, ,

About Group Chat and the Bystander Effect


Saya rasa hampir semua orang tergabung dalam minimal satu group chat di aplikasi chatting yang dimiliki. Entah itu grup kelas, angkatan, kantor, atau alumni. As almost-peerless as I am, I do join a few group chats. Salah satunya ya grup teman-teman lama semasa sekolah, yang mana secara kebetulan sekarang sama-sama berdomisili di satu kota: Jakarta. It has only around 40 members―nggak banyak-banyak amat karena isinya memang hanya 2-3 angkatan. It's a group where every member knows every member. You see, old fellas and stuff. The group never gets very chatty, but sometimes someone drop occasional information or an invitation for meetups. That being said: nothing important gets 'drowned' by the intense amount of feed.

Pada postingan sebelumnya, saya telah menulis tentang hidup sendiri sebagai anak kos, yang mana dimotivasi oleh menurunnya kondisi kesehatan sehingga tergeletak begitu saja di dalam kamar. Little did I know that hours later, or the next day to be more precise, my condition deteriorates to the point where I was so scared I might not make it until morning. I knew I had to go see doctors, straight to the hospital, but as far as my personal experience says, unless you're bleeding to death, you don't get immediate treatment if there's no one with you to fill the paperwork; to take care of the registration and payment and other stuffs. Harus ada pendamping untuk ke rumah sakit, lah. Pertanyaannya: siapa?

Saya tidak punya seseorang spesifik yang bisa dimintai tolong dalam kondisi darurat. Bahkan ketika nyaris kolaps Minggu malam kemarin, saya masih tidak tahu harus menghubungi siapa, di tengah-tengah menahan kesakitan. Beberapa teman yang saya kenal lebih dekat dibanding yang lain, secara apes, posisi geografinya sama sekali tidak dekat. "Jauh di lokasi dekat di hati" at its best. So out of desperation, I tried to ask for help by dropping a message on group chat. The "old fellas" group chat. Susah payah mengetik karena pandangan mulai buram (bukan karena miopia) dan jari tangan gemetaran.

This was a screenshot retrieved from someone else's record because I've quitted the group.

Setengah jam semenjak mengirimkan call for help, saya menerima notifikasi "Read by 28", menandakan bahwa pesan tersebut telah dibaca sekian banyak orang. Namun sebagaimana yang terlihat di atas: tidak ada respon. Tidak ada tanggapan. Bahkan tidak ada yang bertanya posisi saya saat itu ada di mana. Bystander effect is real, and I'm having the first-hand experience of it. Done by my own "old fellas". Nice. No, really. It fucking hurts. Saya sangat mengerti bahwa besar kemungkinan ada pihak-pihak yang barangkali posisinya sedang jauh, atau sedang pulang kampung mumpung long weekend, atau lagi sibuk boker tapi seret nggak keluar-keluar... cuma ya nggak zero response juga, kek. How could they decide that their position is "too far" from me when they didn't even ask where I was? That night I was so in pain and the best thing I could get from them was: read by 28.

I'm writing this more as personal reminder. So that I won't forget how it feels; all the hurt and disappointment. So I will not do this kind of thing to other people. To anyone else. Because I've known. Hidup saya memang nggak penting-penting amat. Boleh dibilang, sama sekali nggak signifikan untuk membangun bangsa. Tapi apakah saya tidak semestinya sakit hati karena merasa diabaikan keselamatannya oleh sosok yang dianggap teman-teman sendiri? Setiap kali ada kabar tentang orang mati di group chat, semua dengan sigap berlomba mengucap belasungkawa, mengetikkan "Innalillahi". Namun giliran ada yang masih hidup dan minta tolong dibantu mendampingi ke UGD, semua bisu. Lucu.

Sungguh humor terbaik 2018.
Apa-apaan.

That night, I got helped by Puti's friend. We never knew each other before, so we exchanged names on our way back from the hospital hours later, when I eventually was stable enough to return home. Thank you, guys. Such a lifesaver―literally. I will remember this kindness forever. Also, thank you for offering your number to be my emergency contact; I really appreciate it. And you know who you are.

z. d. imama
Share:

11 comments:

  1. Sy alami ini jg. Kl tmn perlu sy, sy sigap dtg mnolong, tp kl sy yg perlu, gak ada yg peduli. They don't care if I am alone. ��

    ReplyDelete
  2. Waduh. Trus sekarang gimana, bok? Udah baikan? Adakah tindakan preventif yang bisa dilakukan untuk minimalin resiko sakit mendadak lg?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang sudah hidup kembali, mbak Fely. Hahaha. Resurrected.

