Friday, 22 May 2020

#NostalgiaInQuarantine: rewatching Kamen Rider Kuuga

Friday, May 22, 2020 1


Usai berbulan-bulan meninggalkan blog ini mati suri, akhirnya saya menulis lagi. It's baffling how the past few months feel like a different time. My yearly planner (which now has turned into a quarantine agenda) looks wild, especially in March. Awal bulan Maret saya masih menandai banyak tanggal konser, pergi ke acara nonton DVD konser rame-rame, dan di akhir bulan yang sama sudah masuk masa karantina. Semua acara ditunda. Semua rencana dibatalkan. 

It feels surreal even now.
Last year seems so far away; a totally unrecognizable era.

Syukurlah kantor saya mampu menerapkan sistem bekerja dari rumah, sehingga ada sedikit waktu yang biasanya saya gunakan untuk komuting yang bisa dialihkan ke hobi (yang seabrek-abrek ini). Saya pun memutuskan menggeledah koleksi video-video serial, variety show, dan film yang masih belum sempat saya tonton. Membaca tumpukan buku-buku yang menunggu disentuh dan antriannya makin panjang seiring hari. Menyibukkan diri di kosan. Lumayan untuk mengalihkan perhatian, konsentrasi, sekaligus energi, apalagi pemerintah Indonesia embuh banget dalam penanganan pandemi ini. Tiap buka berita bawaannya ingin jambak-jambak jembut rambut orang saking dongkolnya.

Okay. So,

Kamen Rider Kuuga.


Dulu semasa saya kanak-kanak―meski saya tidak ingat seberapa kanak-kanaknya diri ini―, serialnya sempat ditayangkan di stasiun televisi lokal. Terus terang, saya hampir sama sekali nggak punya memori yang tersisa tentang storyline dan plot Kuuga. Ingatan saya berhenti di Odagiri Joe memerankan Godai Yusuke, pengembara yang kalau sudah bokek ya balik kerja sambilan di sebuah restoran rumahan milik pakdhe-pakdhe yang konon dulunya juga hobi berkelana. Naah... berhubung Kuuga banyak digaung-gaungkan sebagai salah satu Kamen Rider terbaik dan saya kenal orang-orang yang suka bangetbangetbanget dengan serial ini, saya memutuskan untuk rewatch. Dua puluh tahun setelah serial ini tayang di layar kaca masyarakat Jepang.

Does this live up to today's standard?

The answer is YES. 

In all capitals.

Godai Yusuke, jika dipikir-pikir, sebenarnya digambarkan sebagai sosok protagonis yang terbilang misterius. Tidak 'tersentuh'. Sepintas dia kelihatan kayak cowok kelewat optimis yang happy-go-lucky setiap hari dan selalu memperbaiki mood dan mental orang-orang di sekelilingnya, tetapi di sisi lain penonton tidak pernah dibiarkan terlalu terlibat dalam pergolakan batin yang dia alami. Bahkan pada saat dia kalah bertarung. Yusuke selalu mengacungkan ibu jari dan bilang, "Nggak apa-apa" atau "Semua akan baik-baik saja" ke semua orang dengan wajah penuh senyum. Kita sebagai penonton—atau setidaknya saya—nggak mendapatkan gambaran akurat gimana perasaan dia dengan potongan-potongan kebenaran yang semakin terkuak di tiap episode. Penonton tidak diperlihatkan secara eksplisit. Nggak ada tuh adegan Yusuke berteriak frustrasi, kebingungan dengan pilihan-pilihan yang harus dia ambil, apalagi mutung gara-gara dialah satu-satunya yang harus ambil pengorbanan terbesar. Titik terdekat saya dalam upaya memahami isi hati Godai Yusuke adalah melalui posisi Sawatari Sakurako, mahasiswi master arkeologi yang sepanjang serial kerjaannya meneliti transkrip huruf-huruf Linto dan Gurongi, juga menerka-nerka kondisi psikologis mas Yusuke. Cuma sekadar tebak-tebak buah manggis.

Jangan paksa aku untuk selalu optimis, Bang~

Godai Yusuke ikrib sama Pak Polisi Ichijou sampai jogging bareng pagi-pagi.

Support system dalam Kamen Rider Kuuga juara abis. Godai Minori, adik satu-satunya sekaligus anggota keluarga terdekat Yusuke tahu rahasia identitasnya dan bersikap suportif. Yah, meski di awal kisah dia sempat keki dan cemas, sih. But who wouldn't anyway. Bahkan kawan di pihak kepolisian yang semula cuma asisten inspektur Ichijou Kaoru aja, makin ke belakang semua orang di Unit Investigasi Gabungan Khusus jadi ngasih kepercayaan dan dukungan ke Kuuga selaku "Unidentified Creature No. 4". Kuuga memang nggak diberikan 'temen' sesama Kamen Rider seperti sejumlah serial Heisei lain, namun dia juga tidak pernah benar-benar dibiarkan berperang sendirian.

Relasi Yusuke-Ichijou digambarkan bromance maksimal. Nggak ngerti lagi. Saya belum sempat ngulik jurang gelap internet untuk meneliti lebih dalam sambil berupaya membuktikan hipotesis, tapi saya tidak akan heran jika menemukan fanfic BL yang mengusung mereka berdua sebagai pasangan. Sedekat itu. Seuwu itu. Apalagi waktu mendekati pertarungan pamungkas... 

Makin-makin, lah.

Kamen Rider Kuuga tidak diperlihatkan tiba-tiba jago. Ada momen ketika Yusuke kewalahan menggunakan kekuatannya. Ada momen ketika dia harus berlatih ekstra karena kekuatan lawan di luar kemampuannya saat itu. Ada momen ketika nasib hidup-matinya justru bergantung di keputusan musuh yang enggan menang dengan gampang karena nggak seru. Ada momen ketika Yusuke harus didorong faktor eksternal untuk membangunkan kekuatan ke titik maksimum. Perkembangan sosok jagoan yang nggak instan ini menarik banget. Menyenangkan sekali ditonton. Apalagi kekuatan Kuuga memang bukan suatu hal wajar. Protagonisnya sama-sama berusaha mempelajari dan mengenali jati dirinya yang baru, alih-alih mendadak perkasa.

Walaupun serial superhero macam sentai dan tokusatsu sepertinya tidak pernah punya bujet yang terlalu melimpah―sehingga mereka cenderung menghadirkan 'wajah baru' sebagai tokoh utama lantaran relatif murah―, sinematografi Kamen Rider Kuuga melampaui ekspektasi saya. Badai anjir. There are shots taken in certain ways that are just... tasteful. They build tensions just right. Sometimes they also scatter hints. Subtle hints all around. They really know how to convey something even without speeches. Words aren't really necessary. Koreografi pertempurannya tidak kalah cakep-cakep. Seneng deh lihat stunt motor ditampilkan jelas, nggak bruwet kusut seolah nyari celah tipuan mata. Scoring dari Sahashi Toshihiko membantu menghidupkan suasana dengan porsi yang pas. Rasanya tiap Yen bujet betul-betul dialokasikan dengan sangat tepat guna. Puas pol.

Pertempuran sesama anak motor.

Ada banyak sekali adegan-adegan favorit yang saya abadikan dalam bentuk screenshot. Saking seringnya saya tenggelam dalam screenshoot-spree, kuantitas gambar yang terkumpul sudah cukup mumpuni untuk dibikinin folder terpisah. Tapi walaupun begitu, personal ultimate pick sepanjang 49 episode Kamen Rider Kuuga adalah pertemuan Pak Ichijou dengan Rose-Tattooed Woman yang diberi kode nama "Unidentified Creature B1". IT IS SO FRIGGING COOL IT ALMOST FEELS ROMANTIC. Like, I am thisssssssssss clooooooose from shipping them together. (Forbidden-slash-impossible romance is indeed my hard kink, sorry not sorry about that).

Their first meeting. Cakep kan kan kan...

Apalagi sosok samaran manusia milik Gurongi bertato mawar satu ini ibarat terinspirasi Princess Serenity dari Sailor Moon. Aura dan pembawaannya 'Tuan Putri' banget sampai-sampai tampak out of place, nggak cocok gabung sama rakyat jelata. Saya udah deg-degan mentok pas mereka jumpa kali pertama. Antena firasat saya berkedut-kedut heboh nggak jelas, penasaran bakal di-follow up seperti apa dua karakter ini. Akankah Mbak Mawar—saya panggil gitu aja lah biar lebih gampang—mati di tangan Pak Ichijou? Atau sebaliknya? Gimana nih sutradara???

Selang beberapa episode kemudian...



AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRGGGGGGHHHHHHHH!!! *internal scream*

NGERTI KAN MAKSUD SAYA??? Ngerti kan kenapa saya menempelkan deskripsi keren-mampus-sampai-nyaris-romantis??? Gila gila gila. Monangis. Pada dua adegan terpisah yang situasinya serupa itu, konklusinya sama: Mbak Mawar pergi meninggalkan Pak Ichijou yang tersungkur dalam kondisi masih hidup. Nggak dibunuh meskipun bisa. Walau ada kemampuan dan punya kesempatan. Padahal Mbak Mawar sempat ditembakin pakai peluru khusus dan berhasil dilukai. Gimana saya nggak gregetan sendirian, coba...

Apa perlu saya turun tangan dan ngebikinin fanfic-nya?
Udah siap buka akun Archive On Our Own, nih.

*Tarik napas panjang.*
Oke, lanjut.


Secara pribadi, saya suka bagaimana desain Kuuga dengan berbagai variasi form-nya (Dragon, Pegasus, Titan, dan lain-lain) cenderung tidak ambisius. Ada satu patokan dasar dan dari situ dikembangkan secara tidak berlebihan. Bahkan tidak jarang kesannya kayak cuma recoloring. TAPI JUSTRU KEREN??? Nggak ketempelan revisi nggak penting, gitu. Terus terang saya masih gondok jika teringat Kamen Rider Gaim, yang mana Kiwami Arms-nya mendadak fakir estetika dan kalah karismatik jauh dibandingkan Kachidoki Arms.

