Monday, 21 January 2019

My (rather unhealthy) cat obsession

Monday, January 21, 2019 0

Saya suka kucing. 

Mohon maaf terhadap segala macam hewan menggemaskan lain di muka bumi (marmut, kelinci, rusa, anjing, dan lain sebagainya), namun saya tidak bisa memungkiri bahwa yang senantiasa memperbudak jiwa dan hati saya di singgasana tetap kucing. Beserta seluruh spesies turunannya. Singa, macan, jaguar... yea you know which ones. Semasa kecil, salah seorang sepupu saya di rumahnya ada banyak sekali kucing peliharaan. Rekor populasi tertinggi kayaknya sempat mencapai sebelas ekor, persis macem Nankatsu setelah kedatangan Ozora Tsubasa. Tiap kali libur sekolah, saya pasti minta menginap di sana. Demi main sama kucing. Tapi ya, keluarga sepupu saya nggak sepaham itu sama dietary kucing. Beda sama orang-orang sekarang. Back in the day, makanan para mengs tiap hari adalah ikan mentah termurah yang ada di pasar―biasanya kalau bukan bandeng ya teri―dicampur nasi putih. "Nasi kucing" at its realest meaning.

"Kenapa nggak pelihara sendiri aja?"

Ya ya ya. Ini memang pertanyaan yang paling kerap muncul. Saya maklum. Namun mewujudkannya tidak semudah ngomentarin orang di internet, kamerad. Ayah saya tidak suka binatang. In an almost hardcore sense. It's weird because human are in kingdom Animalia.. but let's not talk about that. Tiap menjemput saya dari rumah sepupu saja, tidak jarang ayah menaikkan kakinya ke kursi daripada harus tersenggol kucing-kucing yang lalu-lalang. Memang seenggan itu. Sehingga ya.. mana mungkin saya bisa punya kucing piaraan pribadi. Ketimbang dese cuma jadi korban kekerasan rumah tangga, kan.

     

Kegemaran saya: motretin kucing-kucing liar (dan ngasih mereka makanan).

Setelah tinggal sendiri sebagai warga kos-kosan rupanya impian memelihara mengs juga belum dapat terwujud. Kos yang kamarnya sesuai dengan kehendak hati saya, entah kebetulan entah nasib, selalu punya kebijakan melarang binatang peliharaan. Penyaluran hasrat dan rasa sayang yang nampaknya sudah merekah jadi obsesi terhadap kucing pun lagi-lagi terhenti di sebatas mengusap-usap (asalkan mereka tidak terlalu takut pada manusia) dan memberi makan kucing liar yang ditemui.

Kucing-kucing komplek.
Kucing-kucing yang gegoleran di trotoar jalan.
Kucing yang hampir tiap hari bisa ditemukan keliaran di sekitaran gedung kantor.

The office-perimeter cat, alias kucing yang demen nongkrong di area kantor.

Tempo hari sempat ada kejadian agak memalukan gara-gara dijajah kucing secara psikologis:  saya mengeong ke arah seekor kucing liar pada saat yang bertepatan dengan mas-mas lain melakukan hal serupa. KEBAYANG NGGAK SIH SEBERAPA MALU? DUA ORANG DEWASA MENGGODA KUCING DAN KOMPAK NGOMONG "MEOOONG~~"?? DENGAN NADA SOK IMUT?? While I know that it sounds toootally like a start of budding romance story―in retrospect, I honestly kinda hope it did―unfortunately it only resulted in awkward moment and shy stares and quickened pace. Mas-mas tersebut buru-buru berlalu, sementara saya memutuskan berjongkok di samping sang kucing lantaran arah tujuan kami sama; takut makin keki kalau pergi dari situ berbarengan.

Hasrat miara kucing yang tidak pernah terkabul selama bertahun-tahun ternyata sampai bermanifestasi jadi ambisi kurang terkendali. Entah sejak kapan, saya gampang sekali datang berkunjung ke tempat tinggal seseorang hanya dengan diiming-imingi main sama kucing. I shit you not. Trivia barusan sudah pernah saya sebutkan di postingan sebelah sini loh. Sure, terms and conditions apply, misalnya saya dan pihak pengundang harus sudah pernah ada interaksi sebelumnya, namun kok ya setelah direnungkan lagi ternyata definisi "interaksi sebelumnya" ini longgar banget, men. Bahkan saya pernah sengaja menawarkan ngambil sendiri buku secondhand yang hendak saya beli dari seseorang, langsung ke rumahnya, cuma demi ketemu kucing peliharaan si empunya buku yang emang amit-amit gemes banget dan nampang di foto profil. Padahal tadinya kami nggak kenal sama sekali. Cuma pernah ngobrol dikit-dikit via direct message media sosial, ngebahas buku yang mau dibeli.

Is this starting to get dangerous? 
Is this beginning to become unhealthy?
Is this tendency has started to be life-threatening?
Bagaimana jika kamu jangan terlalu lonte tentang kucing, Zulfana? Hmm?

      
Bergaul dengan dedek-dedek bulu milik Puti

To all the cats I've petted before... thank you from the deepest part of my conscience. Terima kasih telah bersedia saya jamah dan unyel-unyel meski ujung-ujungnya cuma ditinggal lagi sesudah dikasih makanan kering secukupnya. Semoga suatu waktu nanti, akan tiba hari di mana saya bisa membawa pulang minimal satu ekor dari kalian. Bukan saya yang terus-menerus dibawa pulang orang-orang demi menjumpai kalian.

z. d. imama

Tuesday, 15 January 2019

The Midnight Thoughts

Tuesday, January 15, 2019 2

At night. Lying under my blanket in a darkened room. Accompanied by distant sounds of stray cats mewling as they look for leftovers in the garbage. I think about many ways to die. Maybe I'm getting hit by a city bus. Falling from high places. Drowning in a shallow pool like a fool. Cutting the skin a little bit too deep or at the wrong place. Going deep into slumber and never return.

And I start thinking about the people. The livings. Noticing how only a few names appear. Noting how, probably, it is only a handful of people who will get notified when I'm truly gone. That guy I'm having a big crush on probably will have no idea what's happening; he doesn't even know that I'm re-reading our mundane, casual texts like it's worth any writing award. The friends I made through internet connections, at best, will wonder for a moment why my account is not updating, or why it is deactivated several weeks too long. The books, the drama series and movies I collected throughout the years will stay untouched, most likely getting thrown out as the days go by because my parent don't know what to do with them.

Taking a deep breath, eyes staring into the dark, I keep asking myself. Where will it be, then? Here, alone, inside my room, that no one but me has the key? And my body will be found at much later time when the smell has become a nuisance. Or will it be in a strange place I have never visited before? Or will my lifeless body lies amongst the muttering crowd, hands can be seen everywhere carrying phones to take pictures? I wonder if I will be able to see myself on that particular day.

I can hear my own heartbeat in the silence.
I feel the air goes into my lungs, then out from both nostrils.
I can sense the blood tirelessly rushing throughout my still body.

And tonight, just like countless nights in the past, I sleep crying.

z. d. imama

Saturday, 5 January 2019

#RecommendationOlympics: Japanese artists I regularly listen to (Female edition)

Saturday, January 05, 2019 4

Nyaris setahun terlewati setelah #RecommendationOlympics: Japanese artists I regularly listen to (Male edition) diunggah, memang sudah saatnya menuliskan 'pasangannya', alias daftar musisi dan artis perempuan Jepang yang rutin saya ikuti rilisan demi rilisannya. Jarak sebelas bulan tuh kelamaan nggak sih? Kelamaan ya? Habis, bahkan nama-nama musisi cowok yang jadi heavy rotation saya aja udah nambah lho. Ada dua nama: Yonezu Kenshi dan Suda Masaki. Perkenalan dengan Yonezu Kenshi tidak lain dan tidak bukan yaaa gara-gara anime Boku no Hero Academia. Sebenarnya sudah cukup lama ingin ngulik diskografinya, tapi lupa-lupa melulu kek, nggak dapet mood kek, hingga akhirnya misi tersebut terlaksana sekitar bulan Mei 2018 dan langsung aja dah kejeblos. He's making nice music, I reckon. Suda Masaki, yang sebenernya adalah seorang aktor, sejak tahun 2017 mulai iseng-iseng menjajal dunia tarik suara dan ternyata... he's rather decent??? I am genuinely surprised???? Tipe vokalnya tuh macem mas-mas senpai pujaan yang pas festival sekolah main band di panggung gimnasium.

Lho piye toh iki malah ngebahas musisi laki-laki..
Ayo ndang kembali ke jalan yang benar.

浜崎あゆみ (Hamasaki Ayumi)

It's so freaking tiring stanning Ayu but once you got to know her, you can't help but stan. Debut umur 20 di tahun 1998 lalu popularitasnya naik secara eksplosif hingga sekitar tahun 2008, sebelum mulai meredup dan banyak di-bash antifans kanan-kiri lantaran vokal yang bermasalah. Haduh Mak. Karir Ayu bener-bener penuh gejolak. Kadar dramanya kurang lebih setara, bahkan mungkin lebih, dari Namie Amuro-yang mana bakal disinggung dikit di tulisan ini. To cut all things short: she has serious hearing problems. Telinga kirinya sudah nggak berfungsi total sejak 2008, dan gara-gara itu kualitas vokalnya di penampilan live sangat tidak stabil. Kadang bisa oke, kadang saking berantakannya bisa memicu secondhand embarrassment dan bikin pengin nganterin pulang nyuruh istirahat. Bayangin aja deh demen musisi yang nyaris tuli tapi orangnya nekat maju terus kayak nggak peduli kondisi. You love her and you want her to get some long overdue rest but she keeps marching forward like a mad person (and deep down you somehow feel touched by it). Ini goblok apa dedikasi?? Capek ati anjir.

