Showing posts with label #RecommendationOlympics. Show all posts
Showing posts with label #RecommendationOlympics. Show all posts

Saturday, 5 January 2019

#RecommendationOlympics: Japanese artists I regularly listen to (Female edition)

Saturday, January 05, 2019 4

Nyaris setahun terlewati setelah #RecommendationOlympics: Japanese artists I regularly listen to (Male edition) diunggah, memang sudah saatnya menuliskan 'pasangannya', alias daftar musisi dan artis perempuan Jepang yang rutin saya ikuti rilisan demi rilisannya. Jarak sebelas bulan tuh kelamaan nggak sih? Kelamaan ya? Habis, bahkan nama-nama musisi cowok yang jadi heavy rotation saya aja udah nambah lho. Ada dua nama: Yonezu Kenshi dan Suda Masaki. Perkenalan dengan Yonezu Kenshi tidak lain dan tidak bukan yaaa gara-gara anime Boku no Hero Academia. Sebenarnya sudah cukup lama ingin ngulik diskografinya, tapi lupa-lupa melulu kek, nggak dapet mood kek, hingga akhirnya misi tersebut terlaksana sekitar bulan Mei 2018 dan langsung aja dah kejeblos. He's making nice music, I reckon. Suda Masaki, yang sebenernya adalah seorang aktor, sejak tahun 2017 mulai iseng-iseng menjajal dunia tarik suara dan ternyata... he's rather decent??? I am genuinely surprised???? Tipe vokalnya tuh macem mas-mas senpai pujaan yang pas festival sekolah main band di panggung gimnasium.

Lho piye toh iki malah ngebahas musisi laki-laki..
Ayo ndang kembali ke jalan yang benar.

浜崎あゆみ (Hamasaki Ayumi)

It's so freaking tiring stanning Ayu but once you got to know her, you can't help but stan. Debut umur 20 di tahun 1998 lalu popularitasnya naik secara eksplosif hingga sekitar tahun 2008, sebelum mulai meredup dan banyak di-bash antifans kanan-kiri lantaran vokal yang bermasalah. Haduh Mak. Karir Ayu bener-bener penuh gejolak. Kadar dramanya kurang lebih setara, bahkan mungkin lebih, dari Namie Amuro-yang mana bakal disinggung dikit di tulisan ini. To cut all things short: she has serious hearing problems. Telinga kirinya sudah nggak berfungsi total sejak 2008, dan gara-gara itu kualitas vokalnya di penampilan live sangat tidak stabil. Kadang bisa oke, kadang saking berantakannya bisa memicu secondhand embarrassment dan bikin pengin nganterin pulang nyuruh istirahat. Bayangin aja deh demen musisi yang nyaris tuli tapi orangnya nekat maju terus kayak nggak peduli kondisi. You love her and you want her to get some long overdue rest but she keeps marching forward like a mad person (and deep down you somehow feel touched by it). Ini goblok apa dedikasi?? Capek ati anjir.

She penned her own lyrics. Each one. Every one. Lirik lagu-lagu Ayu semuanya ditulis sendiri, yang mana jika diperhatikan baik-baik bakal ketahuan kalau sebenernya karakter Ayu cenderung mirip Haibara Ai di Detektif Conan. Penuh kegelapan. That's probably why I really like her. I love unstable queen. Most of her lyrics are raw feelings and everything feels fahking great. Banyak banget lagu-lagu yang awalnya kerasa "Ah ini bagus ya, hangat kayak orang kasmaran" tapi ternyata supercocok dipakai temen nangis di bawah guyuran shower. Beberapa contoh lirik hasil tangan Ayu nih: "The day when I recall things about you doesn't exist because you never leave my mind" (HANABI), "Loneliness felt when we're together is much painful then the loneliness felt alone" (SURREAL), atau "I was praised 'You're so splendid not to cry', but the more people around me said that, even laughing became painful" (A Song for xx). Gimana nggak baper, Tong??

My personal favorites of Hamasaki Ayumi's truckload releases? Agak susah, namun bisa dibilang favorit selama ini ya Memorial address (2003), (miss)understood (2006), Rock 'n' Roll Circus (2010), dan My Story (2004). M(A)DE IN JAPAN yang muncul tahun 2016 kemarin juga suka banget.

Stream Ayu on Spotify guys!!!!

Kalafina

Bukan pertama kalinya nama Kalafina saya sebut di blog ini. Sekian bulan silam, saya pernah bikin satu postingan khusus Kalafina yang isinya nostalgia perkenalan dan rekomendasi sejumlah lagu bagi para non-fans. Ada pula tulisan ekstatik pasca menyaksikan penampilan mereka di AFAID 2013. Mari tidak berbasa-basi: this group has split up. Udah bubar, mamen. Produser sekaligus penulis lagu-lagu Kalafina, Kajiura Yuki, berseteru dengan manajemen Spacecraft dan memutuskan keluar dari agensi tersebut. Berhubung Wakana, Keiko, dan Hikaru nggak mau menyanyikan lagu orang lain dan yaa.. kalau nggak ada Kajiura Yuki maka Kalafina tidak akan terbentuk, mereka akhirnya memutuskan berpisah jalan. Persis setelah menggelar tur anniversary sepuluh tahun. Taek nggak? Taek bener. Sungguh bedhes. Pil pahit per-fangirling-an, bosquuuuuuue.

Mana belum sempat ngejar konser mereka di Yaban...

Rilisan Kalafina yang jadi longtime treasure masih Seventh Heaven (2009) yang merupakan album debut. Disusul red moon (2010) yang gothic maksimal, lalu album terakhir mereka, far on the water (2015). Oh, album khusus Natal mereka, Winter acoustic: Kalafina with Strings (2016) juga cakep ampun-ampunan. Their harmony is beyond perfect there. Diskografi Kalafina bisa didengarkan via Spotify, jadi jangan lupa mampir ya. Check their live albums too!

Aimer

Perkenalan saya dengan Aimer yaa... kayaknya pas dia debut. In a sea of young female singers with high-pitched, screechy voice appearing here and there, 六等星の夜/Rokutosei no Yoru (2011) sounded like a treat to my ears and I literally went, "NAH GINI KEK!!!" Apalagi selang beberapa bulan kemudian muncullah album perdana Aimer, Sleepless Nights (2012) yang bikin saya yakin telah berada di jalan kebenaran. Sejak saat itu hingga sekarang rilisan demi rilisannya nggak pernah absen saya ikuti. Biarpun mukanya hampir selalu ditutupin rambut di tiap foto. Biarpun ketika konser selalu pakai kacamata berbingkai setebel gaban dan lampu sorot diatur sedemikian rupa agar wajahnya nggak kelihatan jelas.

Bicara album, secara pribadi saya masih menjagokan daydream (2016), yang pada saat postingan ini ditulis, merupakan studio album terbaru dari tangan Aimer. Gila bagus banget dah daydream. It shows how much she matured in the sense of music-making, how she grasped what works for her and what does not. Tapi kalau ngomongin single, atau lagu a la carte alias perintilan, yang kayaknya nggak akan bisa berhenti saya dengarkan adalah Last Stardust (dari album Dawn (2015)) dan Brave Shine (2015) yang cakep banget kalau disetel back-to-back karena emang diciptakan untuk di-medley. Re: I Am (2013) juga jadi lagu langganan tiap ke karaoke. But is Aimer on Spotify? Yep. Go here and you're welcome.


ちゃんみな (Chanmina)

A Japanese female rapper in this list? Seriusan? Iya, serius. 'Chanmina' adalah nama panggung dari Otonomai Mina, cewek kelahiran 1998 yang talentanya bikin geger seluruh Jepang pas nampil di BAZOOKA! KOUKOUSEI RAP SENSHUKEN tahun 2016 silam, sebuah kompetisi rap khusus anak SMA yang disiarkan televisi. Setahun kemudian, sekitar musim panas 2017, Chanmina resmi major debut dengan meluncurkan album 未成年/Miseinen (Underage). As a first-ever release, the content was very interesting. Komposisi musiknya beraneka ragam―bahkan agak terlalu beragam―dan dari segi lirik ternyata kok ya cukup banyak kegelapan. Chanmina bercerita tentang kesulitan berteman, tidak bisa menemukan tempat untuk jadi diri sendiri, dikomentari kanan-kiri oleh orang dewasa, diejek remaja seumurannya karena dianggap aneh lah jelek lah gendut lah... Oh, I feel like being summoned.

