Monday, 19 November 2018

Man with a Mission "Chasing the Horizon" Tour Final: ONE MAN 2018 in Koushien Stadium, Japan

Monday, November 19, 2018 6

Apparently I'm still alive. Phew. That's quite a miracle. Akhirnya, akhirnya, AKHIRNYA. Pelaksanaan ibadah akbar yang bikin perut saya mules-mules saking nervous-nya sejak pertengahan tahun pun usai. Proyek #SowanSerigala2018 a.k.a bertemu serigala akhirnya sudah curtain call. It has become a past tense. Rasanya masih agak sulit percaya bahwa saya, manusia semenjana yang sehari-harinya berkutat dengan hidup ala kadarnya di sebuah negara dunia ketiga, jadi satu di antara 45,000 manusia yang membanjiri permukaan Hanshin Koushien Stadium, Hyogo, Jepang, tanggal 17 November 2018 kemarin untuk menyaksikan Man With A Mission.

This is going to be another unbelievably long of a concert rants and review. If you still want to proceed, don't tell me I did not warn you. Brace yourself. OK? OK. Saya akan menuliskan full setlist beserta beberapa cerita maupun hal-hal random yang muncul ketika satu per satu lagu dibawakan (sekaligus melampiaskan perasaan fangirl). 

Here we go. 


Setelah sebelumnya menjalani antrian panjang demi mendapatkan merchandise konser, kali ini antrian dilakukan untuk masuk ke stadion. Sejak masuk barisan yang terbentuk satu jam pra konser, saya cuma butuh sepuluh menit di dalam lini sebelum berhadapan dengan petugas pemeriksa tiket yang merobek tiket saya sebagai bukti masuk. Did you read that correctly? FREAKING. TEN. MINUTES. Gile. So pro. Mobilisasi 45,000 penonton dilakukan cukup selama satu jam, yang mana antrian untuk masuk baru mulai terbentuk beberapa saat lebih awal. It was already cool back then when I was in ONE OK ROCK Ambitions Asia Tour in Singapore 2018's crowd, but this one was mindblowingly exceptional. This is military level of effectiveness and precision. As expected, Japan. You are indeed THE Shit. Saya hampir yakin semua konser di venue-venue gede Jepang penanganannya sekece ini, siapa pun musisinya.

Berhubung perolehan tiket konser di Jepang dilakukan lewat undian, penonton tidak bisa rebutan memilih posisi nonton paling pewe. Kebetulan kali ini saya dapat bangku tribun. Agak jauh sih dari panggung, tapi lokasi saya memungkinkan nonton tingkah polah kerumunan di standing arena yang tidak jarang kelewat heboh dan menambah keseruan. Ngomong-ngomong, sepanjang sebagian besar konser saya tidak mengambil foto, apalagi merekam video (dilarang oleh panitia, dan sejauh saya tahu sih orang-orang di sekeliling patuh-patuh; nggak ada yang unggah Instagram Story cuma demi eksis). Beberapa fancam yang muncul diperoleh setelah encore usai dan Spear Rib memperbolehkan penonton memotret sepuas hati.

Bukti menunaikan ibadah, Part One

Bukti menunaikan ibadah, Part Two.

Tepat pukul 16:00, jajaran layar besar di belakang panggung menayangkan skit video komedi yang intinya adalah pemaparan peraturan selama konser berlangsung. Tidak boleh merekam video dan mengunggah ke internet. Ponsel disetel ke posisi silent. Tidak terima telepon saat konser karena menganggu pengalaman nonton orang lain. Basically all that common sense. Right after the video ended, white smoke filled the stage. The lights were on. The intro started.

The crowd cheered.
I screamed.

Sesaat sebelum konser mulai. (Picture source: here)

  • M1. 2045
Ini titik di mana saya masih nyubitin lengan sendiri saking masih meragukan hidup yang dijalani. Tokyo Tanaka sounds exactly the same as recording, booming and very much regal, but with heavier breaths. Nggak heran sih. Siapa juga yang nggak repot nyanyi pakai full-face mask yang sekali pandang udah kelihatan kalau berat dan panas? Perpaduan vokal dengan Jean-Ken Johnny (hereinafter referred to as "JKJ" or "Johnny") rupanya jika didengar secara live memang sebagus itu.

  • M2. Broken People
The crowd in arena was awesome. Everyone was awesome. Sorakan "Yeah you goddamn broken people!" berhias broken English dari penonton menggelegar berkali-kali setiap chorus dinyanyikan. Here, I have made peace with my reality. I am here in MWAM's concert. Broken People yang digeber persis setelah 2045 membuat saya berpikir apakah mereka berniat memainkan lagu dengan urutan sama seperti album Chasing The Horizon. But no, apparently they didn't have such intention because after that song, we jumped right into...

  • M3. database
Lagu wajib setlist MWAM pertama yang dibawakan di konser ini. Sejak dirilis, saya kayaknya nggak menemukan performance yang tidak menyertakan database. Emang beneran wajib hukumnya. Kalau nggak nongol ya kagak afdol. Semua orang jejingkrakan gila-gilaan sepanjang durasi lagu ini dengan lengan terangkat ke udara, bersorak "Database!! Database!!" 

  • M4. Freak It!
Meskipun tanpa Tokyo Ska Paradise Orchestra, Freak It! tetap menyenangkan. Penempatan track ini setelah database juga terasa menyegarkan karena aura lagu yang lebih adem dan cheeky namun masih memberi kesempatan untuk berseru ke udara di chorus. Shake down your body!

