Monday, 17 June 2019

The Reading Dilemma

Monday, June 17, 2019 6

Sebagai salah satu manusia yang ngaku-ngaku kebanyakan hobi, saya selalu pusing membagi waktu untuk melakukan semuanya―dan masih berusaha menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab terhadap hidupnya sendiri dengan bekerja nyari nafkah sehari-hari, tanpa keenakan jadi pengangguran. Nonton serial drama atau film dan variety show, kirim-mengirim kartupos, pergi ke bioskop, jalan-jalan random tanpa tujuan, termasuk hobi saya yang paling senpai alias tertua: baca buku. Jenis buku langganan saya sebatas komik dan novel. Terus terang, saya tidak terlalu punya ambisi melahap buku-buku nonfiksi kecuali ensiklopedia―semata-mata lantaran buanyak dijejali foto-foto ilustrasi berwarna-warni yang sangat menarik hati.

Semasa kanak-kanak sampai remaja, mengoleksi buku cetak adalah satu-satunya hal yang terlintas di benak saya tiap ingin memiliki suatu judul. Ada puluhan, bahkan mungkin ratusan judul berjajar berdesakan memenuhi rak-rak dan lemari buku di kamar selama bertahun-tahun. Hingga saya masuk jenjang pendidikan tinggi, di mana para dosen banyak mengirimkan materi serta referensi belajar berupa buku elektronik (selanjutnya secara selang-seling akan saya sebut 'e-book' sebagaimana istilah populer) yang bisa dibaca melalui komputer. Udah nggak usah ngoreksi dengan nyebut, "Lho kan bisa pakai smartphone juga???" karena mahasiswa gembel macem saya baru berhasil nabung cukup untuk beli smartphone di penghujung tahun ketiga kuliah.

Dunia saya terguncang.

Gak kok. Itu gak lebay. I was really shooketh the first time I read a proper book from my handheld device. Sebelumnya kan mentok-mentok fanfiction ya.. dari situs terkait masing-masing. Nggak nyangka aja ternyata baca novel (dan materi kuliah) bisa sepraktis itu. Sekaligus sejereng itu―disclaimer: layar ponsel pintar saya di masa tersebut relatif sangat kecil.

But which one I prefer best amongst the two?


Buku-buku bacaan cetak punya banyak kekuatan. Terutama karena secara fisik mereka ada, sense of existence sangat kuat. Berasa banget ketika kita memang 'punya'. Bisa dilihat berjajar di lemari atau rak buku. Dipegang, digrepe, dan dibolak-balik sampul maupun halamannya. Bisa ketahuan secara jelas apakah buku-buku tersebut dirawat, dianiaya, atau ya terlupakan begitu saja keberadaannya setelah beberapa lama. ALSO, THE SMELL. Pernah nggak sih memperhatikan aroma kertas dari sebuah buku baru yang masih kinyis-kinyis? Wanginya tuh sangat menenangkan hati. Bau buku-buku bekas, atau buku lama, juga beda lagi. Mengendus-endus kertas buku adalah suatu pengalaman yang nggak akan bisa didapati jika kita berhadapan dengan versi non-cetak.

Saya rasa penyusunan buku cetak pun melibatkan lebih banyak manusia. Banyak pihak bahu-membahu dalam sebuah penerbitan, terutama ya karena mereka memang perlu diurus percetakan, digotong-gotong ke mana-mana saat proses distribusi, dipajang di toko buku yang butuh penataan khusus agar menarik, gudang penyimpanan, dan lain sebagainya. Maybe it's a sentimental value after all, but still a value nonetheless.

The biggest letdown is that printed books demand so much space. SO. MUCH. SPACE. Buset dah gimana nyimpennya kalau tempat tinggal gedenya segitu-gitu aja, rak buku juga cuma satu-satunya? Belum lagi jika ternyata sang kolektor adalah warga kos-kosan yang ruangannya sepetak doang. Mampus ae. Saya yang saat ini hanya mengoleksi beberapa judul komik cetak terbitan lokal sudah berasa empot-empotan karena rasanya nggak ada tempat layak lagi untuk naruh jilid-jilid baru yang rutin bermunculan kayak jerawat. Mau dibawa jalan-jalan pun harus super selektif. Tidak bisa seenaknya main cemplang-cemplung ke dalam tas lantaran berat. Bicara pemeliharaan, musuh buku cetak juga tidak sekadar waktu. Hewan-hewan kecil hama rumah tangga yang serangannya kadang tak bisa diduga harus diperhitungkan sebagai lawan tangguh. Lembar-lembar halaman berangsur menguning, lapuk, hingga bolong-bolong digerogoti kutu, rayap, tikus.. bahkan tidak jarang buku cetak justru rusak akibat keteledoran pemilik sendiri. Ketumpahan kopi, misalnya. Hhhhh. Makan ati. Perih.

Screenshot segelintir koleksi e-book pribadi. Please (don't) judge me.

Sementara itu, buku digital (atau yang biasa disebut e-book) memang tidak semelankolis buku fisik. Itu fakta. But oh dear Lord isn't it groundbreaking. Saya bisa bawa lusinan buku-buku yang saya miliki sekaligus saat bepergian ke mana-mana cukup dengan bermodal satu gawai elektronik―biasanya sih ponsel biasa, berhubung tidak punya Kobo ataupun Kindle―tanpa harus keberatan beban bawaan akibat menggotong-gotong ribuan lembar kertas. Malahan bisa santai nyolong-nyolong nyambi baca novel di komputer kantor sewaktu sedang jenuh ngadepin kerjaan dan perlu penyegaran pikiran (maafkan saya, Bapak dan Ibu bos). Anjer praktis syekale!!! Saya tidak berlangganan paket di situs baca tertentu seperti Gramedia Digital Store atau Bookmate sehingga selalu beli ketengan via Google Playbooks. Agak tidak cukup hemat jika dibandingkan ongkos pengeluaran paket baca bulanan, terlebih saat kalap, namun gini aja saya udah hepi banget karena ada banyak sekali judul-judul yang bisa ditemukan meski rilisan fisiknya udah dicari sampai jebol ke berbagai toko buku tetap kagak dapet-dapet.

Kelemahan terbesar dari e-book ya nggak bisa dipamerin. Taek banget, kan. Hahaha. No, really. I'm dead serious. Cenderung mustahil―atau setidaknya, sulit sekali―pakai buku-buku digital koleksi pribadi sebagai properti untuk foto-foto cantik dan diunggah ke media sosial. Seandainya temen, pacar, saudara, atau gebetan berkunjung ke tempat tinggal, tidak peduli mau seheboh apa katalog e-book kita di akun pribadi, nggak akan semudah itu kepergok bahwa ternyata kita seorang kolektor buku atau hobi membaca. Lah ya mau gimana wong wujud fisiknya nggak ada... Perhaps this can teach us one or two about humility? I don't know. I wonder?

Buku digital tidak butuh susah-payah dipersenjatai dari serangan hama rumah tangga lantaran tidak menggunakan kertas. Lebih mudah dirawat. Asalkan kita nggak lupa password atau melakukan tindakan bodoh lain yang menyebabkan akun terkunci selamanya, sih. Even it's arguably friendlier to nature. Ketakutan terbesar saya terhadap e-book yang berjajar manis dalam koleksi pribadi adalah membayangkan situs atau penyedia layanan buku digitalnya kukut suatu hari nanti. Bangkrut. Tutup usia. Tidak masalah jika datanya bisa diunduh dan disimpan sebagai salinan. Tapi kan nggak semuanya begitu, kamerad. Bohong kalau saya bilang buku digital bikin bebas kekhawatiran. Tetep cemas, hanya saja lain perkara. Wk.