Now tell me what looks more regal than black-and-golden combo?


My final thoughts on Kamen Rider Kuuga?

«««««

Five stars out of five. Solid. Sekarang saya mengerti—dan sangat mewajarkan—kenapa banyak orang mengelu-elukan serial ini sebagai salah satu favorit mereka, bahkan setelah puluhan judul Kamen Rider yang lebih baru, lebih modern, lebih canggih muncul di layar televisi. Kuuga is something that leans towards what's classic without feeling dated. Aspek yang membocorkan umur serial ini hanya teknologi-teknologi tertentu pada masanya, seperti display komputer atau televisi tabung. Mungkin sepuluh tahun lagi, kalau saya masih hidup, rewatching Kamen Rider Kuuga bakal jadi aktivitas menarik. Let's see if this series would age as well as it does today.


Chou henshin!

*P.S.: Dokter Tsubaki Shuichi yang dipercaya menghandel urusan perawatan medis Godai Yusuke ganteng bangetttt. Parrrahhh. Lumayan mirip Eita, pula. Auto naksir tanpa ketolong.

z. d. imama

Thursday, 7 November 2019

Living with my own ugly thoughts

Thursday, November 07, 2019 1

I'm not a good person.

I know that.

So if anyone ever tell you "Ah, orangnya aslinya nggak sebaik apa yang dia tulis di media sosial" about me, then probably they are right. When I write 'kind things' on social media, most likely because I want to highlight such thoughts inside me. I want myself to be kinder. I've been living as myself for more than twenty years to understand that I have ugly thoughts popping out in my head here and there, and I'm trying hard not to keep them; to push them away. I know too well that plenty of times, I'm struggling with how to 'detox myself' because I don't think I can contain them. I have to get them out somewhere. And there are also times when I cannot kill those ugly thoughts alone, even if I know they are ugly and evil. When I decide to tell people that "You know, I have these thoughts and I know they are awful, please help me by validating how wrong they are", I realize they might draw a conclusion that says, "Eh whoa this person is actually toxic and she's showing her true self" instead. Not as a detox process which happens because I don't want those toxins inside of me. It is something I have to learn to accept that I cannot make people conclude things the only way I hope them to.

I know how my ugly thoughts make me assume the worst from everyone and it's cruel, it's unfair. Sometimes I want myself to die and sometimes I want another person to get the hell out of this world, when in fact, death wish is never okay. Sometimes I hate someone for no reason. Sometimes I think how nice it'd be if everyone else becomes miserable. I had those thoughts inside my head. And I'm still figuring things out, finding out how to deal with them better.

I'm not the most sympathetic person. I'm incapable of handling many situations regarding other people's emotions. I am too afraid to say things other than the standard-and-obligatory "I'm sorry" because I don't know to face these situations. I couldn't say things like, "I feel your pain" because I don't. I don't understand it. I'm not the one feeling and experiencing it. I feel so distant to it and realizing that I feel nothing confuses me. It freaks me out. Therefore, plenty of times, I opted to run. I did not address their emotions. And at some other times, I resorted to do something that at the end of the day get perceived as ignorance. Or even worse, hurt others.

I need to learn to accept that albeit I'm trying to correct myself—and keep stumbling and fumbling in the process, whether or not other people will wait or give me a chance, it's not for me to decide. There are apologies that I can never tell to people I've hurt. There are moments when I can never get a chance to say how regretful I am for being hurtful and I have to live with that. There are explanations for misunderstanding and mistakes I can never convey because the damages they made are too big and everything will sound like excuses.

I am not a good person.
I have far too many shortfalls.
Any bad thing you've heard about me can be true.

For everyone I've ever met in my life who cares enough toーwhen I mess things up or wrong you (or somebody else)ーproperly scold me and point out my mistake when I'm blind to it, thank you. Probably you'll just let everything out and walk away after that, not wanting to have anything to do with me again, and it's something I need to accept. I honestly hope I can have at least someone who will allow me to reflect and grow as a person,  to keep seeing me as a human being, to not giving up on me, but I've realized it's not up to me. 

I'm still not a good person.
Yet maybe, maybe, as long as I'm not giving up on myself, I can still be better.

z. d. imama

Thursday, 31 October 2019

Magical Tales of Gandaloka: long post about thoughts on the first batch

Thursday, October 31, 2019 7

Semasa kanak-kanak, membaca (sekaligus mengoleksi beberapa macam) novel serial untuk anak-anak dan remaja merupakan kegemaran saya. Pasukan Mau Tahu? Cek. Goosebumps dari R. L. Stine? Cek. Animorphs, the most magnificent teenagers-vs-alien war story ever? Cek. Ada sejumlah judul-judul lain yang pada tahun 2018 lalu sempat saya tuliskan juga dalam sebuah postingan lama yang notabene memang membahas bacaan nostalgia. Kalau berminat ngintip apa sajakah mereka, silakan klik bagian 'sebuah postingan lama' di kalimat sebelumnya, atau arahkan kursor ke sebelah sini

Ketika Naobun Project merilis Magical Tales of Gandaloka pada awal Oktober 2019, saya langsung menaruh minat pada serial novel yang terinspirasi konsep Goosebumps dan Animorphs ini. Keseluruhan cerita akan mengambil latar tempat yang sama, yakni "Gandaloka", sebuah kota fiktif yang lokasinya dikisahkan tak terlalu jauh dari DKI Jakarta. Walaupun secara kasat mata ia tampak seperti kota biasa, sejatinya Gandaloka menyimpan kekuatan magis yang sangat besar. Sejak lama, Gandaloka adalah tempat bermukim kaum siluman yang dijuluki―atau mereka justru menjuluki diri sendiri?―Demit. Para Demit ini tinggal di antara manusia, meniru penampilan manusia, dan menjalani cara hidup ala manusia. Singkat kata, setiap installment Magical Tales of Gandaloka akan menceritakan dinamika dan riak interaksi Demit maupun manusia yang menjalani hari-harinya di kota magis itu. Tapi alih-alih seperti Goosebumps, Pasukan Mau Tahu, ataupun Animorphs yang ditulis oleh satu orang―dan lusinan ghostwriter karena... oh come on!―, masing-masing buku Magical Tales of Gandaloka justru dihadirkan dari tangan-tangan berbeda. Entahlah apabila nantinya akan ada penulis yang menyumbang lebih dari satu judul untuk Gandaloka.

Saya rasa kelima buku Magical Tales of Gandaloka tidak punya nomor urutan tertentu. Sehingga kita boleh-boleh aja ngambil asal buku mana pun dan dinikmati tanpa harus mencemaskan bagaimana kalau bacanya kebalik-balik. That being said, I'll write down my thoughts that came up upon reading each book―and I will put these thoughts in my reading order―and maybe here and there, I will express my thoughts about the whole batch of this series. IMPORTANT NOTICE: there will be spoilers. Barangkali sebatas hal-hal kecil. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa apa yang saya paparkan termasuk hal krusial. So please proceed at your own discretion. Jika kalian sama-sama sudah baca keseluruhan Magical Tales of Gandaloka, atau termasuk kalangan orang-orang yang justru baru akan tergerak untuk menikmati suatu karya setelah dapat bocoran mumpuni dari kanan-kiri, yuk ah gas terus.


Gambar di atas memaparkan urutan saya membaca kloter awal serial ini. Dimulai dari Home yang ditulis oleh Keinesasih, dan dilanjut terus ke Stay Ugly dari Kahlui, kemudian Halfie dari Priscila Stevanni, lalu ke Your Wings-nya Eve Shi. Ditutup dengan Welcome to the Fandom persembahan Utiuts. Kelima buku Magical Tales of Gandaloka diberikan rating 13+, sehingga jelas bahwa target utamanya memang para remaja yang sudah duduk di bangku pendidikan sekolah menengah. Namun saya pikir-pikir, kayaknya sebagian besar dari kelima buku ini secara khusus nggak akan bermasalah andaikan dibaca oleh anak-anak usia sepuluh tahunan. Lho, kok 'sebagian besar' aja? Kenapa nggak semua? Nanti kita bahas ya. Pelan-pelan.

*Cracking fingers.*

Here we go.

"HOME"

Penulis: Keinesasih


Ayah Riona tiba-tiba memutuskan akan menjual rumah keluarga yang diwariskan dari kakek. Sebuah penyelidikan kecil-kecilan mengantar Riona pada sebuah fakta: kedua orang tuanya dikenai hipnosis oleh konglomerat properti bernama Darius Tejakusuma agar bersedia menyerahkan tempat tinggal mereka. Masalah makin tumpang-tindih ketika Riona menyadari bahwa anak-anak Darius, Samuel (yang tampangnya relatif lokal tapi ganteng) dan Haniel (blasteran bule yang katanya jauh lebih ganteng), ternyata satu sekolah dengannya. Malahan, salah seorang dari mereka adalah rekan sekelasnya. Riona harus memutuskan apakah kedua cowok itu lawannya, atau mereka cukup bisa dipercaya untuk dijadikan kawan dalam usahanya mempertahankan rumah keluarga. Sebab bagaimanapun, sulit bagi anak sekolahan melawan pengusaha kaya raya seorang diri.

Begitu kira-kira garis besar cerita Home.

Novel ini adalah sebuah perjalanan. Setidaknya itu yang terlintas di benak saya sewaktu membaca. Entah benar atau tidak, saya merasakan ada bagian di mana seolah-olah sebuah switch dinyalakan, dan mbak Ines selaku penulis berhasil menemukan posisi pewe dalam menuturkan cerita. Bab-bab eksposisi di awal masih mempunyai sedikit kesan canggung. Seiring lembaran demi lembaran buku saya balik, kesan itu lebur. Persis seperti berkenalan dengan orang baru. Semula hanya satu-dua patah kalimat interaksi obligatory yang ada, tapi selang beberapa saat kemudian kita tertawa-tawa bersama seolah sudah berkawan sejak lama.

