Wednesday, 14 October 2020

I (still) remember. I just do.

Wednesday, October 14, 2020 0

I always remember things. Don't ask me why. I just do. It seems as if Forgetting is a dormant, inactivated feature in me, and if there comes the rare moment where I actually forget about something, then it means nothing more than the system is having a glitch. Time passes by, the seasons change, people come and go, my life goes on, and yet here, I remember.

Every single detail is engraved in my mind like artefact. Reminds me of a huge collage sticking stubbornly on the mirror surface, refusing to peel off. I could close both my eyes and still clearly see each memory behind my lids as if it's a relay of never-ending, overplayed movies. A hodgepodge of cuts with various people starring in it. 

That includes you.

I see a stray cat and remember that afternoon when two kittens climbed into your window as we were spending time watching a pirated version of Aamir Khan's newest movie. I take a cab home and remember the stupid stories about school days I told you drunkenly on those seemingly-everlasting weekend nights. I tie up my hair in a ponytail and feel the way your fingers playing and twisting my locks. I stand under the shower head and my memory pulls forward that moment when I found out you left marks all over me. I switch on my phone and there it is, the memories of you calling, saying we got to stop whatever we were doing for no reason. The wind blows through my unclosed window and I remember you whispering to my ears how much you love me until you don't anymore. Because I'm still the very same old me no matter what happens but you always love something new. Or someone new.

And it's not just you whose traces never leave my mind. 

I still can recall all my regrets. The cruel things I said to people I should have hold dear. The distant ring of a jolly laughter that can be found no longer. The soft brushes of warm skin that has turned ice-cold. The irrevocable mistakes, leaving me with a mountain of ashes from burned bridges I cannot rebuild. The late night calls I picked up despite knowing that it was a game of two lonely persons licking each other's wounds. The sharp rejections that stung too deep I feel their remnants tingling inside even now like a poison to my self-esteem. 

And the broken dreams. 
The unfulfilled promises. 
The many "Someday" that eventually becomes "Never". 

I remember it all.

Probably all too well, just like what Taylor Swift said. 

If this is a gift, then this is a gift that sometimes feels like a curse.

z. d. imama

Wednesday, 7 October 2020

#smellofsoapandshampoo: Reviewing SCARLETT body care series

Wednesday, October 07, 2020 0

 


Saya termasuk orang yang memuja me-time. Pokoknya dalam sehari, harus ada waktu yang didedikasikan khusus kepada diri sendiri untuk menikmati hal-hal yang disuka. Ragamnya macam-macam: bisa nonton video idola, baca buku, bahkan mandi. Iya, mandi. Momen mandi, terus terang, adalah suatu hal yang cukup sakral bagi saya karena kegiatan itu saya asosiasikan dengan membilas bersih rasa lelah seusai beraktivitas seharian. Atau, berhubung semasa pandemi ini kantor saya menjalankan sistem bekerja dari rumah, saat mandi merupakan kesempatan mencuci bersih mood suntuk dan pegal yang timbul akibat berjam-jam berkutat di hadapan laptop kantor. Ada sesuatu yang menyenangkan hati ketika menuang sampo dan sabun ke telapak tangan lalu aromanya menguar ke segala penjuru kamar mandi. Auto happy.

Makanya saya demen banget berburu sabun mandi.
Iya, ini pengakuan dosa.

Saya senang sekali mencari-cari sabun mandi, baik batang maupun cair, yang aromanya menarik minat mencoba. Kadang merembet ke body scrub juga, berhubung kadang badan terasa lebih kotor dari biasanya lantaran ada daki yang mengerak jadi lapisan kulit baru. Pokoknya tiap mampir supermarket, lorong body care selalu menjadi tempat mangkal saya. Bisa betah deh saya bermenit-menit di sana. Mengendus-ngendus aroma sabun mandi, membandingkan satu sama lain. Mungkin perilaku ini tidak layak diteladani, tapi setiap manusia berhak berkelakuan aneh dengan cara masing-masing kan ya? Eh, iya kan?

Anyway,

Kurang lebih beberapa minggu lalu, saya mulai mencoba serangkaian body care dari SCARLETT.


Paket rangkaian perawatan tubuh ini datang ke dekapan saya dalam kotak merah mentereng yang bisa dengan mudah di-repurpose jadi boks penyimpanan barang. Seriusan. Agak sayang kalau dibuang begitu saja. Cakep, kok. Sturdy, pula. Lumayan kokoh dan nggak mudah ambrol. 

Boks ini memuat total enam produk perawatan tubuh, mulai dari shower scrub hingga body lotion. Harganya pun relatif masih oke di kantong, dengan per produk dibanderol Rp75,000. Jika mau dapat boks eksklusif seperti yang nongol di foto atas, bisa ambil paket hemat berisi lima jenis produk seharga Rp300,000. Lebih murah. Nanti masih ditambah dapat free gift. Asyik, kan?

"Be your own kind of beautiful," it says. "Make time for yourself," it says. YES and YES.

Keseluruhan rangkaian body care SCARLETT yang saya coba yaitu tiga varian Brightening Shower Scrub (Pomegranate, Mango, Cucumber), Body Scrub (Romansa), dan dua macam Fragrance Brightening Body Lotion (Charming, Romansa). Bahan kandungan yang dikedepankan oleh produk-produk SCARLETT adalah vitamin E dan glutathione, yang menurut artikel-artikel di internet terkait skincare yang saya baca, berkhasiat menutrisi kulit, melembapkan, serta mencerahkan.

Satu nilai plus untuk SCARLETT yang saya ketahui sewaktu membongkar paket: not tested on animals. Ini klaim bagus sekaligus berani, sih, karena saya masih cukup jarang menyaksikan ada merek lokal yang peduli tentang animal cruelty sampai meletakkannya di kemasan produk. Meski tergolong pendatang baru, SCARLETT juga sudah terdaftar BPOM. Nggak perlu khawatir ada komposisi yang berbahaya, lah. Aman.

Tuh, kelihatan kan? "NOT TESTED ON ANIMALS" mengitari logo kelinci lucu.

Alright.
Now we go straight to the review.

Part I: Brightening Shower Scrub (Pomegranate, Mango, Cucumber)

Behold the Three Musketeers of Shower Scrubs!!!