Meski kerap terbelit dilema tentang buku cetak versus digital, belakangan ini saya lebih sering baca buku digital. Alasannya sederhana: kamar kos berukuran mungil. I need my precious space! Tidak akan saya serahkan lahan kosong untuk goler-goler di kamar saya, bahkan kepada buku sekalipun.

Ada yang berkenan bagi-bagi pengalaman berbeda?
Atau sekadar numpang curhat di kolom komentar?
Silakan, lho.

z. d. imama

Sunday, 19 May 2019

"Perfect World" drama series is a redemption of its movie

Sunday, May 19, 2019 1

Setelah sebulan blog ini mengalami kegelapan―please don't make me explain anything―, saya akhirnya menemukan sesuatu yang ingin ditumpahkan uneg-unegnya secara panjang lebar. Desember 2018 lalu, pada event Japan Cinema Week yang ulasannya saya sampaikan dalam dua tahap (di sebelah sini dan sini), saya menonton Perfect World. Diadaptasi dari manga populer berjudul sama, film tersebut mengisahkan tentang kisah romansa seorang perempuan yang di dunia kerja bertemu lagi dengan kakak kelas gebetannya semasa SMA dalam kondisi duduk di atas kursi roda akibat kecelakaan semasa kuliah, dan sukses membuat saya menangis... saking frustrasi memikirkan betapa medioker karya ini. Padahal sudah bawa-bawa Sugisaki Hana, salah satu aktris muda favorit saya yang paling bisa dipercaya dalam berakting dibanding seangkatannya, sebagai protagonis. Itu pun filmnya gak ketolong. Sangat sulit untuk menikmati filmnya saking membosankan dan segalanya terasa berjalan sangat lambat. Heran.

Fast forward ke 2019, tepatnya musim semi, tampaknya ada sejumlah manusia-manusia yang gemes dengan kualitas film Perfect World dan memutuskan bikin ulang semuanya. Jajaran aktor dan aktris berbeda. Tim produksi berbeda. Bahkan medium berbeda, sebab kali ini Perfect World dihadirkan sebagai serial drama televisi. Saya hampir tidak mau nonton. Ternyata lumayan trauma juga sama filmnya, men. Tetapi setelah mempertimbangkan banyak hal.. sekaligus karena rupanya saya banyak waktu luang, tombol Play di laptop pun saya tekan. Adegan demi adegan bergulir.

WOW THIS IS ACTUALLY RATHER GOOD????

Kawana Tsugumi versi film bioskop (2018): Sugisaki Hana.

Kawana Tsugumi versi serial drama (2019): Yamamoto Mizuki

Thanks to enough screen time, so many happenings, backstories, and details are well-put in the drama series. While its movie counterpart is cliche scene after cliche scene along with equally cliche lines (and sometimes with "How the hell is this happening????" inward scream), the drama series fleshes out everything in between and ACTUALLY MAKES THINGS WORK. I haven't read the manga so I don't really know how they both compare with the highly-praised original material, but there are some small differences that I think the drama series gets them right.

  • Kawana Tsugumi dan Ayukawa Itsuki (Matsuzaka Tori) dikisahkan sebagai teman sekelas, alih-alih senior-junior SMA sebagaimana filmnya
Saya curiga kalau versi film pasti diubah manga karena emang maksain mau nampilin Iwata Takanori dan Sugisaki Hana sebagai protagonis, tapi mereka berdua jarak usianya cukup terlihat. This ex-classmate trope works wonders in this story because there is a particular closeness and familiarity built up, it makes exchanging banters and hangout invitations feel so much natural. Both characters are on a level ground instead of blind adoration of a junior to her senior. Interaksi Kawana dan Ayukawa versi serial drama sangat menyenangkan disimak, dan karakter Ayukawa dihidupkan sedemikian rupa oleh Matsuzaka Tori sampai-sampai saya kadang lupa kalau dia duduk di atas kursi roda. His personality is very much apparent and it comes forward beautifully and if this doesn't mean justice to any handicapped people out there in real life then I don't know what does. Umur masing-masing tokoh utama yang digambarkan sudah mencapai (atau hampir) 30 tahun pun membuat banyak hal lebih masuk akal, khususnya realita bahwa adulting is hard. Huhuhu.

Menikmati pemandangan sakura di atas bukit: Perfect World drama series (2019)

  • Relasi keluarga dan sosial yang bisa dipercaya.
I really like how social interaction in the drama series turns out. Masing-masing punya keluarga, teman, rekan kerja, bahkan... mantan, dengan hubungan yang meyakinkan. Nggak bikin kita merasa "Ini masa di hidup mereka gak ada siapa-siapa sama sekali sih??" yang kadang justru tidak masuk akal. Bahkan ayah Tsugumi yang rajin menelepon demi ngogrek-ogrek anak perempuannya agar pulang kampung setiap pekan karena "Toh di perantauan kamu nggak dapet pacar dan kerjaan juga gitu-gitu aja" terasa sangat dekat dengan apa yang bisa terjadi pada kehidupan nyata. Well, okay, perhaps that's just me. But hey, we even get spectacles-wearing Seto Kouji as Koreeda Hirotaka, Tsugumi's best friend since school days, and that serves as cherry on top.


Pola hubungan antara Tsugumi dan Hirotaka sebenarnya sangat tidak asing: yang cowok sebenarnya naksir sejak lama tapi bertepuk sebelah tangan, dan yang cewek sama sekali tidak menyadari kalau ada yang naksir. A bit worn and overused trope, however, this series use that scenario rather wisely, as the second male lead can pull off the disruptive role without making us the audience pity him unnecessarily, or turning him into the 'villain'.

  • Overall color palette.. or scheme? Whatever you name it.
ITU LOH WARNA FILM SECARA KESELURUHAN. Apa sih namanya???? Perfect World versi film terasa dipaksakan agar tampak bubbly, dreamy, berasa dikasih dandanan berlapis-lapis filter Instagram. Cakep sih.. tapi lama-lama capek juga di mata kalau nggak berhenti-berhenti selama satu setengah jam durasi pemutaran film. Apalagi layar yang dipantengin segede gaban. Bandingkan dengan shot dari serial drama yang lebih.. biasa aja, nggak di-gloss over pakai apa-apa.