Berhubung Chanmina baru punya satu album yakni 未成年/Miseinen (2017), satu EP bertajuk Chocolate (2017), dan sejumlah single seperti PAIN IS BEAUTY (2018) atau kolaborasi dengan Miyavi di No Thanks Ya (2017), maka saya merekomendasikan kalian untuk mendengarkan seluruh diskografinya saja di Spotify. Haha. Mumpung belum banyak-banyak amat.

MISIA

The mother of powerhouse. Hands down. Kacau dah begitu Misia udah nyanyi tuh bulu kuduk suka berdiri dengan sendirinya saking ya emang keren nampol. Lagu-lagunya buanyaaaak bangetttt dipakai jadi soundtrack serial drama, iklan, program televisi, gim, film (belakangan merambah anime juga), termasuk di antaranya Fullmetal Alchemist Live Action (2018) yang berdasarkan opini saya lebih baik film itu dibakar hangus pakai alkimia api Kolonel Roy Mustang. Haduuh tante, kebagusan banget lho film acak-adut gitu dapet lagumu sebagai soundtrack...

Right, recommendations. Misia-newbies pertama-tama wajib kenalan dengan album Marvelous (2001) karena di dalamnya termuat signature song Misia yang superpopuler sampai dibikin versi cover-nya oleh berbagai musisi: Everything. Agak-agak kayak 雪の華/Yuki no Hana punya Nakashima Mika lah, kan sampai ada lagu cover yang versi Mandarin kek, Inggris kek, Korea segala macem juga. Album lainnya yang saya suka: Kiss in the Sky (2002), Just Ballade (2009), dan Love Bebop (2015). Jangan khawatir, tante Misia tersedia laman Spotify-nya di sebelah sini kok.

安室奈美恵 (Amuro Namie)

The queen who just recently retired and left her throne empty. She put behind all those spotlights and drop her microphone with a bang, really. Tiket tur terakhir jadi rebutan, album dan DVD pamungkas laris manis kayak kacang goreng. And she deserves every single enthusiasm. Hampir nggak terdeskripsikan sih seberapa kerennya Amuro Namie ini. Walau badai menghadang kayak apa juga, dia selalu bangkit lagi dan bisa tetap bersinar selama 25 tahun karir. Perjalanannya nggak kalah drama dengan Hamasaki Ayumi; bedanya ya kagak penyakitan aja. Shotgun marriage, dikucilkan keluarga mertua, perceraian, ibunya dibunuh saudara ipar... hadeeeeh. Semoga kini setelah pensiun, Tante Namie bisa menikmati seluruh pundi-pundi uang hasil kerja kerasnya selama ini dengan lebih santai dan damai. Amin.

Her earliest work I fell in love with was Sweet 19 Blues (1996). Man, Body Feels Exit (1996) is THE jam. Setelah itu langsung lompat ke rilisan sepuluh tahun kemudian, Play! (2007) yang jadi album perkenalan saya dengan tante Namie lantaran single Baby Don't Cry (2007), lagu pembuka serial drama Himitsu no Hanazono. Rilisan kesukaan yang lebih baru ada Uncontrolled (2012) yang buagusssssssssss makkkkknyussssss dan _genic (2015). Masalahnya nih.. diskografi Amuro Namie nggak tersedia di Spotify entah gara-gara alasan apa.

Good luck ya guys. This one needs a little hard work to enjoy. But it's really one of the best, so march on.

SCANDAL

Dulu apa ya yang bikin jadi kenal dan suka SCANDAL... Kemungkinan besar sih single 瞬間センチメンタル/Shunkan Sentimental (2010) yang jadi lagu penutup Fullmetal Alchemist: Brotherhood (2009). Dari situ saya ngulik diskografi mereka dan memulai karir sebagai pendengar setia. Terus terang, makin lepas SCANDAL dari imej empat cewek-cewek berkostum seragam, musik mereka tambah asyik disimak. Bukan berarti lagu-lagu sebelumnya nggak oke, kok. Tambah seger aja sekarang kayak seteguk es teh di hari yang panas.

Not-to-missed releases in my book: Temptation Box (2010), Standard (2013), YELLOW (2015). Seperti halnya Amuro Namie, SCANDAL hingga hari ini belum tersedia diskografinya di Spotify. Apaan banget kan... pelit bener nih labelnya.

宇多田 ヒカル (Utada Hikaru)

Bikin tulisan beginian kalau nggak nyebut tante satu ini mendingan nggak usah. Meski nggak pernah bisa paham kenapa penulisan nama beliau pakai huruf katakana, namun lagu-lagu beliau sangat saya pahami popularitasnya. Saya curiga bahwa Hikki the Queen of Hiatus memang superselow dalam perjalanan karir. Sesudah Deep River (2002), rilisan demi rilisannya nongol seenak jidat. Suka-suka gue. Nggak ada jarak yang jelas. Bisa aja selang dua tahun, empat tahun, bahkan delapan tahun baru muncul karya baru. Kagak butuh-butuh amat sama duit apa? But still I love her. Rather than high falsettos, I really adore her when singing in lower register. Probably it's also the reason why her trademark track, First Love (1999) is never my number one song because I never really like its chorus part.

Favorite albums? Let's see.. Berdasarkan urutan rilis ada Deep River (2002), lalu jelas Heart Station (2008) yang menduduki tahta nomor wahid di hati―suka banget banget bangettt sama album ini, saya bela-belain berantem tonjokan-tonjokan deh kalau sampai ada yang bilang "Heart Station biasa aja" di depan muka. Rilisan terbaru Hikki, 初恋/Hatsukoi (2017), juga oke, dan setelah penantian berbulan-bulan album terakhir ini akhirnya masuk ke laman Spotify-nya pada Januari 2019!! Yaaay!!

FictionJunction, a team of Kajiura Yuki's trusted singers

Demikianlah beberapa nama musisi dan penyanyi perempuan Jepang yang diskografinya rutin saya dengarkan. Berbeda dengan versi cowok, saya nggak akan bikin daftar Honorable Mentions lantaran.. takut kebanyakan. Sebab kalau mau terus terang, masih ada FictionJunction―jajaran sejumlah vokalis yang selalu membawakan lagu-lagu Kajiura Yuki di live tour beliau―yang formatnya membuat saya bingung cara menyebutkan lagu apa sebagai rilisan sebelah mana.. akhirnya di-skip total dari daftar pendek ini. YUI, Nishino Kana, JUJU, Koda Kumi, dan sejumlah musisi pun tidak saya paparkan lebih lanjut meski mereka bisa dimasukkan dalam honorable mentions. Nanti kepanjangan... nggak kelar-kelar.

Ceburkan diri kalian dalam skena musik Jejepangan, kawan. Seleb K-pop aja berbondong-bondong nyari duit di Yaban. Jangan malu-malu. Oppa tuh banyak yang wibu.

Happy new year!

z. d. imama

Sunday, 15 July 2018

#RecommendationOlympics: Shows about Eating to Watch When You're Eating

Sunday, July 15, 2018 8

Saya suka makanan. Suka makan dan suka nonton orang makan, asalkan bukan via video para YouTuber. Ya, saya tahu hobi ini mestinya membuat saya tidak berhak mengeluh tentang badan yang beratnya luar biasa, tapi mari kita kesampingkan dulu topik itu. Tiap kali saya hendak makan di kamar kos, ada ritual khusus yang tidak pernah absen dilakukan: menyetel program televisi Jepang yang acaranya berkutat tentang makanan dan orang makan. Beberapa hadir dalam bentuk variety show, namun ada pula yang berupa drama series. Gastronomical drama, gitu. Restoran-restoran, warung makan, serta menu yang dimunculkan di tiap episode adalah nyata―lokasinya ada beneran―dan di penghujung acara akan diperlihatkan secara lebih detil mengenai letak, kondisi, bahkan pemilik asli restoran sebenarnya.

Beberapa judul yang selama ini pernah menemani saya makan:

Wakako Zake (2015), 3 season


Diangkat dari manga berjudul sama yang juga sudah sempat dibuatkan adaptasi animenya, Wakako Zake mengisahkan tentang Murasaki Wakako, office lady berusia 26 tahun yang punya hobi wisata kuliner sendirian sepulang kerja. Kenapa sendirian melulu? Ya.. karena jomblo. Oh how I can see my future whenever I see her... Anyway, Wakako ini termasuk #SobatMiras garis keras. Dia suka banget minum bir, sake, wine, maupun beraneka ragam minuman alkohol lainnya, sehingga setiap kali mengunjungi restoran, dia selalu membeli sake yang cocok dengan menu yang dipesan. Jika kalian sama-sama #SobatMiras, episode-episode Wakako Zake lumayan menyumbang pengetahuan untuk mix-and-match minuman apa yang cocok dinikmati bersama suatu makanan.