      Delete
  3. Pernah mengalami hal yang kurang lebih sama dengan Mbak Zi. Suatu hari demam parah di kosan & persediaan obat sedang habis.
    Lalu minta tolong ke sebuah group chat yang hanya berisi 12 orang, semuanya teman dekat sewaktu kuliah & masih tinggal di kota yang sama. Tidak ada respon sama sekali, padahal read by 11. Ketika ketemu langsung beberapa waktu kemudian ga ada yang membahas hal tersebut & saya ga sampai left group sih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagi saya sih ngapain masih terus-terusan berada dalam grup yang ketika keselamatan/kesehatan kita ngedrop dan jelas sudah minta tolong, mereka sudah tahu, tapi tetap tidak peduli..

      Delete
  4. Berarti double ya sakitnya Ima : Sakit Fisik + sakit hati T,T Turut prihatin >,<

    Mereka terkesan tidak peduli di lingkup group sosmed, atau posisi mereka tidak tahu harus berbuat apa yang kebetulan berbenturan dengan kepentingan mereka saat itu juga, jadi ada baiknya mereka memilih untuk diam, tetapi mungkin sebagian dari kebisuan mereka dalam hati mendoakan semoga Ima cepat sembuh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mas Arief, sudah baca tulisan saya di atas?
      Tolong dibaca lagi bagian ini:

      "Saya sangat mengerti bahwa besar kemungkinan ada pihak-pihak yang barangkali posisinya sedang jauh, atau sedang pulang kampung mumpung long weekend, atau lagi sibuk boker tapi seret nggak keluar-keluar... cuma ya nggak zero response juga, kek."

      Saya ingin tahu mas, dari mana "ada baiknya memilih diam"?? Hal baik apa yang bisa terjadi dengan mereka diam? Ya justru ini "bystander effect" yang saya bicarakan. "Memilih diam".

      Delete
  5. Duh, Zi. Aku bisa membayangkan perasaanmu. Perasaan diabaikan sama teman sendiri. Well, that hurts. Btw, pas ke Jakarta kemarin ingin main, tapi kamunya belum sembuh betul. Next time ya! :D

    ReplyDelete
  6. I've been there. Some people may claim themselves as your friend or even your best friend, but they don't act like they're your friend. I know how you feel. I once had a friend, she claimed herself as my best friend. I was there for her. Bukan maksud untuk mengungkit kebaikan, tapi gue merasa apa yang gue dapet sama sekali gak sebanding dengan apa yang udah gue lakuin. Gosh, gue masih inget banget ketika pagi2 gue bangun baca chat dari manusia laknat itu yang bilang dia diusir dari kost2annya. Gue yang dulu masih cupu, sebagai sahabat baik, panik dong.. and you know what, I even had to beg to my father to check up on her. Bokap gue ada meeting pagi dan gue mohon2 cancel meetingnya untuk bantu si sableng ini karena gue tau ini pengusiran secara sepihak dan bisa dipidanakan. Dan bokap gue ahli dalam menyudutkan orang yang bermasalah. Let's say he got that badass skill to put some people under pressure in an argument. Jadilah kami jemput si laknat ini. Di jakarta dia gak ada keluarga.. temen2nya bahkan gak ada yang bisa bantu. Gue cariin hotel bukan bintang 1, bukan bintang 2 atau 3, tapi bintang 5 supaya dia nyaman. And then there came another day when she said bad things behind my back to her friends who weren't even there to help her.

    In your case, you're being friends with wrong people. If I was one of your friends in that chat group, I swear to God, I would run to check on you no matter what.
    Good to know there was someone to finally help you. Amazing how some strangers can be the very kind people, right? Even better than those who claim themselves as your friends.

    ReplyDelete
  7. Sedih, mudah-mudahan nggak ada lagi teman fake di dunia ini. biasa sih memang kalau teman senang banyak,teman hura-hura banyakk, teman sedih, teman susah pada kemana??

    ReplyDelete
  8. Ya ampun sedih banget bacanya. Kok teman-teman kamu gak ada respons sama sekali ya? :(

    Baca ini aku jadi bersyukur banget punya temen-temen yang mau direpotin apalagi pas aku sakit. Btw kalau kamu ada apa-apa boleh ya colek-colek aku. Kalau aku slowres bisa jadi karena emang sibuk, tapi aku usahakan untuk membalas.

    ReplyDelete

Have you left me any comments? No? Why? Do not hesitate to write down your feedback so I can visit your blog in return!