Adegan rumah sakit: Perfect World movie version (2018)

Adegan rumah sakit: Perfect World drama series version (2018)

In summary: this drama is a good redemption attempt of its movie counterpart. Walau bercerita tentang seseorang dengan keterbatasan fisik, Perfect World versi drama nggak berminat menjual menye-menye, dan sejauh empat episode yang sudah tayang sampai tulisan ini dibuat, saya rasa tim produksinya berhasil. Love does apply to everyone. No matter how, what, and who you are.

z. d. imama

Monday, 18 March 2019

Sunday Out: MRT Jakarta Trial Run for Public and Other Things

Monday, March 18, 2019 6

Akhir pekan lalu, saya memutuskan tidak menghabiskan waktu di kamar, berkutat dengan download-an film, drama, reality show, atau baca buku di atas tempat tidur sepanjang hari. Setelah lima hari kerja yang melelahkan, mood saya menuntut diri untuk berkeliaran di jalanan dan bertemu sinar matahari. Kebetulan, MRT (Mass Rapid Transit/Moda Raya Terpadu) Jakarta sudah memasuki fase uji coba publik. GOD, FINALLY! Sebagai self-proclaimed public transportation enthusiast sekaligus orang yang dulu selalu frustrasi dengan kondisi trotoar jalanan yang tak henti-hentinya menyerupai area halang-rintang semasa pembangunan stasiun, tentu saja saya tidak mau melewatkan kesempatan menjajal moda transportasi umum terbaru ibukota negeri ini sebelum resmi beroperasi. Secara sewenang-wenang, saya menyeret sesosok teman yang namanya enggan dipublikasikan―bohong ding, orang itu adalah mas Eron (yang sebelumnya telah berjasa besar dalam mengajak saya main ke kafe kucing sekaligus memotretkan sejumlah foto)―untuk ikut naik MRT bareng-bareng. Bukannya tidak mau pergi sendirian, tetapi lebih karena butuh seseorang yang bisa dipercaya untuk membangunkan saya.

I don't trust myself to give up sleeping on weekend mornings.
Not at all.

Supaya matahari belum terlalu terik, kami sengaja memilih jendela keberangkatan paling awal. Mulai pukul delapan hingga sepuluh pagi. Orang-orang masih asyik beraktivitas di CFD atau yaa belum bangun aja. Pemberangkatan uji coba terbagi dalam beberapa kelompok, masing-masing berdurasi 120 menit: 08:00, 10:00, 12:00, 14:00, dan 16:00. Sebelum masuk peron, petugas membagikan stiker partisipasi yang perlu ditempel ke baju sebagai tanda identifikasi kepada penumpang. Berhubung gerbang otomatis juga belum berfungsi, pengguna MRT bebas keluar-masuk stasiun, keliling-keliling, lalu masuk gerbong kereta lagi untuk pindah lokasi. Rute fase pertama MRT Jakarta mencakup Lebak Bulus - Bundaran HI, dan melewati sejumlah wilayah yang selama ini jarang saya jelajahi seperti Fatmawati. Yay! Mulai sekarang bakal bisa lebih sering kelayapan!

Stasiun Blok M, salah satu stasiun MRT yang nggak terletak di bawah tanah dan justru nangkring di atas.
(Original source for picture above (and opening banner): Ridu's Twitter thread)

Warga negara yang tertib haruslah menunggu kereta di area semestinya.

Proses partisipasi Trial Run for Public MRT Jakarta mudah sekali. Cukup mendaftar ke situs Ayo Coba MRT Jakarta yang terintegrasi dengan laman Bukalapak, isi data diri di kolom yang tertera, lalu tunjukkan QR code yang diterima ke petugas stasiun saat hari uji coba yang dipilih untuk pemindaian. Gitu doang! Mula-mula trial run hanya berlangsung tanggal 12-17 Maret 2019, namun kemudian muncul pengumuman yang menyatakan periode tersebut bakal diperpanjang sepekan. Cek cuitan dari akun resmi MRT Jakarta di bawah ini, deh.


Pekan uji coba publik banyak dimanfaatkan orang-orang berfoto-foto, vlogging, bahkan liputan acara televisi. Termasuk saya. Nggak apa-apa, kok. Boleh-boleh aja. Asalkan tidak merusak fasilitas umum atau mengganggu dan menghalangi fungsi asli. Jangan kayak... (should I say it???) warga masyarakat di sepanjang jembatan penyeberangan orang Gelora Bung Karno dan Bundaran Senayan, dong (oh yess there I said it). Sejepret-dua jepret buat konten media sosial sih nggak masalah ya, tapi tolonglah snap-and-go gitu. Lah manusia-manusia kerasukan demit Instagram yang jumlahnya banyak banget ini justru NONGKRONG. Di sepanjang jembatan penyeberangan. Nggak jarang mereka bergerombol, memenuhi sisi tepi, bawa tripod yang diletakkan di tengah-tengah segala. Padahal saat itu jam-jam orang beraktivitas dan lalu-lalang di jembatan. SAMLEKOM SATPOL PP SAYA SUMBANG GAYUNG YHA ITU TOLONG DICIDUK.

Malah jadi curhat JPO baru, kan.

Stiker partisipasi uji coba versi baru. Periodenya sudah diperpanjang.

Anyway. Kondisi stasiun-stasiun MRT sangat menyenangkan. Banyak garis-garis bantu, peta rute, jam, eskalator, elevator lansia dan difabel, papan pengumuman dengan running text... hampir lengkap. Cuma kurang pengadaan tempat sampah. Mungkin memang belum tersedia lantaran masih trial run, tapi berhubung sudah melibatkan publik mbok ya buruan dikasih. Daripada orang-orang buang sampah sembarangan loh. Bahkan saya kemarin sudah sempat beberapa kali memunguti bungkus permen yang dilempar orang lain ke lantai lantaran tidak tersedia kotak sampah. Ntar lama-lama nongol plastik es teh, kertas gorengan, kondom bekas, surat suara pemilihan presiden, entah apa lagi.

Papan penjelasan rute jalur MRT dan daftar perhentian.

Last (and first) stop: Stasiun Lebak Bulus.

Oke. Saya punya pertanyaan akbar. Is "Terminated at this station" valid?? Is that legit? Terus terang, saya bukan orang yang sudah pernah melanglang buana ke berbagai negara di seluruh belahan dunia, namun sejauh pengetahuan saya yang terbatas ini, "This is the end of the line" atau "Last station" adalah terminologi paling familier. "Terminated at this station" sounds as awkward as long-distance train announcement that says "We will get you off" every single time it makes a stop somewhere. Please, please, please. Enlighten me. Barangkali saya aja yang rada bego dan kurang berwawasan.

Penampakan dalam gerbong MRT bisa dibilang sama seperti Commuter Line Jabodetabek. Bedanya, bangku-bangku yang berjajar di kedua sisi terbuat dari plastik. Barangkali agar lebih praktis dan mudah dibersihkan jika kotor seiring penggunaan. Saya sangat menyukai momen habis-gelap-terbitlah-terang saat MRT melesat keluar dari lorong bawah tanah setelah stasiun Sisingamangaraga (ASEAN) menuju stasiun Blok M. Asli kece bener.

I truly wish that everyone will use MRT more. Even after the trial period is long over. This is another nice step towards development. Make use of mass transportation like train and bus instead of personal vehicles. Walk more. Keep the environment clean. Preserve and take care public facilities together. I wholeheartedly want us all to pull this off.

Mandatory "looking out of the window" pose.

Meski suasana gerbong sepi, tetap duduk di posisi favorit: pojokan.

CAPTAIN M... RT. No no no stay where you are, I'll show myself out.

