Friday, 13 September 2019

I left the studio after "Gundala" feeling confused and angry.

Friday, September 13, 2019 5

Malam itu, saya masuk ke studio bioskop yang menayangkan Gundala―film perdana dari rangkaian Jagat Bumilangit―dengan suasana hati biasa-biasa saja. Tanpa ekspektasi. Dua jam kemudian, setelah lampu bioskop kembali dinyalakan dan ending credit bergulir di layar, saya punya hasrat kuat untuk menjambak-jambak rambut sembari melolong. Saya marah. Sekaligus bingung. Sepanjang perjalanan pulang isi kepala saya masih kusut. Setiba di kosan, saya mandi dan beranjak tidur. Berharap di pagi hari emosi yang bergejolak di dalam diri sudah jauh lebih terkendali, dan saya bisa menyingkirkan hal-hal yang membuat Gundala terasa mengganjal. Ternyata, nggak juga. Keinginan untuk ngomel-ngomel masih tetap menggelora.

Saya marah. Saya frustrasi. Rasa marah dan frustrasi ini muncul karena berkali-kali, sepanjang duduk manis di hadapan layar lebar, saya harus berusaha menghibur diri dengan mengingatkan, "Ini baru film pertama dari satu semesta.. Masih banyak yang bisa diungkap di belakang" tiap kali kening berkerut karena dipertontonkan hal-hal mengundang tanda tanya. Tapi sampai kapan mau berlindung di balik tameng 'pembuka sebuah jagat sinema' ketika nyatanya memang Gundala tidak cukup solid dan koheren sebagai film mandiri?

I want to like this movie. Ooooh dear Lord I really do. The first thirty to forty-five minutes was incredibly fun to watch. But as a whole, Gundala to me ends up being something that I can't bear to watch for the second time. And yet at the same time I cannot hate Gundala because, let's face it and let's be real, when it's chopped up into many small shards, even I have my favorite parts. Here and there, it has glorious moments.


"Style over substance"―is what I think describes Gundala's problem in a nutshell. Namun sebelum saya memuntahkan kata demi kata sebagai pelampiasan uneg-uneg pribadi selaku penonton, ada baiknya kepingan-kepingan favorit dibeberkan lebih dulu. Supaya tulisan ini nggak sekadar sambat. Here we go. Also, please welcome: SPOILERS. Proceed only if you've seen this movie, or not minding good scenes being spoilt.

Favorite Piece #1: Masa Kanak-Kanak Sancaka

Bagian terfavorit sepanjang Gundala. Hands down. Interaksi Sancaka dengan tetangganya, dengan keluarganya, dengan anak-anak jalanan lainnya sangat jelas mengarahkan film ini mau ke mana. Meskipun yaa cukup bergelimangan dialog-dialog cheesy di sana-sini. Tapi masih bisa diampuni. Akting Muzakki Ramdhan sebagai Sancaka kecil juara banget. Clueless-nya dapet. Because sometimes life is too quick to keep up with and too much of a nonsense, yet despite your zero understanding, it goes on nonetheless. Adegan Sancaka kecil nendang rantang kiriman tetangga yang mengkhianati keluarganya sampai berserakan―untuk kemudian dipunguti lagi sisa-sisa makanannya dari tanah saking kelaparan sungguh luar biasa. Too stronk.

Sosok Sancaka di sini gamblang tergambar sebagai orang yang lahir dan tumbuh di tengah kemelaratan, sibuk bertahan hidup di tengah kerasnya dunia. Meskipun bapaknya punya semangat berkobar-kobar memperjuangkan keadilan dan peduli pada sesama, Sancaka sepanjang hidupnya justru digempur 'pelajaran' bahwa ikut campur urusan orang lain cuma bikin sengsara, yang dia alami sejak matinya sang ayah. Terus terang, pertanyaan yang muncul di paruh awal film sangat menarik: gimana ceritanya protagonis yang masa bodoh terhadap sekitarnya ini bisa jadi pahlawan?

Tolong siapapun yang bisa ketemu dek Muzakki Ramdhan, saya titip satu kekepan yang kenceng.

Bapaknya Sancaka yang mati dibacok oknum pas sibuk demo buruh.

Favorite Piece #2: Awang, the Best Shounen Boi

Gila. Gila, gila. Pertemuan Sancaka yang nyaris dikeroyok anak jalanan dengan Awang yang datang menolong (padahal aslinya paling malas nimbrung urusan orang lain) adalah personal highlight Gundala bagi saya. Keren banget. THAT ENTRANCE. THAT FUCKING HAIR FLIP. THAT STREET BRAWL SCENE WHICH LOOKED LIKE TAKEN STRAIGHT OUT OF MANGA PAGES, OR ANIME. Oooooooooh boy. I fell in love. Saya berbinar-binar di atas bangku penonton sepanjang durasi kemunculan Awang. Dari sekian banyak karakter yang nongol sepanjang Gundala, boleh dibilang Awang adalah sosok paling efektif. Peranan dia di hidup Sancaka sangat jelas. Awang tidak butuh monolog moralis yang bikin meringis untuk bikin penonton paham bahwa nilai-nilai pragmatis yang dia yakini kadang bertolak belakang dengan suara nurani.

Faris Fadjar you rock!!!! 

Favorite Piece #3: Style (especially when there is little to no substance needed)

Gundala ini film style-over-substance kan, ya. Banyakan fokus ke gaya daripada naruh perhatian ke cerita. Sehingga pada adegan-adegan atau frame yang memang nggak butuh-butuh banget esensi karena bergantung di camerawork atau pengemasan visual, hasilnya emang keren nampol. Butuh contoh? Ghazul disorot dari samping sehingga hanya siluet wajah yang tampak jelas. Anak-anak bekas asuhan Pengkor muncul satu per satu dan siap-siap berangkat bareng naik mobil dengan slow-motion. Those kind of cuts.

Gundala punya banyak visual highlight yang menunjukkan film ini memang punya budget dan para pembuatnya memiliki modal pengetahuan yang mumpuni perihal 'film language', serta bagaimana menonjolkan suatu hal melalui visual dan teknik pengambilan gambar. This is not necessarily a bad thing to flaunt about, really. Bisa menyajikan visual oke? Cool. It's a great thing for your eyes to enjoy. Setidaknya sampai para penonton tersadar betapa memprihatinkannya Gundala dari segi penceritaan.

Now, we're getting into the main course.
HERE COMES MY RANTS, FILLED WITH DISAPPOINTMENT.


Ultimate Problem: The writing. You know.. plot, pacing, storytelling. That.

Gusti Rabbi, pancen kudu nangis. Ambyar, cuk. Banyak suara-suara di media sosial yang menyuarakan perkara plot hole, tapi saya tidak setuju. Gimana mau ngomongin 'lubang' di alur kisah jika alurnya aja... ngalor-ngidul-ngetan-ngulon, semrawut, amburadul, seakan-akan film Gundala juga nggak ngerti mau menceritakan apa? Nggak tahu mau menuju ke mana selepas setengah jam (oke, anggep aja empat puluh lima menit) awal? Penceritaannya lompat-lompat ke sana dan kemari. Banyak hal-hal krusial yang hasil akhirnya kentang. Setengah matang. Gundala should be an origin story. And considering where he comes from, his background, his story should be grounded enough so the audience cares about it. Penonton seharusnya jadi bisa punya kepedulian terhadap Sancaka. Terhadap bagaimana dia akhirnya merasa terpanggil untuk membela mereka yang terpojok, meskipun bertahun-tahun hidup sibuk nyari aman sendiri. Nyari selamat sendiri. Ogah direpotkan oleh masalah orang lain. Namun film ini secara ajaib berhasil bikin saya makin lama makin masa bodoh terhadap protagonisnya. Protagonis, lho!

Momen besar yang menyebabkan Sancaka memutuskan aktif 'menolong orang' dan berhenti bersikap pasif nan apatis gagal dihadirkan. Tidak terasa. Tidak berbekas. Tidak ada hal yang membuat penonton mak dheg di bangku masing-masing dan terkesan dengan pilihan Sancaka. There is nothing at stake here. Padahal motivasi Sancaka untuk nggak mau tahu urusan orang sangat nyata: bapaknya mati dibunuh gara-gara memperjuangkan orang lain, ibunya hilang tiada kabar, dia jadi sebatang kara dan menggelandang sedari kecil. Tapi perkara apa yang berhasil bikin dia mau jadi pahlawan? Karena cetusan satpam senior pas nganterin copet menyerahkan diri? Karena Tara Basro kebetulan ngomong hal yang sama dengan almarhum bokapnya? Lah, ngapain dia harus tertohok sedemikian dalam terhadap kata-kata mereka? Emang mereka berdua siapanya Sancaka? Punya keterlibatan emosional sejauh apa? Lantas orang-orang pasar yang selalu dijadikan alasan Tara Basro mendesak partisipasi Sancaka to the level of guilt-tripping ini punya dampak pribadi apa bagi dia? Becoming superhero is a job that demands constant selflessness, yes, but the reason for that huge first step is almost always.. arguably selfish. Something, someone, or whatever immensely close to youPersonal. Yet I shall repeat: there is nothing at stake here.

And dear Lord, why is the storyline THIS convoluted???? Cerita Gundala rusuh banget sampai-sampai semua terasa seperti subplot, bahkan untuk kisah semendasar perjalanan―baik fisik maupun psikologis―Sancaka jadi Gundala. Which is immensely sad, because isn't the origin story of Gundala supposed to be the main body of this movie?


Saya juga mau bahas sedikit tentang Pengkor. Sure he is great villain, the one people should be careful about, or even fear. Pemaparan betapa menakutkannya Pengkor dengan memanfaatkan seorang anggota DPR muda tereksekusi dengan sangat, sangat, SANGAT bagus. Tensinya kece sumpah. Sang anggota dewan mempermalukan Pengkor di hadapan orang lain. Dia diingatkan kenapa sebaiknya tidak macam-macam terhadap Pengkor. Sepanjang perjalanan pulang, dia kepikiran dan diselimuti ketakutan, yang lalu berakhir dengan kematiannya. Anggota DPR tersebut terjun dari gedung apartemen akibat efek hipnosis anak buah Pengkor. Sepanjang satu kasus ini, ketegangan dan suspense yang dihadirkan benar-benar terjaga. The audience could actually sense the danger. Mantap.

