Showing posts with label series. Show all posts
Showing posts with label series. Show all posts

Tuesday, 25 May 2021

I watched "Tengoku to Jigoku: Psycho na Futari" all night long and now I can't stop thinking about it.

Tuesday, May 25, 2021 2


Selamat tahun baru 2021. Selamat tahun baru Imlek 2572. Selamat Hari Raya Idulfitri 1422 H. Wow, ternyata waktu sudah berlalu sekian lama dan banyak sekali hal-hal yang terlewati tanpa saya menyentuh blog ini sama sekali. Membiarkan sarang labah-labah, debu, bakteria, kenangan, dan entah apa lagi menumpuk dan menimbun password situs semenjana tak berharga ini dari memori saya. Lalu, apa yang berubah? Apa alasan saya memutuskan menyingsingkan lengan baju dan pulang ke blog pribadi, bersusah-payah menyusun kata-kata panjang untuk entah siapa? Berharap akan ada seseorang yang menekan tombol klik di tautan yang mengantarkan mereka kemari? Apa motivasi saya melakukan ini semua?

Jawabannya: 
Karena saya menangis semalam suntuk.

Saat ini jam di kamar saya menunjukkan pukul 04:55 AM dan kedua pipi saya masih dibanjiri air mata. Sepasang mata saya masih basah. Muka saya merah. Sembap sampai bengep. Sepanjang malam, selama nyaris 500 menit lamanya, saya terpaku di hadapan laptop dan menyaksikan kesepuluh episode serial drama Jepang, "Tengoku to Jigoku: Psycho na Futari" (Heaven and Hell: The Psychotic Duo) tanpa jeda seperti orang kesetanan. Saya tidak bisa berhenti. Nggak mau. Nggak rela. Seolah-olah kalau saya nggak langsung nonton semuanya sampai tuntas maka saya tidak bisa hidup tenang. Tapi sekarang, nyatanya, lima ratus ajigile menit kemudian, saya juga tidak merasa hidup dalam kedamaian. Cerita, dialog, dan karakter-karakter dalam drama Tengoku to Jigoku tampaknya masih akan menghantui saya setidaknya hingga satu atau dua pekan mendatang.

I'm haunted and I like it.


Pada dasarnya, premis "Tengoku to Jigoku: Psycho na Futari" adalah seorang detektif polisi perempuan bernama Mochizuki Ayako (diperankan Ayase Haruka) yang mengalami insiden bertukar tubuh dengan tersangka pembunuhan berantai, pria kaya-raya mencurigakan dengan nama Hidaka Haruto (dibawakan dengan amat sangat apik oleh Takahashi Issei). Bukanlah sesuatu yang baru, kan. Boro-boro istimewa, baru aja kagak. Kisah penjahat yang bertukar posisi dengan penegak hukum sudah berulang kali dieksekusi. Tapi apakah Tengoku to Jigoku berhenti di sana? Apa yang membuat serial drama ini meraup rata-rata rating di atas 15%, yang mana bagi sebuah sinetron televisi di era banjir konten seperti sekarang adalah sebuah prestasi luar biasa?

Daya tarik awal, selain jajaran nama-nama aktor besar mentereng seperti Ayase Haruka, Takahashi Issei, Mizobata Junpei, Kitamura Kazuki, Emoto Tasuku, dan lain sebagainya adalah kualitas akting. Untuk aspek ini terus terang saya harus memberikan mahkota kepada Takahashi Issei, yang hampir sepanjang serial harus memerankan Mochizuki Ayako yang terjebak dalam tubuh Hidaka Haruto. WAH KACO MEN. GESTUR DAN GERAK-GERIK FEMININNYA OKE BANGET. Cara bicaranya. Tatapan matanya. Cara dia pakai jaket. Udahlah Om ambil pialanya. Ambil sepedanya. Ambil mobilnya. Ambil permatanya. Ambil uangnya. Borong dah.

PERHATIIN DEH ITU CARA DUDUKNYA MAS ISSEI... PAHANYA NGATUP...



Tokoh-tokoh pendukung yang ada bisa dibilang hampir semuanya punya motivasi dan tujuan. Nggak sekadar tempelan. Kepribadian masing-masing cukup distinctive. Bahkan karakter yang diperankan Kitamura Kazuki, Kawahara Mitsuo, detektif senior berangasan yang seksis dan menjengkelkan maksimal sampai-sampai dijuluki 'Sekuhara' (sexual harassment) diam-diam oleh Mochizuki, tanpa terkecuali berhasil mendapatkan respek dari saya yang secara pribadi menganggap bahwa diri ini feminis. Each of them has flaws and everyone gets their moment of redemption. Suka. Suka banget.

BAPAK INI SEBENERNYA PEKERJA KERAS, GAES. TAPI NYEBAHI.

Dinamika antarkarakter yang tidak kalah menarik disimak adalah antara Mochizuki dan kombi juniornya, Yamaki Hideo, serta roommate-nya, Watanabe Riku. Agak-agak kayak cinta segitiga padahal ya nggak tepat dibilang gitu. Lebih mirip dua orang yang sama-sama berjuang mendapatkan perhatian tersendiri dari Mochizuki. 

