Showing posts with label concert. Show all posts
Showing posts with label concert. Show all posts

Tuesday, 25 April 2023

ONE OK ROCK Luxury Disease Japan Tour 2023: the TOKYO DOME experience

Tuesday, April 25, 2023 2

Awal tahun 2018 lalu, saya berhasil menyaksikan konser ONE OK ROCK untuk yang pertama kalinya dalam hidup di Singapura. TKP tepatnya adalah Singapore Indoor Stadium. Segala gejolak jiwa dan segenap perasaan malam itu tidak lupa saya curahkan panjang lebar ke sebuah postingan blog, persisnya di sebelah sini. Sebagai seorang fangirl yang banyak halu, saya menuliskan, "...if anything, attending Ambitions Asia Tour Live in Singapore makes me wanna go all the way and see ONE OK ROCK concert in their home base: Japan."

Khayalan ini setinggi-tingginya, memang. 

Saat itu saya bahkan tidak berpikir panjang atau menyikapi secara serius tentang angan-angan yang kayaknya nggak napak tanah itu. Sebagai wibu veteran karena sudah menganut mazhab ini sejak belum akil balig (I'm not even ashamed with this fact, mind you), sedikit banyak saya sadar bahwa keinginan tersebut lebih mungkin untuk nggak pernah terkabul lantaran prosedur nonton konser musisi Jepang di Jepang sangat tidak ramah orang asing. Pembeliannya perlu pakai akun yang mencantumkan alamat lokal lah, sistem pembayarannya perlu lewat minimarket lah, ada kode khusus yang dikirimkan ke nomor ponsel area Jepang lah, entah apa lagi. Boleh dibilang, mendaki gunung lewati lembah a la Ninja Hattori masih jauh lebih gampang dibanding perjuangan nyari tiket pertunjukan musik Jepang. 

Waktu berjalan. Pandemi menyerang, konser dan tur dibatalkan, cita-cita terlupakan. Mestinya bulan Mei tahun 2020 silam, ONE OK ROCK menyambangi Jakarta untuk Eye of the Storm Asia Tour. Bahkan jadwal show nambah sehari saking sold out dalam sekejap dan masih banyak permintaan. Gara-gara wabah COVID-19, semuanya porak-poranda. Sempat lumayan kecewa karena nggak bisa ketemu mas-mas kesayangan di negeri sendiri, tapi setelah beberapa lama, ternyata saya nggak merasa sedih-sedih amat. Nggak terlalu merasa kehilangan. Tanya kenapa? Soalnya album Eye of the Storm jelek. Ini menurut saya, yhaaaa. 

Fast forward to 2023.


Beberapa bulan sebelumnya, di paruh akhir tahun 2022, ONE OK ROCK merilis album teranyar mereka berjudul Luxury Disease. Saya. Suka. Banget. Bener-bener no-skip album. Lagu Wonder yang sudah sempat saya anggep lumayan―setelah dihantam trauma panjang thanks to album Eye of the Storm―rupanya begitu ditaruh di antara lagu-lagu penghuni Luxury Disease lain jadi terasa B aja. Saya kembali ngayal halu. "Duh, kayaknya seru deh kalau bisa nonton konser tur album ini di Jepang. Kan Taka pasti nggak mungkin nyanyiin yang International Version, dia bakal bawain lirik yang versi original semuanya." 

Might be important to note: yes, I do not care about any of those International Version songs. Not at all.

Bagaikan diiringi lagu Moonlight Densetsu versi bahasa Indonesia yang merupakan pembuka serial animasi Sailor Moon di televisi lokal, "Tiiiiiba-tiba keajaaaaiban terjadiiii...," berkat satu dan lain hal yang terjadi secara beruntun, saya mendapati diri sendiri berada di sini:


Yep. That's right, baby.
You see things correctly; this is everything you need to see.

Homegirl is attending ONE OK ROCK Luxury Disease Japan Tour 2023 at Tokyo Dome, together with a crowd of more than 55,000 people. 


Ya Allah. Sampai sekarang pun rasanya masih kayak mimpi. Tiap malam sebelum tidur saya selalu menatap langit-langit, memutar ulang memori, dan meyakinkan diri bahwa pada hari Selasa, 4 April 2023, saya betul-betul menunaikan ibadah akbar yang jadi impian bertahun-tahun: nonton konser ONE OK ROCK di kandang mereka. Di Tokyo Dome. This absolutely feels like a miracle that I'm almost terrified, what if I've spent my whole good luck for this year, or even a lifetime, in one quick swoop for this to happen? 


I wouldn't even believe myself if I told my last-year-self I'm going to ONE OK ROCK concert in 2023. Kayaknya saya akan meneriaki diri sendiri, "Lo tuh sinting ya???" (Reality check: maybe I'm a little bit crazy in the decision-making department)

Ibu, lihat Ibu, anakmu berhasil nonton ONE OK ROCK di yaban!!

Tiket ONE OK ROCK Luxury Disease Japan Tour 2023 nggak tersedia versi cetak. 100% e-ticket. Nggak boleh cuma modal screenshot, pula. Harus benar-benar dibuka dari aplikasi khususnya dan diperlihatkan ke petugas yang mengecek tiket. Nantinya layar ponsel bakal dicocol (maafkan keterbatasan kosakata saya) pakai semacam stempel elektronik, dan keluar notifikasi bahwa tiket yang kita pegang sudah ditebus.

Motret layar ponsel demi pamer tiket.

Berdasarkan jadwal yang tertera, pertunjukan akan dimulai pukul 18:00 JST. Open gate, alias waktu di mana penonton mulai boleh dipersilakan masuk ke dalam ruangan, dijadwalkan pukul 16:00. Berhubung saya katro dan takut nyasar di venue segede gaban macam Tokyo Dome, gagal menemukan posisi bangku sendiri lalu berujung nyusahin atau ganggu penonton lain, saya mulai mencari-cari pintu akses yang mestinya dimasuki, yaitu Pintu 41. Jam di ponsel saat itu masih menunjukkan angka 16:15. Sebagian besar jamaah konser masih berkeliaran di luar. Ada yang antri beli merchandise, ada yang antri beli makanan (dan menghabiskan belanjaan makanannya), ada yang di toilet buat ganti baju atau buang setoran. 

Pemandangan di pintu masuk gedung sekitar jam 16:20. Super selow dan antiruwet. No rusuh rusuh club.