Begitu musik berhenti, penonton disapa. Sesi MC singkat pertama sekaligus curi-curi kesempatan bernapas buat Tokyo Tanaka. Memperkenalkan diri sebagai Man With A Mission, mengucapkan terima kasih karena sekian puluh ribu orang sudah berkumpul di gelanggang Koushien demi menyaksikan konser mereka. Sempat pula minta orang-orang yang berasal dari selain Prefektur Hyogo untuk angkat tangan, ngecek berapa banyak manusia luar provinsi, kemudian lagi-lagi berterima kasih karena udah bela-belain walau jauh. Hmm.. jadi penasaran bagaimana reaksi mereka jika tahu ada cewek jelata Indonesia nyasar ke konsernya...

Freak out the party! (Source: official media picture)

  • M5. TAKE WHAT U WANT
Going upbeat again, TAKE WHAT U WANT elicited huge cheer from the crowd. Maklum lagunya lumayan lawas kan. Penonton yang sudah berkali-kali hadir di konser MWAM biasanya ada prediksi track-track apa yang rajin keluar. Terus terang... saya sendiri malah biasa aja sama lagu ini. Rasanya nggak istimewa-istimewa banget kok. Wakaka. Mohon maaf atas komentar kurang ajar barusan.

  • M6. Break The Contradictions
We've entered slower songs part. Nggak bisa dibilang ballad juga sih... tapi efeknya tetap berasa banget jika dibandingkan jajaran lagu-lagu sebelumnya yang cenderung angot-angotan. Di sini penonton banyak yang merangkul bahu kanan-kiri mereka dan menggoyangkan tubuh seiring melodi. Kenal nggak kenal, pokoknya sepanjang konser harus ikrib. It was cold and rather windy in such an open venue, but somehow I felt so warm.

  • M7. higher
Bagi saya, higher adalah lagu perdamaian a la Man With A Mission. It feels so calming and soothing. Begitu intro dimainkan, kelima layar besar di panggung menampilkan berbagai pemandangan di muka bumi. Macem channel National Geographic gitu dah. Sungai, pegunungan, wajah-wajah manusia tersenyum, langit membentang... sesuai dengan liriknya "...daichi fumishimete, we jump in the land to dance in the air so high"At this point my eyes started to water.

Tapi batal nangis. Alasannya? Skit video (lagi) yang diputar demi mengisi kekosongan saat water break. Jadi konon, Kamikaze Boy, bassist sekaligus chorus, belakangan ini mulai dirasa banyak gaya oleh rekan band dan para staf. Dulu sosoknya rendah hati dan nggak merepotkan, suka menolong bla bla bla... sekarang mulai suka sok ngartis dan bukti perubahan kelakuan ini adalah: beli sushi nggak dimakan sampai habis. Bingung? Ya sama. Bukti macam apa pula itu Fernando Jose???  Nah, agar Kamikaze Boy nggak kegedean kepala lebih dari yang sudah, JKJ memutuskan merencanakan prank dengan modus syuting iklan palsu. Skenarionya, di tengah-tengah pengambilan video, Kamikaze Boy digiring ke area yang sebelumnya sudah dipersiapkan lubang biar dese jatuh kejeblos di hadapan kamera. Sang korban yang kegirangan karena (disangkanya) berhasil terpilih tampil solo di sebuah iklan produk minuman yang diprediksi populer tahun 2800 pun dengan sukses terperosok ke liang sedalam dua meter. Tanpa kecurigaan sama sekali.

Taek banget sumpah.

Menggebuk drum dalam damai.  (Source: official media picture)

  • M8. My Hero
OK. BYE. FORGET WHAT I SAID. Air mata saya akhirnya menetes di tengah-tengah bergulirnya intro My Hero. 'Batal nangis' apaan, anjir. Padahal mestinya ini bukan lagu yang bikin mewek. But in my defense, the moment strings instrument started to play right when the fire from pyrotechnics burst into the sky, everything sounds a whole lot more intense and I could do nothing but cry. Cucok meong. Pas dengan kondisi psikologis saya yang banyak galau masa depan dan bimbang masa kini. Saya sama sekali tidak membayangkan akan ada kolaborasi dengan sejumlah musisi string. Kirain cuma Man With A Mission doang. Langsung dah auto beler. Tell me my hero, where you're going? What do I need to end my war?

  • M9. GET OFF OF MY WAY
Another made-for-arena kinda song. Sepanjang lagu ini, semua dengan penuh semangat mengangkat kedua lengan bergantian sembari meneriakkan "Get off of my way!" tiap kali Tokyo Tanaka merepetkan lirik chorus yang cepetnya minta ampun itu.

  • M10. Dead End in Tokyo
AAAARRRRRRRRRGGGHHHH. Aaaaaarrrrrgggh. Lagu mabok favorit saya. This. Song. Is. My. Absolute. Jam. Spontan saya menjerit begitu "In the dead end street in Tokyooo" mengalun, dan mulai detik tersebut sampai lagu habis saya sibuk singalong dari lubuk hati sembari bergoyang-goyang bak manusia kebanyakan menenggak miras. Well, to be fair, di lokasi konser memang disediakan kios bir sehingga jika memang berkenan ya bisa banget lah ngibing sambil berakrab-akrab ria dengan alkohol. I have unexplained attachment with this song. Like, way too attached. I really do. Barangkali karena sebagian liriknya mengisahkan tentang gadis perantau. Barangkali karena saya kerap merasa terjebak dan tersesat dalam hidup. Barangkali karena... ah, terserahlah. Whatever the reasons might be, dancing to this song is one form of pure happiness I can treasure.