Masih ingat saya di paragraf atas ngaku-ngaku sebagai orang yang menganggap momen mandi sebagai me-time? I'm staying in character, y'all. Shower scrubs adalah produk SCARLETT pertama yang saya sambar, bawa ke kamar mandi, dan coba pakai di hari itu tanpa pikir panjang. Hingga hari ini, saya masih menggunakan ketiganya secara bergantian tergantung mood. My favorite? Mango. Suuuuumpah wanginya muaniiiiissss banget berasa bermandikan jus buah. Paling saya awet-awet juga saking sayangnya. Keharuman varian Pomegranate lebih lembut dan agak samar, sedangkan aroma Cucumber relatif segar, seakan-akan ada kesan cooling ketika baunya tercium hidung. Masing-masing punya ciri khas tersendiri. Each brings forth different mood.

Tekstur produk ini sedikit lebih encer dan runny ketimbang shower gel, namun lebih kental apabila dibandingkan body wash. Butiran scrub-nya terbilang haluuuuus maksimal. Kulit hampir nggak terasa kalau lagi 'digosok'. Lumer aja gitu dengan gampangnya. And you know what's best? SCARLETT Shower Scrubs pada saat dibilas nggak bikin kulit jadi kering kesat! Woooohooooo!!!! Asli. Segembira itu. Saya capek di-PHP sabun, shower gel, shower scrubs dan teman-temannya yang setelah dibilas justru membuat kulit cekit-cekit saking kesatnya. Saya ini manusia, bukan piring berlumur minyak dan lemak!

Part II: Body Scrub (Romansa)

See the pretty white jar there?

All right. We're getting a bit more scrubby. Selain varian Romansa, SCARLETT juga menyediakan body scrub dalam varian Pomegranate (yang sebagaimana dapat kita lihat di gambar, tidak ikut saya coba karena tidak punya). Sewaktu pertama kali mengangkat jar body scrub SCARLETT ini, terus terang agak kaget. BERAT, SIS. Saya tidak mengalami kekecewaan sedikit pun ketika membuka tutup kemasan dan melepas segel pelan-pelan. The jar is full to the brim. Isinya buanyaaaaaaaaak! Yakin deh, SCARLETT Body Scrub bisa bertahan beberapa bulan lamanya bahkan dengan pemakaian rutin satu atau dua kali seminggu. Padet banget. 

Saya nggak usah berpanjang lebar membahas manfaat body scrub lah, ya. Kita semua sama-sama paham bahwa scrubbing membantu proses eksfoliasi alias pengelupasan sel kulit mati. Membuang dekil. Nah, setelah dicoba, ternyata saya suka sekali bagaimana body scrub dari SCARLETT ini menunaikan tugasnya. Buliran scrub kali ini lebih potent dan terasa ketimbang Shower Scrubs, tetapi masih tetap halus sehingga nggak menimbulkan sakit pas digosok. Nggak perlu khawatir kulit jadi perih apalagi lecet karena tergores scrub kasar. Berhubung body scrub ini juga wangi luar biasa, akhirnya setiap habis mengamplas diri sambil mandi, saya nggak repot-repot pakai sabun atau shower scrub lagi. Supaya aromanya nggak tabrakan.

Part III: Fragrance Brightening Body Lotion (Romansa, Charming)

The popular pair.

Denger-denger, produk SCARLETT yang paling populer alias best-selling adalah body lotion. Tersedia tiga varian, yakni Charming, Romansa, dan Fantasia. Sama halnya shower scrubs, body lotion dikemas simpel dalam wadah identik dengan warna berbeda untuk membedakan antarvarian. And thank god for the pump bottle! Siapa pun anggota tim SCARLETT yang mengusulkan desain botol pompa, you're da MVP. Setidaknya saya tidak perlu repot-repot menjungkirbalikkan botol dengan tangan masih setengah berlumur body lotion. Bagian atas pompa dilengkapi stopper atau safety lock, maka botol bisa mudah dibawa-bawa bepergian tanpa harus memindahkan isi lotion ke wadah lain. Praktis.

Tekstur body lotion dari SCARLETT relatif kental jika dibandingkan merek lain. Saking 'padet'-nya, butuh sedikit waktu untuk memompa produk sampai berhasil keluar pertama kali dari botol. Awalnya sempat cemas bakal sulit diserap kulit, eh ternyata saya salah sangka! Lotion-nya tidak butuh waktu yang lama untuk meresap dan setelahnya tidak lengket. Setelah ngulik info kanan-kiri, saya jadi tahu bahwa ternyata lotion yang bisa memberi efek instant brightening—seperti SCARLETT body lotion—memang teksturnya cenderung lebih kental. #TheMoreYouKnow

Aroma kedua varian body lotion ini juga menyenangkan, bikin rileks, dan yang lumayan mengejutkan: cukup tahan lama. Awet nempel harumnya. Untuk Romansa sih nggak beda-beda amat dengan versi body scrub, bernuansa wangi floral. Saya suka mengombinasikan body lotion Romansa setelah mandi dengan body scrub Romansa (biar makin mantap) atau shower scrubs Pomegranate. Varian yang satu lagi, Charming, it has a tad stronger oriental floral scent, sekaligus diklaim sejumlah orang memiliki harum yang mengingatkan pada parfum Maison Francis Kurkdjian Baccarat Rouge 540. However, to be honest, I cannot vouch for that because I have no idea how that perfume smells like at the first place. Selama ini saya tidak pernah mengendus aroma parfum tersebut, sehingga apabila kalian penasaran, bertanya-tanya setengah tidak percaya, "Bener nggak sih baunya kayak parfum mahal?"

...silakan coba beli dan buktikan sendiri!
*reminiscing that day when I received my care package.*


Kalau tertarik untuk ikut mencoba, produk-produk SCARLETT bisa dengan mudah diperoleh melalui berbagai platform, antara lain:  LINE (@scarlett_whitening), Instagram (scarlett_whitening), Shopee (scarlett_whitening), Sociolla, atau bisa juga via chat WhatsApp ke 087700773000. Niat bener ya saya ini, semua-semuanya dilampirkan...

Ayo mandi pakai sabun wangi supaya tidak mudah stres!

z. d. imama

Saturday, 22 August 2020

MIU404: a cop-themed drama as warm as a hug.

Saturday, August 22, 2020 3

 


To call myself an expert of Japanese drama series and movies will be ridiculous and rather pompous, but I think I watched enough quantity to know what am I talking about. Apa sih yang rata-rata terlintas di benak ketika mendengar istilah 'serial drama polisi'? Cerita yang cenderung serius, plot yang berat, gelap, dan kompleks. Kejar-kejaran dengan pelaku kejahatan. Adegan kekerasan seperti berantem di sana-sini dan bahkan adu tembak. Teknologi antikriminal. Rapat strategi di markas polisi yang penuh kosakata sulit. Detektif polisi yang mendedikasikan hidup secara total di pekerjaannya. Tim penyelidik dengan kepribadian bertolak belakang yang kerap berterngkar, namun selalu saling bahu-membahu menyelesaikan tugas. Pengambilan gambar yang cenderung no-nonsense. Imej polisi kerap ditampilkan sebagai sosok penegak keadilan, atau protagonis justru digambarkan sebagai polisi ideal di tengah-tengah institusi korup.