Sekali masuk dome, penonton udah nggak bisa balik ke area luar sampai pertunjukan selesai. This is the point of no return. Tapi kalau perut mendadak keroncongan lagi, atau tenggorokan haus, atau mengalami panggilan alam, penonton bisa jajan atau ke toilet yang tersedia di dalam Tokyo Dome. Bahkan bisa beli bir dan minuman beralkohol lain loh (kalau mau). Kurang asyik apa coba, headbang mengiringi suara nyanyian Taka sambil tipsy tipis-tipis?

Mendekati pukul enam sore, arus penonton yang masuk ke venue makin deras. Perut saya makin mules. Tegang, gaes. Untuk menenangkan diri, saya mengalihkan perhatian dengan mengamati lalu-lalang penonton... dan berakhir benar-benar terdistraksi karena ANJIR CAKEP-CAKEP BENER DAH ORANG-ORANG. Asli. Mas, mbak, om dan tante (malah saya sempat melihat beberapa kakek dan nenek) yang hadir di sana untuk menyaksikan ONE OK ROCK benar-benar tampak seperti 100% functional human being, nggak kayak sebagian besar kerumunan yang saya lihat ketika berada di acara-acara sebuah fandom lain yang tidak akan saya sebut namanya demi keselamatan diri (safety first, my friend). Mas-mas yang duduk di sebelah saya juga ganteng banget banget bangettt. Saya setengah mati berusaha nggak sering-sering menoleh ke arah dia karena itu adalah tindakan yang super duper creepy dan saya belum ingin mendemosikan diri menjadi orang creepy.

Jam 18:00 pun tiba. 
Lampu padam, penonton tak lagi diam.

Nyomot dari Instagram ONE OK ROCK. Penonton nggak boleh foto-foto acaranya.

Intro mengalun. Penonton heboh. Jantung saya serasa akan menjebol permukaan dada saking deg-degannya. Mata saya (dan sekian puluh ribu manusia lainnya) mulai mencari-cari sosok anggota ONE OK ROCK di panggung. Tomoya muncul di belakang drum set seperti biasa. Penonton bersorak-sorai. Kami makin jelalatan berusaha menemukan Ryota atau Toru. Tiba-tiba lampu sorot membelah kegelapan di depan mata saya, dan ternyata Ryota dan Toru nongol di tengah-tengah penonton, berdiri di jalan sempit yang jadi area lalu-lintas penonton sekaligus pemisah satu zona dengan yang lainnya. Jeritan dan tepuk tangan meledak di mana-mana, mengiringi sepanjang Ryota dan Toru berjalan ke arah panggung dan mengambil tempat mereka masing-masing di sisi kiri dan kanan.

Sekarang tinggal vokalisnya. 

Penonton makin nggak sabar. Ritme tepuk tangan makin cepat, suara-suara memanggil "Takaaaa!!!" makin terdengar di sana-sini. Layar besar di atas panggung mulai tersinkronisasi dengan kamera yang menyorot berbagai tempat, seakan-akan ikut dalam permainan Where's Taka. Pencarian berakhir tatkala fokus kamera tertuju pada suatu titik di klaster penonton, merekam salah seorang dari mereka yang mendadak membuka jaket hitam dan muncullah Taka. The crowd went WILD. Broooooo. Apa kabar penonton jelata yang posisinya di sekitar dia?? Gimana rasanya dijejerin Taka?? Masih sehat?? Belum hilang akal??

Komentar perdana saya: "Bang, kagak takut gerah apa pake lengan panjang...?"

...and the show begins.


M01. Wonder (Japanese version)

Konser dibuka dengan lagu paling B Aja di seantero album Luxury Disease, but the song does its job well in getting the audiences going. Pas bagian chorus penonton ikut nyanyi rame-rame. "Don't you ever WONDER? If you only had ONE BREATH! Tell me, would your ONE LOVE, pull you out of the DEEP END?"

M02. Save Yourself (Japanese version)

Well, duh. Tentu saja yang dinyanyikan tetap versi bahasa Jepang. Isn't it the whole point of watching them at home? Saya hampir nangis saking bahagia banget di titik ini, karena mungkin mendengarkan Save Yourself dinyanyikan dalam bahasa Jepang akan menjadi sebuah kemewahan yang tidak saya dapatkan jika kelak ONE OK ROCK melakukan Asia Tour dan mungkin mampir ke Jakarta.

M03. アンサイズニア (Answer is Near) 

Okay, this one is unexpected. Gegap gempita seisi Tokyo Dome tidak main-main ketika intro dimainkan. Clearly, this track is fan favorite, meskipun nggak heran juga. Adalah sebuah fakta yang perlu diakui bahwa dalam album 残響リファレンス (Zankyo Reference) (2011) memang nggak ada lagu jelek. Yeah, the answer is inside of me.

M04. Let Me Let You Go (Japanese version)

I'm gonna admit something: this song BANGS hard. Tadinya ketika mendengarkan album Luxury Disease, saya lebih menyukai Vandalize dibandingkan Let Me Let You Go. Tapi begitu lagu ini dibawain di konser... ALLAHU AKBAR, SERU SEKALI, PEMIRSA!!! Berbondong-bondong menyanyikan bagian chorus dan mengalunkan "Go, oh, go, why'd you let me let you goooo??" adalah sebuah nikmat duniawi yang tidak akan saya dustakan sampai kapan pun.

Para jamaah yang berbahagia

M05. Clock Strikes

Album 人生x僕= (Jinsei Kakete Boku wa) (2013) tempat lagu Clock Strikes bernaung, menurut penilaian pribadi saya, juga termasuk salah satu rekaman tanpa cela dari ONE OK ROCK. Histeria ketika Taka mengacungkan jari tangannya lurus ke atas meniru jarum jam di awal lagu benar-benar nggak terbendung. Saya juga jerit dari ujung tenggorokan saking dahulu, tatkala nonton Ambitions Asia Tour 2018 di Singapura, entah kenapa Taka nggak melakukan gerakan ikonik itu. Jadi baru kali ini pengalaman saya sebagai fangirl terbilang kaffah. Kalau boleh saya bilang sih Clock Strikes tuh lagu pamer. This is that track where Taka gets his moment to fully become a show-off, menunjukkan kapasitas vokalnya dengan tarikan panjang "Believe that time is always foreveeeer woooooo ooooh aaaaaaaaah!"

M06. カゲロウ (Kagerou)

Bingung, nggak? Saya sih bingung, TAPI SENENG. BANGET. Sama sekali nggak menduga lagu Kagerou dari album lawas ゼイタクビョウ (Zeitakubyou) (2007) bakal nongol di konser ini. Para fans juga menyambut meriah saat Kagerou dimainkan. Banyak mas-mas yang lonjak-lonjaknya jauh lebih semangat berkali-kali lipat di lagu ini, apalagi mungkin udah lumayan panas karena lagu-lagu sebelumnya.