Saya yakin kalian akan mempertanyakan kenapa Yamaki bisa lulus akademi kepolisian.

Teman sekamar merangkap layanan cleaning service.

Sekelumit elemen mitos rada klenik yang menghiasi Tengoku to Jigoku, menurut saya, memperkaya cerita ini. Selain itu juga ada sedikit elemen komik (manga) diselipkan di sejumlah episode. Beberapa panel ditampilkan dengan gaya animasi yang lumayan creepy. Atmosfer keseluruhan serial drama Tengoku to Jigoku terbilang serius, namun banyak momen-momen kecil yang kocaknya amit-amit. Efektif mencairkan tensi yang barangkali di beberapa menit sebelumnya agak terlalu naik. 

 

Poin terbaik: PLOTTING. Anjay kece parah. Foreshadow-nya oke. The timing for every single revelation is just right. Nggak ada hal-hal yang terasa 'disimpen kelamaan cuma demi ngasih plot twist', tapi penghujung setiap episode selalu menyisakan sesuatu yang bikin penonton deg-degan dan penasaran. Semakin ditonton semakin  membuat saya sebagai audiens di hadapan laptop bertanya-tanya dalam hati apakah tindakan mencurigakan yang diambil suatu karakter akan mengarah ke perkembangan yang saya duga. Pembagian apa saja yang harus terjadi di episode keberapa bener-bener kayak nggak terkalahkan. Tengoku to Jigoku berhasil membuat saya merasa kangen, kayak udah lamaaaaaaaaaaa sekali tidak menemukan serial dengan ritme cerita sesolid ini.

Ratusan judul drama yang pernah saya saksikan sedikit-banyak memberikan pelajaran berharga: pada serial drama televisi Jepang, perkembangan tertinggi alias momen puncak nyaris selalu ada di episode ketujuh. Biasanya di titik ini, all cards are out. Seluruh ekposisi telah keluar dan saatnya bola digelindingkan menuju konklusi.

PERINGATAN: EPISODE TUJUH KAMPRET ASLI. KAGAK NAHAN.


Ya Allah. YA ALLAH. Saya nggak peduli apakah di antara kalian yang akhirnya (entah bagaimana) memutuskan nonton Tengoku no Jigoku akan ada yang berhasil menebak arah perkembangan ceritanya, tapi jika kalian nggak nangis di sini, minimal merasakan sesuatu... man, I have to tell this: you're hopeless as a human being. Dahlah mending jadi patung tugu Pancoran aja.

BUT THEN THE FINAL EPISODE HITS WORSE.


Muka saya berasa transformasi ke air terjun Niagara saking air mata nggak kunjung berhenti. Banyak dialog-dialog yang saya abadikan sebagai screenshot. Sayang beribu sayang, saya nggak mungkin unggah gambar-gambar layar itu ke sini. Not now. Not here. Not today. Nanti jadi spoiler berat. Saya ingin sebanyak mungkin orang mengalami sensasi "Anjiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiir" dan "AAAAAAAAAAAAAAA" yang menyerang saya bertubi-tubi sepanjang malam. Belum lagi ketika intro ending theme song berjudul "Tadaima" dari Teshima Aoi mulai mengalun. Auto remuk.

Nih. Coba aja dengerin.


Alasan bonus kenapa Tengoku to Jigoku perlu ditonton? AYASE HARUKA CAKEP BENER. Masyallah. Kepribadian Hidaka Haruto yang relatif tenang, karismatik, dan enigmatik khas bapak-bapak eksekutif muda kaya cenderung nge-boost betapa cantik dan kerennya mbak Ayase sewaktu jiwanya berdiam di badan Mochizuki Ayako.


Udahlah, Tengoku to Jigoku bagi saya skornya 100 out of 100. Sesuka itu. Nggak perlu dijabarkan detil aspek-aspek apa saja yang diberi penilaian. Gile baper mentok sampai kayak sejengkal lagi kejungkel dalam lembah stres. Saya mau balik sesenggukan lagi dulu deh. Bye, nice to know y'all.

My feelings on "Tengoku to Jigoku in a nutshell:


z. d. imama

Saturday, 22 August 2020

MIU404: a cop-themed drama as warm as a hug.

Saturday, August 22, 2020 3

 


To call myself an expert of Japanese drama series and movies will be ridiculous and rather pompous, but I think I watched enough quantity to know what am I talking about. Apa sih yang rata-rata terlintas di benak ketika mendengar istilah 'serial drama polisi'? Cerita yang cenderung serius, plot yang berat, gelap, dan kompleks. Kejar-kejaran dengan pelaku kejahatan. Adegan kekerasan seperti berantem di sana-sini dan bahkan adu tembak. Teknologi antikriminal. Rapat strategi di markas polisi yang penuh kosakata sulit. Detektif polisi yang mendedikasikan hidup secara total di pekerjaannya. Tim penyelidik dengan kepribadian bertolak belakang yang kerap berterngkar, namun selalu saling bahu-membahu menyelesaikan tugas. Pengambilan gambar yang cenderung no-nonsense. Imej polisi kerap ditampilkan sebagai sosok penegak keadilan, atau protagonis justru digambarkan sebagai polisi ideal di tengah-tengah institusi korup.