You're not wrong.
Those kinds of series are also not wrong. They are fine.

But Mobile Investigative Unit: MIU404 takes it somewhere better. They offer something most drama series with similar theme never bother to touch: warmth and vulnerability. It is full of hearts and made with sincerity. Berbagai aspek dalam MIU404, mulai dari teknik pengambilan gambar, penulisan skrip tiap episode, penyutradaraan, sampai akting pemeran-pemerannya terasa jelas menghadirkan dua hal tersebut, dan menyebabkan drama ini benar-benar menarik untuk disimak. This is pretty much the very first cop-themed drama series that can give me a fuzzy feeling; as though I'm protected by a layer of comfy blanket.


Mobil Investigative Unit: MIU404 mengambil latar kota Tokyo di mana kepolisian melakukan perombakan struktur organisasi dan lahirlah divisi baru yang ditugaskan sebagai first responder. Setiap hari selama 24 jam, divisi MIU yang masing-masing timnya terdiri dari 2 orang detektif polisi harus melakukan patroli dan menjadi petugas yang pertama kali tiba di TKP kejahatan. Kasus akan ditangani oleh MIU selama beberapa waktu, dan jika tidak bisa terselesaikan hingga tenggat yang ditentukan, maka akan diserahkan ke divisi investigasi lain sesuai dengan tipe tindakan kriminalnya.

Still with me?
Sekarang mari kita bahas tokoh-tokoh kunci.
Latar belakang organisasi selesai cukup sampai sini. 

Shima Kazumi (diperankan oleh musisi sekaligus aktor, Hoshino Gen) adalah detektif polisi handal yang tidak main-main, sempat masuk jajaran elit Divisi Investigasi 1 hingga suatu kasus yang menyebabkan kematian seorang polisi membuatnya diskors habis-habisan, lalu dimutasi sejauh mata memandang ke Driving Test Center. Keberuntungan, kegigihan, dan kebaikan hati atasannya, Kikyo Yuzuru (yang cantik bangetttt hati berasa adem liatnya), berhasil menciptakan secercah harapan bagi Shima untuk kembali aktif bertugas sebagai detektif polisi di MIU Unit 4. 

"Ayo sini Mas, kerja sama Tante~" (NGGAK GITU KOK DIALOGNYA, SUMPAH)

Kikyo Yuzuru, commanding officer MIU.

Sayang beribu sayang, Jinba Kohei, polisi senior sekaligus partner lama Shima sudah ditugaskan untuk mendampingi Kokonoe Yohito, anak kemarin sore dari jalur fast-track career management yang juga sekaligus putra seorang petinggi polisi. Biasalah. Titipan orang dalam harus diutamakan akomodasinya... ya nggak? Mau tidak mau, Shima harus jungkir-balik mencari rekan serep jika tetap ingin mempertahankan posisi tugasnya di MIU Unit 4.

Ekspresi wajah Shima yang lagi-lagi mempertanyakan ketidakjelasan nasib karirnya di kepolisian:


Masalahnya, satu-satunya calon yang tersedia hanyalah seorang 'polisi daerah' dari Okutama yang cukup terkucilkan oleh rekan-rekan seprofesinya karena dipandang aneh dan... uhhhhhh, rada bego. Sosok terbuang ini ternyata punya reputasi yang lumayan mencengangkan karena semua orang seolah kapok bekerja satu tim dengannya. Ketika Shima berusaha mengorek informasi lebih lanjut tentang keahlian yang dimiliki calon rekan baru ini, jawaban setiap pihak yang ditemuinya selalu sama persis: larinya kenceng.

Gitu doang.

Makin bingung, bos.
Apaan dah, masa polisi yang bisa diandalkan cuma perkara jago lari???

Namun perjumpaan perdana Shima dengan Ibuki Ai (dilakonkan secara apik dan sangat menggemaskan oleh Ayano Goand this man is 38?? I very seriously REFUSE to believe) yang fenomenal dengan kecepatan larinya memang telah membuktikan... kemampuan dan stamina fisik Ibuki amat sangat bisa dipercaya. Sekaligus menyadarkan Shima bahwa kepribadian mereka berdua benar-benar bertolak belakang. Antara langit-bumi. Selalu bersimpangan. Di dunia tempat kita berdiam ini. (Kenapa malah jadi nyanyi lagu opening anime Shaman King versi terjemahan bahasa Indonesia...?)

Shima mengedepankan berpikir jernih dan mengikuti prosedur. Sedangkan Ibuki? Cenderung mengandalkan insting dan angot-angotan. Sahut-sahutan dialog mereka berdua yang terkadang mirip cek-cok pasangan suami-istri sangat menyenangkan disimak karena YA ALLAH ASIK PARAH KAGAK NAHAN... Apalagi akting Ayano Go sebagai Ibuki hampir setiap saat tampak happy-go-lucky dari lubuk hati, ekspresi wajahnya secerah cahaya mentari. Seolah-olah sepanjang hidupnya tidak pernah punya beban dan prasangka. Tiap hari berasa dibawa seneng melulu.

TUH KAN SAYA NGGAK BOHONG. PURE SUNSHINE.

Penonton telah dijanjikan keseruan dua polisi ini sejak awal dengan adegan ekstrem di episode pertama: tabrakan yang menyebabkan mobil patroli jatah Ibuki dan Shima hancur-lebur. Koreksi: mobil patroli mereka secara sengaja ditabrakkan demi menghindari terjadinya lakalantas yang dapat menelan korban jiwa dari masyarakat sipil. Pertanyaannya sekarang, posisi keduanya kan first responder sekaligus unit patroli, tuh. Bakal dapat mobil baru dong, sebagai ganti yang ambyar? Ntar gimana cara patrolinya kalau nggak ada kendaraan?

Oh tak semudah itu, kamerad.
Kamu pikir istilah 'anggaran' hanya mitos?