M07. Mad World (Japanese version)

Lagu ini juga favorit!! Sebagaimana diderita sejumlah lagu-lagu ONE OK ROCK yang tersedia dalam dua versi lainnya, lirik Mad World versi bahasa Jepang dan International Version BEDA JAUH, dan menurut saya lebih lucu, lebih riil, sekaligus lebih merakyat versi bahasa Jepang. It's a total shame that the International Version lost the funny edge the Japanese version has. Sehingga, tentu saja saya sepenuhnya menikmati pengalaman jejingkrakan bersama Taka dan menyerukan "Anna jibun ga ima, iya hora kou natta yo ima!!" dari lubuk jiwa terdalam.

M08. Vandalize (Japanese version)

SOUND THE ALARM!!! Akhirnya dimainin juga dia. Keterlibatan psikologis saya dengan lagu ini kayaknya udah nggak sehat. I don't know about you but the part of the lyrics that go, "Breaking bottles on the pavement just to watch it crash" does something to me that I cannot explain. Maybe it vandalizes my heart.

Orang ini juga tukang vandal perasaan.

M09. So Far Gone

We're going slower. Saatnya menurunkan tensi dengan memasuki lagu-lagu yang lebih tenang dan tidak lompat-lompat heboh. So Far Gone termasuk satu dari sedikit lagu dalam album Luxury Disease yang nggak dibuat dua versi, alias full English untuk rilisan Jepang maupun internasional. This is a good ballad if you ask me.

(MC) I Want You Back (The Jackson 5)

Usai menggeber So Far Gone, ada sesi MC pendek. One thing leads to another dan Toru, Ryota, dan Tomoya tiba-tiba memainkan intro I Want You Back dari The Jackson 5. Katanya Taka sambil ketawa-ketawa, ini lagu yang sering mereka mainkan pas sesi rehearsal. Glad to know my beloved band is a group of cultured men.

(MC) 努努 (Yume Yume)

Saya MENJERIT. Sejujurnya ini masih masuk dalam sesi MC, alias momen tarik napas, minum, dan ngobrol-ngobrol hore. Taka mengode Toru untuk "Main lagu itu yuk?" sembari cengar-cengir cengengesan, dan sebagai bapak rekan satu band yang baik, Toru pun mengiyakan. Surreal banget denger Yume Yume secara langsung, denger Toru nge-rap di depan mata, mengingat ini tuh lagu jaman jebooooot. Yume Yume hanya dimainkan hingga chorus pertama, dan begitu kelar, Toru seketika curhat, "Sumpah otot lidah gue udah belibet banget sekarang, saking gak pernah nge-rap lagi." Ya makanya sering-sering dilatih dong, Bang~

M10. Heartache (Japanese version)

MC berakhir, namun sesi lagu slow masih berlanjut. Sudah saatnya kita semua mendapatkan lagu yang termasuk dalam ONE OK ROCK Starter Pack. I'm dead serious. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa lagu Heartache, bersama dengan Wherever You Are dan The Beginning adalah trifecta yang berhasil membuat banyak orang ngeh akan keberadaan ONE OK ROCK, kejeblos dalam fandom ONE OK ROCK, atau ya.. menjadi alasan orang bilang "Gue suka ONE OK ROCK juga kok" ketika cuma pernah dengerin tiga sampai lima lagu. Sooo this is heaaaartaaaacheeee...

M11. Gravity

Mantaaaaap. Sebagai track yang hanya ada di album Luxury Disease versi rilisan Jepang, Gravity termasuk lagu yang saya nanti-nantikan untuk dibawakan. Meskipun nggak ada vokal Fujihara Satoshi (Offical Hige Dandism) sebagaimana versi albumnya, tidak masalah. Ini momen transisi yang bagus banget untuk mengakhiri pojok sendu dan menuju momen lonjak-lonjak lagi. My feet won't touch the ground! Your gravity will not keep me down! I'm not falling for it, no~

Instrumental break

Taka minum. Ryota, Tomoya, dan Toru menguasai panggung. Pengin banget banget banget nonton rehat gonjrang-ganjreng ini di versi rekaman supaya bisa lebih puas memelototi Yamashita Toru dengan kibasan gondrongnya yang bikin gatel nyuruh potong rambut itu. Pada titik ini semua orang sudah kemringet. Taka kemringet. Toru kemringet. Ryota kemringet. Tomoya kemringet. Saya kemringet. Mas-mas ganteng yang berdiri di sebelah saya juga sudah panas kemringet, sesekali meneriakkan "TAKAAAAA!!" dengan gelegar suara membahana.


M12. Neon

Make your daddy ashamed, Tokyo to LA! 
SING IT! Na na na na... 

Contrary to popular opinions―only if Western music reviewers count as 'popular' opinions to you―I truly like Neon. Seru aja gitu. Berasa ONE OK ROCK nge-cover lagu Panic! At the Disco meskipun lagu ini emang dibikinin, bukan nyanyiin ulang. This is the kind of song I'm dancing to when I'm drunk.

M13. Deeper Deeper

Taka berdehem dua kali. Lalu, "PrrrrrrRAAAAAAAAAHHH!!!" dan seisi Tokyo Dome pecah. Here we are going loudeeeeer! Again!! Kayaknya sampai kapan pun Deeper Deeper akan tetap jadi favorit khalayak masyarakat. Mau berapa kali pun dimainkan, lagu ini bakal memancing hasrat lonjak-lonjak a la kelinci baterai Duracell. We never, we never, we will not stop right here!

M14. Renegades (Japanese version)

This is where the red ocean appears. Kalau sebelum-sebelumnya lautan merah muncul di lagu Mighty Long Fall, kali ini ia mengisi setiap sudut Tokyo Dome ketika Renegades dilantunkan. Nggak ada mosh pit karena konser kali ini all-seated, but it felt amazing all the same. Layar besar di atas panggung menampilkan gerbang raksasa yang pelan-pelan membuka, mirip adegan dalam video klip. Orang-orang yang kenal ONE OK ROCK dari adaptasi film Rurouni Kenshin lumayan hepi nih, sejauh ini sudah ada dua lagu soundtrack-nya yang dimainin.

