Monday, 6 June 2022

Langganan Majalah BOBO di tahun 2022: WHY NOT?

Monday, June 06, 2022 2

 

Hello, lovely internet folks! Finally. My first ever post in 2022, and also, the first time in forever.  Tanpa banyak babibu dan fafifu, saya akan langsung masuk ke topik bahasan kita kali ini. Yah, sebenarnya juga sudah ke-spoiler dari judul postingan sekaligus gambar pembuka, sih.

Pada suatu sore di pertengahan tahun 2022 (maksudnya hari ini), tiba-tiba seorang netizen yang tinggal di sebuah kos-kosan di Jakarta-alias saya-tersentak dari e-book yang sedang dibacanya. Suatu pikiran random muncul dari benaknya: 

"Majalah BOBO sekarang apa kabar, ya?" 


Rada aneh, memang. Padahal sejenak sebelumnya, si netizen ini-alias saya-sedang menikmati sebuah novel misteri yang sama sekali nggak punya sangkut-paut dengan majalah BOBO. Layaknya netizen pada umumnya, manusia satu ini kadang-kadang memang suka berkelakuan ajaib.

Dahulu kala, di suatu masa sebelum pandemi menyerang, saya pernah menyentil betapa majalah BOBO berjasa besar dalam postingan tentang Magic Knight Rayearth. Ibu selalu membelikan edisi-edisi lawasnya dari tukang loak dan pedagang majalah bekas, untuk saya gunakan berlatih membaca. Sekaligus, tentu saja, untuk disobek-sobek dan digunting-gunting (karena setiap anak kecil adalah tornado ukuran mini yang bisa jalan-jalan dengan dua kaki). Sewaktu bangku Sekolah Dasar pun, saya pernah memenangkan suatu perlombaan yang hadiahnya adalah langganan gratis majalah BOBO selama beberapa bulan. 

Majalah BOBO adalah salah satu bagian penting dalam hidup saya. Saya juga yakin bahwa yang merasakan seperti ini bukan cuma saya seorang. Berhubung tiba-tiba kepikiran, saya memutuskan duduk di depan laptop. Membuka browser. Mencari-cari informasi. Pertanyaan yang saya ingin temukan jawabannya sudah jelas: Majalah BOBO masih ada nggak sih sekarang? Apa masih bisa langganan? Tersedia versi cetak atau sudah jadi majalah digital?

Jawabnya ada di ujung langit.

Masih ada. Bisa. Tersedia baik cetak maupun digital.


WOW.
Saya mangap.

Bisa langganan majalah BOBO! Yay!

Hasil awal browsing saya mengantarkan langsung ke laman Gramedia Digital. Dari situ, saya jadi tahu beberapa hal:
  • Harga eceran majalah BOBO (per edisi) sekarang Rp15,000
  • Beberapa paket langganan Gramedia Digital bisa dipakai mengakses majalah BOBO
  • Logo dan huruf majalah BOBO sampai saat ini tetap nggak berubah

Masih kurang puas, saya kembali meneruskan perjalanan menjelajah internet. Gramedia Digital, sebagaimana namanya, memberikan akses majalah BOBO versi e-book. Bagaimana dengan versi cetak? Ke mana saya harus menghubungi kalau ingin beli majalah BOBO edisi konvensional? Ayolah internet, pinjamkan kehebatanmu!!

Tak seberapa lama kemudian, misteri terpecahkan.

Opsi langganannya lebih banyak! Harganya lebih murah!

Saya terdampar di sebuah situs bernama Grid Store. Usut punya usut, Grid Store ini merupakan situs yang menjual produk-produk majalah dan tabloid terbitan Grid Network, Kompas Gramedia. Majalah anak-anak yang tersedia dalam katalog tidak hanya BOBO, tetapi juga ada BOBO Junior (walaupun terus terang saya nggak tahu apa beda target pasarnya dibandingkan BOBO-senpai), MOMBI, dan MOMBI SD.

Bisa dilihat dari screenshot di atas, Grid Store menyediakan lebih banyak opsi langganan dibanding Gramedia Digital. Tidak cuma itu, harganya pun lebih murah. Tarif per eksemplar bahkan ada selisih seribu Rupiah. Lumayan cuy.

Tanpa pikir panjang, saya klik salah satu rencana langganan dan menekan Masukkan Keranjang. Barangkali inilah kekuatan kangen. Inilah kesaktian rasa sayang. Bikin ikhlas melakukan hal-hal yang sejatinya nggak butuh-butuh amat. Apalagi timbunan bacaan pribadi tingginya setara Monas dan nggak kunjung berkurang.

Isi keranjang belanjaan

Bisa dibayar dengan berbagai macam cara!

Proses transaksinya nggak berbeda dengan kebanyakan lapak belanja online lainnya: bikin akun baru terlebih dahulu baru bisa belanja. Nggak terlalu banyak data yang dibutuhkan Grid Store. Cukup nama, alamat email, nomor ponsel, tanggal lahir, serta gender—yang sayangnya, tapi juga sudah bisa diduga, masih hanya tercantum Laki-Laki dan Perempuan.

Setelah pembayaran dilunasi, majalah BOBO yang jadi belanjaan saya langsung bisa diakses dari kolom Bookshelf. Muncul dalam sekejap mata. Works like magic. Sungguh luar biasa kekuatan internet dan konten digital.

It sits prettily, ready to wait for me <3

Jika kalian nggak ikhlas merogoh saku untuk berlangganan mingguan, beberapa konten majalah BOBO secara terbatas juga bisa diakses gratis via situs resmi di sebelah sini. Silakan kakak-kakak yang mau nostalgia kehidupan masa kanak-kanak. Everything is just one click away~

Saya mau pamit dulu. Sudah ditunggu Bobo, Coreng, dan Upik. And really, the greatest perk of being an adult, with your own hard-earned money, is that now you can pay for things you love as a child, and nobody can stop you from doing so

z. d. imama

Tuesday, 30 November 2021

"Pasukan Buzzer": Siapa pun bisa menjadi siapa pun di internet

Tuesday, November 30, 2021 1

Jika bukan karena membaca ringkasan di sampul belakang buku dan memergoki tulisan “Novel” yang tertera di sudut kanan bawah buku, saya hampir mengira “Pasukan Buzzer” karya Chang Kang-Myoung (judul asli: 댓글부대 Daetgeulbudae) adalah buku nonfiksi. Rasanya prasangka ini tidak berlebihan. Buzzer adalah istilah yang sejak beberapa tahun belakangan ini semakin marak diperbincangkan, sangat dekat dengan hal-hal yang berbau kampanye. Pilpres, pilgub, pilkada, kebijakan-kebijakan publik kontroversial, peluncuran produk baru, entah apa lagi. Bahkan sebagai pengguna media sosial yang lumayan aktif, tidak jarang cuitan saya di Twitter yang mengandung kata kunci tertentu mendadak disambar seenaknya oleh akun-akun bot yang menimpali dengan makian atau kalimat-kalimat pembelaan berlebihan. Pokoknya menyebalkan. Begitu tahu bahwa “Pasukan Buzzer” merupakan novel, saya langsung punya firasat yang mengatakan buku ini bukan sesuatu yang bisa saya baca sebagai hiburan semata. Bukan cerita haha-hehe. 