You're not wrong.
Those kinds of series are also not wrong. They are fine.

But Mobile Investigative Unit: MIU404 takes it somewhere better. They offer something most drama series with similar theme never bother to touch: warmth and vulnerability. It is full of hearts and made with sincerity. Berbagai aspek dalam MIU404, mulai dari teknik pengambilan gambar, penulisan skrip tiap episode, penyutradaraan, sampai akting pemeran-pemerannya terasa jelas menghadirkan dua hal tersebut, dan menyebabkan drama ini benar-benar menarik untuk disimak. This is pretty much the very first cop-themed drama series that can give me a fuzzy feeling; as though I'm protected by a layer of comfy blanket.


Mobil Investigative Unit: MIU404 mengambil latar kota Tokyo di mana kepolisian melakukan perombakan struktur organisasi dan lahirlah divisi baru yang ditugaskan sebagai first responder. Setiap hari selama 24 jam, divisi MIU yang masing-masing timnya terdiri dari 2 orang detektif polisi harus melakukan patroli dan menjadi petugas yang pertama kali tiba di TKP kejahatan. Kasus akan ditangani oleh MIU selama beberapa waktu, dan jika tidak bisa terselesaikan hingga tenggat yang ditentukan, maka akan diserahkan ke divisi investigasi lain sesuai dengan tipe tindakan kriminalnya.

Still with me?
Sekarang mari kita bahas tokoh-tokoh kunci.
Latar belakang organisasi selesai cukup sampai sini. 

Shima Kazumi (diperankan oleh musisi sekaligus aktor, Hoshino Gen) adalah detektif polisi handal yang tidak main-main, sempat masuk jajaran elit Divisi Investigasi 1 hingga suatu kasus yang menyebabkan kematian seorang polisi membuatnya diskors habis-habisan, lalu dimutasi sejauh mata memandang ke Driving Test Center. Keberuntungan, kegigihan, dan kebaikan hati atasannya, Kikyo Yuzuru (yang cantik bangetttt hati berasa adem liatnya), berhasil menciptakan secercah harapan bagi Shima untuk kembali aktif bertugas sebagai detektif polisi di MIU Unit 4. 

"Ayo sini Mas, kerja sama Tante~" (NGGAK GITU KOK DIALOGNYA, SUMPAH)

Kikyo Yuzuru, commanding officer MIU.

Sayang beribu sayang, Jinba Kohei, polisi senior sekaligus partner lama Shima sudah ditugaskan untuk mendampingi Kokonoe Yohito, anak kemarin sore dari jalur fast-track career management yang juga sekaligus putra seorang petinggi polisi. Biasalah. Titipan orang dalam harus diutamakan akomodasinya... ya nggak? Mau tidak mau, Shima harus jungkir-balik mencari rekan serep jika tetap ingin mempertahankan posisi tugasnya di MIU Unit 4.

Ekspresi wajah Shima yang lagi-lagi mempertanyakan ketidakjelasan nasib karirnya di kepolisian:


Masalahnya, satu-satunya calon yang tersedia hanyalah seorang 'polisi daerah' dari Okutama yang cukup terkucilkan oleh rekan-rekan seprofesinya karena dipandang aneh dan... uhhhhhh, rada bego. Sosok terbuang ini ternyata punya reputasi yang lumayan mencengangkan karena semua orang seolah kapok bekerja satu tim dengannya. Ketika Shima berusaha mengorek informasi lebih lanjut tentang keahlian yang dimiliki calon rekan baru ini, jawaban setiap pihak yang ditemuinya selalu sama persis: larinya kenceng.

Gitu doang.

Makin bingung, bos.
Apaan dah, masa polisi yang bisa diandalkan cuma perkara jago lari???

Namun perjumpaan perdana Shima dengan Ibuki Ai (dilakonkan secara apik dan sangat menggemaskan oleh Ayano Goand this man is 38?? I very seriously REFUSE to believe) yang fenomenal dengan kecepatan larinya memang telah membuktikan... kemampuan dan stamina fisik Ibuki amat sangat bisa dipercaya. Sekaligus menyadarkan Shima bahwa kepribadian mereka berdua benar-benar bertolak belakang. Antara langit-bumi. Selalu bersimpangan. Di dunia tempat kita berdiam ini. (Kenapa malah jadi nyanyi lagu opening anime Shaman King versi terjemahan bahasa Indonesia...?)

Shima mengedepankan berpikir jernih dan mengikuti prosedur. Sedangkan Ibuki? Cenderung mengandalkan insting dan angot-angotan. Sahut-sahutan dialog mereka berdua yang terkadang mirip cek-cok pasangan suami-istri sangat menyenangkan disimak karena YA ALLAH ASIK PARAH KAGAK NAHAN... Apalagi akting Ayano Go sebagai Ibuki hampir setiap saat tampak happy-go-lucky dari lubuk hati, ekspresi wajahnya secerah cahaya mentari. Seolah-olah sepanjang hidupnya tidak pernah punya beban dan prasangka. Tiap hari berasa dibawa seneng melulu.