M15. Your Tears Are Mine

Satu lagi dari Mayora lagu yang baik versi Internasional maupun Jepang sama-sama 100% berbahasa Inggris. I swear upon everything on this planet, this is definitely a show-off song. Lagu pamer skill. Vokalnya Taka indaaaaaaaah banget di sini. Jauh lebih bening dibanding muka cici-cici idola K-pop yang suka nampang jadi duta merek produk perawatan kulit lokal yang jelas-jelas nggak mereka pakai. Sebelum menyanyikan Your Tears Are Mine, Taka sempat ngasih wejangan berbunyi kurang lebih, "Coba bikin orang lain bahagia, mungkin dengan begitu kita bisa menemukan kebahagiaan untuk diri kita juga." I'm not at all ashamed to admit that I cried when he sang, "You're beautiful even when you feel broken." 

Open up that tearductssss!!!

M16. The Beginning 

It's official. Memang yang menang banyak adalah orang-orang yang kenal ONE OK ROCK berkat adaptasi film Rurouni Kenshin. Lagunya nongol tiga nih! Jamaah ONE OK ROCK Starter Pack bergembira ria. Namun memang harus diakui bahwa The Beginning adalah lagu bagus yang sanggup memicu reaksi bagus dari penonton, nggak peduli berapa tahun sudah terlewati sejak ia dirilis. Say another word I can't hear youuuu...

M17. キミシダイ列車

Ya Allah. Ketika intro mengalun, rahang saya jatuh hingga ke lantai. Mangap lebar banget. Sebelumnya saya sudah bilang kan, lagu-lagu dalam album 残響リファレンス (Zankyo Reference) (2011) nggak ada yang jelek. None. Cuma gimana ya, terus terang sama sekali nggak menyangka bakal muncul dua lagu dari album itu yang masuk ke setlist konser Luxury Disease kali ini. Are you ready now? We are ready now for tonight!! (Udah siap dari tadi, Bang!!!)


M18. the same as...

When this song came, somehow I could sense that we were in the beginning of the end. Tensi the same as... lebih turun dibandingkan lagu-lagu sebelumnya, dan mengingat tenggorokan saya juga sudah lumayan serak, sepertinya tidak aneh jika kami semua telah mendekati penghujung pertunjukan. Pada titik ini saya mules bukan main, nggak ikhlas konsernya selesai, belum mau pulang dan mengakhiri malam ajaib ini (for ME, it is a miracle), cuma kok ya nggak punya kekuatan menghentikan waktu atau memutarbalikkan...

M19. We Are (Japanese version)

The crowd was freaking amazing here. Bener-bener kayak paduan suara. Barangkali karena bagi sebagian jamaah konser, We Are adalah lagu tema 18際 (18sai—18 Fes) perdana yang digelar oleh NHK tahun 2016 silam, dan melibatkan 1000 orang remaja berusia 18 tahun. Maybe they do have personal attachment with the song, because everyone sang their parts like their life depends on it

M20. Wasted Nights (Japanese version)

I'm so sorry for not giving enough fuck about anything that's from Eye of the Storm album, but Wasted Nights is one of the better tracks. Cukup bersyukur bisa dengerin Taka nyanyi Wasted Nights secara langsung karena lumayan meredakan kebencian ketidaksukaan pribadi terhadap album tempat lagu ini bernaung. He dragged that last "I don't wanna wait, no more waaaaaaaaaaaaaaaaaaasted niiiiiiiiiiiiiiiiiggghts" until forever. Gila emang tarikan napasnya. Numero uno.

DONE
Kelar. Bubar. 

Tenang, masih ada encore. Tapi tetap saja, untuk sementara waktu, Taka, Ryota, Tomoya, dan Toru balik ke backstage untuk melakukan apa pun yang ingin mereka lakukan. Mungkin ngulet. Mungkin juga minum. Atau nyomot entah cemilan apa yang tersedia di belakang panggung. Sekaligus ganti baju, mengingat apa pun yang mereka pakai udah basah kuyup. Keguyur keringet sendiri. And the crowd started to light up the dome with their phone torch to call for encore. Merinding banget. Sekian puluh ribu orang nyalain senter ponsel bareng-bareng, mengayunkan tangan di udara. Sungguh ukhuwah konseriyah.

M21. When They Turn The Lights On (Encore)

Menangiiiisssss. This song is beyond heavenly. Apalagi saat dicocoklogi dengan bagaimana kami semua menyalakan senter ponsel... oh yeah so we turn the lights on. Apalagi lagunya kan diawali vokal tanpa iringan musik sama sekali ya, jadi dari keheningan tiba-tiba menyeruak suara Taka, "I been climbing since I was young..." Duh Gusti, memang terlalu indah. Hamba nggak kuat.

M22. Stand Out Fit In (Japanese version) (Encore)

Lagu ini jauh, jauh, jauuuh lebih oke dinyanyikan live daripada rekaman studionya. Abso-freaking-lutelyAnd I genuinely think that this song is a good encore piece. Kayak memang ditakdirkan untuk dinyanyikan ketika mau menyudahi sesuatu. Maybe I started to warm up to this song, maybe not, but I can honestly say that singing along to Stand Out Fit In in Tokyo Dome was not a bad experience.


No 完全感覚Dreamer (Kanzen Kankaku Dreamer), yang belakangan saya ketahui ternyata dibawakan sebagai encore untuk pertunjukan Tokyo Dome hari berikutnya. No Prove and no Broken Heart of Gold, despite Prove being my ultimate favorite track from the Luxury Disease album and the grandest one, arrangement-wise. But of course it doesn't matter. What matters is that tonight is a magical night. Tonight is a night that is nearly impossible to happen to me but it happens nonetheless. Saya bahkan nggak merasa iri sedikit pun kepada orang-orang beruntung yang berhasil nangkep lemparan pick gitar dan bas, stik drum, bahkan kaos(!!!) dari Taka, Ryota, Toru, dan Tomoya di salam penutup konser. Me attending this concert spends a huge amount of luck already.

I might be stating the obvious, namun sebagaimana yang saya alami ketika menghadiri Man with a Mission Chasing the Horizon Tour Final: ONE MAN 2018 di Koushien Stadium, sepanjang tiga jam durasi konser, sama sekali nggak ada manusia di sekitar yang angkat-angkat ponsel dan rekam-rekam. Damai banget, kawan. Indahnya kebersamaan. Saya yang pendek ini nggak terhalang sedikit pun untuk menikmati pemandangan seisi Tokyo Dome dari ujung kanan hingga ujung kiri. Kapan ya bisa ngalamin yang begini lagi...


See you again, ONE OK ROCK.