Hey mister, I got everything that you want, so dream on. (Source: official media picture)

Moving to MC session. Nggak ngerti lagi udah berapa sering ucapan terima kasih disampaikan ke penonton yang bikin penutup tur di Koushien bisa terlaksana. "Malam ini memang berkumpul 45,000 orang di hadapan kami, dan bagi kalian yang sebelumnya nggak pernah ke konser kami sebelumnya, sekadar pengumuman aja: biasanya venue konser Man With A Mission nggak segede ini". Ngakak sih, namun sebagai salah satu fans yang tahu bahwa mereka lebih sering keliling Jepang melalui pertunjukan live house atau ikut festival musik, pengakuan jujur ini bikin rada terharu juga. Pemicu baper.

  • M11. Find You
One more beler-inducing track that night. Sebelum menggeber Find You, JKJ sempat menuturkan rasa terima kasihnya untuk yang kesekian belas kali pada fans yang sudah menemukan Man With A Mission dan mendengarkan musik mereka, serta mengungkapkan harapan bahwa semoga sampai kapan pun bisa tetap saling menemukan satu sama lain. Wah kacau. Saya lemah banget sama yang model-model begini; dan terbukti. Sesenggukan di tempat dalam waktu 10 detik. Apalagi mulai memasuki lirik pre-chorus, "Hajimari no ibuki owari no majinai, nandomo kasanete nemuru", penonton satu per satu mulai menyalakan lampu senter ponsel masing-masing dan mengarahkan ke udara. Menerangi seisi Koushien yang cahaya panggungnya disetel redup.

Auto cireumbay.

Di bagian terakhir lirik sebelum outro, saya benar-benar banjir air mata. Sibuk banget sumpah. Sebelah tangan melambaikan ponsel seiring melodi di udara, tangan yang satunya lagi ngelap-ngelap pipi yang basah berleleran. Thank you so much for the music, Man With A Mission. I will find you again, I will go finding you even if the world stops... 

  • M12. medley: distance ~ Dive ~ Smells Like Teen Spirit [NIRVANA cover]
Agak kecewa distance dan Dive nggak dibawakan secara utuh namun digubah jadi short version. The medley was awesome, though. Lagu-lagu dari album lawas memang kesannya agak beda dibanding yang baru. Banyak fans sudah familier dan hapal tindakan-tindakan apa yang biasa dilakukan demi meramaikan suasana. Anak kemarin sore kayak saya tinggal tengok kiri-kanan, kemudian nyontek mereka semua pada ngapain. Mengayunkan tangan? Ayoh. Ninju udara? Hokyah. Lonjak-lonjak di tempat? Bring it on. Singalong? Hello, hello, how low?


Pindah ke panggung di seberang arena. (Source: official media picture)

  • M13. Instrumental break: Spear Rib & DJ Santa Monica (WELCOME TO THE NEW WORLD)
Sementara Tokyo Tanaka dan JKJ minum sebentar, panggung dikuasai Spear Rib dan DJ Santa Monica. Sesaat suasana berubah jadi macem DWP. DWP yang beneran, bukan Dibyo Warehouse Project.

  • M14. Sleepwalkers
Nothing here to worry, nothing here to weep, tell me one good story to let it go and sleep. Saya tidak menyangka penampilan lagu Sleepwalkers akan jauh, jauh, JAUH lebih hore, oke, dan menghanyutkan ketimbang versi rekamannya. Teduh banget. Payung aja kalah teduh. Dibawakan secara akustik dengan tambahan instrumen strings, penonton melengkapi suasana lewat mengulang skenario ketika Find You: menyalakan lampu senter pada ponsel. Bedanya, ready stock air mata saya sudah ludes ditumpahkan saat My Hero dan Find You. Kali ini, saya agak berkaca-kaca. Nggak sampai mewek. 

Hanging with the fairies, huh? (Source: official media picture)

  • M15. Overture + Hey Now
It won't be a lie if I say that Hey Now performance was one of the strongest highlights of this concert. Setelah overture panjang yang menjembatani mood ballad Sleepwalkers dengan tempo upbeat Hey Now, mendadak di tengah-tengah lagu penonton tribun diminta mengecek bagian bawah bangku dan mengambil balon tiup yang sudah dipersiapkan. Sementara geng tribun meniup balon, gerombolan arena diarahkan untuk jongkok serendah mungkin, dan di hitungan ketiga, bersamaan dengan musik, penonton arena melompat tinggi sementara balon-balon yang tadi ditiup serentak dilepaskan ke udara. 

Pemandangan seluruh penjuru Koushien kala itu seperti ini:

Itu semua balon, oke. Bukan replika sperma beterbangan. (Source: official media picture)

  • M16. Raise your flag
RED. RED EVERYWHERE. At this point I assume it's safe to conclude that Raise Your Flag is Man With A Mission' war cry. Pecah banget koor penonton di bagian intro. Semuanya kompak, "Wooooo ooooooh!!" berasa pasukan mau maju perang. Berasa siap disuruh masuk Gundam kapan saja. Berasa sewaktu-waktu bisa merangsek tawuran versus siapa pun. Moshing pit di standing arena demi apa pun ganas banget pas lagu ini. Bergolak. Gerak terus kayak lahar dalam kawah Mordor.

Berlomba menjabat tangan oshi(Source: official media picture)

  • M17. Please Forgive Me
Perfect. Sempurna. Tanpa cela. BAGUS BANGET ANJENG. Please Forgive Me, though a great track, is rather unexpected to sound incredibly good in live performances. Saya nggak menduga versi live-nya bisa demikian mantap jaya. Buildup dari mellow ke paruh akhir yang lebih rock-ish dan bertempo cepat benar-benar bikin hampir nangis. Hampir. Maklum, mata saya masih kering akibat Find You dan My Hero. If there is only one song of Man With A Mission that a fan must listen to its live version, I'd highly recommend this track. Sekadar pesan layanan masyarakat: meski judulnya tentang permintaan maaf, ini bukan lagu yang tepat untuk diputar kala hari raya Idulfitri. Yaiyalah. 