Foto di atas memang sengaja diambil #DemiKonten. Sudah, jangan protes.

Satu hal yang sangat, sangat, SANGAAAT saya sukai dari Home adalah penampilan fisik Riona, meski ia seorang protagonis, hampir sama sekali tidak dideskripsikan lebih lanjut sepanjang cerita. Oke, kita para pembaca sempat diberitahu bahwa rambutnya lurus dan tidak berponi. Tapi ya udah. Gitu doang. Apakah berat badannya ideal? Tinggi badannya berapa? Jerawatan, nggak? Apa pipinya tembem? Punya lesung pipit atau gingsul, nggak? Cantikkah? Jelekkah? Jangan-jangan B aja? Berkulit hitam, sawo matang, kuning langsat, atau putih cerah bak bintang iklan Shinzui? Tidak pernah ada penjelasan. Bahkan di kaver bukunya pun sosok Riona cuma digambarkan sebagai siluet! Suatu hal yang tidak biasa.

But I'd opine that this unexplained detail is what makes Riona so great for the readers. This is self-insert time, people. Siapa pun dari kita bisa, dan boleh, menjadi Riona. Asalkan kita memiliki hobi yang sama dengannya. Asalkan kita pernah mengalami atau merasakan hal-hal yang ia alami dan rasakan. As long as you can relate with her way of thinking or her life problems. Bingung menemukan tempat dalam pergaulan untuk berbagi percakapan tentang hobi yang kerap dipandang sebelah mata oleh orang lain pada umumnya? Hello, so you're another Riona! Nice. Lagipula, beragam permasalahan dan konflik yang harus dihadapi oleh Riona sama sekali tidak berkaitan dengan penampilan fisiknya. Her appearance doesn't matterShe could look like Maudy Ayunda, or she could look like me, and none of those options would disturb the story.

Home memberikan lebih banyak porsi character growth kepada kedua anak-anak Darius Tejakusuma, Samuel dan Haniel, alih-alih protagonisnya. Riona, di mata saya, adalah sesosok karakter yang 'sudah jadi'. Ia memang mengalami hal-hal baru seiring berjalannya kisah, namun relatif tidak ada self-discovery. She's got this. Saya tahu Riona akan baik-baik saja, sehingga saya punya waktu luang dan kapasitas mental untuk dibikin baper jumpalitan oleh segala pergolakan batin yang dialami Samuel. YA ALLAH DEK.. RASANYA PENGIN MELUK. His pain feels too real for me. Saya nyesek bukan main ketika persaingan dua bersaudara itu menyebabkan mereka berantem gontok-gontokan sendiri sementara sang bokap yang―secara langsung maupun tidak―jadi biang kerok justru nggak tahu apa-apa. Barangkali nggak peduli juga. Ealah, Le...

"STAY UGLY"

Penulis: Kahlui


Sejak ia kecil, Solaria harus hidup dengan mengemban beban kutukan Kelambu. Sebuah sihir yang membuat wajahnya di mata orang lain tampak jelek dan menjijikkan. Safe space Sola di sekolah adalah ekstrakurikuler seni peran bernama Teater HaWe yang krisis anggota dan terancam dibubarkan dalam waktu dekat. Sola pun mati-matian berusaha mempertahankan satu-satunya tempat di mana ia tidak harus menghadapi dunia yang selalu berpaling tiap melihatnya (dan saat pementasan teater, orang-orang justru harus menatapnya) dibantu Yudhistira―alias Yasha; di bukunya dijelasin kok kenapa panggilannya geser jauh banget dari nama asli―, cowok cakep bertampang mirip (lagi-lagi) blasteran yang lumayan populer seantero sekolah sekaligus penyumbang penonton terbesar di setiap pementasan HaWe. Tetapi Sola curiga manusia rupawan seperti Yasha punya udang di balik batu karena Yasha mau bersikap sebaik itu padanya, si buruk rupa yang dihindari semua orang.

Apabila Kahlui bermaksud menciptakan seorang protagonis yang bikin pembaca kebelet menjitak dan adu otot leher dalam duel bentak-bentakan sewot saking sebalnya, saya harus mengakui: ia sukses besar. Anjiiiiiiiiiiiiiiir gedeg banget sumpah ngadepin Solaria. Terakhir kali saya segondok ini terhadap karakter utama tuh saat ketemu tokoh Marianne Dashwood dari Sense and Sensibility-nya Jane Austen, walau di dua kasus ini kekesalan saya punya sebab-musabab berbeda. Well... I'm a huge ball of insecurities myself, and sometimes I'm trapped inside my own bubble of wild assumptions, but it feels like Solaria turned it up to the max and poured a gallon of steroid on that matter. Terdapat sejumlah adegan-adegan di mana saya secara sadis meneriaki dalam benak, "LO TUH KALAU UDAH JELEK YA KELAKUAN JANGAN IKUTAN RESEK????" Semua orang diketusin. Semua dikenai prasangka. Dikit-dikit ngegas ke kanan-kiri. Hih.

Emotional relapse yang berulang kali dialami Solaria sangat tidak mudah saya lewati sebagai pembaca. Ada perasaan jengkel, "Yaelah gini lagi????" ketika ia berkali-kali mencurigai orang-orang yang peduli kepadanya. Padahal meskipun sering kena damprat, mereka masih ikhlas dan mau-mau aja bertahan menemani Solaria. Tetapi saya harus sadar diri. Saya pun tidak jarang mengalami emotional relapse, menghabiskan semalaman menangis di tempat tidur lantaran memikirkan hal-hal yang sudah pernah sejuta kali saya pertanyakan dalam hati. 

That shit happens

Mungkinkah kekesalan pada Solaria timbul karena hal-hal picik yang ia pikirkan juga tak jarang melintasi benak saya? Am I seeing pieces of myself in her and that's why many scenes and talks and thoughts feel like personal attacks? Hmm. Tampaknya, Stay Ugly dan segala tetek-bengeknya akan lama singgah di kepala.

"HALFIE"

Penulis: Priscila Stevanni


Pindah dari Jakarta ke Gandaloka lantaran ibunya dimutasi, Naira bertekad mengisi hari-harinya di sekolah baru dengan berbagai kegiatan positif seperti jadi pengurus OSIS. Sayang, rencananya harus gagal total lantaran ia terperangkap di tengah-tengah perkelahian dua sosok Demit (yang mana salah satunya adalah rekan sekelasnya, Gesta) dan nyaris kehilangan nyawa. Gesta secara sepihak memutuskan untuk menyelamatkan Naira dengan menyumbangkan kekuatannya―menjadikan Naira sesosok Halfie, alias separo-Demit. Naira kini harus bisa berdamai dengan hidup barunya yang jauh lebih merepotkan, mengatasi kemarahannya terhadap Gesta, sekaligus menyadari bahwa with great power, comes great danger (I'm not even sorry for ripping off Spider-Man quote here, and it rhymes, so yay me).

Halfie bukanlah interaksi pertama saya dengan Gandaloka dan unsur-unsurnya. Home dan Stay Ugly yang mengambil latar sekolah sama, yakni SMA Gandaloka, telah berhasil menciptakan suatu imaji dalam otak. Khayalan pribadi saya sudah terbentuk. Bagaimana kira-kira suasana di SMA Gandaloka. Seperti apa anak-anak remaja yang bersekolah di sana. Bagaimana mereka menikmati jam pelajaran hingga menggeluti kesibukan ekstra kurikuler. Tak dinyana, Halfie menggoyang apa yang saya percayai tentang mereka. Semula saya duga, meski sekolah menengah swasta, SMA Gandaloka merupakan tempat ramah untuk beragam siswa dari berbagai latar belakang. Baik itu yang ekonominya biasa-biasa (baca: dibilang kaya tak sampai, dibilang miskin kok hidupnya masih memadai), bergelimang harta bak anak-anak Darius Tejakusuma, sampai penerima program beasiswa. Semuanya berbaur. Tak ada yang perlu merasa terasingkan dalam percakapan karena keterbatasan ekonomi. Semacam ada konsensus sosial yang digalakkan Sukmaloka sang Kepala Sekolah, bahwa tak peduli seberapa besar-kecil uang yang dimiliki orang tua murid, penting untuk menjaga lingkungan sosial di balik pagar SMA Gandaloka agar selalu bersahaja.

Sepanjang Halfie, saya tidak bisa memungkiri timbulnya perasaan bahwa SMA Gandaloka tiba-tiba telah berubah seratus delapan puluh derajat. Percakapan demi percakapan bergulir, interaksi demi interaksi saya saksikan, dan mendadak saya tidak lagi merasa disambut di tengah-tengah mereka. Saya merasa asing. Saya kebingungan mencari tempat. Seolah-olah dalam sekejap mata saya diceburkan ke lingkungan sekolah swasta internasional berbiaya selangit, di mana kisah wisata mahal ke ujung negeri saat libur semester, saling pamer pakaian dalam bermerek premium ketika ganti seragam olahraga, atau pertanyaan panik para siswi kepada teman segengnya apakah sudah butuh berlatih angkat beban (apa ini maksudnya nge-gym?) untuk menghilangkan lemak-lemak di tubuh adalah dengungan lumrah di tiap sudut bangunannya.

I just.. cannot relate.

Me, questioning the validity of my personal experience and feelings.

But these feelings of being disconnected and confused actually get me to wonder about which one is the real 'SMA Gandaloka'. Am I just fantasizing things out of nowhere for two whole novels? Is this high school just another portrayal, another representation of rich kids society? Don't we have enough of those people in our television screen, Instagram feed, or any other platform..?