Hopefully this won't be the last miraculous thing I am able to pull, because my life is a series of YOLO decisions that I will never ever regret. Semoga album kalian yang berikutnya akan jauh lebih bagus. Semoga suatu hari nanti akan tiba momen di mana saya bisa mendengarkan Prove dinyanyikan langsung oleh Taka (kalau boleh rikues sih yang Japanese version aja karena saya purist snob).

z. d. imama


*P.S.: Foto-foto manggung yang bertebaran di tulisan ini diambil dari akun Instagram ONE OK ROCK, Taka, Toru, Ryota, dan Tomoya, berhubung sepanjang konser penonton dilarang jeprat-jepret dalam bentuk apa pun.

*P.P.S.: Khusus pertunjukan hari berikutnya (Rabu, 5 April 2023), ada momen-momen ketika encore di mana Taka ngasih izin penonton untuk rekam-rekam, hence some videos you might find going around the internet.

Wednesday, 12 August 2020

All I know is that my love for you is real, Travis "We're 42,8% Kaito" Japan.

Wednesday, August 12, 2020 2

If you're not familiar with Johnny&Associates, then maybe this post is just not for you. But if you insist to read a truckload of intense feelings for people you've probably never heard of, and a bunch of song titles most of which will not be able to find in Spotify or other digital services, seeping through my fingers and spilling on this page, then go ahead

So, this story begins with an awful pandemic.

Berkat sepak terjang COVID-19 yang rasanya udah kayak serbuan alien yang sulit dilihat mata seperti kisah Animorphs, konser-konser yang biasanya dilakukan 'manual' jadi banyak berubah haluan ke live streaming. Termasuk acara konser dari talent-talent dan grup dalam kantor agensi Johnny&Associates, yang juga merupakan tempat Arashi bernaung. Mengingat saya sudah pernah beberapa kali menyebut Arashi di sini, termasuk pada saat membeberkan sejumlah musisi dan artis yang diskografinya secara rutin saya simak, mungkin sekarang arah tulisan ini mulai jelas.

Now, enter... TRAVIS JAPAN.


I'll be quick in introduction. 

Travis Japan's main weapon is their dancing versatility. This is one group with practically 'the highest demand' for back-dancing their senior groups in concerts and live tours because when you have them, then you are guaranteed quality. They are currently an undebuted group, albeit 8 years has passed since their formation (so if anyone ever say to me that becoming an idol in Japan is easier than in the neighboring country, I think I'll punch them in the face with my bare hands). The group now—and I'd like to think about this as a permanent thing instead of temporary—has seven members: Miyachika Kaito, Nakamura Kaito, Shimekake Ryuya, Yoshizawa Shizuya, Kawashima Noel, Matsukura Kaito, and Matsuda Genta. Note how three of them are named Kaito. THREE. Out of seven. So yeah, I guess that should explain my blog post title.

Anyway

SUMMER PARADISE, pekan konser tahunan yang menampilkan talent-talent J&A yang memang diadakan di masa liburan musim panas, untuk kali ini harus ikut berpindah medium ke live streaming. All thanks to the unrelenting COVID-19. Konser akan ditayangkan live dari venue yang hanya diisi performer dan staf produksi seperlunya. Namun perubahan ini sekaligus berarti bahwa saya, manusia jelata penghuni negara dunia ketiga yang duitnya tidak seberapa, jadi bisa ikutan nonton dari layar laptop di kamar kosan karena tidak harus repot-repot mengejar nun jauh ke Jepang sana. 

SUMMER PARADISE ROAD TO HALAL 2020, HERE I COME.


Tampilan layar menunggu dimulainya live stream.

Tahun ini, masing-masing anggota Travis Japan mendapat kesempatan solo performance alih-alih grup, dijadwalkan mulai dari tanggal 1 Agustus hingga 10 Agustus 2020 lalu. Jujur saja sebagai penggemar, saya agak cemas-cemas gugup. Travis Japan gains confidence the most when they're flocking together and some are rather shy by themselves. Will this be OK? Like, really? Namun di sisi lain, peluang ini mungkin bisa 'memaksa' mereka untuk jadi lebih pede dan mandiri. Sekaligus cek ombak kalangan pendukung dan penggemar: kalau dipencar model gini masing-masing member sanggup bawa duit berapa? J&A memang paling jago kalau udah perkara mengeruk uang dengan dalih cinta.

That being said, I ended up letting them take my money.
No regrets here.

Konser SUMMER PARADISE Travis Japan dibuka dengan penampilan Kawashima Noel, member tertua sekaligus satu-satunya orang yang paling tidak saya khawatirkan. Noel ini... serba bisa. Pinter, baik hati, jago nyanyi, bisa akrobatik, loyal, dermawan, nggak gampang marah, bisa diajak bercandaan bego-begoan, dan sejauh ini kelihatannya sih tidak menilai orang dari sekadar penampilan luar. Salah satu kandidat kuat Asia's Next Top Kesempurnaan, lah. Performa Noel sang top batter alias pemecah telor banyak menuai pujian penonton di media sosial. Ekspektasi langsung tinggi untuk sisa jadwal SUMMER PARADISE tahun ini.


Kawashima Noel, yang hampir selalu kejatah giliran pertama untuk banyak hal.

Saya mulai mules karena hari berikutnya, Nakamura Kaito, tampil sendirian. Ketika anggota Travis Japan lain ditemani sejumlah adik-adik sesama Johnny's Junior—semacam istilah untuk 'trainee', atau talent yang belum debut—sebagai backdancer, Nakamura Kaito diumumkan akan benar-benar tampil sendokiran. Pikiran saya sudah cemas nggak karuan. Apa ntar nggak bakal kelihatan kosong dan sepi banget nih panggung? Kaito, kamu bukan mau stand-up comedy. Kamu mau konser. Seriusan nggak mau ngajakin... yah, siapa kek...? Buat dijadiin penggembira?

Eh, ternyata dia nongol-nongol kayak gini:



Pusing seketika.


Kaito muncul di backstage yang diatur menyerupai kamar dan sorotan kamera tanpa henti mengikuti dia bergerak naik ke panggung. Mantap, Bang. Jagoooooooo. Ide menggunakan kamera jarak dekat benar-benar brilian, sih. Panggung nggak kelihatan kosong karena satu layar literally penuh terisi dia semua. Pun jadi terasa... uh, intens. Jantung sudah anjlok sampai ke dengkul bahkan sejak tiga menit pertama.

But nothing, I mean, NO-FUCKING-THING, prepared me for THIS:


NAKAMURA KAITO YOU THIRST TRAP.

