Showing posts with label what i listen to. Show all posts
Showing posts with label what i listen to. Show all posts

Wednesday, 12 August 2020

All I know is that my love for you is real, Travis "We're 42,8% Kaito" Japan.

Wednesday, August 12, 2020 2

If you're not familiar with Johnny&Associates, then maybe this post is just not for you. But if you insist to read a truckload of intense feelings for people you've probably never heard of, and a bunch of song titles most of which will not be able to find in Spotify or other digital services, seeping through my fingers and spilling on this page, then go ahead

So, this story begins with an awful pandemic.

Berkat sepak terjang COVID-19 yang rasanya udah kayak serbuan alien yang sulit dilihat mata seperti kisah Animorphs, konser-konser yang biasanya dilakukan 'manual' jadi banyak berubah haluan ke live streaming. Termasuk acara konser dari talent-talent dan grup dalam kantor agensi Johnny&Associates, yang juga merupakan tempat Arashi bernaung. Mengingat saya sudah pernah beberapa kali menyebut Arashi di sini, termasuk pada saat membeberkan sejumlah musisi dan artis yang diskografinya secara rutin saya simak, mungkin sekarang arah tulisan ini mulai jelas.

Now, enter... TRAVIS JAPAN.


I'll be quick in introduction. 

Travis Japan's main weapon is their dancing versatility. This is one group with practically 'the highest demand' for back-dancing their senior groups in concerts and live tours because when you have them, then you are guaranteed quality. They are currently an undebuted group, albeit 8 years has passed since their formation (so if anyone ever say to me that becoming an idol in Japan is easier than in the neighboring country, I think I'll punch them in the face with my bare hands). The group now—and I'd like to think about this as a permanent thing instead of temporary—has seven members: Miyachika Kaito, Nakamura Kaito, Shimekake Ryuya, Yoshizawa Shizuya, Kawashima Noel, Matsukura Kaito, and Matsuda Genta. Note how three of them are named Kaito. THREE. Out of seven. So yeah, I guess that should explain my blog post title.

Anyway

SUMMER PARADISE, pekan konser tahunan yang menampilkan talent-talent J&A yang memang diadakan di masa liburan musim panas, untuk kali ini harus ikut berpindah medium ke live streaming. All thanks to the unrelenting COVID-19. Konser akan ditayangkan live dari venue yang hanya diisi performer dan staf produksi seperlunya. Namun perubahan ini sekaligus berarti bahwa saya, manusia jelata penghuni negara dunia ketiga yang duitnya tidak seberapa, jadi bisa ikutan nonton dari layar laptop di kamar kosan karena tidak harus repot-repot mengejar nun jauh ke Jepang sana. 

SUMMER PARADISE ROAD TO HALAL 2020, HERE I COME.


Tampilan layar menunggu dimulainya live stream.

Tahun ini, masing-masing anggota Travis Japan mendapat kesempatan solo performance alih-alih grup, dijadwalkan mulai dari tanggal 1 Agustus hingga 10 Agustus 2020 lalu. Jujur saja sebagai penggemar, saya agak cemas-cemas gugup. Travis Japan gains confidence the most when they're flocking together and some are rather shy by themselves. Will this be OK? Like, really? Namun di sisi lain, peluang ini mungkin bisa 'memaksa' mereka untuk jadi lebih pede dan mandiri. Sekaligus cek ombak kalangan pendukung dan penggemar: kalau dipencar model gini masing-masing member sanggup bawa duit berapa? J&A memang paling jago kalau udah perkara mengeruk uang dengan dalih cinta.

That being said, I ended up letting them take my money.
No regrets here.

Konser SUMMER PARADISE Travis Japan dibuka dengan penampilan Kawashima Noel, member tertua sekaligus satu-satunya orang yang paling tidak saya khawatirkan. Noel ini... serba bisa. Pinter, baik hati, jago nyanyi, bisa akrobatik, loyal, dermawan, nggak gampang marah, bisa diajak bercandaan bego-begoan, dan sejauh ini kelihatannya sih tidak menilai orang dari sekadar penampilan luar. Salah satu kandidat kuat Asia's Next Top Kesempurnaan, lah. Performa Noel sang top batter alias pemecah telor banyak menuai pujian penonton di media sosial. Ekspektasi langsung tinggi untuk sisa jadwal SUMMER PARADISE tahun ini.


Kawashima Noel, yang hampir selalu kejatah giliran pertama untuk banyak hal.

Saya mulai mules karena hari berikutnya, Nakamura Kaito, tampil sendirian. Ketika anggota Travis Japan lain ditemani sejumlah adik-adik sesama Johnny's Junior—semacam istilah untuk 'trainee', atau talent yang belum debut—sebagai backdancer, Nakamura Kaito diumumkan akan benar-benar tampil sendokiran. Pikiran saya sudah cemas nggak karuan. Apa ntar nggak bakal kelihatan kosong dan sepi banget nih panggung? Kaito, kamu bukan mau stand-up comedy. Kamu mau konser. Seriusan nggak mau ngajakin... yah, siapa kek...? Buat dijadiin penggembira?

Eh, ternyata dia nongol-nongol kayak gini:



Pusing seketika.