TUH KAN SAYA NGGAK BOHONG. PURE SUNSHINE.

Penonton telah dijanjikan keseruan dua polisi ini sejak awal dengan adegan ekstrem di episode pertama: tabrakan yang menyebabkan mobil patroli jatah Ibuki dan Shima hancur-lebur. Koreksi: mobil patroli mereka secara sengaja ditabrakkan demi menghindari terjadinya lakalantas yang dapat menelan korban jiwa dari masyarakat sipil. Pertanyaannya sekarang, posisi keduanya kan first responder sekaligus unit patroli, tuh. Bakal dapat mobil baru dong, sebagai ganti yang ambyar? Ntar gimana cara patrolinya kalau nggak ada kendaraan?

Oh tak semudah itu, kamerad.
Kamu pikir istilah 'anggaran' hanya mitos?

Kombi Shima-Ibuki memang pada akhirnya berhasil mendapatkan kendaraan baru. Tetapi dalam wujud food truck melon bread. Karena cuma itu kendaraan yang bisa tersedia. Menyaksikan Shima dan Ibuki berpatroli—termasuk mengejar tersangka yang kabur—mengendarai food truck yang kecepatan maksimalnya terbatas adalah unsur komedi tersendiri. Lebih menghibur dari dugaan. Apalagi beberapa kali mereka dihampiri warga sekitar yang mengetuk badan mobil, berniat membeli roti karena menyangka memang truk pedagang keliling.


Pernah juga Ibuki menyalakan jingle melon bread melalui speaker truk demi meladeni anak-anak kecil yang menyeberang di zebra cross. Shima Kazumi facepalming di jok sebelah melihat sang partner dengan penuh semangat dadah-dadah ke sekelompok bocah.


So, why is MIU404 freaking good?

In a nutshell, this series is as warm as a comforting hug, despite being a police drama.

MIU404 is character-driven. Dinamika interaksi antarkarakter, khususnya dua tokoh utama benar-benar menjadi roda penggerak keseluruhan cerita. Shima yang by-the-book, supertertib, dan sangat rasional berperan besar dalam mengerem keberangasan Ibuki. Sementara itu, Ibuki dengan kepribadiannya yang sangat blak-blakan, jujur, serta selalu bergerak berdasarkan hati nurani, perlahan-lahan mengurangi kesan tertutup yang mendominasi sosok Shima. Shot-shot yang menggambarkan mereka berdua dalam satu frame selalu menyenangkan dilihat. Ada kesan domestik yang akrab dan bersahabat; sesuatu yang relatif langka ditemukan di drama bertema kepolisian, sekalipun chemistry antarpemeran sama bagusnya. 




I love how MIU404 humanizes police force. And how it doesn't think highly of itself. Karakter-karakter yang berprofesi di lembaga kepolisian tidak digambarkan sebagai figur arogan yang menganggap apa yang mereka lakukan adalah perpanjangan tangan dari sebuah kebenaran, keadilan absolut. This is a very down-to-earth representation of police (in Japan) and I wish we get more stuffs like this. Melalui MIU404 pula, saya jadi tahu bahwa pada kenyataannya, meskipun masing-masing membawa senjata api, sebagian besar anggota kepolisian Jepang tidak pernah menodongkan pistol mereka bahkan sampai pensiun. Boro-boro nembak, menodongkan saja tidak pernah! Gun is apparently seen as the very, very last resort. Persenjataan yang lebih umum digunakan jika harus kontak fisik dengan tersangka kejahatan yang kabur atau melawan penangkapan adalah baton. Itu loh, tongkat pentungan hitam panjang yang tidak jarang bisa dilihat tersarung di pinggang petugas keamanan.

Kayak gini:


Tentu saja biar afdol, tetap ada representasi bapak-bapak petinggi dengan kecenderungan "Ya mau gimana lagi, ini perintah mereka yang lebih di atas lagi, udah nurut aja" demi mempertahankan jabatan, namun tidak serta-merta berarti dia adalah sosok antagonis. Wajar-wajar aja, lah. Nggak bikin pengin nonjok saking sebelnya.

Should I rave about the cases, too? Should I?

The variety of cases Shima-Ibuki pair meets feel very much real, and close. 
And they touch my heart like nothing ever had


Accidental murder. Lost family member. Juvenile delinquency. Tracking a hiding burglar. Theft committed by a person who found herself unable to get out from the cycle of 'dirty money'. Convenient store robbery. Semua kasus terasa sangat riil, bisa kapan saja terjadi di sekeliling kita, bahkan sepintas cenderung remeh-temeh. MIU404 mampu menunjukkan kepada penonton—tanpa menguliahi—bahwa sesuatu yang tampak sepele di permukaan bukan berarti tidak memiliki kekuatan untuk mengubah drastis hidup seseorang.

Tidak sekali-dua kali saya menangis sesenggukan di hadapan layar laptop, padahal saya berani menjamin (meski tidak kenal satu pun tim produksinya) ceritanya tidak meminta penonton untuk nangis. Ngerti kan, suka ada film atau drama yang kerasa banget kayak nyuruh kita nangis? Penulis skripnya semacam menjerit dari balik layar, "NANGIS SEKARANG! NANGIS! KELUARIN AIR MATA!! AYO!!" dan saya terus terang dongkol banget tiap nemu yang begitu.