She penned her own lyrics. Each one. Every one. Lirik lagu-lagu Ayu semuanya ditulis sendiri, yang mana jika diperhatikan baik-baik bakal ketahuan kalau sebenernya karakter Ayu cenderung mirip Haibara Ai di Detektif Conan. Penuh kegelapan. That's probably why I really like her. I love unstable queen. Most of her lyrics are raw feelings and everything feels fahking great. Banyak banget lagu-lagu yang awalnya kerasa "Ah ini bagus ya, hangat kayak orang kasmaran" tapi ternyata supercocok dipakai temen nangis di bawah guyuran shower. Beberapa contoh lirik hasil tangan Ayu nih: "The day when I recall things about you doesn't exist because you never leave my mind" (HANABI), "Loneliness felt when we're together is much painful then the loneliness felt alone" (SURREAL), atau "I was praised 'You're so splendid not to cry', but the more people around me said that, even laughing became painful" (A Song for xx). Gimana nggak baper, Tong??

My personal favorites of Hamasaki Ayumi's truckload releases? Agak susah, namun bisa dibilang favorit selama ini ya Memorial address (2003), (miss)understood (2006), Rock 'n' Roll Circus (2010), dan My Story (2004). M(A)DE IN JAPAN yang muncul tahun 2016 kemarin juga suka banget.

Stream Ayu on Spotify guys!!!!

Kalafina

Bukan pertama kalinya nama Kalafina saya sebut di blog ini. Sekian bulan silam, saya pernah bikin satu postingan khusus Kalafina yang isinya nostalgia perkenalan dan rekomendasi sejumlah lagu bagi para non-fans. Ada pula tulisan ekstatik pasca menyaksikan penampilan mereka di AFAID 2013. Mari tidak berbasa-basi: this group has split up. Udah bubar, mamen. Produser sekaligus penulis lagu-lagu Kalafina, Kajiura Yuki, berseteru dengan manajemen Spacecraft dan memutuskan keluar dari agensi tersebut. Berhubung Wakana, Keiko, dan Hikaru nggak mau menyanyikan lagu orang lain dan yaa.. kalau nggak ada Kajiura Yuki maka Kalafina tidak akan terbentuk, mereka akhirnya memutuskan berpisah jalan. Persis setelah menggelar tur anniversary sepuluh tahun. Taek nggak? Taek bener. Sungguh bedhes. Pil pahit per-fangirling-an, bosquuuuuuue.

Mana belum sempat ngejar konser mereka di Yaban...

Rilisan Kalafina yang jadi longtime treasure masih Seventh Heaven (2009) yang merupakan album debut. Disusul red moon (2010) yang gothic maksimal, lalu album terakhir mereka, far on the water (2015). Oh, album khusus Natal mereka, Winter acoustic: Kalafina with Strings (2016) juga cakep ampun-ampunan. Their harmony is beyond perfect there. Diskografi Kalafina bisa didengarkan via Spotify, jadi jangan lupa mampir ya. Check their live albums too!

Aimer

Perkenalan saya dengan Aimer yaa... kayaknya pas dia debut. In a sea of young female singers with high-pitched, screechy voice appearing here and there, 六等星の夜/Rokutosei no Yoru (2011) sounded like a treat to my ears and I literally went, "NAH GINI KEK!!!" Apalagi selang beberapa bulan kemudian muncullah album perdana Aimer, Sleepless Nights (2012) yang bikin saya yakin telah berada di jalan kebenaran. Sejak saat itu hingga sekarang rilisan demi rilisannya nggak pernah absen saya ikuti. Biarpun mukanya hampir selalu ditutupin rambut di tiap foto. Biarpun ketika konser selalu pakai kacamata berbingkai setebel gaban dan lampu sorot diatur sedemikian rupa agar wajahnya nggak kelihatan jelas.

Bicara album, secara pribadi saya masih menjagokan daydream (2016), yang pada saat postingan ini ditulis, merupakan studio album terbaru dari tangan Aimer. Gila bagus banget dah daydream. It shows how much she matured in the sense of music-making, how she grasped what works for her and what does not. Tapi kalau ngomongin single, atau lagu a la carte alias perintilan, yang kayaknya nggak akan bisa berhenti saya dengarkan adalah Last Stardust (dari album Dawn (2015)) dan Brave Shine (2015) yang cakep banget kalau disetel back-to-back karena emang diciptakan untuk di-medley. Re: I Am (2013) juga jadi lagu langganan tiap ke karaoke. But is Aimer on Spotify? Yep. Go here and you're welcome.


ちゃんみな (Chanmina)

A Japanese female rapper in this list? Seriusan? Iya, serius. 'Chanmina' adalah nama panggung dari Otonomai Mina, cewek kelahiran 1998 yang talentanya bikin geger seluruh Jepang pas nampil di BAZOOKA! KOUKOUSEI RAP SENSHUKEN tahun 2016 silam, sebuah kompetisi rap khusus anak SMA yang disiarkan televisi. Setahun kemudian, sekitar musim panas 2017, Chanmina resmi major debut dengan meluncurkan album 未成年/Miseinen (Underage). As a first-ever release, the content was very interesting. Komposisi musiknya beraneka ragam―bahkan agak terlalu beragam―dan dari segi lirik ternyata kok ya cukup banyak kegelapan. Chanmina bercerita tentang kesulitan berteman, tidak bisa menemukan tempat untuk jadi diri sendiri, dikomentari kanan-kiri oleh orang dewasa, diejek remaja seumurannya karena dianggap aneh lah jelek lah gendut lah... Oh, I feel like being summoned.

Berhubung Chanmina baru punya satu album yakni 未成年/Miseinen (2017), satu EP bertajuk Chocolate (2017), dan sejumlah single seperti PAIN IS BEAUTY (2018) atau kolaborasi dengan Miyavi di No Thanks Ya (2017), maka saya merekomendasikan kalian untuk mendengarkan seluruh diskografinya saja di Spotify. Haha. Mumpung belum banyak-banyak amat.

MISIA

The mother of powerhouse. Hands down. Kacau dah begitu Misia udah nyanyi tuh bulu kuduk suka berdiri dengan sendirinya saking ya emang keren nampol. Lagu-lagunya buanyaaaak bangetttt dipakai jadi soundtrack serial drama, iklan, program televisi, gim, film (belakangan merambah anime juga), termasuk di antaranya Fullmetal Alchemist Live Action (2018) yang berdasarkan opini saya lebih baik film itu dibakar hangus pakai alkimia api Kolonel Roy Mustang. Haduuh tante, kebagusan banget lho film acak-adut gitu dapet lagumu sebagai soundtrack...

Right, recommendations. Misia-newbies pertama-tama wajib kenalan dengan album Marvelous (2001) karena di dalamnya termuat signature song Misia yang superpopuler sampai dibikin versi cover-nya oleh berbagai musisi: Everything. Agak-agak kayak 雪の華/Yuki no Hana punya Nakashima Mika lah, kan sampai ada lagu cover yang versi Mandarin kek, Inggris kek, Korea segala macem juga. Album lainnya yang saya suka: Kiss in the Sky (2002), Just Ballade (2009), dan Love Bebop (2015). Jangan khawatir, tante Misia tersedia laman Spotify-nya di sebelah sini kok.

安室奈美恵 (Amuro Namie)

The queen who just recently retired and left her throne empty. She put behind all those spotlights and drop her microphone with a bang, really. Tiket tur terakhir jadi rebutan, album dan DVD pamungkas laris manis kayak kacang goreng. And she deserves every single enthusiasm. Hampir nggak terdeskripsikan sih seberapa kerennya Amuro Namie ini. Walau badai menghadang kayak apa juga, dia selalu bangkit lagi dan bisa tetap bersinar selama 25 tahun karir. Perjalanannya nggak kalah drama dengan Hamasaki Ayumi; bedanya ya kagak penyakitan aja. Shotgun marriage, dikucilkan keluarga mertua, perceraian, ibunya dibunuh saudara ipar... hadeeeeh. Semoga kini setelah pensiun, Tante Namie bisa menikmati seluruh pundi-pundi uang hasil kerja kerasnya selama ini dengan lebih santai dan damai. Amin.

Her earliest work I fell in love with was Sweet 19 Blues (1996). Man, Body Feels Exit (1996) is THE jam. Setelah itu langsung lompat ke rilisan sepuluh tahun kemudian, Play! (2007) yang jadi album perkenalan saya dengan tante Namie lantaran single Baby Don't Cry (2007), lagu pembuka serial drama Himitsu no Hanazono. Rilisan kesukaan yang lebih baru ada Uncontrolled (2012) yang buagusssssssssss makkkkknyussssss dan _genic (2015). Masalahnya nih.. diskografi Amuro Namie nggak tersedia di Spotify entah gara-gara alasan apa.

