Showing posts with label somewhat review. Show all posts
Showing posts with label somewhat review. Show all posts

Tuesday, 25 April 2023

ONE OK ROCK Luxury Disease Japan Tour 2023: the TOKYO DOME experience

Tuesday, April 25, 2023 2

Awal tahun 2018 lalu, saya berhasil menyaksikan konser ONE OK ROCK untuk yang pertama kalinya dalam hidup di Singapura. TKP tepatnya adalah Singapore Indoor Stadium. Segala gejolak jiwa dan segenap perasaan malam itu tidak lupa saya curahkan panjang lebar ke sebuah postingan blog, persisnya di sebelah sini. Sebagai seorang fangirl yang banyak halu, saya menuliskan, "...if anything, attending Ambitions Asia Tour Live in Singapore makes me wanna go all the way and see ONE OK ROCK concert in their home base: Japan."

Khayalan ini setinggi-tingginya, memang. 

Saat itu saya bahkan tidak berpikir panjang atau menyikapi secara serius tentang angan-angan yang kayaknya nggak napak tanah itu. Sebagai wibu veteran karena sudah menganut mazhab ini sejak belum akil balig (I'm not even ashamed with this fact, mind you), sedikit banyak saya sadar bahwa keinginan tersebut lebih mungkin untuk nggak pernah terkabul lantaran prosedur nonton konser musisi Jepang di Jepang sangat tidak ramah orang asing. Pembeliannya perlu pakai akun yang mencantumkan alamat lokal lah, sistem pembayarannya perlu lewat minimarket lah, ada kode khusus yang dikirimkan ke nomor ponsel area Jepang lah, entah apa lagi. Boleh dibilang, mendaki gunung lewati lembah a la Ninja Hattori masih jauh lebih gampang dibanding perjuangan nyari tiket pertunjukan musik Jepang. 

Waktu berjalan. Pandemi menyerang, konser dan tur dibatalkan, cita-cita terlupakan. Mestinya bulan Mei tahun 2020 silam, ONE OK ROCK menyambangi Jakarta untuk Eye of the Storm Asia Tour. Bahkan jadwal show nambah sehari saking sold out dalam sekejap dan masih banyak permintaan. Gara-gara wabah COVID-19, semuanya porak-poranda. Sempat lumayan kecewa karena nggak bisa ketemu mas-mas kesayangan di negeri sendiri, tapi setelah beberapa lama, ternyata saya nggak merasa sedih-sedih amat. Nggak terlalu merasa kehilangan. Tanya kenapa? Soalnya album Eye of the Storm jelek. Ini menurut saya, yhaaaa. 

Fast forward to 2023.


Beberapa bulan sebelumnya, di paruh akhir tahun 2022, ONE OK ROCK merilis album teranyar mereka berjudul Luxury Disease. Saya. Suka. Banget. Bener-bener no-skip album. Lagu Wonder yang sudah sempat saya anggep lumayan―setelah dihantam trauma panjang thanks to album Eye of the Storm―rupanya begitu ditaruh di antara lagu-lagu penghuni Luxury Disease lain jadi terasa B aja. Saya kembali ngayal halu. "Duh, kayaknya seru deh kalau bisa nonton konser tur album ini di Jepang. Kan Taka pasti nggak mungkin nyanyiin yang International Version, dia bakal bawain lirik yang versi original semuanya." 

Might be important to note: yes, I do not care about any of those International Version songs. Not at all.

Bagaikan diiringi lagu Moonlight Densetsu versi bahasa Indonesia yang merupakan pembuka serial animasi Sailor Moon di televisi lokal, "Tiiiiiba-tiba keajaaaaiban terjadiiii...," berkat satu dan lain hal yang terjadi secara beruntun, saya mendapati diri sendiri berada di sini:


Yep. That's right, baby.
You see things correctly; this is everything you need to see.

Homegirl is attending ONE OK ROCK Luxury Disease Japan Tour 2023 at Tokyo Dome, together with a crowd of more than 55,000 people. 


Ya Allah. Sampai sekarang pun rasanya masih kayak mimpi. Tiap malam sebelum tidur saya selalu menatap langit-langit, memutar ulang memori, dan meyakinkan diri bahwa pada hari Selasa, 4 April 2023, saya betul-betul menunaikan ibadah akbar yang jadi impian bertahun-tahun: nonton konser ONE OK ROCK di kandang mereka. Di Tokyo Dome. This absolutely feels like a miracle that I'm almost terrified, what if I've spent my whole good luck for this year, or even a lifetime, in one quick swoop for this to happen? 


I wouldn't even believe myself if I told my last-year-self I'm going to ONE OK ROCK concert in 2023. Kayaknya saya akan meneriaki diri sendiri, "Lo tuh sinting ya???" (Reality check: maybe I'm a little bit crazy in the decision-making department)

Ibu, lihat Ibu, anakmu berhasil nonton ONE OK ROCK di yaban!!

Tiket ONE OK ROCK Luxury Disease Japan Tour 2023 nggak tersedia versi cetak. 100% e-ticket. Nggak boleh cuma modal screenshot, pula. Harus benar-benar dibuka dari aplikasi khususnya dan diperlihatkan ke petugas yang mengecek tiket. Nantinya layar ponsel bakal dicocol (maafkan keterbatasan kosakata saya) pakai semacam stempel elektronik, dan keluar notifikasi bahwa tiket yang kita pegang sudah ditebus.

Motret layar ponsel demi pamer tiket.

Berdasarkan jadwal yang tertera, pertunjukan akan dimulai pukul 18:00 JST. Open gate, alias waktu di mana penonton mulai boleh dipersilakan masuk ke dalam ruangan, dijadwalkan pukul 16:00. Berhubung saya katro dan takut nyasar di venue segede gaban macam Tokyo Dome, gagal menemukan posisi bangku sendiri lalu berujung nyusahin atau ganggu penonton lain, saya mulai mencari-cari pintu akses yang mestinya dimasuki, yaitu Pintu 41. Jam di ponsel saat itu masih menunjukkan angka 16:15. Sebagian besar jamaah konser masih berkeliaran di luar. Ada yang antri beli merchandise, ada yang antri beli makanan (dan menghabiskan belanjaan makanannya), ada yang di toilet buat ganti baju atau buang setoran. 

Pemandangan di pintu masuk gedung sekitar jam 16:20. Super selow dan antiruwet. No rusuh rusuh club.

Sekali masuk dome, penonton udah nggak bisa balik ke area luar sampai pertunjukan selesai. This is the point of no return. Tapi kalau perut mendadak keroncongan lagi, atau tenggorokan haus, atau mengalami panggilan alam, penonton bisa jajan atau ke toilet yang tersedia di dalam Tokyo Dome. Bahkan bisa beli bir dan minuman beralkohol lain loh (kalau mau). Kurang asyik apa coba, headbang mengiringi suara nyanyian Taka sambil tipsy tipis-tipis?

Mendekati pukul enam sore, arus penonton yang masuk ke venue makin deras. Perut saya makin mules. Tegang, gaes. Untuk menenangkan diri, saya mengalihkan perhatian dengan mengamati lalu-lalang penonton... dan berakhir benar-benar terdistraksi karena ANJIR CAKEP-CAKEP BENER DAH ORANG-ORANG. Asli. Mas, mbak, om dan tante (malah saya sempat melihat beberapa kakek dan nenek) yang hadir di sana untuk menyaksikan ONE OK ROCK benar-benar tampak seperti 100% functional human being, nggak kayak sebagian besar kerumunan yang saya lihat ketika berada di acara-acara sebuah fandom lain yang tidak akan saya sebut namanya demi keselamatan diri (safety first, my friend). Mas-mas yang duduk di sebelah saya juga ganteng banget banget bangettt. Saya setengah mati berusaha nggak sering-sering menoleh ke arah dia karena itu adalah tindakan yang super duper creepy dan saya belum ingin mendemosikan diri menjadi orang creepy.

Jam 18:00 pun tiba. 
Lampu padam, penonton tak lagi diam.

Nyomot dari Instagram ONE OK ROCK. Penonton nggak boleh foto-foto acaranya.

Intro mengalun. Penonton heboh. Jantung saya serasa akan menjebol permukaan dada saking deg-degannya. Mata saya (dan sekian puluh ribu manusia lainnya) mulai mencari-cari sosok anggota ONE OK ROCK di panggung. Tomoya muncul di belakang drum set seperti biasa. Penonton bersorak-sorai. Kami makin jelalatan berusaha menemukan Ryota atau Toru. Tiba-tiba lampu sorot membelah kegelapan di depan mata saya, dan ternyata Ryota dan Toru nongol di tengah-tengah penonton, berdiri di jalan sempit yang jadi area lalu-lintas penonton sekaligus pemisah satu zona dengan yang lainnya. Jeritan dan tepuk tangan meledak di mana-mana, mengiringi sepanjang Ryota dan Toru berjalan ke arah panggung dan mengambil tempat mereka masing-masing di sisi kiri dan kanan.

