Showing posts with label workworkwork. Show all posts
Showing posts with label workworkwork. Show all posts

Tuesday, 25 September 2018

Crazy Broke Asian: a daily commuting rant

Tuesday, September 25, 2018 4

Transportasi publik. Saya suka banget naik kendaraan umum seperti KRL atau TransJakarta. Serius. Asal kualitasnya bener aja sih (that being said, saya sudah bersumpah tidak akan naik Kopaja maupun Metromini lagi kecuali dalam kondisi mendesak atau bersama teman). Entah sudah berapa banyak waktu hidup ini yang saya habiskan dan buang-buang sukarela hanya untuk keliling-keliling kota naik bus maupun kereta tanpa tujuan. Pasang headset, mendengarkan lagu-lagu musisi-musisi favorit yang selalu menemani hari-hari saya, kadang-kadang seringnya sengaja tidak duduk di bangku meskipun kosong hanya supaya bisa rada-rada headbang mengikuti ayunan bus maupun kereta. Ya kalau sambil duduk kan ketara banget.

Tulisan kali ini isinya adalah omelan, dumelan, dan keluhan ultimate saya sebagai seorang warga jelata yang kemampuan ekonominya cuma mengizinkan lebih memilih naik transportasi umum. Nggak, nggak. Ini bukan tentang penuh-sesaknya KRL di rush hour. Jepang juga gitu kok dan yaa... setidaknya di Indonesia, petugas stasiun nggak ngedorong-dorong atau nendangin pantat para penumpang agar pintu bisa menutup. Bukan pula mengenai Hunger Games arena bernama Gerbong Khusus Wanita, sebab testimoninya sudah banyak ditemukan di mana saja.

Saya, dengan ini, akan sambat sebagai pengguna TransJakarta.



Sejauh ini, pengalaman naik TransJakarta hampir selalu menyenangkan. Yah, nggak ada yang traumatis lah. Lebih banyak enaknya, karena di jam-jam padat pun penumpang TransJakarta lebih mudah diamati, dipandangi, dan diperhatikan gerak-geriknya dibandingkan di wadah pepes teri gerbong KRL Jabodetabek. Kejadian yang menyisakan rekaman batin paling-paling sebatas malu aja, seperti pada saat saya salah menawarkan tempat duduk kepada orang berambut panjang dan berperut relatif besar... tapi ketika yang bersangkutan menolehkan wajah ternyata bapak-bapak. Ini kisah nyata, saudara-saudara.

Lantas apa perkaranya?

Saya bete―bahkan rasanya 'benci' pun bukan kosakata yang berlebihan―setengah mati pada kendaraan non-TransJakarta dan bukan kendaraan khusus situasi darurat (ambulans atau mobil jenazah, misalnya) yang menyerobot masuk busway. To me, it's a heavily egoistical, self-centered action. Nggak empatik sama sekali. Saya tidak pernah berhenti kesal, memikirkan bisa-bisanya para serundeng jembut di jalanan itu berpikir (dan banyak di antara mereka yang duduk manis dalam mobil pribadi) seenaknya, "Ah macet ini jalanan, gue masuk busway aja deh he he he" dan menghadirkan mudarat bagi pengguna bus TransJakarta.

Gini ya, Tong. Jika kalian merasa busway yang disediakan khusus TransJakarta itu adalah sebuah keistimewaan tersendiri, ya pantes aja jadi manusia picik nan egois. Padahal kecuali tipe-tipe bus tertentu kayak feeder, busway merupakan satu-satunya jalan yang dilewati TransJakarta. Akses penumpang juga cuma dari situ. Bagaimana kalau jalur tunggal tersebut dipenuhi oleh kendaraan lain yang pengemudinya nggak cukup punya empati dan tenggang rasa lalu menyerobot yang bukan haknya?


KEOS, JENDERAL. 


Tiap-tiap shelter TransJakarta punya daya tampung terbatas. Beberapa shelter yang desainnya jauh lebih sempit―I'm looking at you, Senayan JCC, Tosari, and similar type of shelters―maupun tertutup, sirkulasi udaranya sering kurang oke apalagi di rush hours. Sesek tempat iya. Sesek napas iya. Bus yang ditunggu sulit mencapai shelter karena jalur terganjal banyaknya kendaraan lain yang nggak semestinya ada di situ tapi nyelonong masuk. Saat akhirnya bisa tiba pun, bus sulit bergerak maju karena lagi-lagi ada kepadatan ekstra di busway. Sementara penumpang numpuk terus. Hadeeeeeh. Kelak di neraka akan ada kavling khusus untuk pengemudi kendaraan yang hobi nyerobot hak pengguna jalan lain demi kepentingan dan kenyamanan pribadi.