Setelah dua jam berlalu dan puas naik-turun kereta di berbagai stasiun, petualangan menjajal MRT diakhiri di Stasiun Istora Mandiri, Senayan, lantaran akan meneruskan petualangan ke Festival Jajanan Bango 2019 yang digelar 16-17 Maret 2019 lalu di Lapangan Parkir Squash Stadium, Gelora Bung Karno. RAME BANGET SUMPAH. Pesta rakyat through and through. Sistem masuk area festival sudah terbagi dua, yakni registrasi di lokasi dan online. Barangkali karena acara ini terbilang sudah cukup veteran, tidak ada hambatan berarti yang terjadi biarpun suasananya benar-benar lautan manusia. Setiap pengunjung dapat gelang kertas yang bisa dipakai keluar-masuk area selama dua hari (asalkan nggak sobek atau hilang) dan kartu pengumpul stempel. Setiap transaksi pembelian di kios FJB dapat satu stempel―idealnya, biarpun kadang-kadang ada yang berbaik hati ngasih bonus―yang mana bisa ditukarkan dengan merchandise khusus setelah mencapai jumlah tertentu.

Memotret langit lantaran daratan dipadati oleh umat.

Merchandise khusus tersebut berupa... KECAP.
Believe me, that is real. I speak truth only.

Festival Jajanan Bango memang diperuntukkan bagi mereka yang ingin berburu aneka kuliner dalam negeri tanpa perlu jalan-jalan jauh. Makanan khas Semarang sampai Sulawesi ada semua di sana. Saking tingginya animo masyarakat, rasa-rasanya tengsin sendiri kalau nggak mengunyah dan hanya sekadar duduk-duduk santai, sementara hampir semua orang yang lewat di hadapan mata sibuk celingukan mencari kursi kosong dengan piring di tangan. Alhasil begitu perut kenyang, saya memutuskan bersantai di area Go-Food Festival saja. Sekaligus nyari kucing-kucing liar.

Tampang makhluk yang sudah kenyang.

Terima kasih banyak mas Eron, atas kesediaan dan kepasrahan hati untuk saya seret menemani berkeliaran sepanjang hari. Berpanas-panasan. Berdesak-desakan. Berjamaah kekenyangan. Terima kasih juga atas dokumentasi dan foto-foto yang―secara ajaib―saya tidak tampak seperti dugong terdampar. Selain itu, ini kali pertama saya tahu bahwa ternyata ada orang yang bilang bacang Ny. Lena "nggak enak". Tetapi buat apa marah-marah disebabkan perbedaan selera lidah? Lebih baik saya ambil dan makan bacangnya sampai habis. Damai dan anti-mubazir. Mantep, kan.

z. d. imama

*P.S.: BY THE WAY GUYS, GUYS, GO-FOOD FESTIVAL GELORA BUNG KARNO SEKARANG SEPI BANGETTT. UDAH LEBIH DARI SETENGAH KIOSNYA KOSONG YAMPUN NGELIATNYA AJA AUTO-BAPER.

Wednesday, 13 March 2019

Inside a cramped bus, and then there were us.

Wednesday, March 13, 2019 0

"Come on, let's go home," you say as we both see a city bus approaching, and I can't help but smile a little. Home. What you mean by 'home' is your small, rented room, which space only enough to accommodate a twin-sized bed, a cupboard for clothes, and a small drawer. A small place I've been visiting from time to time. A small place where we need not to worry about anything. A safe place for us. A sanctuary for two. 

It's a home, yes, let's call it that.


You climb up first just like always. You never wait. You never look back. You know I will always be right behind you, with your back as my compass. It always feels as though you walk alone, without me as a companion, if only your hand doesn't reach behind and try to find mine. A hand that I always take without fail, because no matter how tight we hold to each other, no matter how strongly our fingers intertwine, the second we bump into our friends and acquaintances, this connection will break. And I don't even know whose hand let go first; it ends in a blink of an eye. And if they call you, or me, then one of us will walk away, talking to them casually. Pretending we are going alone. We will exit the bus at the same stop, separately, and my hand will take yours again after the bus speeds off.

Nobody can know about us.


Nobody should know about us. You never tell your friends about me, let alone your family. My name never comes up when your parents are asking whether there is someone in your life you can introduce to them. And so does yours. But it's fine this way. I understand. You understand. It's them, who will never understand. And that's why we will never tell. Even God says we both will be going down to hell.

This love is ours only. 

In silence, our fingers lace together. 
Creating a small prison, locking up our story so nobody can see.

z. d. imama

Sunday, 10 March 2019

Fear no storm, if your ship(s) never sail

Sunday, March 10, 2019 7

Kadang, saat membaca atau menyaksikan suatu serial, saya mengernyitkan kening tanda tidak setuju dengan bagaimana sang penulis merancang pasangan tokoh rekaannya. Penentangan saya bisa hadir dalam beberapa pola. Pertama, sudah sejak awal eneg duluan. Kedua belah pihak―menurut pandangan saya selaku konsumen karya―nggak jelas dan nggak punya hal-hal yang menarik apalagi kontributif untuk disandingkan. Namun entah atas pertimbangan apa, pengarangnya gas pol aja.

Ini. Nyebelin. Banget. Tapi. Yodalah. Ya.

Kedua, skenario ketika saya sejatinya tidak punya masalah khusus dengan pasangan ini di awal-awal kisah, namun lambat laun kok salah satu pihak (atau justru semuanya) mengalami perkembangan karakter yang degradatif. Jadi nggak mutu. Jadi norak. Jadi bikin saya sebel. Jadi nggak punya lagi unsur-unsur yang bikin saya tertarik dengan nasib dan masa depan mereka selaku pasangan. Bayangkan saya berdiri mengamati di kejauhan, lengan terlipat di dada, memutar bola mata seraya nyeletuk bete, "Yaelaaah bubarin aja ngapa??" Cuma yaa.. berhubung sudah kepalang tanggung, penulis tetap maksain. Apalagi kalau protagonis utama. Beuh. Bakal kekeuh bener macem simpatisan capres-cawapres.

Pola ketiga terjadi apabila ada faktor kejutan. Anggaplah dua tokoh yang sejak awal interaksinya akrab, menyenangkan, kompak sekaligus komplementatif satu sama lain sehingga pembaca―atau penonton―berharap dengan antusias, menunggu kapan mereka akan diceritakan 'resmi' bersama-sama sebagai pasangan. Eeeeeeeh ndilalah kok tiba-tiba sang penulis cerita menukik, menikung, melakukan manuver tajam dan tanpa tedeng aling-aling dia menumpas segala kemungkinan yang ada selama ini dengan seenaknya menjodohkan tokoh-tokoh tadi dengan tokoh lain yang... nggak dapet aja chemistry-nya. Apakah sekarang ada yang sedang melirik koleksi komik Bleach di lemari? Tenang. Saya mengerti perasaan itu.

Sampai sini sudah jelas kan bahwa saya nggak akan ngomongin teknik perkapalan atau hal-hal ilmiah sejenisnya? Jangan salah jamaah, guys. Apa yang hendak saya paparkan jauh lebih tidak berfaedah untuk kemaslahatan umat dunia: beberapa contoh tokoh-tokoh fiktif yang merebut hati saya dan bikin saya ingin mereka bisa jadi pasangan, tetapi kapalnya tidak pernah berlabuh.

"Me versus the author" moments.

Hermione Granger x Draco Malfoy

From: Harry Potter and the Whole-ass Series about The Boy Who Lived.

Artist's credit as written on the art.