Sekarang tinggal vokalisnya. 

Penonton makin nggak sabar. Ritme tepuk tangan makin cepat, suara-suara memanggil "Takaaaa!!!" makin terdengar di sana-sini. Layar besar di atas panggung mulai tersinkronisasi dengan kamera yang menyorot berbagai tempat, seakan-akan ikut dalam permainan Where's Taka. Pencarian berakhir tatkala fokus kamera tertuju pada suatu titik di klaster penonton, merekam salah seorang dari mereka yang mendadak membuka jaket hitam dan muncullah Taka. The crowd went WILD. Broooooo. Apa kabar penonton jelata yang posisinya di sekitar dia?? Gimana rasanya dijejerin Taka?? Masih sehat?? Belum hilang akal??

Komentar perdana saya: "Bang, kagak takut gerah apa pake lengan panjang...?"

...and the show begins.


M01. Wonder (Japanese version)

Konser dibuka dengan lagu paling B Aja di seantero album Luxury Disease, but the song does its job well in getting the audiences going. Pas bagian chorus penonton ikut nyanyi rame-rame. "Don't you ever WONDER? If you only had ONE BREATH! Tell me, would your ONE LOVE, pull you out of the DEEP END?"

M02. Save Yourself (Japanese version)

Well, duh. Tentu saja yang dinyanyikan tetap versi bahasa Jepang. Isn't it the whole point of watching them at home? Saya hampir nangis saking bahagia banget di titik ini, karena mungkin mendengarkan Save Yourself dinyanyikan dalam bahasa Jepang akan menjadi sebuah kemewahan yang tidak saya dapatkan jika kelak ONE OK ROCK melakukan Asia Tour dan mungkin mampir ke Jakarta.

M03. アンサイズニア (Answer is Near) 

Okay, this one is unexpected. Gegap gempita seisi Tokyo Dome tidak main-main ketika intro dimainkan. Clearly, this track is fan favorite, meskipun nggak heran juga. Adalah sebuah fakta yang perlu diakui bahwa dalam album 残響リファレンス (Zankyo Reference) (2011) memang nggak ada lagu jelek. Yeah, the answer is inside of me.

M04. Let Me Let You Go (Japanese version)

I'm gonna admit something: this song BANGS hard. Tadinya ketika mendengarkan album Luxury Disease, saya lebih menyukai Vandalize dibandingkan Let Me Let You Go. Tapi begitu lagu ini dibawain di konser... ALLAHU AKBAR, SERU SEKALI, PEMIRSA!!! Berbondong-bondong menyanyikan bagian chorus dan mengalunkan "Go, oh, go, why'd you let me let you goooo??" adalah sebuah nikmat duniawi yang tidak akan saya dustakan sampai kapan pun.

Para jamaah yang berbahagia

M05. Clock Strikes

Album 人生x僕= (Jinsei Kakete Boku wa) (2013) tempat lagu Clock Strikes bernaung, menurut penilaian pribadi saya, juga termasuk salah satu rekaman tanpa cela dari ONE OK ROCK. Histeria ketika Taka mengacungkan jari tangannya lurus ke atas meniru jarum jam di awal lagu benar-benar nggak terbendung. Saya juga jerit dari ujung tenggorokan saking dahulu, tatkala nonton Ambitions Asia Tour 2018 di Singapura, entah kenapa Taka nggak melakukan gerakan ikonik itu. Jadi baru kali ini pengalaman saya sebagai fangirl terbilang kaffah. Kalau boleh saya bilang sih Clock Strikes tuh lagu pamer. This is that track where Taka gets his moment to fully become a show-off, menunjukkan kapasitas vokalnya dengan tarikan panjang "Believe that time is always foreveeeer woooooo ooooh aaaaaaaaah!"

M06. カゲロウ (Kagerou)

Bingung, nggak? Saya sih bingung, TAPI SENENG. BANGET. Sama sekali nggak menduga lagu Kagerou dari album lawas ゼイタクビョウ (Zeitakubyou) (2007) bakal nongol di konser ini. Para fans juga menyambut meriah saat Kagerou dimainkan. Banyak mas-mas yang lonjak-lonjaknya jauh lebih semangat berkali-kali lipat di lagu ini, apalagi mungkin udah lumayan panas karena lagu-lagu sebelumnya.

M07. Mad World (Japanese version)

Lagu ini juga favorit!! Sebagaimana diderita sejumlah lagu-lagu ONE OK ROCK yang tersedia dalam dua versi lainnya, lirik Mad World versi bahasa Jepang dan International Version BEDA JAUH, dan menurut saya lebih lucu, lebih riil, sekaligus lebih merakyat versi bahasa Jepang. It's a total shame that the International Version lost the funny edge the Japanese version has. Sehingga, tentu saja saya sepenuhnya menikmati pengalaman jejingkrakan bersama Taka dan menyerukan "Anna jibun ga ima, iya hora kou natta yo ima!!" dari lubuk jiwa terdalam.

M08. Vandalize (Japanese version)

SOUND THE ALARM!!! Akhirnya dimainin juga dia. Keterlibatan psikologis saya dengan lagu ini kayaknya udah nggak sehat. I don't know about you but the part of the lyrics that go, "Breaking bottles on the pavement just to watch it crash" does something to me that I cannot explain. Maybe it vandalizes my heart.

Orang ini juga tukang vandal perasaan.

M09. So Far Gone

We're going slower. Saatnya menurunkan tensi dengan memasuki lagu-lagu yang lebih tenang dan tidak lompat-lompat heboh. So Far Gone termasuk satu dari sedikit lagu dalam album Luxury Disease yang nggak dibuat dua versi, alias full English untuk rilisan Jepang maupun internasional. This is a good ballad if you ask me.

(MC) I Want You Back (The Jackson 5)

Usai menggeber So Far Gone, ada sesi MC pendek. One thing leads to another dan Toru, Ryota, dan Tomoya tiba-tiba memainkan intro I Want You Back dari The Jackson 5. Katanya Taka sambil ketawa-ketawa, ini lagu yang sering mereka mainkan pas sesi rehearsal. Glad to know my beloved band is a group of cultured men.

(MC) 努努 (Yume Yume)

Saya MENJERIT. Sejujurnya ini masih masuk dalam sesi MC, alias momen tarik napas, minum, dan ngobrol-ngobrol hore. Taka mengode Toru untuk "Main lagu itu yuk?" sembari cengar-cengir cengengesan, dan sebagai bapak rekan satu band yang baik, Toru pun mengiyakan. Surreal banget denger Yume Yume secara langsung, denger Toru nge-rap di depan mata, mengingat ini tuh lagu jaman jebooooot. Yume Yume hanya dimainkan hingga chorus pertama, dan begitu kelar, Toru seketika curhat, "Sumpah otot lidah gue udah belibet banget sekarang, saking gak pernah nge-rap lagi." Ya makanya sering-sering dilatih dong, Bang~

M10. Heartache (Japanese version)

MC berakhir, namun sesi lagu slow masih berlanjut. Sudah saatnya kita semua mendapatkan lagu yang termasuk dalam ONE OK ROCK Starter Pack. I'm dead serious. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa lagu Heartache, bersama dengan Wherever You Are dan The Beginning adalah trifecta yang berhasil membuat banyak orang ngeh akan keberadaan ONE OK ROCK, kejeblos dalam fandom ONE OK ROCK, atau ya.. menjadi alasan orang bilang "Gue suka ONE OK ROCK juga kok" ketika cuma pernah dengerin tiga sampai lima lagu. Sooo this is heaaaartaaaacheeee...

M11. Gravity

Mantaaaaap. Sebagai track yang hanya ada di album Luxury Disease versi rilisan Jepang, Gravity termasuk lagu yang saya nanti-nantikan untuk dibawakan. Meskipun nggak ada vokal Fujihara Satoshi (Offical Hige Dandism) sebagaimana versi albumnya, tidak masalah. Ini momen transisi yang bagus banget untuk mengakhiri pojok sendu dan menuju momen lonjak-lonjak lagi. My feet won't touch the ground! Your gravity will not keep me down! I'm not falling for it, no~

Instrumental break

Taka minum. Ryota, Tomoya, dan Toru menguasai panggung. Pengin banget banget banget nonton rehat gonjrang-ganjreng ini di versi rekaman supaya bisa lebih puas memelototi Yamashita Toru dengan kibasan gondrongnya yang bikin gatel nyuruh potong rambut itu. Pada titik ini semua orang sudah kemringet. Taka kemringet. Toru kemringet. Ryota kemringet. Tomoya kemringet. Saya kemringet. Mas-mas ganteng yang berdiri di sebelah saya juga sudah panas kemringet, sesekali meneriakkan "TAKAAAAA!!" dengan gelegar suara membahana.