  • M18. FLY AGAIN
Saya mau jujur dikit deh. Penempatan FLY AGAIN di sini tuh rada aneh, kalau nggak boleh dibilang aneh banget. Mood-nya nggak selaras. Agak timpang gitu lah. Untung lagunya seru sehingga masih bisa dinikmati. Untung sayang sama band-nya (ini sih yang terpenting; segalanya lebih gampang diampuni).

  • M19. Chasing The Horizon
"Our last album was titled 'Chasing The Horizon' in a hope that we can keep chasing new scenery with our music. Today, we have saw the best scenery thanks to your participation. Please keep running with us, a weird band consisting of five wolves who created fake commercial videos just to prank a friend. Please let us be in your care," they conveyed that message before getting into the song. Siapa juga yang gak baper ya diomongin gitu sama idolanya. Suer dah demi apa. Hobi bener bikin dada nyesek. Di titik ini, saya nangis lagi. Mewek on repeat.

  • ENCORE: M20. Take Me Under
FUCKING FINALLY. Sejak medley digeber, saya sudah cranky sendirian mempertanyakan kapan Take Me Under dimainkan. It's worth all the wait. It's definitely worth all the waiting hours. Energi semua orang seolah-olah selesai di-recharge penuh dalam sekejap. Lonjakan-lonjakan dan ayunan lengan-lengan di udara terasa full throttle, bak konser baru saja dimulai. SO TAKE ME DOWN WITH YOUUUUUU!

  • ENCORE: M21. Winding Road
Suara Tokyo Tanaka kala menyanyikan "Someday we will find out the truth..." sanggup bikin ketuban pecah. So much depth. So much intensity. I shit you not. This track is definitely heavenly. Kayaknya nggak berlebihan apabila saya bilang betah ngedengerin lagu ini terus-terusan sampai tahun baru 2019.

  • ENCORE: M22. Emotions
I did not expect this. I DID NOT. For real. Sehingga tatkala intro Emotions yang  bercampur suara menggema menyerupai narator gim genre petualangan berkumandang di sekujur sisi Koushien, saya mengeluarkan jeritan melengking bak kucing keinjek ekornya. Man, this is pleasant surprise. Kirain tuh udah kelar gitu aja encore... mentok sampai Winding Road doang. Eh ada Emotions dong huhu membludaklah ratapan bahagia hamba di tribun Koshien. You're the ones who changed my world I know by your hands, wolves. 

Setelah musik berhenti dan gelegar tepuk tangan yang membahana sepanjang sekian harakat mereda, Spear Rib secara resmi mengangkat larangan mengambil foto dan video. "Ayo sini kalian boleh foto-foto kami sepuasnya!" dia bilang sambil jalan-jalan sepanjang panggung, yang berujung peluk-pelukan Teletubbies dengan Kamikaze Boy. Widih dalam sekelebatan mata langsung semua tangan di udara megang ponsel. Jeprat-jepret. Rekam-rekam. And of course: the mandatory group shot.

Semuanya aja kalian suruh topengan. (Source: official media picture)

Iya iya mas. Kami semua juga sayang kok. (Source: here)

I still can't believe the concert has become a thing in the past.


Rasanya masih terlalu nyata. Kepala nggak cukup punya kesadaran untuk memproses. It was an absolute happiness; a dream came true. Chasing the wolves all the way to another horizon has gotten a checklist. Done. Nggak nyangka sedikit pun bakal bisa begini. This will be one of the greatest treasures in my life and I will do my best not to make it the last thing. Tolong kalian nggak usah pakai acara bubar atau kenapa-napa dulu ya. Oke? Oke.

Sebelum penonton dibubarkan, setiap anggota Man With A Mission melemparkan suvenir kepada kerumunan di standing arena. Yah, itung-itung hadiah jerih payah desek-desekan dan berdiri sepanjang dua jam lebih lah. Sementara itu, saya sibuk memunguti kembali balon yang berjatuhan di area tribun untuk dibawa pulang sebagai bentuk fisik kenang-kenangan.

Aaaaaand... it's a wrap. (Source: here)

Thank you, Man With A Mission.

See you again. Hopefully it doesn't take too long. Semoga di kesempatan berikutnya saya bisa dapat standing arena walau harus mewaspadai moshing pit. Let me get drunk on Dead End In Tokyo, next time. GAW!

z. d. imama

Friday, 16 November 2018

Chasing Man With A Mission to another horizon: before the show

Friday, November 16, 2018 0

I swear to god, 2018 is an insane year. Saya versi 2017 mungkin akan menertawakan siapa pun yang berkata, "Tahun depan elo bakal nonton konser MAN WITH A MISSION di Jepang, lho. Bulan Januari juga ngedatengin Ambitions Asia Tour-nya ONE OK ROCK di Singapura". Haqqul yaqin pernyataan itu akan saya tampik dengan, "Sembarangan aja elo ngomong, habis giting apaan sih?" sepenuh jiwa. Namun kenyataannya, sebentar lagi saya akan menunaikan ibadah #SowanSerigala2018. Another fangirl wishlist checked. Gila. Gila. GILA. Barangkali jika saya punya duit kebanyakan dikiiiiittt aja, keberuntungan tahun ini bisa digas mentok buat ngejar 5x20 Tour Arashi dan tante Hamasaki Ayumi. Tapi apes. Duit saya cekak.