Sayang, keemasan ini justru dirusak sendiri oleh film Gundala di penghujung film. Setelah terluka parah di showdown pamungkas dengan Sancaka―which was painfully anticlimactic and lukewarm at best, Pengkor sibuk bermonolog panjang memaparkan motivasinya menyebarluaskan serum amoral dan antidote palsu yang mana saya sama sekali nggak ngerti. Sekaligus nggak percaya. I don't buy his bullshit at all. Pengkor, sosok antagonis buruk rupa yang hidupnya susah lantaran jadi korban pembakaran, disiksa pengurus panti asuhan, dicibir, digunjing, dan disepelekan, saya pikir nggak punya urusan terhadap apakah rakyat pintar atau bodoh. Apakah generasi baru akan bisa membedakan hal baik dengan hal buruk atau tidak. Barangkali saya justru jauh lebih maklum dan paham jika alasan Pengkor menyebarkan serum berbahaya yang dampaknya bikin bayi terlahir cacat adalah―misalnya―keinginan agar orang lain merasakan yang dia alami. Hidup dipandang sebelah mata dan ditatap dengan raut aneh hanya gara-gara fisiknya rusak. Karena cacat. As petty as it is, at least such personal revenge is believable. Not everyone should be anything like Thanos whose 'selfless' ambition affects all living things, you know.


Lagipula ngapain sih konfliknya harus bawa-bawa rakyat dan DPR? Harus bawa-bawa masa depan generasi penerus bangsa? Pakai bawa-bawa keadilan sosial? Kejauhaaaan. Kegedeaaaan. Cannot relate, brothers and sisters. Pahlawannya bahkan baru di level berantem lawan preman perusuh dan pelaku pembakar pasar! Kostumnya masih makeshift dari benda-benda yang bisa didapet di Ace Hardware! Emang kenapa kalau secara kebetulan Sancaka hadir tepat waktu untuk nolong anggota DPR yang diserang pembunuh di perhentian kereta api? Apakah itu cukup kuat untuk bikin dia iya-iya aja saat dituntut turun tangan menangani masalah skala nasional? Apakah itu juga membuat Sancaka bisa dengan tenang pakai kostum baru yang secara terang-terangan dibilang bahwa dibiayai oleh uang rakyat?

I... don't think so.

Gundala is also unbelievably preachy. And ambitious. And pretentious. Andaikata saya nenggak alkohol tiap kali nongol ceramah moral lewat dialog, pas ending credit bergulir mungkin udah sukses jackpot di toilet bioskop. Saya bisa banget lho hidup tanpa harus menatap anggota DPR ngomong dengan muka memenuhi layar, "Apa itu amoral? Jadi LGBT?" atau bapak-bapak satpam tua ngomel, "Kalau gak peduli sesama, ngapain jadi manusia?" sambil naik motor butut saat dia berangkat nganter copet yang diuber warga ke pos polisi terdekat. Padahal nggak mustahil untuk bikin adegan-adegan bermuatan positif tanpa harus berulang kali, bertubi-tubi, melemparkan kalimat-kalimat yang seolah menuntut dilabeli 'PESAN MORAL' ke penonton. Then why going this route?


Kalau sampai sekarang masih nggak ada satu orang pun di lingkungan terdekat yang menepuk bahu Joko Anwar―atau barangkali hati nuraninya sendiri sudah terketuk―dan bilang, "Jok, mendingan lo rekrut penulis skenario film untuk proyekan Bumilangit ke depannya deh. Lo bisa fokus di penyutradaraan" demi perkembangan jagat sinema ini.. ya hehehe aja. Tenggelam dalam kubangan yes-man memang menyenangkan, kok.

To be fair, Joko Anwar is NOT necessarily a bad scriptwriter. However, I dare to say that Gundala is his most messy work in the last few years of his career. Joko Anwar's strong point, I think, is that he's good at smoothly elaborating simple story into a particular length. But first, the essence or the nucleus of such story must be 'small' enough, as proven in A Copy of My Mind or even Pengabdi SetanWhich isn't exactly the case with Gundala.

Saya udah cukup berpartisipasi dalam mencerahkan masa depan perfilman nasional di Indonesia apa belum nih, om Joko Anwar? Saya, seorang penonton semenjana, apakah telah menjelma jadi ahli skenario dadakan menurut om Joko?


Hingga Gundala rilis, jujur nih, tadinya saya termasuk salah satu dari orang-orang yang berprasangka baik terhadap bagaimana Joko Anwar menghadapi kritik. Khususnya yang disampaikan secara apik, jelas, dan terstruktur, syukur-syukur sopan. Kritik yang nggak sekadar ngomong "Apaan nih jelek" doang, baik itu dilakukan oleh penonton maupun sesama pekerja dunia perfilman. Ternyata ya.. segitu-gitu aja. Hehehe.

z. d. imama

Sunday, 25 August 2019

Attending "The Junctions of Fiction": Yuki Kajiura Live Vol. #15 in Hong Kong

Sunday, August 25, 2019 0

Sosok dan nama Kajiura Yuki saya kenal saat masih duduk di bangku pendidikan Sekolah Dasar. Itu pun baru sekadar tahu. Terima kasih sebesar-besarnya saya haturkan kepada serial anime Gundam SEED yang dengan ending song terbaiknya, あんなに一緒だったのに (Anna ni Issho datta no ni―Although we were always together), membuat saya menyadari eksistensi grup duo See-Saw. Ishikawa Chiaki mengisi vokal, sementara sosok di belakang keyboard yang bertanggung jawab dalam aransemen dan segala tetek-bengek penulisan lagu adalah Kajiura Yuki. Memang secara konsep, See-Saw ini persis Ratu tapi versi wibu. Gimana ya. Cewek berdua. Satu orang vokalis, satunya lagi keyboardist merangkap panitia umum. Kurang mirip apa. Sekarang grupnya sama-sama udah bubar pula.

Semenjak hari bersejarah yang terjadi kurang lebih sepuluh tahun silam itu, saya berusaha mengikuti karya-karya Kajiura Yuki. TERNYATA BUANYAK BET. Diskografinya tidak sedikit berupa musik serta lagu-lagu untuk serial anime, drama, bahkan gim. Musik yang lahir dari tangan Kajiura Yuki terbilang... kompleks. Rincian genre yang tertera di laman Wikipedia ada seabrek: baroque pop, contemporary classical, world music, electronic, folk, orchestral, new-age, ambient, electronica, dark ambient, progressive rock, progressive metal, operatic pop... dan masih banyak kategori lain yang saya sama sekali nggak ngerti apa deskripsinya dan bagaimana teori definisinya. Saya cuma tahu bahwa semua musiknya, yang mana pun penggolongan mereka, terdengar sangat indah dan megah di telinga.

Masih ingat Kalafina? Grup vokal trio yang beberapa kali saya singgung namanya dalam blog dan baru pecah kongsi awal tahun 2018 silam saya bela-belain beli tiket VIP pas datang ke AFAID 2013 lalu, juga diproduseri Kajiura Yuki. Masa-masa saya berandai-andai halu, berharap bisa datang menyaksikan langsung konser yang kerap dinamai "Fiction Junction"―pseudonym Kajiura Yuki saat berkarir solo―pun berlangsung sekitar satu dekade lamanya. Hingga hari Minggu bersejarah tanggal 4 Agustus 2019 silam terjadi, di mana saya berada dalam Asia-World Expo, Runway 11, Hong Kong, menatap sosok komposer kesayangan menggeber lagu demi lagu bersama tim band serta vokalis-vokalisnya dalam konser bertajuk "Yuki Kajiura Live Vol. #15 ~The Junctions of Fiction~" dengan muka beler lantaran tidak berhenti menangis.

LOOK WHAT YOU MADE ME DO, KAJIURA YUKI.
*In Taylor Swift's voice*

Jajaran vokalis dari kiri ke kanan: Joelle, Kaida Yuriko, Keiko, dan Kaori.

Playback Historia: opening theme mengalun dari speaker sewaktu saya menapakkan langka perdana ke dalam ruangan konser, mengikuti arahan staf penyelenggara. Pada detik yang sama, kenyataan yang semua masih terasa ngambang di awang-awang, menghantam benak saya. Menyadarkan diri di mana lokasi saya berada. Apa yang hendak saya lakukan. Apa yang bakal saya alami tidak lama lagi. Ujung-ujung jari tangan dan kaki saya terasa sedingin es. One of my ultimate, seemingly distant and unreachable wish that has been dormant for a decade or so, is about to come true. I'm here. I'm living the ten years old dream. What the hell.

Jam di layar ponsel menunjukkan 17:15. Lampu ruangan dipadamkan. Penonton bersorak riuh dan bertepuk tangan. Bulu kuduk saya meremang. Overture mengalun. Panggung masih remang-remang cenderung gelap ketika siluet Keiko muncul tepat di tengah-tengah berbarengan dengan dimainkannya The main theme of 'Kimetsu no Yaiba', lagu tema serial animasi yang masih tayang di televisi Jepang saat postingan ini saya unggah. Barangkali hal ini akan sulit dipahami orang-orang yang sejak awal bukan merupakan penggemar, namun partisipasi Keiko pada tur Yuki Kajiura Live Vol. #15 punya arti luar biasa besar setelah bubarnya Kalafina. Apalagi dengan setlist yang menempatkan dia sebagai vokalis utama di lagu perdana. This appearance, my friend, marked Kubota Keiko's comeback to the scene. Her return to Kajiura's troop. Emerged from the dark, silhouette first and then came into the light, standing right in the middle of high stage while beautifully doing melismatic singing. It was an outstanding moment. Incredibly moving, even soul-stirring―at least to me. Then Joelle, Yuriko, and Kaori joined on stage to perform the chorus together before medleying the song with to destroy the evil.


One of the best shivers in my life, to date.


Membekali diri dengan segepok tisu adalah keputusan bijaksana. Wajah saya sudah klomoh total di lagu berikutnya, Old-fashioned fairy tale. Lagu-lagu yang dilantunkan Kajiura Yuki dan keempat vokalisnya malam itu terbilang komplit. Terbagi dalam segmen-segmen terstruktur. Tiap segmen punya jatah masing-masing, mulai dari soundtrack yang liriknya didominasi Kajiurago―bahasa artifisial buatan Kajiura Yuki pribadi yang tidak punya aturan khusus dan sekadar terdiri dari silabel-silabel nirmakna―hingga lagu-lagu berbahasa Inggris seperti maupun Jepang.


Sesi MC secara umum dilakukan dalam bahasa Jepang, dengan selingan sekelumit bahasa Inggris dan Mandarin. Kajiura Yuki memperkenalkan satu per satu anggota band dan para vokalisnya, menjelaskan konsep Kajiurago supaya para noobs nggak bingung, serta ngobrol-ngobrol ringan yang tidak jarang memancing tawa penonton. Sepanjang konser ada sekitar enam sesi MC. Lumayan ngasih saya keleluasaan untuk bernapas lega, nggak mewek terus-terusan. Ya Allah, saya sayang bangettt sama budhe satu ini.