M12. Neon

Make your daddy ashamed, Tokyo to LA! 
SING IT! Na na na na... 

Contrary to popular opinions―only if Western music reviewers count as 'popular' opinions to you―I truly like Neon. Seru aja gitu. Berasa ONE OK ROCK nge-cover lagu Panic! At the Disco meskipun lagu ini emang dibikinin, bukan nyanyiin ulang. This is the kind of song I'm dancing to when I'm drunk.

M13. Deeper Deeper

Taka berdehem dua kali. Lalu, "PrrrrrrRAAAAAAAAAHHH!!!" dan seisi Tokyo Dome pecah. Here we are going loudeeeeer! Again!! Kayaknya sampai kapan pun Deeper Deeper akan tetap jadi favorit khalayak masyarakat. Mau berapa kali pun dimainkan, lagu ini bakal memancing hasrat lonjak-lonjak a la kelinci baterai Duracell. We never, we never, we will not stop right here!

M14. Renegades (Japanese version)

This is where the red ocean appears. Kalau sebelum-sebelumnya lautan merah muncul di lagu Mighty Long Fall, kali ini ia mengisi setiap sudut Tokyo Dome ketika Renegades dilantunkan. Nggak ada mosh pit karena konser kali ini all-seated, but it felt amazing all the same. Layar besar di atas panggung menampilkan gerbang raksasa yang pelan-pelan membuka, mirip adegan dalam video klip. Orang-orang yang kenal ONE OK ROCK dari adaptasi film Rurouni Kenshin lumayan hepi nih, sejauh ini sudah ada dua lagu soundtrack-nya yang dimainin.

M15. Your Tears Are Mine

Satu lagi dari Mayora lagu yang baik versi Internasional maupun Jepang sama-sama 100% berbahasa Inggris. I swear upon everything on this planet, this is definitely a show-off song. Lagu pamer skill. Vokalnya Taka indaaaaaaaah banget di sini. Jauh lebih bening dibanding muka cici-cici idola K-pop yang suka nampang jadi duta merek produk perawatan kulit lokal yang jelas-jelas nggak mereka pakai. Sebelum menyanyikan Your Tears Are Mine, Taka sempat ngasih wejangan berbunyi kurang lebih, "Coba bikin orang lain bahagia, mungkin dengan begitu kita bisa menemukan kebahagiaan untuk diri kita juga." I'm not at all ashamed to admit that I cried when he sang, "You're beautiful even when you feel broken." 

Open up that tearductssss!!!

M16. The Beginning 

It's official. Memang yang menang banyak adalah orang-orang yang kenal ONE OK ROCK berkat adaptasi film Rurouni Kenshin. Lagunya nongol tiga nih! Jamaah ONE OK ROCK Starter Pack bergembira ria. Namun memang harus diakui bahwa The Beginning adalah lagu bagus yang sanggup memicu reaksi bagus dari penonton, nggak peduli berapa tahun sudah terlewati sejak ia dirilis. Say another word I can't hear youuuu...

M17. キミシダイ列車

Ya Allah. Ketika intro mengalun, rahang saya jatuh hingga ke lantai. Mangap lebar banget. Sebelumnya saya sudah bilang kan, lagu-lagu dalam album 残響リファレンス (Zankyo Reference) (2011) nggak ada yang jelek. None. Cuma gimana ya, terus terang sama sekali nggak menyangka bakal muncul dua lagu dari album itu yang masuk ke setlist konser Luxury Disease kali ini. Are you ready now? We are ready now for tonight!! (Udah siap dari tadi, Bang!!!)


M18. the same as...

When this song came, somehow I could sense that we were in the beginning of the end. Tensi the same as... lebih turun dibandingkan lagu-lagu sebelumnya, dan mengingat tenggorokan saya juga sudah lumayan serak, sepertinya tidak aneh jika kami semua telah mendekati penghujung pertunjukan. Pada titik ini saya mules bukan main, nggak ikhlas konsernya selesai, belum mau pulang dan mengakhiri malam ajaib ini (for ME, it is a miracle), cuma kok ya nggak punya kekuatan menghentikan waktu atau memutarbalikkan...

M19. We Are (Japanese version)

The crowd was freaking amazing here. Bener-bener kayak paduan suara. Barangkali karena bagi sebagian jamaah konser, We Are adalah lagu tema 18際 (18sai—18 Fes) perdana yang digelar oleh NHK tahun 2016 silam, dan melibatkan 1000 orang remaja berusia 18 tahun. Maybe they do have personal attachment with the song, because everyone sang their parts like their life depends on it

M20. Wasted Nights (Japanese version)

I'm so sorry for not giving enough fuck about anything that's from Eye of the Storm album, but Wasted Nights is one of the better tracks. Cukup bersyukur bisa dengerin Taka nyanyi Wasted Nights secara langsung karena lumayan meredakan kebencian ketidaksukaan pribadi terhadap album tempat lagu ini bernaung. He dragged that last "I don't wanna wait, no more waaaaaaaaaaaaaaaaaaasted niiiiiiiiiiiiiiiiiggghts" until forever. Gila emang tarikan napasnya. Numero uno.

DONE
Kelar. Bubar. 

Tenang, masih ada encore. Tapi tetap saja, untuk sementara waktu, Taka, Ryota, Tomoya, dan Toru balik ke backstage untuk melakukan apa pun yang ingin mereka lakukan. Mungkin ngulet. Mungkin juga minum. Atau nyomot entah cemilan apa yang tersedia di belakang panggung. Sekaligus ganti baju, mengingat apa pun yang mereka pakai udah basah kuyup. Keguyur keringet sendiri. And the crowd started to light up the dome with their phone torch to call for encore. Merinding banget. Sekian puluh ribu orang nyalain senter ponsel bareng-bareng, mengayunkan tangan di udara. Sungguh ukhuwah konseriyah.

M21. When They Turn The Lights On (Encore)

Menangiiiisssss. This song is beyond heavenly. Apalagi saat dicocoklogi dengan bagaimana kami semua menyalakan senter ponsel... oh yeah so we turn the lights on. Apalagi lagunya kan diawali vokal tanpa iringan musik sama sekali ya, jadi dari keheningan tiba-tiba menyeruak suara Taka, "I been climbing since I was young..." Duh Gusti, memang terlalu indah. Hamba nggak kuat.

M22. Stand Out Fit In (Japanese version) (Encore)

Lagu ini jauh, jauh, jauuuh lebih oke dinyanyikan live daripada rekaman studionya. Abso-freaking-lutelyAnd I genuinely think that this song is a good encore piece. Kayak memang ditakdirkan untuk dinyanyikan ketika mau menyudahi sesuatu. Maybe I started to warm up to this song, maybe not, but I can honestly say that singing along to Stand Out Fit In in Tokyo Dome was not a bad experience.


No 完全感覚Dreamer (Kanzen Kankaku Dreamer), yang belakangan saya ketahui ternyata dibawakan sebagai encore untuk pertunjukan Tokyo Dome hari berikutnya. No Prove and no Broken Heart of Gold, despite Prove being my ultimate favorite track from the Luxury Disease album and the grandest one, arrangement-wise. But of course it doesn't matter. What matters is that tonight is a magical night. Tonight is a night that is nearly impossible to happen to me but it happens nonetheless. Saya bahkan nggak merasa iri sedikit pun kepada orang-orang beruntung yang berhasil nangkep lemparan pick gitar dan bas, stik drum, bahkan kaos(!!!) dari Taka, Ryota, Toru, dan Tomoya di salam penutup konser. Me attending this concert spends a huge amount of luck already.

I might be stating the obvious, namun sebagaimana yang saya alami ketika menghadiri Man with a Mission Chasing the Horizon Tour Final: ONE MAN 2018 di Koushien Stadium, sepanjang tiga jam durasi konser, sama sekali nggak ada manusia di sekitar yang angkat-angkat ponsel dan rekam-rekam. Damai banget, kawan. Indahnya kebersamaan. Saya yang pendek ini nggak terhalang sedikit pun untuk menikmati pemandangan seisi Tokyo Dome dari ujung kanan hingga ujung kiri. Kapan ya bisa ngalamin yang begini lagi...


See you again, ONE OK ROCK.