Dua ratus delapan puluh sekian halaman kemudian, insting saya terbukti benar.

(Memang) Bukan bacaan ringan.


“Pasukan Buzzer” menyoroti Tim Aleph, perusahaan pemasaran online yang menawarkan jasa promosi, baik produk hingga perusahaan. Tim Aleph digawangi oleh Sam-goong yang jago bersiasat sekaligus pakar fafifuwasweswos, Chatatkat yang luwes merangkai kata, dan 01810, yang hingga akhir kisah tak pernah diungkap nama sebenarnya, sebagai ahli komputer. Proyek-proyek manipulasi opini yang mereka bertiga tangani selama ini bisa terbilang berjalan mulus, sehingga boleh dikatakan tampaknya ketiganya cukup berbesar kepala. Percaya diri bisa melakukan apa saja. Tatkala sebuah tawaran pekerjaan yang tidak lazim muncul di hadapan mereka, yakni menghancurkan situs Kafe Jumda dalam rentang waktu satu bulan dengan imbalan sembilan puluh juta won, Tim Aleph pun mengiakan. Meski Chatatkat dan 01810 sempat bimbang. Tanpa dinyana, proyek Kafe Jumda ini menjerumuskan Tim Aleph dalam suatu permainan yang lebih besar, yang entah apakah ketiganya berhasil keluar dari sana. 

Hidup-hidup, tentunya.

Satu hal yang paling awal mencuri perhatian saya ketika membuka “Pasukan Buzzer” adalah judul-judul tiap bab yang tertera dalam Daftar Isi. Novel ini tampak menganggap serius dirinya sendiri. Penulisnya sengaja mengutip kata-kata Joseph Goebbels yang beredar di internet, walau kemudian disertai penafian bahwa tidak bisa dipastikan apakah Goebbels benar-benar pernah mengucapkan hal-hal yang dikutip tersebut. 

Di titik ini, alis saya sudah terangkat. 
Hmm. Menarik.

Jajaran judul bab pada novel "Pasukan Buzzer" yang sungguh lain dari yang lain

Cerita disajikan dalam bentuk kombinasi narasi dan transkrip rekaman wawancara yang alurnya maju-mundur. Agak membingungkan, terus terang. Butuh konsentrasi khusus agar tidak tersesat di tengah-tengah membaca. Komposisi tiap bab tergolong formulaik: transkrip rekaman, foya-foya, seks atau aktivitas sejenis, paparan kegiatan manipulasi opini. Ulangi. Ketika progres membaca saya mencapai sekitar 50%, benak saya mulai mempertanyakan apakah skena seperti ini memang identik dengan dunia seks? Ataukah penulisnya, Chang Kang-Myoung, hanya ingin memasukkan detil-detil adegan perlendiran yang tidak berkaitan dengan pokok permasalahan agar tulisannya terdengar dewasa, maskulin, dan gagah? Atau barangkali ingin mengekspos betapa misoginisnya pria-pria Korea Selatan kepada dunia?

Kira-kira yang mana nih?

Secara umum, “Pasukan Buzzer” adalah suatu cerita yang digerakkan oleh plot. Bukan tokoh-tokohnya. Penokohan tiap karakter yang muncul terasa hanya sebatas pemukaan. Pembaca tidak belajar banyak tentang sosok Sam-goong, Chatatkat, dan 01810, selain bahwa ketiganya terbilang cukup kikuk di kehidupan nyata dan mudah terbuai perhatian perempuan. Pembaca yang lebih peduli pada keutuhan karakter dibandingkan kompleksitas plot (seperti saya, misalnya) bisa jadi akan merasa kecewa.

Sebagai kompensasi tipisnya karakterisasi tokoh, “Pasukan Buzzer” penuh sesak dengan referensi kasus-kasus, gosip, dan isu sosial di Korea Selatan. Mulai dari rapper hingga pemilihan presiden. Chang Kang-Myoung benar-benar tidak menahan diri dalam mengerahkan berbagai pengetahuan dan referensi yang dia peroleh selama berkarir sebelas tahun sebagai reporter. Jujur, ada beberapa momen di mana saya merasa semua informasi yang dilemparkan ini bikin jengah. Begah. Eneg. Seakan-akan saya sedang duduk bersama seorang laki-laki yang sibuk berceloteh seorang diri, menjabarkan betapa luas wawasannya tanpa sedikit pun berhenti untuk memperhatikan apakah lawan bicaranya menunjukkan minat pada apa yang dia bicarakan. Tidak mengambil jeda untuk peduli apakah lawan bicaranya punya opini untuk disampaikan. Asumsi awal saya yang menduga novel ini menganggap serius dirinya sendiri sepertinya tidak bisa dibilang meleset.

Meski begitu, “Pasukan Buzzer” bukan novel yang buruk. Saya tidak bisa berbahasa Korea, sehingga tidak mungkin memberikan penilaian terhadap cara penuturan kisah ini dalam bahasa aslinya, tetapi terjemahan bahasa Indonesia dari tangan Iingliana terasa mulus dan mengalir. Enak banget. Catatan kaki yang nongol di sana-sini, menjelaskan berbagai referensi kasus maupun istilah-istilah khas budaya Korea Selatan juga sangat membantu pemahaman pembaca. Andaikata skor novel “Pasukan Buzzer” ini 8 dari 10, 5 poin akan saya dedikasikan untuk Iingliana selaku pengalih bahasa. 

Engkaulah juaranya.
Sudah sana ambil sepedanya, Kak. Ambil sepabrik-pabriknya.

Salah satu contoh catatan kaki. Menolong sekali yang gini-gini, tuh.

“Pasukan Buzzer” juga sedikit-banyak memantik renungan. Internet adalah ruang bebas. Terlalu bebas, malah. Di Internet, siapa pun bisa menjadi siapa pun. Membuat akun palsu. Mereka-reka identitas baru. Mengaku-ngaku. Apa yang kita baca, dengar, dan temukan di internet belum tentu sepenuhnya fakta. Opini bisa digiring. Imej bisa dibangun. Apa yang benar dan apa yang dipercaya khalayak umum bisa jadi adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Informasi palsu sekalipun, jika disebarkan oleh cukup banyak orang, akan diinterpretasikan sebagai kebenaran. Sebagai #SaksiPasukanBuzzer, barangkali keraguan adalah sahabat baik yang akan dapat menyelamatkan kita di internet. Sebab seperti halnya Chatatkat yang sanggup menulis artikel “Perjalanan Kami sebagai Suami-Istri Menjelajahi Amerika Utara dengan Mobil” dilengkapi lima ratus lembar foto padahal nyatanya sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di Amerika Serikat, bisa jadi ulasan ini juga ditulis oleh orang yang sebenarnya sama sekali tidak membaca novel “Pasukan Buzzer”.