ALAMAKJANGGGG. I ship this pairing. Wholeheartedly. So. Fucking. Hard. Ketika baca novel Harry Potter and the Prisoner of Azkaban dan ada adegan Hermione nonjok Malfoy, saya sebenernya sudah mulai merancang skenario sendiri di benak terkait mereka berdua. Ngayal halu. Terus terang, saya termasuk pihak-pihak yang tidak setuju Hermione dikisahkan menikah dengan Ron. Apalagi konon katanya budhe Rowling semula memang tidak berniat menjadikan mereka pasangan, kan. Banyak orang berpikir bahwa Hermione terlalu pintar untuk Ron, tapi saya justru tidak mempermasalahkan itu. Ada hal-hal yang lebih bikin saya kepikiran dengan kehidupan mereka selaku pasangan dibanding perbedaan level intelegensia. Gimana, ya. They are friends for years and have experienced many adventures, also dangers, together, but I don't think they match as romantic partners. As lovers. As two people living under the same roof every day and spend countless hours near each other. Do Hermione and Ron provide room for each other to grow? Do they have shared interests to talk about (other than Harry and their past adventures) and things to do and explore together? Does this fictitious couple... work?

All I can tell is that Hermione settles.
And bet my ass, it really doesn't feel like her. 
This matchmaking between Ron and Hermione is anime level of betrayal.

Sementara itu, saya mengamati bahwa Hermione dan Draco justru punya banyak momen di mana kepribadian mereka bisa bergerak dan berkembang karena dipicu satu sama lain. Apalagi mempertimbangkan arah plot canon dari budhe Rowling yang menyatakan bahwa Draco tidak berhasil jadi orang jahat. He questions. He gets confused. He does his share of evil work as a teenager under constant pressures and threats. Dia cuma salah asuhan; dibesarkan di tengah keluarga Darah-Murni yang membenci setiap orang yang lahir berbeda. Keturunan campuran dicibir, punya orang tua Muggle dianggap hina, bahkan sesama Darah-Murni tapi kere ceremende juga direndahkan. Saya sanggup berbusa-busa sampai tahun 2020 ngomongin betapa Hermione harusnya bisa bersama-sama Draco. Sehingga agar volume tulisan ini masih terkendali, mari kita sudahi sejenak. Lanjut di kolom komentar saja (itu pun jika ada yang berkenan meninggalkan satu atau dua jejak).

Edogawa Conan x Haibara Ai

(or Kudo Shinichi x Miyano Shiho if you prefer their actual names)
From: the neverending series called "Meitantei Conan" I once wrote a whining post about.


Selain Hermione dan Draco, Conan dan Ai adalah pasangan yang saya dukung sepenuh hati. Awalnya, saya biasa-biasa saja terhadap Ran. Tokohnya masih terasa lucu dan cukup menyenangkan lah. Kuat, jago bela diri, tapi takut setan. Rada cerewet dan galak pun. Saya tidak punya masalah besar dengan kepribadian Mouri Ran di volume-volume awal serial Detektif Conan. Namun seiring waktu (apalagi setelah tankoubon jilid ke-50 dan diperparah lewat film demi film), mbak karateka yang konon jawara kompetisi ini kok makin lama kayaknya makin minta ditenggelemin Bu Susi ke dasar Laut Arafuru. Apa-apa dikit manggil-manggil Shinichi. Dapet masalah dikit, tanggung jawab dilimpahin ke Shinichi. Bapaknya ditangkep polisi karena tuduhan palsu, marahnya justru ke Shinichi lantaran nggak ada di lokasi―kalau dese nongol kan ngarepnya penangkapan Kogoro dicegah. Belakangan Ran juga sering lupa tentang fakta bahwa dia mampu berantem, harus nunggu dikasih motivasi Mario Teguh atau Erlangga Greschinov Shinichi dulu (entah lewat telepon atau flashback masa lalu) baru deh bak-buk-bak-buk-dhuar kicking asses here and there.

Anjir. Ngetik gini aja udah bete.
*Melolong, menjambak-jambak rambut sendiri, menggelepar di lantai kamar.*

Kemunculan Haibara Ai di jilid 18 justru semula saya cuekin. "Sokap neh anak baru???" demikian kira-kira yang terlintas di benak saya. Sambil lalu. Eeehhh lambat-laun saya menyadari bahwa dinamika sosialnya dengan Conan sangat menarik diperhatikan. Diamati. Dikapalin. Mereka punya level kepercayaan yang seimbang. Mampu berdiskusi tentang banyak hal bareng-bareng. Bahkan tiap Conan fanboying Sherlock Holmes maupun Arthur Conan Doyle, Ai nggak protes. Nggak mengeluh. Justru santai menimpali―karena paham materinya―walau terkadang tanggapannya rada nge-troll. Hubungan mereka jauh, jauh, jauuh lebih sehat dan progresif.

Saya curiga hal ini disadari Aoyama-sensei sendiri. Sebab seiring dengan tumbuhnya penggemar pasangan Conan dan Ai, porsi episode fanservice Shinichi dan Ran akhir-akhir ini jadi membludak. Seolah-olah mengingatkan pembaca, siapa sebenarnya main couple di cerita yang kagak tamat-tamat itu. Haibara Ai dipaksa mundur jauh. Perannya hanya muncul sekelebat sebagai tukang obat. Nongol-nongol ngasih antidote percobaan ke Conan, yang lantas membesar jadi Shinichi selama beberapa waktu dan ngabisin durasi untuk pacaran sama Ran. I'm fuming. I'm enraged. I'm!!! Freaking!!! Angry!!!

Daidouji Tomoyo x Hiiragizawa Eriol

From: Cardcaptor Sakura, which was the first ever series teaching me about sexuality without a single sexual scene. #LoveWins, people.

Shoutout to this person for editing the picture above.

Now, THIS is the power couple I'm talking about. Yes I know Tomoyo loves Sakura, but I deeply wish she'd be just like Kinomoto Touya who's bi af and end up together with Eriol, because... WON'T IT BE AWESOME?? And twisted as hell. Dark, twisted, and fucked-up romance is my biggest kink, I guess? And it would be nice seeing someone who don't own any drop of magical prowess stands together with once-the-strongest-wizard-ever who lived hundreds of year before reincarnated himself.

Tentu saja angan-angan saya tidak terkabul.
If any of my ship(s) sail, this kind of post would not be written.

Sebenarnya saya masih punya lebih banyak pasangan-pasangan tokoh fiksi non-canon. Mereka yang saya dukung segenap jiwa agar bersama-sama, tetapi keinginan tersebut tidak sesuai dengan kehendak penulis. Plus editor. Sayangnya jika saya paparkan semua, tulisan ini nggak bakal ada ujungnya. Lebih baik disudahi saja sebelum makin luber ke mana-mana. Sebagai penutup, saya akan menyatakan bahwa Oozora Tsubasa dan Nakazawa Sanae layak dipertanyakan sebagai pasangan yang dikisahkan menikah atas dasar cinta. Okelah, Sanae memang sudah head-over-heels dengan Tsubasa sejak belum menstruasi (do NOT argue with me on this), tapi Tsubasa...? Sejak kapan? Sejauh ingatan saya, dia justru lebih berapi-api saat ditendangi bola oleh Hyuga Kojiro dibanding momen apa pun dengan Sanae. Does he marry her for convenience only? Daripada nyari baru mending tembak aja yang udah jelas naksir, gitu.

Isi kepala saya memang gini-gini doang.

z. d. imama

Wednesday, 27 February 2019

On 'serious relationship'.