Kombi Shima-Ibuki memang pada akhirnya berhasil mendapatkan kendaraan baru. Tetapi dalam wujud food truck melon bread. Karena cuma itu kendaraan yang bisa tersedia. Menyaksikan Shima dan Ibuki berpatroli—termasuk mengejar tersangka yang kabur—mengendarai food truck yang kecepatan maksimalnya terbatas adalah unsur komedi tersendiri. Lebih menghibur dari dugaan. Apalagi beberapa kali mereka dihampiri warga sekitar yang mengetuk badan mobil, berniat membeli roti karena menyangka memang truk pedagang keliling.


Pernah juga Ibuki menyalakan jingle melon bread melalui speaker truk demi meladeni anak-anak kecil yang menyeberang di zebra cross. Shima Kazumi facepalming di jok sebelah melihat sang partner dengan penuh semangat dadah-dadah ke sekelompok bocah.


So, why is MIU404 freaking good?

In a nutshell, this series is as warm as a comforting hug, despite being a police drama.

MIU404 is character-driven. Dinamika interaksi antarkarakter, khususnya dua tokoh utama benar-benar menjadi roda penggerak keseluruhan cerita. Shima yang by-the-book, supertertib, dan sangat rasional berperan besar dalam mengerem keberangasan Ibuki. Sementara itu, Ibuki dengan kepribadiannya yang sangat blak-blakan, jujur, serta selalu bergerak berdasarkan hati nurani, perlahan-lahan mengurangi kesan tertutup yang mendominasi sosok Shima. Shot-shot yang menggambarkan mereka berdua dalam satu frame selalu menyenangkan dilihat. Ada kesan domestik yang akrab dan bersahabat; sesuatu yang relatif langka ditemukan di drama bertema kepolisian, sekalipun chemistry antarpemeran sama bagusnya. 




I love how MIU404 humanizes police force. And how it doesn't think highly of itself. Karakter-karakter yang berprofesi di lembaga kepolisian tidak digambarkan sebagai figur arogan yang menganggap apa yang mereka lakukan adalah perpanjangan tangan dari sebuah kebenaran, keadilan absolut. This is a very down-to-earth representation of police (in Japan) and I wish we get more stuffs like this. Melalui MIU404 pula, saya jadi tahu bahwa pada kenyataannya, meskipun masing-masing membawa senjata api, sebagian besar anggota kepolisian Jepang tidak pernah menodongkan pistol mereka bahkan sampai pensiun. Boro-boro nembak, menodongkan saja tidak pernah! Gun is apparently seen as the very, very last resort. Persenjataan yang lebih umum digunakan jika harus kontak fisik dengan tersangka kejahatan yang kabur atau melawan penangkapan adalah baton. Itu loh, tongkat pentungan hitam panjang yang tidak jarang bisa dilihat tersarung di pinggang petugas keamanan.

Kayak gini:


Tentu saja biar afdol, tetap ada representasi bapak-bapak petinggi dengan kecenderungan "Ya mau gimana lagi, ini perintah mereka yang lebih di atas lagi, udah nurut aja" demi mempertahankan jabatan, namun tidak serta-merta berarti dia adalah sosok antagonis. Wajar-wajar aja, lah. Nggak bikin pengin nonjok saking sebelnya.

Should I rave about the cases, too? Should I?

The variety of cases Shima-Ibuki pair meets feel very much real, and close. 
And they touch my heart like nothing ever had


Accidental murder. Lost family member. Juvenile delinquency. Tracking a hiding burglar. Theft committed by a person who found herself unable to get out from the cycle of 'dirty money'. Convenient store robbery. Semua kasus terasa sangat riil, bisa kapan saja terjadi di sekeliling kita, bahkan sepintas cenderung remeh-temeh. MIU404 mampu menunjukkan kepada penonton—tanpa menguliahi—bahwa sesuatu yang tampak sepele di permukaan bukan berarti tidak memiliki kekuatan untuk mengubah drastis hidup seseorang.

Tidak sekali-dua kali saya menangis sesenggukan di hadapan layar laptop, padahal saya berani menjamin (meski tidak kenal satu pun tim produksinya) ceritanya tidak meminta penonton untuk nangis. Ngerti kan, suka ada film atau drama yang kerasa banget kayak nyuruh kita nangis? Penulis skripnya semacam menjerit dari balik layar, "NANGIS SEKARANG! NANGIS! KELUARIN AIR MATA!! AYO!!" dan saya terus terang dongkol banget tiap nemu yang begitu.

But MIU404 isn't like that.




Episode tentang kenakalan remaja masih merupakan salah satu favorit saya. Topiknya menyinggung tentang juvenile law dan apa sebenarnya tujuan dari dibuatnya hukum untuk anak-anak di bawah umur yang melakukan tindakan pelanggaran, atau bahkan kriminal. Muncul pertanyaan-pertanyaan krusial semisal, "Kenapa sejumlah hukuman terhadap anak-anak dan remaja rasanya terlalu lunak? Apakah ini justru tidak mengundang mereka untuk mengulangi perbuatan?" dan menurut saya... apa yang disampaikan oleh MIU404, walau tidak serta-merta menjawab, cukup bisa dijadikan renungan.

Nggak akan saya tulis di sini, deh.
Nanti malah spoiler penting.

Tidak ada kasus-kasus bombastis seperti menguak terorisme beserta ancaman bom, membongkar sindikat perdagangan manusia, pembunuhan beruntun dengan metode mutilasi, atau sejenisnya. I'm so sorry Miman Keisatsu: Midnight Runner, but you are just... trying too hard. I love Nakajima Kento and Hirano Sho, unfortunately the crown for this season's (and probably this year's) best police drama is snatched by MIU404. Bar none. Hands down.

MIU404 is just THAT good.

And did I mention Ayano Go?

Shining bright like a summer sunshine, brimming with glow, as charming as ever Ayano Go?




Gara-gara Ibuki Ai digambarkan sebagai sosok berstamina tinggi dan larinya kenceng, penonton disuguhi banyak adegan kejar-kejaran manual di sini. And oooh boy, seeing Ibuki running is, weirdly enough, satisfying

His ready stance alone is worth five stars.


Barangkali sudah waktunya saya menghentikan tulisan ini sebelum makin panjang tak terkendali. WATCH MIU404, GUYS. Saya hanya ingin menyampaikan itu saja. Platform legal untuk serial drama Jepang mungkin cukup sulit ditemukan, tetapi saya tidak berniat menyebutkan platform ilegal tertentu karena... nggak mau aja. You know the title of the series. So you know the keyword. Google the crap out of it, that's all I can say.