WAIT, WAIT―

Apa jangan-jangan saya merasakan ketidaknyamanan ini lantaran sudah bukan remaja lagi?
Apa jangan-jangan kaum remaja sekarang tuh betul-betul kayak gini, dan saya doang yang nggak ngerti?

So I've got my tenth-grader sister at home to read the book and asked for her opinion. Later she said something like, "Aku nggak mungkin bisa nyari temen dengan nyaman kalau tipe anak-anaknya kebanyakan kayak gini. Nggak konek", which makes two of us now. Then I wonder again, is it because I am a person who was born and raised in a particularly small town, thus I simply don't understand all these clamor and glamour of the people growing up in Jakarta and its neighboring cities? Jangan-jangan saya―dan adik saya―cuma merasa nggak nyambung karena sejatinya diri ini ya wong ndeso? Entahlah.

Selaku protagonis, Naira dikisahkan sebagai anak tunggal yang hidup hanya bersama ibunya. Ia dibesarkan oleh single mother yang sibuk bekerja keras memenuhi tugas kepala rumah tangga sekaligus peranan orangtua. Barang-barang pribadinya cenderung biasa-biasa saja karena enggan membebani ibu dengan pengeluaran tambahan. Saya menduga penulis bermaksud menobatkan Naira jadi seorang anomali di lingkungan pergaulan sekolah, sebagaimana Naira juga merupakan anomali dalam identitasnya, terombang-ambing di antara manusia maupun Demit. But after meeting Riona, Yuni, Hosea, Yoga, Solaria, and so many other characters who go to the same school as Naira... this particular setup doesn't feel like cutting it. Naira should not be 'that different kid' at school. To me, this totally unexpected maneuver is deeply disconcerting.

Apabila dipandang sebagai satu novel independen, kisah Halfie cukup solid dan menarik. Memaparkan bahwa seseorang tidak harus sepenuhnya manusia atau sepenuhnya Demit; you can be a bit of both and it's a cool thing, tooPerjalanan Naira menerima identitas baru hingga akhirnya mampu berkontribusi dalam pertikaian klimaks nyaris menyerupai origin story superhero. I'm not saying the book isn't good enough, no. It's just that... when put together with the rests of Magical Tales of Gandaloka series, I no longer know whether or not a person like me has a place to belong in this school named 'SMA Gandaloka'.

"YOUR WINGS"

Penulis: Eve Shi


Chendra yang hubungan romansanya baru kandas karena diakhiri sepihak oleh Fifi, mengalami kesulitan untuk move on. Seakan-akan dikerjai semesta, kelasnya kedatangan murid baru bernama Amel, yang meski nggak ada mirip-miripnya dengan Fifi, membuat Chendra teringat mantan pacarnya. Kondisi ini bikin Chendra uring-uringan sendiri dan berdampak pada sikap cueknya terhadap Amel. Suatu kebetulan menyebabkan Chendra tanpa mengaja memergoki Amel yang tengah berbincang dengan Damion membentangkan sayap, dan saat itulah ia mengetahui bahwa Amel bukan manusia biasa. Ia sesosok Demit. Rasa penasaran Chendra ternyata berhasil mengalahkan rasa takutnya terhadap segala hal berbau gaib nan mistis, dan hubungannya dengan Amel pun kian akrab.

Your Wings is that classic boy-meets-girl storyCompared to the other installments of Magical Tales of Gandaloka I've finished, its core is more of a sweet-colorful-and-flowery transition from awkwardness to friendship, and then from friendship to budding romance. Terus terang, saya tidak punya cukup banyak opini yang dapat disampaikan panjang lebar. Pilar besar novel ini adalah bagaimana Chendra berupaya mengenal Amel lebih jauh dan menerima situasi unik mereka sebagaimana adanya. Mungkin hal ini nggak akan seberapa rempong kalau saja Gardalor, klan bangsawan yang berperan selaku penjaga keamanan dan keseimbangan sosial-masyarakat para Demit, tidak mengendus fakta bahwa Chendra tahu identitas Amel yang sebenarnya dan menerapkan tindakan penanggulangan demi keselamatan komunitas Demit. Gardalor percaya, "Janji manusia ringan bobotnya. Mudah dilanggar dan dilupakan".

Nggak salah-salah amat, sih.

Detik demi detik, menit demi menit, dan jam demi jam yang saya habiskan untuk membaca Your Wings berlangsung penuh kedamaian. Menurut saya, novel ini akan menyenangkan bagi pembaca yang suka kisah-kisah romansa macam A Walk to Remember-nya Nicholas Spark. Or.. John Green, perhaps?

"WELCOME TO THE FANDOM"

Penulis: Utiuts


Finally we've reached the fifth book (based on my reading order, mind you, not the official one). Arakisya Maltarani, yang akrab disapa Kisya, adalah Demit dengan kemampuan sihir kromatik. Profesi sehari-harinya ialah penggemar berat grup K-Pop bernama Fireen sembari jadi pelajar. Berhubung pada dasarnya Kisya senang bermusik, bersama teman-teman dekatnya yaitu Angel dan Adrian (yang lantas menggaet dua anggota tambahan: Kukun dan Lukas), ia membentuk band Taylor's Alive. Setelah terus-menerus berlatih dan melalui proses audisi, kesempatan mereka untuk manggung perdana di pentas seni sekolah lain akhirnya tiba. Sayangnya di hari yang sama, kesempatan Kisya untuk hadir menyaksikan langsung konser Fireen juga datang! Kisya harus memutar otak agar bisa menang banyak dan tidak perlu mengorbankan salah satu acara. Ia bahkan siap mengeksploitasi kemampuan sihir khas Demit demi mengejar ambisi fangirl-nya. Tekadnya yang kelewat kuat membuat Kisya melupakan kata pepatah: Demit berencana, Tuhan menentukan.

Saya sudah tidak lagi mendengarkan K-Pop sejak bertahun-tahun silam. Namun, segala yang Kisya rasakan terhadap Fireen sama sekali tidak berbeda dengan gejolak jiwa saya yang menggandrungi karya-karya musisi dari Jepang, baik itu band, solo artist, sampai grup idola. Mulai dari ONE OK ROCK, Hamasaki Ayumi dan Utada Hikaru, hingga the one-and-only legendary Arashi. Saya merasa terwakili. Saya pun sangat memahami bagaimana para idola (yang bahkan nggak tahu keberadaan saya di dunia ini) mengalami proses pergeseran peran di hati. Awalnya sekadar memberikan hiburan, memicu rasa penasaran, lambat laun berubah menjadi sumber kekuatan.

Ajaib, memang.

Pemaparan backstory Kisya dengan keluarganya yang mengantarkannya ke haribaan Fireen terasa begitu personal bagi saya hingga di sejumlah halaman, saya nyaris sulit melanjutkan. Membalik kertas saja makan waktu lama karena sibuk mewek sendirian. Funny, I know. Welcome to the Fandom is so light, fluffy, warm, full of love so explosive and sincere. Yet here I am shedding my tears upon reading where the money for Kisya's education actually comes from. I know how it feels, Kisya. I really, really know.

Mengatasnamakan budaya fangirl, dengan ini saya mengizinkan diri sendiri untuk secara sewenang-sewenang membuat tagar #GandalokaReadersSelcaDay agar foto-foto bersama novel-novel Magical Tales of Gandaloka yang saya unggah di sini punya sekelumit argumen dasar.

Yep. I'm embracing my fangirl self by wearing Arashi's 24hr TV Charity T-shirt 2019.

Nun jauh di atas sana―coba scroll ke atas sampai lumayan mentok jika lupa―saya sempat mengemukakan bahwa sebagian besar cerita-cerita di Magical Tales of Gandaloka dapat dikonsumsi oleh anak-anak yang belum menginjak usia remaja. Kok, cuma sebagian besar? Alasannya apa? Gini. Tiap-tiap novel Gandaloka punya cukup banyak muatan bahasa Inggris tanpa dilampirkan terjemahan, entah itu sebagai catatan kaki atau dibuatkan daftar sendiri di bagian akhir. Bahkan jika saya tidak salah ingat, tidak ada satu buku pun yang tidak menyelipkan kalimat lengkap berbahasa Inggris. Baik itu sewaktu perbincangan antartokoh atau monolog semata. Kalimat-kalimat utuh berbahasa asing yang tidak disertai bantuan terjemahan ini barangkali dapat mengganjal pembaca-pembaca belia yang kebetulan masih kurang terekspos dengan penggunaan bahasa Inggris di keseharian mereka. Ada sejumlah bagian yang mungkiiiiiiiin bakal mereka 'lompati' atau tidak dipedulikan karena tidak mengerti.

Mungkin, lho ya.

Sebaliknya, justru tidak ada tokoh yang menyeletuk dalam bahasa daerah mana pun. Termasuk Yudhistira, padahal ia diceritakan sempat pindah tinggal beberapa lama di suatu wilayah bermuatan lokal relatif kental. Rasanya agak... sayang aja. Walau saya tahu lokasi Gandaloka memang digambarkan tidak seberapa jauh dari Jakarta, Magical Tales of Gandaloka masih belum lepas dari kesan yang mengatakan seakan-akan ia ditulis sebatas untuk warga ibukota dan kota-kota yang menempel lekat di pinggirannya, yang mayoritas menggunakan kata ganti "lo-gue" dan gampang kegeeran saat disapa dengan kata ganti "kamu" oleh seseorang yang menyebut dirinya "aku".

