Monday, 4 February 2019

A short afternoon in The Cat Cabin: (not) a review

Monday, February 04, 2019 2

Urusan ngabisin duit, Jakarta punya banyak solusi. Baik itu yang berujung girang maupun sekadar kepala pening badan meriang. Alternatif rekreasi di luar rumah cukup bervariasi, mulai dari main ke mal, main ke mal lagi, jalan-jalan ke taman kota yang entah kenapa baru cakep beberapa tahun belakangan, mengunjungi museum, hingga mendatangi kafe kucing. Yap. Ingin main dengan kucing ras tapi tidak punya kenalan yang memelihara? Atau semata-mata sedang kebanyakan uang dan waktu luang, lalu tidak tahu hendak melakukan apa, dan tidak benci atau alergi kucing? The Cat Cabin, kafe khusus untuk bermain-main dan menghabiskan waktu bersama segerombolan mengs dalam hitungan jam yang beralamatkan di Jalan Kemang Raya No. 31, Kemang, Jakarta Selatan, bisa jadi sasaran singgah.

Saya sudah cukup lama penasaran pada kafe ini. Beberapa kali mbak Kimi dan mbak Anggie mengajak ke sana, tapi kok ndilalah waktunya nggak ketemu. Sehingga pas mas Eron, yang belakangan saya tahu bahwa aslinya tidak demen-demen amat sama kucing, menyeret saya yang kebetulan sedang nganggur, langsung lah diiyakan tanpa mikir kelamaan. The Cat Cabin terletak di lantai dua sebuah gedung. Tapi jangan cemas, signage cukup menyolok dan di depan tangga diletakkan papan petunjuk yang meyakinkan calon pengunjung bahwa mereka berada di tempat yang benar.

Papan petunjuk yang sungguh gumash.

Langkah pertama memasuki pintu kafe, pengunjung akan disambut oleh rak sepatu berjajar dan meja kasir. Rak... sepatu? Benar sekali, saudara-saudara. Konsepnya kayak batas suci gitu deeh. Demi melindungi kucing-kucing dari kotoran dan bakteri asing yang nempel di sol alas kaki, maka pengunjung akan diminta melepaskan sepatu dan sandalnya dan disimpan pada rak yang telah disediakan. Wajib nyeker di dalam ruangan bermain.

Rupanya, warga The Cat Cabin nggak cuma dari golongan kucing ras. Ada beberapa kucing kampung biasa juga dan nggak kalah lucu. Justru berdasarkan pengamatan saya, para mengs dusun ini lebih lincah, aktif, berlarian ke sana kemari tanpa kenal lelah... sementara geng kucing ras cuma goler-goleran malas. Saya sampai seenaknya menyematkan julukan Heri (alias heboh sendiri) pada seekor kucing kampung yang gesit bukan main, sibuk ngejar-ngejar bola wol meski sekelilingnya leyeh-leyeh doang.

Heri (bukan nama sebenarnya) baru berhenti ngejar bola gara-gara kepentok badan kucing lain.

Mengs hinggap di jendela.

Secara desain interior, ruang bermain The Cat Cabin cukup nyaman, ramah anak, dan Instagram-able. Banyak sofa dan bantal bertebaran. Perintilan dan dekorasi lucu-lucu ada di mana-mana. Beberapa buku diletakkan pada rak dinding sebagai sekadar properti pemanis (nemu Never Let Me Go karya Ishiguro Kazuo yang edisi bahasa Inggris, by the way). Mainan kucing serta berbagai plushies juga tersedia. Ibarat nggak ada kucing hidup yang berkenan kalian dekati, ya udahlah bisa ngedekepin bonekanya aja. #ngenes

Bisa loh mejeng di depan temboknya doang terus dihestekin #OOTD.

Paling mungil seantero kafe: mengs KW seratus (tanpa nyawa).

Aturan main di The Cat Cabin terpampang nyata.

Penghuni The Cat Cabin montok-montok sekali!!! Subur ginuk-ginuk. Bawaannya pengin body-shaming mereka semua terus-terusan sampai puas. Nyoba ngangkat aja susah bener, apalagi gendong-gendong sambil menimang-nimang. Beuuuhhh berasa bawa barbel hidup yang bisa menggeliat sesuka hati. Saya lupa nggak nanya ke mas dan mbak staf sih, tapi sepertinya mereka semua memang kucing-kucing dewasa. Barangkali demi faktor keamanan ya. Kalau masih kekecilan alias kitten, takutnya terinjak-injak pengunjung atau kegencet kucing lain.

Satu hal lucu yang saya perhatikan, kucing-kucing The Cat Cabin sama sekali nggak manja dengan manusia! Hahahaha. Cuek bebek. Sumpah. Nggak menghampiri. Boro-boro ndusel, gelendotan. Seolah-olah dalam hati berkata, "I'm tired of this shit already". Mereka diem anteng dan membiarkan pengunjung garukin perut atau membelai kepala saja sudah layak disyukuri. Kalah jauh dibandingkan piaraan-piaraan jablay sahabat saya, Puti, yang pernah mejeng di tulisan sebelumnya. Bahkan ada beberapa ekor yang rada jumpy dan selalu pindah tempat tiap kali disamperin. Rasanya ingin ngajak ngobrol baik-baik dan bertanya apakah pernah ada kejadian traumatis dalam karir(?) mereka selaku binatang penghibur(?) selama ini. Mungkinkah mereka lelah? Atau cuma ilfil sama saya? Hmm. Sebuah misteri.

Mati-matian berusaha diwaro mengs. Hasil: nihil.

Tatapan segarang ibu tiri sinetron lokal.

Walau penampilan mereka gembul-gembul sehat dan menggemaskan, saya agak kepikiran apakah makanan kucing-kucing The Cat Cabin ini kualitasnya cukup oke. Khususnya geng kucing ras. You wonder why? Bulu-bulu mereka lumayan mbrudhul. Gampang sekali rontok. Mereka gerak dikit aja, lari dikit aja, wuidiiih... keliatan banget helai-helai bulu beterbangan ke udara. Kondisi tersebut bertolak belakang dengan ulasan The Cat Cabin tahun 2015 yang saya temukan di sebelah sini. Saat saya pergi ke sana, bahkan kucing kampung yang biasanya dikasih makanan rada elit udah kece alamakjan pun bulunya tetep rontok saat dibelai. Hingga detik ini saya mempertimbangkan secara serius apa lebih baik di kunjungan berikutnya―jika ada―pakai masker dulu sebelum masuk ke ruang bermain The Cat Cabin. It was a rather serious mess, trust me on this. Harus super hati-hati agar nggak ada bulu ikut terhirup waktu tarik napas.

Do I recommend visiting The Cat Cabin?

Well... if it doesn't hurt you financially, or you're just the type of person going YOLO all the time (like me), go ahead and give these chubby cats a visit and a bit of your cash. But you won't really lose anything if you skip this place. Kucing kampung yang keliaran di sekitar area komplek juga nggak seburuk itu kok.


The Cat Cabin buka pada hari kerja sejak pukul 10:00 hingga 21:00. Sedangkan di akhir pekan (Sabtu serta Minggu) sudah bisa dikunjungi mulai pukul 09:00 sampai 22:00. Hari Senin tutup. Jangan sampai kecele, ya.

z. d. imama


*P.S.: Terima kasih banyak, mas Eron, atas foto-fotonya. It's a rare occurrence that somehow I managed to look like a human being. Biasanya lebih menyerupai dugong terdampar.

Friday, 25 January 2019

"The Great 50 Show", my first circus experience

Friday, January 25, 2019 1

Frankly speaking, I have no idea at all about circus. Sure I've seen some of the acts through movies, drama series, or even.. Gundam Wing (Trowa Barton, anyone?), but I didn't have any real life experience witnessing such performance. At least as far as my memories go. That's why, when I get my hands on the entrance ticket for The Great 50 Show in Tennis Outdoor Senayan, Gelora Bung Karno, Jakarta, I don't need to be told twice to drag my big ass there. Excitedly. And perhaps you have already guessed this: I was going alone. Single fighter fear no danger. 

Sesuai namanya, The Great 50 Show digelar selama 50 hari. Pertunjukan ini sudah berlangsung sejak 14 Desember 2018 hingga malam pamungkasnya 27 Januari 2019 nanti. Diselenggarakan oleh Oriental Circus Indonesia dan disponsori oleh Traveloka, tiket The Great 50 Show bisa didapatkan via situs dan aplikasi berlogo burung biru kurus nan ramping itu dengan harga diskon. Sedikit lebih murah dibanding beli langsung melalui loket yang tersedia di lokasi. Acaranya pun disebut-sebut melibatkan penampil dari berbagai negara Asia, di antaranya Cina, Mongolia, dan India. Makinlah penasaran. Sehingga begitu jam pulang kantor tiba, tanpa banyak ba-bi-bu dan berleha-leha sebagaimana yang saya kerap lakukan selepas kerja, saya bangkit dari kursi.