Kaito muncul di backstage yang diatur menyerupai kamar dan sorotan kamera tanpa henti mengikuti dia bergerak naik ke panggung. Mantap, Bang. Jagoooooooo. Ide menggunakan kamera jarak dekat benar-benar brilian, sih. Panggung nggak kelihatan kosong karena satu layar literally penuh terisi dia semua. Pun jadi terasa... uh, intens. Jantung sudah anjlok sampai ke dengkul bahkan sejak tiga menit pertama.

But nothing, I mean, NO-FUCKING-THING, prepared me for THIS:


NAKAMURA KAITO YOU THIRST TRAP.

ASTAGHFIRULLAH... MAS, KAMU HARUSNYA NARUH RATING "R" ATAU MINIMAL "PARENTAL ADVISORY" BUAT KONSER INI... ISN'T THIS WHAT THEY CALL AS EXPLICIT CONTENT??? Mentang-mentang orang Jepang kemampuan rata-rata bahasa Inggrisnya B aja terus kamu kayak gini? Di pertunjukan yang kemungkinan besar juga ditonton anak-anak di bawah umur? Tunggu dulu, Bos—kamu ngerti nggak sih apa yang kamu nyanyiin? Ngerti, kan? Ini tuh SENGAJA, ya?

*Menenggak segalon air untuk mendinginkan suhu tubuh yang mendadak panas.*
*Menarik napas dalam-dalam.*

Well. In hindsight, this is the very same guy who picked Johnny's WEST's "YSSB"—out of all songs he could pickfor his own production corner in Travis Japan's concert last year. Masuk akal sih kalau tahun ini Kaito memutuskan untuk mengakselerasi level kehausan yang diakomodasi dalam pertunjukannya. Barangkali label 'seksi' untuk member Travis Japan secara resmi disematkan ke Matsuda Genta, tapi udahlah mari kita semua sepakat mengakui bahwa penyumbang faktor dahaga terbesar memang terletak di Nakamura Kaito. (Please don't make me say anything about that moment when the camera closed in on his crotch grinding and my brain short-circuited pathetically.)

On a more sane and sober topic, I do think Nakamura Kaito did things excellently well despite performing alone. And oh gosh, I love how he put attention to the lighting as they help set the mood. So, so many beautiful moments I ended up doing screenshoot frenzy. Dominasi shot-shot jarak dekat berhasil menimbulkan intimasi khusus sekaligus membantu mengaburkan fakta bahwa tidak ada orang lain yang berada di atas panggung selain dia. Saat pada akhirnya muncul long shot, efeknya jadi lebih impactful dan nggak terasa melompong karena ada nuansa tersendiri yang ditampilkan. Misalnya begini:



This man has Aesthetic with a capital A, bold letters and he knows it too well.


AND DID I SAY "THIRST TRAP" BEFORE??? 
I DID YEAH???



Sepertinya habis ngonser perlu solat tobat.

But at the end of the day bitches be like crying and bawling in front of a laptop screen over Nakamura Kaito's weird-ass hand-drawn short story telling you about Travis Japan's longtime blood-sweat-and-tears journey on a huge background screen. I am bitches.


Begitu live streaming konser Nakamura Kaito selesai, rasanya kayak mau pingsan aja. Emosi dan libido terlalu banyak dipermainkan. Capek. Padahal cuma mantengin laptop. Nggak masuk akal, emang. Tapi nyata. Bahkan saya menumpahkan perasaan di tulisan ini sesudah ketujuh member Travis Japan selesai manggungyang mana artinya sudah beberapa hari berlalu sejak penampilan Nakamura Kaito, namun gejolak emosional itu kembali menghempas. 

Sujud syukur alhamdulillah ya Rabb, yang tampil setelah Nakamura Kaito tidak lain dan tidak bukan adalah: Matsuda Genta. Anggota termuda sekaligus yang paling... selow. Terima kasih, Genta, telah mengembalikan kewarasan dan kestabilan psikologis karena konsermu yang mood-nya bener-bener mengundang penonton untuk lesehan dan leyeh-leyeh bersama. Betapa Genta masa bodoh dengan imej Travis Japan yang dance-heavy dan justru memutuskan tidak pakai koreografi kompleks di sebagian besar durasi dan memperbanyak goyang-goyang hore ala kadarnya terasa menghibur dan menggelikan. Seolah-olah ini merupakan kesempatan emasnya untuk... 'cuti'.

Setlist Genta yang pada dasarnya cuma terdiri dari lagu-lagu Shonentai, KinKi Kids, Arashi, dan Hey! Say! JUMP juga bikin senyum-senyum cekikikan. Ada sekian banyak grup dan artis senior di J&A dan dia hanya melibatkan empat nama. It's as if he went, "Nah screw it, I'll only perform songs of my most favorite people and what I like to sing in my bathroom at home" and that's that. Khas Genta banget. It doesn't feel as dramatic or emotionally-draining as Nakamura Kaito's show, but Genta's solo concert is a peaceful night after a violent storm and I appreciate it VERY MUCHGenta's warm vocal really offers soothing sensation.

One of my favorite scenes.
 
