Showing posts with label how-to series. Show all posts
Showing posts with label how-to series. Show all posts

Saturday, 27 October 2018

How to Ask Someone Out... Especially When That Someone is The One Writing This Post.

Saturday, October 27, 2018 4

Setelah sembelit tulisan di bulan September―dan selama berbulan-bulan sebelumnya cuma mampu bikin tiga postingan meskipun nggak bejuntrung, nggak penting, dan tidak dipedulikan juga, tampaknya sejak memasuki Oktober, isi kepala saya jauh lebih penuh dari biasanya. Atau saya lagi kebanyakan waktu luang aja. But that aside, a couple of days ago I received an interesting comment from Nanoki here, asking me on how to get closer and build a friendship with a person who's―suspected―rather selective in interacting with new people. Lah. Mendadak muncul pertanyaan kelas Nobel. Lumayan heran sih. Motivasi dan pertimbangan apa yang bikin saya, sesosok manusia krisis pergaulan ini, dianggap layak dimintai pendapat tentang tips berteman dengan orang lain? 

Komentar tersebut memang sudah saya respon di halaman yang bersangkutan, namun kok ya berhari-hari kemudian rupanya masih kepikiran. Barangkali karena saya sendiri penasaran. Gimana ya orang-orang di luar sana bisa punya teman main, ada yang diajak begini-begitu ke mana-mana, owning each other as BFFs, sementara saya bahkan nggak ngisi emergency contact di formulir kantor karena nggak tahu kira-kira in the event of emergency di perantauan, siapakah yang sebaiknya dihubungi terkait saya. Pertanyaan tersebut bikin saya mikir. Mengingat-ingat. Kondisi-kondisi macam apa yang bikin saya berangkat ke suatu tempat bersama orang lain, baik itu teman lama ataupun orang yang masih nggak kenal-kenal amat?

Maka saya putuskan bikin tulisan:

How to ask someone out (but it's actually just me).


Inti dari semua celotehan ini hanyalah bagaimana saya mengajak orang lain pergi bareng, serta ajakan-ajakan seperti apa yang lebih punya peluang untuk saya iyakan (dan bukan sekadar dibiarkan lewat). Narsis abis. Bodo amat lah. Wong tolok ukur yang dimiliki ya cuma diri sendiri. Sebenarnya pattern saya dalam mengajak (atau diajak) orang untuk menghabiskan waktu bersama-sama nggak berbeda jauh, tapi yang lebih jadi alasan penentu adalah: apakah sebelumnya saya sudah cukup mengenal orang tersebut?

  • Clear plan.

Ultimately, hal ini berlaku jika saya hendak berjumpa orang-orang yang sebelumnya tidak pernah, atau sangat jarang saya jumpai. Ajakan yang lebih terencana seperti nonton film Q, jalan-jalan mengunjungi pameran XYZ, datang ke convention ABC, punya kecenderungan untuk saya iyakan dibanding sebatas, "Ketemuan yuk, ngopi-ngopi di mana gitu". Kenapa? Clearer destination and purposes help me understand whether there is a shared interest or not, and how many hours will be spent together. Apakah bakal bareng seharian? Atau cukup beberapa jam? Nyari topik pembicaraan juga lebih gampang. Lebih terarah. Jika ternyata setelah dicoba ngobrol ketahuan kalau kurang nyambung, ada hal lain yang bisa dijadikan pusat perhatian. Minimal ketika nonton film, ada 90-120 menit di mana saya dan orang tersebut tidak perlu intens berbincang (sekaligus jadi sarana judging manner di dalam studio bioskop). Gitu.

  • Number of participants.

Penting nih. Ada berapa manusia yang nantinya saya temui? Bakalan berdua? Bertiga? Sejumlah anggota Super Junior circa 2009? Atau seluruh alumni Universitas Monas berangkat semua? Hm. Saya sih nggak benci berada di tengah kerumunan orang asing, toh hepi-hepi dan hore-hore aja berbaur di pasar malam, konser, atau area festival Asian Games 2018 maupun Asian Para Games 2018 tempo hari. Kenalan dengan sejumlah orang baru di suatu acara pun nggak masalah. Namun beda cerita kalau ditempatkan dalam situasi di mana saya dianggap sudah mengenal seabrek-abrek orang yang hadir (padahal nyatanya tidak), i.e. reunian sekolah. God please not that shit. Syukurlah jika bisa termasuk orang-orang yang menikmati kumpul-kumpul satu angkatan (bahkan lintas angkatan). Because I do not.

