Showing posts with label #JapanFest101. Show all posts
Showing posts with label #JapanFest101. Show all posts

Wednesday, 20 September 2017

Japan Fest 101: Kinds of Cosplay You'll See

Wednesday, September 20, 2017 14

Setelah menulis mengenai lagu-lagu yang relatif sering dinyanyikan di kompetisi band dalam festival-festival budaya Jepang, saya ingin merambah ranah lain dengan membuat Japan Fest 101 episode berikutnya. Kali ini unsur yang ketiban apes untuk saya kelopeki adalah: cosplay. Yap. Costume play. Festival budaya Jepang menjadi excuse bagi sejumlah orang-orang penggemar produk-produk budaya Jepang khususnya animasi dan komik untuk mengekspresikan diri dengan menjelma sebagai tokoh-tokoh tertentu, berdandan seperti apa pun yang dimau. Semacam Coachella atau Halloween Party khusus para wibu.

Sebagai salah satu manusia yang terbilang cukup rajin hadir di festival-festival demikian (terutama kalau free entry atau entry fee-nya tidak mahal), saya mulai memperhatikan bahwasanya orang-orang yang cosplay ini ternyata bisa dikategorikan dalam golongan-golongan tertentu. Sebebas-bebasnya cosplayer bermain kostum, ternyata bisa dikelompokkan juga.

Let's get to the business.

The "Gini udah dianggep rada cosplay kan, ya?" Cosplayer

Jamaah ini biasanya datang ke festival kebudayaan Jepang dengan mengenakan sebuah-dua buah 'atribut cosplay' yang sesungguhnya juga mereka kenakan di suasana-suasana lain, bahkan ke kampus atau ke sekolah sehari-hari, karena terbilang lumayan aman. Contohnya saja: jaket oranye Naruto, jaket seragam Tokubetsu Sakusen-han dari Shingeki no Kyojin, atau untuk anak-anak era awal 2000-an ya... jaket klub tenis Seigaku-nya Prince of Tennis. Iya, yang dipakai jaketnya saja. Baju sih tetap kaos oblong dan celana jins. Biasanya sih yang kayak gini tuh antara males ribet―atau nggak punya duit―tapi bertekad ingin tetap menunjukkan identitas diri sebagai wibu.

Satu-satunya karakter yang cenderung di-cosplay-kan kelompok ini adalah L dari Death Note. Ya iyalah, cuma tinggal pakai kaos putih lengan panjang kedodoran dan celana jins belel. Lack-of-sleep look bisa dibuat dengan bantuan pencil eyeliner. Kelar. Atau mungkin... Heero Yuy dari Gundam Wing, mengingat upaya yang diperlukan untuk cosplay tokoh tersebut hanyalah kaos singlet warna hijau olive dan celana pendek hitam ketat, yang notabene bisa didapatkan di seluruh store Adidas. Masih kemahalan? Toko khusus baju olahraga di ITC, deh. Ada.

Jaket begini masih oke kan dipakai ke mana-mana?

The "Gue cuma bisa pakai baju ini di sini" Cosplayer

Sedikit stepping up the game dari golongan pertama namun masih bersahaja, cosplayer-cosplayer aliran "Gue cuma bisa pakai baju ini di sini" cenderung memilih tokoh-tokoh yang sederhana untuk dibuat kostumnya, tanpa properti-properti ekstra seperti senjata dan sebagainya, cuma kok ya jika mereka mau mengenakan pakaian itu di luar event festival kebudayaan Jepang tetep dipandang aneh. Kadang malah mereka tidak membawakan karakter komik/animasi, tapi cuma berdandan dengan style tertentu saja. Misalnya: mengenakan kostum maid, butler, seragam sailor/gakuran (atau seragam-seragam sekolah dari judul komik/animasi seperti Vampire Knight), yukata, hingga kimono, gothic lolita, tampil sebagai ganguro, dan sebagainya.

Mbak-mbak ganguro dengan dandanan mereka yang mentereng.

The "Always Classic" Cosplayer

Sebagaimana namanya, cosplayer ini hadir dengan kostum tokoh-tokoh yang dipandang klasik: sangat populer sampai hampir nggak ada orang yang nggak tahu, tapi sudah relatif lawas. Himura Kenshin dari Rurouni Kenshin, contohnya. Berbagai karakter serial Dragon Ball, Naruto, Bleach, One Piece, Meitantei Conan, Inu Yasha. hingga Sailor Moon dan Cardcaptor Sakura pun termasuk yang kerap dibawakan oleh cosplayer barisan spesialis klasik. Referensi look-nya banyak (bahkan kostumnya tidak jarang bisa dibeli online, lumayan nggak perlu ke penjahit) dan tak lekang dimakan waktu, sehingga merupakan cosplay yang paling aman untuk dipilih.

Perut six-pack mas Luffy digambar pakai shading..