Jadi, sekarang apa yang mau dipercaya?

____________________________________

"Pasukan Buzzer" - Chang Kang Myoung «««

288 halaman, Gramedia Pustaka Utama (2021)
Diterjemahkan dari 댓글부대 (Daetgeulbudae) ke bahasa Indonesia oleh Iingliana
Editor: Juliana Tan & Raya Fitrah

z. d. imama

Tuesday, 12 October 2021

Maybe it was me, but maybe it was also you.

Tuesday, October 12, 2021 1

Saya tidak akan berpura-pura. Terkadang saya cukup menikmati menjadi pengamat hubungan orang-orang, baik yang saya kenal langsung maupun cuma pernah lihat sepintas dua pintas sebagai sesama netizen. Memperhatikan bagaimana mereka melontarkan pujian setinggi langit kepada seseorang seolah-olah sosok itu tak bercela ketika sedang mabuk kepayang, lalu secara konstan dan berkala melemparkan makian, cercaan, atau mengungkit hal-hal buruk dan menimpakan segala kesalahan kepada orang yang sama ketika masa-masa indah sudah berakhir. Begitu terus. Berulang. Rinse and repeat. Saya paham bahwa ada yang namanya coping mechanism, tapi ya memang hakikatnya manusia sering terlalu gengsi untuk introspeksi dan menghadapi apakah memang kita juga punya andil dalam kesalahan. Ada perasaan "Mana mungkin gue yang salah!" yang berteriak lantang, keras kepala, apalagi kalau selama hubungan itu kita merasa sudah cukup banyak melakukan 'pengorbanan'.

Tiba-tiba saya jadi teringat kisah romansa gagal milik saya sendiri.

Cerita ini sudah lama. Sekian BC yang lalu, alias Before Covid. Saya tidak pernah menceritakan, apalagi menuliskan, hal ini di mana pun, karena mungkin saya belum tahu bagaimana cara mengartikulasikan emosi saat itu dengan benar. Dengan baik. Dengan tepat. Atau mungkin justru karena pada saat itu mengingat-ingat adalah hal yang masih menyakitkan.

Sekitar beberapa bulan setelah putus dari seseorang yang saya pacari semasa kuliah, saya iseng-iseng membuka akun media sosialnya. Bukan karena ingin menyiksa diri sendiri. Nggak. Saya sudah kenyang menangis selama mungkin hampir sebulan. Ketika itu motivasi saya murni karena ingin tahu kabar terakhirnya. Saya rasa dia akan baik-baik saja; tapi saya tetap penasaran. Apakah pindah kantor dan dapat pekerjaan baru? Apakah habis piknik dan jalan-jalan dengan keluarganya? 

Bahwa kepo itu ialah hak segala bangsa.

Saya mengetikkan username-nya di kolom Search.

Klik.

Halaman profil terbuka. Saya scroll sedikit. Sumpah, bener-bener cuma sedikiiiiiiiittttttt... dan saya langsung tiba di postingan yang mengisyaratkan kalau dia sudah punya pasangan baru. Tapi bukan itu yang bikin jantung saya berhenti. Serius. Saya tidak mempermasalahkan dia mau ganti pasangan secepat kilat atau justru bertahun-tahun selibat. Pandangan saya tertumbuk pada satu kalimat yang dia tulis yang terus terang membuat saya seperti ditombak. Dada saya ampek luar biasa. Saya kurang ingat bagaimana kata-kata persisnya; mungkin karena kejadiannya sudah cukup lama atau barangkali alam bawah sadar saya tidak berkeinginan mengingat-ingat secara detil. The gist of it was:

"...Akhirnya aku bertemu orang yang benar-benar menyayangiku."


That's it.

And I saw everything within the next second, flashes of flashbacks, in all red. Bright, blinding, burning red
. And it hurt. Holy shit it hurt. I was angry and sad and betrayed and in disbelief and so many emotions rose up at the exact same time like a bubbling sugar mixture: hot and scalding and ready to burst. Membaca kalimat itu berkali-kali lipat lebih menyakitkan ketimbang hari di mana saya menyadari bahwa hubungan kami berdua tidak mungkin dilanjutkan. Hari di mana saya memilih berjalan sendiri daripada kehilangan diri sendiri. Because, newsflash, baby, my feelings were real

Everything was real to me.


There were days when I really, really, really, liked him. There was one time when my world felt so much fun because we were together. I truly, genuinely, cared. I laid all my cards on the table since Day One and he said yes.  I let him know what kind of person I am, told my story, and he accepted. Until he doesn't. Until he said that he had a particular, ideal version of a partner in his mind and I must fit into the mold. A mold that isn't me at all. But every single thing that happened during that time was real to me. "Orang yang benar-benar menyayangi", katanya. Dear Lord how I hate that. Jadi perasaan saya waktu itu dianggap apa? Harus melakukan apa agar apa yang saya rasakan divalidasi dan tidak dilepeh seperti buah mentah yang jatuh prematur dari pohonnya?

Mungkin saya memang tidak pandai mengekspresikan apa yang dirasakan. Mungkin saya tidak melakukan apa yang 'semestinya' dilakukan orang-orang pada umumnya ketika berhadapan dengan orang yang saya sukai. Bahkan saya sayangi. Mungkin saya kikuk. Mungkin saya, karena tidak tahu apa yang sebaiknya dikatakan, memilih untuk tidak bicara apa-apa ketika seharusnya saya mengatakan sesuatu. Mungkin saya, karena tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan, memilih untuk tidak melakukan apa-apa ketika seharusnya saya mengambil sebuah tindakan. So maybe I was at fault. Maybe I contributed something for the relationship to end. Tapi apa itu semua membuat perasaan saya jadi layak untuk dimentahkan? I don't think so. Because I felt it all. Maybe my feelings were not enough for him, but it was true and genuine all the same.

It was real. To me.

And if someone else says it wasn't, perhaps it's their problem.
Not mine. No more.

z. d. imama

Sunday, 5 September 2021

I love reading, but... what if I can't even finish one book in a month?