Ngomong-ngomong, unsur paling memikat dari Magical Tales of Gandaloka ya semestanya. World building-nya rapi, anjir. Tata kota yang dibagi dalam sektor-sektor dengan ciri khas tertentu, kesepakatan sosial agar Demit dan manusia sanggup hidup berdampingan, serta penjelasan tentang pihak-pihak berwenang yang secara turun-temurun saling bekerjasama demi mempertahankan keseimbangan dan 'kedamaian' di Gandaloka benar-benar mempermudah terbentuknya imajinasi atas kehidupan di kota fiktif tersebut. Bikin kepengin menyurati Naobun Project, sumpah. Isi suratnya? Tuntutan warganet semenjana agar peta kota Gandaloka dirilis. Seriusan. Pengin lihat petanya beneran, nih. Andaikan harus nongol sebagai merchandise pun saya beli, deh.

Magical Tales of Gandaloka adalah bacaan ringan berkonsep segar yang perlu dijajaki. Silakan mulai dari buku mana saja. Silakan pilih untuk menyusuri dunia Gandaloka bersama siapa saja. Silakan tarik kesimpulan dari tiap kisah yang telah dilewati. Silakan ajak saudara serta teman-teman untuk mencoba melirik ke dalam Gandaloka. You (or they) may have a completely different perspective and reading experience from my own, and draw a different opinion, but whatever it's gonna be, I think it's worth to find out.

Semoga akan ada novel-novel Magical Tales of Gandaloka jilid berikutnya yang diterbitkan. Lima buku tuh masih kurang. *fingercrossed*


*P.S.: Seluruh foto-foto terlampir dalam tulisan ini berasal dari jepretan jemari sakti mandraguna mas Eronu. Silakan kontak langsung di akun Twitternya apabila berminat ngasih duit jajan tambahan lewat proyekan (supaya ia bisa jajan Gundam lebih banyak lagi dan selalu hepi).

z. d. imama

Friday, 13 September 2019

I left the studio after "Gundala" feeling confused and angry.

Friday, September 13, 2019 6

Malam itu, saya masuk ke studio bioskop yang menayangkan Gundala―film perdana dari rangkaian Jagat Bumilangit―dengan suasana hati biasa-biasa saja. Tanpa ekspektasi. Dua jam kemudian, setelah lampu bioskop kembali dinyalakan dan ending credit bergulir di layar, saya punya hasrat kuat untuk menjambak-jambak rambut sembari melolong. Saya marah. Sekaligus bingung. Sepanjang perjalanan pulang isi kepala saya masih kusut. Setiba di kosan, saya mandi dan beranjak tidur. Berharap di pagi hari emosi yang bergejolak di dalam diri sudah jauh lebih terkendali, dan saya bisa menyingkirkan hal-hal yang membuat Gundala terasa mengganjal. Ternyata, nggak juga. Keinginan untuk ngomel-ngomel masih tetap menggelora.

Saya marah. Saya frustrasi. Rasa marah dan frustrasi ini muncul karena berkali-kali, sepanjang duduk manis di hadapan layar lebar, saya harus berusaha menghibur diri dengan mengingatkan, "Ini baru film pertama dari satu semesta.. Masih banyak yang bisa diungkap di belakang" tiap kali kening berkerut karena dipertontonkan hal-hal mengundang tanda tanya. Tapi sampai kapan mau berlindung di balik tameng 'pembuka sebuah jagat sinema' ketika nyatanya memang Gundala tidak cukup solid dan koheren sebagai film mandiri?

I want to like this movie. Ooooh dear Lord I really do. The first thirty to forty-five minutes was incredibly fun to watch. But as a whole, Gundala to me ends up being something that I can't bear to watch for the second time. And yet at the same time I cannot hate Gundala because, let's face it and let's be real, when it's chopped up into many small shards, even I have my favorite parts. Here and there, it has glorious moments.


"Style over substance"―is what I think describes Gundala's problem in a nutshell. Namun sebelum saya memuntahkan kata demi kata sebagai pelampiasan uneg-uneg pribadi selaku penonton, ada baiknya kepingan-kepingan favorit dibeberkan lebih dulu. Supaya tulisan ini nggak sekadar sambat. Here we go. Also, please welcome: SPOILERS. Proceed only if you've seen this movie, or not minding good scenes being spoilt.

Favorite Piece #1: Masa Kanak-Kanak Sancaka

Bagian terfavorit sepanjang Gundala. Hands down. Interaksi Sancaka dengan tetangganya, dengan keluarganya, dengan anak-anak jalanan lainnya sangat jelas mengarahkan film ini mau ke mana. Meskipun yaa cukup bergelimangan dialog-dialog cheesy di sana-sini. Tapi masih bisa diampuni. Akting Muzakki Ramdhan sebagai Sancaka kecil juara banget. Clueless-nya dapet. Because sometimes life is too quick to keep up with and too much of a nonsense, yet despite your zero understanding, it goes on nonetheless. Adegan Sancaka kecil nendang rantang kiriman tetangga yang mengkhianati keluarganya sampai berserakan―untuk kemudian dipunguti lagi sisa-sisa makanannya dari tanah saking kelaparan sungguh luar biasa. Too stronk.

Sosok Sancaka di sini gamblang tergambar sebagai orang yang lahir dan tumbuh di tengah kemelaratan, sibuk bertahan hidup di tengah kerasnya dunia. Meskipun bapaknya punya semangat berkobar-kobar memperjuangkan keadilan dan peduli pada sesama, Sancaka sepanjang hidupnya justru digempur 'pelajaran' bahwa ikut campur urusan orang lain cuma bikin sengsara, yang dia alami sejak matinya sang ayah. Terus terang, pertanyaan yang muncul di paruh awal film sangat menarik: gimana ceritanya protagonis yang masa bodoh terhadap sekitarnya ini bisa jadi pahlawan?

Tolong siapapun yang bisa ketemu dek Muzakki Ramdhan, saya titip satu kekepan yang kenceng.

Bapaknya Sancaka yang mati dibacok oknum pas sibuk demo buruh.

Favorite Piece #2: Awang, the Best Shounen Boi

Gila. Gila, gila. Pertemuan Sancaka yang nyaris dikeroyok anak jalanan dengan Awang yang datang menolong (padahal aslinya paling malas nimbrung urusan orang lain) adalah personal highlight Gundala bagi saya. Keren banget. THAT ENTRANCE. THAT FUCKING HAIR FLIP. THAT STREET BRAWL SCENE WHICH LOOKED LIKE TAKEN STRAIGHT OUT OF MANGA PAGES, OR ANIME. Oooooooooh boy. I fell in love. Saya berbinar-binar di atas bangku penonton sepanjang durasi kemunculan Awang. Dari sekian banyak karakter yang nongol sepanjang Gundala, boleh dibilang Awang adalah sosok paling efektif. Peranan dia di hidup Sancaka sangat jelas. Awang tidak butuh monolog moralis yang bikin meringis untuk bikin penonton paham bahwa nilai-nilai pragmatis yang dia yakini kadang bertolak belakang dengan suara nurani.

Faris Fadjar you rock!!!! 

Favorite Piece #3: Style (especially when there is little to no substance needed)

Gundala ini film style-over-substance kan, ya. Banyakan fokus ke gaya daripada naruh perhatian ke cerita. Sehingga pada adegan-adegan atau frame yang memang nggak butuh-butuh banget esensi karena bergantung di camerawork atau pengemasan visual, hasilnya emang keren nampol. Butuh contoh? Ghazul disorot dari samping sehingga hanya siluet wajah yang tampak jelas. Anak-anak bekas asuhan Pengkor muncul satu per satu dan siap-siap berangkat bareng naik mobil dengan slow-motion. Those kind of cuts.

Gundala punya banyak visual highlight yang menunjukkan film ini memang punya budget dan para pembuatnya memiliki modal pengetahuan yang mumpuni perihal 'film language', serta bagaimana menonjolkan suatu hal melalui visual dan teknik pengambilan gambar. This is not necessarily a bad thing to flaunt about, really. Bisa menyajikan visual oke? Cool. It's a great thing for your eyes to enjoy. Setidaknya sampai para penonton tersadar betapa memprihatinkannya Gundala dari segi penceritaan.

Now, we're getting into the main course.
HERE COMES MY RANTS, FILLED WITH DISAPPOINTMENT.


Ultimate Problem: The writing. You know.. plot, pacing, storytelling. That.

Gusti Rabbi, pancen kudu nangis. Ambyar, cuk. Banyak suara-suara di media sosial yang menyuarakan perkara plot hole, tapi saya tidak setuju. Gimana mau ngomongin 'lubang' di alur kisah jika alurnya aja... ngalor-ngidul-ngetan-ngulon, semrawut, amburadul, seakan-akan film Gundala juga nggak ngerti mau menceritakan apa? Nggak tahu mau menuju ke mana selepas setengah jam (oke, anggep aja empat puluh lima menit) awal? Penceritaannya lompat-lompat ke sana dan kemari. Banyak hal-hal krusial yang hasil akhirnya kentang. Setengah matang. Gundala should be an origin story. And considering where he comes from, his background, his story should be grounded enough so the audience cares about it. Penonton seharusnya jadi bisa punya kepedulian terhadap Sancaka. Terhadap bagaimana dia akhirnya merasa terpanggil untuk membela mereka yang terpojok, meskipun bertahun-tahun hidup sibuk nyari aman sendiri. Nyari selamat sendiri. Ogah direpotkan oleh masalah orang lain. Namun film ini secara ajaib berhasil bikin saya makin lama makin masa bodoh terhadap protagonisnya. Protagonis, lho!