Setlist lengkap Yuki Kajiura Live Vol. #15 ~The Junctions of Fiction~ 2019 in Hong Kong:

  • M1. The main theme of 'Kimetsu no Yaiba' + to destroy the evil (special arrangement, from 'Kimetsu no Yaiba')
  • M2. Old-fashioned fairytale (from 'Kubikiri Cycle Aoiro Savant to Zaregotozukai')
  • M3. Fake wings (from '.hack//SIGN')
  • M4. I swear
  • M5. Forest (from 'El Cazador de la Bruja')
  • M6. Sweet Song (from 'Xenosaga II')
  • M7. Petals and butterfly (from 'Fate/Stay Night: Heaven's Feel part II [lost butterfly]')
  • M8. he comes back again and again (from 'Fate/Stay Night: Heaven's Feel part II [lost butterfly]')
  • M9.  absolute configuration (from 'Puella Magi Madoka Magica: Hangyaku no Monogatari')
  • M10. 星屑 (Hoshikuzu)
  • M11. 風の街へ (Kaze no Machi e) (from 'Tsubasa: Reservoir Chronicle')
  • M12. Elemental
  • M13. Storytelling
  • M14. Moonlight Melody (from 'Princess Principal')
  • M15. L.O.R.D main theme (from 'L.O.R.D: Legend of Ravaging Dynasties')
  • M16. Fiction
  • M17. vanity
  • M18. in the land of twilight, under the moon (from '.hack//SIGN')
  • M19. Luminous Sword (from 'Sword Art Online')
  • M20. she has to overcome her fear (from 'Sword Art Online')
  • M21. maybe tomorrow (from 'Xenosaga III')
  • Encore: M22. The world (from '.hack//SIGN')
  • Encore: M23. stone cold (from 'Sacred Seven')
  • Encore: M24. Zodiacal Sign (from 'Aquarian Age')

Saya nggak sanggup berkata apa-apa lagi. I feel like words are inadequate to express what I feel. What I witnessed that lovely evening. Attending this live show means huge to me. Makin baper karena penyelenggaraan konser hari itu berdekatan dengan ulang tahun Kajiura Yuki, sehingga pada sesi menjelang encore, penonton bersama-sama menyanyikan Happy Birthday to You (ini tuh judul lagu sebenernya apaan deh?) secara terus-menerus hingga mereka semua naik panggung kembali. I love this warmth of a fandom.

Berangkat masih bisa selfie, pulang-pulang sudah ambyar berserakan nggak karuan dan cuma sanggup foto barang-barang bukti sambil mungutin serpihan-serpihan hati. Even now, I'm still in my withdrawal phase. Entah bakalan bertahan sampai kapan.

    
Perbedaan Before-After yang sungguh nyata.

Semoga budhe Kajiura Yuki sehat selalu dan panjang umur, senantiasa menikmati proses berkarya, tetap mengeluarkan musik demi musik di tahun-tahun mendatang. To imagine that I'm going all out and becoming this worked up for a lady in her 50s―and not, you know, young, emerging male pop star in his 20s with impressive abs or biceps or whatever―is WILD. But I'm just a prisoner of love. *in Utada Hikaru's voice*

z. d. imama

Friday, 2 August 2019

A very spoilery review of Meitantei Conan 23rd movie: Konjou no Fist

Friday, August 02, 2019 5

Bicara tentang film-film bioskop Meitantei Conan, entah sejak kapan―kayaknya sih mulai dari film keduabelas―segala pola, repetisi, hingga hal-hal ajaib yang muncul membuat perspektif saya dalam memandang film Conan berubah. Pindah genre. Jadi komedi. Sehingga, alih-alih kesal atau gondok saat berhadapan dengan adegan atau dialog yang dih-apaan-banget-anjir, saya menerima hal-hal itu sebagai sebuah lelucon. Conan dilempar keluar kabin pesawat oleh penjahat? Ahzek. Conan mendadak bisa menyanyikan suatu lagu secara pitch perfect padahal dia sejatinya paling buta nada? Bagooos. Conan naik skateboard dan sanggup mengimbangi kecepatan mobil sport yang sedang ngebut bahkan ngobrol dengan pengemudi mobilnya? Mantap gan.

It works wonder to me.

Sebagai penggemar veteran serial berkepanjangan ini, tentu saya tidak pernah melewatkan kesempatan nonton filmnya yang diboyong ODEX ke Cinemaxx dan CGV. Begitu pun dengan film terbaru tahun ini. Meitantei Conan: Konjou no Fist―yang dialihbahasakan menjadi Detective Conan: The Fist of Blue Sapphire―jelas wajib saya saksikan. Maklum, haus hiburan. Saya berangkat tanpa menyimak trailer maupun teaser sama sekali. Biar lebih greget. Woro-woro bahwa film ini berlatarkan di Marina Bay Sands, Singapura bikin saya makin antusias. Ekspektasi saya hanya satu: landmark populer milik negara tetangga itu jelas akan hancur berantakan. Luluh lantak jadi puing. Lemme witness!!

PERINGATAN:
Sebagaimana judul tulisan di atas, ulasan ini akan berhias screenshot dari trailer serta teaser clip, bertaburan spoiler dan komentar-komentar menyebalkan penuh rasa cinta, dedikasi, dan kasih sayang. Proceed only when such things are your kink. I mean, when you're into that stuffs. If that's your interest.

"Sudah siap? Pokoknya jangan di-salty-in yah!!!" - Kaito Kid.

Film dibuka dengan sebuah adegan pembunuhan yang terjadi terhadap cici-cici pengacara Singapura setelah dia ngobrol di restoran hotel dengan bapak-bapak dandy kumisan bernama Leon Lowe, dalam bahasa Inggris yang sama sekali nggak punya nuansa Singapura. Baik logat maupun struktur bahasanya. Where's the Singlish??? Gak riset gara-gara sibuk berkubang day job kayak Ika Natassa atau gimana nih?? Yaudah gapapa. Namun kemudian bom meledak di parkiran, orang-orang berhamburan panik, dan Merlion pun tiba-tiba muntah darah memancurkan air berwarna merah. Wow, mejik! Muncratnya ngegas banget, pula. Tapi tenang. Gak ada korban jiwa. Tujuan adegan tersebut akan terkuak di akhir cerita.. yang sebenernya tetep menggelikan.


Balik ke Jepang dulu. Conan merengek-rengek di hadapan Haibara Ai agar dikasih antidote sementara APTX4869 supaya dia bisa naik pesawat ke Singapura sebagai Kudo Shinichi, jalan-jalan bareng Suzuki Sonoko dan Mouri Ran yang mau nonton pertandingan karatenya Kyogoku Makoto. Adegan ini kian menyakinkan anggapan saya bahwa posisi Haibara Ai didegradasi secara drastis dari rekan a.k.a partner ke tukang obat at your convenience. Bedebah. Tentu saja, Ai nggak kasih. Good girl. Jangan mau diperalat seenaknya demi agenda pacaran Shinichi! Di perjalanan pulang dari rumah Profesor Agasa Hiroshi sambil bersungut-sungut, Conan malah bertemu Kaito Kid yang menyamar sebagai Ran, dan diculik.

Bangun-bangun udah di Singapura aja.
Di dalam sebuah koper besar yang terbuka di tengah-tengah ruang publik.
Lengkap dengan kulit sekujur tubuh mendadak jadi item keling. I shit you not.


Emejinggg.

KALIAN MEREMEHKAN CHANGI, YHA. MEREMEHKAN KEAMANAN BANDARA INTERNASIONAL? "Ya udah nanti kamu diselundupin aja masuk koper" adalah guyonan lawas yang sering dilontarkan saat ada orang ingin ikut bepergian jauh namun tak mampu, tapi saya tidak menyangka akan diamini film ini. Tatkala Kuroba Kaito alias Kaito Kid berargumen, menjelaskan kecanggihan dan kemutakhiran koper yang sanggup ngebawa Conan masuk Singapura, saya tidak bisa menahan geli. Mampu kasih suplai oksigen sampai 24 jam? Kebal scan X-ray di gerbang keamanan bandara? Yaelah, gan. Justru bakal dibuka langsung di tempat noh sama petugas.

Sepanjang di Singapura, Kaito menyamar sebagai Shinichi―pilihan bijak, sebab pada dasarnya muka mereka berdua sama―dan Conan harus sok ngaku-ngaku sebagai bocah lokal Singapura keturunan Jepang bernama Arthur Hirai yang ditinggal orang tuanya sehingga hidup sendirian. Iyain aja deh. Toh semua karakter di sana juga percaya-percaya wae. Saya mah kagak. Penduduk Singapura yang berkulit sawo matang bukannya biasanya keturunan India atau Melayu.. Tim produksi film ini tuh mikir apaaaa? Mereka sangka Singapura isinya kebanyakan siapaaaa? Manusia kecil yang diklaim separo Yaban separo bule gitu mana mungkin gosong. Duh Gusti. It's already hilariously funny and we're just at the beginning.

Lanjut cerita dari mana lagi, ya.

Masih inget pembunuhan yang menimpa cici-cici pengacara di paragraf atas? Masalah bermula lantaran ditemukannya kartu bersimbol Kaito Kid di TKP insiden tersebut. Berhubung sejatinya Kaito Kid nggak pernah merasa melakukan itu, makanya dia repot-repot pergi ke negara kecamatan dan ngegondol Conan biar nggak kesusahan menguak misteri seorang diri. Masa udah kena fitnah masih harus berjuang sendokiran. Kasihan atuh. Motivasi Kaito ke Singapura makin besar karena pertandingan karate yang diikuti Kyogoku Makoto ternyata memperebutkan sabuk juara berhias batu safir biru legendaris seharga dunia-akhirat. Mana mungkin dia nggak tertarik kan?

Makanya lain kali bikin trademark icon yang gak gampang ditiru orang

Conan dan Kaito pun bekerja sama. Berkenalan dengan sesosok polisi lokal berpangkat sepele ceremende yang konon, kalau saya nggak lupa-lupa ingat, mengajukan diri secara sukarela untuk mengusut kasus pembunuhan sekaligus prospek pencurian batu safir oleh Kaito Kid. Namanya? Rishi Ramanathan. Gak ngerti sumpah siapa yang sok ngide bikin nama-nama karakter. Sama seperti Conan―eh, maksudnya Arthur―, kulit Rishi item keling sebadan-badan. Sipit juga iya. Bahkan matanya emang merem terus di mayoritas durasi film. Jujur aja penampakan Rishi ibarat anak haram Amuro Tooru dan Okiya Subaru. Hasil percampuradukan yang kualitasnya tidak lulus batas tuntas. Tapi biar desainnya ancur begitu, minimal Rishi banyak berjasa membeberkan semua informasi yang dia ketahui ke Conan, Kaito, serta tentu saja Mouri Kogoro.

Ternyata selain koaya roaya bermandikan harta, Leon Lowe juga anggota kepolisian Singapura. Khususnya sebagai ahli psikologi kriminal. Sabuk turnamen karate berada dalam pengawasan dia, dan bak Suzuki Jirokichi, Leon mengandalkan teknologi supercanggih yang seolah gak peduli berapa duit pas bikin sistemnya demi ngejagain batu permata dari tangan Kaito Kid. Saking ampuh dan cerdiknya perangkap Leon, Kaito nyaris terbunuh. Untung bisa kabur.