Some more screenshots of Shima Kazumi and Ibuki Ai doing patrols to close this, um, somewhat review of a blog post:




MIU404 overall score:

Storyline «««««
Cast «««««
Intercharacter chemistry «««««
Soundtrack ««««
Heart and sincerity «««««

Masa bodoh lah dibilang biased opinion atau apa pun tapi YA RABB IKI PANCEN APIK SAKPOLEEE RAONO OBATTT FTW!!! 1!!! SETUNGGAL!! SIJI!! Oh, jangan lupa mampir ke laman Spotify Yonezu Kenshi untuk mendengarkan lagu "Kanden" yang jadi theme song MIU404. It's a good track.

z. d. imama

Wednesday, 12 August 2020

All I know is that my love for you is real, Travis "We're 42,8% Kaito" Japan.

Wednesday, August 12, 2020 2

If you're not familiar with Johnny&Associates, then maybe this post is just not for you. But if you insist to read a truckload of intense feelings for people you've probably never heard of, and a bunch of song titles most of which will not be able to find in Spotify or other digital services, seeping through my fingers and spilling on this page, then go ahead

So, this story begins with an awful pandemic.

Berkat sepak terjang COVID-19 yang rasanya udah kayak serbuan alien yang sulit dilihat mata seperti kisah Animorphs, konser-konser yang biasanya dilakukan 'manual' jadi banyak berubah haluan ke live streaming. Termasuk acara konser dari talent-talent dan grup dalam kantor agensi Johnny&Associates, yang juga merupakan tempat Arashi bernaung. Mengingat saya sudah pernah beberapa kali menyebut Arashi di sini, termasuk pada saat membeberkan sejumlah musisi dan artis yang diskografinya secara rutin saya simak, mungkin sekarang arah tulisan ini mulai jelas.

Now, enter... TRAVIS JAPAN.


I'll be quick in introduction. 

Travis Japan's main weapon is their dancing versatility. This is one group with practically 'the highest demand' for back-dancing their senior groups in concerts and live tours because when you have them, then you are guaranteed quality. They are currently an undebuted group, albeit 8 years has passed since their formation (so if anyone ever say to me that becoming an idol in Japan is easier than in the neighboring country, I think I'll punch them in the face with my bare hands). The group now—and I'd like to think about this as a permanent thing instead of temporary—has seven members: Miyachika Kaito, Nakamura Kaito, Shimekake Ryuya, Yoshizawa Shizuya, Kawashima Noel, Matsukura Kaito, and Matsuda Genta. Note how three of them are named Kaito. THREE. Out of seven. So yeah, I guess that should explain my blog post title.

Anyway

SUMMER PARADISE, pekan konser tahunan yang menampilkan talent-talent J&A yang memang diadakan di masa liburan musim panas, untuk kali ini harus ikut berpindah medium ke live streaming. All thanks to the unrelenting COVID-19. Konser akan ditayangkan live dari venue yang hanya diisi performer dan staf produksi seperlunya. Namun perubahan ini sekaligus berarti bahwa saya, manusia jelata penghuni negara dunia ketiga yang duitnya tidak seberapa, jadi bisa ikutan nonton dari layar laptop di kamar kosan karena tidak harus repot-repot mengejar nun jauh ke Jepang sana. 

SUMMER PARADISE ROAD TO HALAL 2020, HERE I COME.


Tampilan layar menunggu dimulainya live stream.

Tahun ini, masing-masing anggota Travis Japan mendapat kesempatan solo performance alih-alih grup, dijadwalkan mulai dari tanggal 1 Agustus hingga 10 Agustus 2020 lalu. Jujur saja sebagai penggemar, saya agak cemas-cemas gugup. Travis Japan gains confidence the most when they're flocking together and some are rather shy by themselves. Will this be OK? Like, really? Namun di sisi lain, peluang ini mungkin bisa 'memaksa' mereka untuk jadi lebih pede dan mandiri. Sekaligus cek ombak kalangan pendukung dan penggemar: kalau dipencar model gini masing-masing member sanggup bawa duit berapa? J&A memang paling jago kalau udah perkara mengeruk uang dengan dalih cinta.

That being said, I ended up letting them take my money.
No regrets here.

Konser SUMMER PARADISE Travis Japan dibuka dengan penampilan Kawashima Noel, member tertua sekaligus satu-satunya orang yang paling tidak saya khawatirkan. Noel ini... serba bisa. Pinter, baik hati, jago nyanyi, bisa akrobatik, loyal, dermawan, nggak gampang marah, bisa diajak bercandaan bego-begoan, dan sejauh ini kelihatannya sih tidak menilai orang dari sekadar penampilan luar. Salah satu kandidat kuat Asia's Next Top Kesempurnaan, lah. Performa Noel sang top batter alias pemecah telor banyak menuai pujian penonton di media sosial. Ekspektasi langsung tinggi untuk sisa jadwal SUMMER PARADISE tahun ini.


Kawashima Noel, yang hampir selalu kejatah giliran pertama untuk banyak hal.

Saya mulai mules karena hari berikutnya, Nakamura Kaito, tampil sendirian. Ketika anggota Travis Japan lain ditemani sejumlah adik-adik sesama Johnny's Junior—semacam istilah untuk 'trainee', atau talent yang belum debut—sebagai backdancer, Nakamura Kaito diumumkan akan benar-benar tampil sendokiran. Pikiran saya sudah cemas nggak karuan. Apa ntar nggak bakal kelihatan kosong dan sepi banget nih panggung? Kaito, kamu bukan mau stand-up comedy. Kamu mau konser. Seriusan nggak mau ngajakin... yah, siapa kek...? Buat dijadiin penggembira?

Eh, ternyata dia nongol-nongol kayak gini:



Pusing seketika.


Kaito muncul di backstage yang diatur menyerupai kamar dan sorotan kamera tanpa henti mengikuti dia bergerak naik ke panggung. Mantap, Bang. Jagoooooooo. Ide menggunakan kamera jarak dekat benar-benar brilian, sih. Panggung nggak kelihatan kosong karena satu layar literally penuh terisi dia semua. Pun jadi terasa... uh, intens. Jantung sudah anjlok sampai ke dengkul bahkan sejak tiga menit pertama.

But nothing, I mean, NO-FUCKING-THING, prepared me for THIS:


NAKAMURA KAITO YOU THIRST TRAP.

ASTAGHFIRULLAH... MAS, KAMU HARUSNYA NARUH RATING "R" ATAU MINIMAL "PARENTAL ADVISORY" BUAT KONSER INI... ISN'T THIS WHAT THEY CALL AS EXPLICIT CONTENT??? Mentang-mentang orang Jepang kemampuan rata-rata bahasa Inggrisnya B aja terus kamu kayak gini? Di pertunjukan yang kemungkinan besar juga ditonton anak-anak di bawah umur? Tunggu dulu, Bos—kamu ngerti nggak sih apa yang kamu nyanyiin? Ngerti, kan? Ini tuh SENGAJA, ya?