Momen besar yang menyebabkan Sancaka memutuskan aktif 'menolong orang' dan berhenti bersikap pasif nan apatis gagal dihadirkan. Tidak terasa. Tidak berbekas. Tidak ada hal yang membuat penonton mak dheg di bangku masing-masing dan terkesan dengan pilihan Sancaka. There is nothing at stake here. Padahal motivasi Sancaka untuk nggak mau tahu urusan orang sangat nyata: bapaknya mati dibunuh gara-gara memperjuangkan orang lain, ibunya hilang tiada kabar, dia jadi sebatang kara dan menggelandang sedari kecil. Tapi perkara apa yang berhasil bikin dia mau jadi pahlawan? Karena cetusan satpam senior pas nganterin copet menyerahkan diri? Karena Tara Basro kebetulan ngomong hal yang sama dengan almarhum bokapnya? Lah, ngapain dia harus tertohok sedemikian dalam terhadap kata-kata mereka? Emang mereka berdua siapanya Sancaka? Punya keterlibatan emosional sejauh apa? Lantas orang-orang pasar yang selalu dijadikan alasan Tara Basro mendesak partisipasi Sancaka to the level of guilt-tripping ini punya dampak pribadi apa bagi dia? Becoming superhero is a job that demands constant selflessness, yes, but the reason for that huge first step is almost always.. arguably selfish. Something, someone, or whatever immensely close to youPersonal. Yet I shall repeat: there is nothing at stake here.

And dear Lord, why is the storyline THIS convoluted???? Cerita Gundala rusuh banget sampai-sampai semua terasa seperti subplot, bahkan untuk kisah semendasar perjalanan―baik fisik maupun psikologis―Sancaka jadi Gundala. Which is immensely sad, because isn't the origin story of Gundala supposed to be the main body of this movie?


Saya juga mau bahas sedikit tentang Pengkor. Sure he is great villain, the one people should be careful about, or even fear. Pemaparan betapa menakutkannya Pengkor dengan memanfaatkan seorang anggota DPR muda tereksekusi dengan sangat, sangat, SANGAT bagus. Tensinya kece sumpah. Sang anggota dewan mempermalukan Pengkor di hadapan orang lain. Dia diingatkan kenapa sebaiknya tidak macam-macam terhadap Pengkor. Sepanjang perjalanan pulang, dia kepikiran dan diselimuti ketakutan, yang lalu berakhir dengan kematiannya. Anggota DPR tersebut terjun dari gedung apartemen akibat efek hipnosis anak buah Pengkor. Sepanjang satu kasus ini, ketegangan dan suspense yang dihadirkan benar-benar terjaga. The audience could actually sense the danger. Mantap.

Sayang, keemasan ini justru dirusak sendiri oleh film Gundala di penghujung film. Setelah terluka parah di showdown pamungkas dengan Sancaka―which was painfully anticlimactic and lukewarm at best, Pengkor sibuk bermonolog panjang memaparkan motivasinya menyebarluaskan serum amoral dan antidote palsu yang mana saya sama sekali nggak ngerti. Sekaligus nggak percaya. I don't buy his bullshit at all. Pengkor, sosok antagonis buruk rupa yang hidupnya susah lantaran jadi korban pembakaran, disiksa pengurus panti asuhan, dicibir, digunjing, dan disepelekan, saya pikir nggak punya urusan terhadap apakah rakyat pintar atau bodoh. Apakah generasi baru akan bisa membedakan hal baik dengan hal buruk atau tidak. Barangkali saya justru jauh lebih maklum dan paham jika alasan Pengkor menyebarkan serum berbahaya yang dampaknya bikin bayi terlahir cacat adalah―misalnya―keinginan agar orang lain merasakan yang dia alami. Hidup dipandang sebelah mata dan ditatap dengan raut aneh hanya gara-gara fisiknya rusak. Karena cacat. As petty as it is, at least such personal revenge is believable. Not everyone should be anything like Thanos whose 'selfless' ambition affects all living things, you know.


Lagipula ngapain sih konfliknya harus bawa-bawa rakyat dan DPR? Harus bawa-bawa masa depan generasi penerus bangsa? Pakai bawa-bawa keadilan sosial? Kejauhaaaan. Kegedeaaaan. Cannot relate, brothers and sisters. Pahlawannya bahkan baru di level berantem lawan preman perusuh dan pelaku pembakar pasar! Kostumnya masih makeshift dari benda-benda yang bisa didapet di Ace Hardware! Emang kenapa kalau secara kebetulan Sancaka hadir tepat waktu untuk nolong anggota DPR yang diserang pembunuh di perhentian kereta api? Apakah itu cukup kuat untuk bikin dia iya-iya aja saat dituntut turun tangan menangani masalah skala nasional? Apakah itu juga membuat Sancaka bisa dengan tenang pakai kostum baru yang secara terang-terangan dibilang bahwa dibiayai oleh uang rakyat?

I... don't think so.

Gundala is also unbelievably preachy. And ambitious. And pretentious. Andaikata saya nenggak alkohol tiap kali nongol ceramah moral lewat dialog, pas ending credit bergulir mungkin udah sukses jackpot di toilet bioskop. Saya bisa banget lho hidup tanpa harus menatap anggota DPR ngomong dengan muka memenuhi layar, "Apa itu amoral? Jadi LGBT?" atau bapak-bapak satpam tua ngomel, "Kalau gak peduli sesama, ngapain jadi manusia?" sambil naik motor butut saat dia berangkat nganter copet yang diuber warga ke pos polisi terdekat. Padahal nggak mustahil untuk bikin adegan-adegan bermuatan positif tanpa harus berulang kali, bertubi-tubi, melemparkan kalimat-kalimat yang seolah menuntut dilabeli 'PESAN MORAL' ke penonton. Then why going this route?


Kalau sampai sekarang masih nggak ada satu orang pun di lingkungan terdekat yang menepuk bahu Joko Anwar―atau barangkali hati nuraninya sendiri sudah terketuk―dan bilang, "Jok, mendingan lo rekrut penulis skenario film untuk proyekan Bumilangit ke depannya deh. Lo bisa fokus di penyutradaraan" demi perkembangan jagat sinema ini.. ya hehehe aja. Tenggelam dalam kubangan yes-man memang menyenangkan, kok.

To be fair, Joko Anwar is NOT necessarily a bad scriptwriter. However, I dare to say that Gundala is his most messy work in the last few years of his career. Joko Anwar's strong point, I think, is that he's good at smoothly elaborating simple story into a particular length. But first, the essence or the nucleus of such story must be 'small' enough, as proven in A Copy of My Mind or even Pengabdi SetanWhich isn't exactly the case with Gundala.

Saya udah cukup berpartisipasi dalam mencerahkan masa depan perfilman nasional di Indonesia apa belum nih, om Joko Anwar? Saya, seorang penonton semenjana, apakah telah menjelma jadi ahli skenario dadakan menurut om Joko?


Hingga Gundala rilis, jujur nih, tadinya saya termasuk salah satu dari orang-orang yang berprasangka baik terhadap bagaimana Joko Anwar menghadapi kritik. Khususnya yang disampaikan secara apik, jelas, dan terstruktur, syukur-syukur sopan. Kritik yang nggak sekadar ngomong "Apaan nih jelek" doang, baik itu dilakukan oleh penonton maupun sesama pekerja dunia perfilman. Ternyata ya.. segitu-gitu aja. Hehehe.

z. d. imama

Sunday, 25 August 2019

Attending "The Junctions of Fiction": Yuki Kajiura Live Vol. #15 in Hong Kong

Sunday, August 25, 2019 0

Sosok dan nama Kajiura Yuki saya kenal saat masih duduk di bangku pendidikan Sekolah Dasar. Itu pun baru sekadar tahu. Terima kasih sebesar-besarnya saya haturkan kepada serial anime Gundam SEED yang dengan ending song terbaiknya, あんなに一緒だったのに (Anna ni Issho datta no ni―Although we were always together), membuat saya menyadari eksistensi grup duo See-Saw. Ishikawa Chiaki mengisi vokal, sementara sosok di belakang keyboard yang bertanggung jawab dalam aransemen dan segala tetek-bengek penulisan lagu adalah Kajiura Yuki. Memang secara konsep, See-Saw ini persis Ratu tapi versi wibu. Gimana ya. Cewek berdua. Satu orang vokalis, satunya lagi keyboardist merangkap panitia umum. Kurang mirip apa. Sekarang grupnya sama-sama udah bubar pula.

Semenjak hari bersejarah yang terjadi kurang lebih sepuluh tahun silam itu, saya berusaha mengikuti karya-karya Kajiura Yuki. TERNYATA BUANYAK BET. Diskografinya tidak sedikit berupa musik serta lagu-lagu untuk serial anime, drama, bahkan gim. Musik yang lahir dari tangan Kajiura Yuki terbilang... kompleks. Rincian genre yang tertera di laman Wikipedia ada seabrek: baroque pop, contemporary classical, world music, electronic, folk, orchestral, new-age, ambient, electronica, dark ambient, progressive rock, progressive metal, operatic pop... dan masih banyak kategori lain yang saya sama sekali nggak ngerti apa deskripsinya dan bagaimana teori definisinya. Saya cuma tahu bahwa semua musiknya, yang mana pun penggolongan mereka, terdengar sangat indah dan megah di telinga.

Masih ingat Kalafina? Grup vokal trio yang beberapa kali saya singgung namanya dalam blog dan baru pecah kongsi awal tahun 2018 silam saya bela-belain beli tiket VIP pas datang ke AFAID 2013 lalu, juga diproduseri Kajiura Yuki. Masa-masa saya berandai-andai halu, berharap bisa datang menyaksikan langsung konser yang kerap dinamai "Fiction Junction"―pseudonym Kajiura Yuki saat berkarir solo―pun berlangsung sekitar satu dekade lamanya. Hingga hari Minggu bersejarah tanggal 4 Agustus 2019 silam terjadi, di mana saya berada dalam Asia-World Expo, Runway 11, Hong Kong, menatap sosok komposer kesayangan menggeber lagu demi lagu bersama tim band serta vokalis-vokalisnya dalam konser bertajuk "Yuki Kajiura Live Vol. #15 ~The Junctions of Fiction~" dengan muka beler lantaran tidak berhenti menangis.

LOOK WHAT YOU MADE ME DO, KAJIURA YUKI.
*In Taylor Swift's voice*

Jajaran vokalis dari kiri ke kanan: Joelle, Kaida Yuriko, Keiko, dan Kaori.