Sunday, September 05, 2021 2

 


Bukan hal berlebihan jika saya bilang, buku adalah teman pertama saya. Dibesarkan di keluarga dengan kedua orang tua yang sama-sama bekerja (karena kalau nggak kerja perekonomian rumah tangga nggak jalan, baby) dan tidak selalu punya kemewahan dibantu asisten rumah tangga, saya sering menghabiskan waktu sendirian. Bahkan sejak balita. Ibu mencari akal bagaimana caranya supaya saya bisa tenang beraktivitas sendirian. Akhirnya yang tebersit di benak Ibu adalah: anak ini kalau bisa baca, mungkin dia bisa ngubek-ubek tumpukan majalah bekas yang dibeli di tukang loak tanpa rewel selama ditinggal beraktivitas. Alhasil, saya sudah lancar membaca bahkan sebelum masuk Taman Kanak-Kanak. Thank god waktu itu kami belum punya televisi dan smartphone baru sebatas imajinasi halu di suatu episode Doraemon. Sebab barangkali ceritanya akan lain lagi. 

Semakin dewasa, saya mulai berkenalan dengan banyak kegiatan. Bahkan hal-hal yang saya baca pun jadi beraneka ragam. Komik, novel, fanfiction, artikel di internet, utas pembongkaran aib orang di media sosial (dari yang EYD-nya rapi dan ceritanya terstruktur sampai yang bikin pusing karena penulisnya kayak nggak pernah belajar fungsi tanda baca), dan entah apa lagi. Kegemaran saya bertambah. Kita semua tahu ada peribahasa yang berbunyi "Besar pasak daripada tiang". Nah, barangkali rangkuman terbaik untuk permasalahan yang saya alami adalah "Banyak hobi daripada waktu luang".

Saya menikmati proses membaca. Itu satu hal yang saya bisa akui dari lubuk hati terdalam. Rasanya seperti diajak main dan berjalan-jalan dengan seorang teman lama, mengarungi berbagai cerita berbeda-beda. Kadang kisahnya jelek dan bikin marah. Kadang bagus banget sampai saya rela tidak tidur. Tapi perasaan dan pengalaman serupa juga saya temukan ketika melakukan hobi yang datang belakangan. Misalnya menonton berbagai judul dorama maupun film-film Jepang. Atau anime. Atau film maupun serial televisi Amerika dan Eropa. Atau nonton konser maupun variety show yang memunculkan idola-idola kesayangan saya.

Dulu, menyelesaikan satu novel—anggaplah rata-rata tebalnya 300-400 halaman—adalah perkara sepele. Sepulang sekolah, saya cukup ganti baju dan duduk leyeh-leyeh di lantai kamar di samping jendela dan membalik halaman demi halaman buku yang saya pinjam dari perpustakaan sekolah. Agak sorean dikit nonton serial kartun yang tayang di televisi lokal. Habis mandi baca lagi. Kadang-kadang selepas bikin PR saya masih bisa meneruskan satu-dua bab. Buku perpustakaan bisa saya kembalikan dalam satu atau dua hari. 

Sekarang?

Tiap ada buku yang berhasil saya tamatkan dalam tiga hari rasanya udah ingin sujud syukur. Masa kejayaan progres membaca ini sudah pergi entah ke mana.


Perjalanan menyelesaikan suatu buku yang jadi berkali-kali lipat lebih lama ini tak ayal membuat saya mempertanyakan: apakah saya masih berhak mengklaim diri sebagai seseorang yang gemar membaca? Do I have the rights to self-proclaim as a Reader? 

Barangkali (barangkali, ya) suasana hati saya sedikit-banyak mirip mereka yang ditodong dan dicurigai oleh pasangannya—minimal orang-orang yang sedang dekat—tentang kenapa tidak pernah mengunggah foto berdua ke akun media sosialnya. Atau lebih tepatnya, mereka yang diragukan perasaannya karena tidak cukup banyak menghabiskan waktu bersama pihak-pihak yang disukai. "Kamu tuh bener-bener sayang aku nggak, sih? Apa kamu jangan-jangan malu kalau ketahuan lagi sama aku? Kamu nggak inget ya kalau aku udah ada di sini sejak dulu? Bahkan sebelum kamu kenal internet dan bisa baca atau nonton berbagai hiburan lain itu?? Aku nggak cukup penting buat kamu, makanya kamu jarang mempedulikan aku??? JAWAB!!!"

Repot, kan.

Intensitas membaca yang mbuh banget ini sedikit banyak juga menghalangi saya untuk bergabung buddy reading dengan orang lain. I don't even know if I can finish it on time, or even at all. Katakanlah saya menemukan waktu untuk membaca secara rutin setiap harinya, yaitu sembari ngeden di atas kloset (yang dengan bangganya saya sebut kegiatan ini BASARA—baca sambil berak). Saya masih perlu mengambil keputusan: bacaan mana yang akan saya lanjutkan di waktu yang terbatas itu. Apakah mau menambah satu bab di novel thriller yang sejak tiga minggu lalu nggak kelar-kelar dibaca? Ataukah memilih menikmati bab terbaru shounen manga yang baru dirilis kemarin? Mungkin sebaiknya saya baca artikel viral terkait pengalaman wartawan iseng-iseng jadi kurir marketplace yang sudah berhari-hari mangkrak di tab Bookmark? Atau justru mencoba bab perdana dari webtoon yang direkomendasikan hampir seluruh orang yang saya kenal?

Decision, decision...

Terus terang, ketika sesama pembaca buku memaparkan pencapaian mereka, misalnya "Aku baca 25 buku dalam sebulan, ini dia judul-judulnya!" saat itulah benak saya kembali mempertanyakan apakah diri ini masih layak menyatakan klaim sebagai orang yang suka baca. Muncul keraguan dan kecurigaan yang menyeruak. "Tuh lihat, orang lain yang ngaku suka baca tuh bisa melakukan sejauh itu, kok. Kamu apa kabar?" Jangan-jangan saya ini impostor? "What if I am nothing more than a poser?" Terlebih ketika mendengar cerita bahwa seseorang yang saya kenal sedang mengalami reading slump dan hanya sanggup membaca buku sejumlah jari sebelah tangan. Hati kecil saya berbisik, "Kamu pas reading slump bisa nggak menyentuh apa pun sama sekali dalam sebulan, lho. Apa nggak malu?"

While I know this thought is not the healtiest, if at all, it's just inevitable. Bukan berarti saya melarang-larang atau tidak suka melihat orang lain menceritakan keberhasilan perjalanan membaca mereka. My feelings are my own business. Me ending up questioning myself is not anyone's fault. Really

But then again, does my love for reading still count and matter when I cannot even finish one book? What kind of reader does that make me?


Saya sampai detik ini masih berusaha mencari jawabannya.

z. d. imama

Sunday, 25 July 2021

(Maybe) I don't want kids and people are mad about it.

Sunday, July 25, 2021 1


Mau mulai dari mana, ya. Bingung juga. Beberapa hari terakhir ini feed media sosial saya (Twitter) ramai membicarakan tentang keputusan orang-orang untuk tidak memiliki anak, yang istilah populernya adalah "Child-free". Jujur, saya tidak terlalu menyukai terminologi ini. Frase "Voluntary childlessness" yang ada di Wikipedia justru lebih cocok bagi saya sendiri. Tapi itu perkara lain. Saya nggak mau membahas semantik. Berhubung "childfree" lebih populer, selanjutnya saya akan pakai istilah itu di sini meskipun nggak demen-demen banget.