Good luck ya guys. This one needs a little hard work to enjoy. But it's really one of the best, so march on.

SCANDAL

Dulu apa ya yang bikin jadi kenal dan suka SCANDAL... Kemungkinan besar sih single 瞬間センチメンタル/Shunkan Sentimental (2010) yang jadi lagu penutup Fullmetal Alchemist: Brotherhood (2009). Dari situ saya ngulik diskografi mereka dan memulai karir sebagai pendengar setia. Terus terang, makin lepas SCANDAL dari imej empat cewek-cewek berkostum seragam, musik mereka tambah asyik disimak. Bukan berarti lagu-lagu sebelumnya nggak oke, kok. Tambah seger aja sekarang kayak seteguk es teh di hari yang panas.

Not-to-missed releases in my book: Temptation Box (2010), Standard (2013), YELLOW (2015). Seperti halnya Amuro Namie, SCANDAL hingga hari ini belum tersedia diskografinya di Spotify. Apaan banget kan... pelit bener nih labelnya.

宇多田 ヒカル (Utada Hikaru)

Bikin tulisan beginian kalau nggak nyebut tante satu ini mendingan nggak usah. Meski nggak pernah bisa paham kenapa penulisan nama beliau pakai huruf katakana, namun lagu-lagu beliau sangat saya pahami popularitasnya. Saya curiga bahwa Hikki the Queen of Hiatus memang superselow dalam perjalanan karir. Sesudah Deep River (2002), rilisan demi rilisannya nongol seenak jidat. Suka-suka gue. Nggak ada jarak yang jelas. Bisa aja selang dua tahun, empat tahun, bahkan delapan tahun baru muncul karya baru. Kagak butuh-butuh amat sama duit apa? But still I love her. Rather than high falsettos, I really adore her when singing in lower register. Probably it's also the reason why her trademark track, First Love (1999) is never my number one song because I never really like its chorus part.

Favorite albums? Let's see.. Berdasarkan urutan rilis ada Deep River (2002), lalu jelas Heart Station (2008) yang menduduki tahta nomor wahid di hati―suka banget banget bangettt sama album ini, saya bela-belain berantem tonjokan-tonjokan deh kalau sampai ada yang bilang "Heart Station biasa aja" di depan muka. Rilisan terbaru Hikki, 初恋/Hatsukoi (2017), juga oke, dan setelah penantian berbulan-bulan album terakhir ini akhirnya masuk ke laman Spotify-nya pada Januari 2019!! Yaaay!!

FictionJunction, a team of Kajiura Yuki's trusted singers

Demikianlah beberapa nama musisi dan penyanyi perempuan Jepang yang diskografinya rutin saya dengarkan. Berbeda dengan versi cowok, saya nggak akan bikin daftar Honorable Mentions lantaran.. takut kebanyakan. Sebab kalau mau terus terang, masih ada FictionJunction―jajaran sejumlah vokalis yang selalu membawakan lagu-lagu Kajiura Yuki di live tour beliau―yang formatnya membuat saya bingung cara menyebutkan lagu apa sebagai rilisan sebelah mana.. akhirnya di-skip total dari daftar pendek ini. YUI, Nishino Kana, JUJU, Koda Kumi, dan sejumlah musisi pun tidak saya paparkan lebih lanjut meski mereka bisa dimasukkan dalam honorable mentions. Nanti kepanjangan... nggak kelar-kelar.

Ceburkan diri kalian dalam skena musik Jejepangan, kawan. Seleb K-pop aja berbondong-bondong nyari duit di Yaban. Jangan malu-malu. Oppa tuh banyak yang wibu.

Happy new year!

z. d. imama

Thursday, 27 December 2018

Birthday (and year-end) giveaway! Weebs special

Thursday, December 27, 2018 23

Sebelumnya, saya cuma pernah satu kali bikin giveaway. Itu pun tahun 2017. Nah, berhubung pertengahan bulan Desember saya ulang tahun (it's the fifteenth, if you're asking the date), proyek akbar fangirling Chasing MWAM berjalan lancar, kita semua makin dekat dengan pergantian tahun, dan beberapa hari lalu Yesus juga berulang tahun walau konon salah tanggal, maka saya berniat mengadakan giveaway kedua seumur-umur ngeblog. Berbeda dengan yang lalu, yang sarat nuansa riajuu karena bagi-bagi buku, kali ini edisinya 100% Wibu. Barang-barang dengan fungsi yang cukup dapat dipertanyakan―"Nggak pakai juga nggak masalah kan? Nggak punya juga nggak mengganggu kehidupan kan?"―namun tentu saja mampu memberikan kegembiraan sekaligus kepuasan tersendiri apabila berhasil dimiliki. Apalagi kalau barangnya asli dan dapetnya gratis. Enak kan? Enak dong.

Barang-barang apa saja yang hendak saya lepaskan?
Nyooooooh.


Waduh fotonya kurang jelas, Neng. Tenanglah semuanya. Ini cuma gara-gara kamera yang kualitasnya memang tidak mumpuni. Nanti bakal saya unggah foto-foto jarak lebih dekat supaya nggak burem-burem amat lah. Total ada 4 jenis hadiah untuk 6 orang. Bingung? Sini, sini, saya jelaskan satu per satu barang dan pembagiannya.

Boku no Hero Academia Clear File Folder: Yellow


Jika kalian mengikuti akun Twitter saya, atau memang kenal secara pribadi, pasti sudah tahu bahwa saya tuh bucin banget nggak ada obat sama Midoriya Izuku, sosok protagonis dalam serial Naruto-but-elevated berjudul Boku no Hero Academia (My Hero Academia) karangan Horikoshi Kouhei yang saat ini memang superpopuler. Bisa nangis-nangis beler dan baper lah saya tiap baca rilisan bab baru. Malah pernah sampai bikin tulisan rekomendasi di postingan sebelah sini. Begitu lihat pernak-pernik yang berkaitan pun rasanya langsung kepengin punya aja. Sungguh berbahaya dan gelap mata.

Clear file folder, sebagaimana yang kita tahu, yaa fungsinya untuk menyimpan dokumen dan kertas-kertas yang cenderung tersebar semrawut di mana-mana. Misalkan ogah dipergunakan, niat mau sekadar dipajang doang di kamar ya monggo. Ilustrasinya menggambarkan Midoriya Izuku dan sebelas teman-teman sekelasnya di SMA Yuuei kelas 1-A, Departemen Superhero, lagi pakai 'kostum dinas' masing-masing. 

Boku no Hero Academia Clear File Folder: Red


Ukurannya sama persis dengan versi kuning di atas, namun clear file folder ini beda desain gambar dan warna dasar saja. Alih-alih tampil dalam kostum superhero mereka, Midoriya Izuku dan kawan-kawannya cukup nongol dengan seragam SMA Yuuei. Gemes banget kaaaaaaaan. Duh Gusti nu Agung, saya sayang banget dedek-dedek ini... Midoriya kapankah kamu nambah tinggi???

Ngomong-ngomong, clear file folder di atas merupakan original merchandise Boku no Hero Academia yang bekerja sama dengan Tower Records. Jadi nggak akan ditemukan di JUMP Shop. Hehe.

Gundam Coasters



Bagi yang belum tahu coasters tuh benda macem apa: alas gelas (botol juga boleh). Biar nggak gampang kepleset di meja atau permukaan apa pun tempat kita meletakkan gelas dan botol tersebut. Coaster akan dihadiahkan kepada 2 orang. Masing-masing dapat 3 buah coaster yang dipilihkan acak. Biar makin berasa untung-untungannya gitu. Lucu-lucu kaaan? Lumayan banget menghiasi meja kerja. Yah meski bakal ditindes botol Tupperware atau gelas pribadi sih. Sekali lagi, umpama hanya akan disimpen karena sayang makainya juga oke kok..

Asian Kung-fu Generation - Rewrite (Single)


Kaver depan (foto atas) dan belakang (foto bawah)

Single ini berisi dua track, yakni Rewrite dan Yuugure no Aka. Memang bukan rilisan terbaru dari Ajikan―nickname untuk Asian Kung-fu Generation dari masyarakat Jepang yang enggan nyebut nama kepanjangan dan susah ngomong Inggris―bahkan umurnya sudah sepuluh tahun lebih, namun single Rewrite yang dirilis perdana pada Agustus 2004 masih punya kesan kuat bagi saya. Lagu tersebut pernah didapuk sebagai soundtrack anime Fullmetal Alchemist (serial perdana tahun 2003; yang BUKAN Brotherhood), dan selaku manusia yang ngaku-ngaku pemuja Fullmetal Alchemist tentu saja saya hobi dengerin lagu-lagu soundtrack-nya. Dari celotehan sejak awal seharusnya sudah jelas kan ya.. saya nggak akan giveaway sesuatu yang sendirinya nggak demen. I'm not throwing things out. I'm giving them as gifts.