  • Expenses.

Ini lebih krusial lagi. Sebagai perempuan mandiri yang bekerja tapi penghasilan ceremende, bagaimana duit akan dikeluarkan saat berkegiatan bareng berperan penting. Keluar seratus ribu sekali jalan aja sudah sering bikin pening, apalagi kalau ngumpul dengan sejumlah orang di tempat yang minumannya segelas Rp40,000. Nggak pesen kok ya haus dan seret (lantaran banyak ngobrol), tapi kalau pesen sama aja bunuh diri. Memang rupanya alesan utama saya nggak punya teman dan fakir pergaulan itu kemiskinan finansial. Sehingga bisa dengan mudah ditebak, saya nyaris tidak pernah menolak ajakan main gratis atau makan gratis. Try to drop me an invitation to someplace with, "Nanti gue yang bayar" or "Acaranya gratis kok elo tinggal dateng aja" and I'll rush there riding a Pegasus.  Kecuali pas lagi sakit. Gini-gini saya masih punya kesadaran diri untuk berusaha tidak menulari orang lain lho.

  • Cats.

Saya perlahan menyadari bahwa kecepatan saya mengiyakan undangan seseorang untuk datang ke tempat tinggalnya agar bisa main-main dengan kucing-kucing yang mereka pelihara, mulai membahayakan keselamatan diri sendiri. And I guess... this explains itself. I don't need to elaborate further, right?


They will be the cause of my destruction.

Preferensi pribadi dalam menerima ajakan dari orang lain membuat prinsip yang sama  cenderung saya terapkan ketika hendak nyolek-nyolek orang agar bersedia main bareng. Tujuannya jelas, peserta terbatas―seringnya hanya berdua dengan saya, dan nggak pernah kemahalan. Barulah kalau sudah berteman dan akrab (yang hingga kini jumlahnya cuma segelintir), saya bisa random ngajak ngopi, lompat dari satu toko ke toko lain berburu buku, atau jalan-jalan keliling kota seharian tanpa juntrungan. Kan udah ngerti satu sama lain maunya apa. Bahkan ada tipe teman yang cukup saya kirimi pesan LINE, "Lho aku punya kok anime Captain Tsubasa tahun 1983 lengkap," untuk membuatnya datang ke kos dan binge-watching berdua sepanjang akhir pekan sambil ngata-ngatain kekonyolan adegan. Dasar wibu.

Bagaimana dengan kalian?

z. d. imama

Friday, 5 January 2018

How to Welcome New Year.. without Much Celebration.

Friday, January 05, 2018 8

Oh wow. It's 2018 now.

Well... jumpa lagi di pojok "How-To" keempat saya (yang akhirnya dibuatkan tagar tersendiri dalam The Chapters). Setelah sebelumnya pernah menulis tentang cara berfoya-foya jika tidak berduit, cara menghadapi pertanyaan-pertanyaan kepo di acara keluarga, dan cara menikmati hidup yang nggak istimewa, kali ini saya bermaksud membahas cara menyambut tahun baru tanpa merayakan. Iya, ngerti. Postingnya telat. Barangkali lebih baik saya unggah tulisan ini sebelum New Year's Eve, tapi ya sudahlah ya. Anggap saja sebagai referensi untuk pergantian 2018-2019 kelak. Harus visioner dong.

Ada banyak alasan yang membuat orang-orang enggan, sungkan, atau abort mission untuk going full-throttle di malam tahun baru. Tidak punya uang. Krisis teman. Tidak punya uang sekaligus krisis teman. Nggak punya pasangan―entah suami, istri, pacar, hingga selingkuhan. Malas berurusan dengan kemacetan. Malas berurusan dengan keramaian. Malas berurusan dengan kenalan (barangkali karena dia ngutang tapi nggak kunjung dilunasin). Kata pak ustad yang tiap ceramah urat lehernya kelihatan semua, pokoknya merayakan tahun baru itu haram! Ada anjing dan kucing peliharaan yang berpotensi takut dengar bunyi ledakan kembang api. Berjuta alasan kalau mau dicari sih pasti ketemu, mulai dari yang masuk akal sampai jelas akal-akalan. That being said, we have our own reasons not to have a flashy new year party. And that's why I'm writing some alternatives you can do at home.