The camera work, though... it's rather unflattering. Ada banyak momen di mana mestinya gambar yang ditampilkan bisa lebih atraktif dengan cara berbeda, atau dari sudut berlainan. Bulan purnama di gambar sebelumnya juga nggak tampak bulat sempurna kan? Semacam membatin, "Coba kameranya digeser dikitttttttttt lagiiiii... plis plis PUHLEASE". And during "PINK" (originally performed by Hey! Say! JUMP's Yaotome Hikaru) the camera moves around a little too much it's rather hard to watch, and at times it doesn't show the right angle. Sepanjang lagu dibawakan, shot yang nendang pas dilihat rasanya hanya di chorus terakhir. Rada kocak lihat huruf PINK segitu gede tapi background-nya pakai warna biru, member color Genta.


Mendekati penghujung pertunjukan, Genta muncul dalam kostum yang menurut pandangan mata saya, mirip baju santri mau berangkat ke langgar, ikut ngaji. Mana dia lepas sepatu dan memilih nyeker, pula. Saya harus menahan diri supaya nggak buru-buru login situs Archive of Our Own dan berakhir bikin fanfic Genta jadi mualaf.


Belajar mengaji bersama Matsuda Genta.

So, Genta's turn is wrapped up
Giliran berikutnya adalah the Pretty Boy of the Group, Shimekake Ryuya

Saya sampai sekarang kadang-kadang masih suka lupa kalau Travis Japan isinya cowok-cowok semua, saking Shime punya pembawaan relatif kalem dan nggak terlalu banyak heboh ngomong, lengkap dengan penampilan yang lumayan... um, effortlessly androgynous. Imej 'manis', 'menggemaskan', dan 'imut' sangat melekat erat dengan Shime, yang padahal kalau ditatap cukup dekat, jakunnya kelihatan jelas banget (tolong jangan bertanya kenapa mata saya jelalatan mantengin jakun orang; each to their own personal kink). Konser tunggal Shime juga dibuka dengan (adegan) yang manis-manis. Anggaplah buka puasa bagi para penggemar.


Namun terus terang, dibandingkan Cute Shimekake, saya lebih nggak kuat kalau ketemu Serious Shimekake, yang mana pada pokoknya hanya Shime pasang wajah serius dan aura galak, sangar, nan jutek. Widih auto panas-dingin. Meriang dalam sekejap mata. Dibandingkan berhadapan dengan Shimekake Ryuya sewaktu sedang kalem-kalem cantik:


Lebih memilih Shimekake Ryuya yang sedingin freezer kulkas:



Benar, mas Ryuya. Barangkali saya terlanjur kehilangan kewarasan. Sanity 404 not found, gitu deh. Tapi coba saya tanya deh: ini semua GARA-GARA SIAPA? Hmmm? Nggak sadar diri?  Sama sekali? Harus banget dijelasin satu-satu?

For real, though. Shime looks damn good in that deep red shirt. 


Especially when surrounded with scattered feathers.


*Me glancing nervously at the clock.*
*Clock showing 2:29 AM and I'm still here writing a long-as-fuck blog post about fangirling.*

Yep. It's too late can't stop myself. Tooooootally relatable.

Melalui tulisan ini saya hendak menghaturkan terima kasih kepada mas Shimekake Ryuya, sebab berkat keputusannya memasukkan lagu NEWS ke dalam setlist solo show, akhirnya saya bisa kembali mendengarkan diskografi grup tersebut tanpa dirundung perasaan pait sepet bagai brotowali. "BLACKHOLE" is a banger and somehow it suits him. Sekarang tiap bersenandung "Like a blackhooooole~" refleks sambil chest rolls.

*P.S.: that leg moves in the choreography is BOMB. Love, love, LOVE that moves.

Kejutan lain dari Shime adalah, dia ternyata punya satu lagu yang koreografinya dibuat bareng-bareng Yoshizawa Shizuya, yang mendapat giliran tampil persis keesokan harinya. Ibarat novel Twilight lah, ada yang diceritakan dari perspektif Bella Swan, lalu ada juga yang berdasarkan sudut pandang Edward Cullen. Lagu ini kebetulan konsepnya mirip-mirip itu. Shime dan Shizuya sepertinya secara sadar dan aktif berniat mengabadikan kapal mereka berdua, deh. Ya gapapa kok. Boleh. Tetaplah berlayar, kapalku tersayang. Aku percaya walau badai menghadang, kapal ini tidak akan karam.


KURANG EMO APA COBA? INI APA SIH? CINTA YANG TAK BISA BERSATU?

Jadi setelah diyakinkan oleh penampilan Noel, dibikin jungkir-balik all thanks to Nakamura Kaito, didamaikan kembali oleh Genta, dan terpesona sama Shime, berikutnya saya dibuat terkaget-kaget menyaksikan konser tunggal Yoshizawa Shizuya. PARAAHHH NGGAK ADA OBAT. Keren. Mentok. HOLY SHITTTTTT, MAAAAN. Duh, gimana ya ngomongnya?? 

How to explain this intense feelings of "being blown away"???