ASTAGHFIRULLAH... MAS, KAMU HARUSNYA NARUH RATING "R" ATAU MINIMAL "PARENTAL ADVISORY" BUAT KONSER INI... ISN'T THIS WHAT THEY CALL AS EXPLICIT CONTENT??? Mentang-mentang orang Jepang kemampuan rata-rata bahasa Inggrisnya B aja terus kamu kayak gini? Di pertunjukan yang kemungkinan besar juga ditonton anak-anak di bawah umur? Tunggu dulu, Bos—kamu ngerti nggak sih apa yang kamu nyanyiin? Ngerti, kan? Ini tuh SENGAJA, ya?

*Menenggak segalon air untuk mendinginkan suhu tubuh yang mendadak panas.*
*Menarik napas dalam-dalam.*

Well. In hindsight, this is the very same guy who picked Johnny's WEST's "YSSB"—out of all songs he could pickfor his own production corner in Travis Japan's concert last year. Masuk akal sih kalau tahun ini Kaito memutuskan untuk mengakselerasi level kehausan yang diakomodasi dalam pertunjukannya. Barangkali label 'seksi' untuk member Travis Japan secara resmi disematkan ke Matsuda Genta, tapi udahlah mari kita semua sepakat mengakui bahwa penyumbang faktor dahaga terbesar memang terletak di Nakamura Kaito. (Please don't make me say anything about that moment when the camera closed in on his crotch grinding and my brain short-circuited pathetically.)

On a more sane and sober topic, I do think Nakamura Kaito did things excellently well despite performing alone. And oh gosh, I love how he put attention to the lighting as they help set the mood. So, so many beautiful moments I ended up doing screenshoot frenzy. Dominasi shot-shot jarak dekat berhasil menimbulkan intimasi khusus sekaligus membantu mengaburkan fakta bahwa tidak ada orang lain yang berada di atas panggung selain dia. Saat pada akhirnya muncul long shot, efeknya jadi lebih impactful dan nggak terasa melompong karena ada nuansa tersendiri yang ditampilkan. Misalnya begini:



This man has Aesthetic with a capital A, bold letters and he knows it too well.


AND DID I SAY "THIRST TRAP" BEFORE??? 
I DID YEAH???



Sepertinya habis ngonser perlu solat tobat.

But at the end of the day bitches be like crying and bawling in front of a laptop screen over Nakamura Kaito's weird-ass hand-drawn short story telling you about Travis Japan's longtime blood-sweat-and-tears journey on a huge background screen. I am bitches.


Begitu live streaming konser Nakamura Kaito selesai, rasanya kayak mau pingsan aja. Emosi dan libido terlalu banyak dipermainkan. Capek. Padahal cuma mantengin laptop. Nggak masuk akal, emang. Tapi nyata. Bahkan saya menumpahkan perasaan di tulisan ini sesudah ketujuh member Travis Japan selesai manggungyang mana artinya sudah beberapa hari berlalu sejak penampilan Nakamura Kaito, namun gejolak emosional itu kembali menghempas. 

Sujud syukur alhamdulillah ya Rabb, yang tampil setelah Nakamura Kaito tidak lain dan tidak bukan adalah: Matsuda Genta. Anggota termuda sekaligus yang paling... selow. Terima kasih, Genta, telah mengembalikan kewarasan dan kestabilan psikologis karena konsermu yang mood-nya bener-bener mengundang penonton untuk lesehan dan leyeh-leyeh bersama. Betapa Genta masa bodoh dengan imej Travis Japan yang dance-heavy dan justru memutuskan tidak pakai koreografi kompleks di sebagian besar durasi dan memperbanyak goyang-goyang hore ala kadarnya terasa menghibur dan menggelikan. Seolah-olah ini merupakan kesempatan emasnya untuk... 'cuti'.

Setlist Genta yang pada dasarnya cuma terdiri dari lagu-lagu Shonentai, KinKi Kids, Arashi, dan Hey! Say! JUMP juga bikin senyum-senyum cekikikan. Ada sekian banyak grup dan artis senior di J&A dan dia hanya melibatkan empat nama. It's as if he went, "Nah screw it, I'll only perform songs of my most favorite people and what I like to sing in my bathroom at home" and that's that. Khas Genta banget. It doesn't feel as dramatic or emotionally-draining as Nakamura Kaito's show, but Genta's solo concert is a peaceful night after a violent storm and I appreciate it VERY MUCHGenta's warm vocal really offers soothing sensation.

One of my favorite scenes.
 
The camera work, though... it's rather unflattering. Ada banyak momen di mana mestinya gambar yang ditampilkan bisa lebih atraktif dengan cara berbeda, atau dari sudut berlainan. Bulan purnama di gambar sebelumnya juga nggak tampak bulat sempurna kan? Semacam membatin, "Coba kameranya digeser dikitttttttttt lagiiiii... plis plis PUHLEASE". And during "PINK" (originally performed by Hey! Say! JUMP's Yaotome Hikaru) the camera moves around a little too much it's rather hard to watch, and at times it doesn't show the right angle. Sepanjang lagu dibawakan, shot yang nendang pas dilihat rasanya hanya di chorus terakhir. Rada kocak lihat huruf PINK segitu gede tapi background-nya pakai warna biru, member color Genta.


Mendekati penghujung pertunjukan, Genta muncul dalam kostum yang menurut pandangan mata saya, mirip baju santri mau berangkat ke langgar, ikut ngaji. Mana dia lepas sepatu dan memilih nyeker, pula. Saya harus menahan diri supaya nggak buru-buru login situs Archive of Our Own dan berakhir bikin fanfic Genta jadi mualaf.


Belajar mengaji bersama Matsuda Genta.

So, Genta's turn is wrapped up
Giliran berikutnya adalah the Pretty Boy of the Group, Shimekake Ryuya

Saya sampai sekarang kadang-kadang masih suka lupa kalau Travis Japan isinya cowok-cowok semua, saking Shime punya pembawaan relatif kalem dan nggak terlalu banyak heboh ngomong, lengkap dengan penampilan yang lumayan... um, effortlessly androgynous. Imej 'manis', 'menggemaskan', dan 'imut' sangat melekat erat dengan Shime, yang padahal kalau ditatap cukup dekat, jakunnya kelihatan jelas banget (tolong jangan bertanya kenapa mata saya jelalatan mantengin jakun orang; each to their own personal kink). Konser tunggal Shime juga dibuka dengan (adegan) yang manis-manis. Anggaplah buka puasa bagi para penggemar.