Man with a Mission - distance (Single)


Sebagai perwujudan rasa syukur karena proyek #MengejarAnjingAnjing alias Chasing MWAM tidak mengalami hambatan berarti (selain kepanikan ekstrem sebelum berangkat), saya putuskan memasukkan salah satu rilisan para serigala itu pada kesempatan giveaway. Baguslah jika bisa berpindah tangan ke sesama penggemar Man with a Mission yang belum pernah punya karya fisiknya, apalagi datang ke konser mereka. Lebih kece lagi apabila ada orang yang tadinya nggak kenal bisa jadi penggemar baru Man with a Mission karena kepo setelah baca-baca giveaway ini! Hahaha. Boleh dong, ngarep dikit.

Dibandingkan CD single Rewrite Ajikan, konten CD single distance lebih banyak. Total ada empat track: distance, Focus Light, Wabi-Sabi-Wasabi, dan Fly Again (remix). Walau gambarnya burem parah sehingga huruf-huruf tulisannya rada susah dibaca, begini tampak belakang CD yang menyertakan informasi tracklist:



Sekarang, mari bahas bagian terpenting.

Cara ikut giveaway-nya bagaimana?


Gampang, kok. Cukup tinggalkan komentar di bawah, yang menyertakan hal-hal berikut:

  • Barang yang diinginkan. Contoh: "Aku mau Gundam coaster!!"
  • Tulisan favorit dari segala postingan carut-marut yang ada di blog ini beserta alasannya. Nih, misalnya: "Aku paling suka baca review Resident Evil: The Final Chapter karena kerasa banget emosi ngamuk-ngamuknya dan spoiler semua jadi nggak usah nonton di bioskop. Ngirit deh."
  • Sertakan akun Twitter (plis jangan Instagram, saya nggak punya) yang aktif, atau email. Agar saya bisa menghubungi kalian kalau-kalau menang.
Giveaway akan berlangsung sampai pertengahan Januari. Tanggalnya belum ditentukan sih. Namun kemungkinan pekan terakhir Januari hadiahnya akan dikirimkan. Maklum, nunggu gajian dulu. Jadi masih ada cukup kesempatan untuk iseng-iseng ngulik isi blog pribadi tidak bejuntrung ini dan memutuskan tulisan mana yang paling digemari, atau paling tidak yaaa... meninggalkan kesan tertentu, lah. Sekadar saran: berhubung blog saya sempat mati suri, akan lebih bijaksana jika yang dibaca-baca mulai tahun 2015 saja.

Saya tunggu partisipasinya yah.
Salam wibu!

z. d. imama

Monday, 17 December 2018

Japan Cinema Week 2018: Movie Recap Part #2

Monday, December 17, 2018 4

Baru kali ini ada dua tulisan beruntun dengan opening image yang sama persis. Mohon maaf, saya cuma malas bikin dokumentasi sendiri, dikombo dengan rasa tidak percaya diri untuk foto-foto di lokasi. Barangkali terdengar agak kontradiktif mengingat saat Asian Games 2018 dan Asian Para Games 2018 lalu saya cukup banyak mengunggah foto pribadi, tapi ya emang gini orangnya. Musiman. Sakdhet-saknyet, kalau menurut istilah bahasa Jawa. Anyway, setelah pekan lalu saya menghabiskan dua hari penuh maraton setengah lusin film di Japan Cinema Week 2018 yang diselenggarakan di CGV Grand Indonesia, 7-16 Desember 2018, di tulisan paruh akhir ini jauh lebih toned down dan selow karena saya hanya membeli tiket penayangan dua film karena kebetulan banyak kegiatan kepentok keterbatasan dana.

Yuk mari dibahas.

Yoake Tsugeru Lu no Uta

(Lu Over the Wall)


Seorang siswa SMP penyendiri, Ashimoto Kai, yang hidup di desa terpencil bernama Hinashi bersama kakek dan ayahnya, menghabiskan waktu luang sehari-hari dengan bermain musik dan mengunggah rekaman permainannya ke internet. Suatu hari, akunnya ketahuan teman satu sekolah, Yuho dan Kunio. Mereka mengajak (setengah memaksa) Kai bergabung dalam band iseng-iseng yang dinamai Seiren. Ketiganya pun mulai berlatih diam-diam di Pulau Duyung yang dihindari warga desa lainnya. Ternyata, suara permainan musik mereka menarik perhatian seorang―atau seekor?―putri duyung kecil bernama Lu. Masalah muncul ketika sosok Lu terekspos di hadapan khalayak umum, sementara sejumlah penduduk punya kepercayaan bahwa duyung hanya akan mendatangkan bahaya bagi manusia.

Disutradarai oleh Yuuasa Masaki yang cukup populer di kalangan wibu pengguna Netflix lantaran Devilman Crybaby (meski sejatinya serial anime tersebut rilis belakangan dibandingkan film ini), dan screenplay yang ditulis Yoshida Reiko, Yoake Tsugeru Lu no Uta menghadirkan konsep animasi unik yang bikin bingung memutuskan: ini tuh jadul atau modern? Klasik atau groundbreaking? Tiap desain karakternya terlihat sangat hemat tarikan garis―nggak ada tuh helai-helai rambut njlimet atau kibaran baju digambar mendetil, namun rupanya sama sekali tidak mengurangi pesona filmnya. Yoake Tsugeru Lu no Uta adalah suatu karya yang sebaiknya disaksikan dengan mengosongkan bermacam standar animasi yang pernah kita ketahui dan cukup menikmati frame demi frame yang disuguhkan di hadapan mata. It was colorful, fascinatingly teetering between weird and charming at the same time for the whole 112 minutes.

Meski Yoake Tsugeru Lu no Uta menjuarai Annecy International Animated Film Awards di Prancis tahun 2017, faktor utama yang bikin saya kepengin menyaksikan film ini justru nama penulis skenarionya. Yoshida Reiko. She was the one who wrote the screenplay of my ultimate baper-inducing Koe no Katachi back in 2016. And apparently, one important fact that I only learned a couple weeks ago thanks to Wikipedia, she was also one of the scriptwriters for 1999's Digimon Adventure TV series. I shit you not.

DIGIMON. FREAKING. ADVENTURE.

Dengan kata lain: budhe Yoshida adalah salah satu terdakwa yang telah berjasa menjerumuskan saya ke dalam palung perwibuan dan tidak bisa keluar-keluar lagi. Mana mungkin saya nggak berbakti pada beliau lewat nonton kan?


Kamera wo Tomeruna!

(One Cut of the Dead)


Yassssssss. Akhirnya bisa juga nonton film yang heboh dibahas di media sosial, khususnya Twitter. Begitu keluar dari studio teater CGV Grand Indonesia 90 menit setelah penayangan dimulai, saya bener-bener ngerti rasa frustrasi teman-teman penonton yang kebelet ngebahas film ini tapi nggak bisa lantaran nyaris mustahil membicarakannya tanpa ngasih spoiler. I feel you, guys. Kacau lah film ini. Bedebah luar biasa. Gimana ya... pengin ngakak sekaligus mengumpat di setiap adegannya. Berhubung memang sengaja tidak mencari informasi apa pun tentang Kamera wo Tomeruna, semula saya pikir film ini modelnya kayak found footage gitu lho, macem REC (yang sama-sama tentang zombie apocalypse) atau The Blair Witch Project.

Boy, I've never been more wrong.

Peringatan tunggal yang mampu saya sampaikan mengenai Kamera wo Tomeruna sama persis seperti nasihat yang pernah dikatakan sesama penonton lain: apapun yang kalian rasakan atau pikirkan sepanjang 30 menit awal, TAHAN. Jangan ke mana-mana. HOLD YOUR POSITION. Walk out adalah keputusan paling tidak bijaksana yang mampu kalian lakukan dalam karir seumur hidup sebagai pemirsa film bioskop. Kesabaran akan berbuah manis. Percaya deh. Jika nggak yakin dengan opini pribadi saya, yakinlah pada opini segenap khalayak di luar sana yang sama-sama super terhibur.

It was a fun two weeks. Japan Cinema Week 2018 menghadirkan lebih banyak film dibanding 2017 lalu, padahal slot waktu yang tersedia sama-sama dua minggu. Nggak heran kalau masing-masing kebagian jatah jam tayang dua kali doang, yekan. Meski jumlah film yang menarik dominan jauh, sayang sekali tetap ada beberapa judul yang kayaknya bisa-bisa aja tuh digantikan oleh karya lain yang lebih oke. Misalnya Perfect World (sebagaimana tulisan sebelumnya). Kan mending ditukar apa kek... Laplace no Majo, Uso wo Aisuru Onna, Hitsuji to Hagane no Mori, atau malah blockbuster 2018: Code Blue The Movie. Huft. My wishful thinking.


z. d. imama

Monday, 10 December 2018

Japan Cinema Week 2018: Movie Recap Part #1

Monday, December 10, 2018 4

Desember. Memasuki penghujung 2018, akhirnya datang juga festival penayangan film-film Jepang yang selama ini rutin digelar tahun ke tahun di CGV Grand Indonesia, bahkan sejak namanya masih Blitz Megaplex. Acara yang kali ini bertajuk Japan Cinema Week (atau nama lokalnya: Pekan Sinema Jepang) resmi dibuka hari Jumat, 7 Desember 2018 dan akan berlangsung hingga Minggu, 16 Desember 2018. Rasanya seolah-olah acara ini diadakan untuk merayakan ulang tahun saya. Dasar kegedhen rumangsa. Kepedean kronis, memang. Anyway.. ada lebih dari 30 film produksi Jepang yang diboyong ke Indonesia untuk JCW, dengan tiket dijual cukup Rp25,000 saja per lembarnya. Sebagai manusia kurang hiburan, ingin bersenang-senang, namun keterbatasan uang, tentu saja saya tidak sudi melewatkan kesempatan emas ini. Tahun lalu, saya hanya sempat menyaksikan Yu wo Wakasu Hodo no Atsui Ai dan Shinobi no Kuni. Mumpung sekarang momennya pas dengan bulan kelahiran, saya sudah membulatkan tekad untuk menghabiskan sebanyak mungkin waktu di acara ini. Self-reward for staying alive. Splash that cash, bitch.