Semalam saya secara tidak sengaja menemukan postingan di internet yang mengkritisi penyebarluasan pemahaman konsep childfree sebagai 'masalah'. Perspektif ini bikin dahi saya berkerut. Apalagi, yang menuliskan seorang laki-laki, yang jelas tidak mengalami kehamilan, melahirkan, menyusui, dan secara umum tuntutan sosial terhadap keterlibatan dia di masa tumbuh-kembang anak tidak seintens perempuan. Bagaimana postingan tersebut mencampuradukkan komentar klasis ala-ala netizen abai seperti "Kalau miskin jangan punya anak dulu" dan secara tidak langsung mengasumsikan childfree sebagai sesuatu yang antagonistik juga tidak menolong. 

Terlepas dari alasan-alasan pribadi yang membuat seseorang tidak berkenan memiliki anak, pada hakikatnya childfree merupakan kesadaran bahwa berketurunan adalah pilihan. Bahwa untuk tidak memiliki anak, terlebih lagi anak biologis, merupakah sebuah opsi yang solid di kehidupan. It's not a crime when you choose not to have kids. Not to give birth. It's not a shame. It's just another choice in this life of yours. Intinya kan di situ.


Kenapa kesadaran bahwa "berketurunan atau tidak merupakan hal yang bisa dipilih" menjadi penting untuk diinformasikan kepada yang lain? Meme di atas, meskipun niatnya pasti cuma buat lelucon, justru merangkum salah satu perkara terbesar terkait masalah keturunan ini: tekanan sosial. Manusia, khususnya perempuan, sudah terlalu lama dinilai dan distigmatisasi berdasarkan kondisi serta kemampuan reproduksinya. Apakah dia perawan atau tidak. Bisa punya anak atau tidak. Sudah dewasa tapi belum menikah, ditakut-takuti nanti tidak bisa punya anak. Bahwa tidak ada yang mau menerima sebagai pasangan. Jangan mau dengan perempuan yang lebih dewasa, dia sudah tua dan organ reproduksinya tidak seaktif sebelumnya. Kemandulan adalah aib. Tidak berketurunan diberikan berbagai label tak mengenakkan, mulai dari egois hingga menyalahi kodrat. Tidak perlu bersikap munafik atau menampik dengan mengatakan "Nggak ada yang maksa untuk punya anak" atau "Komentar kayak gitu sih kamu karang-karang sendiri". We knew. We've heard of them. The pressure is real. And when people cave in to these pressure, there are real life consequences. Abandoned children. Unhappy family. Build-up hatred. Losing self-worth. Masih banyak lagi kondisi-kondisi fatal yang tidak bisa saya jabarkan satu per satu di blog yang isinya cuma buat curhat dan nyerocos tentang kultur pop ini.


Pandangan bahwa sebuah keluarga tidak sempurna dan tidak lengkap tanpa anak juga bukan sesuatu yang saya setujui. Maybe we all need to learn to feel 'enough'. Sama halnya dengan keluarga yang hidup bahagia tanpa ayah atau tanpa ibu, saya percaya bahwa pasangan suami-istri yang tidak memiliki anak juga tetap harus diakui bersama sebagai satu keluarga yang solid. Saya sendiri hingga detik ini tidak berencana berketurunan (ini saatnya kalian mengejek saya, "Yaelah nikah aja belum tentu bisa atau enggak, udah mikirin perkara anak!"). This planet is dying, disease-ridden, and the adults are awful and I just don't want to deliver another soul to this terrible, horrible world. My eggs are going straight to the menstrual pads and cups for the time being. Take this whatever way you want, oh dear strangers on the Internet realm.

Salah satu hal yang paling sering diributkan adalah tuduhan bahwasanya childfree menganggap anak-anak sebagai beban. Menurut saya sih ini agak kocak, karena secara umum memang anak-anak dikategorikan 'tanggungan orang dewasa'. Memang perlu ada kompromi. Memang perlu ada pengorbanan di level tertentu ketika seseorang merawat dan mengasuh anak-anak—terlebih yang usianya masih sangat belia. Some people might not want that because they have other things to prioritize. Some just doesn't feel having the capacity to do so. It's fine. Lagipula, apakah bukan kita yang kerap mengucapkan, "Wah lu enak ya masih bisa jalan-jalan, gue mah ada anak sekarang"? Apakah bukan kita yang kerap bersikap kurang menyenangkan, mendesak orang dengan menggunakan anak-anak sebagai buffer? Memotong antrean dengan kalimat "Saya diduluin dong, ini mau nganter anak ke sekolah"? Haven't we for years been using kids as our excuse? Why you mad now, Bro?

Pada akhirnya peran utama konsep childfree yakni memberikan dukungan kepada mereka yang megap-megap di bawah tekanan, serta mereka yang tidak menghendaki keturunan—apa pun pertimbangan pribadinya. You don't have to. There is no need to be ashamed. It does not lessen our value as a person. It's not a 'wrong' thing to do. It's a valid life choice. Sama halnya dengan seseorang bisa mengonsumsi minuman beralkohol karena punya organ pencernaan tapi memilih untuk tidak mabuk, sah-sah saja bagi seseorang apabila ingin tidak menggunakan organ reproduksinya untuk berketurunan. Jika ada yang merasa terganggu dengan diakuinya pilihan childfree ini dan tidak suka terhadap semakin banyaknya orang yang menyadari bahwa keputusan ada di tangan mereka, then I don't know, dude, maybe you're a chunk of the problem iceberg?

Dah gitu doang.
Saya mau balik ngewibu lagi.

z. d. imama

Tuesday, 25 May 2021

I watched "Tengoku to Jigoku: Psycho na Futari" all night long and now I can't stop thinking about it.

Tuesday, May 25, 2021 2


Selamat tahun baru 2021. Selamat tahun baru Imlek 2572. Selamat Hari Raya Idulfitri 1422 H. Wow, ternyata waktu sudah berlalu sekian lama dan banyak sekali hal-hal yang terlewati tanpa saya menyentuh blog ini sama sekali. Membiarkan sarang labah-labah, debu, bakteria, kenangan, dan entah apa lagi menumpuk dan menimbun password situs semenjana tak berharga ini dari memori saya. Lalu, apa yang berubah? Apa alasan saya memutuskan menyingsingkan lengan baju dan pulang ke blog pribadi, bersusah-payah menyusun kata-kata panjang untuk entah siapa? Berharap akan ada seseorang yang menekan tombol klik di tautan yang mengantarkan mereka kemari? Apa motivasi saya melakukan ini semua?

Jawabannya: 
Karena saya menangis semalam suntuk.