Shall we start?

- Watch some movies (or series, concert videos, etc).

Kegiatan yang relatif paling mudah dilakukan. Cukup bermodalkan televisi, PC/laptop maka urusan bisa terselesaikan. Bahkan jika apa yang ingin ditonton adalah DVD atau file-nya sudah di-download sejak lama, maka kita nggak butuh-butuh amat koneksi internet (yang mana sering sekali mendadak lemot dan gangguan di saat-saat krusial karena sebagaimana kata mantan Menkominfo kita, "Internet cepat buat apa?"). Jangan lupa sediakan sedikit cemilan untuk menemani. Ngendon menonton film di rumah, kos, atau kamar adalah alternatif kegiatan murah meriah yang bisa dilakukan sendirian maupun bersama orang lain. Malah kalau nggak ada barengannya, kita justru enak-enak aja mau pause dan replay bagian-bagian tertentu sesuka hati tanpa ada yang terganggu.

Black Mirror 4th Season is out!!!

- Cook your own New Year dinner

Ingin punya memori agak khusus tapi ogah ke mana-mana? Mau usaha rempong sedikit? Bagi anak-anak kos yang mentok-mentok masak mi instan, goreng nugget (atau salah satu di antara ini: tempe, tahu, telur, nasi), malam tahun baru adalah waktu yang cukup pas untuk memasakkan diri sendiri sesuatu yang lebih oke dibanding biasanya. Boleh juga janjian dengan teman untuk bikin cooking night kecil-kecilan―supaya bisa bagi tugas cuci piring sekaligus patungan pengeluaran beli bahan makanan. Berdasarkan pengalaman pribadi, memesan delivery justru kurang direkomendasikan. Kondisi restoran serta jalanan yang ramai bakal membuat pesanan lama diantar.

Masak-masak bersama Puti, makanan satu panci dihabisin berdua.

Ngomong-ngomong, saya pernah iseng-iseng berbagi dua buah resep di tulisan ini dan di sini. Relatif gampang, cuma yaa untuk salah satunya memang butuh kesabaran. Silakan dicoba!

- End that long overdue journey!

Kalian punya game yang nggak kunjung tamat karena nggak sempat memainkan, atau terdistraksi gim baru lainnya sebelum menghadapi musuh terakhir? Punya buku-buku yang nggak kelar dibaca gara-gara alasan serupa? Malam tahun baru yang selow bisa jadi kesempatan emas bagi kalian untuk menyelesaikan hal-hal tertunda itu. Sense of accomplishment-nya lumayan, lho.

- Clean up! Clean up! Clean up!

Merasa punya banyak energi dan butuh menggerakkan badan... tapi nggak berniat ajeb-ajeb sampai pagi? Nyikat WC aja. Serius. Bereskan semua sudut di rumah, kamar tidur, kamar mandi. Sapu lantai sambil sesekali air-guitaring kalau kalian tipe yang memutar musik saat bersih-bersih. Pel sampai kinclong. Cuci tumpukan baju kotor (bagi kalian yang nggak langganan jasa laundry). Gosok ubin dan toilet hingga berkilauan. Energi tersalurkan, badan segar keringetan, rumah dan kamar bebas dari kesemrawutan.

Asyik juga, kan.

Apa? Bersih-bersih di malam tahun baru nggak Instagram-able? Dih, siapa bilang? Asal kalian kreatif, cukup banyak kok variasi pose-pose foto lucu, seru, dan konyol yang bisa diambil ketika membereskan ruangan. Misalnya kayak gini:

Foto fantastis di atas diambil dari sebelah sini.

- Make use of all those e-coupons!

