Sunday, 30 October 2016

Puella Magi Madoka Magica: your game-changer for magical girls story

Sunday, October 30, 2016 3

"Why is it that when humans regret the decision based on a misunderstanding, they feel resentment toward the other party?" - Kyuubey

Ini adalah tulisan yang terlambat empat tahun. Serius. Pertama kali saya menonton serial anime Mahou Shoujo Madoka Magica (atau judul versi Inggris-nya: Puella Magi Madoka Magica) awal tahun 2012, selisih setahun dari perilisan aslinya di Jepang tahun 2011. Saya dulu masih duduk di bangku SMA dan bosen setengah mati belajar untuk Ujian Nasional. Akhirnya 'melarikan diri' dengan menonton anime ini. Dua belas episode langsung kelar dimaraton dalam satu hari, yang mana tiga hari berikutnya saya justru jadi nggak menyentuh buku pelajaran sama sekali gara-gara emotional breakdown.

Oh man, that feeling. I would never forget. Saya sudah nonton ulang serial ini entah berapa kali dan kesan yang ditinggalkan dalam diri saya tetap tidak berubah.


Kisah Puella Magi Madoka Magica (selanjutnya akan disebut PMMM karena anjer judulnya panjang bener) dibuka dengan menceritakan suatu pagi milik Kaname Madoka, seorang gadis remaja yang memiliki sahabat baik bernama Miki Sayaka dan Shizuki Hitomi. Meski berteman dekat, mereka bertiga ini karakternya beda-beda. Madoka cenderung pemalu, agak pendiam, klemak-klemek sakpole kalau kata orang Jawa. Mirip kerupuk kecemplung kuah soto. Sayaka lebih tomboy, lantang bicara, grabak-grubuk. Sementara Hitomi merupakan tipikal anak orang kaya yang diikutkan orang tuanya kursus tata krama, table manner, balet, dan segala macam sehingga cara bicara serta perilakunya benar-benar tampak priyayi. Sangat #HorangKayah.

Geng Madoka. Sayaka berdiri di sisi kanan, Hitomi yang sebelah kiri.

Hari itu di sekolah, kelas Madoka dan Sayaka kedatangan seorang murid pindahan misterius bernama Akemi Homura. Sayaka sejak awal langsung menunjukkan rasa agak kurang sreg terhadap Homura, namun Madoka entah kenapa merasa ada yang mengganjal hatinya. Sepulang sekolah, seusai mampir jalan-jalan, makan, serta rumpi-rumpi, tiba-tiba Madoka dan Sayaka menjumpai makhluk mirip kucing sekaligus kelinci yang bisa berbicara bernama Kyuubey. Kondisi Kyuubey yang terluka parah membuat Madoka merasa kasihan, namun tidak lama kemudian muncul Homura yang mengatakan bahwa Madoka lebih baik tidak dekat-dekat Kyuubey. Sayakaーkarena sudah sebel duluan pada Homuraーsegera mengajak Madoka kabur dengan membawa serta Kyuubey, tetapi mereka berdua justru bertemu entitas jahat yang disebut Majou (versi Inggris: Witch).

Madoka dan Sayaka terjebak dalam perangkap Majou.
THAT AESTHETIC, THO.

Saat mereka kehilangan harapan, muncullah Tomoe Mami, yang tanpa malu-malu berubah wujud menjadi sosok superhero (?) di hadapan Madoka dan Sayaka dan melenyapkan Majou dalam sekejap. Ternyata, Kyuubey adalah incubator yang telah membuat Mami mampu menjadi Mahou Shoujo (atau Magi, dalam istilah versi Inggris) dan punya kekuatan mengalahkan Majou. Pada Madoka dan Sayaka, Kyuubey juga menawarkan untuk mengabulkan satu permintaan mereka. APA PUN ITU. Sebagai gantinya, mereka akan diberikan Soul Gem supaya bisa berubah menjadi Mahou Shoujo dan bertarung melawan Majou yang muncul secara berkala di kota.

Sounds like a pretty good deal, huh? Tinggal katakan satu permohonan yang kita pikir tidak akan pernah bisa terkabul, dan seperti mimpi, keinginan itu akan jadi nyata. Masih bonus dapat kekuatan ajaib, pula. Ya mungkin agak serem sih harus berantem versus entitas jahat, tapi toh diri kita sendiri sudah di-upgrade jadi super juga kan? Karena tawaran tersebut terdengar menarik, Madoka dan Sayaka akhirnya beberapa kali mengikuti petualangan Mami berburu Majou selepas jam sekolah agar bisa melihat sendiri bagaimana cara menghadapi Majou. Sementara itu, Homura, meski dia sendiri rupanya juga adalah Mahou Shoujo, berkali-kali memperingatkan Madoka agar tidak menggubris ucapan Kyuubey.

Madoka pun semakin bimbang. And day by day, before her very eyes, the story enfolds itself... urging her to make decision soon. To become or not to become a Magi. For better or worse.

Kelayapan bertiga tiap malem. Oh, yang di bahu Madoka itu Kyuubey.