*Menenggak segalon air untuk mendinginkan suhu tubuh yang mendadak panas.*
*Menarik napas dalam-dalam.*

Well. In hindsight, this is the very same guy who picked Johnny's WEST's "YSSB"—out of all songs he could pickfor his own production corner in Travis Japan's concert last year. Masuk akal sih kalau tahun ini Kaito memutuskan untuk mengakselerasi level kehausan yang diakomodasi dalam pertunjukannya. Barangkali label 'seksi' untuk member Travis Japan secara resmi disematkan ke Matsuda Genta, tapi udahlah mari kita semua sepakat mengakui bahwa penyumbang faktor dahaga terbesar memang terletak di Nakamura Kaito. (Please don't make me say anything about that moment when the camera closed in on his crotch grinding and my brain short-circuited pathetically.)

On a more sane and sober topic, I do think Nakamura Kaito did things excellently well despite performing alone. And oh gosh, I love how he put attention to the lighting as they help set the mood. So, so many beautiful moments I ended up doing screenshoot frenzy. Dominasi shot-shot jarak dekat berhasil menimbulkan intimasi khusus sekaligus membantu mengaburkan fakta bahwa tidak ada orang lain yang berada di atas panggung selain dia. Saat pada akhirnya muncul long shot, efeknya jadi lebih impactful dan nggak terasa melompong karena ada nuansa tersendiri yang ditampilkan. Misalnya begini:



This man has Aesthetic with a capital A, bold letters and he knows it too well.


AND DID I SAY "THIRST TRAP" BEFORE??? 
I DID YEAH???



Sepertinya habis ngonser perlu solat tobat.

But at the end of the day bitches be like crying and bawling in front of a laptop screen over Nakamura Kaito's weird-ass hand-drawn short story telling you about Travis Japan's longtime blood-sweat-and-tears journey on a huge background screen. I am bitches.


Begitu live streaming konser Nakamura Kaito selesai, rasanya kayak mau pingsan aja. Emosi dan libido terlalu banyak dipermainkan. Capek. Padahal cuma mantengin laptop. Nggak masuk akal, emang. Tapi nyata. Bahkan saya menumpahkan perasaan di tulisan ini sesudah ketujuh member Travis Japan selesai manggungyang mana artinya sudah beberapa hari berlalu sejak penampilan Nakamura Kaito, namun gejolak emosional itu kembali menghempas. 

Sujud syukur alhamdulillah ya Rabb, yang tampil setelah Nakamura Kaito tidak lain dan tidak bukan adalah: Matsuda Genta. Anggota termuda sekaligus yang paling... selow. Terima kasih, Genta, telah mengembalikan kewarasan dan kestabilan psikologis karena konsermu yang mood-nya bener-bener mengundang penonton untuk lesehan dan leyeh-leyeh bersama. Betapa Genta masa bodoh dengan imej Travis Japan yang dance-heavy dan justru memutuskan tidak pakai koreografi kompleks di sebagian besar durasi dan memperbanyak goyang-goyang hore ala kadarnya terasa menghibur dan menggelikan. Seolah-olah ini merupakan kesempatan emasnya untuk... 'cuti'.

Setlist Genta yang pada dasarnya cuma terdiri dari lagu-lagu Shonentai, KinKi Kids, Arashi, dan Hey! Say! JUMP juga bikin senyum-senyum cekikikan. Ada sekian banyak grup dan artis senior di J&A dan dia hanya melibatkan empat nama. It's as if he went, "Nah screw it, I'll only perform songs of my most favorite people and what I like to sing in my bathroom at home" and that's that. Khas Genta banget. It doesn't feel as dramatic or emotionally-draining as Nakamura Kaito's show, but Genta's solo concert is a peaceful night after a violent storm and I appreciate it VERY MUCHGenta's warm vocal really offers soothing sensation.

One of my favorite scenes.
 
The camera work, though... it's rather unflattering. Ada banyak momen di mana mestinya gambar yang ditampilkan bisa lebih atraktif dengan cara berbeda, atau dari sudut berlainan. Bulan purnama di gambar sebelumnya juga nggak tampak bulat sempurna kan? Semacam membatin, "Coba kameranya digeser dikitttttttttt lagiiiii... plis plis PUHLEASE". And during "PINK" (originally performed by Hey! Say! JUMP's Yaotome Hikaru) the camera moves around a little too much it's rather hard to watch, and at times it doesn't show the right angle. Sepanjang lagu dibawakan, shot yang nendang pas dilihat rasanya hanya di chorus terakhir. Rada kocak lihat huruf PINK segitu gede tapi background-nya pakai warna biru, member color Genta.


Mendekati penghujung pertunjukan, Genta muncul dalam kostum yang menurut pandangan mata saya, mirip baju santri mau berangkat ke langgar, ikut ngaji. Mana dia lepas sepatu dan memilih nyeker, pula. Saya harus menahan diri supaya nggak buru-buru login situs Archive of Our Own dan berakhir bikin fanfic Genta jadi mualaf.


Belajar mengaji bersama Matsuda Genta.

So, Genta's turn is wrapped up
Giliran berikutnya adalah the Pretty Boy of the Group, Shimekake Ryuya

Saya sampai sekarang kadang-kadang masih suka lupa kalau Travis Japan isinya cowok-cowok semua, saking Shime punya pembawaan relatif kalem dan nggak terlalu banyak heboh ngomong, lengkap dengan penampilan yang lumayan... um, effortlessly androgynous. Imej 'manis', 'menggemaskan', dan 'imut' sangat melekat erat dengan Shime, yang padahal kalau ditatap cukup dekat, jakunnya kelihatan jelas banget (tolong jangan bertanya kenapa mata saya jelalatan mantengin jakun orang; each to their own personal kink). Konser tunggal Shime juga dibuka dengan (adegan) yang manis-manis. Anggaplah buka puasa bagi para penggemar.


Namun terus terang, dibandingkan Cute Shimekake, saya lebih nggak kuat kalau ketemu Serious Shimekake, yang mana pada pokoknya hanya Shime pasang wajah serius dan aura galak, sangar, nan jutek. Widih auto panas-dingin. Meriang dalam sekejap mata. Dibandingkan berhadapan dengan Shimekake Ryuya sewaktu sedang kalem-kalem cantik:


Lebih memilih Shimekake Ryuya yang sedingin freezer kulkas:



Benar, mas Ryuya. Barangkali saya terlanjur kehilangan kewarasan. Sanity 404 not found, gitu deh. Tapi coba saya tanya deh: ini semua GARA-GARA SIAPA? Hmmm? Nggak sadar diri?  Sama sekali? Harus banget dijelasin satu-satu?