Punya banyak uang tapi ogah jalan-jalan? Tenang. Hari gini, semua bisa teratasi dengan online shopping. Banyaknya marketplace memberikan end-year sale/special discount membuat kita tidak usah capek-capek bergulat dengan sesama pemburu barang murah di toko saat midnight sale. Tidak jarang free shipping juga ditawarkan. Pokoknya apa pun demi menarik perhatian dan menyedot uang pelanggan.

Tahun baru, tas baru.
Tahun baru, baju baru.
Tahun baru, sepatu baru.
Tahun baru, furnitur baru.
Tahun baru. printilan makeup baru.
Tahun baru, masalah-masalah keuangan yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya (oke khusus kalimat terakhir cuma saya numpang curhat).

- Sleep it all away

Aktivitas paling mudah, sekaligus memberikan justifikasi untuk mengetikkan guyonan superbapak-bapak keesokan harinya di media sosial: "Enak juga ya tidur setahun, bangun-bangun udah 2018". Tidak ada yang salah dengan melewatkan detik-detik pergantian tahun dan memilih tidur, sebab siapa tahu bisa mimpi jalan-jalan ke Islandia, ke Mars, atau mendadak tajir berkat menang kuis Who Wants to be a Millionaire (buset, lawas). Ketimbang nekat melek di realita yang gini-gini aja, yekan.

Mending bobok.


Apalagi jika menjelang akhir tahun kalian digembleng lemburan. Tidur sepuasnya memang terdengar sebagai opsi yang jauh lebih masuk akal dibandingkan menunggu datangnya tengah malam. Jangan lupa minum air putih biar nggak dehidrasi.

So, that was it. Six other activities you can do at home. Please do not hesitate to write it down on the Comment section below, in case you have other things you'd like to shareTerus terang, menurut saya masih ada satu kegiatan lagi yang bisa dilakukan saat malam tahun baru tanpa hingar-bingar, namun demi menjaga rating tulisan ini agar tetap Semua Umur dan tidak mendadak meliuk ke 21+, poin terakhir lebih baik saya skip saja. If you get what I mean. *kedip-kedip kayak lampu di dada Ultraman*

Wish you all a happy 2018!

z. d. imama

Saturday, 2 September 2017

How to be a Pro at 'Simple Living'... When Nothing Happens in Your Life

Saturday, September 02, 2017 13

"Urip kok ngene-ngene wae."

Saya yakin ungkapan seperti itu pernah, minimal satu kali, mampir di telinga kita semua. Bahkan mungkin kalimat "Hidup kok gini-gini aja sih?" justru terlontar dari mulut kita sendiri. Termasuk saya. Entah bagaimana dengan orang lain, tetapi bagi saya yang pernah berkhayal tersedot ke dunia digital dan mendapatkan digimon partner lalu bertualang bersama sejumlah anak-anak terpilih lain, atau tiba-tiba mendapat surat bukti diterima di Sekolah Sihir Hogwarts, atau menyaksikan pendaratan Gundam di lapangan belakang sekolah, kehidupan nyata yang memiliki prinsip sesederhana 'Nothing comes without a price' terasa sangat biasa saja. Apalagi seperti yang telah diketahui melalui tulisan ini, saya tidak punya uang. Lalu hidup mau ngapain?

Saya tahu di luar sana bertebaran orang-orang yang mengkampanyekan prinsip "Live Your Life to Its Fullest", lengkap dengan berbagai argumentasi pendukung. Misalnya menyuruh banyakin jalan-jalan, piknik, traveling. Macam-macam. Bagus, sih. Cuma hal-hal tadi nyaris tidak ada yang applicable dalam hidup saya karena faktor finansial. Survival code saya yang terdiri dari 3 I: Internet, Indomie, dan inner beauty ini kesulitan mengikuti nasihat-nasihat ciamik tersebut.

That being said...

Kali ini saya akan menuliskan hal-hal yang dapat dilakukan untuk hidup yang lebih adem-ayem ketika kenyataannya mentok di segitu-gitu aja. Bodo amat. Memang hidup kadang-kadang bisa nggak keren, kok. All hail #KizminLyfe.