Playback Historia: opening theme mengalun dari speaker sewaktu saya menapakkan langka perdana ke dalam ruangan konser, mengikuti arahan staf penyelenggara. Pada detik yang sama, kenyataan yang semua masih terasa ngambang di awang-awang, menghantam benak saya. Menyadarkan diri di mana lokasi saya berada. Apa yang hendak saya lakukan. Apa yang bakal saya alami tidak lama lagi. Ujung-ujung jari tangan dan kaki saya terasa sedingin es. One of my ultimate, seemingly distant and unreachable wish that has been dormant for a decade or so, is about to come true. I'm here. I'm living the ten years old dream. What the hell.

Jam di layar ponsel menunjukkan 17:15. Lampu ruangan dipadamkan. Penonton bersorak riuh dan bertepuk tangan. Bulu kuduk saya meremang. Overture mengalun. Panggung masih remang-remang cenderung gelap ketika siluet Keiko muncul tepat di tengah-tengah berbarengan dengan dimainkannya The main theme of 'Kimetsu no Yaiba', lagu tema serial animasi yang masih tayang di televisi Jepang saat postingan ini saya unggah. Barangkali hal ini akan sulit dipahami orang-orang yang sejak awal bukan merupakan penggemar, namun partisipasi Keiko pada tur Yuki Kajiura Live Vol. #15 punya arti luar biasa besar setelah bubarnya Kalafina. Apalagi dengan setlist yang menempatkan dia sebagai vokalis utama di lagu perdana. This appearance, my friend, marked Kubota Keiko's comeback to the scene. Her return to Kajiura's troop. Emerged from the dark, silhouette first and then came into the light, standing right in the middle of high stage while beautifully doing melismatic singing. It was an outstanding moment. Incredibly moving, even soul-stirring―at least to me. Then Joelle, Yuriko, and Kaori joined on stage to perform the chorus together before medleying the song with to destroy the evil.


One of the best shivers in my life, to date.


Membekali diri dengan segepok tisu adalah keputusan bijaksana. Wajah saya sudah klomoh total di lagu berikutnya, Old-fashioned fairy tale. Lagu-lagu yang dilantunkan Kajiura Yuki dan keempat vokalisnya malam itu terbilang komplit. Terbagi dalam segmen-segmen terstruktur. Tiap segmen punya jatah masing-masing, mulai dari soundtrack yang liriknya didominasi Kajiurago―bahasa artifisial buatan Kajiura Yuki pribadi yang tidak punya aturan khusus dan sekadar terdiri dari silabel-silabel nirmakna―hingga lagu-lagu berbahasa Inggris seperti maupun Jepang.


Sesi MC secara umum dilakukan dalam bahasa Jepang, dengan selingan sekelumit bahasa Inggris dan Mandarin. Kajiura Yuki memperkenalkan satu per satu anggota band dan para vokalisnya, menjelaskan konsep Kajiurago supaya para noobs nggak bingung, serta ngobrol-ngobrol ringan yang tidak jarang memancing tawa penonton. Sepanjang konser ada sekitar enam sesi MC. Lumayan ngasih saya keleluasaan untuk bernapas lega, nggak mewek terus-terusan. Ya Allah, saya sayang bangettt sama budhe satu ini.

Setlist lengkap Yuki Kajiura Live Vol. #15 ~The Junctions of Fiction~ 2019 in Hong Kong:

  • M1. The main theme of 'Kimetsu no Yaiba' + to destroy the evil (special arrangement, from 'Kimetsu no Yaiba')
  • M2. Old-fashioned fairytale (from 'Kubikiri Cycle Aoiro Savant to Zaregotozukai')
  • M3. Fake wings (from '.hack//SIGN')
  • M4. I swear
  • M5. Forest (from 'El Cazador de la Bruja')
  • M6. Sweet Song (from 'Xenosaga II')
  • M7. Petals and butterfly (from 'Fate/Stay Night: Heaven's Feel part II [lost butterfly]')
  • M8. he comes back again and again (from 'Fate/Stay Night: Heaven's Feel part II [lost butterfly]')
  • M9.  absolute configuration (from 'Puella Magi Madoka Magica: Hangyaku no Monogatari')
  • M10. 星屑 (Hoshikuzu)
  • M11. 風の街へ (Kaze no Machi e) (from 'Tsubasa: Reservoir Chronicle')
  • M12. Elemental
  • M13. Storytelling
  • M14. Moonlight Melody (from 'Princess Principal')
  • M15. L.O.R.D main theme (from 'L.O.R.D: Legend of Ravaging Dynasties')
  • M16. Fiction
  • M17. vanity
  • M18. in the land of twilight, under the moon (from '.hack//SIGN')
  • M19. Luminous Sword (from 'Sword Art Online')
  • M20. she has to overcome her fear (from 'Sword Art Online')
  • M21. maybe tomorrow (from 'Xenosaga III')
  • Encore: M22. The world (from '.hack//SIGN')
  • Encore: M23. stone cold (from 'Sacred Seven')
  • Encore: M24. Zodiacal Sign (from 'Aquarian Age')

Saya nggak sanggup berkata apa-apa lagi. I feel like words are inadequate to express what I feel. What I witnessed that lovely evening. Attending this live show means huge to me. Makin baper karena penyelenggaraan konser hari itu berdekatan dengan ulang tahun Kajiura Yuki, sehingga pada sesi menjelang encore, penonton bersama-sama menyanyikan Happy Birthday to You (ini tuh judul lagu sebenernya apaan deh?) secara terus-menerus hingga mereka semua naik panggung kembali. I love this warmth of a fandom.

Berangkat masih bisa selfie, pulang-pulang sudah ambyar berserakan nggak karuan dan cuma sanggup foto barang-barang bukti sambil mungutin serpihan-serpihan hati. Even now, I'm still in my withdrawal phase. Entah bakalan bertahan sampai kapan.

    
Perbedaan Before-After yang sungguh nyata.

Semoga budhe Kajiura Yuki sehat selalu dan panjang umur, senantiasa menikmati proses berkarya, tetap mengeluarkan musik demi musik di tahun-tahun mendatang. To imagine that I'm going all out and becoming this worked up for a lady in her 50s―and not, you know, young, emerging male pop star in his 20s with impressive abs or biceps or whatever―is WILD. But I'm just a prisoner of love. *in Utada Hikaru's voice*

z. d. imama

Friday, 2 August 2019

A very spoilery review of Meitantei Conan 23rd movie: Konjou no Fist

Friday, August 02, 2019 5

Bicara tentang film-film bioskop Meitantei Conan, entah sejak kapan―kayaknya sih mulai dari film keduabelas―segala pola, repetisi, hingga hal-hal ajaib yang muncul membuat perspektif saya dalam memandang film Conan berubah. Pindah genre. Jadi komedi. Sehingga, alih-alih kesal atau gondok saat berhadapan dengan adegan atau dialog yang dih-apaan-banget-anjir, saya menerima hal-hal itu sebagai sebuah lelucon. Conan dilempar keluar kabin pesawat oleh penjahat? Ahzek. Conan mendadak bisa menyanyikan suatu lagu secara pitch perfect padahal dia sejatinya paling buta nada? Bagooos. Conan naik skateboard dan sanggup mengimbangi kecepatan mobil sport yang sedang ngebut bahkan ngobrol dengan pengemudi mobilnya? Mantap gan.

It works wonder to me.

Sebagai penggemar veteran serial berkepanjangan ini, tentu saya tidak pernah melewatkan kesempatan nonton filmnya yang diboyong ODEX ke Cinemaxx dan CGV. Begitu pun dengan film terbaru tahun ini. Meitantei Conan: Konjou no Fist―yang dialihbahasakan menjadi Detective Conan: The Fist of Blue Sapphire―jelas wajib saya saksikan. Maklum, haus hiburan. Saya berangkat tanpa menyimak trailer maupun teaser sama sekali. Biar lebih greget. Woro-woro bahwa film ini berlatarkan di Marina Bay Sands, Singapura bikin saya makin antusias. Ekspektasi saya hanya satu: landmark populer milik negara tetangga itu jelas akan hancur berantakan. Luluh lantak jadi puing. Lemme witness!!

PERINGATAN:
Sebagaimana judul tulisan di atas, ulasan ini akan berhias screenshot dari trailer serta teaser clip, bertaburan spoiler dan komentar-komentar menyebalkan penuh rasa cinta, dedikasi, dan kasih sayang. Proceed only when such things are your kink. I mean, when you're into that stuffs. If that's your interest.

"Sudah siap? Pokoknya jangan di-salty-in yah!!!" - Kaito Kid.

Film dibuka dengan sebuah adegan pembunuhan yang terjadi terhadap cici-cici pengacara Singapura setelah dia ngobrol di restoran hotel dengan bapak-bapak dandy kumisan bernama Leon Lowe, dalam bahasa Inggris yang sama sekali nggak punya nuansa Singapura. Baik logat maupun struktur bahasanya. Where's the Singlish??? Gak riset gara-gara sibuk berkubang day job kayak Ika Natassa atau gimana nih?? Yaudah gapapa. Namun kemudian bom meledak di parkiran, orang-orang berhamburan panik, dan Merlion pun tiba-tiba muntah darah memancurkan air berwarna merah. Wow, mejik! Muncratnya ngegas banget, pula. Tapi tenang. Gak ada korban jiwa. Tujuan adegan tersebut akan terkuak di akhir cerita.. yang sebenernya tetep menggelikan.