Episode ngomel-ngomel Crazy Broke Asian Indonesian saya cukupkan dulu.
Mau top-up saldo e-money yang berangsur menipis, ah.

z. d. imama

Saturday, 25 November 2017

The 1000 Dollars Saving Project

Saturday, November 25, 2017 9

Sebagai millennials kere yang tidak punya uang apalagi aset (ini salah siapa sih sebetulnya?), menghidupi diri sendiri masih compang-camping, dan terlalu banyak impian-impian tak tergapai, hidup saya hampir setiap hari berada dalam survival mode. Apalagi sehabis gajian kemarin langsung kalap beli tiket konser ONE OK ROCK Ambitions Live in Singapore 2018 karena terbutakan oleh cinta, maka survival plan bulan ini secara otomatis jadi lebih gruesome dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Imajinasi kanak-kanak saya untuk hidup kaya-raya makin terasa fiktif. Bahkan untuk bisa bersenang-senang, saya harus disiplin dalam menerapkan aturan bagaimana cara berfoya-foya jika tak punya uang.

Ketika sedang iseng-iseng menggeledah internet dan portal-portal berita internasional, saya terdampar pada sebuah artikel Go Banking Rates yang mengatakan bahwa banyak penduduk Amerika saat ini yang tidak memiliki uang seribu dolar di rekeningnya. Ada juga yang nggak punya tabungan sama sekali. Survei tersebut dilakukan kepada 5,000 orang partisipan (ya nggak banyak sih dibandingkan jumlah penduduk asli Amerika), dan hasilnya adalah sebanyak 69% dari mereka fakir simpanan dana.


Me too, guys. Me too.


Sumber gambar masih dari artikel yang sama.

Berhubung saya tipe-tipe orang yang suka kompetitif untuk hal-hal yang nganeh-nganehi, membaca hasil survei tersebut cukup bikin saya terpelatuk. Ya habis gimana? Saya kan menyerupai 34% persen masyarakat peserta survei yang tidak memiliki simpanan uang di rekening mereka. Ikut tertohok dong. Huks. Saya pun memutuskan bikin proyek: nabung seribu dolar! Jika berdasar kurs satu dolar = tiga belas ribu rupiah, maka target tabungan saya adalah tiga belas juta rupiah. Nominal totalnya remeh banget anjir. Tapi saya bahkan tidak bisa mengira-ngira kapan tercapainya jumlah yang saya cita-citakan. Wakaka. Dasar milenial bokek.

Tidak apa-apa. Walau rasanya target masih nun jauh di antah berantah, rencana ini akan tetap saya laksanakan. Saya nggak akan kalah sama warga negara adidaya yang bisa-bisanya milih Donald Trump sebagai presiden. Lihat saja nanti. Kelak, saya akan punya duit simpanan senilai seribu dolar Amerika! *mengepalkan telapak tangan*

z. d. imama

Thursday, 6 April 2017

And so... goes my resignation letter.

Thursday, April 06, 2017 13

*Sungkem kepada Tante Britney.*

Sebagaimana yang sudah ter-spoiler-kan oleh judul postingan blog kali ini: saya memutuskan berhenti dari kantor lama saya. Pindah kerja ke kantor baru. Belajar lagi. Kenalan sama semua orang lagi. Sebetulnya nggak bisa dibilang 'resign' juga sih... karena memang masa kontrak saya sudah habis (maklum masih PKWTーsilakan di-google jika merasa asing dengan istilah-istilah semacam ini hahaha) dan tidak memperpanjang saja.

Saya tidak akan panjang lebar membahas sebab-sebab kenapa saya memilih berhenti dari kantor lama. Nggak seru. Tapi berhubung kantor lama notabene adalah tempat kerja perdana saya, ternyata ada emosi-emosi tertentu yang secara seenaknya menyeruak dari dalam dada tanpa saya kehendaki. Atau istilah gampangnya: diam-diam baper.

Pindah kantor ternyata bisa sebaper ini.

Sumpah saya baru tahu.

