Wednesday, 7 November 2018

Wave of Tomorrow: when tech and art collide

Wednesday, November 07, 2018 0

Belum lama ini di Jakarta ada sebuah pameran karya seni yang mengusung perpaduan instalasi seni rupa, teknologi, dan musik dengan tema yang disetel semi-futuristik. Namanya? Wave of Tomorrow. Berlokasi di Jakarta Selatan, tepatnya The Tribrata Grand Ballroom, Dharmawangsa, yang menurut saya desain bangunannya mengingatkan pada rumah tokoh antagonis kaya-raya bergelimang harta yang kerap muncul di opera sabun televisi. Ngerti, kan. Pilarnya gede-gede, chandelier bergelantungan, dindingnya diukir-ukir macem candi, lalu si karakter jahat yang tinggal di sana selalu pakai high heels 24/7, bangun tidur dalam keadaan muka full makeup lengkap dengan bulu mata palsu cetar membahana..

Lho jadi melantur.

Pameran berlangsung selama 10 hari saja: 19-28 Oktober 2018 lalu. Saya―yang secara ajaib mendapatkan undangan; please don't ask me why because I have no idea―baru sempat mampir di hari terakhir setelah matahari terbenam. Alamakjang ramai sekali rupanya. Banyak yang datang berbondong-bondong dengan kawan-kawan satu geng sepermainan, namun mayoritas hadir bersama pasangan masing-masing. Gandengan gitu deeeh. Single-serving me cannot relate. Saya sih nongol sendirian seperti biasa. Hehe. Tolong dimaklumi jika krisis dokumentasi, apalagi foto diri. 

Cukup dengan menilik entrance gate pun sudah cukup terasa bagaimana atmosfir yang hendak diusung oleh Wave of Tomorrow. Tagline-nya super menyakinkan: Ahead of Its Time.


Sebelum masuk, saya menukar undangan dengan gelang akses. Nah, di sini ada sepotong cerita lucu. Mbak-mbak petugas loket menyerahkan selembar kertas begitu saya bilang, "Mbak, mau redeem undangan". Katanya, "Isi nama ya Kak. Sekaligus tulis di situ, akun Instagram-nya apa." 

Saya akan anak jujur, ya. Ngaku dong. Mengungkapkan kebenaran yang hanya ada satu. "Oh, saya nggak punya Instagram. Kolom ini dikosongin aja boleh kan, mbak?"

AND THERE WAS THIS AWWWKKWARDDDD PAUSE.

Jika hidup saya dibikin versi film kartun, adegan tersebut pasti ada burung gagak terbang berkoak-koak di belakang punggung kami, lengkap dengan titik tiga berjajar mengisyaratkan keheningan. I swear to God the look she gave me was priceless. Tatapan mbaknya terlihat murni keheranan seolah-olah menyuarakan isi hatinya: "Lah ini orang mau ngapain di dalem sana kalau Instagram aja kagak punya??"

Maafkan saya, mbak. Beginilah nyatanya.

Ageless Galaxy. Di mata saya, pesawat luar angkasa ini kayak ada wajahnya. 

Keseluruhan instalasi di Wave of Tomorrow tidak terlalu banyak. Hanya sekitar sepuluh. Namun karya-karya yang dihasilkan dari tangan-tangan Nonotak, 9matahari, Rebellionik, Maika Collective, Ageless Galaxy dan Kinara Darma x Modulight punya daya pikat yang berbeda-beda. Format yang diusung pun tidak repetitif sama sekali, sehingga mengunjungi satu instalasi ke instalasi lainnya terasa menyenangkan. Sebagian besar menghadirkan nuansa remang-remang seperti ruang angkasa, dengan penerangan hanya dari lampu yang sesekali berpendar atau memang disetel redup. Terus terang, saya sempat mikir apa jangan-jangan suasananya berasa gelap gara-gara saya datengnya pas udah malem. Tapi nampaknya tidak demikian. Ini kan bukan Sekaten.

Favorit saya? Constellation Neverland dari 9matahari. Dengar-dengar, memang banyak orang lain yang sama-sama menyukai instalasi ini, salah satunya ya senpai kesayangan saya, Kak Chika. Gumpalan awan-awan dan untaian benang yang ditata sedemikian rupa sehingga terlihat seperti hujan. Saat saya mengunjungi instalasi ini, kilatan cahaya lampu berwarna putih menciptakan pemandangan seakan-akan sedang datang badai. Cantik banget. Sekaligus agak bikin merinding.


Eerily fascinating, don't you think?

Redupnya paruh awal pameran bikin saya agak terkejut memasuki sisi lain Wave of Tomorrow. Terutama Stereoflow. SO COLORFUL, BEYBEH. Bahkan warna-warna gonjreng seperti pink, kuning, dan biru cerah menyeruak ganjen tanpa malu-malu. Saya mengerjap-ngerjap beberapa kali pada pandangan pertama saking harus membiasakan mata dulu. Hahaha. Di instalasi Stereoflow inilah saya akhirnya mengambil satu-satunya foto diri, berkat bantuan seorang mas-mas superbaik hati yang berkenan menekankan shutter kamera ponsel.


Secara konten, Wave of Tomorrow sangat menyenangkan. Asal sabar ngantri aja. Mau gimana, lumayan timpang juga antara jumlah instalasi yang bisa diamati dan dilihat-lihat dengan jumlah pengunjung. Apalagi saat akhir pekan. Wuidih. Ruaameee! Untuk bisa dapat giliran menikmati karya yang dipamerkan, saya menghabiskan waktu selama 5-20 menit mengantri. Secara durasi sebenarnya nggak lebih parah dari antrian The World of Ghibli Exhibition Jakarta 2017 silam, sih. Cuma kan luas ruangan ballroom The Tribrata rada kecilan, ya... dibandingkan Ritz-Carlton Pacific Place. It just felt more packed. Sempat bingung juga antrian apa masuk barisan mana, sebab ketika itu ada tiga lajur panjang terbentuk di depan instalasi Ageless Galaxy namun sama sekali tidak ada petunjuk dari panitia.