Wednesday, February 27, 2019 5

Saya paham bahwa hal yang saklek sama tidak dapat dipaksa diberlakukan bagi semua umat manusia di muka bumi, namun secara pribadi, saya selalu membutuhkan sejarah, data-data interaksi yang terkumpul seiring berjalannya waktu sebagai bukti dan argumen pendukung, ketika ada seseorang berkata, "Aku mau menjalin hubungan serius sama kamu". Hell, I'm really the last person on earth to idolize classic Disney princesses, ain't I. Ngobrol di restoran selama satu atau dua jam dalam jumlah yang masih bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, chat yang isinya tidak keluar dari basa-basi tentang sudah makan apa belum, dan terjadi hanya dalam hitungan hari atau pekan, tidak akan bisa jadi pondasi yang mumpuni bagi saya. Secara membabi-buta memaksakan untuk bersama-sama dalam 'hubungan serius', ketika masing-masing masih belum cukup mengenal satu sama lain, bagi saya sangat tidak masuk akal.

"Is it me that you like, or is it the fantasy of my personalities and characters you made up by yourself inside your head?"


Apalagi jika ternyata selama interaksi terbatas itu, nyaris tidak ada persamaan yang ditemukan. Baik itu perspektif terhadap sebuah isu―otonomi perempuan, misalnya―atau sekadar hobi. Apa kabar jika ada pihak yang gemar menikmati K-pop dan satunya diam-diam merutuki "Demen kok sama plastik"? Males, kan.

I've said this here before and I'll state it again: sure opposites attract, and to live with another person means you need to compensate things and cooperate, but if there is really no shared interests to do and explore together, no exciting variations to introduce to one another, and silence does not even feel comfortable enough, then what are you gonna do? What are you going to do when things that you are passionate about are polar opposites? When you are a hardworking person who enjoys to contribute to capitalism be financially independent and the other party inwardly wants you to just stay at home regardless of reasons?

'Hubungan serius' tuh apa sih, sebenernya?


Sebagai manusia yang menganggap serius segala hal (serius bersenang-senang, serius berteman, serius bersedih, serius suka sama orang, serius baper terhadap tokoh-tokoh dalam kisah fiksi yang saya baca), saya lebih banyak nggak paham dengan apa yang dimaksud 'hubungan serius' ini. Sempat pula menuliskan uneg-uneg kekesalan tentang stereotipe dan stigma keseriusan yang dipahami masyarakat umum, dua tahun silam. Saya berpendapat bahwa ketika seseorang benar-benar bisa bersikap natural di hadapan orang lain, secara sukarela memperlihatkan sisi sensitif mereka, berani membicarakan hal-hal yang mereka takutkan, maka saat itulah relasi intrapersonalnya bisa digolongkan dalam 'hubungan serius'. Ada tingkat kenyamanan dan kepercayaan tertentu yang sudah tumbuh seiring waktu, disebabkan dan dipupuk oleh kualitas interaksi antarindividu. You can be vulnerable around another human being. Talk about simple, silly things. Silence is also welcomed. Be it friendship, or romantic relationship, you don't have to worry about almost anything. Your guard doesn't need to be up at all times. And such thing takes time.

Which reminds me...


Saya kurang yakin adakah padanan kata untuk 'personal guard' dalam bahasa Indonesia yang tepat untuk konteks ini. Mungkin yang paling mendekati adalah: jaga jarak. Terhadap orang-orang baru, terlebih apabila saya mendapati adanya detil-detil yang dirasa tidak menimbulkan kenyamanan diri, saya selalu menjaga jarak tertentu. Baik fisik maupun psikologis. 'Benteng pertahanan' tersebut bisa hilang, sekaligus bisa jadi makin tebal. Ujung-ujungnya balik lagi ke bagaimana interaksi dan hubungan intrapersonalnya berkembang.

It's no longer than a while ago that someone told me:

"I'd like you to lower down your personal guard around me."


Not verbatim per se, but that was the gist of it. And I just blinked in disbelief. I was baffled to no end ReallyMy mechanism does not work that way. Hell, I wonder if there is someone's which does. But to me, your personal guard does not get lowered because someone else tells you to. YOU DECIDE. You are in charge. You are the one who knows if the other party causes you to keep on guard or not―sometimes you mistrust a person and shit happens anyway, but despite everything, it's still your own call.

Terdengar dan terasa absurd, jika orang baru yang bahkan saya saja belum mampu membuka diri sepenuhnya, menyatakan berkeinginan menjalin 'hubungan serius', dan oleh karena itu saya perlu mengurangi jarak yang saya buat sendiri. Barangkali di luar sana ada orang-orang yang tersanjung, terpesona, tersentuh apabila muncul seseorang yang belum-belum sudah menyatakan niat dan tujuan 'berhubungan serius'. Saya? Bingung. Curiga. Tidak percaya. Takut. Panik. Seolah-olah orang tersebut sudah punya agenda pribadi lengkap dengan deadline-nya, dan saya secara semena-mena dilibatkan untuk mewujudkan rencana tersebut tanpa ada briefing lebih dulu.

Mungkin saya agak aneh.
Mungkin saya kelewat ribet.

Tetapi biarlah. Toh saya punya orang-orang yang 'berhubungan serius' tanpa perlu ada tuntutan sepihak. Orang-orang yang meramaikan hidup saya cukup lama dan telah membuktikan bahwa saya tidak perlu menghabiskan energi untuk melindungi diri ketika sedang bersama mereka. Saat ini, itu cukup. Sangat cukup.

Now I need to stop writing before exposing too much of myself here.

z. d. imama

Monday, 4 February 2019

A short afternoon in The Cat Cabin: (not) a review

Monday, February 04, 2019 6

Urusan ngabisin duit, Jakarta punya banyak solusi. Baik itu yang berujung girang maupun sekadar kepala pening badan meriang. Alternatif rekreasi di luar rumah cukup bervariasi, mulai dari main ke mal, main ke mal lagi, jalan-jalan ke taman kota yang entah kenapa baru cakep beberapa tahun belakangan, mengunjungi museum, hingga mendatangi kafe kucing. Yap. Ingin main dengan kucing ras tapi tidak punya kenalan yang memelihara? Atau semata-mata sedang kebanyakan uang dan waktu luang, lalu tidak tahu hendak melakukan apa, dan tidak benci atau alergi kucing? The Cat Cabin, kafe khusus untuk bermain-main dan menghabiskan waktu bersama segerombolan mengs dalam hitungan jam yang beralamatkan di Jalan Kemang Raya No. 31, Kemang, Jakarta Selatan, bisa jadi sasaran singgah.

Saya sudah cukup lama penasaran pada kafe ini. Beberapa kali mbak Kimi dan mbak Anggie mengajak ke sana, tapi kok ndilalah waktunya nggak ketemu. Sehingga pas mas Eron, yang belakangan saya tahu bahwa aslinya tidak demen-demen amat sama kucing, menyeret saya yang kebetulan sedang nganggur, langsung lah diiyakan tanpa mikir kelamaan. The Cat Cabin terletak di lantai dua sebuah gedung. Tapi jangan cemas, signage cukup menyolok dan di depan tangga diletakkan papan petunjuk yang meyakinkan calon pengunjung bahwa mereka berada di tempat yang benar.