Cabut ke TKP.

Cuaca mendung berat. Nggak kalah beratnya dengan badan saya. Berhubung malas keluar duit (maklum, tanggal lanjut usia, tua bangka), saya berjalan kaki dari halte Transjakarta Gelora Bung Karno menuju Pintu 2, yang berdasar petunjuk, merupakan pintu terdekat. Wuidih anginnyaaaaaaa... rusuh abis. Tenda sirkus berwarna-warni cerah dengan lampu-lampu dekoratifnya tampak lebih mencolok, kontras dengan gelapnya langit. Sambutan dari welcome gate yang terasa khas sebagaimana terpampang di gambar pembuka tulisan ini sukses bikin antusiasme saya naik drastis. Mentok di ujung skala ukur.

Tiketnya oke. Kertasnya nggak terlalu tipis macam tiket parkir atau makalah kampus.

Mulanya, saya sangka penonton akan cukup sepi mengingat hari kerja. Iya siiih pertunjukan dimulai pukul tujuh malam, namun mempertimbangkan kemacetan Jakarta dan banyak sekali pihak-pihak yang lebih suka bersantai goler-goler melepas penat di kediamannya setelah nyari nafkah, ya mana saya menduga bahwa lumayan rame yang datang. Saat semua orang telah ambil posisi di bangku masing-masing beberapa puluh menit kemudian, ternyata terisi sekitar dua per tiga dari kapasitas total. Seneng deh liatnya. Saya kan baperan kronis, ya. Begitu tahu ada pementasan krisis audiens tuh bawaannya pengin nangis sendiri di pojok ruangan. Setidaknya dengan begini, kondisi psikologis saya terjamin baik-baik saja.

Pintu ke area pertunjukan baru akan dibuka pukul 18:30. Berhubung masih ada sedikit waktu sisa, saya mengamati sekeliling. Ada beberapa titik yang sengaja didesain untuk foto-foto demi memorabilia. Bahkan bisa diikutsertakan ke kompetisi yang digelar Traveloka pula (ya mereka sekalian promosi gratis kan... words of mouth dari testimoni pengunjung).

      
Lumayan tau sejeti. Bisa buat subsidi beli tiket pesawat ke Singapura.

Lapar? Haus? Ingin ngemil? Tenang, tersedia konter Eat&Eat yang juga menyediakan beberapa jenis camilan dengan harga masih masuk akal. Yah, kelas jajanan bioskop lah. Cappuccino dijual empat puluh ribuan, teh botolan dan air minum kemasan dibanderol belasan ribu rupiah.


Persis setelah saya selesai menjepret foto-foto ini, hujan turun. DERAS. Air seolah tumpah, disunthak dari langit. Angin berderu. Berada di dalam tenda yang didirikan di tengah-tengah tempat terbuka, terus terang saya sempat was-was. Gile serem banget, men. Bunyi angin tuh beneran hyuuuu... hyuuuu... gitu. Kondisi di luar, dilihat dari tempat saya berdiri mengantri siap-siap masuk area panggung, nggak beda jauh dengan arena Hunger Games di-setting hujan badai. Tinggal kurang binatang buas dilepas aja dah. But thank god the tents are constructed sturdily. Dihempas angin kayak gimana, berhasil nggak goyang atau kenapa-napa. Bocor sih ada, namun hanya di satu-dua titik tidak krusial yang agak jarang dipadati pengunjung. Tenang aja ya guys. Terjamin kok kualitas tendanya. Barangkali memang standar internesyenel.

Now let's get on to talk about the show.

Foto-foto panggung berasal dari dokumentasi dan promosi di laman Traveloka.

Opening act-nya agak terlalu kalem. A bit too slow-paced. Butuh beberapa saat bagi saya untuk tersadar, "Oh oke udah mulai nih". Lambat laun, badut-badut dan penampilan pemain akrobatik makin seru. Ada banyak hal yang terasa familier, seperti lompat tali dan jungkat-jungkit yang digunakan sebagai properti dan set-up, tetapi dimainkan sedemikian rupa sehingga mengundang decak kagum, tawa, geleng-geleng kepala, bahkan rasa deg-degan saking cemas gimana kalau ada apa-apa. Weeeell, I know they practiced like crazy and they are trained individuals but I was still worried what if things go awry.

The live music was breathtaking. Saya baru mengetahui bahwa layaknya teater, sirkus juga diiringi musik berbagai instrumen yang dimainkan langsung dari samping panggung. Bukan pakai rekaman kayak penampilan grup idola. Mantap. Oh ya, nyaris lupa. Sepanjang berlangsungnya pertunjukan, penonton tidak diperbolehkan merekam video dan mengambil gambar. Ada sih makhluk-makhluk tak berbudaya yang nyolong-nyolong motret.. JANGAN DITIRU YA. Oke? Oke. Plis lah. We're better than that. Ganggu kenyamanan dan pengalaman orang yang duduk di belakang dan samping kalian juga kan.

Masih dari dokumentasi resmi untuk promosi.

Setelah babak pertama selesai, ada interval dua puluh menit sebelum babak kedua digelar. Mau pipis? Silakan. Jajan popcorn? Atau gula-gula kapas? Boleh. Rumpi-rumpi dikit? Gak papa. Sayangnya seorang penonton lain yang semula duduk di sebelah saya memilih menggunakan jeda tersebut untuk pindah bangku dan meninggalkan seluruh sampah-sampah bekas bungkus jajanannya di atas kursi yang dia tinggalkan. Wasyuuuuuuuuu. Jan njaluk dijejeli sendal tenan raine

Babak kedua kece parah. Anjayyyy. Terlebih pada sesi laser dance, yang benar-benar keren dengan segenap special stage effects-nya. Iringan musik bertempo cepat yang mengiringi sang penari, di beberapa bagian, mengingatkan saya akan intro lagu pembuka serial animasi Saint Seiya (sumpah nggak bohong; silakan tonton sirkusnya sendiri untuk kroscek dan konfirmasi keabsahan opini ini). Ada momen-momen yang bikin ingin menyambar mikrofon lalu berteriak sekencang mungkin, "Saint Seiyaaaaaaaaaaaaaaarrrrggghhhh!!" saking miripnya. Same shit same energy.

And don't get me started on the closing performance: Wheel of DeathThat's another thing for you to find out with your own eyes. Suara jeritan penonton dan tarikan napas tertahan muncul dari kanan-kiri hampir tanpa henti. It was THAT exciting, that intriguing. Banyak hal-hal menarik dan menyenangkan yang saya dapatkan sepanjang menyaksikan The Great 50 Show. Salah satu yang paling menonjol adalah tim sirkus ini tidak lagi membawa binatang ke panggung. Hewan-hewan yang konon kerap muncul di pertunjukan sirkus telah disubstitusi dengan boneka-boneka plushie berukuran besar, serta manusia berkostum. Kayak Barongsai gitu lho. Bukan a la kostum badut ulang tahun yang suka disewain buat minta duit di tepian jalanan Jakarta.

So many Wonder Women.

The Great 50 Show akan selesai pada akhir pekan ini. Jika ada yang belum sempat nonton (padahal ingin, atau penasaran), atau masih mikir-mikir, saya sarankan mendingan berangkat deh. At first glance the ticket may looks and sounds rather pricey, but I can attest that the show is so fun, engaging, and refreshing. Go get your share.

z. d. imama

Monday, 21 January 2019

My (rather unhealthy) cat obsession

Monday, January 21, 2019 4

Saya suka kucing. 

Mohon maaf terhadap segala macam hewan menggemaskan lain di muka bumi (marmut, kelinci, rusa, anjing, dan lain sebagainya), namun saya tidak bisa memungkiri bahwa yang senantiasa memperbudak jiwa dan hati saya di singgasana tetap kucing. Beserta seluruh spesies turunannya. Singa, macan, jaguar... yea you know which ones. Semasa kecil, salah seorang sepupu saya di rumahnya ada banyak sekali kucing peliharaan. Rekor populasi tertinggi kayaknya sempat mencapai sebelas ekor, persis macem Nankatsu setelah kedatangan Ozora Tsubasa. Tiap kali libur sekolah, saya pasti minta menginap di sana. Demi main sama kucing. Tapi ya, keluarga sepupu saya nggak sepaham itu sama dietary kucing. Beda sama orang-orang sekarang. Back in the day, makanan para mengs tiap hari adalah ikan mentah termurah yang ada di pasar―biasanya kalau bukan bandeng ya teri―dicampur nasi putih. "Nasi kucing" at its realest meaning.