Neguk bir dengan sepenuh hati.

Khusyuk menatap sake yang dituang ke gelas oleh abang-abang restoran.

Mabuk pakai apa hari ini?

Berhubung Wakako Zake memang menekankan keseimbangan dan perpaduan antara minuman beralkohol dengan makanan, yang dijelaskan menjelang akhir episode tidak sekadar nama restoran, alamatnya, atau menu-menu rekomendasi mereka yang lain, tetapi juga jenis sake apa yang dinikmati oleh Wakako hari itu. Biasanya informasi yang diberikan mencakup merek, asal daerah produsen, serta sedikit trivia tentang pembuatannya, atau keistimewaan sake tersebut. Kadang ada saran penyajian pula, kayak "Ini lebih baik diminum dalam keadaan dihangatkan". Menarik, sih. Cara mbak Wakako menikmati setiap menu yang tersaji di hadapannya juga menyenangkan ditonton. Antusiasme tinggi tetap tersampaikan, tapi tidak comically overkill.

Kodoku no Gurume (2012), 7 season


Gila, memang. Tujuh musim, lho. Nggak main-main. Rating-nya memang terbilang tinggi. Padahal tokoh utama gastronomical drama yang terjemahan judulnya dalam bahasa Inggris jadi The Lonely Gourmet ini relatif sudah pakde-pakde. Tapi ya biarpun begitu saya tetep rajin mengikuti keseluruhan serial Kodoku no Gurume. Menyaksikan pakde-pakde makan sambil ikut menikmati makanan di depan laptop. Jadi sebenarnya yang gila siapa, dah? 

Matsushige Yutaka, aktor veteran Jepang, memerankan Inogashira Goro, seorang pengusaha yang punya bisnis berdagang barang-barang interior impor. Pak Goro dengan hobi kulinernya selalu menyempatkan diri mampir ke restoran-restoran dan warung-warung lokal di berbagai tempat yang dia singgahi untuk kepentingan bisnis. Menu-menu yang dinikmati Pak Goro tidak selalu fancy, kadang muncul episode di mana dia cuma makan masakan ikan atau stew dengan tampilan "B aja" di warung rumahan sederhana dan disajikan dengan piring standar, namun ternyata rasanya punya keistimewaan tersendiri. 

Nggak beda jauh dengan sayur bikinan emak di rumah kan...


In a nutshell, nonton Kodoku no Gurume berarti menyimak hari-hari seorang pakde-pakde melakukan aktivitas dinas kerja sampai perutnya laper. Kemudian, Pak Goro diperlihatkan masuk restoran, membuka buku menu, pesan ini-itu sesuka hati, lalu seluruh makanan yang datang ke meja dihabiskannya hingga tandas sembari menyuarakan apa yang dia pikirkan dan rasakan dalam hati. Udah. Gitu doang. Simpel. Bikin laper.

Saboriman Kantarou (2017)


The Slacker Kantarou. Bagi yang lagi ngidam makanan manis atau kue-kue, nonton Saboriman Kantarou akan terasa bagai siksaan. Sedikit berbeda dengan Wakako Zake atau Kodoku no Gurume yang sebelumnya sudah saya sebut, Saboriman Kantarou hanya terfokus pada jenis-jenis menu dessert. Nggak akan adegan makan ayam panggang di sini. Tapi kue, parfait, pudding, dan sejenisnya akan bertebaran di mana-mana. Bahaya.

Tokoh utama Saboriman Kantarou adalah Ametani Kantarou, karyawan marketing di salah satu perusahaan yang digambarkan lumayan keren dan sering di-PDKT-in cewek-cewek satu divisi. Penampilannya agak stoic dan cool, namun ternyata di balik seluruh pencitraan itu, Kantarou adalah penggemar makanan manis. Bahkan dia punya review blog yang isinya membahas seluruh kue-kue dan dessert yang pernah dicobanya dari berbagai kafe. Demi memenuhi hasrat sekaligus meng-update blognya, setiap hari Kantarou sengaja buru-buru menyelesaikan pekerjaan supaya bisa leha-leha di kafe dan mencicipi menu makanan manis baru. 

 Makan es serut sampai terkaget-kaget saking enaknya.

I have no explanation about this.

Ngomong-ngomong... fantasi dan imajinasi Kantarou tiap sedang menikmati dessert lebay banget sumpah. Nggak tanggung-tanggung. Kadang terbang ke kahyangan. Bermandikan sirup gula. Dikelilingi buah-buahan yang berjatuhan di sana-sini. Belum lagi ekspresi wajah yang kadang-kadang rasanya tidak senonoh ditunjukkan di hadapan publik. Huhuhu. Hati-hati aja kalau kena secondhand embarassment kayak saya. Jika kalian yakin tidak akan geli sendiri terhadap kelakuan mas-mas salaryman yang satu ini, serial Saboriman Kantarou bisa dinikmati via Netflix.

Ramen Daisuki Koizumi-san (2015)


Sebagai umat mi instan (karena memang enak dan himpitan ekonomi yang kerap menuntut kompromi di aspek asupan gizi), makan mi instan sambil mantengin episode Ramen Daisuki Koizumi-san sanggup memberikan dorongan kenikmatan tersendiri. Sensasinya seperti makan roti sambil nonton orang makan burger, lah. Same in principle but less costly.

Protagonis dalam ketiga judul sebelumnya adalah orang dewasa yang sudah bekerja, sedangkan Ramen Daisuki Koizumi-san mengambil fokus berbeda dengan memberikan mahkota tokoh utama pada siswi SMA maniak ramen bernama Koizumi. Setiap pulang sekolah, yang dilakukan Koizumi bukan pergi kursus atau ikut kegiatan klub, melainkan plesiran ke berbagai tempat―termasuk kota atau prefektur sebelah―hanya demi menikmati semangkuk ramen kegemarannya, disajikan oleh berbagai restoran dan warung yang dia incar untuk dikunjungi. Koizumi biasa dibuntuti temen sekelasnya, Osawa Yu, pemuja cewek cakep yang sotoy dan berisiknya minta ampun sampai-sampai ingin saya tabok.

Osawa Yu (kanan) cemberut saking nggak paham kenapa Koizumi segitunya mau makan ramen.

Jumlah episode Ramen Daisuki Koizumi-san lebih sedikit dibandingkan gastronomical drama lainnya. Hanya sebanyak empat episode. Mudah sekali untuk dimaraton dalam sehari. Alhamdulillah, ya Rabb. Sebab mau senikmat apa pun ramen-ramen dalam mangkuk yang disyuting, saya betul-betul nggak tahan dengan celotehan ribut dari mulut Osawa Yu dan segala kelakuannya, yang menurut standar pribadi, ganggu banget. That girl needs to shut up.

Walau Osawa ributnya setengah mati, Koizumi termasuk tipe siswi pendiam. Nggak banyak omong, ekspresi wajahnya lebih sering datar, tapi mendadak berubah jadi berapi-api kalau ngomongin ramen. Makannya banyak. Yakin deh bakal seneng kalau traktir dese makan, karena mau sebanyak apa pun porsi yang tersaji di atas meja akan tetap dihabiskan. Tanpa banyak ba-bi-bu, konsentrasi penuh dikerahkan untuk mengunyah. I can relate to her, actually. Makan adalah aktivitas sakral yang butuh dilaksanakan sekhidmat mungkin.

Setumpuk chashu menanti untuk ditandaskan sendirian.

Biarpun katalog drama Yapan saya terbilang lumayan ekstensif―self-proclaimed, of course―sejauh ini saya baru pernah menyaksikan empat serial tersebut untuk kategori drama gastronomi yang menyertakan informasi mengenai restoran sungguhan. Jika ada yang pernah nonton serial lain dengan tipe serupa, silakan tuliskan judulnya di kolom komentar supaya saya juga bisa ngecek! 

And since many people are asking me: "Nonton drama-drama Jepang biasanya di mana sih?", I'm very sorry but I can't give you an exact answer. Looking for Japanese dramas has always been harder than other series (say, American or even Korean), so I usually look for the list of dramas airing on a particular season before googling the shit out of it to find links or streamed videos. For example, this is the list of drama titles aired on Spring 2018. Jadi, saya tandai tuh drama-drama apa saja yang ingin saya tonton (episode perdana sih biasanya saya cek semua, baru setelah itu diseleksi mana yang menarik dan yang tidak). Tahap berikutnya? Yaa... persis pengakuan saya tadi: geledah Google.