Papan petunjuk yang sungguh gumash.

Langkah pertama memasuki pintu kafe, pengunjung akan disambut oleh rak sepatu berjajar dan meja kasir. Rak... sepatu? Benar sekali, saudara-saudara. Konsepnya kayak batas suci gitu deeh. Demi melindungi kucing-kucing dari kotoran dan bakteri asing yang nempel di sol alas kaki, maka pengunjung akan diminta melepaskan sepatu dan sandalnya dan disimpan pada rak yang telah disediakan. Wajib nyeker di dalam ruangan bermain.

Rupanya, warga The Cat Cabin nggak cuma dari golongan kucing ras. Ada beberapa kucing kampung biasa juga dan nggak kalah lucu. Justru berdasarkan pengamatan saya, para mengs dusun ini lebih lincah, aktif, berlarian ke sana kemari tanpa kenal lelah... sementara geng kucing ras cuma goler-goleran malas. Saya sampai seenaknya menyematkan julukan Heri (alias heboh sendiri) pada seekor kucing kampung yang gesit bukan main, sibuk ngejar-ngejar bola wol meski sekelilingnya leyeh-leyeh doang.

Heri (bukan nama sebenarnya) baru berhenti ngejar bola gara-gara kepentok badan kucing lain.

Mengs hinggap di jendela.

Secara desain interior, ruang bermain The Cat Cabin cukup nyaman, ramah anak, dan Instagram-able. Banyak sofa dan bantal bertebaran. Perintilan dan dekorasi lucu-lucu ada di mana-mana. Beberapa buku diletakkan pada rak dinding sebagai sekadar properti pemanis (nemu Never Let Me Go karya Ishiguro Kazuo yang edisi bahasa Inggris, by the way). Mainan kucing serta berbagai plushies juga tersedia. Ibarat nggak ada kucing hidup yang berkenan kalian dekati, ya udahlah bisa ngedekepin bonekanya aja. #ngenes

Bisa loh mejeng di depan temboknya doang terus dihestekin #OOTD.

Paling mungil seantero kafe: mengs KW seratus (tanpa nyawa).

Aturan main di The Cat Cabin terpampang nyata.

Penghuni The Cat Cabin montok-montok sekali!!! Subur ginuk-ginuk. Bawaannya pengin body-shaming mereka semua terus-terusan sampai puas. Nyoba ngangkat aja susah bener, apalagi gendong-gendong sambil menimang-nimang. Beuuuhhh berasa bawa barbel hidup yang bisa menggeliat sesuka hati. Saya lupa nggak nanya ke mas dan mbak staf sih, tapi sepertinya mereka semua memang kucing-kucing dewasa. Barangkali demi faktor keamanan ya. Kalau masih kekecilan alias kitten, takutnya terinjak-injak pengunjung atau kegencet kucing lain.

Satu hal lucu yang saya perhatikan, kucing-kucing The Cat Cabin sama sekali nggak manja dengan manusia! Hahahaha. Cuek bebek. Sumpah. Nggak menghampiri. Boro-boro ndusel, gelendotan. Seolah-olah dalam hati berkata, "I'm tired of this shit already". Mereka diem anteng dan membiarkan pengunjung garukin perut atau membelai kepala saja sudah layak disyukuri. Kalah jauh dibandingkan piaraan-piaraan jablay sahabat saya, Puti, yang pernah mejeng di tulisan sebelumnya. Bahkan ada beberapa ekor yang rada jumpy dan selalu pindah tempat tiap kali disamperin. Rasanya ingin ngajak ngobrol baik-baik dan bertanya apakah pernah ada kejadian traumatis dalam karir(?) mereka selaku binatang penghibur(?) selama ini. Mungkinkah mereka lelah? Atau cuma ilfil sama saya? Hmm. Sebuah misteri.

Mati-matian berusaha diwaro mengs. Hasil: nihil.

Tatapan segarang ibu tiri sinetron lokal.

Walau penampilan mereka gembul-gembul sehat dan menggemaskan, saya agak kepikiran apakah makanan kucing-kucing The Cat Cabin ini kualitasnya cukup oke. Khususnya geng kucing ras. You wonder why? Bulu-bulu mereka lumayan mbrudhul. Gampang sekali rontok. Mereka gerak dikit aja, lari dikit aja, wuidiiih... keliatan banget helai-helai bulu beterbangan ke udara. Kondisi tersebut bertolak belakang dengan ulasan The Cat Cabin tahun 2015 yang saya temukan di sebelah sini. Saat saya pergi ke sana, bahkan kucing kampung yang biasanya dikasih makanan rada elit udah kece alamakjan pun bulunya tetep rontok saat dibelai. Hingga detik ini saya mempertimbangkan secara serius apa lebih baik di kunjungan berikutnya―jika ada―pakai masker dulu sebelum masuk ke ruang bermain The Cat Cabin. It was a rather serious mess, trust me on this. Harus super hati-hati agar nggak ada bulu ikut terhirup waktu tarik napas.

Do I recommend visiting The Cat Cabin?

Well... if it doesn't hurt you financially, or you're just the type of person going YOLO all the time (like me), go ahead and give these chubby cats a visit and a bit of your cash. But you won't really lose anything if you skip this place. Kucing kampung yang keliaran di sekitar area komplek juga nggak seburuk itu kok.


The Cat Cabin buka pada hari kerja sejak pukul 10:00 hingga 21:00. Sedangkan di akhir pekan (Sabtu serta Minggu) sudah bisa dikunjungi mulai pukul 09:00 sampai 22:00. Hari Senin tutup. Jangan sampai kecele, ya.

z. d. imama


*P.S.: Terima kasih banyak, mas Eron, atas foto-fotonya. It's a rare occurrence that somehow I managed to look like a human being. Biasanya lebih menyerupai dugong terdampar.

Friday, 25 January 2019

"The Great 50 Show", my first circus experience

Friday, January 25, 2019 1

Frankly speaking, I have no idea at all about circus. Sure I've seen some of the acts through movies, drama series, or even.. Gundam Wing (Trowa Barton, anyone?), but I didn't have any real life experience witnessing such performance. At least as far as my memories go. That's why, when I get my hands on the entrance ticket for The Great 50 Show in Tennis Outdoor Senayan, Gelora Bung Karno, Jakarta, I don't need to be told twice to drag my big ass there. Excitedly. And perhaps you have already guessed this: I was going alone. Single fighter fear no danger. 

Sesuai namanya, The Great 50 Show digelar selama 50 hari. Pertunjukan ini sudah berlangsung sejak 14 Desember 2018 hingga malam pamungkasnya 27 Januari 2019 nanti. Diselenggarakan oleh Oriental Circus Indonesia dan disponsori oleh Traveloka, tiket The Great 50 Show bisa didapatkan via situs dan aplikasi berlogo burung biru kurus nan ramping itu dengan harga diskon. Sedikit lebih murah dibanding beli langsung melalui loket yang tersedia di lokasi. Acaranya pun disebut-sebut melibatkan penampil dari berbagai negara Asia, di antaranya Cina, Mongolia, dan India. Makinlah penasaran. Sehingga begitu jam pulang kantor tiba, tanpa banyak ba-bi-bu dan berleha-leha sebagaimana yang saya kerap lakukan selepas kerja, saya bangkit dari kursi.

Cabut ke TKP.