Penempatan panggung pertunjukan musik yang terlalu berdekatan dengan instalasi seni pun menurut saya kurang pas. Beberapa karya dilengkapi dengan suara-suara background music tersendiri untuk menyuguhkan atmosfir paling nampol, dan saat sesi music performance dimulai, BGM dari instalasi benar-benar kelelep oleh penampilan musisi yang tampil di panggung. Bayangin lah. Mestinya meresapi reversible narration di instalasi Kinara Darma x Modulight setelah beres ngantri puluhan menit dengan mood mellow, tapi yang kedengeran justru suara Saykoji nyanyi lagu Online. Sayang aja gitu. Nggak maksimal pengalamannya.

Thank you, Wave of Tomorrow.

Terima kasih sudah mengundang saya yang tidak punya akun Instagram. Saya harap semoga kelak akan makin banyak dan kerap diselenggarakan pameran-pameran karya seni kontemporer di Jakarta. Syukur-syukur merembet ke kota-kota lain seluruh penjuru Indonesia. Lumayan jadi variasi melepas suntuk dan penat rutinitas, sekaligus mengakrabkan diri dengan berbagai bentuk kesenian. Agar sesekali saya nggak nyamperin Galeri Nasional melulu saat suntuk. Petugasnya mungkin udah bosen liat tampang jelata ini.

z. d. imama

Thursday, 1 November 2018

"Rules are made to be broken", says Gintama 2. A rambling review.

Thursday, November 01, 2018 4

I just had to. Beberapa lama tidak ngoceh tentang film yang sedang diputar di bioskop, akhirnya saya putuskan menulis setelah berhadapan dengan Sakata Gintoki dan geng gabutnya semalam. Bless ODEX Indonesia for bringing this 2 hours and 45 minutes of goofball here. Gintama 2: Okite wa Yaburu Tame ni Koso Aru is arguably a notable improvement from the first movie. Far less cringe-worthy scenes; I can only remember one or two. Better paced. Better editing. Hampir tiga jam di dalam studio teater dan sama sekali nggak ada rasa bosen. 

Sebelum saya memuntahkan seluruh gejolak emosi jiwa tanpa struktur, mari kita bahas ringkasan cerita secara umum. Saya janji sebisa mungkin nggak akan ngebeberin spoiler. Penting maupun tidak penting. Oh, ya. Mumpung inget, mau disclaimer dulu: cuplikan gambar-gambar yang terlampir di bawah sumbernya adalah screencaps dari trailer dan promotional artworks Gintama 2 plus sejumlah adegan film perdana ya. 

So, let's start the fangirl rant.

Gintama 2: Okite wa Yaburu Tame ni Koso Aru.



Hidup selow Sakata Gintoki, cewek spesies alien superkuat Kagura, dan part-timer abal-abal Shimura Shinpachi sebagai Yorozuya (Jack-of-All-Trades) kali ini direcoki oleh permasalahan internal yang melanda aparat keamanan Edo, Shinsengumi, sejak kehadiran sesosok prajurit berkarir cemerlang, Ito Kamotaro. Usut punya usut, kisruh tersebut bertalian dengan konspirasi yang menyangkut keamanan serta keselamatan Shogun, dan seperti biasa, geng Yorozuya menemukan diri mereka terlibat dalam pertarungan orang lain.

The movie production team has made adjustments here and there, changing details and sewing parts from various places to build the story. And they've done it well. Not exactly perfect, but still believable. Bahkan saya yang baca manga plus nonton serial animenya secara religius tidak merasa terganggu babar blas dengan sejumlah perubahan yang dibuat. Selain itu, meski kostumnya aneh-aneh dan banyak karakter hadir dengan rambut warna-warni, Gintama mampu membuat penonton melihat tiap tokohnya sebagai individu. Tidak sekadar, "Oh si aktor Anu lagi akting sambil cosplay". Nggak kayak Fullmetal Alchemist live-action yang mending dibakar hangus aja.

Tim produksi Gintama memang keren abis. Mereka paham level kenistaan dan kerecehan lelucon-lelucon di materi asli berupa manga buatan Sorachi Hideaki. They never think about 'smarting things up'. Yet I guess they do learn from the first movie and its feedback; what worked and what didn't quite work. Masih inget betapa kampretnya adegan pembukaan Gintama live-action pertama? Oguri Shun muncul sendokiran sebagai Sakata Gintoki dan namanya ditulis berulang kali dalam berbagai bahasa dengan editing ala kadarnya―yang ternyata opening cut tersebut dibikin Oguri Shun sendiri atas permintaan tim produksi pakai komputer pribadi.




Tenang, kawan-kawan seperwibuanku. Adegan pembuka Gintama 2 tidak kalah menyebalkan. Tetap goblok sejak menit pertama. Barangkali jika diibaratkan... macem solat Idul Fitri atau Idul Adha gitu. Takbiratul ihram-nya banyak. Parodi dan guyonannya pun luar biasa. Gila. Gila. GILA. Kena semua. Nggak yang pop-culture lokal, nggak yang Hollywood, nggak yang tentang para pemerannya sendiri. Ledakan tawa penonton dalam studio nyaris nggak pernah berhenti. Sejak film pertama tuh saya sudah heran. Gimana ceritanya―sekaligus caranya―adegan model begini bisa lolos sensor maupun copyright infringement dan dirilis ke masyarakat umum? 

Kacau bat anjir.

One thing that amazes me the most is the production scale. Kelihatan banget bahwa Gintama memang bukan 'film ngirit'. Mereka berani bikin set skala besar bergelimang figuran demi meyakinkan penonton tentang suasana kehidupan kota Edo, distrik Kabuki. Ikut seneng lah ketika tahu Gintama 2 berhasil dapet keuntungan melampaui 3 milyar yen dalam waktu sebulan pemutaran film.