Google is our best friend, folks
Manfaatkanlah dia sebaik-baiknya.

z. d. imama

Monday, 11 June 2018

#RecommendationOlympics: The Books in My Childhood

Monday, June 11, 2018 10

Setelah beberapa tulisan sebelumnya topiknya berat (kayak badan saya), sepertinya membahas hal yang enteng-enteng dan nostalgik tidak buruk juga. Kali ini saya ingin mengungkit sedikit buku-buku yang menghiasi hari-hari masa kecil dulu. Eh tapi yang dimaksud dengan 'childhood' ini seberapa kecil? Limitasinya bagaimana? Biar gampang, anggap saja sampai kelas 6 SD, lah. Selain itu, supaya tidak kisruh atau overlapping dengan daftar pendek shoujo manga dan shounen manga yang sebelumnya sudah pernah dibuat, judul-judul komik tidak akan dibahas oleh tulisan ini.

Maafkan aku, komik Siksa Neraka.
(Aturan tetaplah aturan yang harus ditaati.)

Kalau Oozora Tsubasa berteman dengan bola, saya sejak kecil berteman dengan buku-buku dan majalah. Ayah dan ibu sama-sama bekerja, dan karena di tempat penitipan anak saya tidak punya banyak teman gara-gara badan yang jauh lebih besar dibandingkan kawan-kawan sebaya sehingga 'menakutkan', saya lebih sering ditemukan duduk mojok di sebelah rak buku-buku bergambar dan membaca. Kebiasaan ini terbawa sampai hari-hari bersekolah di TK bahkan SMP. SMA sih nggak ya. Soalnya koleksi buku di perpustakaan nggak sebagus itu, jadi bawa buku sendiri dari rumah dan dibaca di ruang kelas. #AlumniDurhaka

Animorphs, K. A. Applegate


Damn, I loooooove this series to the moon and back. Malah kayaknya saya masih lebih sayang pada keseluruhan 54 buku Animorphs dibandingkan ketujuh volume Harry Potter buatan J. K. Rowling. Animorphs is arguably one of a few 90s' brightest gem. Memang sih sayang sekali karena sepertinya pesona serial ini hanya bekerja efektif di masa-masa itu saja dan nggak bisa seawet Harry Potter, atau bahkan Lord of the Rings yang sampai sekarang masih sering diungkit, diperbincangkan, bahkan jadi meme. Padahal jika mau dikulik, world-building, character bonding, konflik, dan social approach di 54 buku Animorphs jauh lebih solid dan baik dibandingkan kisah-kisah distopia yang makin merajalela saat ini.

Animorphs bercerita tentang satu geng anak ABG beranggotakan lima orang (di awal buku, usia mereka 13 tahun): Jake Berenson dan sepupu ceweknya yang cakep tapi kelakuan berangasan, Rachel, sahabat baik Jake, Marco, kecengan Jake, Cassie, dan Tobias si pendiam yang naksir Rachel. Takdir mempertemukan merekad dengan spesies alien Andalite, yang memberitahu bahwa bumi telah diinvasi alien lain bernama Yeerk. Yeerk berwujud seperti lendir berukuran sebesar lintah, dan meski tampak lemah plus menjijikkan, mereka mampu menguasai dan mengendalikan tubuh makhluk hidup lain dengan cara masuk lewat saluran telinga lalu melekatkan diri menyelubungi otak makhluk yang diincar. Ngebajak otak, gitu. Andalite kemudian memberikan Jake dan kawan-kawannya kemampuan metamorfosis untuk melawan para Yeerk. Lahirlah Animorphs. Perang pun dimulai.

These books are sick. Parah. It deals with bizarre war in the realest way possible. Konsekuensi, konflik batin, pengorbanan, self-doubt, guilt trap, semua diungkap, digambarkan, dan dibahas. War fucks people up and this series doesn't gloss it over. Saat serial berakhir di buku ke-54, perang melawan invasi Yeerk dikisahkan telah berjalan setidaknya selama satu dekade! Padahal Voldemort aja keok dalam jangka waktu tiga tahun setelah kebangkitan. Klasemen sementara: Yeerk 1 poin, Voldemort 0.

Sayang beribu sayang, Animorphs tidak diterbitkan sampai tamat di Indonesia. Gramedia Pustaka Utama hanya merilis hingga buku volume 27. Entah alasannya kenapa. Mungkin karena seri yang terlalu panjang. Barangkali juga kalah popularitas dengan judul-judul lain. Sedih. (Tapi saya sudah baca sampai tamat, nyambung ke versi bahasa Inggris. Hehe.)

Harry Potter, J. K. Rowling


You guys see this coming, I bet. Memori saya bersama buku-buku serial Harry Potter boleh dibilang banyak dramanya, sih. Sekolah saya (sebagaimana yang telah diceritakan di sini) cukup rajin melarang murid-muridnya baca maupun nonton Harry Potter. Nanti jadi syirik, katanya. Memicu perbuatan musyrik, katanya. Akhirnya ya tetep baca juga tapi di lingkungan sekolah harus ekstra hati-hati untuk tidak membahas. Takut kalau ada guru yang mendengar.

Installment favorit dari ketujuh buku dalam serial Harry Potter, bagi saya, adalah buku ketiga: Harry Potter and the Prisoner of Azkaban―diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh almarhumah ibu Listiana Srisanti menjadi Harry Potter dan Tawanan Azkaban. Kenapa? Sebab di situ ada adegan legendaris Hermione Granger ninju mukanya Draco Malfoy (yang secara ironis justru mengantarkan saya ke gerbang cursed ship DraMione). Untuk pertama kalinya pula Harry, Ron, dan siswa-siswi Hogwarts dapat profesor Defense Against the Dark Arts yang waras, setelah Quirell dan Lockhart si meganarsis. Hippogriff. Pembalik-Waktu. Buku Monster Tentang Monster. Terkuaknya petunjuk plot besar untuk kali pertama. Aaaaargh, I really love that third book!

Goosebumps, R. L. Stine


Serial horor yang terbitnya cukup berbarengan dengan Animorphs. Sepertinya belakangan dirilis ulang oleh Gramedia Pustaka Utama, sebab saya merasa sempat melihat lagi di rak-rak toko buku. Total keseluruhan seri original ada 62 volume, dengan tokoh utama dan cerita yang berbeda-beda di tiap jilidnya. Saya nggak sempat menjamah semua rilisannya sih. Paling-paling cuma setengah dari jumlah total.

Terus terang, kisah-kisah Goosebumps, despite its title which means 'bulu kuduk meremang', nggak seserem itu. Ada sih yang disturbing dan cukup bikin kebayang-bayang. Namun ada pula yang sekadar "Oh ya oke" gitu doang. Justru yang lebih serem dibandingkan isi ceritanya adalah desain kaver bukunya! Taek bener. Mumi lah, tengkorak lagi pesta barbekyu lah, kucing setan lah, monster hijau berbulu lah...

Faris dan Haji Obet, Boim Lebon


Mengisahkan remaja laki-laki muslim bernama Faris yang bersahabat dekat dengan seorang marbot musala bernama Zulfikar, yang anehnya lebih akrab disapa "Haji Obet" gara-gara pakaian yang dia kenakan cenderung lusuh dan sobek di sana-sini. Kisah-kisah Faris dan Haji Obet dibungkus ringan, agak jayus, dan kadang-kadang cukup overkill tapi sangat menyenangkan untuk disimak. Walau bisa dibilang latar belakang religius tokoh-tokohnya terlihat jelas sekali, novel Faris tidak preachy sama sekali. Justru lebih menekankan bagaimana perilaku Faris sebagai ABG baik-baik yang terkadang masih jahil. It was portrayed rather adorably, in my personal opinion.

Tokoh Zulfikar a.k.a Haji Obet pun dihadirkan secara komikal. Gimana nggak? Marbot musala, tampilan lusuh-nyerempet-gembel, namun jago berantem. Tidak jarang Haji Obet dikisahkan terlibat perkelahian fisik bak-buk-bak-buk melawan preman jalanan. Bahkan sosok antagonis di novel ini pun hadir dari golongan 'tampak religius'. Namanya Haji Mursal. Wow sungguh futuristik, bukan? Ketika sekarang banyak bermunculan kaum-kaum berperilaku jahat tapi berkedok penuh iman, novel serial Faris dan Haji Obet sudah lebih dulu memberi representasi. Hehehe.