Cuaca mendung berat. Nggak kalah beratnya dengan badan saya. Berhubung malas keluar duit (maklum, tanggal lanjut usia, tua bangka), saya berjalan kaki dari halte Transjakarta Gelora Bung Karno menuju Pintu 2, yang berdasar petunjuk, merupakan pintu terdekat. Wuidih anginnyaaaaaaa... rusuh abis. Tenda sirkus berwarna-warni cerah dengan lampu-lampu dekoratifnya tampak lebih mencolok, kontras dengan gelapnya langit. Sambutan dari welcome gate yang terasa khas sebagaimana terpampang di gambar pembuka tulisan ini sukses bikin antusiasme saya naik drastis. Mentok di ujung skala ukur.

Tiketnya oke. Kertasnya nggak terlalu tipis macam tiket parkir atau makalah kampus.

Mulanya, saya sangka penonton akan cukup sepi mengingat hari kerja. Iya siiih pertunjukan dimulai pukul tujuh malam, namun mempertimbangkan kemacetan Jakarta dan banyak sekali pihak-pihak yang lebih suka bersantai goler-goler melepas penat di kediamannya setelah nyari nafkah, ya mana saya menduga bahwa lumayan rame yang datang. Saat semua orang telah ambil posisi di bangku masing-masing beberapa puluh menit kemudian, ternyata terisi sekitar dua per tiga dari kapasitas total. Seneng deh liatnya. Saya kan baperan kronis, ya. Begitu tahu ada pementasan krisis audiens tuh bawaannya pengin nangis sendiri di pojok ruangan. Setidaknya dengan begini, kondisi psikologis saya terjamin baik-baik saja.

Pintu ke area pertunjukan baru akan dibuka pukul 18:30. Berhubung masih ada sedikit waktu sisa, saya mengamati sekeliling. Ada beberapa titik yang sengaja didesain untuk foto-foto demi memorabilia. Bahkan bisa diikutsertakan ke kompetisi yang digelar Traveloka pula (ya mereka sekalian promosi gratis kan... words of mouth dari testimoni pengunjung).

      
Lumayan tau sejeti. Bisa buat subsidi beli tiket pesawat ke Singapura.

Lapar? Haus? Ingin ngemil? Tenang, tersedia konter Eat&Eat yang juga menyediakan beberapa jenis camilan dengan harga masih masuk akal. Yah, kelas jajanan bioskop lah. Cappuccino dijual empat puluh ribuan, teh botolan dan air minum kemasan dibanderol belasan ribu rupiah.


Persis setelah saya selesai menjepret foto-foto ini, hujan turun. DERAS. Air seolah tumpah, disunthak dari langit. Angin berderu. Berada di dalam tenda yang didirikan di tengah-tengah tempat terbuka, terus terang saya sempat was-was. Gile serem banget, men. Bunyi angin tuh beneran hyuuuu... hyuuuu... gitu. Kondisi di luar, dilihat dari tempat saya berdiri mengantri siap-siap masuk area panggung, nggak beda jauh dengan arena Hunger Games di-setting hujan badai. Tinggal kurang binatang buas dilepas aja dah. But thank god the tents are constructed sturdily. Dihempas angin kayak gimana, berhasil nggak goyang atau kenapa-napa. Bocor sih ada, namun hanya di satu-dua titik tidak krusial yang agak jarang dipadati pengunjung. Tenang aja ya guys. Terjamin kok kualitas tendanya. Barangkali memang standar internesyenel.

Now let's get on to talk about the show.

Foto-foto panggung berasal dari dokumentasi dan promosi di laman Traveloka.

Opening act-nya agak terlalu kalem. A bit too slow-paced. Butuh beberapa saat bagi saya untuk tersadar, "Oh oke udah mulai nih". Lambat laun, badut-badut dan penampilan pemain akrobatik makin seru. Ada banyak hal yang terasa familier, seperti lompat tali dan jungkat-jungkit yang digunakan sebagai properti dan set-up, tetapi dimainkan sedemikian rupa sehingga mengundang decak kagum, tawa, geleng-geleng kepala, bahkan rasa deg-degan saking cemas gimana kalau ada apa-apa. Weeeell, I know they practiced like crazy and they are trained individuals but I was still worried what if things go awry.

The live music was breathtaking. Saya baru mengetahui bahwa layaknya teater, sirkus juga diiringi musik berbagai instrumen yang dimainkan langsung dari samping panggung. Bukan pakai rekaman kayak penampilan grup idola. Mantap. Oh ya, nyaris lupa. Sepanjang berlangsungnya pertunjukan, penonton tidak diperbolehkan merekam video dan mengambil gambar. Ada sih makhluk-makhluk tak berbudaya yang nyolong-nyolong motret.. JANGAN DITIRU YA. Oke? Oke. Plis lah. We're better than that. Ganggu kenyamanan dan pengalaman orang yang duduk di belakang dan samping kalian juga kan.

Masih dari dokumentasi resmi untuk promosi.

Setelah babak pertama selesai, ada interval dua puluh menit sebelum babak kedua digelar. Mau pipis? Silakan. Jajan popcorn? Atau gula-gula kapas? Boleh. Rumpi-rumpi dikit? Gak papa. Sayangnya seorang penonton lain yang semula duduk di sebelah saya memilih menggunakan jeda tersebut untuk pindah bangku dan meninggalkan seluruh sampah-sampah bekas bungkus jajanannya di atas kursi yang dia tinggalkan. Wasyuuuuuuuuu. Jan njaluk dijejeli sendal tenan raine

Babak kedua kece parah. Anjayyyy. Terlebih pada sesi laser dance, yang benar-benar keren dengan segenap special stage effects-nya. Iringan musik bertempo cepat yang mengiringi sang penari, di beberapa bagian, mengingatkan saya akan intro lagu pembuka serial animasi Saint Seiya (sumpah nggak bohong; silakan tonton sirkusnya sendiri untuk kroscek dan konfirmasi keabsahan opini ini). Ada momen-momen yang bikin ingin menyambar mikrofon lalu berteriak sekencang mungkin, "Saint Seiyaaaaaaaaaaaaaaarrrrggghhhh!!" saking miripnya. Same shit same energy.

And don't get me started on the closing performance: Wheel of DeathThat's another thing for you to find out with your own eyes. Suara jeritan penonton dan tarikan napas tertahan muncul dari kanan-kiri hampir tanpa henti. It was THAT exciting, that intriguing. Banyak hal-hal menarik dan menyenangkan yang saya dapatkan sepanjang menyaksikan The Great 50 Show. Salah satu yang paling menonjol adalah tim sirkus ini tidak lagi membawa binatang ke panggung. Hewan-hewan yang konon kerap muncul di pertunjukan sirkus telah disubstitusi dengan boneka-boneka plushie berukuran besar, serta manusia berkostum. Kayak Barongsai gitu lho. Bukan a la kostum badut ulang tahun yang suka disewain buat minta duit di tepian jalanan Jakarta.

So many Wonder Women.

The Great 50 Show akan selesai pada akhir pekan ini. Jika ada yang belum sempat nonton (padahal ingin, atau penasaran), atau masih mikir-mikir, saya sarankan mendingan berangkat deh. At first glance the ticket may looks and sounds rather pricey, but I can attest that the show is so fun, engaging, and refreshing. Go get your share.

z. d. imama