Rapi maksimalll. Super duper well-done. Well-balanced. Well-put. Well-thought. Everything feels... right. SHIZUYA YOU ARE THE MVPMAN OF TASTE. MAN WITH RIGHTS. Udah sana ambil sepedanya, ambil semuanya, ambil sepabrik-pabriknya. You deserve it. You deserve everything. Semuanya berada di tempat yang tepat, muncul di waktu yang tepat, dengan porsi yang tepat. Transisi antar lagu muluuuuuusssss nggak ada cela. Bahkan sorotan kamera kali ini rasanya memuaskan. Mengakomodasi highlight pertunjukan. This, my friends, is pure talent right here. Expect no less from a man who chose Kis-My-Ft2's "Break The Chains" for his own corner in last year's Travis Japan concert. He delivers. He always does. And he always will.


NO SHIZU YOU ARE A VERY BEST BOI. TRUST ME.

Shizu is also in the mood for a summer holiday.
He invites everyone over because he's simply that guy.


Vokal Shizuya stabil banget sepanjang konser. Like, WHOA. Jujur deh, selama ini saya merasa teknik vokal Shizuya relatif ada di tengah-tengah dan cenderung tidak muluk-muluk, sehingga lumayan kaget saat nyanyi sendirian sepanjang konser yang bisa dibilang hampir fully choreographed ternyata berhasil nggak kedodoran. Habis joget jingkrak-jingkrakan seketika disambung nyanyi pakai standing microphone juga lancar jaya. And the setlist pick is pure gold. Ohno Satoshi's "Bad boy"? Arashi's "Fukkatsu LOVE" and "Summer Splash!"?  Hey! Say! BEST's "Speed It Up" and finished it off with Hey! Say! JUMP's "Asu e no YELL" before performing "Together Now" with the rests of Travis Japan members?

This is what they call Taste.

AND THESE LIGHTING SPECTACLES...

I SWEAR TO ALL GODS PEOPLE BELIEVE IN, SHIZU YOU ARE THE MVP (Part Two).


Distracting thoughts: oh shit those legs... those thighs in blue jeans are T H I C C <3



Five members done for now.
Two more to go.

Matsukura Kaito menggeber salah satu lagu Kanjani8 kesayangan saya, "LIFE ~Me  no mae no mukou e~" untuk membuka penampilannya hampir membuat saya menangis. Lagu ini punya banyak kenangan. Kalau boleh bikin pengakuan, saya sampai sekarang belum berani mendengarkan versi aslinya lagi sejak Shibutani Subaru dan Nishikido Ryo hengkang. Nggak kuat. But you've given it another meaning, Matsukura. Mungkin saya akan coba setel lagunya lagi nanti. This time, maybe I'll remember you singing it instead of the pain of being left behind.

Ending song YouTube Travis Japan ikut dinyanyiin versi lengkapnya. 


His rendition of Domoto Tsuyoshi's "Panic Disorder" is SO, SO FRIGGIN' GOOD. His vocal has this... edge, very fitting for a rock ballad. Or just a rock songs in general.

Tapi menyangka seorang Matsukura Kaito akan tampil keren sepanjang durasi konser tunggalnya kayaknya merupakan sebuah kesalahan. Tahu-tahu dia mak jegagig balik nongol di atas panggung dalam keadaan sudah berganti sepatu roller skate dan berpenampakan mirip preman kampung yang mau meramaikan hajatan pesta tujuh belas Agustusan. Lengkap ditambah aksesoris hiasan bulu merah-putih di kepala. Katanya, musim panas itu identik dengan roller skate. Random abis.

BAPAK-BAPAK, IBU-IBU, ANAK SIAPA INI TOLONG DIJEMPUT...

Lirik lagu "Kis-My-Calling!" milik Kis-My-Ft2 yang diubah menyesuaikan anggota Travis Japan benar-benar menggemaskan karena adik-adik Shounen Ninja yang didapuk sebagai backdancer pura-pura jadi Travis Japan bermodalkan uchiwa ditempel foto muka. Berhubung kekurangan orang, Kitagawa Takumi harus kerja keras memerankan double Kaito, alias Miyachika Kaito dan Nakamura Kaito secara bersamaan. Saya nggak kuat nahan ngakak mendengar Kawasaki Koki nyatut kata-kata Shime, "Ciuman yuk? Ah, nggak dulu deh," yang sebenarnya merupakan monolog Shimekake Ryuya dalam YouTube Travis Japan sewaktu endorse lipbalm Givenchy. Bagi yang penasaran lengkapnya gimana, silakan klik sebelah sini.


Kerasa banget bahwa Travis Japan memang sayang satu sama lain. Lagi pertunjukan tunggal aja masih keingetan dan nyeret-nyeret anggota sisanya. Mulai dari ada yang dateng nonton terus malah diseret naik panggung buat ngebantuin ganti baju, dateng nonton beramai-ramai dan berusaha menunggangi sesi MC dari bangku atas dengan teriakan-teriakan rusuh, telepon (terskenario) di tengah-tengah konser, hingga dibikinin bajakannya demi bisa diajak manggung bareng.

Kenapa sih grup yang saya sayang emo-emo semua gini, ya Rabb...

Terakhir. Pertunjukannya Miyachika Kaito.