The Chronicles of Narnia, C. S. Lewis


Dibandingkan Harry Potter, terjemahan serial The Chronicles of Narnia terasa lebih kaku bagi pembaca anak-anak. Jika buku Harry Potter bisa saya tamatkan dalam sekali duduk, menyelesaikan satu volume Narnia memerlukan waktu tiga kali lipat lebih lama. Saya agak kurang sreg dengan flow ceritanya dan pilihan diksi yang digunakan untuk mengekspresikan adegan. But that being said, I still like this series. Aslan is my Lord.

Pilihan favorit saya jatuh pada buku Prince Caspian (dulunya berjudul The Return to Narniainstallment kedua dari total tujuh buku. Pangeran Caspian dikisahkan sebagai pewaris tahta sah yang tidak mendapatkan haknya, sehingga anak-anak Pevensie bersaudara―Peter, Susan, Edmund, dan Lucy―yang kini eksistensi mereka telah menjadi semacam 'legenda' di jagad Narnia pun berjuang di sisinya. Berbeda dengan buku sebelumnya, The Lion, The Witch, and The Wardrobe, sosok Edmund Pevensie sudah tidak lagi menyebalkan, dan belum muncul tokoh baru bernama Eustache Scrubb yang ampun dah minta ditabok banget. Kayaknya itu sih yang bikin saya paling demen sama Prince Caspian.

Pasukan Mau Tahu, Enid Blyton


Ngomongin Enid Blyton, saya yakin banyak yang akan teringat pada serial-serial lain juga. Misalnya: Lima Sekawan, alias Famous Five. Namun jika dibandingkan judul-judul karya beliau lainnya, favorit pribadi jatuh kepada Pasukan Mau Tahu (judul asli: The Five Find-Outers). Cerita-cerita dalam seri Lima Sekawan lebih kental dengan petualangan, bahkan kadang menyebabkan anggota-anggotanya terjebak bahaya seperti diculik. Sementara Pasukan Mau Tahu justru lebih kalem. Rata-rata kisahnya berkutat pada penguakan peristiwa-peristiwa ganjil yang terjadi di lingkungan sekitar tempat tinggal tokoh-tokohnya. Ibarat geng kepo di komplek perumahan gitu deh.

Pasukan Mau Tahu digawangi oleh Frederick Trotteville―yang kerap disapa Fatty karena... well, gendut, Philip "Pip" dan Elizabeth "Bets" Hilton, Margaret "Daisy" dan Lawrence "Larry" Daykin, serta anjing kesayangan Fatty bernama Buster. Mereka berlima punya rasa kepo luar biasa tinggi terhadap hal-hal yang dianggap aneh, sehingga kerap bentrok sekaligus main kucing-kucingan dengan Pak Goon, polisi lokal yang tidak menyukai Pasukan Mau Tahu dan menganggap mereka mengganggu penyelidikan.

Honorable mention:
(I know I'm not supposed to talk about 'comics' but this one is just too important to pass.)

Seri Tokoh Dunia


Entah siapa yang bertanggung jawab menulis dan bikin ilustrasi buku-buku ini. Semasa saya TK dan SD, Seri Tokoh Dunia adalah juaranya. Semua jilidnya―yang secara ajaib bisa punya artwork sama persis―berjejer lengkap di perpustakaan sekolah. Bahkan bisa sampai dobel-dobel karena kayaknya termasuk buku populer di kalangan para murid. Banyak banget yang pinjam. Barangkali didukung formatnya yang ringan, kali ya. Berkat khatam membaca Seri Tokoh Dunia, saya jadi mulai mengenal Wright bersaudara, Helen Keller, Siddharta Gautama, James Watt, Mozart, dan berbagai orang-orang terkenal lain dari bermacam belahan dunia. These books truly lived up to its self-proclamation.

Itulah beberapa buku yang paling dominan menghiasi hari-hari masa kecil saya. Memang tidak semua bisa saya tuliskan di sini. Tetapi apa yang saya sebutkan di atas sepertinya sudah cukup representatif deh. Toh yang saya baca tidak sebatas novel saja, masih ada rangkaian judul-judul manga dan majalah-majalah serta tabloid untuk anak-anak. 

So now, how about yours? 


What books are closely remembered as a part of your childhood? And why? Silakan berbagi lewat kolom komentar, jika tidak keberatan. Your comments and feedback give me immense happiness, really.

z. d. imama

Monday, 19 February 2018

#RecommendationOlympics: Japanese artists I regularly listen to (Male edition)

Monday, February 19, 2018 11

Opening picture saya dapatkan dari official website Metropolitan Rock Festival (METROCK) karena tidak menemukan gambar yang cukup representatif. Well... sebagaimana judul di atas, saya akan berbagi nama-nama musisi/artis laki-laki yang lagu-lagunya langganan saya dengarkan. Tapi bukan berarti musisi yang tidak saya tuliskan namanya dalam daftar pendek ini belum pernah saya coba menikmati karya-karyanya. Nggak terlalu sering disimak aja. Toh saya sudah pernah bercerita bahwa lebih cenderung menikmati diskografi dan bukan playlist, sehingga musisi-musisi yang lagu-lagunya saya nikmati secara ketengan rasanya masih kurang cocok dinobatkan selaku regular listening berdasarkan penilaian pribadi. One more disclaimer: urutan penyebutan tidak menandakan level favoritisme maupun kualitas. Acak saja, kok. Sumpah.

Let's get going.


嵐 (Arashi)

Oke. Rada bohong kalau barusan saya bicara soal non-favoritism. Nyatanya, nama "Arashi" saya sebutkan kali pertama dalam tulisan ini semata-mata karena mereka adalah grup yang paling awal melintas di kepala. Beranggotakan 5 orang mas-mas (menuju om-om, sebab usia rata-rata member-nya adalah 35 tahun) yang meniti karir semenjak tahun 1999 dan hingga detik ini masih jadi salah satu dari sedikit record-breaking, best-selling artist di Jepang, saya tidak bisa memungkiri bahwa Arashi menjadi pintu perkenalan saya terhadap berbagai genre musik. Serius. Diskografi mereka yang ekstensif memiliki berbagai contoh lagu mulai dari pop, rock, EDM, hip-hop, ska, jazz, ballad, klasik ala-ala Disney, bahkan yang terkesan 'dangdut'. Nggak cupet-cupet amat lah spektrumnya.

Personal favorite albums? Japonism (2015), LOVE (2013), dan 僕の見ている風景/Boku no Miteiru Fuukei (2010).



宮野真守 (Miyano Mamoru)

Ya Rabb. Tolonglah. Mas-mas suami orang yang satu ini racun banget. Ibarat nasi kotak, dia paket superlengkap. Ada nasi, sayur, lauk-pauk, kerupuk, buah, puding, sendok, bahkan mungkin bonus penganan ringan seperti pastel goreng atau salad sederhana dari kubis dan wortel diaduk dengan mayones. Mengawali karir serta berprofesi utama sebagai seiyuu―pengisi suara a.k.a voice actor/dubber―keturunan nabi Adam yang level charming-nya udah berstatus biohazard ini mulai punya profesi sampingan sebagai solo artist sejak tahun 2007. Popularitas dan kualitasnya selaku talent makin melonjak sengit pasca single Orpheus (2011). Suaranya duh.. berbagai macam idol populer keluaran agensi raksasa saja banyak yang kebanting. Serius. Ditambah kelakuan orangnya yang ekspresif, down-to-earth, plus selera humor receh nan goblok, tewaslah saya dirajam tombak pesona. He can dance really well, too.

Apa? Ingin tahu kapan saya menghamba pada Miyano Mamoru? Belum lama, kok. Paling sekitar akhir 2013, all thanks to his aaawwwsome single Kanon (2013). Agak telat, memang. Saya cukup sulit memilih mana album favorit, sebab rilisan Miyano Mamoru semenjak FANTASISTA (2012) hingga sekarang selalu oke. Coba dengarkan PASSAGE (2013), FRONTIER (2015), dan The Love (2017). Hati-hati, rawan baper sustainable.


EXILE

In a nutshell, EXILE is "a troop of om-om". Nggak semua anggotanya sudah cukup berumur untuk disebut om-om sih, tapi ya gitu deh... Andaikata dibilang EXILE sesungguhnya adalah geng mafia, saya mungkin bakal percaya-percaya aja. Namun biar penampilan mereka garang, suara lead vocalist EXILE (Atsushi dan Takahiro) bagus banget ya Rabb bikin meleleh. Apalagi di lagu-lagu ballad. Baper mentok. Konsep EXILE sendiri agak unik karena di dalam grup hanya ada dua orang vokalis dan sisanya disebut 'performer', yang mana kerjaannya menari dan beraksi di atas panggung.