Entahlah. Barangkali karena sebenarnya saya sangat menyukai atasan saya di kantor lama. Orangnya kurang lebih seusia dengan ayah saya sendiri dan beliau benar-benar baik. Banyak mengajari saya berbagai hal. Lucu pula. Teguran-teguran yang disampaikan ketika saya melakukan kesalahan tidak pernah disampaikan secara tak enak. Tuh kan, mengingat Pak Bos kantor lama begini saja rasanya saya kepengin menangis. Sungguh lemah hati saya ini. Kray.

Tapi ya... disebabkan oleh berbagai hal (dan semoga tentu saja demi kemaslahatan diri sendiri), saya memang harus pindah kantor. Masih banyak yang ingin saya pelajari dan lakukan. Syukur-syukur berhasil menemukan pekerjaan yang memang menjadi idaman. I'll try to do my best even from now on.

*Mengepalkan telapak tangan dan meninju udara.*

z. d. imama

Saturday, 28 January 2017

How to Manage Your Money... When You Have None

Saturday, January 28, 2017 25

Beberapa waktu yang lalu sempat ngetren di kalangan blogger-blogger untuk bikin postingan mengenai cara mengatur keuangan ala-ala diri sendiri. Bahkan termasuk Mbak Kimi, yang cukup sering mampir ke blog semenjana milik saya ini (terima kasih ya, Mbak... *sungkem*). Terus terang saya sih kepengin juga bikin tulisan sejenis. Keren gitu rasanya, mengetikkan "Cara Mengatur Keuangan Versi Gue" di kolom judul postingan.

Cuma masalahnya: saya tidak punya uang.

Gimana mau ngatur duit kalau yang diatur aja nggak ada, kan? Hahaha. Untuk keperluan "foya-foya" alias hura-hura, yang belakangan lebih populer di kalangan anak-anak kuliahan (meski saya sudah tidak kuliah lagi) dengan istilah "hedon", alokasi dana per bulannya sekitar seratus hingga dua ratus ribu rupiah. Sudah. Lebih dari itu, saya mungkin harus menggoreng lemak-lemak di badan saya sendiri untuk dijadikan lauk makan. Bisa sih sebetulnya, dana khusus bergembira ria ini ditabung supaya... lebih aware akan kebutuhan jangka panjang. Tapi kayaknya saya bakal mati stres hanya dalam jangka waktu tiga atau empat bulan kemudian. Huks. #NangisDiPojokan

(Thank God I found the right gif)

Jadi marilah pada kesempatan kali ini biarkan saya membahas: dana jatah foya-foya ala kadarnya ini saya pakai buat apa setiap bulannya? Bodo amat. Namanya juga #KizminLyfe. Daripada bikin tulisan membosankan mengenai duit yang numpang lewat karena harga sewa kosan mahalnya amit-amit... lebih baik bersukaria dalam kebokekan. I'm such a pro in this matter (self-proclaimed, mind you), so here we go.

How to Spend Your Money When You Have Almost None... For Fun.

Buying books.

Saya suka sekali buku. Mungkin karena dulu semasa kecil (bahkan sampai sekarang pun) saya sulit bergaul, jadi teman-teman pertama saya adalah buku-buku di perpustakaan sekolah. Bahkan dulu ibu guru penjaga perpustakaan SD sampai pernah menanyakan apakah ada buku di perpus yang masih belum saya tamatkan, karena beliau bermaksud membelikan beberapa buku baru kalau semuanya ternyata telah saya lalap habis. Komik Serial Tokoh Dunia dulu jadi favorit. Saya juga suka membaca ensiklopedia (iya, yang besar dan tebel itu) karena banyak halaman berwarna dengan foto-foto, serta nama-nama Latin yang menurut saya sangat seru saat dilafalkan.

Beli buku bagi saya semacam sudah jadi kebutuhan... sekunder. Nggak bikin mati juga sih, tapi sudah cukup menyiksa kalau harus puasa berbelanja buku. Maka bisa dibilang semenjak punya penghasilan sendiri, setiap bulan saya minimal beli satu buku baru buat menuh-menuhin lemari dibaca kala senggang (yang biasanya sengaja disenggang-senggangin). Sampai detik ini, saya masih belum bisa beralih ke e-book. Lebih pilih buku fisik. Saya nggak kuat jika harus menatap layar lebih dari yang sudah-sudah...

Disclaimer: bukan foto milik saya.

Going to the cinema.