Semua tampak oke-oke aja.
Sampai Kaito dicegat Kyogoku Makoto yang mak jegagik nongol di pelataran gedung. Lari menyeruak dari balik kabut dan asap biar makin dramatis.



Sungguh strategi brilian, Pak Leon. Buat apa mengerahkan pengawasan polisi profesional dan ngabisin anggaran kalau tersedia bocah SMA overpowered yang secara sukarela bisa direkrut jadi tukang pukul? Cerdas. Groundbreaking. Saya salut!

Jiper dong Kaito pas lihat siapa lawan yang nongol di depannya. Kyogoku Makoto kan pokoknya dewa banget. Nggak pernah kalah di 400 pertandingan. Semua orang yang kepapar tinju saktinya langsung mental dalam sekali hantam. Terbang. Bagai anai-anai bertebaran. Detik-detik menjelang gepeng kena bogem mentah, nasib Kaito diselamatkan oleh benda bulat misterius yang berekor kayak sperma komet dan bercahaya terang yang melesat secepat kilat ke arah Makoto. Ulangi: BENDA BULAT. BERCAHAYA TERANG.  MELESAT CEPAT. YANG LANTAS DITINJU MAKOTO SAMPAI PECAH BERANTAKAN.




Pada titik ini saya mengalami kesulitan bernapas. Kebanyakan terkekeh. Usut punya usut, benda bercahaya itu cuma bola sepak yang ditendang Conan dari atap bangunan di dekat TKP. Khan maen. Udah macem tendangan-tendangan khas komik Kapten Tsubasa. Namun seolah tidak mau kalah sangar, sepanjang durasi film ini penonton disuguhi kedahsyatan demi kedahsyatan karateka remaja yang terbukti sanggup mengalahkan Thanos dan Avengers sekaligus―minimal di box office.

  • Kyogoku Makoto menghajar segerombolan preman Singapura? Checked.
  • Kyogoku Makoto menghantam bola bercahaya hingga berkeping-keping? Checked.
  • Kyogoku Makoto berlari di tembok layaknya ninja? Checked.
  • Kyogoku Makoto berantem sampai menimbulkan kepulan debu? Checked.
  • KYOGOKU MAKOTO BISA MENGELUARKAN TINJU BERCAHAYA SAAT PERTARUNGAN PUNCAK???? CHECKED.

Widihhhh. Kacoooooo. Berasa nonton Prince of Tennis atau Dragon Ball, dah. Akan tetapi segala keajaiban ini bisa dimaklumi semuanya tanpa terkecuali karena ada kata 'Goku' dalam 'Kyogoku'. Saya ingatkan sekali lagi: ADA KATA 'GOKU' DALAM 'KYOGOKU'.


Leon Lowe yang sejak awal diposisikan seolah sebagai tokoh antagonis, penjahat, sekaligus otak di balik segala kekisruhan dan kerusuhan yang terjadi, ternyata memang demikian adanya. Jangan senang dulu. Penulis skenario Konjou no Fist tampaknya sama-sama terobsesi dengan plot twist, layaknya banyak penonton film bioskop di Indonesia, sehingga pada sepertiga―atau seperempat?―akhir cerita, dimunculin tuh sosok serigala berbulu domba dan bumbu pengkhianatan. Siapa lagi biang keroknya kalau bukan anak haram Amuro Tooru-Okiya Subaru Rishi Ramanathan sang polisi random. Mata yang sejak awal cuma digambar segaris alias sipit pun mendadak melek. Melotot lebar saat Rishi memaparkan backstory tragis penyebab dia punya tujuan balas dendam.

Terus terang, ceritanya panjang dan kusut banget. Bahkan ada kandidat juara turnamen yang motivasi untuk duel versus Makoto begitu besar, hingga mau-mau aja direkrut penjahat. Wow. Benar-benar suatu tekad tak tergoyahkan. Nothing makes sense here, and yet the movie desperately and pathetically try to convince and explain that there is a logical sense in everything, which makes the movie maneuvering sharply from a (hopefully) suspenseful, serious, and mysterious story to something ridiculous and very much full-on comedy. Apakah ceritanya bagus? Nggak. Jelek banget, malah. Apakah menghibur? Suangattt. Infinity level out of ten.

Seperti ekspektasi awal saya: Marina Bay Sands remuk redam. GARA-GARA DIRUDAL BAJAK LAUT. Plus, nyaris ditubruk kapal tanker nyasar. Saya jadi paham alasan iklan turisme Singapura ikut ditayangkan bersama film ini. Demi menyakinkan calon pengunjung bahwa kondisi negara kecamatan tersebut nggak seabsurd apa yang ditunjukkan di layar lebar.

Since there's only one truth, I will make my confession: I had a fair share of laughter, Edogawa Conan Arthur Hirai. Thanks a bunch from your veteran fan. It's been long overdue that you give me an appreciation badge for sticking up all these years. Through your shitty moment to your shittier ones.

z. d. imama

My other posts in 'A very spoilery review' series:
  1. Resident Evil: The Final Chapter
  2. The Maze Runner: The Death Cure

Saturday, 6 July 2019

Praise the lords and stream Utada Hikaru's "Laughter in the Dark" Tour 2018 on Netflix

Saturday, July 06, 2019 0

Jika diibaratkan menggunakan istilah-istilah romansa andalan akun-akun media sosial yang model guyonannya mentok di 'Falling in love with people you can't have' doang, Utada Hikaru bagaikan sesosok mantan gebetan sejak bertahun-tahun silam yang saya naksir berat tapi orangnya demen ilang-ilangan. Nongol tanpa pengumuman, lenyap tanpa pamitan. Tiba-tiba aja ngontak ngajak ketemuan. Tetapi kenangan-kenangan yang muncul dari perjumpaan langka kami selalu manis. Selalu indah. Selalu berkesan. Selalu tidak bisa dilupakan. Sehingga meski saya tidak berani banyak berharap apalagi menuntut, setiap waktu, setiap kali, saya bakal otomatis mengiyakan dan menyambut penuh semangat sesi-sesi langka 'reunian dengan mantan gebetan' ini. Saya tahu apa yang akan diperoleh: kebahagiaan sesaat yang bisa diingat-ingat selamanya.

Utada Hikaru is a seasonal artist, if we insist to describe her. She doesn't seem to love basking herself in the glorious spotlight and fame. She releases music because it's what she's good at. It's what she loves doing. And because she cares deeply about her music that she becomes her own self's harshest critic. She doesn't put out stuffs she doesn't accept or acknowledge, to say the least. And that explains the rareness of her tours. That also explains the lengthy in-between periods. When other pop artists in Japan tend to pull out album once a year, or at least three singles in a year only to stay relevant in the ever-changing business, Utada Hikaru's shortest gap is about two years apart. Yeah. Wanna stan Utada Hikaru? Be patient. Be less demanding for a release. That's the only two things you need to possess.

Bicara tentang tur jarang-jarang, Laughter in the Dark Tour 2018―yang entah bermodal kekuatan ilmu hitam apa bisa tersedia di streaming service seakbar Netflix―merupakan tur Utada Hikaru di Jepang setelah jeda 12 tahun. DUA BELAS TAHUN. Anjeng. Berbarengan dengan perayaan debut anniversary-nya ke dua puluh, pula. Kebayang nggak? Sepanjang dua puluh tahun berkarir di dunia musik, Hikaru―yang juga akrab disapa 'Hikki'―secara aktif bikin tur keliling Jepang hanya delapan tahun perdana. Kemudian vakum selama periode yang durasinya setara dengan mengenyam tuntas pendidikan SD - SMP - SMA. Gile.


Terus terang saya tidak berekspektasi aneh-aneh sebelum menekan tombol play di Netflix. Bukan kemarin sore saya kejeblos fandom mbak yang satu ini. Saya tahu. This is THE Utada Hikaru, a reluctant megastar, a songstress who relies at nothing else but her music and singing. Besar kemungkinan bahwa dia hanya akan berdiri di panggung, mentok jalan-jalan dikit, dan bernyanyi. No gimmicks, no theatrical acts, no excessive backdancers. Bahkan konser dimulai tanpa video pembuka atau gestur macam-macam. Cukup Utada Hikaru muncul ke tengah-tengah panggung dalam keheningan yang seketika berubah jadi gemuruh sorak dan tepuk tangan.

*あなた (Anata) starts playing*


OH HOLY HELL. Saya bersujud. Takluk. Tunduk. Menyerahkan jiwa dan segenap rasa. Konon katanya, masyarakat Jepang memiliki ribuan dewa dalam kehidupan sehari-hari mereka. Salah satu dari dewa-dewa itu pasti adalah Utada Hikaru. Yakin. Kekhawatiran awal saya tentang apakah konser ini hanya akan tampak biasa-biasa saja lantaran Hikki nggak bakalan ngapa-ngapain selain berdiri dan nyanyi, seketika dipatahkan oleh videografi dan camera works yang sungguh bikin kepengin berdzikir. The color scheme of lighting in each song, the visual presentation, the delicate extreme close-up shots... I'm dead. Even the shot towards the audience is frigging breathtaking and so aesthetically pleasing. Just one minute since concert video starts and I'm this shookMy wig: snatched.

For a calm-and-collected crowd of solo female singer, they are very much hyped and cheerful.

Masha Allah I cannot―udah boleh mimisan belum sih???

I ain't kidding nobody when I say this concert looks gorgeous and fucking classy.

Laughter in the Dark is heavenly to listen to. You know this. We know this. It's the most natural thing ever. Konser Utada Hikaru tidak pernah sekadar memberikan pengalaman "Oh gini ya kalau denger versi non-studio", melainkan hampir selalu menghadirkan sesuatu yang baru lewat aransemen ulang. Adaaaaaa aja yang di-tweak. Transisi dari satu lagu ke lagu lainnya pun amat sangat tidak diduga. Pernah nyangka nggak bahwasanya traveling bisa disambung sedemikian mulus dan tanpa cela ke COLORS? Kagak, kan? Ya sama. Saya juga. But that shit happened. Bitch made that happen.

Selepas COLORS, ada sesi MC sejenak yang diisi obrolan ringan dan pesan-pesan tentang tata tertib menonton konser. Terutama bagi yang merekam atau memotret dengan ponsel. Trivia: all the English sub in this Netflix streaming are done by Utada Hikaru herself. She stated in her tweet that she changed and re-phrased some bits to suit the nature and impression left by foreign language. Seru banget nggak, sih? Utada Hikaru really, really takes matters into her own hands. Jadi makin sayang.