Album EXILE yang merupakan favorit saya antara lain: 愛すべき未来へ/Aisubeki Mirai e (2009)―its seventh track, ふたつの唇 (Futatsu no Kuchibiru) was so lit-yet-angsty I could never get enough!!―dan 願いの塔/Negai no Tou (2011). Tahun 2016 lalu, EXILE juga merilis album kompilasi lagu-lagu single hit yang dikemas dalam tiga CD EXTREME BEST, sehingga kalau baru mau kenalan dengan EXILE, menurut saya bisa banget dimulai dari menyimak tracklist di EXTREME BEST.


ONE OK ROCK

I don't know if you guys have known it, but I went as far as catching their concert in Singapore back in January. No money left but no regret. Karya-karya ONE OK ROCK belakangan ini membuat saya merasa musik mereka berubah haluan―which, according to my judgment, isn't a pleasant one―tetapi tidak bisa dipungkiri, saya masih menyukai mereka in general dan masih menunggu hadirnya rilisan-rilisan baru dengan secercah harapan. ONE OK ROCK has that rare gift, or talent, to craft and compose an album in such a way which makes you feel hesitant to skip any track. Well.. at least for some of their past releases, Banyak kan, musisi yang lagu-lagunya oke kalau didenger ketengan tapi pas disimak albumnya kok justru nggambleh, ngondoy, membosankan, berantakan, atau justru terdengar seperti one painstakingly long medley? Thank god, ONE OK ROCK is not one of them.

My personal favorites go to: 人生x僕=/Jinsei Kakete Boku wa (2013), Nicheシンドローム/Niche Syndrome (2010), dan 残響リファレンス/Zankyou Reference (2011). Those were peak ONE OK ROCK so far.


関ジャニ∞ (Kanjani Eight)

"Srimulat in the form of an idol group" is my decription of Kanjani Eight. Kelakuan setiap anggotanya di variety show televisi Jepang memang superkonyol dan menghibur, namun sebagai musisi, perjalanan Kanjani Eight sempat sangat tidak mulus. During their earlier days, I personally think they're kinda confused about what concept to offer on the table. Apalagi jika mempertimbangkan bahwa nggak ada satu pun dari mereka yang cocok dengan imej dancing-while-singing a la idol group kebanyakan. Saat Kanjani Eight akhirnya menghadirkan formasi band sebagai variasi, jujur saja saya senang bukan kepalang, apalagi jumlah anggota terbilang banyak sehingga bisa mengikutsertakan banyak instrumen. Walau sejatinya Kanjani Eight adalah idol group, I think they are in their own element and shine the most when they're doing band.

Favorite albums: FIGHT (2011), カンジャニズム/Kanjanism (2014). Their latest, ジャム/Jam (2017) is rather okay, too.


CHEMISTRY

Jebolan talent search Jepang, Asayan, di tahun 2000 silam, saya terbilang telat nyadar terhadap eksistensi CHEMISTRY karena baru ngeh ketika lagu mereka yang berjudul merry-go-round (2011) dijadikan soundtrack episode ketiga OVA Mobile Suit Gundam Unicorn. Padahal jika ditelisik lagi, saya sudah pernah mendengar CHEMISTRY semasa SD, lewat lagu Wings of Words (2005) yang merupakan opening anime Mobile Suit Gundam SEED Destiny. Iya, ngerti kok kalau ada single Period (2010) yang dipakai sebagai lagu pembuka Fullmetal Alchemist: Brotherhood, masalahnya saya baru bersentuhan dengan serial itu tahun 2012. Tipikal lagu-lagu CHEMISTRY beraliran R&B dan pop, mid-tempo serta cukup banyak ballad, sehingga menurut saya enak didengarkan kapan saja.

Favorite albums: regeneration (2010), dan kompilasi single lawas CHEMISTRY 2001-2011 (2011). November 2017 kemarin, CHEMISTRY merilis single double A-side baru bertajuk Windy/ユメノツヅキ (Yume no Tsuzuki) yang kualitasnya tidak menurun dan masih berhasil menunjukkan ciri khas CHEMISTRY. Semoga akan ada album baru lagi. Suara duo mas-mas ini cakep, lho.


Galileo Galilei

Jangan salah paham, yang ini bukan nama ilmuwan. Melainkan band Jepang asal Hokkaido yang sudah bubar. Yes you read that right. Aktif sejak tahun 2007, Galileo Galilei mengumumkan disbandment tahun 2016 lalu. Saya nggak bisa cerita banyak mengenai band tersebut karena bahkan nggak tahu siapa nama vokalisnya―selama ini bener-bener cuma dengerin lagunya dan menganggap mereka sebagai satu entitas tanpa peduli tiap-tiap anggotanya. Namun jika ditanya rilisan favorit, maka jawaban saya: album pamungkas Galileo Galilei, Sea and the Darkness (2016), album perdana yang berjudul Parade (2010), dan extended play ハマナスの花/Hamanasu no Hana (2010).


SPYAIR

Perkenalan saya dengan SPYAIR semata-mata berkat drama HAMMER SESSION! yang dibintangi Shida Mirai dan Hayami Mokomichi, mas-mas tinggi menjulang berkulit cokelat sedap, yang saya tonton maraton di laptop tahun 2011 lalu. Ternyata tak lama kemudian saya mengetahui sejumlah lagu-lagu mereka juga dijadikan soundtrack anime series Gintama, dan ending theme untuk film The Amazing Spider-Man versi Japanese dub. Ya udah deh. Amblas. Terceburlah saya jadi fangirl. Makin girang lagi ketika single Imagination dan I'm A Believer dipilih sebagai opening anime adaptation manga Haikyuu!! yang hingga hari ini masih rutin saya baca dan ikuti perkembangan ceritanya. And this might be biased opinion but somehow, SPYAIR is one of the bands which I think, like, deserves to be more popular than they currently are.

Favorite releases: Millions (2013), Kingdom (2017), lalu Rockin' the World (2011). Album kompilasi SPYAIR, BEST (2014), saya rasa cukup oke dan representatif sebagai kunjungan pertama bagi pendengar awam. Silakan dicek halaman Spotify-nya!


MAN WITH A MISSION

Dibandingkan nama-nama yang saya sebutkan lebih dulu, MAN WITH A MISSION termasuk recent finding. Barangkali tidak begitu terpaut jauh dengan saat saya mengenal Galileo Galilei: tahun 2015. Saya jatuh cinta dengan lagu Seven Deadly Sins yang didapuk sebagai soundtrack anime Nanatsu no Taizai. Sejak momen bersejarah itu, saya rajin mengikuti rilisan demi rilisan MAN WITH A MISSION. Penasaran banget pengin datang menonton pertunjukan live mereka dan melihat dengan mata kepala sendiri, mendengar langsung dari kuping yang menempel di kepala saya bagaimana sang vokalis, Tokyo Tanaka, bernyanyi dengan keukeuh mengenakan topeng serigala. Doakan semoga season lanjutan Mengejar Mas-Mas bisa hadir dalam episode MAN WITH A MISSION yah.

Personal favorites: Chasing the Horizon (2018), The World's On Fire (2016). Tales of Purefly (2014).