The leader of the tiger pack.


Perut saya kerasa diremes-remes bahkan sejak pagi. Miyachika, yang kerap disapa 'Chaka' untuk mempermudah penggemar (dan orang lain) memanggil ketiga Kaito dalam satu grup, di mata saya adalah orang yang sering cengengesan haha-hehe dan ngebercandain kanan-kiri, tapi sebenarnya sangat serius, ekspresif, sekaligus sensitif. Sedikit banyak mengingatkan saya pada Ninomiya Kazunari, member Arashi. Dia tahu betul batasan mana yang tidak boleh dia langkahi. Dia mengerti orang seperti apa punya seberapa tingkat toleransi terhadap ledekan yang bagaimana. He knows exactly what words to choose when speaking to whom.

Miyachika also has the knack of expressing what he wants to convey on stage, through movements, small gestures, and facial expression. In a little bit more natural, personal way compared to the others. Ya Allah. Tampaknya saya tidak akan pernah siap secara mental untuk menghadapi apa yang Miyachika hadirkan di SUMMER PARADISE 2020 ini.

And ready I am not.
Asli sampai gemeteran sebadan-badan.

But here it comes...




Miyachika kicking off the show in a crimson red-themed stage saying "We are the rules" in all his regal glory gets me floored. Melorot dari kursi ke lantai kamar tak berdaya. Kayak handuk basah. Lemesssssss. SEMBAH SUJUD PADUKA MIYACHIKA. IF THIS AIN'T KING SHIT THEN I DON'T KNOW WHAT ELSE. This is the King claiming his throne. And he'll take it. He'll grasp it with his worthy fingers.

And he'll do it while looking glorious.


Namun yang menguras habis air mata saya justru ketika Miyachika menampilkan "Rolling days", lagu solo Sakurai Sho favorit saya dari album Arashi tahun 2015 silam, Japonism. Konsep 'tahanan kabur' dan koreografi teatrikal yang dibawakan amat sangat baguuuss nggak ngerti lagi nggak tahu harus ngomong apa lagi kecuali "ANJIR ANJIR ANJIR ANJIR ANJIIIIIIIIIRR" di hadapan layar. Keputusasaan sekaligus harapan yang dikisahkan lirik lagunya terasa semakin nendang. I feel like being gutted. Dada langsung sakit. Ampek. Nyeseeeeeekkk sejak sepuluh detik awal. 

Lalu tiba-tiba pas nyadar udah nangis bercucuran. 





His pained eyes that seem to scream desperation give me chills.


But the killing punch, the one that makes the last defense of my tear glands broke and everything spills down on my cheeks, is here: right when Miyachika opens both arms wide and sings, "Owari nante kowakunai no sa—I am not afraid of the end". It feels... oh dear Lord, IT FEELS REAL

Miyachika said he is not afraid of the end and I think he means it.


Seakan-akan "Rolling days" adalah Miyachika memproklamasikan bahwa dia siap menghadapi semuanya, bahkan sekalipun itu sebuah 'akhir'. Selama bertahun-tahun lamanya Travis Japan terus ada dan diombang-ambingkan ketidakpastian, diterpa banyak hal, menelan kekecewaan sekaligus mengalami berbagai hal-hal menyenangkan. The group has gone through so much, almost nothing feels like new surprise anymore. Entah kenapa bagi saya ini seperti cara Miyachika menyampaikan bahwa dia hanya fokus akan menikmati hari-hari bersama Travis Japan tanpa terlalu ambil pusing tentang yang lain.

He has nothing to lose.
He is not afraid of anything, not even the end.
So he's saying to come at him. Try him.

Barangkali saya yang kelewat baperan. Mungkin saya cuma overthinking. Meneketehe. But to me it sure feels that way. Apalagi kemudian di setlist muncul lagu-lagu seperti "To my homies" milik Arashi disambung "Macchigacchainai" kepunyaan Johnny's WEST. This stage is his story. And Miyachika doesn't think that he's mistaken. He believes that he didn't make a wrong choice.

And I think he's right.

Usai "Together Now" dinyanyikan, rupanya berhubung kali ini adalah panggung penutup giliran Travis Japan di SUMMER PARADISE 2020, keenam anggota lain ikut muncul. Bertujuh ngobrol-ngobrol sebentar, mengucapkan selamat ke Shizuya yang ulang tahunnya bertepatan dengan konser solo Miyachika, dan terakhir: foto bersama. Buat dipajang di Instagram. #Penting


*Menghela napas panjang.*
*Mengelap air mata yang beleber lagi.*

Ya Allah... Saya sayang Travis Japan. Nggak ketolong lagi. Asli. 

Rangkuman kesan SUMMER PARADISE Travis Japan 2020 di benak saya kira-kira begini: Yoshizawa Shizuya the Mr. MVP, Miyachika Kaito is my emo King, dan Nakamura Kaito paling banyak mengandung muatan maksiat. Dah gitu aja nggak perlu kepanjangan. Seneng sih, karena rupanya kekhawatiran saya sebelum acara sedikit berlebihan. These guys are alright. They are doing awesome. And now I am here having an enormous feelings hemorrhage.