Hopefully this won't be the last miraculous thing I am able to pull, because my life is a series of YOLO decisions that I will never ever regret. Semoga album kalian yang berikutnya akan jauh lebih bagus. Semoga suatu hari nanti akan tiba momen di mana saya bisa mendengarkan Prove dinyanyikan langsung oleh Taka (kalau boleh rikues sih yang Japanese version aja karena saya purist snob).

z. d. imama


*P.S.: Foto-foto manggung yang bertebaran di tulisan ini diambil dari akun Instagram ONE OK ROCK, Taka, Toru, Ryota, dan Tomoya, berhubung sepanjang konser penonton dilarang jeprat-jepret dalam bentuk apa pun.

*P.P.S.: Khusus pertunjukan hari berikutnya (Rabu, 5 April 2023), ada momen-momen ketika encore di mana Taka ngasih izin penonton untuk rekam-rekam, hence some videos you might find going around the internet.

Tuesday, 30 November 2021

"Pasukan Buzzer": Siapa pun bisa menjadi siapa pun di internet

Tuesday, November 30, 2021 1

Jika bukan karena membaca ringkasan di sampul belakang buku dan memergoki tulisan “Novel” yang tertera di sudut kanan bawah buku, saya hampir mengira “Pasukan Buzzer” karya Chang Kang-Myoung (judul asli: 댓글부대 Daetgeulbudae) adalah buku nonfiksi. Rasanya prasangka ini tidak berlebihan. Buzzer adalah istilah yang sejak beberapa tahun belakangan ini semakin marak diperbincangkan, sangat dekat dengan hal-hal yang berbau kampanye. Pilpres, pilgub, pilkada, kebijakan-kebijakan publik kontroversial, peluncuran produk baru, entah apa lagi. Bahkan sebagai pengguna media sosial yang lumayan aktif, tidak jarang cuitan saya di Twitter yang mengandung kata kunci tertentu mendadak disambar seenaknya oleh akun-akun bot yang menimpali dengan makian atau kalimat-kalimat pembelaan berlebihan. Pokoknya menyebalkan. Begitu tahu bahwa “Pasukan Buzzer” merupakan novel, saya langsung punya firasat yang mengatakan buku ini bukan sesuatu yang bisa saya baca sebagai hiburan semata. Bukan cerita haha-hehe. 

Dua ratus delapan puluh sekian halaman kemudian, insting saya terbukti benar.

(Memang) Bukan bacaan ringan.


“Pasukan Buzzer” menyoroti Tim Aleph, perusahaan pemasaran online yang menawarkan jasa promosi, baik produk hingga perusahaan. Tim Aleph digawangi oleh Sam-goong yang jago bersiasat sekaligus pakar fafifuwasweswos, Chatatkat yang luwes merangkai kata, dan 01810, yang hingga akhir kisah tak pernah diungkap nama sebenarnya, sebagai ahli komputer. Proyek-proyek manipulasi opini yang mereka bertiga tangani selama ini bisa terbilang berjalan mulus, sehingga boleh dikatakan tampaknya ketiganya cukup berbesar kepala. Percaya diri bisa melakukan apa saja. Tatkala sebuah tawaran pekerjaan yang tidak lazim muncul di hadapan mereka, yakni menghancurkan situs Kafe Jumda dalam rentang waktu satu bulan dengan imbalan sembilan puluh juta won, Tim Aleph pun mengiakan. Meski Chatatkat dan 01810 sempat bimbang. Tanpa dinyana, proyek Kafe Jumda ini menjerumuskan Tim Aleph dalam suatu permainan yang lebih besar, yang entah apakah ketiganya berhasil keluar dari sana. 

Hidup-hidup, tentunya.

Satu hal yang paling awal mencuri perhatian saya ketika membuka “Pasukan Buzzer” adalah judul-judul tiap bab yang tertera dalam Daftar Isi. Novel ini tampak menganggap serius dirinya sendiri. Penulisnya sengaja mengutip kata-kata Joseph Goebbels yang beredar di internet, walau kemudian disertai penafian bahwa tidak bisa dipastikan apakah Goebbels benar-benar pernah mengucapkan hal-hal yang dikutip tersebut. 

Di titik ini, alis saya sudah terangkat. 
Hmm. Menarik.

Jajaran judul bab pada novel "Pasukan Buzzer" yang sungguh lain dari yang lain

Cerita disajikan dalam bentuk kombinasi narasi dan transkrip rekaman wawancara yang alurnya maju-mundur. Agak membingungkan, terus terang. Butuh konsentrasi khusus agar tidak tersesat di tengah-tengah membaca. Komposisi tiap bab tergolong formulaik: transkrip rekaman, foya-foya, seks atau aktivitas sejenis, paparan kegiatan manipulasi opini. Ulangi. Ketika progres membaca saya mencapai sekitar 50%, benak saya mulai mempertanyakan apakah skena seperti ini memang identik dengan dunia seks? Ataukah penulisnya, Chang Kang-Myoung, hanya ingin memasukkan detil-detil adegan perlendiran yang tidak berkaitan dengan pokok permasalahan agar tulisannya terdengar dewasa, maskulin, dan gagah? Atau barangkali ingin mengekspos betapa misoginisnya pria-pria Korea Selatan kepada dunia?

Kira-kira yang mana nih?

Secara umum, “Pasukan Buzzer” adalah suatu cerita yang digerakkan oleh plot. Bukan tokoh-tokohnya. Penokohan tiap karakter yang muncul terasa hanya sebatas pemukaan. Pembaca tidak belajar banyak tentang sosok Sam-goong, Chatatkat, dan 01810, selain bahwa ketiganya terbilang cukup kikuk di kehidupan nyata dan mudah terbuai perhatian perempuan. Pembaca yang lebih peduli pada keutuhan karakter dibandingkan kompleksitas plot (seperti saya, misalnya) bisa jadi akan merasa kecewa.

Sebagai kompensasi tipisnya karakterisasi tokoh, “Pasukan Buzzer” penuh sesak dengan referensi kasus-kasus, gosip, dan isu sosial di Korea Selatan. Mulai dari rapper hingga pemilihan presiden. Chang Kang-Myoung benar-benar tidak menahan diri dalam mengerahkan berbagai pengetahuan dan referensi yang dia peroleh selama berkarir sebelas tahun sebagai reporter. Jujur, ada beberapa momen di mana saya merasa semua informasi yang dilemparkan ini bikin jengah. Begah. Eneg. Seakan-akan saya sedang duduk bersama seorang laki-laki yang sibuk berceloteh seorang diri, menjabarkan betapa luas wawasannya tanpa sedikit pun berhenti untuk memperhatikan apakah lawan bicaranya menunjukkan minat pada apa yang dia bicarakan. Tidak mengambil jeda untuk peduli apakah lawan bicaranya punya opini untuk disampaikan. Asumsi awal saya yang menduga novel ini menganggap serius dirinya sendiri sepertinya tidak bisa dibilang meleset.

Meski begitu, “Pasukan Buzzer” bukan novel yang buruk. Saya tidak bisa berbahasa Korea, sehingga tidak mungkin memberikan penilaian terhadap cara penuturan kisah ini dalam bahasa aslinya, tetapi terjemahan bahasa Indonesia dari tangan Iingliana terasa mulus dan mengalir. Enak banget. Catatan kaki yang nongol di sana-sini, menjelaskan berbagai referensi kasus maupun istilah-istilah khas budaya Korea Selatan juga sangat membantu pemahaman pembaca. Andaikata skor novel “Pasukan Buzzer” ini 8 dari 10, 5 poin akan saya dedikasikan untuk Iingliana selaku pengalih bahasa. 

Engkaulah juaranya.
Sudah sana ambil sepedanya, Kak. Ambil sepabrik-pabriknya.

Salah satu contoh catatan kaki. Menolong sekali yang gini-gini, tuh.

“Pasukan Buzzer” juga sedikit-banyak memantik renungan. Internet adalah ruang bebas. Terlalu bebas, malah. Di Internet, siapa pun bisa menjadi siapa pun. Membuat akun palsu. Mereka-reka identitas baru. Mengaku-ngaku. Apa yang kita baca, dengar, dan temukan di internet belum tentu sepenuhnya fakta. Opini bisa digiring. Imej bisa dibangun. Apa yang benar dan apa yang dipercaya khalayak umum bisa jadi adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Informasi palsu sekalipun, jika disebarkan oleh cukup banyak orang, akan diinterpretasikan sebagai kebenaran. Sebagai #SaksiPasukanBuzzer, barangkali keraguan adalah sahabat baik yang akan dapat menyelamatkan kita di internet. Sebab seperti halnya Chatatkat yang sanggup menulis artikel “Perjalanan Kami sebagai Suami-Istri Menjelajahi Amerika Utara dengan Mobil” dilengkapi lima ratus lembar foto padahal nyatanya sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di Amerika Serikat, bisa jadi ulasan ini juga ditulis oleh orang yang sebenarnya sama sekali tidak membaca novel “Pasukan Buzzer”.