"Kenapa nggak pelihara sendiri aja?"

Ya ya ya. Ini memang pertanyaan yang paling kerap muncul. Saya maklum. Namun mewujudkannya tidak semudah ngomentarin orang di internet, kamerad. Ayah saya tidak suka binatang. In an almost hardcore sense. It's weird because human are in kingdom Animalia.. but let's not talk about that. Tiap menjemput saya dari rumah sepupu saja, tidak jarang ayah menaikkan kakinya ke kursi daripada harus tersenggol kucing-kucing yang lalu-lalang. Memang seenggan itu. Sehingga ya.. mana mungkin saya bisa punya kucing piaraan pribadi. Ketimbang dese cuma jadi korban kekerasan rumah tangga, kan.

     

Kegemaran saya: motretin kucing-kucing liar (dan ngasih mereka makanan).

Setelah tinggal sendiri sebagai warga kos-kosan rupanya impian memelihara mengs juga belum dapat terwujud. Kos yang kamarnya sesuai dengan kehendak hati saya, entah kebetulan entah nasib, selalu punya kebijakan melarang binatang peliharaan. Penyaluran hasrat dan rasa sayang yang nampaknya sudah merekah jadi obsesi terhadap kucing pun lagi-lagi terhenti di sebatas mengusap-usap (asalkan mereka tidak terlalu takut pada manusia) dan memberi makan kucing liar yang ditemui.

Kucing-kucing komplek.
Kucing-kucing yang gegoleran di trotoar jalan.
Kucing yang hampir tiap hari bisa ditemukan keliaran di sekitaran gedung kantor.

The office-perimeter cat, alias kucing yang demen nongkrong di area kantor.

Tempo hari sempat ada kejadian agak memalukan gara-gara dijajah kucing secara psikologis:  saya mengeong ke arah seekor kucing liar pada saat yang bertepatan dengan mas-mas lain melakukan hal serupa. KEBAYANG NGGAK SIH SEBERAPA MALU? DUA ORANG DEWASA MENGGODA KUCING DAN KOMPAK NGOMONG "MEOOONG~~"?? DENGAN NADA SOK IMUT?? While I know that it sounds toootally like a start of budding romance story―in retrospect, I honestly kinda hope it did―unfortunately it only resulted in awkward moment and shy stares and quickened pace. Mas-mas tersebut buru-buru berlalu, sementara saya memutuskan berjongkok di samping sang kucing lantaran arah tujuan kami sama; takut makin keki kalau pergi dari situ berbarengan.

Hasrat miara kucing yang tidak pernah terkabul selama bertahun-tahun ternyata sampai bermanifestasi jadi ambisi kurang terkendali. Entah sejak kapan, saya gampang sekali datang berkunjung ke tempat tinggal seseorang hanya dengan diiming-imingi main sama kucing. I shit you not. Trivia barusan sudah pernah saya sebutkan di postingan sebelah sini loh. Sure, terms and conditions apply, misalnya saya dan pihak pengundang harus sudah pernah ada interaksi sebelumnya, namun kok ya setelah direnungkan lagi ternyata definisi "interaksi sebelumnya" ini longgar banget, men. Bahkan saya pernah sengaja menawarkan ngambil sendiri buku secondhand yang hendak saya beli dari seseorang, langsung ke rumahnya, cuma demi ketemu kucing peliharaan si empunya buku yang emang amit-amit gemes banget dan nampang di foto profil. Padahal tadinya kami nggak kenal sama sekali. Cuma pernah ngobrol dikit-dikit via direct message media sosial, ngebahas buku yang mau dibeli.

Is this starting to get dangerous? 
Is this beginning to become unhealthy?
Is this tendency has started to be life-threatening?
Bagaimana jika kamu jangan terlalu lonte tentang kucing, Zulfana? Hmm?

      
Bergaul dengan dedek-dedek bulu milik Puti

To all the cats I've petted before... thank you from the deepest part of my conscience. Terima kasih telah bersedia saya jamah dan unyel-unyel meski ujung-ujungnya cuma ditinggal lagi sesudah dikasih makanan kering secukupnya. Semoga suatu waktu nanti, akan tiba hari di mana saya bisa membawa pulang minimal satu ekor dari kalian. Bukan saya yang terus-menerus dibawa pulang orang-orang demi menjumpai kalian.

z. d. imama

Tuesday, 15 January 2019

The Midnight Thoughts

Tuesday, January 15, 2019 2

At night. Lying under my blanket in a darkened room. Accompanied by distant sounds of stray cats mewling as they look for leftovers in the garbage. I think about many ways to die. Maybe I'm getting hit by a city bus. Falling from high places. Drowning in a shallow pool like a fool. Cutting the skin a little bit too deep or at the wrong place. Going deep into slumber and never return.

And I start thinking about the people. The livings. Noticing how only a few names appear. Noting how, probably, it is only a handful of people who will get notified when I'm truly gone. That guy I'm having a big crush on probably will have no idea what's happening; he doesn't even know that I'm re-reading our mundane, casual texts like it's worth any writing award. The friends I made through internet connections, at best, will wonder for a moment why my account is not updating, or why it is deactivated several weeks too long. The books, the drama series and movies I collected throughout the years will stay untouched, most likely getting thrown out as the days go by because my parent don't know what to do with them.

Taking a deep breath, eyes staring into the dark, I keep asking myself. Where will it be, then? Here, alone, inside my room, that no one but me has the key? And my body will be found at much later time when the smell has become a nuisance. Or will it be in a strange place I have never visited before? Or will my lifeless body lies amongst the muttering crowd, hands can be seen everywhere carrying phones to take pictures? I wonder if I will be able to see myself on that particular day.

I can hear my own heartbeat in the silence.
I feel the air goes into my lungs, then out from both nostrils.
I can sense the blood tirelessly rushing throughout my still body.

And tonight, just like countless nights in the past, I sleep crying.

z. d. imama

Saturday, 5 January 2019

#RecommendationOlympics: Japanese artists I regularly listen to (Female edition)

Saturday, January 05, 2019 4

Nyaris setahun terlewati setelah #RecommendationOlympics: Japanese artists I regularly listen to (Male edition) diunggah, memang sudah saatnya menuliskan 'pasangannya', alias daftar musisi dan artis perempuan Jepang yang rutin saya ikuti rilisan demi rilisannya. Jarak sebelas bulan tuh kelamaan nggak sih? Kelamaan ya? Habis, bahkan nama-nama musisi cowok yang jadi heavy rotation saya aja udah nambah lho. Ada dua nama: Yonezu Kenshi dan Suda Masaki. Perkenalan dengan Yonezu Kenshi tidak lain dan tidak bukan yaaa gara-gara anime Boku no Hero Academia. Sebenarnya sudah cukup lama ingin ngulik diskografinya, tapi lupa-lupa melulu kek, nggak dapet mood kek, hingga akhirnya misi tersebut terlaksana sekitar bulan Mei 2018 dan langsung aja dah kejeblos. He's making nice music, I reckon. Suda Masaki, yang sebenernya adalah seorang aktor, sejak tahun 2017 mulai iseng-iseng menjajal dunia tarik suara dan ternyata... he's rather decent??? I am genuinely surprised???? Tipe vokalnya tuh macem mas-mas senpai pujaan yang pas festival sekolah main band di panggung gimnasium.

Lho piye toh iki malah ngebahas musisi laki-laki..
Ayo ndang kembali ke jalan yang benar.

浜崎あゆみ (Hamasaki Ayumi)

It's so freaking tiring stanning Ayu but once you got to know her, you can't help but stan. Debut umur 20 di tahun 1998 lalu popularitasnya naik secara eksplosif hingga sekitar tahun 2008, sebelum mulai meredup dan banyak di-bash antifans kanan-kiri lantaran vokal yang bermasalah. Haduh Mak. Karir Ayu bener-bener penuh gejolak. Kadar dramanya kurang lebih setara, bahkan mungkin lebih, dari Namie Amuro-yang mana bakal disinggung dikit di tulisan ini. To cut all things short: she has serious hearing problems. Telinga kirinya sudah nggak berfungsi total sejak 2008, dan gara-gara itu kualitas vokalnya di penampilan live sangat tidak stabil. Kadang bisa oke, kadang saking berantakannya bisa memicu secondhand embarrassment dan bikin pengin nganterin pulang nyuruh istirahat. Bayangin aja deh demen musisi yang nyaris tuli tapi orangnya nekat maju terus kayak nggak peduli kondisi. You love her and you want her to get some long overdue rest but she keeps marching forward like a mad person (and deep down you somehow feel touched by it). Ini goblok apa dedikasi?? Capek ati anjir.

