bertemu di tempat X pada jam sekian, eh ternyata setelah kita tiba di lokasi pun mereka nggak ngontak sama sekali. Begitu waktu janjian lewat barulah mak glundung-glundung ada pesan Whatsapp/LINE/segala macam aplikasi ngobrol gratisan yang bunyinya, "Aduh sori ya gue nggak jadi bisa dateng."

Yea, tell me something I don't know.

Setiap tidak mendapat closure atau ending, terus terang saya merasa direpotkan karena jadi ribet sendiri. Uring-uringan sendiri. Hampir selalu kepikiran. Saya akan selalu teringat suatu peristiwa yang tidak ada closure-nya itu sewaktu-waktu, bahkan di momen-momen random sekalipun. And that, people, is never a fun thing. Apalagi jika posisi saya sebagai pihak yang dirugikan, sebagaimana contoh ilustrasi di atas. Tiap kali akan melakukan aktivitas yang melibatkan orang yang sama, saya jadi malas. Sebab masih terbayang-bayang pengalaman sebelumnya.

Ingin contoh lain? Baiklah. Anggap saja saya patah hati. Masalah patah hati, bagi saya, dampak yang ditimbulkan dan penanggulangannya akan berbeda jika kasusnya berlainan. Saya tidak punya masalah jika orang yang saya taksir habis-habisan ternyata memilih bersama orang lain. "Pilihan orang tersebut untuk bersama dengan yang lain" adalah closure bagi saya. Sudah. Cerita untuk saya jelas selesai sampai di situ. Mau lihat orang tersebut gandengan sama yang lain pun oke-oke saja. Tapi jika katakanlah, orang yang tadinya begitu dekat dengan saya tiba-tiba menghilang dari peredaran. Berhenti mengontak. Tak ada kabar. Komunikasi putus mendadak, padahal saya tahu dia masih 'beredar' di sekeliling saya, tidak direkrut kaum ekstremis lalu dikirim ke Suriah atau diculik untuk dijadikan budak di luar negeri. Jika sudah begini, saya biasanya jadi cranky, insekyur, dan gelisah sendiri. Menganalisis seenaknya dalam kepala apa yang kira-kira memicu hal ini terjadi. Kesalahan apa yang sudah tanpa sadar saya lakukan. Belum lagi terbayang-bayang tampang orang tersebut sewaktu-waktu. Kacau.

Screw you. Screw this all. Screw everything.

Merepotkan betul.

Biasanya, ketika saya tidak mendapatkan closure, yang saya lakukan adalah lari. Maka begini-begini, diam-diam saya adalah pelari handal. Nggak, ding. Maksudnya adalah saya kabur. Pergi, pindah ke tempat lain yang membuat saya tidak perlu bertemu kelompok atau peer yang akrab dengan orang tersebut. Bahkan terus terang, salah satu faktor utama yang menyemangati saya untuk lulus kuliah adalah karena saya punya masalah tanpa closure dengan satu teman kampus. Daripada saya ke sekolah(?) cuma buat kepikiran dia apalagi berpapasan, mending saya lulus terus nyari duit.

Kayak gini cuma saya aja nggak sih yang ngalamin?

z. d. imama

Friday, 11 November 2016

When People Say "Pacar-able"...

Friday, November 11, 2016 16

Semua bermula dari ketika saya membaca sebuah status Facebook milik teman seseorang yang pernah saya kenal di masa lalu tapi sekarang sudah sama sekali nggak ingat gimana ceritanya kok bisa kenal, beberapa pekan silam. Perempuan, fyi. Tadinya ingin menyertakan lampiran berupa printscreen status tersebut (tentunya dengan upaya sensor identitas karena saya orang baik kelihatan keren aja), tapi saya sudah lupa siapa nama orang yang memposting ke Facebook. Ya sudah. Tidak bisa dilacak lagi. Way to go, short-term memory!

Inti status yang ingin saya bahas itu kurang lebih seperti ini:

"Barusan dibilang temen kalau gue orangnya pacar-able banget, dan sahabat gue meskipun nggak pacar-able tapi katanya nikah-able. Hehehe."