Pakai stuntman kayak Presiden Jokowi ngga neh he he he ~

Secara umum, Gintama 2: Okite wa Yaburu Tame ni Koso Aru bagi saya meraih predikat cum laude. 3.5 out of 4.00. Great casts. Nggak ada yang jaim sama sekali. Mau didandanin kayak apa, disuruh pasang muka segeblek apa, all of them delivered. Terutama Shogun, yang perjuangannya takkan mudah dilupakan. Convincing sets. Beautiful camera works and editing. Sumpah buanyak banget adegan-adegan cakep yang ketika DVD-nya rilis nanti bakal bikin saya mengalami screenshoot frenzy dan buat folder baru berisi skrinkepan film Gintama 2. Penggunaan CGI pun nggak ganggu-ganggu amat, walau saya masih tetap pada pendirian awal bahwa Jepang jauh lebih oke di wire work ketimbang efek grafis komputer. One more important thing to note: congratulations, Miura Haruma. You've done your redemption here as Ito Kamotaro. Siapa itu Eren Jaeger? Nggak pernah kenal. Cuih.

Jangan salah gaul lagi ya mas, kasihan karirmu.

However, Gintama is not without flaw. What's playing as its key strength, unfortunately, is also its greatest weakness: only those who have enough references and understanding on pop-culture (especially Japanese) can enjoy it best. Selain itu, kalau selera humor si penonton kurang tiarap.. ya mungkin agak sulit kena sih. Mentok-mentok komentar, "Ih ini apaan deh gak jelas amat. Gak nangkep di gue".

Sehingga? Silakan tes kadar kerecehan diri masing-masing dengan menyaksikan Gintama 2: Okite wa Yaburu Tame ni Koso Aru di cabang CGV atau Cinemaxx terdekat... yang memutarkan film ini. Saya aja mau kok misalkan diajak nonton lagi. Asal ditraktir. #Kode.

z. d. imama

Saturday, 27 October 2018

How to Ask Someone Out... Especially When That Someone is The One Writing This Post.

Saturday, October 27, 2018 4

Setelah sembelit tulisan di bulan September―dan selama berbulan-bulan sebelumnya cuma mampu bikin tiga postingan meskipun nggak bejuntrung, nggak penting, dan tidak dipedulikan juga, tampaknya sejak memasuki Oktober, isi kepala saya jauh lebih penuh dari biasanya. Atau saya lagi kebanyakan waktu luang aja. But that aside, a couple of days ago I received an interesting comment from Nanoki here, asking me on how to get closer and build a friendship with a person who's―suspected―rather selective in interacting with new people. Lah. Mendadak muncul pertanyaan kelas Nobel. Lumayan heran sih. Motivasi dan pertimbangan apa yang bikin saya, sesosok manusia krisis pergaulan ini, dianggap layak dimintai pendapat tentang tips berteman dengan orang lain? 

Komentar tersebut memang sudah saya respon di halaman yang bersangkutan, namun kok ya berhari-hari kemudian rupanya masih kepikiran. Barangkali karena saya sendiri penasaran. Gimana ya orang-orang di luar sana bisa punya teman main, ada yang diajak begini-begitu ke mana-mana, owning each other as BFFs, sementara saya bahkan nggak ngisi emergency contact di formulir kantor karena nggak tahu kira-kira in the event of emergency di perantauan, siapakah yang sebaiknya dihubungi terkait saya. Pertanyaan tersebut bikin saya mikir. Mengingat-ingat. Kondisi-kondisi macam apa yang bikin saya berangkat ke suatu tempat bersama orang lain, baik itu teman lama ataupun orang yang masih nggak kenal-kenal amat?

Maka saya putuskan bikin tulisan:

How to ask someone out (but it's actually just me).


Inti dari semua celotehan ini hanyalah bagaimana saya mengajak orang lain pergi bareng, serta ajakan-ajakan seperti apa yang lebih punya peluang untuk saya iyakan (dan bukan sekadar dibiarkan lewat). Narsis abis. Bodo amat lah. Wong tolok ukur yang dimiliki ya cuma diri sendiri. Sebenarnya pattern saya dalam mengajak (atau diajak) orang untuk menghabiskan waktu bersama-sama nggak berbeda jauh, tapi yang lebih jadi alasan penentu adalah: apakah sebelumnya saya sudah cukup mengenal orang tersebut?

  • Clear plan.

Ultimately, hal ini berlaku jika saya hendak berjumpa orang-orang yang sebelumnya tidak pernah, atau sangat jarang saya jumpai. Ajakan yang lebih terencana seperti nonton film Q, jalan-jalan mengunjungi pameran XYZ, datang ke convention ABC, punya kecenderungan untuk saya iyakan dibanding sebatas, "Ketemuan yuk, ngopi-ngopi di mana gitu". Kenapa? Clearer destination and purposes help me understand whether there is a shared interest or not, and how many hours will be spent together. Apakah bakal bareng seharian? Atau cukup beberapa jam? Nyari topik pembicaraan juga lebih gampang. Lebih terarah. Jika ternyata setelah dicoba ngobrol ketahuan kalau kurang nyambung, ada hal lain yang bisa dijadikan pusat perhatian. Minimal ketika nonton film, ada 90-120 menit di mana saya dan orang tersebut tidak perlu intens berbincang (sekaligus jadi sarana judging manner di dalam studio bioskop). Gitu.

  • Number of participants.

Penting nih. Ada berapa manusia yang nantinya saya temui? Bakalan berdua? Bertiga? Sejumlah anggota Super Junior circa 2009? Atau seluruh alumni Universitas Monas berangkat semua? Hm. Saya sih nggak benci berada di tengah kerumunan orang asing, toh hepi-hepi dan hore-hore aja berbaur di pasar malam, konser, atau area festival Asian Games 2018 maupun Asian Para Games 2018 tempo hari. Kenalan dengan sejumlah orang baru di suatu acara pun nggak masalah. Namun beda cerita kalau ditempatkan dalam situasi di mana saya dianggap sudah mengenal seabrek-abrek orang yang hadir (padahal nyatanya tidak), i.e. reunian sekolah. God please not that shit. Syukurlah jika bisa termasuk orang-orang yang menikmati kumpul-kumpul satu angkatan (bahkan lintas angkatan). Because I do not.

  • Expenses.