Jadi, sekarang apa yang mau dipercaya?

____________________________________

"Pasukan Buzzer" - Chang Kang Myoung «««

288 halaman, Gramedia Pustaka Utama (2021)
Diterjemahkan dari 댓글부대 (Daetgeulbudae) ke bahasa Indonesia oleh Iingliana
Editor: Juliana Tan & Raya Fitrah

z. d. imama


*PS: Ulasan ini ditulis untuk berpartisipasi dalam kompetisi Tantangan Membaca #SaksiPasukanBuzzer dari @fiksigpu. 
**PPS: Ulasan ini berhasil menjadi pemenang dalam kompetisi Tantangan Membaca #SaksiPasukanBuzzer dari @fiksigpu.

Tuesday, 25 May 2021

I watched "Tengoku to Jigoku: Psycho na Futari" all night long and now I can't stop thinking about it.

Tuesday, May 25, 2021 2


Selamat tahun baru 2021. Selamat tahun baru Imlek 2572. Selamat Hari Raya Idulfitri 1422 H. Wow, ternyata waktu sudah berlalu sekian lama dan banyak sekali hal-hal yang terlewati tanpa saya menyentuh blog ini sama sekali. Membiarkan sarang labah-labah, debu, bakteria, kenangan, dan entah apa lagi menumpuk dan menimbun password situs semenjana tak berharga ini dari memori saya. Lalu, apa yang berubah? Apa alasan saya memutuskan menyingsingkan lengan baju dan pulang ke blog pribadi, bersusah-payah menyusun kata-kata panjang untuk entah siapa? Berharap akan ada seseorang yang menekan tombol klik di tautan yang mengantarkan mereka kemari? Apa motivasi saya melakukan ini semua?

Jawabannya: 
Karena saya menangis semalam suntuk.

Saat ini jam di kamar saya menunjukkan pukul 04:55 AM dan kedua pipi saya masih dibanjiri air mata. Sepasang mata saya masih basah. Muka saya merah. Sembap sampai bengep. Sepanjang malam, selama nyaris 500 menit lamanya, saya terpaku di hadapan laptop dan menyaksikan kesepuluh episode serial drama Jepang, "Tengoku to Jigoku: Psycho na Futari" (Heaven and Hell: The Psychotic Duo) tanpa jeda seperti orang kesetanan. Saya tidak bisa berhenti. Nggak mau. Nggak rela. Seolah-olah kalau saya nggak langsung nonton semuanya sampai tuntas maka saya tidak bisa hidup tenang. Tapi sekarang, nyatanya, lima ratus ajigile menit kemudian, saya juga tidak merasa hidup dalam kedamaian. Cerita, dialog, dan karakter-karakter dalam drama Tengoku to Jigoku tampaknya masih akan menghantui saya setidaknya hingga satu atau dua pekan mendatang.

I'm haunted and I like it.


Pada dasarnya, premis "Tengoku to Jigoku: Psycho na Futari" adalah seorang detektif polisi perempuan bernama Mochizuki Ayako (diperankan Ayase Haruka) yang mengalami insiden bertukar tubuh dengan tersangka pembunuhan berantai, pria kaya-raya mencurigakan dengan nama Hidaka Haruto (dibawakan dengan amat sangat apik oleh Takahashi Issei). Bukanlah sesuatu yang baru, kan. Boro-boro istimewa, baru aja kagak. Kisah penjahat yang bertukar posisi dengan penegak hukum sudah berulang kali dieksekusi. Tapi apakah Tengoku to Jigoku berhenti di sana? Apa yang membuat serial drama ini meraup rata-rata rating di atas 15%, yang mana bagi sebuah sinetron televisi di era banjir konten seperti sekarang adalah sebuah prestasi luar biasa?

Daya tarik awal, selain jajaran nama-nama aktor besar mentereng seperti Ayase Haruka, Takahashi Issei, Mizobata Junpei, Kitamura Kazuki, Emoto Tasuku, dan lain sebagainya adalah kualitas akting. Untuk aspek ini terus terang saya harus memberikan mahkota kepada Takahashi Issei, yang hampir sepanjang serial harus memerankan Mochizuki Ayako yang terjebak dalam tubuh Hidaka Haruto. WAH KACO MEN. GESTUR DAN GERAK-GERIK FEMININNYA OKE BANGET. Cara bicaranya. Tatapan matanya. Cara dia pakai jaket. Udahlah Om ambil pialanya. Ambil sepedanya. Ambil mobilnya. Ambil permatanya. Ambil uangnya. Borong dah.

PERHATIIN DEH ITU CARA DUDUKNYA MAS ISSEI... PAHANYA NGATUP...



Tokoh-tokoh pendukung yang ada bisa dibilang hampir semuanya punya motivasi dan tujuan. Nggak sekadar tempelan. Kepribadian masing-masing cukup distinctive. Bahkan karakter yang diperankan Kitamura Kazuki, Kawahara Mitsuo, detektif senior berangasan yang seksis dan menjengkelkan maksimal sampai-sampai dijuluki 'Sekuhara' (sexual harassment) diam-diam oleh Mochizuki, tanpa terkecuali berhasil mendapatkan respek dari saya yang secara pribadi menganggap bahwa diri ini feminis. Each of them has flaws and everyone gets their moment of redemption. Suka. Suka banget.

BAPAK INI SEBENERNYA PEKERJA KERAS, GAES. TAPI NYEBAHI.

Dinamika antarkarakter yang tidak kalah menarik disimak adalah antara Mochizuki dan kombi juniornya, Yamaki Hideo, serta roommate-nya, Watanabe Riku. Agak-agak kayak cinta segitiga padahal ya nggak tepat dibilang gitu. Lebih mirip dua orang yang sama-sama berjuang mendapatkan perhatian tersendiri dari Mochizuki. 

Saya yakin kalian akan mempertanyakan kenapa Yamaki bisa lulus akademi kepolisian.

Teman sekamar merangkap layanan cleaning service.

Sekelumit elemen mitos rada klenik yang menghiasi Tengoku to Jigoku, menurut saya, memperkaya cerita ini. Selain itu juga ada sedikit elemen komik (manga) diselipkan di sejumlah episode. Beberapa panel ditampilkan dengan gaya animasi yang lumayan creepy. Atmosfer keseluruhan serial drama Tengoku to Jigoku terbilang serius, namun banyak momen-momen kecil yang kocaknya amit-amit. Efektif mencairkan tensi yang barangkali di beberapa menit sebelumnya agak terlalu naik. 

 

Poin terbaik: PLOTTING. Anjay kece parah. Foreshadow-nya oke. The timing for every single revelation is just right. Nggak ada hal-hal yang terasa 'disimpen kelamaan cuma demi ngasih plot twist', tapi penghujung setiap episode selalu menyisakan sesuatu yang bikin penonton deg-degan dan penasaran. Semakin ditonton semakin  membuat saya sebagai audiens di hadapan laptop bertanya-tanya dalam hati apakah tindakan mencurigakan yang diambil suatu karakter akan mengarah ke perkembangan yang saya duga. Pembagian apa saja yang harus terjadi di episode keberapa bener-bener kayak nggak terkalahkan. Tengoku to Jigoku berhasil membuat saya merasa kangen, kayak udah lamaaaaaaaaaaa sekali tidak menemukan serial dengan ritme cerita sesolid ini.

Ratusan judul drama yang pernah saya saksikan sedikit-banyak memberikan pelajaran berharga: pada serial drama televisi Jepang, perkembangan tertinggi alias momen puncak nyaris selalu ada di episode ketujuh. Biasanya di titik ini, all cards are out. Seluruh ekposisi telah keluar dan saatnya bola digelindingkan menuju konklusi.

PERINGATAN: EPISODE TUJUH KAMPRET ASLI. KAGAK NAHAN.


Ya Allah. YA ALLAH. Saya nggak peduli apakah di antara kalian yang akhirnya (entah bagaimana) memutuskan nonton Tengoku no Jigoku akan ada yang berhasil menebak arah perkembangan ceritanya, tapi jika kalian nggak nangis di sini, minimal merasakan sesuatu... man, I have to tell this: you're hopeless as a human being. Dahlah mending jadi patung tugu Pancoran aja.

BUT THEN THE FINAL EPISODE HITS WORSE.