Bokek-bokek gini, menonton film di bioskop adalah salah satu hobi saya. Merepotkan, toh? Jadi ya solusinya adalah, saya harus pintar-pintar memilih film mana yang akan saya tonton dan mana yang harus diikhlaskan menunggu rilisan DVD-nya. Biasanya, kecuali ada teman yang berbaik hati mentraktir, saya maksimal hanya nonton satu film di bioskop setiap bulannya. Itu pun sengaja mencari tempat dengan harga tiket maksimal Rp50,000. Rekor terpanjang saya adalah setengah tahun tidak ke bioskop sama sekali. Udah kayak ngambil cuti akademis, hahaha...

Syukurlah, film-film yang belakangan saya tonton (pakai duit sendiri) cenderung memuaskan hati. Jadi nggak rugi lah. Apalagi kemarin saat nonton Dangal. Nggak biasanya saya keluar studio setengah gemetaran saking terlalu banyak emosi yang meluap. Sebelum Dangal, saya menyaksikan The Girl on the Train. Lumayan juga. Akting Emily Blunt yang meyakinkan benar-benar menjadi kunci film ini. Tapi terus terang saya belum memutuskan mau nonton apa lagi setelah Dangal. Mungkin Resident Evil: The Final Chapter, karena saya bias banget sama Mbak Milla Jovovich.

Tante Milla junjunganku.

Treating my belly.

Alias: makan enak. Jika rata-rata sekali makan cuma sepuluh sampai lima belas ribu rupiah, maka demi memanjakan perut dan lidah, alokasi dilonggarkan hingga.. lima puluh ribu rupiah, misalnya. Tetep standar jelata sih. Tapi toh saya sudah bahagia, jadi ya nggak apa-apa kan?

Taking a random trip.

Lho, jangan salah. Biarpun kere saya tetap suka jalan-jalan. Kegiatan yang cukup saya nikmati adalah naik TransJakarta, KRL Jabodetabek, Kopaja, atau transportasi umum lainnya tanpa terlalu memikirkan jurusan tujuan. Turun saja di sembarang tempat, lalu jalan-jalan berkeliling memperhatikan apa yang ada di area tersebut. Biasanya sih berujung dengan saya nyasar. Tapi tidak masalah. Toh sekarang selalu bisa OOTTR (Ojek Online To The Rescue). Kalau nggak nemu jalan pulang, pesan saja ojek. Selama masih di area Jabodetabek tetep bisa dianterin balik ke kosan kok sama abang ojek. Hehehe. Hehe. He.

Saya harap suatu saat standar bus di Indonesia bisa sebagus dan sebersih ini.

Jadi itulah variasi hal-hal yang biasa saya lakukan untuk membuang duit yang cuma sedikit memanfaatkan jatah dana bersenang-senang. Jika ada di antara kalian yang bersedia berbagi ide aktivitas lain, boleh dong dituliskan di kolom komentar. Saya akan menyambut dengan senang hati. Semakin banyak pilihan semakin seru, kan? Meski memang tidak mudah, mari bersama-sama kita berusaha menerapkan lirik lagu Koes Plus yang legendaris itu: "Hati senang walaupun tak punya uang".

z. d. imama

Tuesday, 5 July 2016

Everything Has Changed

Tuesday, July 05, 2016 0

Besok sudah hari raya Idulfitri.
(Yep, penulisan yang benar secara ejaan bahasa Indonesia, "idul" dan "fitri" tidak dipisah.)

Mungkin sudah agak terlambat kalau saya mau ngobrol singkat tentang apa yang saya alami dan rasakan di sepanjang bulan Ramadhan tahun ini. Tapi ya nggak apa-apa, lah. blog-blog sendiri juga... mau ngomongin Valentine di malam Lebaran pun sepertinya tidak ada yang akan komentar, protes, apalagi bikin-bikin petisi.
*kemudian dihujat netizen*


Well, it's not that you didn't know it already... but
We human tend to take good things for granted.

Begitu pula dengan saya.

Ini bulan Ramadhan pertama selepas lulus kuliah, and... oh boy I very much miss my old college days. Dulu ketika masih mahasiswi kampus kuning, saya bisa menghabiskan waktu sebulan penuh bermalas-malasan di rumah (kalau lagi nggak ada part-time job kecil-kecilan). Ketemu orang tua dan adik, sahur bareng, berbuka puasa bareng, tarawih bareng... semuanya dihabiskan bersama keluarga. Masih sempat pula sok-sokan ikut momen buka puasa angkatan SMA atau SMP (yang mana sejujurnya jumlah orang yang tidak ingin saya temui jauh lebih banyak dari yang benar-benar ingin saya jumpai).