Jadi, ngomong-ngomong nih, Bapak Presiden Takizawa Hideaki... 
Kapan Travis Japan didebutin?

z. d. imama

Saturday, 5 January 2019

#RecommendationOlympics: Japanese artists I regularly listen to (Female edition)

Saturday, January 05, 2019 4

Nyaris setahun terlewati setelah #RecommendationOlympics: Japanese artists I regularly listen to (Male edition) diunggah, memang sudah saatnya menuliskan 'pasangannya', alias daftar musisi dan artis perempuan Jepang yang rutin saya ikuti rilisan demi rilisannya. Jarak sebelas bulan tuh kelamaan nggak sih? Kelamaan ya? Habis, bahkan nama-nama musisi cowok yang jadi heavy rotation saya aja udah nambah lho. Ada dua nama: Yonezu Kenshi dan Suda Masaki. Perkenalan dengan Yonezu Kenshi tidak lain dan tidak bukan yaaa gara-gara anime Boku no Hero Academia. Sebenarnya sudah cukup lama ingin ngulik diskografinya, tapi lupa-lupa melulu kek, nggak dapet mood kek, hingga akhirnya misi tersebut terlaksana sekitar bulan Mei 2018 dan langsung aja dah kejeblos. He's making nice music, I reckon. Suda Masaki, yang sebenernya adalah seorang aktor, sejak tahun 2017 mulai iseng-iseng menjajal dunia tarik suara dan ternyata... he's rather decent??? I am genuinely surprised???? Tipe vokalnya tuh macem mas-mas senpai pujaan yang pas festival sekolah main band di panggung gimnasium.

Lho piye toh iki malah ngebahas musisi laki-laki..
Ayo ndang kembali ke jalan yang benar.

浜崎あゆみ (Hamasaki Ayumi)

It's so freaking tiring stanning Ayu but once you got to know her, you can't help but stan. Debut umur 20 di tahun 1998 lalu popularitasnya naik secara eksplosif hingga sekitar tahun 2008, sebelum mulai meredup dan banyak di-bash antifans kanan-kiri lantaran vokal yang bermasalah. Haduh Mak. Karir Ayu bener-bener penuh gejolak. Kadar dramanya kurang lebih setara, bahkan mungkin lebih, dari Namie Amuro-yang mana bakal disinggung dikit di tulisan ini. To cut all things short: she has serious hearing problems. Telinga kirinya sudah nggak berfungsi total sejak 2008, dan gara-gara itu kualitas vokalnya di penampilan live sangat tidak stabil. Kadang bisa oke, kadang saking berantakannya bisa memicu secondhand embarrassment dan bikin pengin nganterin pulang nyuruh istirahat. Bayangin aja deh demen musisi yang nyaris tuli tapi orangnya nekat maju terus kayak nggak peduli kondisi. You love her and you want her to get some long overdue rest but she keeps marching forward like a mad person (and deep down you somehow feel touched by it). Ini goblok apa dedikasi?? Capek ati anjir.

She penned her own lyrics. Each one. Every one. Lirik lagu-lagu Ayu semuanya ditulis sendiri, yang mana jika diperhatikan baik-baik bakal ketahuan kalau sebenernya karakter Ayu cenderung mirip Haibara Ai di Detektif Conan. Penuh kegelapan. That's probably why I really like her. I love unstable queen. Most of her lyrics are raw feelings and everything feels fahking great. Banyak banget lagu-lagu yang awalnya kerasa "Ah ini bagus ya, hangat kayak orang kasmaran" tapi ternyata supercocok dipakai temen nangis di bawah guyuran shower. Beberapa contoh lirik hasil tangan Ayu nih: "The day when I recall things about you doesn't exist because you never leave my mind" (HANABI), "Loneliness felt when we're together is much painful then the loneliness felt alone" (SURREAL), atau "I was praised 'You're so splendid not to cry', but the more people around me said that, even laughing became painful" (A Song for xx). Gimana nggak baper, Tong??

My personal favorites of Hamasaki Ayumi's truckload releases? Agak susah, namun bisa dibilang favorit selama ini ya Memorial address (2003), (miss)understood (2006), Rock 'n' Roll Circus (2010), dan My Story (2004). M(A)DE IN JAPAN yang muncul tahun 2016 kemarin juga suka banget.

Stream Ayu on Spotify guys!!!!

Kalafina

Bukan pertama kalinya nama Kalafina saya sebut di blog ini. Sekian bulan silam, saya pernah bikin satu postingan khusus Kalafina yang isinya nostalgia perkenalan dan rekomendasi sejumlah lagu bagi para non-fans. Ada pula tulisan ekstatik pasca menyaksikan penampilan mereka di AFAID 2013. Mari tidak berbasa-basi: this group has split up. Udah bubar, mamen. Produser sekaligus penulis lagu-lagu Kalafina, Kajiura Yuki, berseteru dengan manajemen Spacecraft dan memutuskan keluar dari agensi tersebut. Berhubung Wakana, Keiko, dan Hikaru nggak mau menyanyikan lagu orang lain dan yaa.. kalau nggak ada Kajiura Yuki maka Kalafina tidak akan terbentuk, mereka akhirnya memutuskan berpisah jalan. Persis setelah menggelar tur anniversary sepuluh tahun. Taek nggak? Taek bener. Sungguh bedhes. Pil pahit per-fangirling-an, bosquuuuuuue.