Muka saya berasa transformasi ke air terjun Niagara saking air mata nggak kunjung berhenti. Banyak dialog-dialog yang saya abadikan sebagai screenshot. Sayang beribu sayang, saya nggak mungkin unggah gambar-gambar layar itu ke sini. Not now. Not here. Not today. Nanti jadi spoiler berat. Saya ingin sebanyak mungkin orang mengalami sensasi "Anjiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiir" dan "AAAAAAAAAAAAAAA" yang menyerang saya bertubi-tubi sepanjang malam. Belum lagi ketika intro ending theme song berjudul "Tadaima" dari Teshima Aoi mulai mengalun. Auto remuk.

Nih. Coba aja dengerin.


Alasan bonus kenapa Tengoku to Jigoku perlu ditonton? AYASE HARUKA CAKEP BENER. Masyallah. Kepribadian Hidaka Haruto yang relatif tenang, karismatik, dan enigmatik khas bapak-bapak eksekutif muda kaya cenderung nge-boost betapa cantik dan kerennya mbak Ayase sewaktu jiwanya berdiam di badan Mochizuki Ayako.


Udahlah, Tengoku to Jigoku bagi saya skornya 100 out of 100. Sesuka itu. Nggak perlu dijabarkan detil aspek-aspek apa saja yang diberi penilaian. Gile baper mentok sampai kayak sejengkal lagi kejungkel dalam lembah stres. Saya mau balik sesenggukan lagi dulu deh. Bye, nice to know y'all.

My feelings on "Tengoku to Jigoku in a nutshell:


z. d. imama

Wednesday, 7 October 2020

#smellofsoapandshampoo: Reviewing SCARLETT body care series

Wednesday, October 07, 2020 0

 


Saya termasuk orang yang memuja me-time. Pokoknya dalam sehari, harus ada waktu yang didedikasikan khusus kepada diri sendiri untuk menikmati hal-hal yang disuka. Ragamnya macam-macam: bisa nonton video idola, baca buku, bahkan mandi. Iya, mandi. Momen mandi, terus terang, adalah suatu hal yang cukup sakral bagi saya karena kegiatan itu saya asosiasikan dengan membilas bersih rasa lelah seusai beraktivitas seharian. Atau, berhubung semasa pandemi ini kantor saya menjalankan sistem bekerja dari rumah, saat mandi merupakan kesempatan mencuci bersih mood suntuk dan pegal yang timbul akibat berjam-jam berkutat di hadapan laptop kantor. Ada sesuatu yang menyenangkan hati ketika menuang sampo dan sabun ke telapak tangan lalu aromanya menguar ke segala penjuru kamar mandi. Auto happy.

Makanya saya demen banget berburu sabun mandi.
Iya, ini pengakuan dosa.

Saya senang sekali mencari-cari sabun mandi, baik batang maupun cair, yang aromanya menarik minat mencoba. Kadang merembet ke body scrub juga, berhubung kadang badan terasa lebih kotor dari biasanya lantaran ada daki yang mengerak jadi lapisan kulit baru. Pokoknya tiap mampir supermarket, lorong body care selalu menjadi tempat mangkal saya. Bisa betah deh saya bermenit-menit di sana. Mengendus-ngendus aroma sabun mandi, membandingkan satu sama lain. Mungkin perilaku ini tidak layak diteladani, tapi setiap manusia berhak berkelakuan aneh dengan cara masing-masing kan ya? Eh, iya kan?

Anyway,

Kurang lebih beberapa minggu lalu, saya mulai mencoba serangkaian body care dari SCARLETT.


Paket rangkaian perawatan tubuh ini datang ke dekapan saya dalam kotak merah mentereng yang bisa dengan mudah di-repurpose jadi boks penyimpanan barang. Seriusan. Agak sayang kalau dibuang begitu saja. Cakep, kok. Sturdy, pula. Lumayan kokoh dan nggak mudah ambrol. 

Boks ini memuat total enam produk perawatan tubuh, mulai dari shower scrub hingga body lotion. Harganya pun relatif masih oke di kantong, dengan per produk dibanderol Rp75,000. Jika mau dapat boks eksklusif seperti yang nongol di foto atas, bisa ambil paket hemat berisi lima jenis produk seharga Rp300,000. Lebih murah. Nanti masih ditambah dapat free gift. Asyik, kan?

"Be your own kind of beautiful," it says. "Make time for yourself," it says. YES and YES.

Keseluruhan rangkaian body care SCARLETT yang saya coba yaitu tiga varian Brightening Shower Scrub (Pomegranate, Mango, Cucumber), Body Scrub (Romansa), dan dua macam Fragrance Brightening Body Lotion (Charming, Romansa). Bahan kandungan yang dikedepankan oleh produk-produk SCARLETT adalah vitamin E dan glutathione, yang menurut artikel-artikel di internet terkait skincare yang saya baca, berkhasiat menutrisi kulit, melembapkan, serta mencerahkan.

Satu nilai plus untuk SCARLETT yang saya ketahui sewaktu membongkar paket: not tested on animals. Ini klaim bagus sekaligus berani, sih, karena saya masih cukup jarang menyaksikan ada merek lokal yang peduli tentang animal cruelty sampai meletakkannya di kemasan produk. Meski tergolong pendatang baru, SCARLETT juga sudah terdaftar BPOM. Nggak perlu khawatir ada komposisi yang berbahaya, lah. Aman.

Tuh, kelihatan kan? "NOT TESTED ON ANIMALS" mengitari logo kelinci lucu.

Alright.
Now we go straight to the review.

Part I: Brightening Shower Scrub (Pomegranate, Mango, Cucumber)

Behold the Three Musketeers of Shower Scrubs!!!

Masih ingat saya di paragraf atas ngaku-ngaku sebagai orang yang menganggap momen mandi sebagai me-time? I'm staying in character, y'all. Shower scrubs adalah produk SCARLETT pertama yang saya sambar, bawa ke kamar mandi, dan coba pakai di hari itu tanpa pikir panjang. Hingga hari ini, saya masih menggunakan ketiganya secara bergantian tergantung mood. My favorite? Mango. Suuuuumpah wanginya muaniiiiissss banget berasa bermandikan jus buah. Paling saya awet-awet juga saking sayangnya. Keharuman varian Pomegranate lebih lembut dan agak samar, sedangkan aroma Cucumber relatif segar, seakan-akan ada kesan cooling ketika baunya tercium hidung. Masing-masing punya ciri khas tersendiri. Each brings forth different mood.

Tekstur produk ini sedikit lebih encer dan runny ketimbang shower gel, namun lebih kental apabila dibandingkan body wash. Butiran scrub-nya terbilang haluuuuus maksimal. Kulit hampir nggak terasa kalau lagi 'digosok'. Lumer aja gitu dengan gampangnya. And you know what's best? SCARLETT Shower Scrubs pada saat dibilas nggak bikin kulit jadi kering kesat! Woooohooooo!!!! Asli. Segembira itu. Saya capek di-PHP sabun, shower gel, shower scrubs dan teman-temannya yang setelah dibilas justru membuat kulit cekit-cekit saking kesatnya. Saya ini manusia, bukan piring berlumur minyak dan lemak!

Part II: Body Scrub (Romansa)

See the pretty white jar there?

All right. We're getting a bit more scrubby. Selain varian Romansa, SCARLETT juga menyediakan body scrub dalam varian Pomegranate (yang sebagaimana dapat kita lihat di gambar, tidak ikut saya coba karena tidak punya). Sewaktu pertama kali mengangkat jar body scrub SCARLETT ini, terus terang agak kaget. BERAT, SIS. Saya tidak mengalami kekecewaan sedikit pun ketika membuka tutup kemasan dan melepas segel pelan-pelan. The jar is full to the brim. Isinya buanyaaaaaaaaak! Yakin deh, SCARLETT Body Scrub bisa bertahan beberapa bulan lamanya bahkan dengan pemakaian rutin satu atau dua kali seminggu. Padet banget. 

Saya nggak usah berpanjang lebar membahas manfaat body scrub lah, ya. Kita semua sama-sama paham bahwa scrubbing membantu proses eksfoliasi alias pengelupasan sel kulit mati. Membuang dekil. Nah, setelah dicoba, ternyata saya suka sekali bagaimana body scrub dari SCARLETT ini menunaikan tugasnya. Buliran scrub kali ini lebih potent dan terasa ketimbang Shower Scrubs, tetapi masih tetap halus sehingga nggak menimbulkan sakit pas digosok. Nggak perlu khawatir kulit jadi perih apalagi lecet karena tergores scrub kasar. Berhubung body scrub ini juga wangi luar biasa, akhirnya setiap habis mengamplas diri sambil mandi, saya nggak repot-repot pakai sabun atau shower scrub lagi. Supaya aromanya nggak tabrakan.