No Energy to Scrutiny People's Life

Sikap ini bisa diterapkan untuk menghindari rasa iri, dengki, atau kecenderungan bergunjing, bahkan membanding-bandingkan hidup sendiri dengan orang lain. Entah baik atau buruk, tapi saya terbilang malas meluangkan waktu meng-update diri sendiri mengenai hidup orang. Apalagi yang hubungannya tidak akrab-akrab amat. Saya nggak merasa perlu tahu siapa pacaran dengan siapa, siapa habis piknik ke mana, makan siangnya apa, habis belanja di mana, dan hal-hal sejenis. Terus terang saya bukan orang yang menyenangkan untuk dijatuhi gosip sebab biasanya tanggapan yang akan kalian dapatkan cuma, "Oh", atau "Wah", atau "Hmm".

Wish for Impossible Things Instead of Achievable Things

Ada kan, tipe-tipe orang yang saking kepenginnya suatu barang, atau berhasrat mendapatkan sebuah pengalaman, sampai stres sendiri karena nggak kesampaian. Ingin punya mobil keren, misalnya. Nah... supaya tidak terjadi hal seperti itu, coba ubah keinginan-keinginan 'masuk akal' itu menjadi impian-impian halu. Kayak saya, misalnya. Jomblo kelamaan lalu berargumen ingin menikahi pilot Gundam saja. Mau naik pesawat nggak kebayar tiketnya? Berkhayallah jadi nabi, agar siapa tahu nantinya dikasih kesempatan naik Buraq juga oleh Tuhan YME. Tadinya ingin Porsche? Ganti menjadi ingin punya Firebolt, atau naga peliharaan.


The "Ngapain?" Principle

Salah satu siasat kunci untuk hidup yang lebih chill adalah mempertanyakan faedah dan signifikansi berbagai macam hal sebelum mengambil tindakan. Biasanya, ini akan berujung pada tidak adanya tindakan apa pun. Woles sekali, bukan. Mari kita cari contoh. Ada temen yang isi feed media sosialnya senang-senang terus? Party, jalan-jalan, makan enak di restoran fancy? Tergoda sih untuk meng-update feed kita dengan hal-hal serupa agar tidak kalah dengan teman dan kenalan... tapi ngapain? Kan sudah tahu kalau nggak punya uang. Ngapain dipaksain?

Be That Eco-Friendly Trash

Nggak apa-apa hidup gitu-gitu melulu. Bukan masalah seumur-umur nggak pernah menang penghargaan apa pun (boro-boro Nobel Prize, Murid Teladan saja tidak masuk nominasi). Bodo amat nggak jadi sosok manusia yang berkontribusi dalam terciptanya perdamaian dunia. Barangkali hidup kita memang cuma menuh-menuhin bumi, tapi selama kelakuan kita nggak menciptakan 'polusi' tambahan, ya sudahlah. Sebab di zaman sekarang banyak pihak berlomba-lomba menjadi orang yang tampak lucu, pintar, keren, atau populer... namun sedihnya, justru melupakan bahwa jauh lebih penting jadi orang yang baik.

Keep your head up straight, people.
It's totally cool to have a completely-not-cool life.

z. d. imama

Sunday, 25 June 2017

How to Respond to Questions from Relatives on Eid

Sunday, June 25, 2017 10

Selamat Hari Raya Idulfitri, teman-teman!

Terima kasih sudah bersedia meluangkan waktu untuk membaca isi dari blog saya yang kebanyakan nggak ada pentingnya ini. Hahaha. Berhubung sekarang hari Lebaran (dan saya belum mudik sehingga nganggur di kos), saya akan mencoba memberikan tips-tips sederhana mengenai cara-cara mengatasi pertanyaan sekaligus komentar―yang berbau ikut campur dan kadang terasa menyudutkan―dari saudara-saudara jauh saat acara kumpul keluarga besar ketika hari Idulfitri.

Lebaran, dengan budaya mudiknya, merupakan ajang bagi anggota extended family yang biasanya tidak saling bertemu menjadi berinteraksi dan saling kenal. Pertemuannya pun dalam setahun hanya bisa dihitung jari. Kalau bukan di momen Idulfitri yaa... Natal. Atau kegiatan lain yang melibatkan banyak orang (misalnya arisan keluarga besar). Tapi masalahnya, saudara-saudara jauh bermodal kepretan DNA dari eyang/leluhur yang mendadak mendekat ini sering―meskipun tidak selalu―tidak tahu diri sadar bahwa mereka jarang sekali berhubungan dengan kita dan hampir tidak punya andil besar pada suka-duka hidup kita. Banyak di antara mereka yang memilih menanyakan atau mengomentari hal-hal yang termasuk pilihan pribadi, prinsip, bahkan kadang-kadang memerintahkan sesuatu.