Ini lebih krusial lagi. Sebagai perempuan mandiri yang bekerja tapi penghasilan ceremende, bagaimana duit akan dikeluarkan saat berkegiatan bareng berperan penting. Keluar seratus ribu sekali jalan aja sudah sering bikin pening, apalagi kalau ngumpul dengan sejumlah orang di tempat yang minumannya segelas Rp40,000. Nggak pesen kok ya haus dan seret (lantaran banyak ngobrol), tapi kalau pesen sama aja bunuh diri. Memang rupanya alesan utama saya nggak punya teman dan fakir pergaulan itu kemiskinan finansial. Sehingga bisa dengan mudah ditebak, saya nyaris tidak pernah menolak ajakan main gratis atau makan gratis. Try to drop me an invitation to someplace with, "Nanti gue yang bayar" or "Acaranya gratis kok elo tinggal dateng aja" and I'll rush there riding a Pegasus.  Kecuali pas lagi sakit. Gini-gini saya masih punya kesadaran diri untuk berusaha tidak menulari orang lain lho.

  • Cats.

Saya perlahan menyadari bahwa kecepatan saya mengiyakan undangan seseorang untuk datang ke tempat tinggalnya agar bisa main-main dengan kucing-kucing yang mereka pelihara, mulai membahayakan keselamatan diri sendiri. And I guess... this explains itself. I don't need to elaborate further, right?


They will be the cause of my destruction.

Preferensi pribadi dalam menerima ajakan dari orang lain membuat prinsip yang sama  cenderung saya terapkan ketika hendak nyolek-nyolek orang agar bersedia main bareng. Tujuannya jelas, peserta terbatas―seringnya hanya berdua dengan saya, dan nggak pernah kemahalan. Barulah kalau sudah berteman dan akrab (yang hingga kini jumlahnya cuma segelintir), saya bisa random ngajak ngopi, lompat dari satu toko ke toko lain berburu buku, atau jalan-jalan keliling kota seharian tanpa juntrungan. Kan udah ngerti satu sama lain maunya apa. Bahkan ada tipe teman yang cukup saya kirimi pesan LINE, "Lho aku punya kok anime Captain Tsubasa tahun 1983 lengkap," untuk membuatnya datang ke kos dan binge-watching berdua sepanjang akhir pekan sambil ngata-ngatain kekonyolan adegan. Dasar wibu.

Bagaimana dengan kalian?

z. d. imama

Tuesday, 23 October 2018

New shoes, new pain, and how to deal with it.

Tuesday, October 23, 2018 2

Dibandingkan mengoleksi banyak sepatu tapi masing-masingnya jarang dipakai, saya lebih condong ke tipe orang yang punya sedikit alas kaki tetapi dipakai terus-menerus sampai rusak. Nggak sekali-dua kali pula. ketika akhirnya ada salah satu sepatu yang nyawanya tak bisa lagi diselamatkan, saya beli model dan merek yang sama karena merasa cocok. Setia banget emang. But I'm sure eeeeevery girl deserves reliable shoes, especially when they are demanded to look 'prim, proper, and presentable' on daily basis by their workplace. Makanya begitu sudah ketemu yang dirasa oke, jangan sampai lepas!

That aside, there is this particular part I hate the most when buying new shoes: breaking period. Alah itu lho, masa-masa yang diperlukan bagi si sepatu baru yang masih kaku untuk jadi lentur dan mengikuti bentuk kaki kita. Jika dikenakan setiap hari, biasanya membutuhkan sekitar dua pekan sampai nyaris sebulan sebelum akhirnya benar-benar nyaman kayak dia yang bukan siapa-siapa kamu itu. Lumayan kan. Sepanjang hari-hari melemaskan sepatu, beuuuuuh kaki bisa babak belur. Lecet di mana-mana. Cuts and blisters everywhere. Here and there. Masalahnya, luka-luka akibat gempuran sepatu baru ini sering nggak terlalu kelihatan ketika dipandang sepintas, jadi ngobatinnya agak susah... padahal sensasi clekit-clekit yang mendera lumayan mengganggu dan menyiksa.

Mana perih banget pas ditetesin obat merah.
Nyebelin.

Demi menghadapi lecet-lecet di kaki, biasanya saya bermodalkan obat merah biasa dan plester luka. Tapi kalau boleh jujur nih, saya tuh selama ini nggak puas. Ada beberapa hal yang bikin saya kurang sreg dengan persenjataan diri sendiri. Satu, obat merah tuh perih. Masa udah sakit gara-gara luka, masih harus sakit juga pas diobatin? Kan males ya. Selain itu, akurasi aplikasi obat merah sering nggak pas gara-gara letak luka yang susah dideteksi. Meleset. Harusnya yang dikasih obat merah titik A, eeeh tetesannya jatuh beberapa milimeter di samping. Terus jadi beleber ke mana-mana. Ninggalin noda di lantai, baju, sepatu, kaos kaki. Ini juga nih yang bikin bete. Kenapa atuh obat merah warnanya harus se-gonjreng itu dan jejak nodanya cenderung bandel kalau nempel di kain? Nggak usah kain, deh. Kena kulit pun ngebersihinnya agak susah. Belum lagi sisaan obat merah kadang luber dan nempel di tepian mulut tube, lalu mengotori tempat penyimpanan. Ngasih PR banget.

Namun semua hanyalah kisah masa lalu.

Sekarang saya sudah punya senjata pamungkas baru.

The latest weapon(s) in my pouch.

These. Guys. Are. The. Bombs.

Hands down.

It's almost hard to believe how much of a gamechanger they are. Hansaplast Spray Antiseptik and Hansaplast Aqua Protect are my new ultimate weapons against foot blisters and other small scratches. Keluhan-keluhan pribadi saya terkait obat merah yang tertera di paragraf atas? Kelar semua. Terselesaikan. Sapu bersih. All problems solved. Aplikator Hansaplast Spray Antiseptik yang berbentuk semprotan bikin nggak perlu susah-susah nyari sudut paling tepat untuk meneteskan obat. Tinggal arahkan lubang spray ke area yang luka lalu preeeeeet! Tekan ujung tutup. Cairan antiseptik tersembur tersemprot keluar. Beres. Tanpa bau. Tanpa warna. Tanpa noda. Seriusan. Berasa nyemprot air putih gitu. Bahkan nggak usah lagi ngerasa cemas wadah penyimpanan obat terkena bercak noda kalau nutup kurang rapet. Ukurannya pun compact. Muat ditaruh dalam makeup pouch, bahkan clutch bag buat dibawa kondangan.