Part III: Fragrance Brightening Body Lotion (Romansa, Charming)

The popular pair.

Denger-denger, produk SCARLETT yang paling populer alias best-selling adalah body lotion. Tersedia tiga varian, yakni Charming, Romansa, dan Fantasia. Sama halnya shower scrubs, body lotion dikemas simpel dalam wadah identik dengan warna berbeda untuk membedakan antarvarian. And thank god for the pump bottle! Siapa pun anggota tim SCARLETT yang mengusulkan desain botol pompa, you're da MVP. Setidaknya saya tidak perlu repot-repot menjungkirbalikkan botol dengan tangan masih setengah berlumur body lotion. Bagian atas pompa dilengkapi stopper atau safety lock, maka botol bisa mudah dibawa-bawa bepergian tanpa harus memindahkan isi lotion ke wadah lain. Praktis.

Tekstur body lotion dari SCARLETT relatif kental jika dibandingkan merek lain. Saking 'padet'-nya, butuh sedikit waktu untuk memompa produk sampai berhasil keluar pertama kali dari botol. Awalnya sempat cemas bakal sulit diserap kulit, eh ternyata saya salah sangka! Lotion-nya tidak butuh waktu yang lama untuk meresap dan setelahnya tidak lengket. Setelah ngulik info kanan-kiri, saya jadi tahu bahwa ternyata lotion yang bisa memberi efek instant brightening—seperti SCARLETT body lotion—memang teksturnya cenderung lebih kental. #TheMoreYouKnow

Aroma kedua varian body lotion ini juga menyenangkan, bikin rileks, dan yang lumayan mengejutkan: cukup tahan lama. Awet nempel harumnya. Untuk Romansa sih nggak beda-beda amat dengan versi body scrub, bernuansa wangi floral. Saya suka mengombinasikan body lotion Romansa setelah mandi dengan body scrub Romansa (biar makin mantap) atau shower scrubs Pomegranate. Varian yang satu lagi, Charming, it has a tad stronger oriental floral scent, sekaligus diklaim sejumlah orang memiliki harum yang mengingatkan pada parfum Maison Francis Kurkdjian Baccarat Rouge 540. However, to be honest, I cannot vouch for that because I have no idea how that perfume smells like at the first place. Selama ini saya tidak pernah mengendus aroma parfum tersebut, sehingga apabila kalian penasaran, bertanya-tanya setengah tidak percaya, "Bener nggak sih baunya kayak parfum mahal?"

...silakan coba beli dan buktikan sendiri!
*reminiscing that day when I received my care package.*


Kalau tertarik untuk ikut mencoba, produk-produk SCARLETT bisa dengan mudah diperoleh melalui berbagai platform, antara lain:  LINE (@scarlett_whitening), Instagram (scarlett_whitening), Shopee (scarlett_whitening), Sociolla, atau bisa juga via chat WhatsApp ke 087700773000. Niat bener ya saya ini, semua-semuanya dilampirkan...

Ayo mandi pakai sabun wangi supaya tidak mudah stres!

z. d. imama

Saturday, 22 August 2020

MIU404: a cop-themed drama as warm as a hug.

Saturday, August 22, 2020 3

 


To call myself an expert of Japanese drama series and movies will be ridiculous and rather pompous, but I think I watched enough quantity to know what am I talking about. Apa sih yang rata-rata terlintas di benak ketika mendengar istilah 'serial drama polisi'? Cerita yang cenderung serius, plot yang berat, gelap, dan kompleks. Kejar-kejaran dengan pelaku kejahatan. Adegan kekerasan seperti berantem di sana-sini dan bahkan adu tembak. Teknologi antikriminal. Rapat strategi di markas polisi yang penuh kosakata sulit. Detektif polisi yang mendedikasikan hidup secara total di pekerjaannya. Tim penyelidik dengan kepribadian bertolak belakang yang kerap berterngkar, namun selalu saling bahu-membahu menyelesaikan tugas. Pengambilan gambar yang cenderung no-nonsense. Imej polisi kerap ditampilkan sebagai sosok penegak keadilan, atau protagonis justru digambarkan sebagai polisi ideal di tengah-tengah institusi korup.

You're not wrong.
Those kinds of series are also not wrong. They are fine.

But Mobile Investigative Unit: MIU404 takes it somewhere better. They offer something most drama series with similar theme never bother to touch: warmth and vulnerability. It is full of hearts and made with sincerity. Berbagai aspek dalam MIU404, mulai dari teknik pengambilan gambar, penulisan skrip tiap episode, penyutradaraan, sampai akting pemeran-pemerannya terasa jelas menghadirkan dua hal tersebut, dan menyebabkan drama ini benar-benar menarik untuk disimak. This is pretty much the very first cop-themed drama series that can give me a fuzzy feeling; as though I'm protected by a layer of comfy blanket.


Mobil Investigative Unit: MIU404 mengambil latar kota Tokyo di mana kepolisian melakukan perombakan struktur organisasi dan lahirlah divisi baru yang ditugaskan sebagai first responder. Setiap hari selama 24 jam, divisi MIU yang masing-masing timnya terdiri dari 2 orang detektif polisi harus melakukan patroli dan menjadi petugas yang pertama kali tiba di TKP kejahatan. Kasus akan ditangani oleh MIU selama beberapa waktu, dan jika tidak bisa terselesaikan hingga tenggat yang ditentukan, maka akan diserahkan ke divisi investigasi lain sesuai dengan tipe tindakan kriminalnya.

Still with me?
Sekarang mari kita bahas tokoh-tokoh kunci.
Latar belakang organisasi selesai cukup sampai sini. 

Shima Kazumi (diperankan oleh musisi sekaligus aktor, Hoshino Gen) adalah detektif polisi handal yang tidak main-main, sempat masuk jajaran elit Divisi Investigasi 1 hingga suatu kasus yang menyebabkan kematian seorang polisi membuatnya diskors habis-habisan, lalu dimutasi sejauh mata memandang ke Driving Test Center. Keberuntungan, kegigihan, dan kebaikan hati atasannya, Kikyo Yuzuru (yang cantik bangetttt hati berasa adem liatnya), berhasil menciptakan secercah harapan bagi Shima untuk kembali aktif bertugas sebagai detektif polisi di MIU Unit 4. 

"Ayo sini Mas, kerja sama Tante~" (NGGAK GITU KOK DIALOGNYA, SUMPAH)

Kikyo Yuzuru, commanding officer MIU.

Sayang beribu sayang, Jinba Kohei, polisi senior sekaligus partner lama Shima sudah ditugaskan untuk mendampingi Kokonoe Yohito, anak kemarin sore dari jalur fast-track career management yang juga sekaligus putra seorang petinggi polisi. Biasalah. Titipan orang dalam harus diutamakan akomodasinya... ya nggak? Mau tidak mau, Shima harus jungkir-balik mencari rekan serep jika tetap ingin mempertahankan posisi tugasnya di MIU Unit 4.

Ekspresi wajah Shima yang lagi-lagi mempertanyakan ketidakjelasan nasib karirnya di kepolisian:


Masalahnya, satu-satunya calon yang tersedia hanyalah seorang 'polisi daerah' dari Okutama yang cukup terkucilkan oleh rekan-rekan seprofesinya karena dipandang aneh dan... uhhhhhh, rada bego. Sosok terbuang ini ternyata punya reputasi yang lumayan mencengangkan karena semua orang seolah kapok bekerja satu tim dengannya. Ketika Shima berusaha mengorek informasi lebih lanjut tentang keahlian yang dimiliki calon rekan baru ini, jawaban setiap pihak yang ditemuinya selalu sama persis: larinya kenceng.

Gitu doang.

Makin bingung, bos.
Apaan dah, masa polisi yang bisa diandalkan cuma perkara jago lari???

Namun perjumpaan perdana Shima dengan Ibuki Ai (dilakonkan secara apik dan sangat menggemaskan oleh Ayano Goand this man is 38?? I very seriously REFUSE to believe) yang fenomenal dengan kecepatan larinya memang telah membuktikan... kemampuan dan stamina fisik Ibuki amat sangat bisa dipercaya. Sekaligus menyadarkan Shima bahwa kepribadian mereka berdua benar-benar bertolak belakang. Antara langit-bumi. Selalu bersimpangan. Di dunia tempat kita berdiam ini. (Kenapa malah jadi nyanyi lagu opening anime Shaman King versi terjemahan bahasa Indonesia...?)