Hal-hal yang paling sering terkena serangan komentar dan pertanyaan kerabat jauh ketika Idulfitri kurang lebih sebagaimana tertera di bawah ini:

  • "Kapan lulus?" dan segala variasinya, khusus bagi mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi.
  • "Udah ada pendamping wisuda belum?" sebagai variasi dari "Masih jomblo atau udah punya pacar?" untuk mahasiswa-mahasiswa yang sudah lulus sidang skripsi tapi belum upacara wisuda.
  • "Lho, belum kerja?" yang biasanya ditujukan kepada lulusan universitas atau akademi yang masih bergulat mencari pekerjaan, atau yang memang memutuskan untuk mencari nafkah dengan cara non-kantoran (misalnya berjualan barang secara online).
  • "Kapan nikah?" dan segala repackaged version-nya, biasanya sudah mulai dilontarkan ke anak-anak perempuan yang sudah memasuki usia 20 tahun ke atas (kalau laki-laki saya nggak tahu karena nggak ngalamin), cenderung makin gencar dan makin sadis seiring bertambahnya waktu.
  • "Kapan punya momongan?" yang kerap digunakan untuk mencecar pasangan-pasangan yang sudah menikah tapi belum punya anak, memang menunda punya anak, atau memilih untuk tidak punya anak. 
  • "Kapan nambah?" ini bukan tentang nambah makan, tetapi menambah jumlah anak. Ya tentu saja sasarannya adalah pasangan suami-istri yang anaknya hanya satu. 
  • "Mainannya lucu, buat anakku satu ya?" adalah pertanyaan sekaligus permintaan ngelunjak yang tidak jarang dicetuskan oleh kerabat jauh kepada kita kalau mengoleksi barang-barang seperti Funko, Gunpla, action figure, atau sejenisnya.
Jika ada contoh pertanyaan lain, silakan ditulis di kolom komentar sebagai submission!

Inner me: "LEAVE. ME. ALONE!!"

Bagaimana cara untuk men-tackle pertanyaan-pertanyaan di atas? Ada beberapa alternatif yang bisa dipilih, tetapi efektivitas setiap opsi tidak bisa ditentukan karena yaaah... ngefek-nggaknya ke setiap orang kan beda-beda. Silakan putuskan sendiri siasat mana yang akan kalian gunakan ya!

- The "Senyumin Aja" Strategy

Nggak usah dijawab. Nggak usah ngomong apa-apa. Pokoknya senyum! Jika memungkinkan, saat kalian tersenyum manis kepada pihak penanya, lakukan sambil pindah dari posisi semula ke tempat lain yang jauh dari jangkauan suara dan tangannya. Sehingga sikap ini merupakan silent version dari, "No, I am not going to answer this. Bye."

- The "Jawab Asal-Asalan" Strategy

Ingin meladeni? Ingin menjawab? Tapi juga ingin sedikit rese? Bisa pilih metode menjawab ngasal. Sewaktu ditanya, "Kapan kawin?" misalnya, kalian bisa jawab "Minggu depan kali ya, mumpung bulan Ramadan sudah selesai". Atau justru mendapat pertanyaan, "Pacar kamu mana kok nggak pernah dikenalin"? Tenang. Coba bilang, "Lho, orangnya ada di sini kok," dan biarkan mereka menebak-nebak siapa di antara keluarga besar yang diam-diam kalian kencani (padahal fiktif).