Akhir pekan kemarin saya benar-benar seharian menghabiskan waktu di CGV Grand Indonesia. Sitting through movie to movie. Demi meramaikan acara dan kewajiban moral selaku self-proclaimed #BudakYapan, lewat postingan ini saya mau berbagi ulasan serta kesan terhadap film-film yang telah ditonton pekan lalu. Ada beberapa film yang saya rasa wajib ditonton karena berbagai alasan, dan berhubung satu judul hanya mendapat jatah dua kali pemutaran, sayang aja gitu kalau nggak termanfaatkan.

Oke. Saatnya mulai nyerocos.
GAS POL!

Mary to Majo no Hana

(Mary and the Witch's Flower)

Karya debut Studio Ponoc, sebuah studio animasi kemarin sore yang baru mulai beroperasi tahun 2015. Melihat poster, typeface judul, desain karakter, dan berbagai hal sebelum masuk ruangan teater, saya tidak bisa berhenti berpikir: "Yakin nih, yang bikin 'Studio Ponoc'? Bukan Studio Ghibli? Apa jangan-jangan Ghibli re-branding?" dan rasanya tidak aneh jika saya menduga demikian. Belakangan saya tahu bahwa Nishimura Yoshiaki, pendiri Studio Ponoc, dulunya merupakan produser film di Studio Ghibli dan pernah menangani sejumlah karya besar seperti Howl no Ugoku Shiro, Kaguyahime no Monogatari, dan Omoide no Marnie. Bahkan sutradara, animator, serta staf yang mengerjakan film ini pun kebanyakan merupakan mantan staf Studio Ghibli. That very much explains why Mary to Majo no Hana really screams "Ghibli! Ghibli! Ghibli!" all over, from its mere appearance to the storytelling style.

Film berdurasi 103 menit ini mengisahkan petualangan Mary Smith (disuarakan oleh Sugisaki Hana sang Cahaya Asia), gadis kecil yang dititipkan di rumah kerabat jauhnya Bibi Charlotte yang terletak di pedesaan. Bosan setengah mati karena tidak punya teman bermain, suatu hari Mary mengejar kucing milik keluarga tetangga bibinya, Peter, masuk ke dalam hutan. Di sanalah dia mendapati bunga ajaib berkekuatan sihir. Masalah bermunculan karena ternyata bunga tersebut diburu selama bertahun-tahun oleh para penyihir, dan Mary pun harus membereskan semua hal yang berantakan akibat konsekuensi ulahnya.

This movie is fun. Sugisaki Hana does a good voice acting job: she manages to sound really annoying when she's supposed to be. Kamiki Ryunosuke as Peter is lovely, too. And I'll say it again: everything feels and looks like Studio Ghibli 2.0, only with less intriguing scenes. Jadi bagi yang demen nonton film-film dari Studio Ghibli pasti bakal bisa menikmati Mary to Majo no Hana. Satu-satunya perbedaan yang paling terasa adalah nyaris tidak ada adegan-adegan eerily fascinating a la Ghibli di tangan Miyazaki Hayao, seperti Kaonashi ngamuk ngabisin makanan sambil bagi-bagi emas di Sen to Chihiro no Kamikakushi, atau momen di Tonari no Totoro sewaktu Totoro menguap sehingga giginya yang segede roda mobil kelihatan berjajar.

*Next viewing: December 16, 2018 (Sunday). 13:30. 
Ghibli fans, go watch it.


Hachinen-goshi no Hanayome

(The 8 Year Engagement)


Drama romansa template di mana salah satu dari pasangan tokoh utama sakit dan keduanya harus melalui masa-masa sulit. Pengin nikah pun mau tidak mau jadi tertunda delapan tahun. Bicara tema cerita sih, sudah pasaran ya. Namun ada beberapa hal yang menyelamatkan Hachinen-goshi no Hanayome, membuatnya cukup menarik untuk ditonton walau masih tetap tidak menjadikannya terlalu istimewa di antara lautan cerita serupa. Chemistry antara Tsuchiya Tao sebagai Mai dan Sato Takeru selaku Hisashi tidak main-main, saudara sekalian. Nontonnya enak banget. Gemes. Manis tanpa bikin mabok gula. Udahlah kalian jadian beneran ajalah, saya merestui. Hachinen-goshi no Hanayome sangat layak jadi escape route orang-orang yang sejatinya menyukai cerita romansa bittersweet tapi paling nggak tahan ketika ada temen curhat berapi-api membagi kehidupan cintanya, "Eh eh dengerin dong masa cowok gue―!!"

I'm staring at my own reflection here.
#SadarDiri

Selain itu, siapa pun yang nyuruh Sato Takeru untuk potong cepak demi peran ini: you seriously deserved a raise. To date, I never really think of Sato Takeru as one of the 'pretty boys' like Miura Haruma or Okada Masaki. Gimana ya.. dia tuh 'keren' alih-alih 'ganteng' atau 'cowok cakep'. Sehingga tiap kali didandanin a la masyarakat pada umumnya efek yang ditimbulkan makin menggelegar karena rasanya nggak asing ada mas-mas berpenampilan macam itu di sekeliling. Duh. Memicu halu.

*Next viewing: December 15, 2018 (Saturday). 15:15.
Watch only if you're into this genre. Otherwise, you may pass this and there will be no regret. Bukan film yang harus dibela-belain nonton ketika kalian sama sekali tidak tertarik dengan kisah cinta berhias derita, kok. 


SUNNY: Tsuyoi Kimochi Tsuyoi Ai

(SUNNY: Our Hearts Beat Together)


Hidup Abe Nami (diperankan salah satu tante favorit saya, Shinohara Ryoko) sebagai ibu rumah tangga mulai terasa muram. Suaminya cuma peduli pada pekerjaan dan anak perempuan tunggalnya sedang masuk masa membangkang. Saat menjenguk ibunya di rumah sakit, tanpa sengaja Nami bertemu Ito Serika (Itaya Yuka) salah seorang sahabatnya di SMA yang juga dirawat inap karena menderita kanker kronis dan divonis dokter hanya punya sisa waktu hidup sebulan lagi. Kepada Nami, Serika minta tolong untuk mengumpulkan kembali anggota geng SMA mereka yang tercerai-berai selama 26 tahun lamanya.

Remake dari film Korea bertajuk sama yang dirilis 2011 lalu, SUNNY: Tsuyoi Kimochi Tsuyoi Ai berkhianat dari materi asli pada satu titik tema: zaman. Jika versi Korea berlatarkan present day versus Korea in 80s, adaptasi Jepang menyeret kita ke tahun 90-an di mana hampir semua cewek-cewek SMA jadi gal berseragam loose socks, rok pendek hasil digulung, sweater Ralph Lauren, dan pergi sekolah dengan wajah full makeup ngejreng warna-warni. Sepulang sekolah nongkrong di family restaurant atau kelayapan keliling Shibuya, Ikebukuro, Shinjuku, dan baru pulang malam hari. The time when Amuro Namie and TRF was the peak definition of cool, when Hamasaki Ayumi hadn't even debuted.

SO FUN SO GOOD

Meski nyaris segala detil plot setia mengikuti kisah asli versi Korea,  namun keputusan menggeser era remaja karakter-karakternya ke tahun 1990-an dan bukan 1980-an adalah hal terbaik. 1990s Japan was explosive. Rasa-rasanya SUNNY nggak bakal se-charming ini jika yang diangkat bukan tahun-tahun kejayaan cewek-cewek gal yang rusuh, komunal, dan berisik ampun-ampunan. Hirose Suzu yang ketiban sampur memerankan Abe Nami ABG juga tidak mengecewakan, namun bintang sesungguhnya dalam setiap adegan kilas balik masa muda justru Yamamoto Maika, portraying young leader of the gang Ito Serika. I've been watching her and for the last two years I can tell that she improved a lot.

*Next viewing: December 14, 2018 (Friday). 20:45. 
I'd say, catch this movie. Jam penayangan SUNNY selalu paling larut karena memang cukup banyak dialog eksplisit dan unsur kekerasan berupa bullying. Viewer discretion advised. Not for kids. Plis lah jangan jadi penonton nggak bertanggung jawab yang ngajakin anak-anak kecil menyaksikan film yang nggak sesuai usia mereka tapi lantas ngomel-ngomel sendiri ketika ada dialog-dialog relatif dewasa. 