For real, though. Shime looks damn good in that deep red shirt. 


Especially when surrounded with scattered feathers.


*Me glancing nervously at the clock.*
*Clock showing 2:29 AM and I'm still here writing a long-as-fuck blog post about fangirling.*

Yep. It's too late can't stop myself. Tooooootally relatable.

Melalui tulisan ini saya hendak menghaturkan terima kasih kepada mas Shimekake Ryuya, sebab berkat keputusannya memasukkan lagu NEWS ke dalam setlist solo show, akhirnya saya bisa kembali mendengarkan diskografi grup tersebut tanpa dirundung perasaan pait sepet bagai brotowali. "BLACKHOLE" is a banger and somehow it suits him. Sekarang tiap bersenandung "Like a blackhooooole~" refleks sambil chest rolls.

*P.S.: that leg moves in the choreography is BOMB. Love, love, LOVE that moves.

Kejutan lain dari Shime adalah, dia ternyata punya satu lagu yang koreografinya dibuat bareng-bareng Yoshizawa Shizuya, yang mendapat giliran tampil persis keesokan harinya. Ibarat novel Twilight lah, ada yang diceritakan dari perspektif Bella Swan, lalu ada juga yang berdasarkan sudut pandang Edward Cullen. Lagu ini kebetulan konsepnya mirip-mirip itu. Shime dan Shizuya sepertinya secara sadar dan aktif berniat mengabadikan kapal mereka berdua, deh. Ya gapapa kok. Boleh. Tetaplah berlayar, kapalku tersayang. Aku percaya walau badai menghadang, kapal ini tidak akan karam.


KURANG EMO APA COBA? INI APA SIH? CINTA YANG TAK BISA BERSATU?

Jadi setelah diyakinkan oleh penampilan Noel, dibikin jungkir-balik all thanks to Nakamura Kaito, didamaikan kembali oleh Genta, dan terpesona sama Shime, berikutnya saya dibuat terkaget-kaget menyaksikan konser tunggal Yoshizawa Shizuya. PARAAHHH NGGAK ADA OBAT. Keren. Mentok. HOLY SHITTTTTT, MAAAAN. Duh, gimana ya ngomongnya?? 

How to explain this intense feelings of "being blown away"???

Rapi maksimalll. Super duper well-done. Well-balanced. Well-put. Well-thought. Everything feels... right. SHIZUYA YOU ARE THE MVPMAN OF TASTE. MAN WITH RIGHTS. Udah sana ambil sepedanya, ambil semuanya, ambil sepabrik-pabriknya. You deserve it. You deserve everything. Semuanya berada di tempat yang tepat, muncul di waktu yang tepat, dengan porsi yang tepat. Transisi antar lagu muluuuuuusssss nggak ada cela. Bahkan sorotan kamera kali ini rasanya memuaskan. Mengakomodasi highlight pertunjukan. This, my friends, is pure talent right here. Expect no less from a man who chose Kis-My-Ft2's "Break The Chains" for his own corner in last year's Travis Japan concert. He delivers. He always does. And he always will.


NO SHIZU YOU ARE A VERY BEST BOI. TRUST ME.

Shizu is also in the mood for a summer holiday.
He invites everyone over because he's simply that guy.


Vokal Shizuya stabil banget sepanjang konser. Like, WHOA. Jujur deh, selama ini saya merasa teknik vokal Shizuya relatif ada di tengah-tengah dan cenderung tidak muluk-muluk, sehingga lumayan kaget saat nyanyi sendirian sepanjang konser yang bisa dibilang hampir fully choreographed ternyata berhasil nggak kedodoran. Habis joget jingkrak-jingkrakan seketika disambung nyanyi pakai standing microphone juga lancar jaya. And the setlist pick is pure gold. Ohno Satoshi's "Bad boy"? Arashi's "Fukkatsu LOVE" and "Summer Splash!"?  Hey! Say! BEST's "Speed It Up" and finished it off with Hey! Say! JUMP's "Asu e no YELL" before performing "Together Now" with the rests of Travis Japan members?

This is what they call Taste.

AND THESE LIGHTING SPECTACLES...

I SWEAR TO ALL GODS PEOPLE BELIEVE IN, SHIZU YOU ARE THE MVP (Part Two).


Distracting thoughts: oh shit those legs... those thighs in blue jeans are T H I C C <3



Five members done for now.
Two more to go.

Matsukura Kaito menggeber salah satu lagu Kanjani8 kesayangan saya, "LIFE ~Me  no mae no mukou e~" untuk membuka penampilannya hampir membuat saya menangis. Lagu ini punya banyak kenangan. Kalau boleh bikin pengakuan, saya sampai sekarang belum berani mendengarkan versi aslinya lagi sejak Shibutani Subaru dan Nishikido Ryo hengkang. Nggak kuat. But you've given it another meaning, Matsukura. Mungkin saya akan coba setel lagunya lagi nanti. This time, maybe I'll remember you singing it instead of the pain of being left behind.

Ending song YouTube Travis Japan ikut dinyanyiin versi lengkapnya. 


His rendition of Domoto Tsuyoshi's "Panic Disorder" is SO, SO FRIGGIN' GOOD. His vocal has this... edge, very fitting for a rock ballad. Or just a rock songs in general.

Tapi menyangka seorang Matsukura Kaito akan tampil keren sepanjang durasi konser tunggalnya kayaknya merupakan sebuah kesalahan. Tahu-tahu dia mak jegagig balik nongol di atas panggung dalam keadaan sudah berganti sepatu roller skate dan berpenampakan mirip preman kampung yang mau meramaikan hajatan pesta tujuh belas Agustusan. Lengkap ditambah aksesoris hiasan bulu merah-putih di kepala. Katanya, musim panas itu identik dengan roller skate. Random abis.

BAPAK-BAPAK, IBU-IBU, ANAK SIAPA INI TOLONG DIJEMPUT...