But MIU404 isn't like that.




Episode tentang kenakalan remaja masih merupakan salah satu favorit saya. Topiknya menyinggung tentang juvenile law dan apa sebenarnya tujuan dari dibuatnya hukum untuk anak-anak di bawah umur yang melakukan tindakan pelanggaran, atau bahkan kriminal. Muncul pertanyaan-pertanyaan krusial semisal, "Kenapa sejumlah hukuman terhadap anak-anak dan remaja rasanya terlalu lunak? Apakah ini justru tidak mengundang mereka untuk mengulangi perbuatan?" dan menurut saya... apa yang disampaikan oleh MIU404, walau tidak serta-merta menjawab, cukup bisa dijadikan renungan.

Nggak akan saya tulis di sini, deh.
Nanti malah spoiler penting.

Tidak ada kasus-kasus bombastis seperti menguak terorisme beserta ancaman bom, membongkar sindikat perdagangan manusia, pembunuhan beruntun dengan metode mutilasi, atau sejenisnya. I'm so sorry Miman Keisatsu: Midnight Runner, but you are just... trying too hard. I love Nakajima Kento and Hirano Sho, unfortunately the crown for this season's (and probably this year's) best police drama is snatched by MIU404. Bar none. Hands down.

MIU404 is just THAT good.

And did I mention Ayano Go?

Shining bright like a summer sunshine, brimming with glow, as charming as ever Ayano Go?




Gara-gara Ibuki Ai digambarkan sebagai sosok berstamina tinggi dan larinya kenceng, penonton disuguhi banyak adegan kejar-kejaran manual di sini. And oooh boy, seeing Ibuki running is, weirdly enough, satisfying

His ready stance alone is worth five stars.


Barangkali sudah waktunya saya menghentikan tulisan ini sebelum makin panjang tak terkendali. WATCH MIU404, GUYS. Saya hanya ingin menyampaikan itu saja. Platform legal untuk serial drama Jepang mungkin cukup sulit ditemukan, tetapi saya tidak berniat menyebutkan platform ilegal tertentu karena... nggak mau aja. You know the title of the series. So you know the keyword. Google the crap out of it, that's all I can say.

Some more screenshots of Shima Kazumi and Ibuki Ai doing patrols to close this, um, somewhat review of a blog post:




MIU404 overall score:

Storyline «««««
Cast «««««
Intercharacter chemistry «««««
Soundtrack ««««
Heart and sincerity «««««

Masa bodoh lah dibilang biased opinion atau apa pun tapi YA RABB IKI PANCEN APIK SAKPOLEEE RAONO OBATTT FTW!!! 1!!! SETUNGGAL!! SIJI!! Oh, jangan lupa mampir ke laman Spotify Yonezu Kenshi untuk mendengarkan lagu "Kanden" yang jadi theme song MIU404. It's a good track.

z. d. imama

Friday, 22 May 2020

#NostalgiaInQuarantine: rewatching Kamen Rider Kuuga

Friday, May 22, 2020 3


Usai berbulan-bulan meninggalkan blog ini mati suri, akhirnya saya menulis lagi. It's baffling how the past few months feel like a different time. My yearly planner (which now has turned into a quarantine agenda) looks wild, especially in March. Awal bulan Maret saya masih menandai banyak tanggal konser, pergi ke acara nonton DVD konser rame-rame, dan di akhir bulan yang sama sudah masuk masa karantina. Semua acara ditunda. Semua rencana dibatalkan. 

It feels surreal even now.
Last year seems so far away; a totally unrecognizable era.

Syukurlah kantor saya mampu menerapkan sistem bekerja dari rumah, sehingga ada sedikit waktu yang biasanya saya gunakan untuk komuting yang bisa dialihkan ke hobi (yang seabrek-abrek ini). Saya pun memutuskan menggeledah koleksi video-video serial, variety show, dan film yang masih belum sempat saya tonton. Membaca tumpukan buku-buku yang menunggu disentuh dan antriannya makin panjang seiring hari. Menyibukkan diri di kosan. Lumayan untuk mengalihkan perhatian, konsentrasi, sekaligus energi, apalagi pemerintah Indonesia embuh banget dalam penanganan pandemi ini. Tiap buka berita bawaannya ingin jambak-jambak jembut rambut orang saking dongkolnya.

Okay. So,

Kamen Rider Kuuga.


Dulu semasa saya kanak-kanak―meski saya tidak ingat seberapa kanak-kanaknya diri ini―, serialnya sempat ditayangkan di stasiun televisi lokal. Terus terang, saya hampir sama sekali nggak punya memori yang tersisa tentang storyline dan plot Kuuga. Ingatan saya berhenti di Odagiri Joe memerankan Godai Yusuke, pengembara yang kalau sudah bokek ya balik kerja sambilan di sebuah restoran rumahan milik pakdhe-pakdhe yang konon dulunya juga hobi berkelana. Naah... berhubung Kuuga banyak digaung-gaungkan sebagai salah satu Kamen Rider terbaik dan saya kenal orang-orang yang suka bangetbangetbanget dengan serial ini, saya memutuskan untuk rewatch. Dua puluh tahun setelah serial ini tayang di layar kaca masyarakat Jepang.