She penned her own lyrics. Each one. Every one. Lirik lagu-lagu Ayu semuanya ditulis sendiri, yang mana jika diperhatikan baik-baik bakal ketahuan kalau sebenernya karakter Ayu cenderung mirip Haibara Ai di Detektif Conan. Penuh kegelapan. That's probably why I really like her. I love unstable queen. Most of her lyrics are raw feelings and everything feels fahking great. Banyak banget lagu-lagu yang awalnya kerasa "Ah ini bagus ya, hangat kayak orang kasmaran" tapi ternyata supercocok dipakai temen nangis di bawah guyuran shower. Beberapa contoh lirik hasil tangan Ayu nih: "The day when I recall things about you doesn't exist because you never leave my mind" (HANABI), "Loneliness felt when we're together is much painful then the loneliness felt alone" (SURREAL), atau "I was praised 'You're so splendid not to cry', but the more people around me said that, even laughing became painful" (A Song for xx). Gimana nggak baper, Tong??

My personal favorites of Hamasaki Ayumi's truckload releases? Agak susah, namun bisa dibilang favorit selama ini ya Memorial address (2003), (miss)understood (2006), Rock 'n' Roll Circus (2010), dan My Story (2004). M(A)DE IN JAPAN yang muncul tahun 2016 kemarin juga suka banget.

Stream Ayu on Spotify guys!!!!

Kalafina

Bukan pertama kalinya nama Kalafina saya sebut di blog ini. Sekian bulan silam, saya pernah bikin satu postingan khusus Kalafina yang isinya nostalgia perkenalan dan rekomendasi sejumlah lagu bagi para non-fans. Ada pula tulisan ekstatik pasca menyaksikan penampilan mereka di AFAID 2013. Mari tidak berbasa-basi: this group has split up. Udah bubar, mamen. Produser sekaligus penulis lagu-lagu Kalafina, Kajiura Yuki, berseteru dengan manajemen Spacecraft dan memutuskan keluar dari agensi tersebut. Berhubung Wakana, Keiko, dan Hikaru nggak mau menyanyikan lagu orang lain dan yaa.. kalau nggak ada Kajiura Yuki maka Kalafina tidak akan terbentuk, mereka akhirnya memutuskan berpisah jalan. Persis setelah menggelar tur anniversary sepuluh tahun. Taek nggak? Taek bener. Sungguh bedhes. Pil pahit per-fangirling-an, bosquuuuuuue.

Mana belum sempat ngejar konser mereka di Yaban...

Rilisan Kalafina yang jadi longtime treasure masih Seventh Heaven (2009) yang merupakan album debut. Disusul red moon (2010) yang gothic maksimal, lalu album terakhir mereka, far on the water (2015). Oh, album khusus Natal mereka, Winter acoustic: Kalafina with Strings (2016) juga cakep ampun-ampunan. Their harmony is beyond perfect there. Diskografi Kalafina bisa didengarkan via Spotify, jadi jangan lupa mampir ya. Check their live albums too!

Aimer

Perkenalan saya dengan Aimer yaa... kayaknya pas dia debut. In a sea of young female singers with high-pitched, screechy voice appearing here and there, 六等星の夜/Rokutosei no Yoru (2011) sounded like a treat to my ears and I literally went, "NAH GINI KEK!!!" Apalagi selang beberapa bulan kemudian muncullah album perdana Aimer, Sleepless Nights (2012) yang bikin saya yakin telah berada di jalan kebenaran. Sejak saat itu hingga sekarang rilisan demi rilisannya nggak pernah absen saya ikuti. Biarpun mukanya hampir selalu ditutupin rambut di tiap foto. Biarpun ketika konser selalu pakai kacamata berbingkai setebel gaban dan lampu sorot diatur sedemikian rupa agar wajahnya nggak kelihatan jelas.

Bicara album, secara pribadi saya masih menjagokan daydream (2016), yang pada saat postingan ini ditulis, merupakan studio album terbaru dari tangan Aimer. Gila bagus banget dah daydream. It shows how much she matured in the sense of music-making, how she grasped what works for her and what does not. Tapi kalau ngomongin single, atau lagu a la carte alias perintilan, yang kayaknya nggak akan bisa berhenti saya dengarkan adalah Last Stardust (dari album Dawn (2015)) dan Brave Shine (2015) yang cakep banget kalau disetel back-to-back karena emang diciptakan untuk di-medley. Re: I Am (2013) juga jadi lagu langganan tiap ke karaoke. But is Aimer on Spotify? Yep. Go here and you're welcome.


ちゃんみな (Chanmina)

A Japanese female rapper in this list? Seriusan? Iya, serius. 'Chanmina' adalah nama panggung dari Otonomai Mina, cewek kelahiran 1998 yang talentanya bikin geger seluruh Jepang pas nampil di BAZOOKA! KOUKOUSEI RAP SENSHUKEN tahun 2016 silam, sebuah kompetisi rap khusus anak SMA yang disiarkan televisi. Setahun kemudian, sekitar musim panas 2017, Chanmina resmi major debut dengan meluncurkan album 未成年/Miseinen (Underage). As a first-ever release, the content was very interesting. Komposisi musiknya beraneka ragam―bahkan agak terlalu beragam―dan dari segi lirik ternyata kok ya cukup banyak kegelapan. Chanmina bercerita tentang kesulitan berteman, tidak bisa menemukan tempat untuk jadi diri sendiri, dikomentari kanan-kiri oleh orang dewasa, diejek remaja seumurannya karena dianggap aneh lah jelek lah gendut lah... Oh, I feel like being summoned.

Berhubung Chanmina baru punya satu album yakni 未成年/Miseinen (2017), satu EP bertajuk Chocolate (2017), dan sejumlah single seperti PAIN IS BEAUTY (2018) atau kolaborasi dengan Miyavi di No Thanks Ya (2017), maka saya merekomendasikan kalian untuk mendengarkan seluruh diskografinya saja di Spotify. Haha. Mumpung belum banyak-banyak amat.

MISIA

The mother of powerhouse. Hands down. Kacau dah begitu Misia udah nyanyi tuh bulu kuduk suka berdiri dengan sendirinya saking ya emang keren nampol. Lagu-lagunya buanyaaaak bangetttt dipakai jadi soundtrack serial drama, iklan, program televisi, gim, film (belakangan merambah anime juga), termasuk di antaranya Fullmetal Alchemist Live Action (2018) yang berdasarkan opini saya lebih baik film itu dibakar hangus pakai alkimia api Kolonel Roy Mustang. Haduuh tante, kebagusan banget lho film acak-adut gitu dapet lagumu sebagai soundtrack...

Right, recommendations. Misia-newbies pertama-tama wajib kenalan dengan album Marvelous (2001) karena di dalamnya termuat signature song Misia yang superpopuler sampai dibikin versi cover-nya oleh berbagai musisi: Everything. Agak-agak kayak 雪の華/Yuki no Hana punya Nakashima Mika lah, kan sampai ada lagu cover yang versi Mandarin kek, Inggris kek, Korea segala macem juga. Album lainnya yang saya suka: Kiss in the Sky (2002), Just Ballade (2009), dan Love Bebop (2015). Jangan khawatir, tante Misia tersedia laman Spotify-nya di sebelah sini kok.

安室奈美恵 (Amuro Namie)

The queen who just recently retired and left her throne empty. She put behind all those spotlights and drop her microphone with a bang, really. Tiket tur terakhir jadi rebutan, album dan DVD pamungkas laris manis kayak kacang goreng. And she deserves every single enthusiasm. Hampir nggak terdeskripsikan sih seberapa kerennya Amuro Namie ini. Walau badai menghadang kayak apa juga, dia selalu bangkit lagi dan bisa tetap bersinar selama 25 tahun karir. Perjalanannya nggak kalah drama dengan Hamasaki Ayumi; bedanya ya kagak penyakitan aja. Shotgun marriage, dikucilkan keluarga mertua, perceraian, ibunya dibunuh saudara ipar... hadeeeeh. Semoga kini setelah pensiun, Tante Namie bisa menikmati seluruh pundi-pundi uang hasil kerja kerasnya selama ini dengan lebih santai dan damai. Amin.