And the best part?

Nggak ada sensasi clekit-clekit menyakitkan yang sering muncul tatkala luka ditetesi obat merah. Nggak nongol sama sekali. Suer. 100% #GakPakePerih. What kind of sorcery is this???? Bagi manusia cupu macam saya yang cuma pengin hidup namaste, lenyapnya siksaan rasa perih sangat mengobati lecet di kaki gara-gara sepatu baru jelas merupakan hal yang wajib dirayakan. Hansaplast Aqua Protect yang kedap air juga jadi alternatif menyenangkan setelah bertahun-tahun berkutat sebagai pengguna plester luka berbahan kain biasa. Plester luka langsung lembab dan nggak nyaman dipakai begitu kena air? Selow, bosque. Nggak akan kejadian pada varian Aqua Protect ini. 

Saking bebas ribetnya, Hansaplast Spray Antiseptik bisa dipakai di mana saja. Termasuk di lokasi tak terduga seperti perpustakaan, pasar, atau tempat-tempat umum lain. Belum lama ini saya ngerasain "Duh kok kayaknya ada lecet baru nih" saat sedang jalan-jalan dengan sepatu baru, dan tebak saya ngapain? Melipir ke area yang sepi, lalu mengaplikasikan Hansaplast Spray Antiseptik! Haha. Setelah itu, tutup bagian yang luka dengan Aqua Protect supaya nggak kegesek-gesek lagi waktu meneruskan aktivitas. Case closed. Nggak perlu cemas bakal ngotorin lantai, bikin susah staf kebersihan. Paling rada malu dikit kalau kebetulan kepergok pengunjung lain lantaran buka sepatu.

Tidak sampai semenit, all is well.

Sejak kenal mereka berdua, saya nggak pernah balik lagi ke obat merah atau plester luka biasa. Hidup ini tercerahkan sudah. Terus terang, hasrat diri untuk mengguncang-guncang bahu seseorang seraya berteriak, "Kenapa sih yang begini baru ada sekarang???" tuh sedemikian tinggi, tapi yah... better late than never, I guess?

z. d. imama

Monday, 15 October 2018

3rd Asian Para Games 2018: another story of a regular supporter

Monday, October 15, 2018 6

Setelah dua pekan, tiga weekend, dan sekian puluh ribu langkah kaki saya jalani berkat kepelet atlet Asian Games 2018 Jakarta - Palembang rampung, akhirnya datang juga season two dari perhelatan internasional khusus negara-negara Asia tersebut: Asian Para Games 2018 Jakarta. Yap. Kali ini, Palembang nggak ikut jadi tuan rumah lagi lantaran waktu penyelenggaraan yang lebih singkat dan cabang olah raga yang dipertandingkan juga lebih sedikit. Selidik punya selidik, rupanya kompetisi ini hanya pernah diadakan dua kali sebelumnya. Jadi, acara di Jakarta ini ya Asian Para Games edisi ketiga. Masih seumur jagung kiprahnya. Thanks, Wikipedia. Kau sungguh RPUL kekinian.

Meski rada-rada nggak ikhlas melepaskan Bhin Bhin, Atung, dan Kaka, saya harus legowo dan menerima bahwa yang bertugas sebagai maskot acara Asian Para Games 2018 bukan lagi trio Kwek-Kwek binatang unyu tersebut, melainkan sesosok elang bondol bernama Momo. Berbeda dengan para maskot Asian Games yang penamaannya diambil dari slogan bangsa Bhinneka Tunggal Ika, panggilan Momo berasal dari singkatan "Motivation & Mobility". Lebih keminggris, saudara-saudara. Para atlet serta pemirsa internasional tidak perlu mbukak laman Wikipedia untuk nyari tahu apa itu makna dari Bhinneka Tunggal Ika, sebagaimana yang mungkin mereka lakukan saat membaca riwayat penamaan Bhin Bhin, Atung, dan Kaka.

Beginilah wujud Momo:


Astaghfirullah. Salah upload. Sebagaimana yang kita tahu, gambar di atas itu Drawa, mantan maskot Asian Games 2018 sebelum dilengserkan oleh Bhin Bhin, Atung, dan Kaka lantaran menerima banyak ugly-shaming kritik pedas dari kalangan masyarakat. Menurut legenda sih desain karakternya mengacu pada burung Cenderawasih, namun saya tidak akan menyalahkan apabila ada yang salah sangka dan berpendapat lain. Bahkan Drawa bisa dikatakan sebagai Momo versi pre-debut, saking tidak kentaranya manifestasi spesies Cenderawasih dalam desain.

That being said... here is the REAL Momo:

Not bad, huh? Go, Momo!

Asian Para Games hanya mempertandingkan 18 cabang olahraga yang digelar dalam waktu sepekan. Tepatnya 6 - 13 Oktober 2018. Cukup singkat. Namun rupanya tidak bebas drama. Ya nasib. Keluhan pertama saya selaku penonton adalah jarak penjualan tiket pertandingan yang terlalu mepet dari hari pelaksanaan. Ngerti sih, mungkin INAPGOC cukup diguncang trauma dengan tragedi KiosTix yang bikin netizen ngamuk bukan kepalang pada INASGOC, lalu mereka enggan merilis apa pun sebelum sistem ticketing dan keputusan benar-benar siap. Tapi mbok jangan lantas nunggu H-2 acara baru ngeluarin tiket, Maliiiin! Pensi SMA aja nggak sedadakan ini kok ngejual tiketnya.

Anyway, after a rather fierce online battle, I managed to get my share. Sebagai pengganti tiket Opening Ceremony yang tidak berhasil didapatkan―karena tidak cukup uang, bukan gara-gara tidak dapat slot―akhirnya saya putuskan datang menyaksikan pertandingan preliminary Wheelchair Basketball yang kebetulan sudah dimulai sejak Sabtu, 6 Oktober 2018 pagi hari. Sebelum Asian Para Games 2018 resmi dibuka oleh Bapak Sejuta Umat, Presiden Joko Widodo. Berasa nonton bioskop premiere. Hehehe. Hehe. He.