Does this live up to today's standard?

The answer is YES. 

In all capitals.

Godai Yusuke, jika dipikir-pikir, sebenarnya digambarkan sebagai sosok protagonis yang terbilang misterius. Tidak 'tersentuh'. Sepintas dia kelihatan kayak cowok kelewat optimis yang happy-go-lucky setiap hari dan selalu memperbaiki mood dan mental orang-orang di sekelilingnya, tetapi di sisi lain penonton tidak pernah dibiarkan terlalu terlibat dalam pergolakan batin yang dia alami. Bahkan pada saat dia kalah bertarung. Yusuke selalu mengacungkan ibu jari dan bilang, "Nggak apa-apa" atau "Semua akan baik-baik saja" ke semua orang dengan wajah penuh senyum. Kita sebagai penonton—atau setidaknya saya—nggak mendapatkan gambaran akurat gimana perasaan dia dengan potongan-potongan kebenaran yang semakin terkuak di tiap episode. Penonton tidak diperlihatkan secara eksplisit. Nggak ada tuh adegan Yusuke berteriak frustrasi, kebingungan dengan pilihan-pilihan yang harus dia ambil, apalagi mutung gara-gara dialah satu-satunya yang harus ambil pengorbanan terbesar. Titik terdekat saya dalam upaya memahami isi hati Godai Yusuke adalah melalui posisi Sawatari Sakurako, mahasiswi master arkeologi yang sepanjang serial kerjaannya meneliti transkrip huruf-huruf Linto dan Gurongi, juga menerka-nerka kondisi psikologis mas Yusuke. Cuma sekadar tebak-tebak buah manggis.

Jangan paksa aku untuk selalu optimis, Bang~

Godai Yusuke ikrib sama Pak Polisi Ichijou sampai jogging bareng pagi-pagi.

Support system dalam Kamen Rider Kuuga juara abis. Godai Minori, adik satu-satunya sekaligus anggota keluarga terdekat Yusuke tahu rahasia identitasnya dan bersikap suportif. Yah, meski di awal kisah dia sempat keki dan cemas, sih. But who wouldn't anyway. Bahkan kawan di pihak kepolisian yang semula cuma asisten inspektur Ichijou Kaoru aja, makin ke belakang semua orang di Unit Investigasi Gabungan Khusus jadi ngasih kepercayaan dan dukungan ke Kuuga selaku "Unidentified Creature No. 4". Kuuga memang nggak diberikan 'temen' sesama Kamen Rider seperti sejumlah serial Heisei lain, namun dia juga tidak pernah benar-benar dibiarkan berperang sendirian.

Relasi Yusuke-Ichijou digambarkan bromance maksimal. Nggak ngerti lagi. Saya belum sempat ngulik jurang gelap internet untuk meneliti lebih dalam sambil berupaya membuktikan hipotesis, tapi saya tidak akan heran jika menemukan fanfic BL yang mengusung mereka berdua sebagai pasangan. Sedekat itu. Seuwu itu. Apalagi waktu mendekati pertarungan pamungkas... 

Makin-makin, lah.

Kamen Rider Kuuga tidak diperlihatkan tiba-tiba jago. Ada momen ketika Yusuke kewalahan menggunakan kekuatannya. Ada momen ketika dia harus berlatih ekstra karena kekuatan lawan di luar kemampuannya saat itu. Ada momen ketika nasib hidup-matinya justru bergantung di keputusan musuh yang enggan menang dengan gampang karena nggak seru. Ada momen ketika Yusuke harus didorong faktor eksternal untuk membangunkan kekuatan ke titik maksimum. Perkembangan sosok jagoan yang nggak instan ini menarik banget. Menyenangkan sekali ditonton. Apalagi kekuatan Kuuga memang bukan suatu hal wajar. Protagonisnya sama-sama berusaha mempelajari dan mengenali jati dirinya yang baru, alih-alih mendadak perkasa.

Walaupun serial superhero macam sentai dan tokusatsu sepertinya tidak pernah punya bujet yang terlalu melimpah―sehingga mereka cenderung menghadirkan 'wajah baru' sebagai tokoh utama lantaran relatif murah―, sinematografi Kamen Rider Kuuga melampaui ekspektasi saya. Badai anjir. There are shots taken in certain ways that are just... tasteful. They build tensions just right. Sometimes they also scatter hints. Subtle hints all around. They really know how to convey something even without speeches. Words aren't really necessary. Koreografi pertempurannya tidak kalah cakep-cakep. Seneng deh lihat stunt motor ditampilkan jelas, nggak bruwet kusut seolah nyari celah tipuan mata. Scoring dari Sahashi Toshihiko membantu menghidupkan suasana dengan porsi yang pas. Rasanya tiap Yen bujet betul-betul dialokasikan dengan sangat tepat guna. Puas pol.

Pertempuran sesama anak motor.

