Friday, 16 November 2018

Chasing Man With A Mission to another horizon: before the show


I swear to god, 2018 is an insane year. Saya versi 2017 mungkin akan menertawakan siapa pun yang berkata, "Tahun depan elo bakal nonton konser MAN WITH A MISSION di Jepang, lho. Bulan Januari juga ngedatengin Ambitions Asia Tour-nya ONE OK ROCK di Singapura". Haqqul yaqin pernyataan itu akan saya tampik dengan, "Sembarangan aja elo ngomong, habis giting apaan sih?" sepenuh jiwa. Namun kenyataannya, sebentar lagi saya akan menunaikan ibadah #MengejarAnjingAnjing2018. Another fangirl wishlist checked. Gila. Gila. GILA. Barangkali jika saya punya duit kebanyakan dikiiiiittt aja, keberuntungan tahun ini bisa digas mentok buat ngejar 5x20 Tour Arashi dan tante Hamasaki Ayumi. Tapi apes. Duit saya cekak.

Perjalanan saya sebagai fangirl MWAM terbilang masih pendek. Saya pernah cerita di tulisan ini bahwa perkenalan itu baru terjadi tahun 2015. Tiga tahun silam, lah. Bahkan terus terang, saya nggak ada bayangan sama sekali bakal bisa menyaksikan konser mereka di kandang sendiri. Iya sih memang pergelaran musik di Jepang itu sangat tertib dan teroganisir. Saking teraturnya sampai-sampai ribet banget dan tidak bersahabat bagi fans internasional. Namun gara-gara bubarnya Kalafina di awal tahun 2018 padahal saya belum sempat nonton konsernya di Jepang (yang tentu bukan versi karaoke sebagaimana saat mereka hadir di AFAID 2013 silam), jiwa fangirl ini terpelatuk kencang. Anjir. Anjir. Anjir. Insekyur bukan main.

"Gimana kalau artis favorit lainnya ada yang ikutan bubar atau hiatus??"


Bajingseng. Paranoid seketika. Sehingga pas MWAM merilis album terbaru mereka tanggal 6 Juni 2018 lalu, Chasing The Horizon, yang berarti akan disusul tur promo, saya langsung beraksi. Siap menyingsingkan lengan baju. Bergabung di pertarungan perburuan tiket bersama ribuan fans-fans MWAM domestik di Yapan. Emang rada setengah sadar sih waktu itu. Tiba-tiba main sok ikut lottery tiket konser final yang berlokasi di Hanshin Koushien Stadium, Prefektur Hyogo, Jepang. Tanpa rencana keuangan. Tanpa pikir panjang. Nekat? Iya. Impulsif? Iya. Agak goblok? Iya juga. Soalnya ya nggak ada ekspektasi apa-apa. Toh lotere, kan. Mana milih yang Tour Final pula. Pasti kompetitif banget. Seberapa sih hoki diri ini...

Plot twist-nya?

SAYA. MENANG. LOTERE. TIKET.


Kelihatan nggak tuh ada nama saya tercantum di email notifikasinya?

Goblos. Menangos. Saya refleks jerit, "Gyaaarrrggh??" sewaktu baca email notifikasi di atas pertama kali. When everything sinks in eventually, lagi-lagi saya panik. Cuma kali ini paniknya beda. Saya baru ngeh betapa banyak checklist yang harus dipenuhi untuk mengabulkan proyekan fangirl #MengejarAnjingAnjing2018. Gimana tiket pesawat? Bayar visa? Duit buat wira-wiri naik kereta di sana apa kabar? Urusan nginep sih saya lebih santai ya. Ada host family dan teman-teman sekelas Kyoto Tachibana High School dulu yang sampai sekarang masih rajin kontak-kontakan, sehingga bisa ditebengin tidur dan makan. Memang diri ini parasit sejak dalam pikiran. Laknat betul. Sebaiknya jangan ditiru, apalagi kalau kalian punya uang rada banyakan. Nggak kayak saya yang ngeden finansial.

Kebodohan 2.0 adalah: saya ikut lottery untuk dua tiket. Yep you read that right. Dua tiket. Padahal saya jomblo. LAH YANG SATU LAGI MAU BUAT SIAPA?? Pusing nggak tuh. Mau dianggurin mah mubazir kaffah. Belum lagi karena pembelian dilakukan atas nama saya, siapa pun yang bakal pakai tiketnya nanti harus masuk venue bareng-bareng. Kalau nggak gitu ya kagak bakal dikasih akses lantaran nama pembeli dicetak di permukaan tiket dan ada ID check. Sungguh, sangat Yapan. Untungnya setelah woro-woro kiri-kanan, bahkan sempat mengunggah informasi ini ke Twitter, tiket tak bertuan itu berpindah tangan ke seorang teman. 