Reaksi perdana saya ketika membacanya adalah mengerutkan kening. Bak para komika-komika medioker, saya heran. Kemudian mulai mempertanyakan ke diri sendiri, ini saya yang bego karena gagal menemukan unsur baik dari status di atas atau gimana? Kok rasanya ada yang salah? Rasanya ada yang aneh? Akhirnya, sebagai mantan mahasiswi yang masih ingin berupaya berpikir, saya putuskan untuk merenungkan sedikit status ini. Saya nggak akan ngutip-ngutip buku (kayaknya) agar terdengar cerdas. Nggak akan ngutip-ngutip quote orang (juga kayaknya). Kalau mau nyari kumpulan quote orang terkenal, mending baca novel 5 cm aja yang jumlah kutipannya jauh lebih banyak dari bobot ceritanya. Modal saya cuman kamus dan isi kepala sendiri.


Mari kita mulai dari membahas kata "able"; satu-satunya kosakata bahasa Inggris yang dipaksakan nyempil bersama rangkaian kata bahasa Indonesia. Berdasarkan hasil pendeskripsikan kamus online (karena kamus Oxford bentuk fisik milik saya adanya di kampung halaman), dapat dilihat bahwa able memiliki arti di bawah ini.


Jika kita tidak switching codes dan menggunakan bahasa Indonesia secara total, maka status itu bisa dituliskan ulang menjadi kurang lebih demikian: "Barusan dibilang temen kalau gue orangnya berpeluang untuk pacaran (atau menjadi pacar), dan sahabat gue meskipun nggak berpeluang pacaran tapi katanya berpeluang untuk menikah (atau dinikahi seseorang). Hehehe."

IKI PIYE KAREPMU?



Serius. Saya tidak paham bagaimana, sekaligus kenapa, masyarakat kita―termasuk generasi muda, sedihnya―merasa perlu membuat batas pemisah antara 'kandidat diajak pacaran' dan 'kandidat diajak menikah'. Apalagi menyatakan dan menghakimi secara terang-terangan bahwa seseorang memiliki kemampuan(?) atau peluang untuk mendapatkan hanya salah satu di antara kedua hal tersebut. Seolah-olah jika kita telah dijebloskan ke dalam sebuah kategori oleh mereka, maka di saat yang sama kita akan terblokir otomatis dari yang lainnya. Wealah cempe, mangsamu kowe ki sopo?

Saya mencoba menduga-duga, apa mungkin ini karena asumsi masyarakat selama bertahun-tahun dan diwariskan turun-temurun? Jangan-jangan ini erat kaitannya dengan nilai-nilai patriarki yang―sudahlah akui saja―masih sangat kental di kehidupan sosial Indonesia. I'm not saying that patriarchy is all bad, no. But sometimes it's just ridiculous. Masih ingat kan tahun 2015 lalu ada berita bahwa petinggi militer Indonesia mengatakan kalau tes keperawanan diperlukan sebagai benchmark moral seorang perempuan? Sampai masuk TIME dan BBCPeople care SO MUCH about whether women's hymen is still intact or not but in rape cases where the victims coincidentally happen to be women, the fault also lies with women. Gosh, please don't even make me start ranting about this. It's gonna be an endless shit. 

Shall we move along?


Sepanjang tumbuh besar (besar doang, dewasa kayaknya enggak), cukup kerap saya mendengar celetukan-celetukan berbunyi semacam ini mampir ke telinga: "Pas dapet pacar, puas-puasin dulu aja pacarannya. Nanti kalau pengin nikah ya putusin, cari lagi yang perawan. Cari gadis baik-baik, yang kalem. Cari yang bisa diajak susah. Nggak usah yang kepinteran nanti kamu repot. Pokoknya yang mau ngurus rumah tangga aja." Biasanya ucapan tersebut ditujukan kepada kaum laki-laki. Biasanya pula, disampaikan oleh sesama laki-laki, baik yang seumuran maupun yang lebih tua. What a brilliant way to educate younger generation.