Ada banyak sekali adegan-adegan favorit yang saya abadikan dalam bentuk screenshot. Saking seringnya saya tenggelam dalam screenshoot-spree, kuantitas gambar yang terkumpul sudah cukup mumpuni untuk dibikinin folder terpisah. Tapi walaupun begitu, personal ultimate pick sepanjang 49 episode Kamen Rider Kuuga adalah pertemuan Pak Ichijou dengan Rose-Tattooed Woman yang diberi kode nama "Unidentified Creature B1". IT IS SO FRIGGING COOL IT ALMOST FEELS ROMANTIC. Like, I am thisssssssssss clooooooose from shipping them together. (Forbidden-slash-impossible romance is indeed my hard kink, sorry not sorry about that).

Their first meeting. Cakep kan kan kan...

Apalagi sosok samaran manusia milik Gurongi bertato mawar satu ini ibarat terinspirasi Princess Serenity dari Sailor Moon. Aura dan pembawaannya 'Tuan Putri' banget sampai-sampai tampak out of place, nggak cocok gabung sama rakyat jelata. Saya udah deg-degan mentok pas mereka jumpa kali pertama. Antena firasat saya berkedut-kedut heboh nggak jelas, penasaran bakal di-follow up seperti apa dua karakter ini. Akankah Mbak Mawar—saya panggil gitu aja lah biar lebih gampang—mati di tangan Pak Ichijou? Atau sebaliknya? Gimana nih sutradara???

Selang beberapa episode kemudian...



AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRGGGGGGHHHHHHHH!!! *internal scream*

NGERTI KAN MAKSUD SAYA??? Ngerti kan kenapa saya menempelkan deskripsi keren-mampus-sampai-nyaris-romantis??? Gila gila gila. Monangis. Pada dua adegan terpisah yang situasinya serupa itu, konklusinya sama: Mbak Mawar pergi meninggalkan Pak Ichijou yang tersungkur dalam kondisi masih hidup. Nggak dibunuh meskipun bisa. Walau ada kemampuan dan punya kesempatan. Padahal Mbak Mawar sempat ditembakin pakai peluru khusus dan berhasil dilukai. Gimana saya nggak gregetan sendirian, coba...

Apa perlu saya turun tangan dan ngebikinin fanfic-nya?
Udah siap buka akun Archive On Our Own, nih.

*Tarik napas panjang.*
Oke, lanjut.


Secara pribadi, saya suka bagaimana desain Kuuga dengan berbagai variasi form-nya (Dragon, Pegasus, Titan, dan lain-lain) cenderung tidak ambisius. Ada satu patokan dasar dan dari situ dikembangkan secara tidak berlebihan. Bahkan tidak jarang kesannya kayak cuma recoloring. TAPI JUSTRU KEREN??? Nggak ketempelan revisi nggak penting, gitu. Terus terang saya masih gondok jika teringat Kamen Rider Gaim, yang mana Kiwami Arms-nya mendadak fakir estetika dan kalah karismatik jauh dibandingkan Kachidoki Arms.

Now tell me what looks more regal than black-and-golden combo?


My final thoughts on Kamen Rider Kuuga?

«««««

Five stars out of five. Solid. Sekarang saya mengerti—dan sangat mewajarkan—kenapa banyak orang mengelu-elukan serial ini sebagai salah satu favorit mereka, bahkan setelah puluhan judul Kamen Rider yang lebih baru, lebih modern, lebih canggih muncul di layar televisi. Kuuga is something that leans towards what's classic without feeling dated. Aspek yang membocorkan umur serial ini hanya teknologi-teknologi tertentu pada masanya, seperti display komputer atau televisi tabung. Mungkin sepuluh tahun lagi, kalau saya masih hidup, rewatching Kamen Rider Kuuga bakal jadi aktivitas menarik. Let's see if this series would age as well as it does today.


Chou henshin!

*P.S.: Dokter Tsubaki Shuichi yang dipercaya menghandel urusan perawatan medis Godai Yusuke ganteng bangetttt. Parrrahhh. Lumayan mirip Eita, pula. Auto naksir tanpa ketolong.

z. d. imama

Sunday, 19 May 2019

"Perfect World" drama series is a redemption of its movie

Sunday, May 19, 2019 4

Setelah sebulan blog ini mengalami kegelapan―please don't make me explain anything―, saya akhirnya menemukan sesuatu yang ingin ditumpahkan uneg-unegnya secara panjang lebar. Desember 2018 lalu, pada event Japan Cinema Week yang ulasannya saya sampaikan dalam dua tahap (di sebelah sini dan sini), saya menonton Perfect World. Diadaptasi dari manga populer berjudul sama, film tersebut mengisahkan tentang kisah romansa seorang perempuan yang di dunia kerja bertemu lagi dengan kakak kelas gebetannya semasa SMA dalam kondisi duduk di atas kursi roda akibat kecelakaan semasa kuliah, dan sukses membuat saya menangis... saking frustrasi memikirkan betapa medioker karya ini. Padahal sudah bawa-bawa Sugisaki Hana, salah satu aktris muda favorit saya yang paling bisa dipercaya dalam berakting dibanding seangkatannya, sebagai protagonis. Itu pun filmnya gak ketolong. Sangat sulit untuk menikmati filmnya saking membosankan dan segalanya terasa berjalan sangat lambat. Heran.