Her earliest work I fell in love with was Sweet 19 Blues (1996). Man, Body Feels Exit (1996) is THE jam. Setelah itu langsung lompat ke rilisan sepuluh tahun kemudian, Play! (2007) yang jadi album perkenalan saya dengan tante Namie lantaran single Baby Don't Cry (2007), lagu pembuka serial drama Himitsu no Hanazono. Rilisan kesukaan yang lebih baru ada Uncontrolled (2012) yang buagusssssssssss makkkkknyussssss dan _genic (2015). Masalahnya nih.. diskografi Amuro Namie nggak tersedia di Spotify entah gara-gara alasan apa.

Good luck ya guys. This one needs a little hard work to enjoy. But it's really one of the best, so march on.

SCANDAL

Dulu apa ya yang bikin jadi kenal dan suka SCANDAL... Kemungkinan besar sih single 瞬間センチメンタル/Shunkan Sentimental (2010) yang jadi lagu penutup Fullmetal Alchemist: Brotherhood (2009). Dari situ saya ngulik diskografi mereka dan memulai karir sebagai pendengar setia. Terus terang, makin lepas SCANDAL dari imej empat cewek-cewek berkostum seragam, musik mereka tambah asyik disimak. Bukan berarti lagu-lagu sebelumnya nggak oke, kok. Tambah seger aja sekarang kayak seteguk es teh di hari yang panas.

Not-to-missed releases in my book: Temptation Box (2010), Standard (2013), YELLOW (2015). Seperti halnya Amuro Namie, SCANDAL hingga hari ini belum tersedia diskografinya di Spotify. Apaan banget kan... pelit bener nih labelnya.

宇多田 ヒカル (Utada Hikaru)

Bikin tulisan beginian kalau nggak nyebut tante satu ini mendingan nggak usah. Meski nggak pernah bisa paham kenapa penulisan nama beliau pakai huruf katakana, namun lagu-lagu beliau sangat saya pahami popularitasnya. Saya curiga bahwa Hikki the Queen of Hiatus memang superselow dalam perjalanan karir. Sesudah Deep River (2002), rilisan demi rilisannya nongol seenak jidat. Suka-suka gue. Nggak ada jarak yang jelas. Bisa aja selang dua tahun, empat tahun, bahkan delapan tahun baru muncul karya baru. Kagak butuh-butuh amat sama duit apa? But still I love her. Rather than high falsettos, I really adore her when singing in lower register. Probably it's also the reason why her trademark track, First Love (1999) is never my number one song because I never really like its chorus part.

Favorite albums? Let's see.. Berdasarkan urutan rilis ada Deep River (2002), lalu jelas Heart Station (2008) yang menduduki tahta nomor wahid di hati―suka banget banget bangettt sama album ini, saya bela-belain berantem tonjokan-tonjokan deh kalau sampai ada yang bilang "Heart Station biasa aja" di depan muka. Rilisan terbaru Hikki, 初恋/Hatsukoi (2017), juga oke, dan setelah penantian berbulan-bulan album terakhir ini akhirnya masuk ke laman Spotify-nya pada Januari 2019!! Yaaay!!

FictionJunction, a team of Kajiura Yuki's trusted singers

Demikianlah beberapa nama musisi dan penyanyi perempuan Jepang yang diskografinya rutin saya dengarkan. Berbeda dengan versi cowok, saya nggak akan bikin daftar Honorable Mentions lantaran.. takut kebanyakan. Sebab kalau mau terus terang, masih ada FictionJunction―jajaran sejumlah vokalis yang selalu membawakan lagu-lagu Kajiura Yuki di live tour beliau―yang formatnya membuat saya bingung cara menyebutkan lagu apa sebagai rilisan sebelah mana.. akhirnya di-skip total dari daftar pendek ini. YUI, Nishino Kana, JUJU, Koda Kumi, dan sejumlah musisi pun tidak saya paparkan lebih lanjut meski mereka bisa dimasukkan dalam honorable mentions. Nanti kepanjangan... nggak kelar-kelar.

Ceburkan diri kalian dalam skena musik Jejepangan, kawan. Seleb K-pop aja berbondong-bondong nyari duit di Yaban. Jangan malu-malu. Oppa tuh banyak yang wibu.

Happy new year!

z. d. imama

Thursday, 27 December 2018

Birthday (and year-end) giveaway! Weebs special

Thursday, December 27, 2018 24

Sebelumnya, saya cuma pernah satu kali bikin giveaway. Itu pun tahun 2017. Nah, berhubung pertengahan bulan Desember saya ulang tahun (it's the fifteenth, if you're asking the date), proyek akbar fangirling Chasing MWAM berjalan lancar, kita semua makin dekat dengan pergantian tahun, dan beberapa hari lalu Yesus juga berulang tahun walau konon salah tanggal, maka saya berniat mengadakan giveaway kedua seumur-umur ngeblog. Berbeda dengan yang lalu, yang sarat nuansa riajuu karena bagi-bagi buku, kali ini edisinya 100% Wibu. Barang-barang dengan fungsi yang cukup dapat dipertanyakan―"Nggak pakai juga nggak masalah kan? Nggak punya juga nggak mengganggu kehidupan kan?"―namun tentu saja mampu memberikan kegembiraan sekaligus kepuasan tersendiri apabila berhasil dimiliki. Apalagi kalau barangnya asli dan dapetnya gratis. Enak kan? Enak dong.

Barang-barang apa saja yang hendak saya lepaskan?
Nyooooooh.


Waduh fotonya kurang jelas, Neng. Tenanglah semuanya. Ini cuma gara-gara kamera yang kualitasnya memang tidak mumpuni. Nanti bakal saya unggah foto-foto jarak lebih dekat supaya nggak burem-burem amat lah. Total ada 4 jenis hadiah untuk 6 orang. Bingung? Sini, sini, saya jelaskan satu per satu barang dan pembagiannya.

Boku no Hero Academia Clear File Folder: Yellow


Jika kalian mengikuti akun Twitter saya, atau memang kenal secara pribadi, pasti sudah tahu bahwa saya tuh bucin banget nggak ada obat sama Midoriya Izuku, sosok protagonis dalam serial Naruto-but-elevated berjudul Boku no Hero Academia (My Hero Academia) karangan Horikoshi Kouhei yang saat ini memang superpopuler. Bisa nangis-nangis beler dan baper lah saya tiap baca rilisan bab baru. Malah pernah sampai bikin tulisan rekomendasi di postingan sebelah sini. Begitu lihat pernak-pernik yang berkaitan pun rasanya langsung kepengin punya aja. Sungguh berbahaya dan gelap mata.

Clear file folder, sebagaimana yang kita tahu, yaa fungsinya untuk menyimpan dokumen dan kertas-kertas yang cenderung tersebar semrawut di mana-mana. Misalkan ogah dipergunakan, niat mau sekadar dipajang doang di kamar ya monggo. Ilustrasinya menggambarkan Midoriya Izuku dan sebelas teman-teman sekelasnya di SMA Yuuei kelas 1-A, Departemen Superhero, lagi pakai 'kostum dinas' masing-masing. 

Boku no Hero Academia Clear File Folder: Red


Ukurannya sama persis dengan versi kuning di atas, namun clear file folder ini beda desain gambar dan warna dasar saja. Alih-alih tampil dalam kostum superhero mereka, Midoriya Izuku dan kawan-kawannya cukup nongol dengan seragam SMA Yuuei. Gemes banget kaaaaaaaan. Duh Gusti nu Agung, saya sayang banget dedek-dedek ini... Midoriya kapankah kamu nambah tinggi???

Ngomong-ngomong, clear file folder di atas merupakan original merchandise Boku no Hero Academia yang bekerja sama dengan Tower Records. Jadi nggak akan ditemukan di JUMP Shop. Hehe.

Gundam Coasters



Bagi yang belum tahu coasters tuh benda macem apa: alas gelas (botol juga boleh). Biar nggak gampang kepleset di meja atau permukaan apa pun tempat kita meletakkan gelas dan botol tersebut. Coaster akan dihadiahkan kepada 2 orang. Masing-masing dapat 3 buah coaster yang dipilihkan acak. Biar makin berasa untung-untungannya gitu. Lucu-lucu kaaan? Lumayan banget menghiasi meja kerja. Yah meski bakal ditindes botol Tupperware atau gelas pribadi sih. Sekali lagi, umpama hanya akan disimpen karena sayang makainya juga oke kok..