Perjalanan saya sebagai fangirl MWAM terbilang masih pendek. Saya pernah cerita di tulisan ini bahwa perkenalan itu baru terjadi tahun 2015. Tiga tahun silam, lah. Bahkan terus terang, saya nggak ada bayangan sama sekali bakal bisa menyaksikan konser mereka di kandang sendiri. Iya sih memang pergelaran musik di Jepang itu sangat tertib dan teroganisir. Saking teraturnya sampai-sampai ribet banget dan tidak bersahabat bagi fans internasional. Namun gara-gara bubarnya Kalafina di awal tahun 2018 padahal saya belum sempat nonton konsernya di Jepang (yang tentu bukan versi karaoke sebagaimana saat mereka hadir di AFAID 2013 silam), jiwa fangirl ini terpelatuk kencang. Anjir. Anjir. Anjir. Insekyur bukan main.

"Gimana kalau artis favorit lainnya ada yang ikutan bubar atau hiatus??"


Bajingseng. Paranoid seketika. Sehingga pas MWAM merilis album terbaru mereka tanggal 6 Juni 2018 lalu, Chasing The Horizon, yang berarti akan disusul tur promo, saya langsung beraksi. Siap menyingsingkan lengan baju. Bergabung di pertarungan perburuan tiket bersama ribuan fans-fans MWAM domestik di Yapan. Emang rada setengah sadar sih waktu itu. Tiba-tiba main sok ikut lottery tiket konser final yang berlokasi di Hanshin Koushien Stadium, Prefektur Hyogo, Jepang. Tanpa rencana keuangan. Tanpa pikir panjang. Nekat? Iya. Impulsif? Iya. Agak goblok? Iya juga. Soalnya ya nggak ada ekspektasi apa-apa. Toh lotere, kan. Mana milih yang Tour Final pula. Pasti kompetitif banget. Seberapa sih hoki diri ini...

Plot twist-nya?

SAYA. MENANG. LOTERE. TIKET.


Kelihatan nggak tuh ada nama saya tercantum di email notifikasinya?

Goblos. Menangos. Saya refleks jerit, "Gyaaarrrggh??" sewaktu baca email notifikasi di atas pertama kali. When everything sinks in eventually, lagi-lagi saya panik. Cuma kali ini paniknya beda. Saya baru ngeh betapa banyak checklist yang harus dipenuhi untuk mengabulkan proyekan fangirl #SowanSerigala2018. Gimana tiket pesawat? Bayar visa? Duit buat wira-wiri naik kereta di sana apa kabar? Urusan nginep sih saya lebih santai ya. Ada host family dan teman-teman sekelas Kyoto Tachibana High School dulu yang sampai sekarang masih rajin kontak-kontakan, sehingga bisa ditebengin tidur dan makan. Memang diri ini parasit sejak dalam pikiran. Laknat betul. Sebaiknya jangan ditiru, apalagi kalau kalian punya uang rada banyakan. Nggak kayak saya yang ngeden finansial.

Kebodohan 2.0 adalah: saya ikut lottery untuk dua tiket. Yep you read that right. Dua tiket. Padahal saya jomblo. LAH YANG SATU LAGI MAU BUAT SIAPA?? Pusing nggak tuh. Mau dianggurin mah mubazir kaffah. Belum lagi karena pembelian dilakukan atas nama saya, siapa pun yang bakal pakai tiketnya nanti harus masuk venue bareng-bareng. Kalau nggak gitu ya kagak bakal dikasih akses lantaran nama pembeli dicetak di permukaan tiket dan ada ID check. Sungguh, sangat Yapan. Untungnya setelah woro-woro kiri-kanan, bahkan sempat mengunggah informasi ini ke Twitter, tiket tak bertuan itu berpindah tangan ke seorang teman. 



Sampai kedua kaki saya napak lantai Kansai International Airport dan hidung menghirup udara Jepang yang sudah mulai mendingin, semua masih terasa surreal. Bahkan saya sempat takut banget-banget-banget untuk berangkat karena entah kenapa banyak hal yang tidak berjalan sesuai rencana. Beberapa teman yang sempat ketemu saya sebelum penerbangan kayaknya udah kenyang banget ketumpahan gejolak anxiety yang pasti terdengar terlalu paranoid.. dan sejujurnya sampai detik ini masih nyisa. But despite all odds, I'm here! Yah meski harus ditebus dengan tidak bekerja (dan tidak menerima gaji sepanjang absen karena belum punya jatah cuti) sehingga pulang-pulang nanti hari-hari makan nasi bertabur Masako akan mengiringi. But it's all right. I don't care. Everything feels fine. Saking bersemangatnya menyambut konser ini, saya ngerasa bakal sanggup menghadapi apa saja setelah tiba kembali di Indonesia nanti.

Tadinya saya pikir, seperti kebanyakan konser, sebelum masuk venue akan ada penjualan merchandise di area Hanshin Koushien Stadium. Ternyata semalam keluar pengumuman bahwa demi ketertiban dan kemudahan mobilisasi penonton ke venue, booth merchandise tidak akan didirikan di area konser. Sebagai gantinya, penjualan perintilan merch konser digeser sejak dua hari sebelumnya. Mulai 15 November sore hingga pagi hari 17 November, sebelum konser mulai. Padahal lokasinya beda provinsi. Wakaka. Ibarat konser di Jogjakarta, perintilan merchandise dijual di Solo. 