Saat ini jam di kamar saya menunjukkan pukul 04:55 AM dan kedua pipi saya masih dibanjiri air mata. Sepasang mata saya masih basah. Muka saya merah. Sembap sampai bengep. Sepanjang malam, selama nyaris 500 menit lamanya, saya terpaku di hadapan laptop dan menyaksikan kesepuluh episode serial drama Jepang, "Tengoku to Jigoku: Psycho na Futari" (Heaven and Hell: The Psychotic Duo) tanpa jeda seperti orang kesetanan. Saya tidak bisa berhenti. Nggak mau. Nggak rela. Seolah-olah kalau saya nggak langsung nonton semuanya sampai tuntas maka saya tidak bisa hidup tenang. Tapi sekarang, nyatanya, lima ratus ajigile menit kemudian, saya juga tidak merasa hidup dalam kedamaian. Cerita, dialog, dan karakter-karakter dalam drama Tengoku to Jigoku tampaknya masih akan menghantui saya setidaknya hingga satu atau dua pekan mendatang.

I'm haunted and I like it.


Pada dasarnya, premis "Tengoku to Jigoku: Psycho na Futari" adalah seorang detektif polisi perempuan bernama Mochizuki Ayako (diperankan Ayase Haruka) yang mengalami insiden bertukar tubuh dengan tersangka pembunuhan berantai, pria kaya-raya mencurigakan dengan nama Hidaka Haruto (dibawakan dengan amat sangat apik oleh Takahashi Issei). Bukanlah sesuatu yang baru, kan. Boro-boro istimewa, baru aja kagak. Kisah penjahat yang bertukar posisi dengan penegak hukum sudah berulang kali dieksekusi. Tapi apakah Tengoku to Jigoku berhenti di sana? Apa yang membuat serial drama ini meraup rata-rata rating di atas 15%, yang mana bagi sebuah sinetron televisi di era banjir konten seperti sekarang adalah sebuah prestasi luar biasa?

Daya tarik awal, selain jajaran nama-nama aktor besar mentereng seperti Ayase Haruka, Takahashi Issei, Mizobata Junpei, Kitamura Kazuki, Emoto Tasuku, dan lain sebagainya adalah kualitas akting. Untuk aspek ini terus terang saya harus memberikan mahkota kepada Takahashi Issei, yang hampir sepanjang serial harus memerankan Mochizuki Ayako yang terjebak dalam tubuh Hidaka Haruto. WAH KACO MEN. GESTUR DAN GERAK-GERIK FEMININNYA OKE BANGET. Cara bicaranya. Tatapan matanya. Cara dia pakai jaket. Udahlah Om ambil pialanya. Ambil sepedanya. Ambil mobilnya. Ambil permatanya. Ambil uangnya. Borong dah.

PERHATIIN DEH ITU CARA DUDUKNYA MAS ISSEI... PAHANYA NGATUP...



Tokoh-tokoh pendukung yang ada bisa dibilang hampir semuanya punya motivasi dan tujuan. Nggak sekadar tempelan. Kepribadian masing-masing cukup distinctive. Bahkan karakter yang diperankan Kitamura Kazuki, Kawahara Mitsuo, detektif senior berangasan yang seksis dan menjengkelkan maksimal sampai-sampai dijuluki 'Sekuhara' (sexual harassment) diam-diam oleh Mochizuki, tanpa terkecuali berhasil mendapatkan respek dari saya yang secara pribadi menganggap bahwa diri ini feminis. Each of them has flaws and everyone gets their moment of redemption. Suka. Suka banget.

BAPAK INI SEBENERNYA PEKERJA KERAS, GAES. TAPI NYEBAHI.

Dinamika antarkarakter yang tidak kalah menarik disimak adalah antara Mochizuki dan kombi juniornya, Yamaki Hideo, serta roommate-nya, Watanabe Riku. Agak-agak kayak cinta segitiga padahal ya nggak tepat dibilang gitu. Lebih mirip dua orang yang sama-sama berjuang mendapatkan perhatian tersendiri dari Mochizuki. 

Saya yakin kalian akan mempertanyakan kenapa Yamaki bisa lulus akademi kepolisian.

Teman sekamar merangkap layanan cleaning service.

Sekelumit elemen mitos rada klenik yang menghiasi Tengoku to Jigoku, menurut saya, memperkaya cerita ini. Selain itu juga ada sedikit elemen komik (manga) diselipkan di sejumlah episode. Beberapa panel ditampilkan dengan gaya animasi yang lumayan creepy. Atmosfer keseluruhan serial drama Tengoku to Jigoku terbilang serius, namun banyak momen-momen kecil yang kocaknya amit-amit. Efektif mencairkan tensi yang barangkali di beberapa menit sebelumnya agak terlalu naik. 

 

Poin terbaik: PLOTTING. Anjay kece parah. Foreshadow-nya oke. The timing for every single revelation is just right. Nggak ada hal-hal yang terasa 'disimpen kelamaan cuma demi ngasih plot twist', tapi penghujung setiap episode selalu menyisakan sesuatu yang bikin penonton deg-degan dan penasaran. Semakin ditonton semakin  membuat saya sebagai audiens di hadapan laptop bertanya-tanya dalam hati apakah tindakan mencurigakan yang diambil suatu karakter akan mengarah ke perkembangan yang saya duga. Pembagian apa saja yang harus terjadi di episode keberapa bener-bener kayak nggak terkalahkan. Tengoku to Jigoku berhasil membuat saya merasa kangen, kayak udah lamaaaaaaaaaaa sekali tidak menemukan serial dengan ritme cerita sesolid ini.

Ratusan judul drama yang pernah saya saksikan sedikit-banyak memberikan pelajaran berharga: pada serial drama televisi Jepang, perkembangan tertinggi alias momen puncak nyaris selalu ada di episode ketujuh. Biasanya di titik ini, all cards are out. Seluruh ekposisi telah keluar dan saatnya bola digelindingkan menuju konklusi.

PERINGATAN: EPISODE TUJUH KAMPRET ASLI. KAGAK NAHAN.


Ya Allah. YA ALLAH. Saya nggak peduli apakah di antara kalian yang akhirnya (entah bagaimana) memutuskan nonton Tengoku no Jigoku akan ada yang berhasil menebak arah perkembangan ceritanya, tapi jika kalian nggak nangis di sini, minimal merasakan sesuatu... man, I have to tell this: you're hopeless as a human being. Dahlah mending jadi patung tugu Pancoran aja.

BUT THEN THE FINAL EPISODE HITS WORSE.