Kemudian Prisoner of Love mengalun dan saya ambyar. Hancur berantakan. Porak-poranda. I GOT FREAKING GOOSEBUMPS Y'ALL. Di hadapan layar laptop, saya mengangkat kedua lengan, mengayunkannya di udara dengan segenap perasaan sembari menahan air mata. Utada Hikaru seolah tidak menyanyi. She breathes the song to lifeAnd if this track is not on the top level of your most potent lagu bucin internasional then I'm so sorry to announce that you've been sorting your playlist wrong. So wrong.



Setelah keceriaan sekaligus kecentilan Kiss & Cry, transisi ke SAKURAドロップス (Sakura drops) cukup mengejutkan. Sejak awal lagu hingga pertengahan, tidak terasa ada perbedaan berarti dengan aransemennya. Standar lah. Mirip-mirip versi studio CD. However, bitch didn't run out of tricks and would never let me down. Pada refrain menuju penghujung lagu, mendadak Utada Hikaru menghampiri keyboard nganggur di atas panggung dan secara langsung menambahkan sendiri unsur synth ala 80-an. Kampreeeeeeeeetttttttt. Hal yang sama terjadi ketika Hikki membawakan Too Proud beberapa lagu kemudian. All was well and without warning, Queentada Slaykaru started rapping. Saya konslet seketika. Refleks jemari saya menekan tombol pause. Do I need at least one rap single from this bitch? Do I? Yes, I most likely do. But will she bless us with one? That is a completely different matter.

Penggemar gim Kingdom Heart dimanjakan dengan  (Hikari) versi orkestra. Saya lagi-lagi harus mengepel hati yang babak bundhas, remuk berserakan di lantai gara-gara medley Forevermore, First Love, dan 初恋 (Hatsukoi) digeber pada pertengahan konser tanpa kenal ampun. Mendengarkan Hikki nyanyi First Love terkesan surreal. Her voice changed. Her techniques has matured. How she carries the song also changed. Utada Hikaru adalah tipe musisi yang tidak pernah memaksakan diri untuk masuk ke dalam imej awal sebuah lagu lamanya, namun justru mengubah dan menyesuaikan lagu tersebut dengan kondiri dirinya saat ini. First Love is always a good track, but I personally think Laughter in the Dark version is far more enchanting.


Now, everyone. Praise the lords and stream Utada Hikaru's "Laughter in the Dark" Tour 2018 on Netflix. It will be two and a half hours of joy, of eargasm, of good music and pleasing visuals. It feels both grand and intimate. Raw and real. Full of heart and honesty. Sesi MC membahas banyak hal-hal personal dan pengakuan-pengakuan sederhana tentang bagaimana Utada Hikaru hidup. Bertebaran celah-celah kecil untuk mengintip bagaimana sebenarnya sosok perempuan yang kayaknya hingga detik ini masih nggak cukup menyadari seberapa besar dampak karyanya. Seberapa kuat keberadaannya. She still looks as if she's unsure. As if she's still trying to make sense of things. And I deeply love her for that.



Utada Hikaru melangkah keluar panggung tanpa gestur berlebihan. She just.. walked away. No smoke, no fireworks, no confetti, nothing. She never makes promises. Tidak ada yang tahu―bahkan mungkin termasuk Utada Hikaru sendiri―kapan tur berikutnya digelar, atau malah jangan-jangan Laughter in the Dark Tour 2018 ini akan jadi yang terakhir. Ritme rilisan-rilisan musik dari Hikki adalah misteri akbar yang Sherlock Holmes nggak bakalan sanggup memecahkan.

Setlist lengkap "Laughter in the Dark" Tour 2018:

  • M1. あなた (Anata)
  • M2. (Michi)
  • M3. traveling
  • M4. COLORS
  • M5. Prisoner of Love
  • M6. Kiss & Cry
  • M7. SAKURAドロップス (Sakura drops)
  • M8. (Hikari)
  • M9. ともだち (Tomodachi)
  • M10. Too Proud
  • M11. 誓い (Chikai)
  • M12. 真夏の通り雨 (Manatsu no Tooriame)
  • M13. 花束を君に (Hanataba wo Kimi ni)
  • M14. Forevermore
  • M15. First Love
  • M16. 初恋 (Hatsukoi)
  • M17. Play A Love Song
  • Encore: M18. 俺の彼女 (Ore no Kanojo)
  • Encore: M19. Automatic
  • Encore: M20. Goodbye Happiness

Saya paham betul bahwa saat ini lapak Spotify tidak menyediakan audio Laughter in the Dark Tour 2018―kalau lapak iTunes sudah nangkring―, tapi jika ada di antara kalian yang ingin membandingkan nuansa lagu-lagu di konser dengan studio CD, tak perlu ragu-ragu dan silakan disimak playlist berikut ini:


Agak merasa ada yang kurang dengan tidak dimasukkannya Beautiful World maupun 桜流し (Sakura nagashi) dalam setlist. Nggak apa-apa. Kekecewaan seremeh ini masih bisa ditahan pakai banget. Kebebasan mutlak berlaku bagi mbak Utada Hikaru, mantan gebetan kesayangan saya. Please just live happily and craft musics in happiness.

z. d. imama

Sunday, 30 June 2019

[ALEXANDROS] Sleepless in Jakarta 2019: a post-concert high

Sunday, June 30, 2019 5

If I imagine a middle-upper tier of Japanese rock band to make their own gig here, to include Jakarta as one of their tour destinations, [ALEXANDROS] was not what I'd put in the list. Really. Nggak terbayang sama sekali kota ini bakal mereka lirik. Man, I was wrong. And I'm so glad that I'm wrong. Kehadiran [ALEXANDROS] memang nggak disangka-sangka. Malah, jika boleh jujur neh, ketika mereka terkonfirmasi jelas bakal datang pun informasi tidak terlalu terdengar menyebar luas. Woro-woro sangat minim. Promosi dan sounding acara di media sosial antara ada dan tiada. Rada-rada mengingatkan akan naasnya Nakama Festival yang menghadirkan Do As Infinity pada September 2017 silam, yang bikin saya baper habis-habisan saking sepinya lokasi sebagaimana dikisahkan di tulisan sebelah sini. Sumpah sempat ketar-ketir memikirkan nasib konser tunggal perdana [ALEXANDROS] di Jakarta―mereka pernah ke sini sebelumnya, sekitar tahun 2015, tapi kalau nggak salah waktu itu bareng VAMPS dan Tokyo Ska Paradise―karena nggak sampai hati aja ngebayangin Kawakami Yoohei dan kawan-kawannya ngeliat kerumunan minim dari atas panggung. Hype yang suam-suam kuku bercampur kegirangan pribadi lantaran disamperin idola tanpa harus bela-belain ngejar bermodal paspor, berhasil membulatkan tekad saya untuk beli tiket tanpa kebanyakan pikir panjang.

Take my money, guys. Take it.
NYOH. NYOOOOOOOOOOOOOOOHH!!!

Anyway. Saya awalnya mau single fighter aja gitu. Siap-siap sendiri. Berangkat sendiri. Heboh sendiri. Jejingkrakan sendiri. Eh ternyata di TKP malah dapet rombongan. Memang acara beginian tuh secara nyata membangun persaudaraan.

LED banner di lantai dasar iNews Tower, lengkap dengan cuplikan video iklan tur. Keren anjir.

Pasukan single fighter yang ujung-ujungnya berserikat. (Muka saya gak peyang, minus lensanya banyak aja)

Konser [ALEXANDROS] Sleepless in Jakarta digelar hari Jumat malam, tanggal 28 Juni 2019 di MNC Conference Hall, iNews Tower. Bukan tempat yang sering saya sambangi. Untung deket sama stasiun Gondangdia. Seenggaknya lumayan gampang dicari. Ngomong-ngomong, sejak pagi tuh saya udah dilanda dilema rutin tiap kali hendak nonton suatu pertunjukan bersistem all-standing: pakai sepatu apa? Mau ambil sneakers, flat shoes, atau segala jenis alas kaki yang punya sol rata? Hm. Saya pendek. Mau pakai platform shoes, high-heeled, bermacam alas kaki dengan pengganjal sol tambahan? Pegel. Jadi, lebih pilih mana? Pendek atau pegel?

Saya memilih pegel.
And it was one of a few best-deserved endure all my life.

The stage was so close. SO. CLOSE. Apalagi kebetulan―thank you ya Rabb―saya berhasil dapat tempat di baris kedua dari pagar pembatas yang menandai ruang kecil depan panggung untuk staf dan kameramen mondar-mandir. Setiap personel kelihatan jelas banget. Banget, banget. Lebih intens dan terasa privat dibanding teater grup idol lokal Jakarta yang sodaraan dengan Jepang itu. Dari titik saya berdiri, rasanya cuma kayak nonton panggung gembira festival tujuhbelasan di gedung serbaguna desa. Atau katakanlah, panggung pentas seni SMP. Bedanya yang nampil [ALEXANDROS]. Menang banyak.

Penonton diarahkan memasuki ruangan tepat pukul 19:00. Mobilisasi serta sound check final berakhir sekitar jam 19:50, dan penonton yang awalnya sempat duduk-duduk nongkrong sejenak seketika tegak berdiri. Ancang-ancang. Siap siaga. Tidak lama kemudian, pintu di samping panggung terbuka. Kawakami Yoohei, Isobe Hiroyuki, Shirai Masaki, Ib Riad (bule drummer band BIGMAMA berperan selaku pemain sumpelan menggantikan Shomura Satoyasu yang cedera sehingga tidak ikut tur) muncul diiringi sorakan dan teriakan antusias penonton. Sekujur badan saya mulai tremor. I could hear the rush of my blood in my ears.

The show starts. Holy mother of God.

Screenshot dari akun Instagram resmi [ALEXANDROS]

  • M1. LAST MINUTE
Emang pembuka tur paling afdol tuh lagu ini. Track pertama album terbaru [ALEXANDROS] yang dirilis tahun lalu, Sleepless in Brooklyn, LAST MINUTE seolah terkesan paradoks karena meski judulnya merujuk ke sebuah akhir, nyatanya dia justru merupakan menit-menit pertama perjumpaan [ALEXANDROS] dengan penggemar mereka pada setiap konser dalam rangkaian tur. Its middle tempo makes this song a very good warming up piece. Penonton dipanasin pelan-pelan sebelum digas pol-polan sesaat lagi. Waktu [ALEXANDROS] ke Indonesia empat tahun silam, saya belum jadi budak korporat sehingga nggak cukup punya modal untuk menyambut musisi favorit yang datang bertamu―dan emang terus terang belum ngefans―, yang artinya konser Sleepless in Jakarta adalah kali perdana saya menyaksikan Yoohei nyanyi di depan mata. NO HOAX, MAN. REAL QUALITY. Belum-belum udah pengin pingsan.