Huruf S-nya ketutupan dan saya tidak berniat memotret ulang lantaran cuaca puanassss!

Sepanjang Asian Para Games 2018 berlangsung, cuaca selalu cerah. Agak terlalu cerah, malah. Matahari bersinar superterik. Brightness on steroid; full blast. Terus terang sebagai warga negara tuan rumah saya bersyukur. Hamdalah, ora udan babar blas. Nggak kebayang apa kabar booth-booth makanan dan area terbuka di festival Asian Para Games apabila keguyur hujan deras. Pasti keos. Kayak menjelang penutupan Asian Games 2018 lalu. Namun selaku manusia biasa di negara tropis yang sehari-harinya kenyang mendapatkan sinar matahari sepanjang tahun, hati saya bengak-bengok, melolong nestapa. "GUSTIIII WIS SASI OKTOBER KOK SRENGENGE IJIK MLETHEK TERUS NGENE KI PIYE?? NGENE IKI DAMPAK GLOBAL WARMING, YAA RABBI??"

*Menggelonggong diri dengan air minum Prim-a.*
(Maklum, sponsor. Cuma merek ini yang dijual di lokasi.)

Berada di tribun dan menyaksikan pertandingan demi pertandingan Asian Para Games 2018 memberikan saya banyak pengetahuan baru. Terutama mengenai perubahan serta penyesuaian aturan-aturan olahraga agar bisa mengakomodasi atlet-atlet yang berlaga. Sebelum menghadiri Asian Para Games, saya hanya mengenal gambaran umum tentang Wheelchair Basketball, berkat serial komik karya Inoue Takehiko, REAL. Apa itu Boccia, Para Athletic, Sitting Volleyball, serta beraneka cabang olahraga unik lainnya baru saya ketahui dan saksikan dengan mata kepala sendiri di event akbar ini. Very educational. Walau sempat ada curhatan di internet tentang sepinya suporter pada beberapa hari awal (yang tidak bisa saya bantah lantaran saat nonton Sitting Volleyball di hari Minggu, 7 Oktober 2018 tuh penontonnya sampai harus dimobilisasi ke satu sisi tribun saja supaya bisa ngumpul dan kamera cukup tinggal diarahkan ke sana), syukurlah paruh akhir Asian Para Games 2018, khususnya partai final, jumlah penonton naik cukup drastis.

Final Match Wheelchair Basketball: Japan vs Iran. FULL HOUSE!

Terima kasih, Asian Para Games 2018. Meski agak terlalu cepat berlalu, kehadiranmu telah menyumbang banyak memori penting dalam hidup saya yang semenjana ini. Terima kasih atas oleh-oleh suara serak gara-gara terlalu banyak bersorak dan tertawa. Terima kasih untuk total step counts di aplikasi Pedometer dalam ponsel saya yang angkanya sukses melonjak tidak karuan; jalan keliling GBK memang tidak bisa diremehkan. Terima kasih sudah memberi saya kesempatan berkumpul dengan teman-teman, menghabiskan hari bersama-sama sejak pagi hingga malam. Thank you for every piece of precious memories, every second I spent feeling genuinely happy. I'm also feeling extremely grateful, that your existence has given me enough confidence to take many new pictures―something that I rarely do (but I will try to practice more this year).

  
Memegang teguh prinsip "Apa pun pertandingannya, bawa atribut Indonesia".

Penonton figuran siap melawan hawa nafsu panas negeri khatulistiwa.

And you've done incredibly well, Momo. Tugasmu telah usai. Sekarang kamu sudah bisa bebas bermain-main bersama Bhin Bhin, Atung, dan Kaka dengan riang gembira, berlarian riang dalam ingatan kami semua. Bisa lah ajak-ajak Drawa sekalian, kasihan dia dianaktirikan melulu. Sampai jumpa lagi suatu hari nanti.


z. d. imama

*P.S.: Ngomong-ngomong, dari sekian varian merchandise resmi Asian Para Games 2018 yang dijual di GBK, kalian beli yang mana saja? Sandal jepit? Notebook? Flashdrive 4GB? Mug keramik? Atau yang lainnya? Sini dong saya diberitahu...

Boneka Momo versi Angry Bird kawaii dan macho.

    
Sesekali punya sendal jepit yang bukan Swallow oke juga kan? Notebook-nya buat nyatet dosa.

Ingin menatap tubir di internet sambil menyeruput teh dari mug merchandise Asian Para Games.

Friday, 12 October 2018

The Ojek Online Blues

Friday, October 12, 2018 5

Tahun 2017 silam, saya pernah menulis The Angkot Blues, yang notabene berisi curhatan saya selaku pengguna jasa transportasi publik―yang tidak mendahulukan kepentingan publik―tersebut. Belum lama ini uneg-uneg pribadi selaku pengguna TransJakarta yang kerap dizolimi pengguna jalan selain TransJakarta itu sendiri juga sudah ditumpahkan. Kini tibalah giliran saya turut menggelontorkan sedikit (atau justru banyak?) curahan hati tentang pasukan yang setia menghijaukan kota: pengemudi ojek online. Baik yang konon aplikasinya karya anak bangsa maupun karya osang-aseng. Lagian kan mumpung segenap netizen di ranah Twitter belakangan sibuk ngomongin mereka gara-gara kasus dan blunder yang menimpa. Sok-sokan menunggang isu, gitu. Berhubung duit saya cuma cukup buat naik yang versi sepeda motor, maka kisah-kisah maupun pikiran-pikiran tentang layanan jasa taksi online mungkin hampir nggak akan ada. 

Ya emang nasib jadi rakyat kere ceremende.