Lirik lagu "Kis-My-Calling!" milik Kis-My-Ft2 yang diubah menyesuaikan anggota Travis Japan benar-benar menggemaskan karena adik-adik Shounen Ninja yang didapuk sebagai backdancer pura-pura jadi Travis Japan bermodalkan uchiwa ditempel foto muka. Berhubung kekurangan orang, Kitagawa Takumi harus kerja keras memerankan double Kaito, alias Miyachika Kaito dan Nakamura Kaito secara bersamaan. Saya nggak kuat nahan ngakak mendengar Kawasaki Koki nyatut kata-kata Shime, "Ciuman yuk? Ah, nggak dulu deh," yang sebenarnya merupakan monolog Shimekake Ryuya dalam YouTube Travis Japan sewaktu endorse lipbalm Givenchy. Bagi yang penasaran lengkapnya gimana, silakan klik sebelah sini.


Kerasa banget bahwa Travis Japan memang sayang satu sama lain. Lagi pertunjukan tunggal aja masih keingetan dan nyeret-nyeret anggota sisanya. Mulai dari ada yang dateng nonton terus malah diseret naik panggung buat ngebantuin ganti baju, dateng nonton beramai-ramai dan berusaha menunggangi sesi MC dari bangku atas dengan teriakan-teriakan rusuh, telepon (terskenario) di tengah-tengah konser, hingga dibikinin bajakannya demi bisa diajak manggung bareng.

Kenapa sih grup yang saya sayang emo-emo semua gini, ya Rabb...

Terakhir. Pertunjukannya Miyachika Kaito.

The leader of the tiger pack.


Perut saya kerasa diremes-remes bahkan sejak pagi. Miyachika, yang kerap disapa 'Chaka' untuk mempermudah penggemar (dan orang lain) memanggil ketiga Kaito dalam satu grup, di mata saya adalah orang yang sering cengengesan haha-hehe dan ngebercandain kanan-kiri, tapi sebenarnya sangat serius, ekspresif, sekaligus sensitif. Sedikit banyak mengingatkan saya pada Ninomiya Kazunari, member Arashi. Dia tahu betul batasan mana yang tidak boleh dia langkahi. Dia mengerti orang seperti apa punya seberapa tingkat toleransi terhadap ledekan yang bagaimana. He knows exactly what words to choose when speaking to whom.

Miyachika also has the knack of expressing what he wants to convey on stage, through movements, small gestures, and facial expression. In a little bit more natural, personal way compared to the others. Ya Allah. Tampaknya saya tidak akan pernah siap secara mental untuk menghadapi apa yang Miyachika hadirkan di SUMMER PARADISE 2020 ini.

And ready I am not.
Asli sampai gemeteran sebadan-badan.

But here it comes...




Miyachika kicking off the show in a crimson red-themed stage saying "We are the rules" in all his regal glory gets me floored. Melorot dari kursi ke lantai kamar tak berdaya. Kayak handuk basah. Lemesssssss. SEMBAH SUJUD PADUKA MIYACHIKA. IF THIS AIN'T KING SHIT THEN I DON'T KNOW WHAT ELSE. This is the King claiming his throne. And he'll take it. He'll grasp it with his worthy fingers.

And he'll do it while looking glorious.


Namun yang menguras habis air mata saya justru ketika Miyachika menampilkan "Rolling days", lagu solo Sakurai Sho favorit saya dari album Arashi tahun 2015 silam, Japonism. Konsep 'tahanan kabur' dan koreografi teatrikal yang dibawakan amat sangat baguuuss nggak ngerti lagi nggak tahu harus ngomong apa lagi kecuali "ANJIR ANJIR ANJIR ANJIR ANJIIIIIIIIIRR" di hadapan layar. Keputusasaan sekaligus harapan yang dikisahkan lirik lagunya terasa semakin nendang. I feel like being gutted. Dada langsung sakit. Ampek. Nyeseeeeeekkk sejak sepuluh detik awal. 

Lalu tiba-tiba pas nyadar udah nangis bercucuran. 





His pained eyes that seem to scream desperation give me chills.


But the killing punch, the one that makes the last defense of my tear glands broke and everything spills down on my cheeks, is here: right when Miyachika opens both arms wide and sings, "Owari nante kowakunai no sa—I am not afraid of the end". It feels... oh dear Lord, IT FEELS REAL

Miyachika said he is not afraid of the end and I think he means it.


Seakan-akan "Rolling days" adalah Miyachika memproklamasikan bahwa dia siap menghadapi semuanya, bahkan sekalipun itu sebuah 'akhir'. Selama bertahun-tahun lamanya Travis Japan terus ada dan diombang-ambingkan ketidakpastian, diterpa banyak hal, menelan kekecewaan sekaligus mengalami berbagai hal-hal menyenangkan. The group has gone through so much, almost nothing feels like new surprise anymore. Entah kenapa bagi saya ini seperti cara Miyachika menyampaikan bahwa dia hanya fokus akan menikmati hari-hari bersama Travis Japan tanpa terlalu ambil pusing tentang yang lain.

He has nothing to lose.
He is not afraid of anything, not even the end.
So he's saying to come at him. Try him.

Barangkali saya yang kelewat baperan. Mungkin saya cuma overthinking. Meneketehe. But to me it sure feels that way. Apalagi kemudian di setlist muncul lagu-lagu seperti "To my homies" milik Arashi disambung "Macchigacchainai" kepunyaan Johnny's WEST. This stage is his story. And Miyachika doesn't think that he's mistaken. He believes that he didn't make a wrong choice.

And I think he's right.

Usai "Together Now" dinyanyikan, rupanya berhubung kali ini adalah panggung penutup giliran Travis Japan di SUMMER PARADISE 2020, keenam anggota lain ikut muncul. Bertujuh ngobrol-ngobrol sebentar, mengucapkan selamat ke Shizuya yang ulang tahunnya bertepatan dengan konser solo Miyachika, dan terakhir: foto bersama. Buat dipajang di Instagram. #Penting


*Menghela napas panjang.*
*Mengelap air mata yang beleber lagi.*

Ya Allah... Saya sayang Travis Japan. Nggak ketolong lagi. Asli. 

Rangkuman kesan SUMMER PARADISE Travis Japan 2020 di benak saya kira-kira begini: Yoshizawa Shizuya the Mr. MVP, Miyachika Kaito is my emo King, dan Nakamura Kaito paling banyak mengandung muatan maksiat. Dah gitu aja nggak perlu kepanjangan. Seneng sih, karena rupanya kekhawatiran saya sebelum acara sedikit berlebihan. These guys are alright. They are doing awesome. And now I am here having an enormous feelings hemorrhage.

Jadi, ngomong-ngomong nih, Bapak Presiden Takizawa Hideaki... 
Kapan Travis Japan didebutin?

z. d. imama