  • M2. Starrrrrrr
Sebelum masuk lagu kedua, Yoohei sempat secara singkat memperkenalkan diri sebagai [ALEXANDROS]. Sekaligus mengungkit betapa waktu berlalu cukup lama sejak mereka terakhir nyamperin Indonesia. Lalu tiba-tiba aja intro digeber dan sorakan penonton betul-betul super liar. Fans mana yang nggak seneng coba, baru masuk lagu kedua udah merambah back catalog dan nostalgia hits lawas?  Diambil dari album tahun 2013, Me No Do Karate, tampaknya Starrrrrrr juga dibawakan saat acara Japan Night yang menandai kedatangan pertama [ALEXANDROS] ke Jakarta. Serentak semua singalong, dong. "I see a light in darkness, waited for thousand years or less"―KAMI DI SINI NUNGGU EMPAT TAHUN DOANG SIH BANG, GAK NYAMPE SERIBU TAHUN JUGA. So now let's light up all the star!!!

  • M3. Dracula La
This song is a freaking charmer. Flirty in a cute, adorable, almost shameless way. Another track from back catalog, ALXD album. Pas nyanyi Dracula La, Yoohei goyang-goyang centil gak jelas banget sambil keliling panggung dari kanan ke kiri (tapi gemesin). Suara koor penonton di bagian bridge "Dracula dra dra cula dracula la" kenceng bener kedengerannya. Terartikulasi dengan baik, pula. Nggak belepotan. Asli bangga banget lihat wajah-wajah hepi Yoohei, Hiro, dan Makkun pas mikrofon diarahkan ke kerumunan.

Sesi MC kedua diselipkan sebentar seusai dentuman drum berakhir. Sekalian nunggu Yoohei ganti gitar. Hm. Firasat saya mengatakan bahwa lagu selanjutnya bakalan mulai keras...

Masih tetep screenshot dari Instagram resmi [ALEXANDROS]

  • M4. I Don't Believe in You
NAH KAN SAYA BILANG JUGA APA. Time to jump and bang your head and scream in anger all you want. Sebagai salah satu lagu [ALEXANDROS] yang sarat muatan kegelapan, tentu saja I Don't Believe in You mendapat tempat khusus di hati saya. "Yeah my soul is bliiiiiind, that's why I am not scaaaaaaaaared!!!!"


  • M5. Waitress, Waitress!
Gile. Ini sih kejauhan back catalog-nya. Album Schwarzenegger tempat Waitress, Waitress! bernaung dirilis tahun 2012 silam. Artinya, [ALEXANDROS] pun masih menggunakan nama lama mereka dalam bermusik, yakni [Champagne]. Bahkan di Jepang aja mereka terbilang super jarang membawakan Waitress, Waitress! di pertunjukan konser. What an honor it was, getting a rare experienceWaitress, Waitress! terbilang lumayan unik dan berkesan―mohon diingat: ini menurut standar pribadi―gara-gara aransemennya agak-agak bernuansa Timur Tengah. Yep. You read that right. Ada cengkok-cengkok nggak lazim. Ada monolog pula di tengah-tengah lagu. Performed live, it was beyond fun and beautiful at the same time.

Ternyata berdasarkan pengamatan pribadi terhadap beberapa fans Jepang yang berdiri tidak jauh dari saya, pas chorus Waitress, Waitress! biasanya penonton mengibas-kibaskan handuk kecil di udara dengan gerakan memutar. Semacam bikin kincir dari handuk gitu lho. Ya udah ngikut aja. Mumpung ada senpai di TKP yang bisa diteladani. 

  • M6. Girl A 
Saya terbelah antara ingin mewek kejer atau menjerit parau ketika intro Girl A yang sangat khas―raungan sejenis sirene yang panjang melengking―membahana di sekujur MNC Conference Hall. Girl A was that important song; the first track that introduced me to [ALEXANDROS]'s music. Ngerti kan gimana rasanya mendengar sebuah lagu yang berjasa menjebloskan kalian ke dalam jurang fandom dibawakan oleh musisi aslinya di hadapan mata kepala sendiri? Luar biasa. Very, very fulfilling. Very, very satisfying. Very, very impressive

And since this is a song about a girl whom nobody pays attention to or cares about... Let me raise both my arms high and dance through it.

Hiro, tetap tampak badass meski duduk sepanjang konser lantaran kakinya cedera.

Memasuki chorus penghujung Girl A, kagak ada badai kagak ada geledek, mendadak Yoohei terjun dari panggung dan berdiri persis di depan pagar pembatas. TEPAT DI HADAPAN SAYA. I. COULD. FREAKING. SMELL. HIM. Yaa Rabb. Allahu akbar. Refleks saya mengulurkan tangan dong!!! Menurut ngana??? Saya perlu meyakinkan alam bawah sadar yang panik, kalang-kabut, dan syntax error bahwasanya apa yang saya saksikan detik itu bukanlah sekadar tipuan mata.

Ibu. Jari-jari tangan anak perempuan sulungmu ini telah menyentuh dada Kawakami Yoohei. Kurus dan keringetan, namun dia manusia nyata. Flesh and blood 100%. Personally tested, though brief.

  • M7. PARTY IS OVER
Pendinginan. Habis dipanasin lahir batin dengan tiga lagu sebelumnya, PARTY IS OVER lumayan ampuh sebagai penetralisir. Saya, masih rada-rada ngambang sebagai efek samping dari peristiwa ajaib yang telah dideskripsikan dalam paragraf di atas, senyum-senyum doang sepanjang durasi lagu seraya menggoyang-goyangkan kepala perlahan. Mata terpejam. Kata Yoohei cengar-cengir sehabis nyanyi, "Party is not over yet, don't worry!"

  • M8. Cat 2
Semula saya sangka Waitress, Waitress! udah pol lawasnya. I was proven wrong. Cat 2, lagu tentang kucing Yoohei yang nongol di album I Wanna Go To Hawaii dan super duper ultra langka digeber di konser-konser tur Jepang dengan enaknya nyelonong masuk setlist Sleepless in Jakarta. Anjiiiir. 

  • M9. Kaiju
AND THEN WE'RE BACK TO SERIOUS HEADBANGING BUSINESS! Yeesssssssss. Kaiju is one of my personal favorite. Album EXIST! memang banyak banger track kece-kece. Selain Kaiju, di sana juga ada Girl A yang dibawakan sebelumnya. Meski biasanya lirik lagu-lagu [ALEXANDROS] bercampur-campur bahasa Jepang dan Inggris, lirik Kaiju full English dari awal hingga akhir. Judulnya doang yang malah bahasa Jepang. 

"You could ask for more and more, but you gotta be outta the door. You may step into a war it's no dance floor". Sungguh lagu yang tepat untuk disetel pagi-pagi waktu mager berangkat ngantor.

  • M10. Mosquito Bite
Wibu BLEACH pasti minimal mengenali lagu ini. Bersama dengan MILK dari album Sleepless in Brooklyn, Mosquito Bite ketiban sampur sebagai soundtrack film live-action Bleach yang rilis pertengahan tahun 2018 lalu. Tanpa diminta, seisi hall langsung suka rela jadi koor pengiring pada bridge lagu. Lantang betul seruan "Woooooo oooooohhh!!!" macem panggung gembira markas militer. Padahal jumlah orangnya nggak seberapa banyak. Kami semua memang kelewat berapi-api. Yoohei, pada water break sebelum gas ke lagu selanjutnya, dengan penuh keheranan―tapi wajahnya ketara seneng banget―bertanya, "Kalian tuh kok bisa sih hapal lirik lagu-lagu kami??" saking lantang dan jelasnya singalong penonton sepanjang pertunjukan.

Yaelah mz. Ini mah abad dua puluh satu. Ada Google, atuh.

Iya. Ini masih tetep screenshot akun Instagram resmi [ALEXANDROS]

Ib Riad ganteng bener jadi drummer. Hadehhh. (Foto ngembat dari Instagram [ALEXANDROS] juga)

  • M11. Kick & Spin
So we got to stay alight, stay alive! Babak lagu angot-angotan sudah berakhir. Meski masih bisa dipakai jejingkrakan heboh, Kick & Spin jauh lebih jinak dibanding beberapa lagu sebelumnya. Seusai Kick & Spin, Yoohei yang berangsur paham kualitas crowd di hadapan mereka, tanpa malu-malu minta bantuan menyanyikan chorus lagu yang akan dimainkan sesaat lagi. "Gue mulai capek nyanyi nih," ujarnya banyak alesan. "Gampang kok liriknya, hello-hello doang".

  • M12. NEW WALL
Ini dia lagu yang isi chorus-nya 'hello-hello doang'. NEW WALL adalah bukti nyata bahwa Sleepless in Jakarta resmi melangkah ke babak berikutnya. Slow songs zone, here we come!!! Hello, hello, HELLOOOOO!!!! 

  • M13. 明日、また (Ashita, Mata)
Saya selalu sadar betapa Ashita, Mata adalah lagu bernuansa cerah, menyemangati, dan sangat menyenangkan untuk didengarkan tiap kali saya butuh energi positif tambahan. Tapi saya tidak menduga kalau versi live-nya akan sebagus ini. It felt as if I was flying afloat, soaring during the whole song. Maybe it was the song. Or maybe it was us, the crowd, that gave huge contribution to the song. We splashed it with the sparks it needs and made the song even more alive. Mungkin selamanya saya nggak akan bisa lupa bagaimana seisi MNC Conference Hall mengalunkan back vocal sendu "We're the liiiiight..."  seraya mengayunkan tangan di udara, mendampingi Yoohei menyanyikan "I am the light that no one’s ever seen, and for that say 'cause need a light exist”. So many things to do before I die".

Tonight is great. Tonight is pure happiness.
And then, tomorrow, again, let's face our battlefield.

  • M14. Your Song
Tipikal ballad dengan lirik selembut selimut bayi. Personally speaking and judging solely from the recording, Your Song doesn't fall in my list of favorite ballad by [ALEXANDROS]. When performed live, however, it was not bad. Tooootally not bad. I like it. So calming and reassuring. So peaceful it was almost easy to fall asleep. Sleeping while standing and singing along, of course.

  • M15. Adventure
Now let's step up the tension a bit, shall we? Sebelum menggeber Adventure, Yoohei bilang tinggal ada dua lagu terakhir―yang disambut erangan dan lolongan kecewa oleh para penonton―dan mereka terkesan dengan semangat fans-fans Jakarta untuk singalongHe actually looked so proud and gleamed with joy. I'm soft. I'm getting emotional. 

"Hal-hal kayak gini nggak kami temui di Jepang," ngakunya. Ya iyalah mas, masyarakat Jepang kan anteng-anteng karena rata-rata pengin ngedengerin langsung musisinya nyanyi. That particular side of Japan crowd actually isn't half bad, but depends on what gig you're going to, sometimes it feels quite on the extreme side. Agak kentang nggak sih, ngedatengin konser band rock tapi penontonnya diem aja nggak asyik kompak singalong bareng-bareng? Lagian toh suara musisi aslinya bakal lebih kenceng karena bantuan sound system, kan.