- The "Serangan Balasan!" Strategy

Jika kalian termasuk orang-orang yang paling tidak bisa merasa dipojokkan, ditindas, atau dicampuri urusan hidupnya, tampaknya siasat serangan balik ini cocok untuk kalian. GO FULL OFFENSIVE, PALS! Sebagai contoh, ketika kalian mendapat pertanyaan, "Kamu kok nggak lulus-lulus kuliah?" dari saudara yang kebetulan punya anak dengan usia di bawah kalian, bisa membalas dengan, "Ya minimal saya keterima di kampus bagus, kalau (masukkan nama anak si penanya) kan belum tentu". Kalian dapat komentar, "Nggak usah terlalu pilih-pilih jodoh"? Santai. Bisa dijawab, "Kalau saya nggak milih-milih, nanti kehidupan rumah tangga saya susah kayak Om/Tante". Koleksi mainan kalian diminta satu oleh kerabat dengan dalih untuk anaknya? Jangan panik. Bisa katakan, "Miskin ya sampai nggak sanggup belikan mainan untuk anak sendiri? Kebanyakan anak?" sebagai serangan balasan. Tapi harus diingat, strategi ini juga sangat efektif untuk membuat kalian jadi the black sheep of the family.

- The "Pura-Pura Sakit Tenggorokan" Strategy

Ini adalah siasat melarikan diri, alias cari aman. Kenakan masker sepanjang momen Lebaran. Berpura-puralah sedang sakit tenggorokan dan nggak sanggup ngobrol dengan orang-orang, niscaya kalian tidak akan harus repot-repot memberikan respon terhadap komentar dan pertanyaan mengganggu, bahkan tidak perlu turut berbasa-basi dengan semua orang. Cukup berikan sinyal yang menandakan bahwa kalian tidak bisa bicara, habis perkara!

Masker debu ya, bukan masker perawatan wajah...

Sudah memutuskan siasat mana yang akan diterapkan untuk Lebaran kali ini? Sekali lagi, selamat Hari Raya Idulfitri untuk kalian! Lebaran nggak Lebaran, yang penting ikut liburan!

z. d. imama

Saturday, 28 January 2017

How to Manage Your Money... When You Have None

Saturday, January 28, 2017 25

Beberapa waktu yang lalu sempat ngetren di kalangan blogger-blogger untuk bikin postingan mengenai cara mengatur keuangan ala-ala diri sendiri. Bahkan termasuk Mbak Kimi, yang cukup sering mampir ke blog semenjana milik saya ini (terima kasih ya, Mbak... *sungkem*). Terus terang saya sih kepengin juga bikin tulisan sejenis. Keren gitu rasanya, mengetikkan "Cara Mengatur Keuangan Versi Gue" di kolom judul postingan.

Cuma masalahnya: saya tidak punya uang.

Gimana mau ngatur duit kalau yang diatur aja nggak ada, kan? Hahaha. Untuk keperluan "foya-foya" alias hura-hura, yang belakangan lebih populer di kalangan anak-anak kuliahan (meski saya sudah tidak kuliah lagi) dengan istilah "hedon", alokasi dana per bulannya sekitar seratus hingga dua ratus ribu rupiah. Sudah. Lebih dari itu, saya mungkin harus menggoreng lemak-lemak di badan saya sendiri untuk dijadikan lauk makan. Bisa sih sebetulnya, dana khusus bergembira ria ini ditabung supaya... lebih aware akan kebutuhan jangka panjang. Tapi kayaknya saya bakal mati stres hanya dalam jangka waktu tiga atau empat bulan kemudian. Huks. #NangisDiPojokan

(Thank God I found the right gif)

Jadi marilah pada kesempatan kali ini biarkan saya membahas: dana jatah foya-foya ala kadarnya ini saya pakai buat apa setiap bulannya? Bodo amat. Namanya juga #KizminLyfe. Daripada bikin tulisan membosankan mengenai duit yang numpang lewat karena harga sewa kosan mahalnya amit-amit... lebih baik bersukaria dalam kebokekan. I'm such a pro in this matter (self-proclaimed, mind you), so here we go.

How to Spend Your Money When You Have Almost None... For Fun.

Buying books.

Saya suka sekali buku. Mungkin karena dulu semasa kecil (bahkan sampai sekarang pun) saya sulit bergaul, jadi teman-teman pertama saya adalah buku-buku di perpustakaan sekolah. Bahkan dulu ibu guru penjaga perpustakaan SD sampai pernah menanyakan apakah ada buku di perpus yang masih belum saya tamatkan, karena beliau bermaksud membelikan beberapa buku baru kalau semuanya ternyata telah saya lalap habis. Komik Serial Tokoh Dunia dulu jadi favorit. Saya juga suka membaca ensiklopedia (iya, yang besar dan tebel itu) karena banyak halaman berwarna dengan foto-foto, serta nama-nama Latin yang menurut saya sangat seru saat dilafalkan.