*insert "Hmm.. menarik" meme here* 

Berhubung jarak yang cukup jauh, saya pun berangkat dari rumah pagi-pagi. Maklum, harus ganti kereta di tengah jalan. Niatnya datang awal, cek TKP, lalu nyari makan siang dan setelah kenyang baru masuk antrian agar hidup lebih damai. Ternyata oh ternyata... meski saya sampai di Osaka Minatomachi River Place pukul 11:30 dan booth baru buka jam tiga sore, Orang-orang sudah banyak berkumpul membentuk antrian. As expected, Japan. Alhasil pikiran untuk nyari makan dulu dibuang seketika dan langsung masuk barisan. Ya daripada makin terdesak posisinya dan harus menghadapi label "SOLD OUT" di depan barang-barang yang ingin dibeli? Hayo. Belakangan, saya ngobrol dengan mbak-mbak mahasiswi tingkat akhir yang mengantri di samping serta belakang saya dan berhubung mereka sama-sama belum makan, kami bertiga hompimpah untuk memutuskan siapa yang didelegasikan pergi ke convenient store terdekat mencari pengganjal perut dan minuman.

One day friends, lah.

Posisi saya memotret: titik antrian lantai dua. Di belakang saya masih lebih mengular lagi.

Itu dua orang mas-mas mukanya saya tutup karena benar-benar menghadap ke kamera. Haha.

Posisi saya mencapai (nyaris) depan booth sekitar pukul 15:30 waktu setempat. As expected again, Japan. Antri gila-gilaan sekalipun cenderung cepat bergerak maju saking sistematisnya. Mobilisasi juga nggak macet sama sekali. Sepanjang antrian dipasang papan tanda yang menunjukkan daftar produk dan harganya, detil ukuran, bahkan sampel asli yang dipakaikan ke manekin serta digantung untuk dicoba sebelum melakukan pembelian. Ada pula staf-staf yang berkeliling meng-update kondisi stok, menginformasikan mana yang sudah terjual habis, serta meminta calon pembeli untuk memutuskan barang apa yang diinginkan sejak masih berbaris supaya nggak ngabisin banyak waktu di depan meja booth dan menyusahkan orang lain. Lha wong saya berdiri di belakangan orang (biasanya pasangan atau rombongan kawan) yang bingung milih film di booth tiket bioskop aja bikin gedek. Gimana model antrian mengular merch konser... Hipertensi spontan dah.

"Try me" corner. Sumpah bomber jacket-nya keren-keren buset tapi saya bokek..

Memenuhi beberapa titipan di kampung halaman, ini dia hasil belanjaan saya.

Mantap bosque.

Tidak bisa membantu titipan ini-itu terlalu banyak karena ada peraturan pembatasan pembelian dari staf penyelenggara. Diterapkan demi mencegah munculnya tengkulak calo merchandise yang ngeborong banyak barang dan dijual ulang secara lelang sehingga harganya melambung luar biasa. Namun tidak mengapa. Belanja kebanyakan juga ntar cuma bikin bawa pulangnya jadi susah... 

Ya Rabb dag-dig-dug banget ini. 
Besok bakal ketemu oshi!

z. d. imama

Wednesday, 7 November 2018

Wave of Tomorrow: when tech and art collide

Wednesday, November 07, 2018 1

Belum lama ini di Jakarta ada sebuah pameran karya seni yang mengusung perpaduan instalasi seni rupa, teknologi, dan musik dengan tema yang disetel semi-futuristik. Namanya? Wave of Tomorrow. Berlokasi di Jakarta Selatan, tepatnya The Tribrata Grand Ballroom, Dharmawangsa, yang menurut saya desain bangunannya mengingatkan pada rumah tokoh antagonis kaya-raya bergelimang harta yang kerap muncul di opera sabun televisi. Ngerti, kan. Pilarnya gede-gede, chandelier bergelantungan, dindingnya diukir-ukir macem candi, lalu si karakter jahat yang tinggal di sana selalu pakai high heels 24/7, bangun tidur dalam keadaan muka full makeup lengkap dengan bulu mata palsu cetar membahana..

Lho jadi melantur.

Pameran berlangsung selama 10 hari saja: 19-28 Oktober 2018 lalu. Saya―yang secara ajaib mendapatkan undangan; please don't ask me why because I have no idea―baru sempat mampir di hari terakhir setelah matahari terbenam. Alamakjang ramai sekali rupanya. Banyak yang datang berbondong-bondong dengan kawan-kawan satu geng sepermainan, namun mayoritas hadir bersama pasangan masing-masing. Gandengan gitu deeeh. Single-serving me cannot relate. Saya sih nongol sendirian seperti biasa. Hehe. Tolong dimaklumi jika krisis dokumentasi, apalagi foto diri. 

Cukup dengan menilik entrance gate pun sudah cukup terasa bagaimana atmosfir yang hendak diusung oleh Wave of Tomorrow. Tagline-nya super menyakinkan: Ahead of Its Time.


Sebelum masuk, saya menukar undangan dengan gelang akses. Nah, di sini ada sepotong cerita lucu. Mbak-mbak petugas loket menyerahkan selembar kertas begitu saya bilang, "Mbak, mau redeem undangan". Katanya, "Isi nama ya Kak. Sekaligus tulis di situ, akun Instagram-nya apa." 

Saya akan anak jujur, ya. Ngaku dong. Mengungkapkan kebenaran yang hanya ada satu. "Oh, saya nggak punya Instagram. Kolom ini dikosongin aja boleh kan, mbak?"

AND THERE WAS THIS AWWWKKWARDDDD PAUSE.