Sebagai satu dari seabrek-abrek kaum pekerja dan perempuan mandiri (baca: tidak punya kawan maupun pasangan yang bisa diajak ke mana-mana, boro-boro supir pribadi), saya termasuk golongan yang tertolong dengan kehadiran ojek online. Kenapa nggak? Tersedia 24 jam. Harganya jelas. Belakangan ini, sistem pembayaran bisa cashless―selamat tinggal kalian yang suka nilep kembalian dengan berbagai alasan. Dijemput di lokasi. Penumpang disediakan helm. Nomor polisi tercatat. Pengemudi mudah dihubungi. Dibantu GPS, jadi bisa ke mana saja selama masih dalam radius jarak yang ditetapkan perusahaan. Posisi pengemudi terlacak. Ada Layanan Pelanggan untuk komplain. Bisa titip beli makanan dan belanja. Hal-hal tersebut di atas kalau komparasinya adalah ojek pangkalan yang gemar sekali menetapkan tarif sesuka duburnya, atau Metromini dan Kopaja yang tidak bejuntrung kehadirannya, jelas bikin ojek online terasa bagai pahlawan berhelm tanpa cela. And well, to be fair, their existence does play a big help in my life.

And then, came the plot twists.



Walau nggak tiap hari jadi pengguna ojek online, saya terbilang cukup sering duduk di belakang pengemudi berjaket hijau. Masih tergolong frequent user lah. Pengalaman saya, dari hari ke hari, makin bervariasi dan penuh kejutan. And it's mostly not even in a good way. Bukan tipe-tipe kejutan menyenangkan, masuk taksi konvensional lalu ternyata disediakan permen, air minum, tisu, bahkan minyak kayu putih oleh sang pengemudi tanpa dipungut biaya seperti yang dilakukan Pak Fachruroji dan beberapa pengemudi ojek yang kreatif. Melainkan pencurangan sistem, pelanggaran aturan, dan bahkan munculnya sikap-sikap yang bikin penumpang merasa tidak aman.

Misalnya?

Wrong number, wrong location, wrong registered data, wrong everything

Key factor dari kemudahan sekaligus rasa tenang yang―niatnya―ditawarkan perusahaan jasa ojek online adalah adanya pencatatan data pengemudi di sistem. Penumpang tahu berapa nomor ponsel pengemudi, apa nomor polisi kendaraannya, bagaimana wajahnya. Nyenengin, kan? Memudahkan, kan? Tetapi belakangan, nggak jarang juga permintaan saya diambil oleh orang-orang yang ya udah ngilang aja gitu macem jin-jin Bandung Bondowoso pas ayam berkokok. Ditelepon nggak bisa. Dikirimi pesan via built-in chat feature nggak terkirim. Posisi di aplikasi dieeeeeeeeem aja kagak gerak kayak patung Pancoran. Eh tahunya pakai fake GPS. Emang sih solusinya tinggal batalkan pemesanan, namun apa kabar waktu saya yang terbuang sia-sia untuk meladeni dan mencoba ngontak sobekan sachet Sasa barusan? Bahkan menanti kehadirannya?

Belum ngomongin pengemudi yang tidak menggunakan kendaraan terdaftar. Atau, justru pinjam akun orang lain (dan ngasih pinjem). Konon katanya mau dijemput dengan motor Honda Supra Fit, dateng-dateng yang muncul Honda Supra Sakit-Sakitan. Di aplikasi tercatat yang akan menghampiri adalah Ridho Rhoma, eeeh nongol-nongol ternyata biskuit Roma Kelapa. GIMANA YA. Mana sering nggak ngasih tahu perubahan itu karena takut dilaporkan―ngelanggar aturan kok takut dapat sanksi, karepmu piye...? 



Pertanggungjawaban pengemudi terhadap penumpang pun jadi nyaris nihil kalau data-datanya nggak sesuai kenyataan. Apa coba gunanya rekaman data jika saat ada kasus masih bisa ngeles, "Oh kemarin akunnya dipakai temen saya, kenalan saya, adik saya, bapak saya, gebetan saya, paman saya, nabi saya"? Heran deh. Kok kayaknya susah bener berharap seseorang bekerja tertib sesuai sistem dan peraturan. Kenapa sih semua-muanya mesti dicurangi? Setidak mampu itu ya masyarakat Indonesia hidup tanpa siasat yang dibuat demi kepentingan diri sendiri?

Harassment, harassment, harassment

Saya tidak tahu apakah penumpang ojek online yang laki-laki juga mengalami ini. Bukan sekali-dua kali ada pengemudi yang setelah perjalanan usai, menyalahgunakan nomor penumpang untuk kirim-kirim pesan chat tidak pantas, bahkan terang-terangan mengancam akan membahayakan keselamatan penumpang tersebut jika tindakan mereka dilaporkan ke perusahaan. Buosok tenan


Saya bahkan pernah terang-terangan digoda pengemudi ojek online di tengah-tengah kemacetan Jakarta... ketika sedang jadi penumpang ojek online lainnya. Bayangiiiin. Motor sama-sama nggak ada yang bisa gerak saking padatnya lalu lintas, orang berjubel di kiri-kanan, lalu satu bapak-bapak pengemudi ojek online random  tiba-tiba buka kaca helm dan melontarkan kalimat-kalimat pelecehan kepada saya. Di hadapan semua orang. Di antara banyak manusia yang semuanya diem mingkem. Pura-pura budek. Berlagak nggak lihat. Cuma saya yang hampir menangis, gemetaran saking malu dan marah.

Iya, ngerti.  Ada banyak pengemudi ojek online baik-baik yang kepengin cari nafkah secara damai. Nggak aneh-aneh. Ada pula tipe-tipe penumpang rese yang cuma pengin menang sendiri. TAPI TOLONGLAH. JANGAN MENYEPELEKAN MASALAH KESELAMATAN DAN KEAMANAN. Jangan melecehkan penumpang. Jangan melanggar peraturan kerja. Ikuti tata tertib berlalu lintas. Gitu doang masa nggak sanggup?

Drivers, you are still lifesavers for many people. Please stop this crap. Please fix this. Be better. Please don't be another jerk on the road. We have way too many already.

z. d. imama

Wednesday, 10 October 2018

All those love, but...

Wednesday, October 10, 2018 0

One day, you hit the point where you’re so desperate for human contact that you snap in half and all your love bleed out like egg yolk. And for you, falling in love with dozens of people a day was a coping mechanism for not having anyone to love you in return. You fall in love with a fellow passerby you see as you're heading to workplace, who is stroking the head of a stray cat endearingly, leaving behind small pile of food for the cat to eat. You fall in love with the male protagonist of a fiction, who falls onto his knees ninety-nine times but gets back up a hundred times tirelessly and continues his fight. You fall in love with a doctor on standby inside a clinic you will never go back to when you help a stranger who collapsed from fatigue on the street. You fall in love with your best friends whose eyes sparkling in happiness as they speak about their own love interests excitedly. You fall in love with a singer from far away countries whose songs help you getting through unbearable silence.