Lanjut ke daftar Honorable Mentionsdeh. Berikut adalah beberapa musisi Jepang lain yang rajin mengisi hari-hari saya, tetapi dengan syarat dan ketentuan berlaku:
  • L'Arc~en~Ciel. Dedengkot legendaris. Dari diskografi Laruku yang ekstensif, saya cuma familier dan hapal tiga album saja: SMILE (2004) yang menjebloskan ke lembah J-music bahkan walau saya masih bocah SD ingusan, Awake (2005), dan KISS (2007). Track-track lain di luar ketiga album tadi, saya tahu secara eceran karena biasanya kerap dibawakan di festival-festival kebudayaan Jepang.
  • Hey! Say! JUMP. Salah satu idol group dari Johnny's Entertainment selain Arashi dan Kanjani Eight.
  • KAT-TUN. Ini juga grup keluaran Johnny's Entertainment. Their debut single, Real Face (2006) was arguably the best debut song ever released by Johnny's talents. Saya berhenti intensif mengikuti sepak terjang mereka semenjak Tanaka Koki, sang rapper, dikeluarkan sebagai konsekuensi pelanggaran peraturan agensi yang berulang-ulang di tahun 2013. Patah hati, bos. Sekarang saya cuma rajin dengerin lagu-lagu lawasnya.
  • flumpool. Tiga album awal, Unreal (2008), What's Flumpool!? (2009), dan Fantasia of Life Stripe (2011) masih rutin saya dengarkan dan hapal semua lagunya di luar kepala. Setelah itu belum coba ngecek lagi. Mungkin sudah saatnya menjenguk karya-karya baru flumpool?
  • B'z. Another sesepuh. Saking senpai-nya (debut tahun 1988), saya nggak sanggup ngecek keseluruhan diskografi mereka dan memilih settled dengan menyimak album kompilasi seperti B'z The Best XXV 1999-2012 (2013) dan single-single semacam Red (2015) atau Still Alive (2017).
  • MY FIRST STORY. Band rock yang mana vokalisnya, Hiroki, adalah adik dari Takahiro―vokalis ONE OK ROCK. Banyak orang bilang bahwa sebagian besar musiknya terdengar seperti olden days ONE OK ROCK (which I totally agree), dan saya rasa mereka kayak nggak ada niatan untuk memberontak keluar dari 'bayang-bayang' itu. It's unfortunate, really. But putting that aside, I suppose MY FIRST STORY still have miles to go and learn in album composing department because to date, no matter how solid their singles arei.e. 不可逆リプレイス/Fukagyaku Replace (2014) and ALONE (2015), their studio albums tend to fall rather flat. At least to me

Ditambah Honorable Mentions, total sudah lima belas musisi dan artis saya sebutkan. Lebih baik diakhiri saja sebelum makin merembet tak terkendali. Jika ada yang berkenan bagi-bagi regular listening―musisi cowok doang yah supaya nggak out of topic―silakan tulis di kolom komentar. Sampai jumpa di postingan Female edition dari "Japanese artists I regularly listen to"!

z. d. imama

Tuesday, 21 November 2017

Recommendation Olympics: Shounen Manga I Just Can't Forget

Tuesday, November 21, 2017 11

Barangkali jika mendengar istilah 'shounen manga', yang pertama kali terpikir di benak banyak orang adalah judul-judul blockbuster dengan jumlah episode sepanjang jalan kenangan seperti Naruto, One Piece, Bleach, hingga Meitantei Conan. Nggak salah juga sih. Target pembaca shounen manga, sebagaimana namanya, memang rata-rata adalah anak laki-laki dari usia 8-9 hingga 18 tahun (meski pada kenyataan luber ke berbagai jenjang usia dan bahkan merembet hingga anak-anak perempuan―saya termasuk salah satunya). Jumlah shounen manga mungkin ada puluhan ribu, sedangkan pengetahuan yang saya punya tentang itu sangat terbatas. Jadi walau judul postingannya adalah Recommendation Olympics, saya tidak akan mengatakan komik yang nantinya disebutkan sebagai 'rekomendasi' tersendiri dari lautan shounen manga yang pernah ada. Saya cuma akan berbagi sedikit judul yang saya sulit lupakan jalan ceritanya, baper berat saat membaca, atau punya kenangan tertentu (or stuck with it and can't escape no matter how hard I try). Sehingga bukan berarti apa yang tidak saya masukkan ke daftar pendek ini jelek. Sama sekali bukan.

Jadi, sudah bisa saya mulai kan ya? Sudah dong.

10. Meitantei Conan - Gosho Aoyama

I don't know why I'm doing this to myself. I don't know why didn't stop this torture already. Meitantei Conan―atau Detektif Conan―rasanya seperti komitmen yang tidak bisa saya bubarkan, entah kenapa. This feels like a marriage I don't remember when exactly I did say "Yes". Saya memang pernah sangat menyukai dia, mengabaikan betapa Gosho Aoyama tidak pernah mampu memutuskan hendak menjadikan Detektif Conan sebuah serial dengan fokus pada plot besar atau hanya case-by-case seperti serial Kindaichi Shounen no Jikenbo. Akhirnya, sebagaimana racauan dan tumpahan frustrasi yang sudah pernah saya beberkan di tulisan blog sebelah sini, kesetiaan saya dengan Detektif Conan kini bermodalkan 85% harga diri dan 15% rasa kepalang tanggung.

9. One-Punch Man - Murata Yusuke & ONE

Satu-satunya alasan kenapa serial ini sangat meninggalkan kesan di hati saya yaa... karena ketimpangan yang menganga antara kualitas gambar dengan tingkat keseriusan kisah. Untuk artwork sekeren ini, jalan cerita One-Punch Man terlalu ngasal dan sesuka hati. Mengenai seorang mas-mas bernama Saitama yang memutuskan untuk bekerja full-time sebagai superhero karena hobi, dan akibat saking giatnya berlatih, dia menjadi terlalu kuat. Bikin gemes. Apalagi di volume ke.. tujuh apa ya? Ada empat halaman full-spread (yang artinya delapan halaman portrait) khusus untuk melukiskan secara ekstra-detil sebuah ledakan hebat akibat tinju Saitama. Terserah Murata Yusuke-sensei sajalah. Bodo amat.

8. Tsubasa Reservoir Chronicle - CLAMP

This series is so pretty and filled full with fanservices, in the sense of nostalgic feelings. Berlindung di balik "perbedaan dimensi semesta", CLAMP memasukkan berbagai karakter dan unsur dari seluruh karya-karya sebelumnya ke dalam Tsubasa Reservoir Chronicle. Jujur, saya menduga bahwa sebenarnya mereka cuma males merancang karakter baru. Bahkan protagonis dalam kisah ini pun bukan karakter asing, melainkan mengimpor dari blockbuster series CLAMP tahun 1997, Card Captor Sakura. Tapi bagaimanapun juga, saya akui artwork CLAMP masih tetap secantik biasanya. Format dunia paralel pun menghadirkan angin segar yang lumayan menghibur meski saya sama sekali nggak paham apa yang terjadi dengan plot cerita selepas volume 15―dari total 28 jilid buku―, dan saya juga menyimpan kecurigaan kalau CLAMP nggak terlalu ngerti apa yang ingin mereka sampaikan.  

7. xxxHOLiC - CLAMP

Complementary series untuk Tsubasa Reservoir Chronicles. Dua serial ini berjalan di dimensi, atau dunia, yang berbeda namun saling berkaitan. Mbuh banget, kan. Mengisahkan Watanuki Kimihiro, seorang pelajar SMA yang bisa menyaksikan makhluk-makhluk yang umumnya tidak tampak, dan sudah lelah dengan kemampuan ekstra itu. Dia pun meminta bantuan pada pemilik toko misterius bernama Ichihara Yuuko yang menyanggupi permohonan Watanuki, dengan syarat Watanuki harus bekerja paruh waktu di toko tersebut sebagai bayaran untuk membantu menghilangkan 'penglihatan' istimewanya. Plus points: pretty arts, quirky style, much simpler plot―and less ambitious one―compared to Tsubasa Reservoir Chronicles. CLAMP berhasil melukiskan cerita mengenai dunia supranatural tanpa kesan horor berlebihan. And that is great.

6. Kindaichi Shounen no Jikenbo - Kanari Yozaburo & Sato Fumiya

Ciye. Saya mau snobbish sedikit, ya. Serial Kindaichi yang paling saya sukai adalah 27 volume awal, ketika belum ditambahi embel-embel "Returns" atau "R" atau "Special Case" di bagian belakang judul. Pokoknya masa-masa si Kindaichi-nya masih digambarkan gempal, bantet, dan tidak tampan. Sewaktu kasus demi kasus berdatangan satu per satu bagai episode Doraemon, lah. Hingga kemudian Yoichi Takato muncul di volume-volume akhir dan menggegerkan dunia persilatan, lalu melahirkan sekuel-sekuel serial yang berlanjut sampai sekarang, berkali-kali memuat cerita kucing-kucingan antara Yoichi dan Kindaichi yang tak kunjung bubar. But that aside, aspek yang menyebabkan saya tidak bisa melupakan Kindaichi Shounen no Jikenbo adalah penggambaran TKP pembunuhan, pengungkapan trik, serta bagaimana sebuah legenda-legenda setempat ditampilkan untuk jadi kambing hitam rencana kriminal. Kasus perdana yang meminjam kisah Phantom of the Opera saja sudah sukses bikin saya susah tidur bermalam-malam. Serem banget anjir.