The "Keeping Up with the Latest Trends" Cosplayer

Kaum yang paling kekinian sejagad dunia cosplaying. Mereka tidak pernah lelah, apalagi gagal, dalam mengikuti perkembangan dunia animasi, komik, tokusatsu, hingga game keluaran terkini dan selalu mampu membawakan karakter-karakter yang saat itu sedang ramai dibicarakan dalam forum-forum wibu. Tahun 2015-2016 lalu, cosplayer golongan ini dengan penuh semangat menjelma menjadi tokoh-tokoh dalam serial animasi Mobile Suit Gundam: Tekketsu no Orphans berhubung dia memang sedang sangat diperbincangkan.

Geng mas-mas Tekkadan dari Gundam Tekketsu no Orphans.

Ngomong-ngomong, jaket seragam Tekkadan juga bau-baunya berpotensi menjadi atribut langganan cosplayer kubu pertama. "Gue kalau pakai ini hitungannya udah lumayan cosplay kan, ya?"

The "I am Super-Skilled, Level Advanced, and I Will Prove It" Cosplayer

Barisan paling bikin penonton ngiler sekaligus rival jiper. Kontingen cosplayer yang hampir selalu membawakan karakter-karakter dengan desain kostum yang rumit, atau properti-properti ekstra yang wah... and they will pull it off. Rada nyebelin, memang. Tidak jarang tokoh yang dipilih mereka justru agak edgy. Kamen Rider, misalnya. Tokoh musuh di suatu game tertentu lengkap dengan pedang, panah, hingga beragam persenjataan mentereng lain. Gundam―iya, ada kok beberapa orang yang sedemikian niatnya untuk hadir di festival kebudayaan Yapan dengan tampil sebagai Gundam. Mereka relatif tampil all-out, tidak peduli seberapa banyak uang yang dikeluarkan dan seberapa banyak anggota tubuh yang disembunyikan (atau diperlihatkan ke publik) demi mencapai hasil maksimal. Cosplayer kategori ini kerap memenangkan kompetisi cosplay, bahkan diundang ke acara-acara serupa sebagai bintang tamu atau anggota dewan juri.

Hobi bercampur ambisi, gitu.

   
Menjelma jadi Angemon dan Angewomon. Foto dari sini.

Seumur-umur bergelimang menikmati pop culture Jepang, saya belum pernah cosplay karena tidak percaya diri dan takut akan merusak visual karakter yang dibawakan. Hahaha. Tapi bagi yang mungkin pernah mencoba atau malah sangat suka cosplay, ngomong-ngomong dari beberapa kategori di atas,  kalian termasuk geng yang mana?

z. d. imama

Monday, 19 June 2017

Japan Fest 101: Songs on Stage

Monday, June 19, 2017 9

Saya sudah cukup jelas menyatakan beberapa kali di blog ini bahwa saya adalah #BudakYapan, yang terbilang cukup akrab dengan produk-produk budaya dan kapitalisme mereka. Sebelum menjadi gadis rantau di area Jabodetabek, saya merupakan warga kota eks-karesidenan Surakarta yang relatif jauh dari hingar-bingar. Kehidupan remaja saya dihabiskan dengan jadi server tanpa upah di laboratorium komputer sekolah (yang selepas jam pelajaran beralih fungsi sebagai warnet), bolak-balik ke tempat persewaan buku dan video, ke bioskop setiap hari Senin karena ada promo Rp15,000, dan... mendatangi festival budaya Jepang yang diadakan SMA-SMA (serta kampus) lokal di kampung halaman.

Jika tidak salah ingat, saya mulai berkenalan dengan festival Jepang anak sekolah sekitar tahun 2007. Hingga tiba hari di mana saya berangkat exchange (dan kemudian disusul kuliah di luar kota), saya cukup sering menghadiri acara-acara serupa untuk menyadari sejumlah hal-hal tipikal, salah satunya lagu-lagu yang sering terdengar di sana.

Hence, I present:

#JapanFest101: Songs Performed on Stage Edition

Circa 2007-2012 untuk area Surakarta dan sekitarnya.

Guest band di festival Jepang SMA Negeri 1 Surakarta, "Sannin Party" ke-9

Acara festival Jepang sudah pasti diikuti dengan kompetisi band performance dan sejumlah bintang tamu untuk meramaikan acara. Entah kenapa, baik band yang mengikuti lomba maupun undangan, tampaknya punya beberapa lagu favorit yang hampir pasti dimainkan di panggung. Mungkin karena lebih gampang kali yah? Atau instrumen yang digunakan nggak butuh terlalu ribet? Tidak jarang dalam satu acara, ada lagu yang dibawakan hingga dua atau tiga kali oleh penampil berbeda. Sampai-sampai rasanya kalau lagu-lagu tersebut belum dimainkan, acara festivalnya kurang afdol. Tidak mabrur.