Shima mengedepankan berpikir jernih dan mengikuti prosedur. Sedangkan Ibuki? Cenderung mengandalkan insting dan angot-angotan. Sahut-sahutan dialog mereka berdua yang terkadang mirip cek-cok pasangan suami-istri sangat menyenangkan disimak karena YA ALLAH ASIK PARAH KAGAK NAHAN... Apalagi akting Ayano Go sebagai Ibuki hampir setiap saat tampak happy-go-lucky dari lubuk hati, ekspresi wajahnya secerah cahaya mentari. Seolah-olah sepanjang hidupnya tidak pernah punya beban dan prasangka. Tiap hari berasa dibawa seneng melulu.

TUH KAN SAYA NGGAK BOHONG. PURE SUNSHINE.

Penonton telah dijanjikan keseruan dua polisi ini sejak awal dengan adegan ekstrem di episode pertama: tabrakan yang menyebabkan mobil patroli jatah Ibuki dan Shima hancur-lebur. Koreksi: mobil patroli mereka secara sengaja ditabrakkan demi menghindari terjadinya lakalantas yang dapat menelan korban jiwa dari masyarakat sipil. Pertanyaannya sekarang, posisi keduanya kan first responder sekaligus unit patroli, tuh. Bakal dapat mobil baru dong, sebagai ganti yang ambyar? Ntar gimana cara patrolinya kalau nggak ada kendaraan?

Oh tak semudah itu, kamerad.
Kamu pikir istilah 'anggaran' hanya mitos?

Kombi Shima-Ibuki memang pada akhirnya berhasil mendapatkan kendaraan baru. Tetapi dalam wujud food truck melon bread. Karena cuma itu kendaraan yang bisa tersedia. Menyaksikan Shima dan Ibuki berpatroli—termasuk mengejar tersangka yang kabur—mengendarai food truck yang kecepatan maksimalnya terbatas adalah unsur komedi tersendiri. Lebih menghibur dari dugaan. Apalagi beberapa kali mereka dihampiri warga sekitar yang mengetuk badan mobil, berniat membeli roti karena menyangka memang truk pedagang keliling.


Pernah juga Ibuki menyalakan jingle melon bread melalui speaker truk demi meladeni anak-anak kecil yang menyeberang di zebra cross. Shima Kazumi facepalming di jok sebelah melihat sang partner dengan penuh semangat dadah-dadah ke sekelompok bocah.


So, why is MIU404 freaking good?

In a nutshell, this series is as warm as a comforting hug, despite being a police drama.

MIU404 is character-driven. Dinamika interaksi antarkarakter, khususnya dua tokoh utama benar-benar menjadi roda penggerak keseluruhan cerita. Shima yang by-the-book, supertertib, dan sangat rasional berperan besar dalam mengerem keberangasan Ibuki. Sementara itu, Ibuki dengan kepribadiannya yang sangat blak-blakan, jujur, serta selalu bergerak berdasarkan hati nurani, perlahan-lahan mengurangi kesan tertutup yang mendominasi sosok Shima. Shot-shot yang menggambarkan mereka berdua dalam satu frame selalu menyenangkan dilihat. Ada kesan domestik yang akrab dan bersahabat; sesuatu yang relatif langka ditemukan di drama bertema kepolisian, sekalipun chemistry antarpemeran sama bagusnya. 




I love how MIU404 humanizes police force. And how it doesn't think highly of itself. Karakter-karakter yang berprofesi di lembaga kepolisian tidak digambarkan sebagai figur arogan yang menganggap apa yang mereka lakukan adalah perpanjangan tangan dari sebuah kebenaran, keadilan absolut. This is a very down-to-earth representation of police (in Japan) and I wish we get more stuffs like this. Melalui MIU404 pula, saya jadi tahu bahwa pada kenyataannya, meskipun masing-masing membawa senjata api, sebagian besar anggota kepolisian Jepang tidak pernah menodongkan pistol mereka bahkan sampai pensiun. Boro-boro nembak, menodongkan saja tidak pernah! Gun is apparently seen as the very, very last resort. Persenjataan yang lebih umum digunakan jika harus kontak fisik dengan tersangka kejahatan yang kabur atau melawan penangkapan adalah baton. Itu loh, tongkat pentungan hitam panjang yang tidak jarang bisa dilihat tersarung di pinggang petugas keamanan.

Kayak gini:


Tentu saja biar afdol, tetap ada representasi bapak-bapak petinggi dengan kecenderungan "Ya mau gimana lagi, ini perintah mereka yang lebih di atas lagi, udah nurut aja" demi mempertahankan jabatan, namun tidak serta-merta berarti dia adalah sosok antagonis. Wajar-wajar aja, lah. Nggak bikin pengin nonjok saking sebelnya.

Should I rave about the cases, too? Should I?

The variety of cases Shima-Ibuki pair meets feel very much real, and close. 
And they touch my heart like nothing ever had


Accidental murder. Lost family member. Juvenile delinquency. Tracking a hiding burglar. Theft committed by a person who found herself unable to get out from the cycle of 'dirty money'. Convenient store robbery. Semua kasus terasa sangat riil, bisa kapan saja terjadi di sekeliling kita, bahkan sepintas cenderung remeh-temeh. MIU404 mampu menunjukkan kepada penonton—tanpa menguliahi—bahwa sesuatu yang tampak sepele di permukaan bukan berarti tidak memiliki kekuatan untuk mengubah drastis hidup seseorang.

Tidak sekali-dua kali saya menangis sesenggukan di hadapan layar laptop, padahal saya berani menjamin (meski tidak kenal satu pun tim produksinya) ceritanya tidak meminta penonton untuk nangis. Ngerti kan, suka ada film atau drama yang kerasa banget kayak nyuruh kita nangis? Penulis skripnya semacam menjerit dari balik layar, "NANGIS SEKARANG! NANGIS! KELUARIN AIR MATA!! AYO!!" dan saya terus terang dongkol banget tiap nemu yang begitu.

But MIU404 isn't like that.




Episode tentang kenakalan remaja masih merupakan salah satu favorit saya. Topiknya menyinggung tentang juvenile law dan apa sebenarnya tujuan dari dibuatnya hukum untuk anak-anak di bawah umur yang melakukan tindakan pelanggaran, atau bahkan kriminal. Muncul pertanyaan-pertanyaan krusial semisal, "Kenapa sejumlah hukuman terhadap anak-anak dan remaja rasanya terlalu lunak? Apakah ini justru tidak mengundang mereka untuk mengulangi perbuatan?" dan menurut saya... apa yang disampaikan oleh MIU404, walau tidak serta-merta menjawab, cukup bisa dijadikan renungan.

Nggak akan saya tulis di sini, deh.
Nanti malah spoiler penting.

Tidak ada kasus-kasus bombastis seperti menguak terorisme beserta ancaman bom, membongkar sindikat perdagangan manusia, pembunuhan beruntun dengan metode mutilasi, atau sejenisnya. I'm so sorry Miman Keisatsu: Midnight Runner, but you are just... trying too hard. I love Nakajima Kento and Hirano Sho, unfortunately the crown for this season's (and probably this year's) best police drama is snatched by MIU404. Bar none. Hands down.

MIU404 is just THAT good.

And did I mention Ayano Go?

Shining bright like a summer sunshine, brimming with glow, as charming as ever Ayano Go?




Gara-gara Ibuki Ai digambarkan sebagai sosok berstamina tinggi dan larinya kenceng, penonton disuguhi banyak adegan kejar-kejaran manual di sini. And oooh boy, seeing Ibuki running is, weirdly enough, satisfying

His ready stance alone is worth five stars.


Barangkali sudah waktunya saya menghentikan tulisan ini sebelum makin panjang tak terkendali. WATCH MIU404, GUYS. Saya hanya ingin menyampaikan itu saja. Platform legal untuk serial drama Jepang mungkin cukup sulit ditemukan, tetapi saya tidak berniat menyebutkan platform ilegal tertentu karena... nggak mau aja. You know the title of the series. So you know the keyword. Google the crap out of it, that's all I can say.

Some more screenshots of Shima Kazumi and Ibuki Ai doing patrols to close this, um, somewhat review of a blog post:




MIU404 overall score:

Storyline «««««
Cast «««««
Intercharacter chemistry «««««
Soundtrack ««««
Heart and sincerity «««««

Masa bodoh lah dibilang biased opinion atau apa pun tapi YA RABB IKI PANCEN APIK SAKPOLEEE RAONO OBATTT FTW!!! 1!!! SETUNGGAL!! SIJI!! Oh, jangan lupa mampir ke laman Spotify Yonezu Kenshi untuk mendengarkan lagu "Kanden" yang jadi theme song MIU404. It's a good track.

z. d. imama