Namun terus terang, dibandingkan Cute Shimekake, saya lebih nggak kuat kalau ketemu Serious Shimekake, yang mana pada pokoknya hanya Shime pasang wajah serius dan aura galak, sangar, nan jutek. Widih auto panas-dingin. Meriang dalam sekejap mata. Dibandingkan berhadapan dengan Shimekake Ryuya sewaktu sedang kalem-kalem cantik:


Lebih memilih Shimekake Ryuya yang sedingin freezer kulkas:



Benar, mas Ryuya. Barangkali saya terlanjur kehilangan kewarasan. Sanity 404 not found, gitu deh. Tapi coba saya tanya deh: ini semua GARA-GARA SIAPA? Hmmm? Nggak sadar diri?  Sama sekali? Harus banget dijelasin satu-satu?

For real, though. Shime looks damn good in that deep red shirt. 


Especially when surrounded with scattered feathers.


*Me glancing nervously at the clock.*
*Clock showing 2:29 AM and I'm still here writing a long-as-fuck blog post about fangirling.*

Yep. It's too late can't stop myself. Tooooootally relatable.

Melalui tulisan ini saya hendak menghaturkan terima kasih kepada mas Shimekake Ryuya, sebab berkat keputusannya memasukkan lagu NEWS ke dalam setlist solo show, akhirnya saya bisa kembali mendengarkan diskografi grup tersebut tanpa dirundung perasaan pait sepet bagai brotowali. "BLACKHOLE" is a banger and somehow it suits him. Sekarang tiap bersenandung "Like a blackhooooole~" refleks sambil chest rolls.

*P.S.: that leg moves in the choreography is BOMB. Love, love, LOVE that moves.

Kejutan lain dari Shime adalah, dia ternyata punya satu lagu yang koreografinya dibuat bareng-bareng Yoshizawa Shizuya, yang mendapat giliran tampil persis keesokan harinya. Ibarat novel Twilight lah, ada yang diceritakan dari perspektif Bella Swan, lalu ada juga yang berdasarkan sudut pandang Edward Cullen. Lagu ini kebetulan konsepnya mirip-mirip itu. Shime dan Shizuya sepertinya secara sadar dan aktif berniat mengabadikan kapal mereka berdua, deh. Ya gapapa kok. Boleh. Tetaplah berlayar, kapalku tersayang. Aku percaya walau badai menghadang, kapal ini tidak akan karam.


KURANG EMO APA COBA? INI APA SIH? CINTA YANG TAK BISA BERSATU?

Jadi setelah diyakinkan oleh penampilan Noel, dibikin jungkir-balik all thanks to Nakamura Kaito, didamaikan kembali oleh Genta, dan terpesona sama Shime, berikutnya saya dibuat terkaget-kaget menyaksikan konser tunggal Yoshizawa Shizuya. PARAAHHH NGGAK ADA OBAT. Keren. Mentok. HOLY SHITTTTTT, MAAAAN. Duh, gimana ya ngomongnya?? 

How to explain this intense feelings of "being blown away"???

Rapi maksimalll. Super duper well-done. Well-balanced. Well-put. Well-thought. Everything feels... right. SHIZUYA YOU ARE THE MVPMAN OF TASTE. MAN WITH RIGHTS. Udah sana ambil sepedanya, ambil semuanya, ambil sepabrik-pabriknya. You deserve it. You deserve everything. Semuanya berada di tempat yang tepat, muncul di waktu yang tepat, dengan porsi yang tepat. Transisi antar lagu muluuuuuusssss nggak ada cela. Bahkan sorotan kamera kali ini rasanya memuaskan. Mengakomodasi highlight pertunjukan. This, my friends, is pure talent right here. Expect no less from a man who chose Kis-My-Ft2's "Break The Chains" for his own corner in last year's Travis Japan concert. He delivers. He always does. And he always will.


NO SHIZU YOU ARE A VERY BEST BOI. TRUST ME.

Shizu is also in the mood for a summer holiday.
He invites everyone over because he's simply that guy.


Vokal Shizuya stabil banget sepanjang konser. Like, WHOA. Jujur deh, selama ini saya merasa teknik vokal Shizuya relatif ada di tengah-tengah dan cenderung tidak muluk-muluk, sehingga lumayan kaget saat nyanyi sendirian sepanjang konser yang bisa dibilang hampir fully choreographed ternyata berhasil nggak kedodoran. Habis joget jingkrak-jingkrakan seketika disambung nyanyi pakai standing microphone juga lancar jaya. And the setlist pick is pure gold. Ohno Satoshi's "Bad boy"? Arashi's "Fukkatsu LOVE" and "Summer Splash!"?  Hey! Say! BEST's "Speed It Up" and finished it off with Hey! Say! JUMP's "Asu e no YELL" before performing "Together Now" with the rests of Travis Japan members?

This is what they call Taste.

AND THESE LIGHTING SPECTACLES...

I SWEAR TO ALL GODS PEOPLE BELIEVE IN, SHIZU YOU ARE THE MVP (Part Two).


Distracting thoughts: oh shit those legs... those thighs in blue jeans are T H I C C <3



Five members done for now.
Two more to go.

Matsukura Kaito menggeber salah satu lagu Kanjani8 kesayangan saya, "LIFE ~Me  no mae no mukou e~" untuk membuka penampilannya hampir membuat saya menangis. Lagu ini punya banyak kenangan. Kalau boleh bikin pengakuan, saya sampai sekarang belum berani mendengarkan versi aslinya lagi sejak Shibutani Subaru dan Nishikido Ryo hengkang. Nggak kuat. But you've given it another meaning, Matsukura. Mungkin saya akan coba setel lagunya lagi nanti. This time, maybe I'll remember you singing it instead of the pain of being left behind.

Ending song YouTube Travis Japan ikut dinyanyiin versi lengkapnya. 


His rendition of Domoto Tsuyoshi's "Panic Disorder" is SO, SO FRIGGIN' GOOD. His vocal has this... edge, very fitting for a rock ballad. Or just a rock songs in general.

Tapi menyangka seorang Matsukura Kaito akan tampil keren sepanjang durasi konser tunggalnya kayaknya merupakan sebuah kesalahan. Tahu-tahu dia mak jegagig balik nongol di atas panggung dalam keadaan sudah berganti sepatu roller skate dan berpenampakan mirip preman kampung yang mau meramaikan hajatan pesta tujuh belas Agustusan. Lengkap ditambah aksesoris hiasan bulu merah-putih di kepala. Katanya, musim panas itu identik dengan roller skate. Random abis.

BAPAK-BAPAK, IBU-IBU, ANAK SIAPA INI TOLONG DIJEMPUT...