Mana belum sempat ngejar konser mereka di Yaban...

Rilisan Kalafina yang jadi longtime treasure masih Seventh Heaven (2009) yang merupakan album debut. Disusul red moon (2010) yang gothic maksimal, lalu album terakhir mereka, far on the water (2015). Oh, album khusus Natal mereka, Winter acoustic: Kalafina with Strings (2016) juga cakep ampun-ampunan. Their harmony is beyond perfect there. Diskografi Kalafina bisa didengarkan via Spotify, jadi jangan lupa mampir ya. Check their live albums too!

Aimer

Perkenalan saya dengan Aimer yaa... kayaknya pas dia debut. In a sea of young female singers with high-pitched, screechy voice appearing here and there, 六等星の夜/Rokutosei no Yoru (2011) sounded like a treat to my ears and I literally went, "NAH GINI KEK!!!" Apalagi selang beberapa bulan kemudian muncullah album perdana Aimer, Sleepless Nights (2012) yang bikin saya yakin telah berada di jalan kebenaran. Sejak saat itu hingga sekarang rilisan demi rilisannya nggak pernah absen saya ikuti. Biarpun mukanya hampir selalu ditutupin rambut di tiap foto. Biarpun ketika konser selalu pakai kacamata berbingkai setebel gaban dan lampu sorot diatur sedemikian rupa agar wajahnya nggak kelihatan jelas.

Bicara album, secara pribadi saya masih menjagokan daydream (2016), yang pada saat postingan ini ditulis, merupakan studio album terbaru dari tangan Aimer. Gila bagus banget dah daydream. It shows how much she matured in the sense of music-making, how she grasped what works for her and what does not. Tapi kalau ngomongin single, atau lagu a la carte alias perintilan, yang kayaknya nggak akan bisa berhenti saya dengarkan adalah Last Stardust (dari album Dawn (2015)) dan Brave Shine (2015) yang cakep banget kalau disetel back-to-back karena emang diciptakan untuk di-medley. Re: I Am (2013) juga jadi lagu langganan tiap ke karaoke. But is Aimer on Spotify? Yep. Go here and you're welcome.


ちゃんみな (Chanmina)

A Japanese female rapper in this list? Seriusan? Iya, serius. 'Chanmina' adalah nama panggung dari Otonomai Mina, cewek kelahiran 1998 yang talentanya bikin geger seluruh Jepang pas nampil di BAZOOKA! KOUKOUSEI RAP SENSHUKEN tahun 2016 silam, sebuah kompetisi rap khusus anak SMA yang disiarkan televisi. Setahun kemudian, sekitar musim panas 2017, Chanmina resmi major debut dengan meluncurkan album 未成年/Miseinen (Underage). As a first-ever release, the content was very interesting. Komposisi musiknya beraneka ragam―bahkan agak terlalu beragam―dan dari segi lirik ternyata kok ya cukup banyak kegelapan. Chanmina bercerita tentang kesulitan berteman, tidak bisa menemukan tempat untuk jadi diri sendiri, dikomentari kanan-kiri oleh orang dewasa, diejek remaja seumurannya karena dianggap aneh lah jelek lah gendut lah... Oh, I feel like being summoned.

Berhubung Chanmina baru punya satu album yakni 未成年/Miseinen (2017), satu EP bertajuk Chocolate (2017), dan sejumlah single seperti PAIN IS BEAUTY (2018) atau kolaborasi dengan Miyavi di No Thanks Ya (2017), maka saya merekomendasikan kalian untuk mendengarkan seluruh diskografinya saja di Spotify. Haha. Mumpung belum banyak-banyak amat.

MISIA

The mother of powerhouse. Hands down. Kacau dah begitu Misia udah nyanyi tuh bulu kuduk suka berdiri dengan sendirinya saking ya emang keren nampol. Lagu-lagunya buanyaaaak bangetttt dipakai jadi soundtrack serial drama, iklan, program televisi, gim, film (belakangan merambah anime juga), termasuk di antaranya Fullmetal Alchemist Live Action (2018) yang berdasarkan opini saya lebih baik film itu dibakar hangus pakai alkimia api Kolonel Roy Mustang. Haduuh tante, kebagusan banget lho film acak-adut gitu dapet lagumu sebagai soundtrack...

Right, recommendations. Misia-newbies pertama-tama wajib kenalan dengan album Marvelous (2001) karena di dalamnya termuat signature song Misia yang superpopuler sampai dibikin versi cover-nya oleh berbagai musisi: Everything. Agak-agak kayak 雪の華/Yuki no Hana punya Nakashima Mika lah, kan sampai ada lagu cover yang versi Mandarin kek, Inggris kek, Korea segala macem juga. Album lainnya yang saya suka: Kiss in the Sky (2002), Just Ballade (2009), dan Love Bebop (2015). Jangan khawatir, tante Misia tersedia laman Spotify-nya di sebelah sini kok.