Sampai kedua kaki saya napak lantai Kansai International Airport dan hidung menghirup udara Jepang yang sudah mulai mendingin, semua masih terasa surreal. Bahkan saya sempat takut banget-banget-banget untuk berangkat karena entah kenapa banyak hal yang tidak berjalan sesuai rencana. Beberapa teman yang sempat ketemu saya sebelum penerbangan kayaknya udah kenyang banget ketumpahan gejolak anxiety yang pasti terdengar terlalu paranoid.. dan sejujurnya sampai detik ini masih nyisa. But despite all odds, I'm here! Yah meski harus ditebus dengan tidak bekerja (dan tidak menerima gaji sepanjang absen karena belum punya jatah cuti) sehingga pulang-pulang nanti hari-hari makan nasi bertabur Masako akan mengiringi. But it's all right. I don't care. Everything feels fine. Saking bersemangatnya menyambut konser ini, saya ngerasa bakal sanggup menghadapi apa saja setelah tiba kembali di Indonesia nanti.

Tadinya saya pikir, seperti kebanyakan konser, sebelum masuk venue akan ada penjualan merchandise di area Hanshin Koushien Stadium. Ternyata semalam keluar pengumuman bahwa demi ketertiban dan kemudahan mobilisasi penonton ke venue, booth merchandise tidak akan didirikan di area konser. Sebagai gantinya, penjualan perintilan merch konser digeser sejak dua hari sebelumnya. Mulai 15 November sore hingga pagi hari 17 November, sebelum konser mulai. Padahal lokasinya beda provinsi. Wakaka. Ibarat konser di Jogjakarta, perintilan merchandise dijual di Solo. 

*insert "Hmm.. menarik" meme here* 

Berhubung jarak yang cukup jauh, saya pun berangkat dari rumah pagi-pagi. Maklum, harus ganti kereta di tengah jalan. Niatnya datang awal, cek TKP, lalu nyari makan siang dan setelah kenyang baru masuk antrian agar hidup lebih damai. Ternyata oh ternyata... meski saya sampai di Osaka Minatomachi River Place pukul 11:30 dan booth baru buka jam tiga sore, Orang-orang sudah banyak berkumpul membentuk antrian. As expected, Japan. Alhasil pikiran untuk nyari makan dulu dibuang seketika dan langsung masuk barisan. Ya daripada makin terdesak posisinya dan harus menghadapi label "SOLD OUT" di depan barang-barang yang ingin dibeli? Hayo. Belakangan, saya ngobrol dengan mbak-mbak mahasiswi tingkat akhir yang mengantri di samping serta belakang saya dan berhubung mereka sama-sama belum makan, kami bertiga hompimpah untuk memutuskan siapa yang didelegasikan pergi ke convenient store terdekat mencari pengganjal perut dan minuman.

One day friends, lah.

Posisi saya memotret: titik antrian lantai dua. Di belakang saya masih lebih mengular lagi.

Itu dua orang mas-mas mukanya saya tutup karena benar-benar menghadap ke kamera. Haha.

Posisi saya mencapai (nyaris) depan booth sekitar pukul 15:30 waktu setempat. As expected again, Japan. Antri gila-gilaan sekalipun cenderung cepat bergerak maju saking sistematisnya. Mobilisasi juga nggak macet sama sekali. Sepanjang antrian dipasang papan tanda yang menunjukkan daftar produk dan harganya, detil ukuran, bahkan sampel asli yang dipakaikan ke manekin serta digantung untuk dicoba sebelum melakukan pembelian. Ada pula staf-staf yang berkeliling meng-update kondisi stok, menginformasikan mana yang sudah terjual habis, serta meminta calon pembeli untuk memutuskan barang apa yang diinginkan sejak masih berbaris supaya nggak ngabisin banyak waktu di depan meja booth dan menyusahkan orang lain. Lha wong saya berdiri di belakangan orang (biasanya pasangan atau rombongan kawan) yang bingung milih film di booth tiket bioskop aja bikin gedek. Gimana model antrian mengular merch konser... Hipertensi spontan dah.

"Try me" corner. Sumpah bomber jacket-nya keren-keren buset tapi saya bokek..

Memenuhi beberapa titipan di kampung halaman, ini dia hasil belanjaan saya.

Mantap bosque.

Tidak bisa membantu titipan ini-itu terlalu banyak karena ada peraturan pembatasan pembelian dari staf penyelenggara. Diterapkan demi mencegah munculnya tengkulak calo merchandise yang ngeborong banyak barang dan dijual ulang secara lelang sehingga harganya melambung luar biasa. Namun tidak mengapa. Belanja kebanyakan juga ntar cuma bikin bawa pulangnya jadi susah... 

Ya Rabb dag-dig-dug banget ini. 
Besok bakal ketemu oshi!

z. d. imama

No comments:

Post a Comment