Berikut adalah beberapa lagu yang, hingga detik ini, ketika mendengar intro-nya saja saya sudah timbul hasrat mengangkat kedua lengan lalu jejingkrakan sendiri.

1. L'Arc~en~Ciel - Stay Away

(Alternative: Blurry Eyes, Ready Steady Go)
Pokoknya di rentang waktu tahun 2007-2012 tuh kalau sampai ada festival Jepang yang tidak melibatkan tiga lagu Laruku tersebut, bisa dibilang acaranya melempem. Apalah event perwibuan tanpa band dengan vokalis yang berambisi (dan berupaya semampunya) untuk meniru-niru teknik vokal Om Hyde?

Promotional video untuk Stay Away.

(*P.S: klik masing-masing judul untuk menonton video performance aslinya via YouTube jika kalian lupa―atau nggak tahu, tapi masa sih?―lagu-lagu ini tuh yang mana.)

2. Saint Seiya OP - Pegasus Fantasy

Sumpah saya baru tahu beberapa tahun belakangan bahwa original artist lagu ini adalah sebuah band metal bernama MAKE-UP. Sebelum itu ya hanya mengidentifikasi sebagai "Oh ini lagu opening anime Saint Seiya". Udah. So much for #BudakYapan, huh? Tapi terus terang, Pegasus Fantasy memang sangat seru jika dibawakan karena crowd pasti beramai-ramai ikut teriak, "Saint Seiya!!" saat bagian chorus.

Saya nulis postingan ini saja sudah kepengin headbang...

3. Asian Kung-fu Generations - Haruka Kanata

Of course. Haruka Kanata ini terbilang satu soundtrack Naruto yang paling kerap ditampilkan saat festival budaya Jepang anak sekolahan. Memang cukup 'meramaikan' dan catchy, ditambah lagi agak teriak-teriak jadi sekalipun si vokalis nyanyinya rada fales bisa disamarkan, sehingga wajarlah lagu ini dimainkan di sana-sini. Seingat saya, majalah khusus anime dan manga "Animonster" juga pernah memuat lirik lagu Haruka Kanata lengkap beserta terjemahannya. 

Pas opening-nya masih begini, Sasuke belum jadi cowok yang gampang dihasut

4. Do As Infinity - Fukai Mori

Vokalis cewek di band spesialis festival Jepang hampir bisa dipastikan pernah membawakan lagu ini. Bahkan beberapa pekan lalu, saat saya menghadiri Ennichisai 2017 di Blok M, masih ada performer yang memainkan Fukai Mori. Buset. Lagu abadi. Barangkali karena melodi lagunya tidak terlalu ribet jadi mudah dinyanyikan? Bisa jadi. Tapi sebagai pengunjung, saya pun cukup menyukai Fukai Mori karena bisa menonton sambil berdiri tenang tanpa perlu terbawa suasana yang menuntut lonjak-lonjak dan jejingkrakan.

Fukai Mori sempat jadi lagu ending untuk anime Inu Yasha

5. Wada Kouji - Butter-Fly

Opening Digimon Adventure, salah satu serial anime pertama yang saya kenal (dan sayangi bahkan sampai hari ini). Tipe lagu yang setiap kali didengarkan langsung jadi bersemangat. Saya memang punya personal attachment tersendiri dengan serial Digimon dan lagu-lagu soundtrack-nya. Sumpah, sedih banget rasanya ketika Wada Kouji, original artist dari lagu ini, dikabarkan meninggal dunia bulan April 2016 lalu karena sakit kanker. Nyesek asli. 

SO. MUCH. FEELS.

Satu hal yang paling bikin saya lumayan gemas adalah, kadang-kadang vokalis band yang sedang tampil lupa lirik lagunya (mungkin karena beda bahasa jadi sulit dihapalkan dan kebetulan darah wibu dalam diri sang vokalis kurang kental), lalu dengan sengaja mengarang bunyi-bunyian asal. Berharap nggak ada yang menyadari kali yah... Mungkin disangkanya, "Ah bahasa Jepang ini, salah ngomong juga nggak bakalan pada ngerti."

MEREMEHKAN WIBU YA?

KAMI TUH NGERTI KALAU KALIAN SALAH. KAMI TUH NGERTI.

Nah. Apa kalian punya contoh lagu-lagu lain yang hampir selalu bisa didengar di panggung festival budaya Jepang? Kata salah seorang teman saya sih, sekarang lagu-lagu ONE OK ROCK juga sudah mulai merajalela sebagaimana L'Arc~en~Ciel beberapa tahun silam. Saya tidak bisa mengecek kebenarannya karena sudah tak seaktif dulu lagi dalam menyambangi festival-festival, tapi kalau menurut dugaan saya yaa... lagu ONE OK ROCK yang sering dimainkan paling-paling Heartache, Wherever you are, atau The Beginning. Starter pack aja.

*Kabur sebelum dilindes pakai truk semen.*

z. d. imama