Lirik lagu "Kis-My-Calling!" milik Kis-My-Ft2 yang diubah menyesuaikan anggota Travis Japan benar-benar menggemaskan karena adik-adik Shounen Ninja yang didapuk sebagai backdancer pura-pura jadi Travis Japan bermodalkan uchiwa ditempel foto muka. Berhubung kekurangan orang, Kitagawa Takumi harus kerja keras memerankan double Kaito, alias Miyachika Kaito dan Nakamura Kaito secara bersamaan. Saya nggak kuat nahan ngakak mendengar Kawasaki Koki nyatut kata-kata Shime, "Ciuman yuk? Ah, nggak dulu deh," yang sebenarnya merupakan monolog Shimekake Ryuya dalam YouTube Travis Japan sewaktu endorse lipbalm Givenchy. Bagi yang penasaran lengkapnya gimana, silakan klik sebelah sini.


Kerasa banget bahwa Travis Japan memang sayang satu sama lain. Lagi pertunjukan tunggal aja masih keingetan dan nyeret-nyeret anggota sisanya. Mulai dari ada yang dateng nonton terus malah diseret naik panggung buat ngebantuin ganti baju, dateng nonton beramai-ramai dan berusaha menunggangi sesi MC dari bangku atas dengan teriakan-teriakan rusuh, telepon (terskenario) di tengah-tengah konser, hingga dibikinin bajakannya demi bisa diajak manggung bareng.

Kenapa sih grup yang saya sayang emo-emo semua gini, ya Rabb...

Terakhir. Pertunjukannya Miyachika Kaito.

The leader of the tiger pack.


Perut saya kerasa diremes-remes bahkan sejak pagi. Miyachika, yang kerap disapa 'Chaka' untuk mempermudah penggemar (dan orang lain) memanggil ketiga Kaito dalam satu grup, di mata saya adalah orang yang sering cengengesan haha-hehe dan ngebercandain kanan-kiri, tapi sebenarnya sangat serius, ekspresif, sekaligus sensitif. Sedikit banyak mengingatkan saya pada Ninomiya Kazunari, member Arashi. Dia tahu betul batasan mana yang tidak boleh dia langkahi. Dia mengerti orang seperti apa punya seberapa tingkat toleransi terhadap ledekan yang bagaimana. He knows exactly what words to choose when speaking to whom.

Miyachika also has the knack of expressing what he wants to convey on stage, through movements, small gestures, and facial expression. In a little bit more natural, personal way compared to the others. Ya Allah. Tampaknya saya tidak akan pernah siap secara mental untuk menghadapi apa yang Miyachika hadirkan di SUMMER PARADISE 2020 ini.

And ready I am not.
Asli sampai gemeteran sebadan-badan.

But here it comes...




Miyachika kicking off the show in a crimson red-themed stage saying "We are the rules" in all his regal glory gets me floored. Melorot dari kursi ke lantai kamar tak berdaya. Kayak handuk basah. Lemesssssss. SEMBAH SUJUD PADUKA MIYACHIKA. IF THIS AIN'T KING SHIT THEN I DON'T KNOW WHAT ELSE. This is the King claiming his throne. And he'll take it. He'll grasp it with his worthy fingers.

And he'll do it while looking glorious.


Namun yang menguras habis air mata saya justru ketika Miyachika menampilkan "Rolling days", lagu solo Sakurai Sho favorit saya dari album Arashi tahun 2015 silam, Japonism. Konsep 'tahanan kabur' dan koreografi teatrikal yang dibawakan amat sangat baguuuss nggak ngerti lagi nggak tahu harus ngomong apa lagi kecuali "ANJIR ANJIR ANJIR ANJIR ANJIIIIIIIIIRR" di hadapan layar. Keputusasaan sekaligus harapan yang dikisahkan lirik lagunya terasa semakin nendang. I feel like being gutted. Dada langsung sakit. Ampek. Nyeseeeeeekkk sejak sepuluh detik awal. 

Lalu tiba-tiba pas nyadar udah nangis bercucuran. 





His pained eyes that seem to scream desperation give me chills.


But the killing punch, the one that makes the last defense of my tear glands broke and everything spills down on my cheeks, is here: right when Miyachika opens both arms wide and sings, "Owari nante kowakunai no sa—I am not afraid of the end". It feels... oh dear Lord, IT FEELS REAL

Miyachika said he is not afraid of the end and I think he means it.


Seakan-akan "Rolling days" adalah Miyachika memproklamasikan bahwa dia siap menghadapi semuanya, bahkan sekalipun itu sebuah 'akhir'. Selama bertahun-tahun lamanya Travis Japan terus ada dan diombang-ambingkan ketidakpastian, diterpa banyak hal, menelan kekecewaan sekaligus mengalami berbagai hal-hal menyenangkan. The group has gone through so much, almost nothing feels like new surprise anymore. Entah kenapa bagi saya ini seperti cara Miyachika menyampaikan bahwa dia hanya fokus akan menikmati hari-hari bersama Travis Japan tanpa terlalu ambil pusing tentang yang lain.

He has nothing to lose.
He is not afraid of anything, not even the end.
So he's saying to come at him. Try him.

Barangkali saya yang kelewat baperan. Mungkin saya cuma overthinking. Meneketehe. But to me it sure feels that way. Apalagi kemudian di setlist muncul lagu-lagu seperti "To my homies" milik Arashi disambung "Macchigacchainai" kepunyaan Johnny's WEST. This stage is his story. And Miyachika doesn't think that he's mistaken. He believes that he didn't make a wrong choice.

And I think he's right.

Usai "Together Now" dinyanyikan, rupanya berhubung kali ini adalah panggung penutup giliran Travis Japan di SUMMER PARADISE 2020, keenam anggota lain ikut muncul. Bertujuh ngobrol-ngobrol sebentar, mengucapkan selamat ke Shizuya yang ulang tahunnya bertepatan dengan konser solo Miyachika, dan terakhir: foto bersama. Buat dipajang di Instagram. #Penting


*Menghela napas panjang.*
*Mengelap air mata yang beleber lagi.*

Ya Allah... Saya sayang Travis Japan. Nggak ketolong lagi. Asli. 

Rangkuman kesan SUMMER PARADISE Travis Japan 2020 di benak saya kira-kira begini: Yoshizawa Shizuya the Mr. MVP, Miyachika Kaito is my emo King, dan Nakamura Kaito paling banyak mengandung muatan maksiat. Dah gitu aja nggak perlu kepanjangan. Seneng sih, karena rupanya kekhawatiran saya sebelum acara sedikit berlebihan. These guys are alright. They are doing awesome. And now I am here having an enormous feelings hemorrhage.

Jadi, ngomong-ngomong nih, Bapak Presiden Takizawa Hideaki... 
Kapan Travis Japan didebutin?

z. d. imama