Inori no Maku ga Oriru Toki

(The Crime That Binds)


Salah satu film terbaik yang masuk ke lineup Japan Cinema Week 2018. Diadaptasi dari novel seri tentang detektif polisi Kaga Kyoichiro karya novelis populer Higashino Keigo, Inori no Maku ga Oriru Toki sukses membuat saya (dan banyak orang di studio) sesenggukan di bangku masing-masing. Padahal saya sudah nonton lantaran DVD film ini belum lama rilis. Tapi ternyata ketika disajikan lewat layar lebar, efeknya tetap nampol. Ada sejumlah adegan yang bikin saya kesulitan bernapas saking nyeseknya. This story doesn't sugarcoat things; it tells everything as it is and that's what makes it so gripping. Dibandingkan film-film tentang Kaga Kyoichiro sebelumnya―Nemuri no Mori, Kirin no Tsubasa―, Inori no Maku ga Oriru Toki terbilang paling tepat dosis. Right amount of drama. Right amount of funny scenes for you to breathe. Right amount of suspense. Right amount of twists. Right timing of revelation. And every time you feel choked in your seat, it always comes naturally. Bisa dibilang, tema utama Inori no Maku ga Oriru Toki adalah cinta. Eksplorasi seberapa jauh kekuatan perasaan bisa menggerakkan manusia berbuat sesuatu. Sulit sekali ngomongin film ini tanpa ngasih spoiler. Jadinya yaaa kurang lebih segini saja potongan cerita yang bisa saya paparkan: 

Detektif polisi Kaga Kyoichiro (lagi-lagi dibawakan dengan apik nan karismatik oleh Abe Hiroshi) dan keponakannya, Matsumiya Shuhei (Mizobata Junpei), dihadapkan pada pembunuhan misterius yang mana pria tersangkanya sama sekali tidak ditemukan jejak. Penyelidikan nyaris buntu, tetapi rupanya kunci pemecah kasus tersebut ada pada sebuah benda yang diperoleh Kaga enam belas tahun silam.

*Next viewing: December 16, 2018 (Sunday). 15:45. 
WHAT ARE YOU WAITING FOR??? I swear to God, purchase your ticket and drag your ass to CGV Grand Indonesia. Nggak akan ada ruginya.


Teiichi no Kuni

(Teiichi: Battle of Supreme High)


Teiichi no Kuni bukan film baru kinyis-kinyis. School comedy masterpiece ini dirilis tahun 2017, dan terus terang saya sudah khatam menyaksikan via DVD-nya sejak sepertiga awal 2018. Saya betul-betul menikmati menit demi menit kegilaan yang mengalir lewat layar laptop pribadi. Bahkan saking sukanya, saya pernah mengunggah ulasan rekomendasi singkat lewat akun Twitter, tepatnya bulan Maret lalu di sebelah sini. Apakah masih dirasa penting untuk nonton di bioskop? YA. Apakah layar laptop atau televisi tidak cukup? NGGAK SAMA SEKALI. Holy hell, no. Teiichi no Kuni's exaggeration on everything is beyond hilarious and the power of big screen drastically multiplies the fun and craziness level. Seisi teater ngakak dan cekikikan tanpa terkontrol sepanjang durasi; you are guaranteed a lively movie experience.

Akaba Teiichi (Suda Masaki) berambisi menjadi Perdana Menteri Jepang, dan untuk mencapai cita-cita itu, dia harus memulai langkah awal sebagai ketua OSIS SMA Kaitei, sekolah prestisius yang dikenal telah mencetak satu demi satu politikus elit dan perdana menteri. Perjalanan Teiichi mewujudkan ambisi makin seru dengan kehadiran childhood rival licik Tougou Kikuma (Nomura Shuhei), anak beasiswa serba bisa dan sayang keluarga Ootaka Dan (Takeuchi Ryoma, yang tiap kali punggungnya disorot langsung bikin pening), senior demokratis Morizono Okuto (Chiba Yudai, Lord of Youthful Face), dan sahabat Teiichi yang rada feminin tapi ternyata teknisi handal selevel Profesor Agasa, Sakakibara Koumei (Shison Jun).

*Next viewing: December 13, 2018 (Thursday). 18:00. 
Salah satu penampilan tergoblok Suda Masaki―I say this in a very, very good way―dan terus terang saya tidak bisa membayangkan orang lain memerankan Akaba Teiichi. This role fits him like a glove. Grab your ticket and have tons of fun in there.


Perfect World: Kimi to Iru Kiseki


I'll be frank. Not even Sugisaki Hana could save this movie from its mediocrity. Mengisahkan perjalanan romansa Kawana Tsugumi (Sugisaki Hana) dan cinta pertamanya, senior populer semasa SMA, Ayukawa Itsuki (Iwata Takanori) yang kini harus menjalani hidup di atas kursi roda akibat kecelakaan fatal di tahun ketiga kuliah, Perfect World bisa-bisanya sama sekali tidak meninggalkan kesan apa-apa pada diri saya. Hachinen-goshi no Hanayome, meski nggak spesial, masih terasa lebih superior dibandingkan Perfect World. I have my fair share of mediocre romance movies and this one falls right in the sea. 102 menit belum pernah berasa selama ini. Lambaaaaaaaaat bukan main. Gimana ya, padahal kalau dipikir-pikir aktingnya Iwata Takanori, Suga Kenta, Oomasa Aya, dan jajaran pemeran pendukung lain pun nggak seburuk itu. Is this bad directing? Bad screenplay writing? Perhaps both? I can't say for sure. Not really my expertise.

*Next viewing: December 16, 2018 (Thursday). 13:30. 
Kecuali ingin numpang tidur di bioskop, atau punya duit maupun waktu luang kebanyakan, mendingan beli tiket film lain deh. Mary to Majo no Hana yang sudah dibahas di atas, misalnya. Jam pemutarannya kan barengan tuh. Maafkan saya, Sugisaki Hana. In my defense, Perfect World doesn't deserve you at all. Untung theme song "Perfect World" dari E-girls bagus. Ending credit-nya lebih menarik disimak daripada keseluruhan film. Lmaooo.


Siapa di antara kalian yang hendak―atau malah sudah―bergerilya di Japan Cinema Week juga? Ada rekomendasi film lain? Silakan berbagi di kolom komentar yah jika berkenan. Tulisan ini bersambung ke Part #2, yang bakal diunggah minggu depan!

z. d. imama

Monday, 19 November 2018

Man with a Mission "Chasing the Horizon" Tour Final: ONE MAN 2018 in Koushien Stadium, Japan

Monday, November 19, 2018 2

Apparently I'm still alive. Phew. That's quite a miracle. Akhirnya, akhirnya, AKHIRNYA. Pelaksanaan ibadah akbar yang bikin perut saya mules-mules saking nervous-nya sejak pertengahan tahun pun usai. Proyek #MengejarAnjingAnjing2018, atau boleh juga disebut dengan #MengejarSerigalaGantengGanteng2018, akhirnya sudah curtain call. It has become a past tense. Rasanya masih agak sulit percaya bahwa saya, manusia semenjana yang sehari-harinya berkutat dengan hidup ala kadarnya di sebuah negara dunia ketiga, jadi satu di antara 45,000 manusia yang membanjiri permukaan Hanshin Koushien Stadium, Hyogo, Jepang, tanggal 17 November 2018 kemarin untuk menyaksikan Man With A Mission.

This is going to be another unbelievably long of a concert rants and review. If you  still want to proceed, don't tell me I did not warn you. Brace yourself. OK? OK. Saya akan menuliskan full setlist beserta beberapa cerita maupun hal-hal random yang muncul ketika satu per satu lagu dibawakan (sekaligus melampiaskan perasaan fangirl). 

Here we go. 


Setelah sebelumnya menjalani antrian panjang demi mendapatkan merchandise konser, kali ini antrian dilakukan untuk masuk ke stadion. Sejak masuk barisan yang terbentuk satu jam pra konser, saya cuma butuh sepuluh menit di dalam lini sebelum berhadapan dengan petugas pemeriksa tiket yang merobek tiket saya sebagai bukti masuk. Did you read that correctly? FREAKING. TEN. MINUTES. Gile. So pro. Mobilisasi 45,000 penonton dilakukan cukup selama satu jam, yang mana antrian untuk masuk baru mulai terbentuk beberapa saat lebih awal. It was already cool back then when I was in ONE OK ROCK Ambitions Asia Tour in Singapore 2018's crowd, but this one was mindblowingly exceptional. This is military level of effectiveness and precision. As expected, Japan. You are indeed THE Shit. Saya hampir yakin semua konser di venue-venue gede Jepang penanganannya sekece ini, siapa pun musisinya.

Berhubung perolehan tiket konser di Jepang dilakukan lewat undian, penonton tidak bisa rebutan memilih posisi nonton paling pewe. Kebetulan kali ini saya dapat bangku tribun. Agak jauh sih dari panggung, tapi lokasi saya memungkinkan nonton tingkah polah kerumunan di standing arena yang tidak jarang kelewat heboh dan menambah keseruan. Ngomong-ngomong, sepanjang sebagian besar konser saya tidak mengambil foto, apalagi merekam video (dilarang oleh panitia, dan sejauh saya tahu sih orang-orang di sekeliling patuh-patuh; nggak ada yang unggah Instagram Story cuma demi eksis). Beberapa fancam yang muncul diperoleh setelah encore usai dan Spear Rib memperbolehkan penonton memotret sepuas hati.