Muka saya berasa transformasi ke air terjun Niagara saking air mata nggak kunjung berhenti. Banyak dialog-dialog yang saya abadikan sebagai screenshot. Sayang beribu sayang, saya nggak mungkin unggah gambar-gambar layar itu ke sini. Not now. Not here. Not today. Nanti jadi spoiler berat. Saya ingin sebanyak mungkin orang mengalami sensasi "Anjiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiir" dan "AAAAAAAAAAAAAAA" yang menyerang saya bertubi-tubi sepanjang malam. Belum lagi ketika intro ending theme song berjudul "Tadaima" dari Teshima Aoi mulai mengalun. Auto remuk.

Nih. Coba aja dengerin.


Alasan bonus kenapa Tengoku to Jigoku perlu ditonton? AYASE HARUKA CAKEP BENER. Masyallah. Kepribadian Hidaka Haruto yang relatif tenang, karismatik, dan enigmatik khas bapak-bapak eksekutif muda kaya cenderung nge-boost betapa cantik dan kerennya mbak Ayase sewaktu jiwanya berdiam di badan Mochizuki Ayako.


Udahlah, Tengoku to Jigoku bagi saya skornya 100 out of 100. Sesuka itu. Nggak perlu dijabarkan detil aspek-aspek apa saja yang diberi penilaian. Gile baper mentok sampai kayak sejengkal lagi kejungkel dalam lembah stres. Saya mau balik sesenggukan lagi dulu deh. Bye, nice to know y'all.

My feelings on "Tengoku to Jigoku in a nutshell:


z. d. imama

Wednesday, 14 October 2020

I (still) remember. I just do.

Wednesday, October 14, 2020 0

I always remember things. Don't ask me why. I just do. It seems as if Forgetting is a dormant, inactivated feature in me, and if there comes the rare moment where I actually forget about something, then it means nothing more than the system is having a glitch. Time passes by, the seasons change, people come and go, my life goes on, and yet here, I remember.

Every single detail is engraved in my mind like artefact. Reminds me of a huge collage sticking stubbornly on the mirror surface, refusing to peel off. I could close both my eyes and still clearly see each memory behind my lids as if it's a relay of never-ending, overplayed movies. A hodgepodge of cuts with various people starring in it. 

That includes you.

I see a stray cat and remember that afternoon when two kittens climbed into your window as we were spending time watching a pirated version of Aamir Khan's newest movie. I take a cab home and remember the stupid stories about school days I told you drunkenly on those seemingly-everlasting weekend nights. I tie up my hair in a ponytail and feel the way your fingers playing and twisting my locks. I stand under the shower head and my memory pulls forward that moment when I found out you left marks all over me. I switch on my phone and there it is, the memories of you calling, saying we got to stop whatever we were doing for no reason. The wind blows through my unclosed window and I remember you whispering to my ears how much you love me until you don't anymore. Because I'm still the very same old me no matter what happens but you always love something new. Or someone new.

And it's not just you whose traces never leave my mind. 

I still can recall all my regrets. The cruel things I said to people I should have hold dear. The distant ring of a jolly laughter that can be found no longer. The soft brushes of warm skin that has turned ice-cold. The irrevocable mistakes, leaving me with a mountain of ashes from burned bridges I cannot rebuild. The late night calls I picked up despite knowing that it was a game of two lonely persons licking each other's wounds. The sharp rejections that stung too deep I feel their remnants tingling inside even now like a poison to my self-esteem. 

And the broken dreams. 
The unfulfilled promises. 
The many "Someday" that eventually becomes "Never". 

I remember it all.

Probably all too well, just like what Taylor Swift said. 

If this is a gift, then this is a gift that sometimes feels like a curse.

z. d. imama

Wednesday, 7 October 2020

#smellofsoapandshampoo: Reviewing SCARLETT body care series

Wednesday, October 07, 2020 0

 


Saya termasuk orang yang memuja me-time. Pokoknya dalam sehari, harus ada waktu yang didedikasikan khusus kepada diri sendiri untuk menikmati hal-hal yang disuka. Ragamnya macam-macam: bisa nonton video idola, baca buku, bahkan mandi. Iya, mandi. Momen mandi, terus terang, adalah suatu hal yang cukup sakral bagi saya karena kegiatan itu saya asosiasikan dengan membilas bersih rasa lelah seusai beraktivitas seharian. Atau, berhubung semasa pandemi ini kantor saya menjalankan sistem bekerja dari rumah, saat mandi merupakan kesempatan mencuci bersih mood suntuk dan pegal yang timbul akibat berjam-jam berkutat di hadapan laptop kantor. Ada sesuatu yang menyenangkan hati ketika menuang sampo dan sabun ke telapak tangan lalu aromanya menguar ke segala penjuru kamar mandi. Auto happy.

Makanya saya demen banget berburu sabun mandi.
Iya, ini pengakuan dosa.

Saya senang sekali mencari-cari sabun mandi, baik batang maupun cair, yang aromanya menarik minat mencoba. Kadang merembet ke body scrub juga, berhubung kadang badan terasa lebih kotor dari biasanya lantaran ada daki yang mengerak jadi lapisan kulit baru. Pokoknya tiap mampir supermarket, lorong body care selalu menjadi tempat mangkal saya. Bisa betah deh saya bermenit-menit di sana. Mengendus-ngendus aroma sabun mandi, membandingkan satu sama lain. Mungkin perilaku ini tidak layak diteladani, tapi setiap manusia berhak berkelakuan aneh dengan cara masing-masing kan ya? Eh, iya kan?

Anyway,

Kurang lebih beberapa minggu lalu, saya mulai mencoba serangkaian body care dari SCARLETT.


Paket rangkaian perawatan tubuh ini datang ke dekapan saya dalam kotak merah mentereng yang bisa dengan mudah di-repurpose jadi boks penyimpanan barang. Seriusan. Agak sayang kalau dibuang begitu saja. Cakep, kok. Sturdy, pula. Lumayan kokoh dan nggak mudah ambrol. 

Boks ini memuat total enam produk perawatan tubuh, mulai dari shower scrub hingga body lotion. Harganya pun relatif masih oke di kantong, dengan per produk dibanderol Rp75,000. Jika mau dapat boks eksklusif seperti yang nongol di foto atas, bisa ambil paket hemat berisi lima jenis produk seharga Rp300,000. Lebih murah. Nanti masih ditambah dapat free gift. Asyik, kan?

"Be your own kind of beautiful," it says. "Make time for yourself," it says. YES and YES.

Keseluruhan rangkaian body care SCARLETT yang saya coba yaitu tiga varian Brightening Shower Scrub (Pomegranate, Mango, Cucumber), Body Scrub (Romansa), dan dua macam Fragrance Brightening Body Lotion (Charming, Romansa). Bahan kandungan yang dikedepankan oleh produk-produk SCARLETT adalah vitamin E dan glutathione, yang menurut artikel-artikel di internet terkait skincare yang saya baca, berkhasiat menutrisi kulit, melembapkan, serta mencerahkan.