Fast forward ke 2019, tepatnya musim semi, tampaknya ada sejumlah manusia-manusia yang gemes dengan kualitas film Perfect World dan memutuskan bikin ulang semuanya. Jajaran aktor dan aktris berbeda. Tim produksi berbeda. Bahkan medium berbeda, sebab kali ini Perfect World dihadirkan sebagai serial drama televisi. Saya hampir tidak mau nonton. Ternyata lumayan trauma juga sama filmnya, men. Tetapi setelah mempertimbangkan banyak hal.. sekaligus karena rupanya saya banyak waktu luang, tombol Play di laptop pun saya tekan. Adegan demi adegan bergulir.

WOW THIS IS ACTUALLY RATHER GOOD????

Kawana Tsugumi versi film bioskop (2018): Sugisaki Hana.

Kawana Tsugumi versi serial drama (2019): Yamamoto Mizuki

Thanks to enough screen time, so many happenings, backstories, and details are well-put in the drama series. While its movie counterpart is cliche scene after cliche scene along with equally cliche lines (and sometimes with "How the hell is this happening????" inward scream), the drama series fleshes out everything in between and ACTUALLY MAKES THINGS WORK. I haven't read the manga so I don't really know how they both compare with the highly-praised original material, but there are some small differences that I think the drama series gets them right.

  • Kawana Tsugumi dan Ayukawa Itsuki (Matsuzaka Tori) dikisahkan sebagai teman sekelas, alih-alih senior-junior SMA sebagaimana filmnya
Saya curiga kalau versi film pasti diubah dari manga karena emang maksain mau nampilin Iwata Takanori dan Sugisaki Hana sebagai protagonis, tapi mereka berdua jarak usianya cukup terlihat. This ex-classmate trope works wonders in this story because there is a particular closeness and familiarity built up, it makes exchanging banters and hangout invitations feel so much natural. Both characters are on a level ground instead of blind adoration of a junior to her senior. Interaksi Kawana dan Ayukawa versi serial drama sangat menyenangkan disimak, dan karakter Ayukawa dihidupkan sedemikian rupa oleh Matsuzaka Tori sampai-sampai saya kadang lupa kalau dia duduk di atas kursi roda. His personality is very much apparent and it comes forward beautifully and if this doesn't mean justice to any handicapped people out there in real life then I don't know what does. Umur masing-masing tokoh utama yang digambarkan sudah mencapai (atau hampir) 30 tahun pun membuat banyak hal lebih masuk akal, khususnya realita bahwa adulting is hard. Huhuhu.

Menikmati pemandangan sakura di atas bukit: Perfect World drama series (2019)

  • Relasi keluarga dan sosial yang bisa dipercaya.
I really like how social interaction in the drama series turns out. Masing-masing punya keluarga, teman, rekan kerja, bahkan... mantan, dengan hubungan yang meyakinkan. Nggak bikin kita merasa "Ini masa di hidup mereka gak ada siapa-siapa sama sekali sih??" yang kadang justru tidak masuk akal. Bahkan ayah Tsugumi yang rajin menelepon demi ngogrek-ogrek anak perempuannya agar pulang kampung setiap pekan karena "Toh di perantauan kamu nggak dapet pacar dan kerjaan juga gitu-gitu aja" terasa sangat dekat dengan apa yang bisa terjadi pada kehidupan nyata. Well, okay, perhaps that's just me. But hey, we even get spectacles-wearing Seto Kouji as Koreeda Hirotaka, Tsugumi's best friend since school days, and that serves as cherry on top.


Pola hubungan antara Tsugumi dan Hirotaka sebenarnya sangat tidak asing: yang cowok sebenarnya naksir sejak lama tapi bertepuk sebelah tangan, dan yang cewek sama sekali tidak menyadari kalau ada yang naksir. A bit worn and overused trope, however, this series use that scenario rather wisely, as the second male lead can pull off the disruptive role without making us the audience pity him unnecessarily, or turning him into the 'villain'.

  • Overall color palette.. or scheme? Whatever you name it.
ITU LOH WARNA FILM SECARA KESELURUHAN. Apa sih namanya???? Perfect World versi film terasa dipaksakan agar tampak bubbly, dreamy, berasa dikasih dandanan berlapis-lapis filter Instagram. Cakep sih.. tapi lama-lama capek juga di mata kalau nggak berhenti-berhenti selama satu setengah jam durasi pemutaran film. Apalagi layar yang dipantengin segede gaban. Bandingkan dengan shot dari serial drama yang lebih.. biasa aja, nggak di-gloss over pakai apa-apa.

Adegan rumah sakit: Perfect World movie version (2018)

Adegan rumah sakit: Perfect World drama series version (2018)

In summary: this drama is a good redemption attempt of its movie counterpart. Walau bercerita tentang seseorang dengan keterbatasan fisik, Perfect World versi drama nggak berminat menjual menye-menye, dan sejauh empat episode yang sudah tayang sampai tulisan ini dibuat, saya rasa tim produksinya berhasil. Love does apply to everyone. No matter how, what, and who you are.

z. d. imama