You fall in love.

Again. And again. Repeat.

Some love you can never tell. Some love they will never accept. Some love get stomped over right after they start to bud. And such love hurts. You know that whatever you're having right now just won't do. This doesn't cut it. Nothing will grow out of this. But you can't stop. Because the stinging pain inside your heart from copious rejections is telling you that you still can feel.

That you're alive.


So you keep those feelings. But you never stop wondering, "Is being in love this lonely?" because you can only feel air. Empty. Cold. On the fingertips of your stretched out hand that nobody would take. Around you, where you can't found the warmth of another human. "You are not alone," are what people always say, but how can you believe them when you never see any other human being staying by your side? So you talk to yourself. Your hands hug your own body, hoping pieces of you won't fall apart. You whisper to yourself that it's okay to not be strong all the time because you will protect the weaker side of yourself. You tell yourself that you're allowed to cry because you will wipe away those tears with your own hands. You assure yourself that you will tend and heal your bleeding heart and there won't be any scar left.

And like always, you end up alone, suffering from having too much love. 
All those love that people you want wouldn't take. 

All those love but none for yourself.

z. d. imama

Tuesday, 25 September 2018

Crazy Broke Asian: a daily commuting rant

Tuesday, September 25, 2018 4

Transportasi publik. Saya suka banget naik kendaraan umum seperti KRL atau TransJakarta. Serius. Asal kualitasnya bener aja sih (that being said, saya sudah bersumpah tidak akan naik Kopaja maupun Metromini lagi kecuali dalam kondisi mendesak atau bersama teman). Entah sudah berapa banyak waktu hidup ini yang saya habiskan dan buang-buang sukarela hanya untuk keliling-keliling kota naik bus maupun kereta tanpa tujuan. Pasang headset, mendengarkan lagu-lagu musisi-musisi favorit yang selalu menemani hari-hari saya, kadang-kadang seringnya sengaja tidak duduk di bangku meskipun kosong hanya supaya bisa rada-rada headbang mengikuti ayunan bus maupun kereta. Ya kalau sambil duduk kan ketara banget.

Tulisan kali ini isinya adalah omelan, dumelan, dan keluhan ultimate saya sebagai seorang warga jelata yang kemampuan ekonominya cuma mengizinkan lebih memilih naik transportasi umum. Nggak, nggak. Ini bukan tentang penuh-sesaknya KRL di rush hour. Jepang juga gitu kok dan yaa... setidaknya di Indonesia, petugas stasiun nggak ngedorong-dorong atau nendangin pantat para penumpang agar pintu bisa menutup. Bukan pula mengenai Hunger Games arena bernama Gerbong Khusus Wanita, sebab testimoninya sudah banyak ditemukan di mana saja.

Saya, dengan ini, akan sambat sebagai pengguna TransJakarta.



Sejauh ini, pengalaman naik TransJakarta hampir selalu menyenangkan. Yah, nggak ada yang traumatis lah. Lebih banyak enaknya, karena di jam-jam padat pun penumpang TransJakarta lebih mudah diamati, dipandangi, dan diperhatikan gerak-geriknya dibandingkan di wadah pepes teri gerbong KRL Jabodetabek. Kejadian yang menyisakan rekaman batin paling-paling sebatas malu aja, seperti pada saat saya salah menawarkan tempat duduk kepada orang berambut panjang dan berperut relatif besar... tapi ketika yang bersangkutan menolehkan wajah ternyata bapak-bapak. Ini kisah nyata, saudara-saudara.

Lantas apa perkaranya?

Saya bete―bahkan rasanya 'benci' pun bukan kosakata yang berlebihan―setengah mati pada kendaraan non-TransJakarta dan bukan kendaraan khusus situasi darurat (ambulans atau mobil jenazah, misalnya) yang menyerobot masuk busway. To me, it's a heavily egoistical, self-centered action. Nggak empatik sama sekali. Saya tidak pernah berhenti kesal, memikirkan bisa-bisanya para serundeng jembut di jalanan itu berpikir (dan banyak di antara mereka yang duduk manis dalam mobil pribadi) seenaknya, "Ah macet ini jalanan, gue masuk busway aja deh he he he" dan menghadirkan mudarat bagi pengguna bus TransJakarta.

Gini ya, Tong. Jika kalian merasa busway yang disediakan khusus TransJakarta itu adalah sebuah keistimewaan tersendiri, ya pantes aja jadi manusia picik nan egois. Padahal kecuali tipe-tipe bus tertentu kayak feeder, busway merupakan satu-satunya jalan yang dilewati TransJakarta. Akses penumpang juga cuma dari situ. Bagaimana kalau jalur tunggal tersebut dipenuhi oleh kendaraan lain yang pengemudinya nggak cukup punya empati dan tenggang rasa lalu menyerobot yang bukan haknya?


KEOS, JENDERAL. 


Tiap-tiap shelter TransJakarta punya daya tampung terbatas. Beberapa shelter yang desainnya jauh lebih sempit―I'm looking at you, Senayan JCC, Tosari, and similar type of shelters―maupun tertutup, sirkulasi udaranya sering kurang oke apalagi di rush hours. Sesek tempat iya. Sesek napas iya. Bus yang ditunggu sulit mencapai shelter karena jalur terganjal banyaknya kendaraan lain yang nggak semestinya ada di situ tapi nyelonong masuk. Saat akhirnya bisa tiba pun, bus sulit bergerak maju karena lagi-lagi ada kepadatan ekstra di busway. Sementara penumpang numpuk terus. Hadeeeeeh. Kelak di neraka akan ada kavling khusus untuk pengemudi kendaraan yang hobi nyerobot hak pengguna jalan lain demi kepentingan dan kenyamanan pribadi.

Episode ngomel-ngomel Crazy Broke Asian Indonesian saya cukupkan dulu.
Mau top-up saldo e-money yang berangsur menipis, ah.

z. d. imama