Tapi sekarang nggak bisa begitu lagi. Dengan office life yang mengharuskan saya pulang jam enam sore bahkan ketika Ramadhan, boro-boro ngendon di rumah sepanjang puasa... bisa ikutan buka bersama temen-temen aja enggak. LOL. Saya baru bisa berada di rumah H-3 sebelum hari raya Idulfitri, dan harus sudah kembali lagi ke perantauan H+2.

It's only a simple thing,
But unexpectedly, it gives my heart quite a sting.

z. d. imama

Sunday, 1 May 2016

Working Life Blues

Sunday, May 01, 2016 0

Okay. So let me talk about weeks of experiencing working life. as amateur as I am, I'm already one of those corporate slaves so I guess I have the right to start whining making my own opinion about it.


Jika ada satu hal (sebenarnya sih banyak, tapi sebut satu saja dulu) yang kurindukan semenjak diperbudak oleh korporat, itu adalah main kapan saja di waktu weekdays. Apalagi nonton. Karena, well―you knowharga tiket bioskop pada saat weekdays jauh lebih bersahabat dibandingkan ketika weekend.

And then people ask.
"Yaudah sih nontonnya malem aja habis pulang kerja?"

Oh if only I can do that...
*laughing in tears*
(Tears of sadness)
No, baby. NO.
It's unfortunate, but I'm NOT that strong.

Padahal sejauh ini pekerjaan di kantor masih relatif baik-baik saja (setidaknya "baik-baik saja" untuk level anak-sastra-tapi-ternyata-juga-disuruh-ngurus-finance-dan-pajak-perusahaan), secara umum saya sudah tepar saat jam pulang kerja. Dan yang bikin sedih, penyebab low battery instan setiap harinya bukanlah apa yang terjadi di kantor, melainkan justru perjalanan pulang ke rumah.

It is effing tiring. Mana berani mah, main dulu entah ke mana habis ngantor. Bisa-bisa lelahnya jadi dua kali lipat. Dan kalau saya pulangnya lebih larut dari semestinya, ketakutan terbesar adalah nggak bisa bangun keesokan paginya terus telat masuk kerja. Huks. This is awesome, actually. soalnya dulu pas kuliah gak peduli-peduli amat bakalan masuk kelasnya terlambat apa enggak.

Klasemen sementara:
Pak Bos menduduki posisi puncak.
Dosen masih nun jauh di bawah sana.

So, to sum it up...
My former opinion still stands.
Growing up sucks, big time.
(Because mostly, only responsibilities keep coming your way and all the freedom you've always imagine somehow manages to flee.)


z. d. imama

Sunday, 13 March 2016

A Small "Work" Talk from an Amateur

Sunday, March 13, 2016 1


I landed a job at a Japanese company's office in Jakarta on my first interview.

Which is, to be honest, pretty surprising.
At least for me. Hell, it was my very first try at being interviewed for a corporate job and I would have never guessed I could knock it out of the ballpark. I'm really, really grateful for this chance, and now I just pray to not mess it up.

Ada beberapa alasan kenapa saya sendiri kaget dengan kenyataan ini.
Saya amatir. Saya tidak punya pengalaman bekerja yang mumpuni--selain sempat part-time di beberapa tempat. Saya juga bukan golongan yang diberkahi koneksi alias channel di mana-mana. Saya tidak pernah punya prestasi akademis maupun non-akademis yang mencolok, dan mahasiswa lulusan seangkatan yang IPK-nya jauh melebihi saya pun jumlahnya segudang.

In short,
I do not think I have the brightest, or wow-est, curriculum vitae.

(But somehow I managed to reap the fruit of my first interview. And even after accepting the job, I still got some calls from my later applications, asking if I'm still on a job hunt because they have an offer for me. Isn't that a little unbelievable for a greenie with zero-level experience?)

Maka saya berpikir mundur...
Mencoba melihat kembali apa yang saya ketahui, pikirkan, dan lakukan... yang barangkali--barangkali--dapat sedikit membantu sesama para amatir, atau calon-calon amatiran. 


[DISCLAIMER]
My experience may be irrelevant to your situation.
My so-called "insights" or "advice" may NOT be useful for you.
So it's perfectly fine if to you, this looks like a stupid rambling coming from a newbie.