Jika hidup saya dibikin versi film kartun, adegan tersebut pasti ada burung gagak terbang berkoak-koak di belakang punggung kami, lengkap dengan titik tiga berjajar mengisyaratkan keheningan. I swear to God the look she gave me was priceless. Tatapan mbaknya terlihat murni keheranan seolah-olah menyuarakan isi hatinya: "Lah ini orang mau ngapain di dalem sana kalau Instagram aja kagak punya??"

Maafkan saya, mbak. Beginilah nyatanya.

Ageless Galaxy. Di mata saya, pesawat luar angkasa ini kayak ada wajahnya. 

Keseluruhan instalasi di Wave of Tomorrow tidak terlalu banyak. Hanya sekitar sepuluh. Namun karya-karya yang dihasilkan dari tangan-tangan Nonotak, 9matahari, Rebellionik, Maika Collective, Ageless Galaxy dan Kinara Darma x Modulight punya daya pikat yang berbeda-beda. Format yang diusung pun tidak repetitif sama sekali, sehingga mengunjungi satu instalasi ke instalasi lainnya terasa menyenangkan. Sebagian besar menghadirkan nuansa remang-remang seperti ruang angkasa, dengan penerangan hanya dari lampu yang sesekali berpendar atau memang disetel redup. Terus terang, saya sempat mikir apa jangan-jangan suasananya berasa gelap gara-gara saya datengnya pas udah malem. Tapi nampaknya tidak demikian. Ini kan bukan Sekaten.

Favorit saya? Constellation Neverland dari 9matahari. Dengar-dengar, memang banyak orang lain yang sama-sama menyukai instalasi ini, salah satunya ya senpai kesayangan saya, Kak Chika. Gumpalan awan-awan dan untaian benang yang ditata sedemikian rupa sehingga terlihat seperti hujan. Saat saya mengunjungi instalasi ini, kilatan cahaya lampu berwarna putih menciptakan pemandangan seakan-akan sedang datang badai. Cantik banget. Sekaligus agak bikin merinding.


Eerily fascinating, don't you think?

Redupnya paruh awal pameran bikin saya agak terkejut memasuki sisi lain Wave of Tomorrow. Terutama Stereoflow. SO COLORFUL, BEYBEH. Bahkan warna-warna gonjreng seperti pink, kuning, dan biru cerah menyeruak ganjen tanpa malu-malu. Saya mengerjap-ngerjap beberapa kali pada pandangan pertama saking harus membiasakan mata dulu. Hahaha. Di instalasi Stereoflow inilah saya akhirnya mengambil satu-satunya foto diri, berkat bantuan seorang mas-mas superbaik hati yang berkenan menekankan shutter kamera ponsel.


Secara konten, Wave of Tomorrow sangat menyenangkan. Asal sabar ngantri aja. Mau gimana, lumayan timpang juga antara jumlah instalasi yang bisa diamati dan dilihat-lihat dengan jumlah pengunjung. Apalagi saat akhir pekan. Wuidih. Ruaameee! Untuk bisa dapat giliran menikmati karya yang dipamerkan, saya menghabiskan waktu selama 5-20 menit mengantri. Secara durasi sebenarnya nggak lebih parah dari antrian The World of Ghibli Exhibition Jakarta 2017 silam, sih. Cuma kan luas ruangan ballroom The Tribrata rada kecilan, ya... dibandingkan Ritz-Carlton Pacific Place. It just felt more packed. Sempat bingung juga antrian apa masuk barisan mana, sebab ketika itu ada tiga lajur panjang terbentuk di depan instalasi Ageless Galaxy namun sama sekali tidak ada petunjuk dari panitia.

Penempatan panggung pertunjukan musik yang terlalu berdekatan dengan instalasi seni pun menurut saya kurang pas. Beberapa karya dilengkapi dengan suara-suara background music tersendiri untuk menyuguhkan atmosfir paling nampol, dan saat sesi music performance dimulai, BGM dari instalasi benar-benar kelelep oleh penampilan musisi yang tampil di panggung. Bayangin lah. Mestinya meresapi reversible narration di instalasi Kinara Darma x Modulight setelah beres ngantri puluhan menit dengan mood mellow, tapi yang kedengeran justru suara Saykoji nyanyi lagu Online. Sayang aja gitu. Nggak maksimal pengalamannya.

Thank you, Wave of Tomorrow.

Terima kasih sudah mengundang saya yang tidak punya akun Instagram. Saya harap semoga kelak akan makin banyak dan kerap diselenggarakan pameran-pameran karya seni kontemporer di Jakarta. Syukur-syukur merembet ke kota-kota lain seluruh penjuru Indonesia. Lumayan jadi variasi melepas suntuk dan penat rutinitas, sekaligus mengakrabkan diri dengan berbagai bentuk kesenian. Agar sesekali saya nggak nyamperin Galeri Nasional melulu saat suntuk. Petugasnya mungkin udah bosen liat tampang jelata ini.

z. d. imama

Thursday, 1 November 2018

"Rules are made to be broken", says Gintama 2. A rambling review.

Thursday, November 01, 2018 5

I just had to. Beberapa lama tidak ngoceh tentang film yang sedang diputar di bioskop, akhirnya saya putuskan menulis setelah berhadapan dengan Sakata Gintoki dan geng gabutnya semalam. Bless ODEX Indonesia for bringing this 2 hours and 45 minutes of goofball here. Gintama 2: Okite wa Yaburu Tame ni Koso Aru is arguably a notable improvement from the first movie. Far less cringe-worthy scenes; I can only remember one or two. Better paced. Better editing. Hampir tiga jam di dalam studio teater dan sama sekali nggak ada rasa bosen. 