5. H2 - Adachi Mitsuru

Perkenalan pertama saya dengan Adachi Mitsuru-sensei adalah lewat serial ini. Saya terus terang tidak terlalu menyukai genre sports manga―walaupun cukup banyak judul yang pernah dibaca―karena keluhan yang sama: kalau bukan jalan cerita yang terlalu diburu-buru kayak lagi dikejar rentenir, ya justru nggambleh dan terasa dipanjang-panjangin banget gara-gara popularitas tinggi. H2, secara mengejutkan, sungguh berhasil membuat saya (yang sama sekali tidak mengerti baseball ini) tenggelam dalam alurnya yang relatively slow-paced tetapi tidak lagging atau dragging. Kayak hidup aja, gitu. Panel-panel yang sepintas tampak sepele ternyata berperan dalam menjaga konsistensi nuansa dan pergerakan kisah. Belum lagi drama coming-of-age yang dialami tokoh-tokohnya. Aduh mak. Nggak kuat.

Cuma sayangnya, Adachi Mitsuru-sensei tampak kedodoran dalam membuat karakter dengan penampilan yang distinctive satu sama lain. Seumpama tokoh-tokoh buatannya dari berbagai serial dikumpulkan dalam selembar ilustrasi, saya sudah nggak akan bisa mengenali siapa yang mana. Mukanya sama semua, men.

4. SKET DANCE - Shinohara Kenta

I love this series to the moon and back. Anggap saja SKET DANCE adalah serial Gintama versi anak sekolahan (komikusnya, Shinohara Kenta-sensei, pun mengakui terinspirasi dari Gintama karena sebelumnya dia pernah bekerja sebagai asisten Sorachi Hideaki-sensei). Cerita berfokus pada klub volunteer/helper jack-of-all-trades yang digawangi oleh Fujisaki "Bossun" Yuusuke selaku ketua klub, Onizuka "Himeko" Hime (juga terkenal sebagai "Onihime" alias Putri Setan), dan wibu otaku berkacamata Usui "Switch" Kazuyoshi. Traits masing-masing karakter yang khas satu sama lain serta interaksinya benar-benar menyenangkan untuk diikuti. Saya juga sangat menyukai betapa serial ini tidak sekadar happy-go-lucky namun juga memberikan setiap tokoh panggung tersendiri untuk memiliki backstory yang diungkap pelan-pelan, serta perkembangan kepribadian yang tumbuh sepanjang 288 bab, 32 jilid buku.

SKET DANCE sudah diterbitkan di Indonesia oleh Elex Media Komputindo. Sekarang saya sedang dalam usaha mengumpulkan seluruh serinya. Rilisan terakhir masih volume belasan, belum jauh-jauh amat jika ingin mengejar ketinggalan. Wellthis is the least we can do to show support for the artists, isn't it?

3. Chrno Chrusade - Moriyama Daisuke

Whatever you say, Chrno Crusade is my forever love. This series, shounen as it be, was the first one to successfully rip my heart apart. I relate to the female protagonist, Rosette Christopher, to a spiritual level.  Meski ceritanya tamat hanya dalam delapan jilid, perjalanan Rosette yang membuat kontrak dengan iblis bernama Chrno untuk mencari dan menyelamatkan adik laki-lakinya, Joshua, yang diculik iblis lain meninggalkan kesan sangat kuat dalam diri saya. Ya ampun setiap kali inget Chrno Crusade tuh bawaannya baper terus kepengin baca ulang kemudian jadi lebih baper lagi setelah baca. Nggak tertolong, lah.

Agak sulit menerima kenyataan bahwa Chrno Crusade adalah komik debut Moriyama Daisuke-sensei. How he crafted the story, connected it into some particular historical events, how he built up the conflicts or inserted additional characters here and there... everything felt so good nothing was out of place. Even the ending felt perfect, even if it didn't exactly fit into 'happy' category. Kok bisa sih bikin cerita sesolid ini?? *jambak-jambak rambut sendiri*

2. Yakusoku no Neverland - Shirai Kaiu & Demizu Posuka

Ini dia. Satu lagi serial yang paling jago bikin saya galau menanti rilisan bab lanjutannya selain Akatsuki no Yona. Terbilang masih baru (bab satu dirilis pertengahan tahun 2016 di Shuukan Shounen JUMP), Yakusoku no Neverland langsung sukses menjadi sebuah serial yang sangat saya nantikan perkembangannya. Tidak hanya itu, sebisa mungkin saya berusaha mencetak downline―alias berupaya menghasut orang-orang yang belum mengenal komik ini agar ikut coba-coba membaca juga. Premis Yakusoku no Neverland sederhana (versi tanpa spoiler sama sekali): sekelompok anak-anak hidup bahagia di panti asuhan Grace Field House, hingga suatu hari dua orang anak tertua, Emma dan Norman, mengetahui bahwa sebenarnya tempat yang mereka tinggali bukanlah panti asuhan biasa dan berusaha menyusun rencana untuk kabur dari sana bersama seluruh 'adik-adik'nya.

Yakusoku no Neverland berhasil membuat saya sayang setengah mati dengan anak-anak yang hidup di panti asuhan Grace Field House. Rasanya hasrat untuk memeluk Emma, Norman, Ray, Phil, dan belasan bocah lainnya tuh kuat banget. Apalagi saya memang pada dasarnya bakat baperan sejak lahir jika menyangkut kisah fiksi.

2. Boku no Hero Academia - Horikoshi Kouhei

YES I KNOW I LISTED TWO TITLES AS RUNNER-UP OKAY? I thought I could be free from anything Naruto-esque, because to be honest I don't even like Naruto. BOY I WAS WRONG. I WAS NAIVE. Saya dan sejumlah kawan-kawan sepergaulan sepakat menyematkan sub-title 'Naruto, but upgraded' pada serial Boku no Hero Academia secara semena-mena. Untuk sebuah cerita mainstream bertema from zero to hero yang sudah amat sangat sering digunakan, Boku no Hero Academia menyempurnakan sudut-sudut kasar para serial pendahulunya, mengisi rongga-rongga kekosongan, dan memperbaiki banyak hal yang bikin kening saya berkerut protes. It's very well-planned and fleshed-out. So far, it doesn't blab too much. It doesn't rush. It doesn't drag. It doesn't give away unnecessary details or puke-triggering fanservices. Saya sudah demikian berapi-api ngomongin Boku no Hero Academia, padahal belum sepatah kata pun saya membahas seberapa intens rasa cinta diri ini terhadap sang protagonis, Midoriya Izuku.

YA ALLAH DEK, AKU TUH SUAYANGGG SAMA KAMU.

Saya berdoa agar perjalanan Midoriya menjadi pahlawan nomor wahid sekaligus Simbol Perdamaian generasi berikutnya dilancarkan. Sehat-sehat selalu ya, Dek. Rukun sama temen-temen. Jangan lupa makan yang bener, istirahat cukup. Baik-baik sama Uraraka Ochako―kalian berdua tuh gemes pol interaksinya, pembaca berasa nyaris diabetes spontan. Mudah-mudahan suatu saat nanti bisa kerja sama secara lebih sehat dengan Bakugou Katsuki, yang kemungkinan mati gara-gara hipertensi lebih tinggi dibanding kalah tanding lawan villain.

1. Hagane no Renkinjutsushi - Arakawa Hiromu.

Alias Full Metal Alchemist. You guys see this coming, I bet. This series has everything I need. And it comes with Colonel Roy Mustang and First Lieutenant Riza Hawkeye for the cherries on top. Pokoknya jika sudah menyangkut dua orang itu saya mah pasrah. OTP nomor wahid. But on a more serious topic, Hagane no Renkinjutsushi manages to wrap up complex topic and philosophical theme into something interesting that is easier to understand. It tells a lot about ambitions, consequences, trauma, atonement for past mistakes, and 'greater good'. Saya yakin sangat mudah bagi kalian untuk mengerti bahwa tokoh favorit saya dalam serial ini adalah Roy Mustang. Andaikan mas Mustang nyapres buat Indonesia, kemungkinan besar saya bakal langsung mengajukan diri untuk masuk di tim suksesnya. Apapun akan saya lakukan. Perjuanganku hanya untukmu, mz.

Bagi kalian sendiri, adakah judul-judul komik yang nggak terlupakan? Bisa dituliskan di kolom komentar supaya bisa saling berbagi. Lalu, jika ingin menengok episode #RecommendationOlympics sebelumnya yang membahas shoujo manga, silakan klik sebelah sini.

z. d. imama