Saya punya beberapa teman--dengan usia terpaut cukup jauh, seringnya--yang terbiasa menangani bidang human resource. Tidak jarang saya ngobrol-ngobrol dengan mereka. Kadang bercanda biasa, tapi terkadang serius atau malah jadi sasaran curhat masalah kerjaan. And in those fleeting moments, I learned some things, which in the end, turned out to be important.

1. Know (or decide) your starting point.
The smaller, the better. You will see it all from a closer look.

Masalah awal dari para pemuda usia kerja yang sedang job-hunting atau pengin bikin wirausaha sendiri adalah gue-nggak-tahu-mau-kerja-apa-atau-bikin-apa. It's okay, I was there too. I was really clueless on what I want to be. But then, I changed my perspective. Rather than trying too hard to find what I want to be (and failed miserably), I decided on what I do NOT want to be

And that, was my starting point.

2. Specify again!
Going all over the place is not healthy for your own sanity. Trust me, it's more tiring than you think.

Setelah memutuskan kita mau ngapain (atau ogah ngapain), arahkan panah kita lebih jelas lagi. Mau kerja di perusahaan atau tempat yang seperti apa? Bergerak di bidang apa? I mean, we should not apply for an apothecary position and computer technician at the same time, That's just plain absurd. Perlu diperhatikan juga apakah kita ini kepengin berkecimpung di industri kreatif, korporasi, atau yang lainnya?

Because the "style" of our target company should affect on how we will present ourselves, and also the way we write our curriculum vitae (or resume).

3. Resume and curriculum vitae aren't exactly the same.
Guys, please just let this one thing get into your head.

Apalagi sekarang "creative CV" lagi hype banget.
Sampai rame-rame ada yang bikin jasa pembuatan CV kreatif, bermodal sedikit kemampuan CorelDraw atau Photoshop. Tapi tahukah bahwa apa yang kalian bilang "creative CV" itu pada dasarnya adalah resume, dan bukan CV? And it's important to know that you cannot treat your curriculum vitae the same way you do your resume.

Here's the slight difference, as far as I know.
When those short, essential information about you are shoved into a single piece of paper (or two), that's resume. You leave out many details (some times it becomes way too many) that considered have less importance, and you are also free to decorate it as flashy as possible. But one thing for sure: RESUME MOSTLY WORKS ONLY IF YOU'RE AIMING FOR A POSITION IN CREATIVE INDUSTRY.

For a corporate work (or working fields other than creative industry), curriculum vitae is what you bring to introduce yourself on paper. Penampilan CV harus clean, simple, sleek, easy to read, and less decorations. Isinya juga harus selengkap mungkin, sejelas mungkin. Bahkan ketika banyak yang bilang bahwa kolom 'Warga Negara', 'Agama', dan 'Jenis Kelamin' nggak perlu ditulis kalau nggak diminta... surprise, surprise! Sebaiknya disertakan aja, sih. 

It helps the company to deal with us.
Selain itu, sejumlah perusahaan juga cenderung punya semacam 'blanko' tersendiri untuk calon pelamar yang memenuhi syarat ikut tes wawancara. Jadi mereka nantinya yang akan menyortir informasi apa yang paling diperlukan dari CV kita.

4. Effort, effort, effort.
"Youngsters nowadays act as if the world owes them life and prosperity," some old(er) people said.

Gimana, ya...
Nggak jarang fresh graduates yang belum apa-apa maunya dibayar mahal (mentang-mentang lulus cum laude), padahal skill nggak seberapa, pengalaman nol besar. Saya sendiri pun nggak mau di-underpaid, tapi setidaknya jangan keterlaluan lah kalau mau minta 'dongkrak' upah. Professional experience masih blank space (kayak lagunya Taylor Swift) tapi sudah menuntut dibayar selevel senior dengan minimal lima tahun pengalaman kan nggak tahu diri juga... 

And most common mistakes: choosing money instead of mentor (or working environment).
Siapa sih yang nggak suka duit? Semua orang mau duit. Setiap orang butuh duit. Tapi untuk newcomer di dunia kerja, punya mentor dan lingkungan kerja yang suportif nan kondusif itu sebetulnya lebih bernilai untuk perkembangan kita daripada dilempar amplop gaji setebal buku Harry Potter.

But again:
This only applies if we are willing to make some effort.

________
Sekian.
No human beings and animals were harmed during the writing process of this post. 
Not even a mosquito.

(Segala kritik, pujian, cercaan, pertanyaan, dan lain sebagainya terkait postingan ini dapat ditujukan langsung kepada saya.)

z. d. imama