Sebelum saya memuntahkan seluruh gejolak emosi jiwa tanpa struktur, mari kita bahas ringkasan cerita secara umum. Saya janji sebisa mungkin nggak akan ngebeberin spoiler. Penting maupun tidak penting. Oh, ya. Mumpung inget, mau disclaimer dulu: cuplikan gambar-gambar yang terlampir di bawah sumbernya adalah screencaps dari trailer dan promotional artworks Gintama 2 plus sejumlah adegan film perdana ya. 

So, let's start the fangirl rant.

Gintama 2: Okite wa Yaburu Tame ni Koso Aru.



Hidup selow Sakata Gintoki, cewek spesies alien superkuat Kagura, dan part-timer abal-abal Shimura Shinpachi sebagai Yorozuya (Jack-of-All-Trades) kali ini direcoki oleh permasalahan internal yang melanda aparat keamanan Edo, Shinsengumi, sejak kehadiran sesosok prajurit berkarir cemerlang, Ito Kamotaro. Usut punya usut, kisruh tersebut bertalian dengan konspirasi yang menyangkut keamanan serta keselamatan Shogun, dan seperti biasa, geng Yorozuya menemukan diri mereka terlibat dalam pertarungan orang lain.

The movie production team has made adjustments here and there, changing details and sewing parts from various places to build the story. And they've done it well. Not exactly perfect, but still believable. Bahkan saya yang baca manga plus nonton serial animenya secara religius tidak merasa terganggu babar blas dengan sejumlah perubahan yang dibuat. Selain itu, meski kostumnya aneh-aneh dan banyak karakter hadir dengan rambut warna-warni, Gintama mampu membuat penonton melihat tiap tokohnya sebagai individu. Tidak sekadar, "Oh si aktor Anu lagi akting sambil cosplay". Nggak kayak Fullmetal Alchemist live-action yang mending dibakar hangus aja.

Tim produksi Gintama memang keren abis. Mereka paham level kenistaan dan kerecehan lelucon-lelucon di materi asli berupa manga buatan Sorachi Hideaki. They never think about 'smarting things up'. Yet I guess they do learn from the first movie and its feedback; what worked and what didn't quite work. Masih inget betapa kampretnya adegan pembukaan Gintama live-action pertama? Oguri Shun muncul sendokiran sebagai Sakata Gintoki dan namanya ditulis berulang kali dalam berbagai bahasa dengan editing ala kadarnya―yang ternyata opening cut tersebut dibikin Oguri Shun sendiri atas permintaan tim produksi pakai komputer pribadi.




Tenang, kawan-kawan seperwibuanku. Adegan pembuka Gintama 2 tidak kalah menyebalkan. Tetap goblok sejak menit pertama. Barangkali jika diibaratkan... macem solat Idul Fitri atau Idul Adha gitu. Takbiratul ihram-nya banyak. Parodi dan guyonannya pun luar biasa. Gila. Gila. GILA. Kena semua. Nggak yang pop-culture lokal, nggak yang Hollywood, nggak yang tentang para pemerannya sendiri. Ledakan tawa penonton dalam studio nyaris nggak pernah berhenti. Sejak film pertama tuh saya sudah heran. Gimana ceritanya―sekaligus caranya―adegan model begini bisa lolos sensor maupun copyright infringement dan dirilis ke masyarakat umum? 

Kacau bat anjir.

One thing that amazes me the most is the production scale. Kelihatan banget bahwa Gintama memang bukan 'film ngirit'. Mereka berani bikin set skala besar bergelimang figuran demi meyakinkan penonton tentang suasana kehidupan kota Edo, distrik Kabuki. Ikut seneng lah ketika tahu Gintama 2 berhasil dapet keuntungan melampaui 3 milyar yen dalam waktu sebulan pemutaran film.


Pakai stuntman kayak Presiden Jokowi ngga neh he he he ~

Secara umum, Gintama 2: Okite wa Yaburu Tame ni Koso Aru bagi saya meraih predikat cum laude. 3.5 out of 4.00. Great casts. Nggak ada yang jaim sama sekali. Mau didandanin kayak apa, disuruh pasang muka segeblek apa, all of them delivered. Terutama Shogun, yang perjuangannya takkan mudah dilupakan. Convincing sets. Beautiful camera works and editing. Sumpah buanyak banget adegan-adegan cakep yang ketika DVD-nya rilis nanti bakal bikin saya mengalami screenshoot frenzy dan buat folder baru berisi skrinkepan film Gintama 2. Penggunaan CGI pun nggak ganggu-ganggu amat, walau saya masih tetap pada pendirian awal bahwa Jepang jauh lebih oke di wire work ketimbang efek grafis komputer. One more important thing to note: congratulations, Miura Haruma. You've done your redemption here as Ito Kamotaro. Siapa itu Eren Jaeger? Nggak pernah kenal. Cuih.

Jangan salah gaul lagi ya mas, kasihan karirmu.

However, Gintama is not without flaw. What's playing as its key strength, unfortunately, is also its greatest weakness: only those who have enough references and understanding on pop-culture (especially Japanese) can enjoy it best. Selain itu, kalau selera humor si penonton kurang tiarap.. ya mungkin agak sulit kena sih. Mentok-mentok komentar, "Ih ini apaan deh gak jelas amat. Gak nangkep di gue".

Sehingga? Silakan tes kadar kerecehan diri masing-masing dengan menyaksikan Gintama 2: Okite wa Yaburu Tame ni Koso Aru di cabang CGV atau Cinemaxx terdekat... yang memutarkan film ini. Saya aja mau kok misalkan diajak nonton lagi. Asal ditraktir. #Kode.

z. d. imama