Satu nilai plus untuk SCARLETT yang saya ketahui sewaktu membongkar paket: not tested on animals. Ini klaim bagus sekaligus berani, sih, karena saya masih cukup jarang menyaksikan ada merek lokal yang peduli tentang animal cruelty sampai meletakkannya di kemasan produk. Meski tergolong pendatang baru, SCARLETT juga sudah terdaftar BPOM. Nggak perlu khawatir ada komposisi yang berbahaya, lah. Aman.

Tuh, kelihatan kan? "NOT TESTED ON ANIMALS" mengitari logo kelinci lucu.

Alright.
Now we go straight to the review.

Part I: Brightening Shower Scrub (Pomegranate, Mango, Cucumber)

Behold the Three Musketeers of Shower Scrubs!!!

Masih ingat saya di paragraf atas ngaku-ngaku sebagai orang yang menganggap momen mandi sebagai me-time? I'm staying in character, y'all. Shower scrubs adalah produk SCARLETT pertama yang saya sambar, bawa ke kamar mandi, dan coba pakai di hari itu tanpa pikir panjang. Hingga hari ini, saya masih menggunakan ketiganya secara bergantian tergantung mood. My favorite? Mango. Suuuuumpah wanginya muaniiiiissss banget berasa bermandikan jus buah. Paling saya awet-awet juga saking sayangnya. Keharuman varian Pomegranate lebih lembut dan agak samar, sedangkan aroma Cucumber relatif segar, seakan-akan ada kesan cooling ketika baunya tercium hidung. Masing-masing punya ciri khas tersendiri. Each brings forth different mood.

Tekstur produk ini sedikit lebih encer dan runny ketimbang shower gel, namun lebih kental apabila dibandingkan body wash. Butiran scrub-nya terbilang haluuuuus maksimal. Kulit hampir nggak terasa kalau lagi 'digosok'. Lumer aja gitu dengan gampangnya. And you know what's best? SCARLETT Shower Scrubs pada saat dibilas nggak bikin kulit jadi kering kesat! Woooohooooo!!!! Asli. Segembira itu. Saya capek di-PHP sabun, shower gel, shower scrubs dan teman-temannya yang setelah dibilas justru membuat kulit cekit-cekit saking kesatnya. Saya ini manusia, bukan piring berlumur minyak dan lemak!

Part II: Body Scrub (Romansa)

See the pretty white jar there?

All right. We're getting a bit more scrubby. Selain varian Romansa, SCARLETT juga menyediakan body scrub dalam varian Pomegranate (yang sebagaimana dapat kita lihat di gambar, tidak ikut saya coba karena tidak punya). Sewaktu pertama kali mengangkat jar body scrub SCARLETT ini, terus terang agak kaget. BERAT, SIS. Saya tidak mengalami kekecewaan sedikit pun ketika membuka tutup kemasan dan melepas segel pelan-pelan. The jar is full to the brim. Isinya buanyaaaaaaaaak! Yakin deh, SCARLETT Body Scrub bisa bertahan beberapa bulan lamanya bahkan dengan pemakaian rutin satu atau dua kali seminggu. Padet banget. 

Saya nggak usah berpanjang lebar membahas manfaat body scrub lah, ya. Kita semua sama-sama paham bahwa scrubbing membantu proses eksfoliasi alias pengelupasan sel kulit mati. Membuang dekil. Nah, setelah dicoba, ternyata saya suka sekali bagaimana body scrub dari SCARLETT ini menunaikan tugasnya. Buliran scrub kali ini lebih potent dan terasa ketimbang Shower Scrubs, tetapi masih tetap halus sehingga nggak menimbulkan sakit pas digosok. Nggak perlu khawatir kulit jadi perih apalagi lecet karena tergores scrub kasar. Berhubung body scrub ini juga wangi luar biasa, akhirnya setiap habis mengamplas diri sambil mandi, saya nggak repot-repot pakai sabun atau shower scrub lagi. Supaya aromanya nggak tabrakan.

Part III: Fragrance Brightening Body Lotion (Romansa, Charming)

The popular pair.

Denger-denger, produk SCARLETT yang paling populer alias best-selling adalah body lotion. Tersedia tiga varian, yakni Charming, Romansa, dan Fantasia. Sama halnya shower scrubs, body lotion dikemas simpel dalam wadah identik dengan warna berbeda untuk membedakan antarvarian. And thank god for the pump bottle! Siapa pun anggota tim SCARLETT yang mengusulkan desain botol pompa, you're da MVP. Setidaknya saya tidak perlu repot-repot menjungkirbalikkan botol dengan tangan masih setengah berlumur body lotion. Bagian atas pompa dilengkapi stopper atau safety lock, maka botol bisa mudah dibawa-bawa bepergian tanpa harus memindahkan isi lotion ke wadah lain. Praktis.

Tekstur body lotion dari SCARLETT relatif kental jika dibandingkan merek lain. Saking 'padet'-nya, butuh sedikit waktu untuk memompa produk sampai berhasil keluar pertama kali dari botol. Awalnya sempat cemas bakal sulit diserap kulit, eh ternyata saya salah sangka! Lotion-nya tidak butuh waktu yang lama untuk meresap dan setelahnya tidak lengket. Setelah ngulik info kanan-kiri, saya jadi tahu bahwa ternyata lotion yang bisa memberi efek instant brightening—seperti SCARLETT body lotion—memang teksturnya cenderung lebih kental. #TheMoreYouKnow

Aroma kedua varian body lotion ini juga menyenangkan, bikin rileks, dan yang lumayan mengejutkan: cukup tahan lama. Awet nempel harumnya. Untuk Romansa sih nggak beda-beda amat dengan versi body scrub, bernuansa wangi floral. Saya suka mengombinasikan body lotion Romansa setelah mandi dengan body scrub Romansa (biar makin mantap) atau shower scrubs Pomegranate. Varian yang satu lagi, Charming, it has a tad stronger oriental floral scent, sekaligus diklaim sejumlah orang memiliki harum yang mengingatkan pada parfum Maison Francis Kurkdjian Baccarat Rouge 540. However, to be honest, I cannot vouch for that because I have no idea how that perfume smells like at the first place. Selama ini saya tidak pernah mengendus aroma parfum tersebut, sehingga apabila kalian penasaran, bertanya-tanya setengah tidak percaya, "Bener nggak sih baunya kayak parfum mahal?"

...silakan coba beli dan buktikan sendiri!
*reminiscing that day when I received my care package.*


Kalau tertarik untuk ikut mencoba, produk-produk SCARLETT bisa dengan mudah diperoleh melalui berbagai platform, antara lain:  LINE (@scarlett_whitening), Instagram (scarlett_whitening), Shopee (scarlett_whitening), Sociolla, atau bisa juga via chat WhatsApp ke 087700773000. Niat bener ya saya ini, semua-semuanya dilampirkan...

Ayo mandi pakai sabun wangi supaya tidak mudah stres!

z. d. imama