  • M16. アルペジオ (Arpeggio)
I AM SCREAMINGGGGGG. Like, literally. Saya mengeluarkan lengkingan tidak manusiawi tatkala intro Arpeggio dialunkan. Ya Allah. Jika Dead End in Tokyo milik MAN WITH A MISSION kurang lebih merupakan soundtrack kehidupan merantau saya, Arpeggio dari [ALEXANDROS] secara semena-mena saya nobatkan sebagai salah satu soundtrack kehidupan yang merangkum pengalaman sejak bertahun-tahun lamanya. This. Song. Is. My. Breath. I can never thank them enough for making this gem. And no amount of scream can represent my excitement witnessing this song played live right in front of me.

SAY NOOOO TO THE WORLD!

Masih hasil maling isi akun Instagram [ALEXANDROS]

Emang dasar fans-fans Jakarta nafsuan, deh. Baru juga beres Arpeggio dan para personel [ALEXANDROS] mengambil botol air minum, udah diteriakin minta encore. Hiro sampai ngakak. "That was fast," katanya geli.

  • Encore: M17. Burger Queen
Oke. Ternyata ada yang lebih jebot dibandingkan Cat 2. Burger Queen, sebuah instrumental track di album debut [ALEXANDROS] bertajuk Where's My Potato? ikutan nongol. 

Bubaran Burger Queen (yang saya nyaris selalu ketuker dengan nama waralaba restoran fast food beken), Yoohei sempat menanyakan, apa istilah dalam bahasa Indonesia untuk minta encorethanks to gerombolan wibu-wibu profesional di jajaran penonton yang tanpa tedeng aling-aling meneriakkan "AN-KO-RU! AN-KO-RU!" dengan lantang dan gamblang. Yoohei bilang, "Itu kan bahasa Jepang. Gue pengin tahu normalnya kalian ngomongnya gimana". Akhirnya kami semua mengulang seruan, kali ini pakai "LAGI! LAGI! LAGI! LAGI!"

Holy cheesus, they all seemed so pleased and satisfied. I'm weak in the knees.

  • Encore: M18. 月色ホライゾン (Tsukiiro Horizon)
Siapa neh di antara [ALEXANDROS] yang sok ngide nampilin lagu yang bahkan CD-nya aja belum resmi dirilis???? Pasti Yoohei. This is such a big honor, man. I cannot. Ngebawain lagu baru di konser-konser saat tur memang bukan hal baru bagi musisi, tapi ini kan Jakarta. So nicheWho would have guessed, really.

CD single terbaru [ALEXANDROS], Tsukiiro Horizon, akan mulai dijual ke pasaran tanggal 5 Juli 2019, gaes. Paling-paling bakal masuk Spotify paling cepet sebulan kemudian. Mark your calendar!! *Malah ngiklan*

  • Encore: M19. PRAY
Menurut Kawakami Yoohei, fans Jakarta mungkin nggak akan mengenali lagu yang akan mereka mainkan berikutnya. "Udah dirilis kok, tapi baru sekitaran dua minggu lalu," katanya. Langsung dibantah penonton, dong. Wkwk. Jangan meremehkan kekuatan internet ya, mas. Kami semua udah tahu lagu kalian yang judulnya PRAY, yang dipakai sebagai ending theme film Godzilla: King of Monsters versi Japanese release. Malahan banyak yang udah hapal.

Emang dasarnya Yoohei suka iseng (atau mungkin sekadar pengin ngetes sekaligus nyoba-nyoba mengelus-elus ego), mendadak sebelum masuk lagu, sebelum musik dimulai, dia ngasih spontaneous cue ke penonton. JELAS PADA SUKARELA NYANYI SEMUA LAH. Hiro was evidently shooketh. That pure amazement across his face as we sang the lyrics from the top of our lungs back to them... So priceless.

  • Encore: M20. ワタリドリ (Wataridori)
Lagu pamungkas yang menutup penampilan [ALEXANDROS] malam itu. Last of the list. Finally. Nyampe juga di penghujung setlist. Saya sempat neriakin "LAGI BANGG!!" ke panggung pada jeda singkat di sela-sela PRAY dan Wataridori (that being said, if you were at the location and heard someone in the front shamelessly shouted that particular words... yeah it was me). And heck, Wataridori is as awesome as I imagine it would be. Semua orang tidak ada yang ingin menyia-nyiakan kesempatan. Bringing up the last spurt of high spirit and excitementjumping up and down, singing together with both arms raised because I know that this party is coming to its end.
ALHAMDULILLAH, MUKA SAYA KETUTUPAN YOOHEI.


The memory of this concert will make me sleepless tonight.

Whew. That was awesome.

Konser tunggal perdana [ALEXANDROS] di Jakarta terbilang sangat memuaskan dan memanjakan fans, meskipun saya sedikittttttttttttt kecewa dengan tidak adanya beberapa lagu yang saya berharap dibawakan. Seperti: ハナウタ (Hanauta), ムーンソング (Moon Song), dan terutama KABUTO―padahal di setlist udah ada Kaiju!! Ngapain coba ngebawain Kaiju kalau kagak dikomboin sama KABUTO??? That should have been the logic!! 

Talking session yang dilakukan full-English pun berperan besar dalam membangun komunikasi dengan fans lokal. Kan nggak semua wibu bisa bahasa Jepang ya. Apalagi disampaikan oleh native. Yoohei sempat sih nanya iseng dalam bahasa Jepang, "俺の日本語分かりますか?" (Do you understand my Japanese?) tapi sebatas itu aja. ALEXANDROS] berjanji bakal mengusahakan balik lagi ke Jakarta. Kalau bisa sih nggak makan waktu sampai empat tahun. Ntar keburu tua bangka, katanya. Apaan deh. Padahal sekarang aja nggak keliatan sama sekali kalau umur mereka semua udah pertengahan tiga puluhan. Oh the sorcery of Japanese genes...

Berhubung penonton dilarang mengambil berbagai bentuk rekaman―gambar, video, dan audio―sepanjang dan sebelum pertunjukan konser dimulai, tidak lama setelah masuk backstage, Yoohei balik naik lagi ke panggung dan menyanyi PARTY IS OVER diiringi playback―sementara Makkun di belakang sibuk rekam-rekam pakai ponselnya sendiri. "Ayo yang mau foto atau rekam-rekam video, sekarang waktunya!" kata dia. Berhubung ponsel saya jelek, dan lebih memilih sibuk menikmati pemandangan di hadapan, sebagai barang bukti saya akan sertakan hasil rekaman mbak An, pemilik akun Twitter @silverwind yang berdiri tidak jauh.


Confession time: I really love the crowd. Guys, you are all the best of the best. Nggak ada yang rese atau bandel nyuri-nyuri kesempatan ngerekam atau motret. Kompak singalong. Antuasiasme nggak turun sama sekali dari awal sampai ujung. Nggak ada yang bau asem pula. Aksi paling rada nyeleneh ya sebatas kejadian bra warna hijau dilempar ke panggung setelah encore berakhir. Masih standar lah.


Saya pulang menjelang tengah malam, menenteng poster bertanda tangan sembari senyum-senyum bahagia. Terima kasih [ALEXANDROS]. See you again. Hopefully sometimes soon. Saya janji bakal dateng nonton kalian lagi kok jika disamperin. Belum sempet denger KABUTO live, kan. Layaknya dendam, hutang konser ini harus dibayar tuntas.

Setibanya di kosan, saya langsung menyusun playlist Sleepless in Jakarta di Spotify. Dasar gagal moveon. Silakan disimak lho bagi yang berkenan ikut mendengarkan. Siapa tahu yang tadinya belum kenal [ALEXANDROS] malah jadi ngefans. Saya mah seneng-seneng aja kalau pertunjukan mereka makin rame. Anti-gatekeeping club! FTW! 1! Siji!



My time and money definitely well-spent.

z. d. imama

Tuesday, 25 June 2019

Calling for willing adopters: (another) Book Giveaway!

Tuesday, June 25, 2019 20

Belakangan hari, saya banyak pikiran dan banyak bersedih. Laptop entah kenapa tidak mau mendeteksi wifi kosan (logo di bawah selalu menunjukkan kabel disilang dengan tulisan "Connection are unavailable" padahal saya tahu itu tidak benar!!!), beberapa buku milik pribadi tidak mendapat tempat penyimpanan di lemari. Gimana nggak surem... hiks. Akhirnya saya putuskan untuk mencarikan mereka rumah baru saja. Mencari orang-orang penikmat buku bacaan yang akan menyayangi mereka dan memberikan buku-buku saya tempat tinggal berikutnya. Semua masih dalam kondisi sangat bagus. Beberapa bahkan belum dikeluarkan dari plastik segel (tolong tidak usah tanya kenapa, toh nggak bakalan saya jawab jujur juga), sehingga terus terang saya bisa-bisa aja menjual buku-buku tersebut dengan harga miring alih-alih bikin giveaway. Mayan kan dapet cuan demi menyambung hidup. Namun lantaran saat ini saya sedang dihempas cobaan―masih ingat kisah laptop menolak mendeteksi sinyal wifi kos?―dan tengah berupaya menyogok Tuhan agar mengeluarkan saya dari azab ini menabung karma baik, ya sudahlah saya ikhlaskan melepas mereka secara gratis.

Ada sembilan buku yang tersedia untuk diadopsi. Sebagian besar merupakan karya penulis Indonesia, ada pula yang dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia alias terjemahan. Cuma satu buku impor yang masih dalam bahasa asli, yakni bahasa Inggris. Sebelum masuk ke penjelasan cara mengikuti giveaway ini, saya akan bahas sedikit masing-masing buku bercerita tentang apa. Biar nggak kayak nadah kucing dalam karung, gitu.

Entry One:

Bernard Batubara - Asal Kau Bahagia


Masih bersegel plastik. Hehehe. Hehe. He. Lahir dari skenario film berjudul sama, yang katanya terinspirasi dari lagu Armada. Beberapa dari warga media sosial barangkali lebih familier dengan penulisnya, Bernard Batubara, yang juga lumayan aktif di akun-akun pribadi. Film cikal-bakal novel ini pun belum lama rilis kok. Kayaknya akhir tahun lalu deh. 

Berikut cuplikan sinopsis yang tertera di kaver belakang:

"Waktu kutanya apa kau benar mencintaiku, dengan yakin kau menjawab iya. Saat aku takut kau akan meninggalkanku, sambil tersenyum menenangkan kau mengusir segala ketakutan itu. Kau selalu tersenyum bahagia saat kita bersama, kau tak pernah absen menunjukkan betapa kau sayang padaku. Dan aku dengan mudahnya jatuh cinta semakin dalam padamu. Tapi, kini dengan mataku, aku melihatmu dengan yang lain. Tangannya menggenggam erat jemarimu. Kalian tersenyum. Lalu dia memelukmu. Aku ingin marah, tapi aku merasa takut. Lalu aku sadar mungkin sudah saatnya aku melepasmu. Asal kau bahagia dengan yang lain."