Bukti menunaikan ibadah, Part One

Bukti menunaikan ibadah, Part Two.

Tepat pukul 16:00, jajaran layar besar di belakang panggung menayangkan skit video komedi yang intinya adalah pemaparan peraturan selama konser berlangsung. Tidak boleh merekam video dan mengunggah ke internet. Ponsel disetel ke posisi silent. Tidak terima telepon saat konser karena menganggu pengalaman nonton orang lain. Basically all that common sense. Right after the video ended, white smoke filled the stage. The lights were on. The intro started.

The crowd cheered.
I screamed.

Sesaat sebelum konser mulai. (Picture source: here)

  • M1. 2045
Ini titik di mana saya masih nyubitin lengan sendiri saking masih meragukan hidup yang dijalani. Tokyo Tanaka sounds exactly the same as recording, booming and very much regal, but with heavier breaths. Nggak heran sih. Siapa juga yang nggak repot nyanyi pakai full-face mask yang sekali pandang udah kelihatan kalau berat dan panas? Perpaduan vokal dengan Jean-Ken Johnny (hereinafter referred to as "JKJ" or "Johnny") rupanya jika didengar secara live memang sebagus itu.

  • M2. Broken People
The crowd in arena was awesome. Everyone was awesome. Sorakan "Yeah you goddamn broken people!" berhias broken English dari penonton menggelegar berkali-kali setiap chorus dinyanyikan. Here, I have made peace with my reality. I am here in MWAM's concert. Broken People yang digeber persis setelah 2045 membuat saya berpikir apakah mereka berniat memainkan lagu dengan urutan sama seperti album Chasing The Horizon. But no, apparently they didn't have such intention because after that song, we jumped right into...

  • M3. database
Lagu wajib setlist MWAM pertama yang dibawakan di konser ini. Sejak dirilis, saya kayaknya nggak menemukan performance yang tidak menyertakan database. Emang beneran wajib hukumnya. Kalau nggak nongol ya kagak afdol. Semua orang jejingkrakan gila-gilaan sepanjang durasi lagu ini dengan lengan terangkat ke udara, bersorak "Database!! Database!!" 

  • M4. Freak It!
Meskipun tanpa Tokyo Ska Paradise Orchestra, Freak It! tetap menyenangkan. Penempatan track ini setelah database juga terasa menyegarkan karena aura lagu yang lebih adem dan cheeky namun masih memberi kesempatan untuk berseru ke udara di chorus. Shake down your body!

Begitu musik berhenti, penonton disapa. Sesi MC singkat pertama sekaligus curi-curi kesempatan bernapas buat Tokyo Tanaka. Memperkenalkan diri sebagai Man With A Mission, mengucapkan terima kasih karena sekian puluh ribu orang sudah berkumpul di gelanggang Koushien demi menyaksikan konser mereka. Sempat pula minta orang-orang yang berasal dari selain Prefektur Hyogo untuk angkat tangan, ngecek berapa banyak manusia luar provinsi, kemudian lagi-lagi berterima kasih karena udah bela-belain walau jauh. Hmm.. jadi penasaran bagaimana reaksi mereka jika tahu ada cewek jelata Indonesia nyasar ke konsernya...

Freak out the party! (Source: official media picture)

  • M5. TAKE WHAT U WANT
Going upbeat again, TAKE WHAT U WANT elicited huge cheer from the crowd. Maklum lagunya lumayan lawas kan. Penonton yang sudah berkali-kali hadir di konser MWAM biasanya ada prediksi track-track apa yang rajin keluar. Terus terang... saya sendiri malah biasa aja sama lagu ini. Rasanya nggak istimewa-istimewa banget kok. Wakaka. Mohon maaf atas komentar kurang ajar barusan.

  • M6. Break The Contradictions
We've entered slower songs part. Nggak bisa dibilang ballad juga sih... tapi efeknya tetap berasa banget jika dibandingkan jajaran lagu-lagu sebelumnya yang cenderung angot-angotan. Di sini penonton banyak yang merangkul bahu kanan-kiri mereka dan menggoyangkan tubuh seiring melodi. Kenal nggak kenal, pokoknya sepanjang konser harus ikrib. It was cold and rather windy in such an open venue, but somehow I felt so warm.

  • M7. higher
Bagi saya, higher adalah lagu perdamaian a la Man With A Mission. It feels so calming and soothing. Begitu intro dimainkan, kelima layar besar di panggung menampilkan berbagai pemandangan di muka bumi. Macem channel National Geographic gitu dah. Sungai, pegunungan, wajah-wajah manusia tersenyum, langit membentang... sesuai dengan liriknya "...daichi fumishimete, we jump in the land to dance in the air so high"At this point my eyes started to water.

Tapi batal nangis. Alasannya? Skit video (lagi) yang diputar demi mengisi kekosongan saat water break. Jadi konon, Kamikaze Boy, bassist sekaligus chorus, belakangan ini mulai dirasa banyak gaya oleh rekan band dan para staf. Dulu sosoknya rendah hati dan nggak merepotkan, suka menolong bla bla bla... sekarang mulai suka sok ngartis dan bukti perubahan kelakuan ini adalah: beli sushi nggak dimakan sampai habis. Bingung? Ya sama. Bukti macam apa pula itu Fernando Jose???  Nah, agar Kamikaze Boy nggak kegedean kepala lebih dari yang sudah, JKJ memutuskan merencanakan prank dengan modus syuting iklan palsu. Skenarionya, di tengah-tengah pengambilan video, Kamikaze Boy digiring ke area yang sebelumnya sudah dipersiapkan lubang biar dese jatuh kejeblos di hadapan kamera. Sang korban yang kegirangan karena (disangkanya) berhasil terpilih tampil solo di sebuah iklan produk minuman yang diprediksi populer tahun 2800 pun dengan sukses terperosok ke liang sedalam dua meter. Tanpa kecurigaan sama sekali.

Taek banget sumpah.

Menggebuk drum dalam damai.  (Source: official media picture)

  • M8. My Hero
OK. BYE. FORGET WHAT I SAID. Air mata saya akhirnya menetes di tengah-tengah bergulirnya intro My Hero. 'Batal nangis' apaan, anjir. Padahal mestinya ini bukan lagu yang bikin mewek. But in my defense, the moment strings instrument started to play right when the fire from pyrotechnics burst into the sky, everything sounds a whole lot more intense and I could do nothing but cry. Cucok meong. Pas dengan kondisi psikologis saya yang banyak galau masa depan dan bimbang masa kini. Saya sama sekali tidak membayangkan akan ada kolaborasi dengan sejumlah musisi string. Kirain cuma Man With A Mission doang. Langsung dah auto beler. Tell me my hero, where you're going? What do I need to end my war?

  • M9. GET OUT OF MY WAY
Another made-for-arena kinda song. Sepanjang lagu ini, semua dengan penuh semangat mengangkat kedua lengan bergantian sembari meneriakkan "Get out of my way!" tiap kali Tokyo Tanaka merepetkan lirik chorus yang cepetnya minta ampun itu.

  • M10. Dead End in Tokyo
AAAARRRRRRRRRGGGHHHH. Aaaaaarrrrrgggh. Lagu mabok favorit saya. This. Song. Is. My. Absolute. Jam. Spontan saya menjerit begitu "In the dead end street in Tokyooo" mengalun, dan mulai detik tersebut sampai lagu habis saya sibuk singalong dari lubuk hati sembari bergoyang-goyang bak manusia kebanyakan menenggak miras. Well, to be fair, di lokasi konser memang disediakan kios bir sehingga jika memang berkenan ya bisa banget lah ngibing sambil berakrab-akrab ria dengan alkohol. I have unexplained attachment with this song. Like, way too attached. I really do. Barangkali karena sebagian liriknya mengisahkan tentang gadis perantau. Barangkali karena saya kerap merasa terjebak dan tersesat dalam hidup. Barangkali karena... ah, terserahlah. Whatever the reasons might be, dancing to this song is one form of pure happiness I can treasure.

Hey mister, I got everything that you want, so dream on. (Source: official media picture)

Moving to MC session. Nggak ngerti lagi udah berapa sering ucapan terima kasih disampaikan ke penonton yang bikin penutup tur di Koushien bisa terlaksana. "Malam ini memang berkumpul 45,000 orang di hadapan kami, dan bagi kalian yang sebelumnya nggak pernah ke konser kami sebelumnya, sekadar pengumuman aja: biasanya venue konser Man With A Mission nggak segede ini". Ngakak sih, namun sebagai salah satu fans yang tahu bahwa mereka lebih sering keliling Jepang melalui pertunjukan live house atau ikut festival musik, pengakuan jujur ini bikin rada terharu juga. Pemicu baper.