安室奈美恵 (Amuro Namie)

The queen who just recently retired and left her throne empty. She put behind all those spotlights and drop her microphone with a bang, really. Tiket tur terakhir jadi rebutan, album dan DVD pamungkas laris manis kayak kacang goreng. And she deserves every single enthusiasm. Hampir nggak terdeskripsikan sih seberapa kerennya Amuro Namie ini. Walau badai menghadang kayak apa juga, dia selalu bangkit lagi dan bisa tetap bersinar selama 25 tahun karir. Perjalanannya nggak kalah drama dengan Hamasaki Ayumi; bedanya ya kagak penyakitan aja. Shotgun marriage, dikucilkan keluarga mertua, perceraian, ibunya dibunuh saudara ipar... hadeeeeh. Semoga kini setelah pensiun, Tante Namie bisa menikmati seluruh pundi-pundi uang hasil kerja kerasnya selama ini dengan lebih santai dan damai. Amin.

Her earliest work I fell in love with was Sweet 19 Blues (1996). Man, Body Feels Exit (1996) is THE jam. Setelah itu langsung lompat ke rilisan sepuluh tahun kemudian, Play! (2007) yang jadi album perkenalan saya dengan tante Namie lantaran single Baby Don't Cry (2007), lagu pembuka serial drama Himitsu no Hanazono. Rilisan kesukaan yang lebih baru ada Uncontrolled (2012) yang buagusssssssssss makkkkknyussssss dan _genic (2015). Masalahnya nih.. diskografi Amuro Namie nggak tersedia di Spotify entah gara-gara alasan apa.

Good luck ya guys. This one needs a little hard work to enjoy. But it's really one of the best, so march on.

SCANDAL

Dulu apa ya yang bikin jadi kenal dan suka SCANDAL... Kemungkinan besar sih single 瞬間センチメンタル/Shunkan Sentimental (2010) yang jadi lagu penutup Fullmetal Alchemist: Brotherhood (2009). Dari situ saya ngulik diskografi mereka dan memulai karir sebagai pendengar setia. Terus terang, makin lepas SCANDAL dari imej empat cewek-cewek berkostum seragam, musik mereka tambah asyik disimak. Bukan berarti lagu-lagu sebelumnya nggak oke, kok. Tambah seger aja sekarang kayak seteguk es teh di hari yang panas.

Not-to-missed releases in my book: Temptation Box (2010), Standard (2013), YELLOW (2015). Seperti halnya Amuro Namie, SCANDAL hingga hari ini belum tersedia diskografinya di Spotify. Apaan banget kan... pelit bener nih labelnya.

宇多田 ヒカル (Utada Hikaru)

Bikin tulisan beginian kalau nggak nyebut tante satu ini mendingan nggak usah. Meski nggak pernah bisa paham kenapa penulisan nama beliau pakai huruf katakana, namun lagu-lagu beliau sangat saya pahami popularitasnya. Saya curiga bahwa Hikki the Queen of Hiatus memang superselow dalam perjalanan karir. Sesudah Deep River (2002), rilisan demi rilisannya nongol seenak jidat. Suka-suka gue. Nggak ada jarak yang jelas. Bisa aja selang dua tahun, empat tahun, bahkan delapan tahun baru muncul karya baru. Kagak butuh-butuh amat sama duit apa? But still I love her. Rather than high falsettos, I really adore her when singing in lower register. Probably it's also the reason why her trademark track, First Love (1999) is never my number one song because I never really like its chorus part.

Favorite albums? Let's see.. Berdasarkan urutan rilis ada Deep River (2002), lalu jelas Heart Station (2008) yang menduduki tahta nomor wahid di hati―suka banget banget bangettt sama album ini, saya bela-belain berantem tonjokan-tonjokan deh kalau sampai ada yang bilang "Heart Station biasa aja" di depan muka. Rilisan terbaru Hikki, 初恋/Hatsukoi (2017), juga oke, dan setelah penantian berbulan-bulan album terakhir ini akhirnya masuk ke laman Spotify-nya pada Januari 2019!! Yaaay!!

FictionJunction, a team of Kajiura Yuki's trusted singers

Demikianlah beberapa nama musisi dan penyanyi perempuan Jepang yang diskografinya rutin saya dengarkan. Berbeda dengan versi cowok, saya nggak akan bikin daftar Honorable Mentions lantaran.. takut kebanyakan. Sebab kalau mau terus terang, masih ada FictionJunction―jajaran sejumlah vokalis yang selalu membawakan lagu-lagu Kajiura Yuki di live tour beliau―yang formatnya membuat saya bingung cara menyebutkan lagu apa sebagai rilisan sebelah mana.. akhirnya di-skip total dari daftar pendek ini. YUI, Nishino Kana, JUJU, Koda Kumi, dan sejumlah musisi pun tidak saya paparkan lebih lanjut meski mereka bisa dimasukkan dalam honorable mentions. Nanti kepanjangan... nggak kelar-kelar.

Ceburkan diri kalian dalam skena musik Jejepangan, kawan. Seleb K-pop aja berbondong-bondong nyari duit di Yaban. Jangan malu-malu. Oppa tuh banyak yang wibu.

Happy new year!

z. d. imama