Entry Two:

Alanda Kariza - Travel Young


"Alanda Kariza berbagi kisah perjalanan yang mendewasakan dirinya saat ke New York, Vatikan, London, Doha, Pittsburgh, dan tempat menarik lainnya. Banyak hal yang bisa jadi pelajaran menarik, seperti keluar dari zona nyaman, berani mengambil keputusan, percaya diri, dan bisa menyikapi suatu masalah tanpa keluhan. Baginya, traveling is about discovering yourself and also your flaws."

Sudah jelas yah dari paparan di kaver belakang bahwa buku ini―berbeda dengan kedelapan temen-temennya―bukan novel fiksi. Semacam jurnal perjalanan dengan bahasa penulisan yang mudah diikuti. Tidak sempat saya lapisi sampul plastik bening, tetapi kondisinya masih super bagus. Mulus. Percaya deh.

Entry Three:

Ika Natassa - Antologi Rasa


Edisi rilisan ulang dengan kaver film, yang juga belum lama ini dirilis ke pasaran. Lengkap dengan tanda tangan penulisnya, nangkring di kaver depan. Wakakaka. Udah, udah. Nggak usah nanya aneh-aneh tentang dapetnya gimana atau saya pernah ikut acara apaan. Terima aja. 

Mengantisipasi kalian yang memang belum pernah baca novel ini sekaligus tidak nonton filmnya sewaktu tayang di bioskop lokal, Antologi Rasa in a nutshell adalah kisah cinta saling-silang antara tiga karakter: Keara, Harris, dan Ruly. Formula klasik, yang mana oke-oke aja sepanjang penuturan kisahnya tetap menarik serta mampu melibatkan emosi para pembaca.

Entry Four:

Alberthiene Endah - Athirah


Another one still inside its plastic seal. Saya punya satu jilid lagi, nangkring di rumah orang tua. Beli kedua kalinya pas diskonan untuk ditaruh kos, jaga-jaga siapa tahu ingin baca ulang suatu hari nanti, tapi ternyata tumpukan buku-buku baru saya membuatnya terlupakan. Sudah difilmkan juga. Penulisan narasinya bagus, mengingat sejauh yang saya tahu, mbak Alberthiene Endah yang merajut kata demi kata di buku ini juga merupakan seorang editor handal. Sayang beribu sayang, Noura Books selaku penerbit tidak memberikan desain kaver yang lebih oke untuk Athirah. Jadinya yaa kesannya gitu doang. Semenjana. Seadanya. Padahal buku ini sangat layak mendapat kaver yang jauh lebih menarik dan mengesankan.

"Emma tidak pernah punya gambaran tentang wanita yang dimadu. Sejak Bapak memilih tinggal di rumah keduanya, Emma sering terlihat merenung, tertunduk lesu. Ketika langkah Bapak semakin jarang terdengar di rumah kami, Emma semakin sendu. Namun, Emma tak membiarkan dirinya terlalu lama disiksa rindu. Dia segera berjuang untuk bangkit, menjadi wanita yang mandiri."

Entry Five:

Pradnya Paramitha - Better Than This


Sepanjang saya tidak salah ingat (atau tidak ketipu informasi hoax), ini adalah satu dari sekian banyak novel yang tadinya berada di dalam naungan platform Wattpad sebelum akhirnya diterbitkan sebagai buku cetak. Bagi yang menyukai formula romansa klasik benci-jadi-cinta, mungkin bakal menikmati kisah Saras dan Leo yang dipaparkan. Sinopsisnya kurang lebih kayak gini:

"Saras tahu pasti Leo membencinya. Sederet gelar positif mulai dari mahasiswa berprestasi nasional, kesayangan dosen, cowok tampan pujaan kita bersama, dan senior tingkat 4 yang terancam lulus suma cum laude, cukuplah untuk membuat Leo risih dengan keberadaan cewek malas, nyolot, bodoh, tukang taruhan, dan kuliah di Fakultas Hukum tapi satu-satunya yang dia tahu hanyalah fotografi. Tapi, memangnya Saras peduli? Dibenci Leo tak akan membuatnya mati. Sayangnya, mau tak mau Saras harus peduli karena saat ini Leo adalah kunci kehidupan bahagianya. Sebuah taruhan dengan musuh bebuyutannya, Morrie, membuat Saras harus menjadikan Leo pacarnya."

Entry Six:

Akmal Nasery Basral - Nagabonar Jadi Dua



Nagabonar Jadi Dua termasuk dalam salah satu film Indonesia pertama yang saya tonton di bioskop semasa kecil. Man, that was so fun and refreshing. Deddy Mizwar, before Jawa Barat happened, was such a good filmmaker wasn't he. Novel ini mengupas kisah yang sama dengan filmnya, yakni konflik lintas generasi antara Nagabonar dan putra tunggalnya, Bonaga. Penuturannya sangat bagus dan halus. Bahkan meski mengambil sudut pandang Nagabonar langsung―yang artinya novel ini membelot dari versi film yang menggunakan sudut pandang orang ketiga, sama sekali tidak terkesan narsistik atau janggal dibaca, padahal ada beberapa adegan yang memuat petuah-petuah serius yang dilontarkan oleh Nagabonar sendiri. Saya sempat iri dengan editor buku ini karena kayaknya dia nggak kerja ngapa-ngapain kecuali baca naskah dan cekikikan di depan layar komputer.

"Cinta itu memang luar biasa, Monita. Jika sebuah cinta tak menghasilkan hal-hal yang luar biasa bagi dua manusia yang terlibat di dalamnya, aku khawatir apakah perasaan yang menghubungkan mereka itu sungguh-sungguh cinta atau bukan."

Entry Seven:

Ayu Utami - Cerita Cinta Enrico


SHE SIGNED THE BOOK! LOOK!

Jangan tertipu dengan judulnya yang terkesan sangat simpel dan berbau teenlit. Jangan tertipu juga dengan desain kaver minimalis dan tampak manis. This is Ayu Utami, folks. You'll need a summary to know what's the real deal here and I will give you exactly that.

"Cerita Cinta Enrico adalah kisah nyata seorang anak yang lahir bersamaan dengan Pemberontakan PRRI. Ia menjadi bayi gerilya sejak usia satu hari. Kerabatnya tak lepas dari peristiwa '65. Ia menjadi aktivis di ITB pada era Orde Baru, sebelum gerakan mahasiswa dipatahkan. Merasa dikebiri rezim, ia merindukan tumbangnya Soeharto. Ini kisah cinta dalam bentangan sejarah Indonesia sejak era pemberontakan daerah hingga Reformasi."

Nah, kan. Apanya coba yang teenlit

Entry Eight:

John Green - Looking for Alaska


Versi terjemahan bahasa Indonesia terbitan GPU. Judul lokalnya: Mencari Alaska. Di buku keduanya ini, John Green berkisah tentang Miles Halter, pencinta biografi yang suka menghafal kata-kata terakhir para tokoh terkenal dunia. Dia baru saja lulus SMA, dan sebagai anak yang tidak populer di sekolah, tidak pernah berkencan, tidak punya teman akrab, kehidupan sosialnya garing, dan Miles senang bisa meninggalkan itu semua di Florida. Di lingkungannya yang baru, Miles bertemu orang-orang baru. Mendapatkan pergaulan baru. Salah satunya ya.. cewek bernama Alaska Young. Seseorang yang entah kenapa, nggak ada angin nggak ada hujan, nggak disamber geledek pun, mendadak pergi. Begitu saja.

Last Entry:

Rick Riordan - The Heroes of Olympus: The Lost Hero


The only book written in English among others in this giveaway! Penggemar Riordan pasti tahu seberapa seru dan kocak gaya penulisan beliau dalam tiap novel-novel karyanya. The Lost Hero adalah jilid perdana dari serial The Heroes of Olympus (spin-off serial Percy Jackson yang hits banget itu), sehingga kalian nggak akan kebingungan dengan apa yang terjadi, karena buku ini memang 'kepala' rangkaian buku-buku lain. Biasanya paling susah dicari juga. Ya, kan. Sering kan pengin ngikutin sesuatu tapi cuma bisa nemu jilid-jilid tengahnya doang? Tapi jika kalian males ngumpulin temen-temennya ya nggak masalah. 

"Welcome Jason Grace, a Roman demigod with no memory of his past. He, along with Piper McLean, a daughter of Aphrodite, and Leo Valdez, a son of Hephaestus, are given a quest to rescue Hera, the queen of gods, from the clutches of Gaea, the primordial goddess of the earth."

Kesembilan buku dalam satu frame. Iya, ini foto yang sama dengan gambar pembuka.

Jadi, cara ikut giveaway ini bagaimana?

Syaratnya mudah sekali, mbak-mbak dan mas-mas sekalian. Silakan tinggalkan komentar di bawah, yang mana wajib menyertakan hal-hal berikut ini:
  • Buku yang diinginkan dan alasannya. Contoh: "Aku mau adopsi Better Than This karena nggak punya akun Wattpad!" atau kalau rakus dan nggak pemilih, bisa juga "Buku yang mana aja boleh deh, mau semuanya kok".
  • Buku favorit, atau buku yang sekarang sedang dibaca.
  • Tulisan di blog ini yang kalian suka dari segala postingan carut-marut yang ada, beserta alasan singkat. Kayak gini misalnya: "Aku suka tulisan 'Asian Games Jakarta-Palembang 2018 Merchandise: a threat' karena gara-gara ulasan merchandise Asian Games itu akhirnya aku tahu barang apa yang mau kubeli!"
  • Sertakan akun Twitter (plis jangan Instagram, saya nggak punya) yang aktif, atau email. Agar saya bisa menghubungi kalian kalau-kalau menang.
Giveaway akan berlangsung hingga Juli 2019. Tanggal persisnya belum saya tentukan, namun berhubung saya perlu melegakan kamar sesegera mungkin, barangkali di pekan kedua sudah akan ada pengumuman pemenang. Monggo iseng-iseng dibaca konten blog tidak bejuntrung ini agar bisa menjawab poin persyaratan ketiga. Masih ada waktu sekitaran dua minggu, tuh. Sekadar saran: berhubung blog saya sempat mati suri, akan lebih bijaksana jika yang dibedah adalah postingan mulai tahun 2015 saja.

Saya tunggu partisipasinya yah! Semoga berkenan menjadi kediaman baru bagi buku-buku ini. Oh iya, sebagai tambahan informasi: pemenang belum tentu mendapatkan buku yang diminati. Poin pertama di atas hanya sebatas panduan bagi saya untuk bikin prioritas. Tapi selebihnya ya tergantung untung-untungan. Hehe. Gapapa kan?

z. d. imama