Asian Kung-fu Generation - Rewrite (Single)


Kaver depan (foto atas) dan belakang (foto bawah)

Single ini berisi dua track, yakni Rewrite dan Yuugure no Aka. Memang bukan rilisan terbaru dari Ajikan―nickname untuk Asian Kung-fu Generation dari masyarakat Jepang yang enggan nyebut nama kepanjangan dan susah ngomong Inggris―bahkan umurnya sudah sepuluh tahun lebih, namun single Rewrite yang dirilis perdana pada Agustus 2004 masih punya kesan kuat bagi saya. Lagu tersebut pernah didapuk sebagai soundtrack anime Fullmetal Alchemist (serial perdana tahun 2003; yang BUKAN Brotherhood), dan selaku manusia yang ngaku-ngaku pemuja Fullmetal Alchemist tentu saja saya hobi dengerin lagu-lagu soundtrack-nya. Dari celotehan sejak awal seharusnya sudah jelas kan ya.. saya nggak akan giveaway sesuatu yang sendirinya nggak demen. I'm not throwing things out. I'm giving them as gifts.

Man with a Mission - distance (Single)


Sebagai perwujudan rasa syukur karena proyek #MengejarAnjingAnjing alias Chasing MWAM tidak mengalami hambatan berarti (selain kepanikan ekstrem sebelum berangkat), saya putuskan memasukkan salah satu rilisan para serigala itu pada kesempatan giveaway. Baguslah jika bisa berpindah tangan ke sesama penggemar Man with a Mission yang belum pernah punya karya fisiknya, apalagi datang ke konser mereka. Lebih kece lagi apabila ada orang yang tadinya nggak kenal bisa jadi penggemar baru Man with a Mission karena kepo setelah baca-baca giveaway ini! Hahaha. Boleh dong, ngarep dikit.

Dibandingkan CD single Rewrite Ajikan, konten CD single distance lebih banyak. Total ada empat track: distance, Focus Light, Wabi-Sabi-Wasabi, dan Fly Again (remix). Walau gambarnya burem parah sehingga huruf-huruf tulisannya rada susah dibaca, begini tampak belakang CD yang menyertakan informasi tracklist:



Sekarang, mari bahas bagian terpenting.

Cara ikut giveaway-nya bagaimana?


Gampang, kok. Cukup tinggalkan komentar di bawah, yang menyertakan hal-hal berikut:

  • Barang yang diinginkan. Contoh: "Aku mau Gundam coaster!!"
  • Tulisan favorit dari segala postingan carut-marut yang ada di blog ini beserta alasannya. Nih, misalnya: "Aku paling suka baca review Resident Evil: The Final Chapter karena kerasa banget emosi ngamuk-ngamuknya dan spoiler semua jadi nggak usah nonton di bioskop. Ngirit deh."
  • Sertakan akun Twitter (plis jangan Instagram, saya nggak punya) yang aktif, atau email. Agar saya bisa menghubungi kalian kalau-kalau menang.
Giveaway akan berlangsung sampai pertengahan Januari. Tanggalnya belum ditentukan sih. Namun kemungkinan pekan terakhir Januari hadiahnya akan dikirimkan. Maklum, nunggu gajian dulu. Jadi masih ada cukup kesempatan untuk iseng-iseng ngulik isi blog pribadi tidak bejuntrung ini dan memutuskan tulisan mana yang paling digemari, atau paling tidak yaaa... meninggalkan kesan tertentu, lah. Sekadar saran: berhubung blog saya sempat mati suri, akan lebih bijaksana jika yang dibaca-baca mulai tahun 2015 saja.

Saya tunggu partisipasinya yah.
Salam wibu!

z. d. imama

Monday, 17 December 2018

Japan Cinema Week 2018: Movie Recap Part #2

Monday, December 17, 2018 4

Baru kali ini ada dua tulisan beruntun dengan opening image yang sama persis. Mohon maaf, saya cuma malas bikin dokumentasi sendiri, dikombo dengan rasa tidak percaya diri untuk foto-foto di lokasi. Barangkali terdengar agak kontradiktif mengingat saat Asian Games 2018 dan Asian Para Games 2018 lalu saya cukup banyak mengunggah foto pribadi, tapi ya emang gini orangnya. Musiman. Sakdhet-saknyet, kalau menurut istilah bahasa Jawa. Anyway, setelah pekan lalu saya menghabiskan dua hari penuh maraton setengah lusin film di Japan Cinema Week 2018 yang diselenggarakan di CGV Grand Indonesia, 7-16 Desember 2018, di tulisan paruh akhir ini jauh lebih toned down dan selow karena saya hanya membeli tiket penayangan dua film karena kebetulan banyak kegiatan kepentok keterbatasan dana.

Yuk mari dibahas.

Yoake Tsugeru Lu no Uta

(Lu Over the Wall)


Seorang siswa SMP penyendiri, Ashimoto Kai, yang hidup di desa terpencil bernama Hinashi bersama kakek dan ayahnya, menghabiskan waktu luang sehari-hari dengan bermain musik dan mengunggah rekaman permainannya ke internet. Suatu hari, akunnya ketahuan teman satu sekolah, Yuho dan Kunio. Mereka mengajak (setengah memaksa) Kai bergabung dalam band iseng-iseng yang dinamai Seiren. Ketiganya pun mulai berlatih diam-diam di Pulau Duyung yang dihindari warga desa lainnya. Ternyata, suara permainan musik mereka menarik perhatian seorang―atau seekor?―putri duyung kecil bernama Lu. Masalah muncul ketika sosok Lu terekspos di hadapan khalayak umum, sementara sejumlah penduduk punya kepercayaan bahwa duyung hanya akan mendatangkan bahaya bagi manusia.

Disutradarai oleh Yuuasa Masaki yang cukup populer di kalangan wibu pengguna Netflix lantaran Devilman Crybaby (meski sejatinya serial anime tersebut rilis belakangan dibandingkan film ini), dan screenplay yang ditulis Yoshida Reiko, Yoake Tsugeru Lu no Uta menghadirkan konsep animasi unik yang bikin bingung memutuskan: ini tuh jadul atau modern? Klasik atau groundbreaking? Tiap desain karakternya terlihat sangat hemat tarikan garis―nggak ada tuh helai-helai rambut njlimet atau kibaran baju digambar mendetil, namun rupanya sama sekali tidak mengurangi pesona filmnya. Yoake Tsugeru Lu no Uta adalah suatu karya yang sebaiknya disaksikan dengan mengosongkan bermacam standar animasi yang pernah kita ketahui dan cukup menikmati frame demi frame yang disuguhkan di hadapan mata. It was colorful, fascinatingly teetering between weird and charming at the same time for the whole 112 minutes.

Meski Yoake Tsugeru Lu no Uta menjuarai Annecy International Animated Film Awards di Prancis tahun 2017, faktor utama yang bikin saya kepengin menyaksikan film ini justru nama penulis skenarionya. Yoshida Reiko. She was the one who wrote the screenplay of my ultimate baper-inducing Koe no Katachi back in 2016. And apparently, one important fact that I only learned a couple weeks ago thanks to Wikipedia, she was also one of the scriptwriters for 1999's Digimon Adventure TV series. I shit you not.

DIGIMON. FREAKING. ADVENTURE.

Dengan kata lain: budhe Yoshida adalah salah satu terdakwa yang telah berjasa menjerumuskan saya ke dalam palung perwibuan dan tidak bisa keluar-keluar lagi. Mana mungkin saya nggak berbakti pada beliau lewat nonton kan?


Kamera wo Tomeruna!

(One Cut of the Dead)


Yassssssss. Akhirnya bisa juga nonton film yang heboh dibahas di media sosial, khususnya Twitter. Begitu keluar dari studio teater CGV Grand Indonesia 90 menit setelah penayangan dimulai, saya bener-bener ngerti rasa frustrasi teman-teman penonton yang kebelet ngebahas film ini tapi nggak bisa lantaran nyaris mustahil membicarakannya tanpa ngasih spoiler. I feel you, guys. Kacau lah film ini. Bedebah luar biasa. Gimana ya... pengin ngakak sekaligus mengumpat di setiap adegannya. Berhubung memang sengaja tidak mencari informasi apa pun tentang Kamera wo Tomeruna, semula saya pikir film ini modelnya kayak found footage gitu lho, macem REC (yang sama-sama tentang zombie apocalypse) atau The Blair Witch Project.

Boy, I've never been more wrong.

Peringatan tunggal yang mampu saya sampaikan mengenai Kamera wo Tomeruna sama persis seperti nasihat yang pernah dikatakan sesama penonton lain: apapun yang kalian rasakan atau pikirkan sepanjang 30 menit awal, TAHAN. Jangan ke mana-mana. HOLD YOUR POSITION. Walk out adalah keputusan paling tidak bijaksana yang mampu kalian lakukan dalam karir seumur hidup sebagai pemirsa film bioskop. Kesabaran akan berbuah manis. Percaya deh. Jika nggak yakin dengan opini pribadi saya, yakinlah pada opini segenap khalayak di luar sana yang sama-sama super terhibur.