Beli buku bagi saya semacam sudah jadi kebutuhan... sekunder. Nggak bikin mati juga sih, tapi sudah cukup menyiksa kalau harus puasa berbelanja buku. Maka bisa dibilang semenjak punya penghasilan sendiri, setiap bulan saya minimal beli satu buku baru buat menuh-menuhin lemari dibaca kala senggang (yang biasanya sengaja disenggang-senggangin). Sampai detik ini, saya masih belum bisa beralih ke e-book. Lebih pilih buku fisik. Saya nggak kuat jika harus menatap layar lebih dari yang sudah-sudah...

Disclaimer: bukan foto milik saya.

Going to the cinema.

Bokek-bokek gini, menonton film di bioskop adalah salah satu hobi saya. Merepotkan, toh? Jadi ya solusinya adalah, saya harus pintar-pintar memilih film mana yang akan saya tonton dan mana yang harus diikhlaskan menunggu rilisan DVD-nya. Biasanya, kecuali ada teman yang berbaik hati mentraktir, saya maksimal hanya nonton satu film di bioskop setiap bulannya. Itu pun sengaja mencari tempat dengan harga tiket maksimal Rp50,000. Rekor terpanjang saya adalah setengah tahun tidak ke bioskop sama sekali. Udah kayak ngambil cuti akademis, hahaha...

Syukurlah, film-film yang belakangan saya tonton (pakai duit sendiri) cenderung memuaskan hati. Jadi nggak rugi lah. Apalagi kemarin saat nonton Dangal. Nggak biasanya saya keluar studio setengah gemetaran saking terlalu banyak emosi yang meluap. Sebelum Dangal, saya menyaksikan The Girl on the Train. Lumayan juga. Akting Emily Blunt yang meyakinkan benar-benar menjadi kunci film ini. Tapi terus terang saya belum memutuskan mau nonton apa lagi setelah Dangal. Mungkin Resident Evil: The Final Chapter, karena saya bias banget sama Mbak Milla Jovovich.

Tante Milla junjunganku.

Treating my belly.

Alias: makan enak. Jika rata-rata sekali makan cuma sepuluh sampai lima belas ribu rupiah, maka demi memanjakan perut dan lidah, alokasi dilonggarkan hingga.. lima puluh ribu rupiah, misalnya. Tetep standar jelata sih. Tapi toh saya sudah bahagia, jadi ya nggak apa-apa kan?

Taking a random trip.

Lho, jangan salah. Biarpun kere saya tetap suka jalan-jalan. Kegiatan yang cukup saya nikmati adalah naik TransJakarta, KRL Jabodetabek, Kopaja, atau transportasi umum lainnya tanpa terlalu memikirkan jurusan tujuan. Turun saja di sembarang tempat, lalu jalan-jalan berkeliling memperhatikan apa yang ada di area tersebut. Biasanya sih berujung dengan saya nyasar. Tapi tidak masalah. Toh sekarang selalu bisa OOTTR (Ojek Online To The Rescue). Kalau nggak nemu jalan pulang, pesan saja ojek. Selama masih di area Jabodetabek tetep bisa dianterin balik ke kosan kok sama abang ojek. Hehehe. Hehe. He.

Saya harap suatu saat standar bus di Indonesia bisa sebagus dan sebersih ini.

Jadi itulah variasi hal-hal yang biasa saya lakukan untuk membuang duit yang cuma sedikit memanfaatkan jatah dana bersenang-senang. Jika ada di antara kalian yang bersedia berbagi ide aktivitas lain, boleh dong dituliskan di kolom komentar. Saya akan menyambut dengan senang hati. Semakin banyak pilihan semakin seru, kan? Meski memang tidak mudah, mari bersama-sama kita berusaha menerapkan lirik lagu Koes Plus yang legendaris itu: "Hati senang walaupun tak punya uang".

z. d. imama