Balik ke Jepang dulu. Conan merengek-rengek di hadapan Haibara Ai agar dikasih antidote sementara APTX4869 supaya dia bisa naik pesawat ke Singapura sebagai Kudo Shinichi, jalan-jalan bareng Suzuki Sonoko dan Mouri Ran yang mau nonton pertandingan karatenya Kyogoku Makoto. Adegan ini kian menyakinkan anggapan saya bahwa posisi Haibara Ai didegradasi secara drastis dari rekan a.k.a partner ke tukang obat at your convenience. Bedebah. Tentu saja, Ai nggak kasih. Good girl. Jangan mau diperalat seenaknya demi agenda pacaran Shinichi! Di perjalanan pulang dari rumah Profesor Agasa Hiroshi sambil bersungut-sungut, Conan malah bertemu Kaito Kid yang menyamar sebagai Ran, dan diculik.

Bangun-bangun udah di Singapura aja.
Di dalam sebuah koper besar yang terbuka di tengah-tengah ruang publik.
Lengkap dengan kulit sekujur tubuh mendadak jadi item keling. I shit you not.


Emejinggg.

KALIAN MEREMEHKAN CHANGI, YHA. MEREMEHKAN KEAMANAN BANDARA INTERNASIONAL? "Ya udah nanti kamu diselundupin aja masuk koper" adalah guyonan lawas yang sering dilontarkan saat ada orang ingin ikut bepergian jauh namun tak mampu, tapi saya tidak menyangka akan diamini film ini. Tatkala Kuroba Kaito alias Kaito Kid berargumen, menjelaskan kecanggihan dan kemutakhiran koper yang sanggup ngebawa Conan masuk Singapura, saya tidak bisa menahan geli. Mampu kasih suplai oksigen sampai 24 jam? Kebal scan X-ray di gerbang keamanan bandara? Yaelah, gan. Justru bakal dibuka langsung di tempat noh sama petugas.

Sepanjang di Singapura, Kaito menyamar sebagai Shinichi―pilihan bijak, sebab pada dasarnya muka mereka berdua sama―dan Conan harus sok ngaku-ngaku sebagai bocah lokal Singapura keturunan Jepang bernama Arthur Hirai yang ditinggal orang tuanya sehingga hidup sendirian. Iyain aja deh. Toh semua karakter di sana juga percaya-percaya wae. Saya mah kagak. Penduduk Singapura yang berkulit sawo matang bukannya biasanya keturunan India atau Melayu.. Tim produksi film ini tuh mikir apaaaa? Mereka sangka Singapura isinya kebanyakan siapaaaa? Manusia kecil yang diklaim separo Yaban separo bule gitu mana mungkin gosong. Duh Gusti. It's already hilariously funny and we're just at the beginning.

Lanjut cerita dari mana lagi, ya.

Masih inget pembunuhan yang menimpa cici-cici pengacara di paragraf atas? Masalah bermula lantaran ditemukannya kartu bersimbol Kaito Kid di TKP insiden tersebut. Berhubung sejatinya Kaito Kid nggak pernah merasa melakukan itu, makanya dia repot-repot pergi ke negara kecamatan dan ngegondol Conan biar nggak kesusahan menguak misteri seorang diri. Masa udah kena fitnah masih harus berjuang sendokiran. Kasihan atuh. Motivasi Kaito ke Singapura makin besar karena pertandingan karate yang diikuti Kyogoku Makoto ternyata memperebutkan sabuk juara berhias batu safir biru legendaris seharga dunia-akhirat. Mana mungkin dia nggak tertarik kan?

Makanya lain kali bikin trademark icon yang gak gampang ditiru orang

Conan dan Kaito pun bekerja sama. Berkenalan dengan sesosok polisi lokal berpangkat sepele ceremende yang konon, kalau saya nggak lupa-lupa ingat, mengajukan diri secara sukarela untuk mengusut kasus pembunuhan sekaligus prospek pencurian batu safir oleh Kaito Kid. Namanya? Rishi Ramanathan. Gak ngerti sumpah siapa yang sok ngide bikin nama-nama karakter. Sama seperti Conan―eh, maksudnya Arthur―, kulit Rishi item keling sebadan-badan. Sipit juga iya. Bahkan matanya emang merem terus di mayoritas durasi film. Jujur aja penampakan Rishi ibarat anak haram Amuro Tooru dan Okiya Subaru. Hasil percampuradukan yang kualitasnya tidak lulus batas tuntas. Tapi biar desainnya ancur begitu, minimal Rishi banyak berjasa membeberkan semua informasi yang dia ketahui ke Conan, Kaito, serta tentu saja Mouri Kogoro.

Ternyata selain koaya roaya bermandikan harta, Leon Lowe juga anggota kepolisian Singapura. Khususnya sebagai ahli psikologi kriminal. Sabuk turnamen karate berada dalam pengawasan dia, dan bak Suzuki Jirokichi, Leon mengandalkan teknologi supercanggih yang seolah gak peduli berapa duit pas bikin sistemnya demi ngejagain batu permata dari tangan Kaito Kid. Saking ampuh dan cerdiknya perangkap Leon, Kaito nyaris terbunuh. Untung bisa kabur.

Semua tampak oke-oke aja.
Sampai Kaito dicegat Kyogoku Makoto yang mak jegagik nongol di pelataran gedung. Lari menyeruak dari balik kabut dan asap biar makin dramatis.



Sungguh strategi brilian, Pak Leon. Buat apa mengerahkan pengawasan polisi profesional dan ngabisin anggaran kalau tersedia bocah SMA overpowered yang secara sukarela bisa direkrut jadi tukang pukul? Cerdas. Groundbreaking. Saya salut!

Jiper dong Kaito pas lihat siapa lawan yang nongol di depannya. Kyogoku Makoto kan pokoknya dewa banget. Nggak pernah kalah di 400 pertandingan. Semua orang yang kepapar tinju saktinya langsung mental dalam sekali hantam. Terbang. Bagai anai-anai bertebaran. Detik-detik menjelang gepeng kena bogem mentah, nasib Kaito diselamatkan oleh benda bulat misterius yang berekor kayak sperma komet dan bercahaya terang yang melesat secepat kilat ke arah Makoto. Ulangi: BENDA BULAT. BERCAHAYA TERANG.  MELESAT CEPAT. YANG LANTAS DITINJU MAKOTO SAMPAI PECAH BERANTAKAN.




Pada titik ini saya mengalami kesulitan bernapas. Kebanyakan terkekeh. Usut punya usut, benda bercahaya itu cuma bola sepak yang ditendang Conan dari atap bangunan di dekat TKP. Khan maen. Udah macem tendangan-tendangan khas komik Kapten Tsubasa. Namun seolah tidak mau kalah sangar, sepanjang durasi film ini penonton disuguhi kedahsyatan demi kedahsyatan karateka remaja yang terbukti sanggup mengalahkan Thanos dan Avengers sekaligus―minimal di box office.

  • Kyogoku Makoto menghajar segerombolan preman Singapura? Checked.
  • Kyogoku Makoto menghantam bola bercahaya hingga berkeping-keping? Checked.
  • Kyogoku Makoto berlari di tembok layaknya ninja? Checked.
  • Kyogoku Makoto berantem sampai menimbulkan kepulan debu? Checked.
  • KYOGOKU MAKOTO BISA MENGELUARKAN TINJU BERCAHAYA SAAT PERTARUNGAN PUNCAK???? CHECKED.

Widihhhh. Kacoooooo. Berasa nonton Prince of Tennis atau Dragon Ball, dah. Akan tetapi segala keajaiban ini bisa dimaklumi semuanya tanpa terkecuali karena ada kata 'Goku' dalam 'Kyogoku'. Saya ingatkan sekali lagi: ADA KATA 'GOKU' DALAM 'KYOGOKU'.


Leon Lowe yang sejak awal diposisikan seolah sebagai tokoh antagonis, penjahat, sekaligus otak di balik segala kekisruhan dan kerusuhan yang terjadi, ternyata memang demikian adanya. Jangan senang dulu. Penulis skenario Konjou no Fist tampaknya sama-sama terobsesi dengan plot twist, layaknya banyak penonton film bioskop di Indonesia, sehingga pada sepertiga―atau seperempat?―akhir cerita, dimunculin tuh sosok serigala berbulu domba dan bumbu pengkhianatan. Siapa lagi biang keroknya kalau bukan anak haram Amuro Tooru-Okiya Subaru Rishi Ramanathan sang polisi random. Mata yang sejak awal cuma digambar segaris alias sipit pun mendadak melek. Melotot lebar saat Rishi memaparkan backstory tragis penyebab dia punya tujuan balas dendam.

Terus terang, ceritanya panjang dan kusut banget. Bahkan ada kandidat juara turnamen yang motivasi untuk duel versus Makoto begitu besar, hingga mau-mau aja direkrut penjahat. Wow. Benar-benar suatu tekad tak tergoyahkan. Nothing makes sense here, and yet the movie desperately and pathetically try to convince and explain that there is a logical sense in everything, which makes the movie maneuvering sharply from a (hopefully) suspenseful, serious, and mysterious story to something ridiculous and very much full-on comedy. Apakah ceritanya bagus? Nggak. Jelek banget, malah. Apakah menghibur? Suangattt. Infinity level out of ten.

Seperti ekspektasi awal saya: Marina Bay Sands remuk redam. GARA-GARA DIRUDAL BAJAK LAUT. Plus, nyaris ditubruk kapal tanker nyasar. Saya jadi paham alasan iklan turisme Singapura ikut ditayangkan bersama film ini. Demi menyakinkan calon pengunjung bahwa kondisi negara kecamatan tersebut nggak seabsurd apa yang ditunjukkan di layar lebar.

Since there's only one truth, I will make my confession: I had a fair share of laughter, Edogawa Conan Arthur Hirai. Thanks a bunch from your veteran fan. It's been long overdue that you give me an appreciation badge for sticking up all these years. Through your shitty moment to your shittier ones.

z. d. imama

My other posts in 'A very spoilery review' series:
  1. Resident Evil: The Final Chapter
  2. The Maze Runner: The Death Cure