It was a fun two weeks. Japan Cinema Week 2018 menghadirkan lebih banyak film dibanding 2017 lalu, padahal slot waktu yang tersedia sama-sama dua minggu. Nggak heran kalau masing-masing kebagian jatah jam tayang dua kali doang, yekan. Meski jumlah film yang menarik dominan jauh, sayang sekali tetap ada beberapa judul yang kayaknya bisa-bisa aja tuh digantikan oleh karya lain yang lebih oke. Misalnya Perfect World (sebagaimana tulisan sebelumnya). Kan mending ditukar apa kek... Laplace no Majo, Uso wo Aisuru Onna, Hitsuji to Hagane no Mori, atau malah blockbuster 2018: Code Blue The Movie. Huft. My wishful thinking.


z. d. imama

Monday, 10 December 2018

Japan Cinema Week 2018: Movie Recap Part #1

Monday, December 10, 2018 4

Desember. Memasuki penghujung 2018, akhirnya datang juga festival penayangan film-film Jepang yang selama ini rutin digelar tahun ke tahun di CGV Grand Indonesia, bahkan sejak namanya masih Blitz Megaplex. Acara yang kali ini bertajuk Japan Cinema Week (atau nama lokalnya: Pekan Sinema Jepang) resmi dibuka hari Jumat, 7 Desember 2018 dan akan berlangsung hingga Minggu, 16 Desember 2018. Rasanya seolah-olah acara ini diadakan untuk merayakan ulang tahun saya. Dasar kegedhen rumangsa. Kepedean kronis, memang. Anyway.. ada lebih dari 30 film produksi Jepang yang diboyong ke Indonesia untuk JCW, dengan tiket dijual cukup Rp25,000 saja per lembarnya. Sebagai manusia kurang hiburan, ingin bersenang-senang, namun keterbatasan uang, tentu saja saya tidak sudi melewatkan kesempatan emas ini. Tahun lalu, saya hanya sempat menyaksikan Yu wo Wakasu Hodo no Atsui Ai dan Shinobi no Kuni. Mumpung sekarang momennya pas dengan bulan kelahiran, saya sudah membulatkan tekad untuk menghabiskan sebanyak mungkin waktu di acara ini. Self-reward for staying alive. Splash that cash, bitch.

Akhir pekan kemarin saya benar-benar seharian menghabiskan waktu di CGV Grand Indonesia. Sitting through movie to movie. Demi meramaikan acara dan kewajiban moral selaku self-proclaimed #BudakYapan, lewat postingan ini saya mau berbagi ulasan serta kesan terhadap film-film yang telah ditonton pekan lalu. Ada beberapa film yang saya rasa wajib ditonton karena berbagai alasan, dan berhubung satu judul hanya mendapat jatah dua kali pemutaran, sayang aja gitu kalau nggak termanfaatkan.

Oke. Saatnya mulai nyerocos.
GAS POL!

Mary to Majo no Hana

(Mary and the Witch's Flower)

Karya debut Studio Ponoc, sebuah studio animasi kemarin sore yang baru mulai beroperasi tahun 2015. Melihat poster, typeface judul, desain karakter, dan berbagai hal sebelum masuk ruangan teater, saya tidak bisa berhenti berpikir: "Yakin nih, yang bikin 'Studio Ponoc'? Bukan Studio Ghibli? Apa jangan-jangan Ghibli re-branding?" dan rasanya tidak aneh jika saya menduga demikian. Belakangan saya tahu bahwa Nishimura Yoshiaki, pendiri Studio Ponoc, dulunya merupakan produser film di Studio Ghibli dan pernah menangani sejumlah karya besar seperti Howl no Ugoku Shiro, Kaguyahime no Monogatari, dan Omoide no Marnie. Bahkan sutradara, animator, serta staf yang mengerjakan film ini pun kebanyakan merupakan mantan staf Studio Ghibli. That very much explains why Mary to Majo no Hana really screams "Ghibli! Ghibli! Ghibli!" all over, from its mere appearance to the storytelling style.

Film berdurasi 103 menit ini mengisahkan petualangan Mary Smith (disuarakan oleh Sugisaki Hana sang Cahaya Asia), gadis kecil yang dititipkan di rumah kerabat jauhnya Bibi Charlotte yang terletak di pedesaan. Bosan setengah mati karena tidak punya teman bermain, suatu hari Mary mengejar kucing milik keluarga tetangga bibinya, Peter, masuk ke dalam hutan. Di sanalah dia mendapati bunga ajaib berkekuatan sihir. Masalah bermunculan karena ternyata bunga tersebut diburu selama bertahun-tahun oleh para penyihir, dan Mary pun harus membereskan semua hal yang berantakan akibat konsekuensi ulahnya.

This movie is fun. Sugisaki Hana does a good voice acting job: she manages to sound really annoying when she's supposed to be. Kamiki Ryunosuke as Peter is lovely, too. And I'll say it again: everything feels and looks like Studio Ghibli 2.0, only with less intriguing scenes. Jadi bagi yang demen nonton film-film dari Studio Ghibli pasti bakal bisa menikmati Mary to Majo no Hana. Satu-satunya perbedaan yang paling terasa adalah nyaris tidak ada adegan-adegan eerily fascinating a la Ghibli di tangan Miyazaki Hayao, seperti Kaonashi ngamuk ngabisin makanan sambil bagi-bagi emas di Sen to Chihiro no Kamikakushi, atau momen di Tonari no Totoro sewaktu Totoro menguap sehingga giginya yang segede roda mobil kelihatan berjajar.

*Next viewing: December 16, 2018 (Sunday). 13:30. 
Ghibli fans, go watch it.


Hachinen-goshi no Hanayome

(The 8 Year Engagement)


Drama romansa template di mana salah satu dari pasangan tokoh utama sakit dan keduanya harus melalui masa-masa sulit. Pengin nikah pun mau tidak mau jadi tertunda delapan tahun. Bicara tema cerita sih, sudah pasaran ya. Namun ada beberapa hal yang menyelamatkan Hachinen-goshi no Hanayome, membuatnya cukup menarik untuk ditonton walau masih tetap tidak menjadikannya terlalu istimewa di antara lautan cerita serupa. Chemistry antara Tsuchiya Tao sebagai Mai dan Sato Takeru selaku Hisashi tidak main-main, saudara sekalian. Nontonnya enak banget. Gemes. Manis tanpa bikin mabok gula. Udahlah kalian jadian beneran ajalah, saya merestui. Hachinen-goshi no Hanayome sangat layak jadi escape route orang-orang yang sejatinya menyukai cerita romansa bittersweet tapi paling nggak tahan ketika ada temen curhat berapi-api membagi kehidupan cintanya, "Eh eh dengerin dong masa cowok gue―!!"

I'm staring at my own reflection here.
#SadarDiri

Selain itu, siapa pun yang nyuruh Sato Takeru untuk potong cepak demi peran ini: you seriously deserved a raise. To date, I never really think of Sato Takeru as one of the 'pretty boys' like Miura Haruma or Okada Masaki. Gimana ya.. dia tuh 'keren' alih-alih 'ganteng' atau 'cowok cakep'. Sehingga tiap kali didandanin a la masyarakat pada umumnya efek yang ditimbulkan makin menggelegar karena rasanya nggak asing ada mas-mas berpenampilan macam itu di sekeliling. Duh. Memicu halu.

*Next viewing: December 15, 2018 (Saturday). 15:15.
Watch only if you're into this genre. Otherwise, you may pass this and there will be no regret. Bukan film yang harus dibela-belain nonton ketika kalian sama sekali tidak tertarik dengan kisah cinta berhias derita, kok. 


SUNNY: Tsuyoi Kimochi Tsuyoi Ai

(SUNNY: Our Hearts Beat Together)


Hidup Abe Nami (diperankan salah satu tante favorit saya, Shinohara Ryoko) sebagai ibu rumah tangga mulai terasa muram. Suaminya cuma peduli pada pekerjaan dan anak perempuan tunggalnya sedang masuk masa membangkang. Saat menjenguk ibunya di rumah sakit, tanpa sengaja Nami bertemu Ito Serika (Itaya Yuka) salah seorang sahabatnya di SMA yang juga dirawat inap karena menderita kanker kronis dan divonis dokter hanya punya sisa waktu hidup sebulan lagi. Kepada Nami, Serika minta tolong untuk mengumpulkan kembali anggota geng SMA mereka yang tercerai-berai selama 26 tahun lamanya.