IKI PIYE TOH KAREPMU???

(Jilid dua.)

So, somehow our society has this kind of mindset... that someone whom you have a relationship with (or spend lots of time together) and someone whom you marry should have different 'standard qualifications'. Menilik dari apa yang selama ini berseliweran di sekeliling saya, segala asumsi-asumsi itu akan saya rumuskan dalam bentuk bullet points supaya lebih ringkas. Pertama-tama, mari kita kulik bersama asumsi bagi kategori orang-orang pacar-able.
  • Maunya senang-senang, tidak bisa―minimal sulit―diajak susah.
  • Karena inginnya senang-senang, cenderung hedonis. Ngabisin duit. Masalah apakah orang itu pakai duit-duitnya sendiri atau modal ngutang kanan-kiri sih masa bodoh.
  • Tidak kalem. Entah ini maksudnya apakah begajulan, banyak tingkah, atau malah atlet-atlet silat, karateka, dan Tae Kwon Do yang sekali tendang musuh terbang.
  • Pintar. Terdidik. Mau berpikir.
  • Tidak bersedia mengurus rumah tangga.
  • Bukan gadis baik-baik(?)
  • Allegedly sudah tidak perawan(?), atau berpotensi untuk dibuat jadi tidak perawan(?)

Belum-belum kok saya sudah pusing, ya. Tapi tidak apa-apa. Bisa nenggak Paramex dulu sebelum melanjutkan. Oke. Sementara itu di lain pihak, orang-orang nikah-able dipandang sebagai antithesis dari golongan pertama. Maka dengan kata lain, kualifikasi mereka ya begini: 
  • Bersedia diajak (hidup) susah. Kalau boneka Kak Ria Enes itu Susan. Beda cerita. Aduh ini lawas betul...
  • Tidak hedonis, sederhana, bersahaja. Misalnya kepepet ya bisa agak condong ke arah ala kadarnya.
  • Kalem.
  • Nggak pinter-pinter amat. Pinternya dikit aja.
  • Mau mengurusi rumah tangga, walaupun si rumah tangga nggak kurus-kurus kayak saya.
  • Gadis baik-baik(?)
  • Perawan suci(?)

Kok beracun sekali rasanya. Saya tahu tidak semua anggota masyarakat di luar sana punya pola pikir sedemikian rupa, tetapi penting untuk diakui bahwa mindset semacam ini masih ada. Anggapan bahwa mereka yang seru diajak menghabiskan waktu bersama, berakrab-akrab ria, pacaran dan sebagainya, bukan orang yang sebaiknya dipilih sebagai pasangan hidup. KAN ANEH. Why would you choose someone to become your life partner if they are not intelligent enough to keep the fun in your every day? To engage you in conversation so interesting that you forget about checking your boring Path or Facebook feed? And who decides that only virgins should be 'eligible' to get married?


Kalimat 'mau mengurus rumah tangga' juga benar-benar membingungkan. Bukannya―pada kasus normal―kita memutuskan sendiri saat hendak membangun rumah tangga? Mengurusinya bukan menjadi opsi lagi, melainkan suatu bentuk tanggung jawab. Tak peduli mau atau enggan. Mengenai pembagian peran dan tugas harus didiskusikan berdua. Dilakukan berdua. Kenapa harus spesifik menuntut salah satu pihak untuk 'mau mengurus rumah tangga'? Salah satu pihak sejak awal sudah berniat ingin lepas tangan? Atau gimana?

Singkatnya, saya mau ngomong begini. Wahai kalian semua, apalagi sesama perempuan, jangan gampang terharu, terenyuh, tersanjung, atau terbawa perasaan ketika ada yang mengatakan kalian ini pacar-able, nikah-able, atau sejenisnya. Those people who say that to you, mostly won't matter so much in your life. Jangan mau dibohongi orang-orang yang pakai kata nikah-able dan pacar-able, karena sesungguhnya mereka tidak sedang memuji kalian.

They are stereotyping you.

Break it.

z. d. imama