  • M11. Find You
One more beler-inducing track that night. Sebelum menggeber Find You, JKJ sempat menuturkan rasa terima kasihnya untuk yang kesekian belas kali pada fans yang sudah menemukan Man With A Mission dan mendengarkan musik mereka, serta mengungkapkan harapan bahwa semoga sampai kapan pun bisa tetap saling menemukan satu sama lain. Wah kacau. Saya lemah banget sama yang model-model begini; dan terbukti. Sesenggukan di tempat dalam waktu 10 detik. Apalagi mulai memasuki lirik pre-chorus, "Hajimari no ibuki owari no majinai, nandomo kasanete nemuru", penonton satu per satu mulai menyalakan lampu senter ponsel masing-masing dan mengarahkan ke udara. Menerangi seisi Koushien yang cahaya panggungnya disetel redup.

Auto cireumbay.

Di bagian terakhir lirik sebelum outro, saya benar-benar banjir air mata. Sibuk banget sumpah. Sebelah tangan melambaikan ponsel seiring melodi di udara, tangan yang satunya lagi ngelap-ngelap pipi yang basah berleleran. Thank you so much for the music, Man With A Mission. I will find you again, I will go finding you even if the world stops... 

  • M12. medley: distance ~ Dive ~ Smells Like Teen Spirit [NIRVANA cover]
Agak kecewa distance dan Dive nggak dibawakan secara utuh namun digubah jadi short version. The medley was awesome, though. Lagu-lagu dari album lawas memang kesannya agak beda dibanding yang baru. Banyak fans sudah familier dan hapal tindakan-tindakan apa yang biasa dilakukan demi meramaikan suasana. Anak kemarin sore kayak saya tinggal tengok kiri-kanan, kemudian nyontek mereka semua pada ngapain. Mengayunkan tangan? Ayoh. Ninju udara? Hokyah. Lonjak-lonjak di tempat? Bring it on. Singalong? Hello, hello, how low?


Pindah ke panggung di seberang arena. (Source: official media picture)

  • M13. Instrumental break: Spear Rib & DJ Santa Monica (WELCOME TO THE NEW WORLD)
Sementara Tokyo Tanaka dan JKJ minum sebentar, panggung dikuasai Spear Rib dan DJ Santa Monica. Sesaat suasana berubah jadi macem DWP. DWP yang beneran, bukan Dibyo Warehouse Project.

  • M14. Sleepwalkers
Nothing here to worry, nothing here to weep, tell me one good story to let it go and sleep. Saya tidak menyangka penampilan lagu Sleepwalkers akan jauh, jauh, JAUH lebih hore, oke, dan menghanyutkan ketimbang versi rekamannya. Teduh banget. Payung aja kalah teduh. Dibawakan secara akustik dengan tambahan instrumen strings, penonton melengkapi suasana lewat mengulang skenario ketika Find You: menyalakan lampu senter pada ponsel. Bedanya, ready stock air mata saya sudah ludes ditumpahkan saat My Hero dan Find You. Kali ini, saya agak berkaca-kaca. Nggak sampai mewek. 

Hanging with the fairies, huh? (Source: official media picture)

  • M15. Overture + Hey Now
It won't be a lie if I say that Hey Now performance was one of the strongest highlights of this concert. Setelah overture panjang yang menjembatani mood ballad Sleepwalkers dengan tempo upbeat Hey Now, mendadak di tengah-tengah lagu penonton tribun diminta mengecek bagian bawah bangku dan mengambil balon tiup yang sudah dipersiapkan. Sementara geng tribun meniup balon, gerombolan arena diarahkan untuk jongkok serendah mungkin, dan di hitungan ketiga, bersamaan dengan musik, penonton arena melompat tinggi sementara balon-balon yang tadi ditiup serentak dilepaskan ke udara. 

Pemandangan seluruh penjuru Koushien kala itu seperti ini:

Itu semua balon, oke. Bukan replika sperma beterbangan. (Source: official media picture)

  • M16. Raise your flag
RED. RED EVERYWHERE. At this point I assume it's safe to conclude that Raise Your Flag is Man With A Mission' war cry. Pecah banget koor penonton di bagian intro. Semuanya kompak, "Wooooo ooooooh!!" berasa pasukan mau maju perang. Berasa siap disuruh masuk Gundam kapan saja. Berasa sewaktu-waktu bisa merangsek tawuran versus siapa pun. Moshing pit di standing arena demi apa pun ganas banget pas lagu ini. Bergolak. Gerak terus kayak lahar dalam kawah Mordor.

Berlomba menjabat tangan oshi(Source: official media picture)

  • M17. Please Forgive Me
Perfect. Sempurna. Tanpa cela. BAGUS BANGET ANJENG. Please Forgive Me, though a great track, is rather unexpected to sound incredibly good in live performances. Saya nggak menduga versi live-nya bisa demikian mantap jaya. Buildup dari mellow ke paruh akhir yang lebih rock-ish dan bertempo cepat benar-benar bikin hampir nangis. Hampir. Maklum, mata saya masih kering akibat Find You dan My Hero. If there is only one song of Man With A Mission that a fan must listen to its live version, I'd highly recommend this track. Sekadar pesan layanan masyarakat: meski judulnya tentang permintaan maaf, ini bukan lagu yang tepat untuk diputar kala hari raya Idulfitri. Yaiyalah. 

  • M18. FLY AGAIN
Saya mau jujur dikit deh. Penempatan FLY AGAIN di sini tuh rada aneh, kalau nggak boleh dibilang aneh banget. Mood-nya nggak selaras. Agak timpang gitu lah. Untung lagunya seru sehingga masih bisa dinikmati. Untung sayang sama band-nya (ini sih yang terpenting; segalanya lebih gampang diampuni).

  • M19. Chasing The Horizon
"Our last album was titled 'Chasing The Horizon' in a hope that we can keep chasing new scenery with our music. Today, we have saw the best scenery thanks to your participation. Please keep running with us, a weird band consisting of five wolves who created fake commercial videos just to prank a friend. Please let us be in your care," they conveyed that message before getting into the song. Siapa juga yang gak baper ya diomongin gitu sama idolanya. Suer dah demi apa. Hobi bener bikin dada nyesek. Di titik ini, saya nangis lagi. Mewek on repeat.

  • ENCORE: M20. Take Me Under
FUCKING FINALLY. Sejak medley digeber, saya sudah cranky sendirian mempertanyakan kapan Take Me Under dimainkan. It's worth all the wait. It's definitely worth all the waiting hours. Energi semua orang seolah-olah selesai di-recharge penuh dalam sekejap. Lonjakan-lonjakan dan ayunan lengan-lengan di udara terasa full throttle, bak konser baru saja dimulai. SO TAKE ME DOWN WITH YOUUUUUU!

  • ENCORE: M21. Winding Road
Suara Tokyo Tanaka kala menyanyikan "Someday we will find out the truth..." sanggup bikin ketuban pecah. So much depth. So much intensity. I shit you not. This track is definitely heavenly. Kayaknya nggak berlebihan apabila saya bilang betah ngedengerin lagu ini terus-terusan sampai tahun baru 2019.

  • ENCORE: M22. Emotions
I did not expect this. I DID NOT. For real. Sehingga tatkala intro Emotions yang  bercampur suara menggema menyerupai narator gim genre petualangan berkumandang di sekujur sisi Koushien, saya mengeluarkan jeritan melengking bak kucing keinjek ekornya. Man, this is pleasant surprise. Kirain tuh udah kelar gitu aja encore... mentok sampai Winding Road doang. Eh ada Emotions dong huhu membludaklah ratapan bahagia hamba di tribun Koshien. You're the ones who changed my world I know by your hands, wolves. 

Setelah musik berhenti dan gelegar tepuk tangan yang membahana sepanjang sekian harakat mereda, Spear Rib secara resmi mengangkat larangan mengambil foto dan video. "Ayo sini kalian boleh foto-foto kami sepuasnya!" dia bilang sambil jalan-jalan sepanjang panggung, yang berujung peluk-pelukan Teletubbies dengan Kamikaze Boy. Widih dalam sekelebatan mata langsung semua tangan di udara megang ponsel. Jeprat-jepret. Rekam-rekam. And of course: the mandatory group shot.

Semuanya aja kalian suruh topengan. (Source: official media picture)

Iya iya mas. Kami semua juga sayang kok. (Source: here)

I still can't believe the concert has become a thing in the past.


Rasanya masih terlalu nyata. Kepala nggak cukup punya kesadaran untuk memproses. It was an absolute happiness; a dream came true. Chasing the wolves all the way to another horizon has gotten a checklist. Done. Nggak nyangka sedikit pun bakal bisa begini. This will be one of the greatest treasures in my life and I will do my best not to make it the last thing. Tolong kalian nggak usah pakai acara bubar atau kenapa-napa dulu ya. Oke? Oke.

Sebelum penonton dibubarkan, setiap anggota Man With A Mission melemparkan suvenir kepada kerumunan di standing arena. Yah, itung-itung hadiah jerih payah desek-desekan dan berdiri sepanjang dua jam lebih lah. Sementara itu, saya sibuk memunguti kembali balon yang berjatuhan di area tribun untuk dibawa pulang sebagai bentuk fisik kenang-kenangan.

Aaaaaand... it's a wrap. (Source: here)

Thank you, Man With A Mission.

See you again. Hopefully it doesn't take too long. Semoga di kesempatan berikutnya saya bisa dapat standing arena walau harus mewaspadai moshing pit. Let me get drunk on Dead End In Tokyo, next time. GAW!

z. d. imama