Remake dari film Korea bertajuk sama yang dirilis 2011 lalu, SUNNY: Tsuyoi Kimochi Tsuyoi Ai berkhianat dari materi asli pada satu titik tema: zaman. Jika versi Korea berlatarkan present day versus Korea in 80s, adaptasi Jepang menyeret kita ke tahun 90-an di mana hampir semua cewek-cewek SMA jadi gal berseragam loose socks, rok pendek hasil digulung, sweater Ralph Lauren, dan pergi sekolah dengan wajah full makeup ngejreng warna-warni. Sepulang sekolah nongkrong di family restaurant atau kelayapan keliling Shibuya, Ikebukuro, Shinjuku, dan baru pulang malam hari. The time when Amuro Namie and TRF was the peak definition of cool, when Hamasaki Ayumi hadn't even debuted.

SO FUN SO GOOD

Meski nyaris segala detil plot setia mengikuti kisah asli versi Korea,  namun keputusan menggeser era remaja karakter-karakternya ke tahun 1990-an dan bukan 1980-an adalah hal terbaik. 1990s Japan was explosive. Rasa-rasanya SUNNY nggak bakal se-charming ini jika yang diangkat bukan tahun-tahun kejayaan cewek-cewek gal yang rusuh, komunal, dan berisik ampun-ampunan. Hirose Suzu yang ketiban sampur memerankan Abe Nami ABG juga tidak mengecewakan, namun bintang sesungguhnya dalam setiap adegan kilas balik masa muda justru Yamamoto Maika, portraying young leader of the gang Ito Serika. I've been watching her and for the last two years I can tell that she improved a lot.

*Next viewing: December 14, 2018 (Friday). 20:45. 
I'd say, catch this movie. Jam penayangan SUNNY selalu paling larut karena memang cukup banyak dialog eksplisit dan unsur kekerasan berupa bullying. Viewer discretion advised. Not for kids. Plis lah jangan jadi penonton nggak bertanggung jawab yang ngajakin anak-anak kecil menyaksikan film yang nggak sesuai usia mereka tapi lantas ngomel-ngomel sendiri ketika ada dialog-dialog relatif dewasa. 


Inori no Maku ga Oriru Toki

(The Crime That Binds)


Salah satu film terbaik yang masuk ke lineup Japan Cinema Week 2018. Diadaptasi dari novel seri tentang detektif polisi Kaga Kyoichiro karya novelis populer Higashino Keigo, Inori no Maku ga Oriru Toki sukses membuat saya (dan banyak orang di studio) sesenggukan di bangku masing-masing. Padahal saya sudah nonton lantaran DVD film ini belum lama rilis. Tapi ternyata ketika disajikan lewat layar lebar, efeknya tetap nampol. Ada sejumlah adegan yang bikin saya kesulitan bernapas saking nyeseknya. This story doesn't sugarcoat things; it tells everything as it is and that's what makes it so gripping. Dibandingkan film-film tentang Kaga Kyoichiro sebelumnya―Nemuri no Mori, Kirin no Tsubasa―, Inori no Maku ga Oriru Toki terbilang paling tepat dosis. Right amount of drama. Right amount of funny scenes for you to breathe. Right amount of suspense. Right amount of twists. Right timing of revelation. And every time you feel choked in your seat, it always comes naturally. Bisa dibilang, tema utama Inori no Maku ga Oriru Toki adalah cinta. Eksplorasi seberapa jauh kekuatan perasaan bisa menggerakkan manusia berbuat sesuatu. Sulit sekali ngomongin film ini tanpa ngasih spoiler. Jadinya yaaa kurang lebih segini saja potongan cerita yang bisa saya paparkan: 

Detektif polisi Kaga Kyoichiro (lagi-lagi dibawakan dengan apik nan karismatik oleh Abe Hiroshi) dan keponakannya, Matsumiya Shuhei (Mizobata Junpei), dihadapkan pada pembunuhan misterius yang mana pria tersangkanya sama sekali tidak ditemukan jejak. Penyelidikan nyaris buntu, tetapi rupanya kunci pemecah kasus tersebut ada pada sebuah benda yang diperoleh Kaga enam belas tahun silam.

*Next viewing: December 16, 2018 (Sunday). 15:45. 
WHAT ARE YOU WAITING FOR??? I swear to God, purchase your ticket and drag your ass to CGV Grand Indonesia. Nggak akan ada ruginya.


Teiichi no Kuni

(Teiichi: Battle of Supreme High)


Teiichi no Kuni bukan film baru kinyis-kinyis. School comedy masterpiece ini dirilis tahun 2017, dan terus terang saya sudah khatam menyaksikan via DVD-nya sejak sepertiga awal 2018. Saya betul-betul menikmati menit demi menit kegilaan yang mengalir lewat layar laptop pribadi. Bahkan saking sukanya, saya pernah mengunggah ulasan rekomendasi singkat lewat akun Twitter, tepatnya bulan Maret lalu di sebelah sini. Apakah masih dirasa penting untuk nonton di bioskop? YA. Apakah layar laptop atau televisi tidak cukup? NGGAK SAMA SEKALI. Holy hell, no. Teiichi no Kuni's exaggeration on everything is beyond hilarious and the power of big screen drastically multiplies the fun and craziness level. Seisi teater ngakak dan cekikikan tanpa terkontrol sepanjang durasi; you are guaranteed a lively movie experience.

Akaba Teiichi (Suda Masaki) berambisi menjadi Perdana Menteri Jepang, dan untuk mencapai cita-cita itu, dia harus memulai langkah awal sebagai ketua OSIS SMA Kaitei, sekolah prestisius yang dikenal telah mencetak satu demi satu politikus elit dan perdana menteri. Perjalanan Teiichi mewujudkan ambisi makin seru dengan kehadiran childhood rival licik Tougou Kikuma (Nomura Shuhei), anak beasiswa serba bisa dan sayang keluarga Ootaka Dan (Takeuchi Ryoma, yang tiap kali punggungnya disorot langsung bikin pening), senior demokratis Morizono Okuto (Chiba Yudai, Lord of Youthful Face), dan sahabat Teiichi yang rada feminin tapi ternyata teknisi handal selevel Profesor Agasa, Sakakibara Koumei (Shison Jun).

*Next viewing: December 13, 2018 (Thursday). 18:00. 
Salah satu penampilan tergoblok Suda Masaki―I say this in a very, very good way―dan terus terang saya tidak bisa membayangkan orang lain memerankan Akaba Teiichi. This role fits him like a glove. Grab your ticket and have tons of fun in there.


Perfect World: Kimi to Iru Kiseki


I'll be frank. Not even Sugisaki Hana could save this movie from its mediocrity. Mengisahkan perjalanan romansa Kawana Tsugumi (Sugisaki Hana) dan cinta pertamanya, senior populer semasa SMA, Ayukawa Itsuki (Iwata Takanori) yang kini harus menjalani hidup di atas kursi roda akibat kecelakaan fatal di tahun ketiga kuliah, Perfect World bisa-bisanya sama sekali tidak meninggalkan kesan apa-apa pada diri saya. Hachinen-goshi no Hanayome, meski nggak spesial, masih terasa lebih superior dibandingkan Perfect World. I have my fair share of mediocre romance movies and this one falls right in the sea. 102 menit belum pernah berasa selama ini. Lambaaaaaaaaat bukan main. Gimana ya, padahal kalau dipikir-pikir aktingnya Iwata Takanori, Suga Kenta, Oomasa Aya, dan jajaran pemeran pendukung lain pun nggak seburuk itu. Is this bad directing? Bad screenplay writing? Perhaps both? I can't say for sure. Not really my expertise.

*Next viewing: December 16, 2018 (Thursday). 13:30. 
Kecuali ingin numpang tidur di bioskop, atau punya duit maupun waktu luang kebanyakan, mendingan beli tiket film lain deh. Mary to Majo no Hana yang sudah dibahas di atas, misalnya. Jam pemutarannya kan barengan tuh. Maafkan saya, Sugisaki Hana. In my defense, Perfect World doesn't deserve you at all. Untung theme song "Perfect World" dari E-girls bagus. Ending credit-nya lebih menarik disimak daripada keseluruhan film. Lmaooo.


Siapa di antara kalian yang hendak―atau malah sudah―bergerilya di Japan Cinema Week juga? Ada rekomendasi film lain? Silakan berbagi di kolom komentar yah jika berkenan. Tulisan ini bersambung ke Part #2, yang bakal diunggah minggu depan!

z. d. imama