Saya akan mulai memaparkan kenapa saya amat sangat mencintai serial animasi yang dikemas padat hanya dalam dua belas episode ini. Pertama: selepas nonton PMMM, Sailor Moon jadi terasa cupu. Jangan bully saya duluan ya. Sailor Moon was a great anime series all right, dan animasinya memang memperlakukan semua tokoh dengan lebih adil jika dibandingkan komiknya yang terlalu Usagi-centric. Tapi Sailor Moon butuh 200 episode, cuy. Konsep PMMM yang memang hanya satu cour dengan rata-rata 12-13 episode membuat saya syok karena kisah macam ini bisa diringkas sedemikian rupa. The pacing is excellent it feels like a different kind of art.

Kedua: the whole series is a beautiful masterpiece. The artwork, the color palette, the voice casts' acting quality, the soundtrack, the aura every scene gives off, and... did I mention the soundtrack? Good Lord. Bagi sebuah serial animasi, musiknya benar-benar top notch. Tim produksi PMMM benar-benar menjatuhkan pilihan tepat saat menunjuk Kajiura Yuki sebagai komposer. Saking sukanya, album soundtrack PMMM selalu menjadi langganan saya tiap sedang menulis dan butuh ditemani musik.

Saya kasih lihat sedikit, deh. Video di bawah adalah potongan dari sekuel (merangkap epilog?) serial PMMM yang dikemas dalam bentuk film bioskop dan tayang tahun 2013 silam. I really love how they chose to make it look cute, cheerful, energetic, but creepy at the same time. And dang, that background music!



Salah satu lagu dari soundtrack PMMM yang saya paling suka adalah battle theme milik Homura. Berjudul "Nunquam vincar" (dari bahasa Latin, terjemahan: "I will never be defeated"), lagu ini muncul di serialnya hanya selama 20 detik, tetapi saat itu saya seperti jatuh cinta pada pendengaran pertama. YA TUHAN MANA FULL VERSION-NYA BAGUS BENER HAMBA INGIN MENANGOS. Kalau berkenan, bisa didengarkan di sini (live version):


Oke. Sampai mana tadi? Oh iya, sekarang masuk alasan ketiga. Jadi gini. Biasanya kalau cerita-cerita magical girls, senjata yang sering digunakan berupa tongkat sihir atau benda random lain yang bisa mengeluarkan cahaya sakti. Cek saja Sailor Moon, Wedding Peach, Tokyo Mew Mew, atau berbagai judul serial lain. But like Magic Knight Rayearth which I told you about here, girls in Puella Magi Madoka Magica use real weapons. We can see them fighting with swords, spears, shot gun, bows and arrows, bombs, even bazookas.

F*CKING DOPE

Terakhir, saya sangat menyukai bagaimana PMMM mempermainkan emosi saya. In just twelve episodes, it tells us about friendship, love, sacrifices, devotion and determination, also consequences that comes together with every take and turns we choose in life. Beberapa kali saya harus menekan tombol pause hanya demi mengeluarkan napas yang tanpa sadar tertahan entah sejak kapan. Episode satu dan dua memang terasa damai, tidak neko-neko, dan saya sempat kepengin menggigit bantal tatkala melihat karakter Madoka yang terlihat lembek. Namun di episode tiga, bola alur yang semula gerakannya tenang mulai bergulir cepat.

Because things are not like what it seems.

SHOOT THE BAD GUY ALREADY, MAMI!

Skor serial ini bagi saya 9.5/10. Oke mungkin bias sedikit, tapi Mahou Shoujo Madoka Magica benar-benar punyaーnyarisーsemuanya. This series is a pure game-changer for a magical girls story. Tidak heran kalau PMMM sukses besar di Jepang. Sampai-sampai makin ke sini makin banyak yang meniru konsep ceritanya dan dibuatkan seabrek spin-off dengan tokoh-tokoh berbeda yang terus terang saya nggak peduli (karena versi original tetap terbaik; ceritanya sok purist gitu).

Tadinya saya ingin memberi skor penuh untuk PMMM, cuma kok ya serial animasi ini kekurangan satu hal. Mungkin karena dianggap nggak penting dan nggak kontributif terhadap perkembangan cerita, makanya dihilangkan. Coba tebak, apa itu? Nggak ada tokoh cowok ganteng! HAHAHAHA. Sempat sih diceritakan tentang gebetannya Sayaka, cuma menurut saya kok ya nggak ada istimewanya. Mentok B aja. Maaf ya Sayaka, seleramu kurang canggih.

Bagi kalian yang belum sempat menyaksikan Mahou Shoujo Madoka Magica, tonton ya! Nggak akan menyesal kok. Sebagus itu. Oh ya, berhubung saya nggak pelit nih... kalau kalian domisili di area Jabodetabek dan bingung mau download serial ini di situs mana, bisa kok kita ketemuan untuk ngobrol-ngobrol plus sesi #SedotHore.

Biar saya temennya agak banyakan dikit.

z. d. imama

Thursday, 27 October 2016

The Holy "But"

Thursday, October 27, 2016 13

Setelah sekian lama, akhirnya saya bikin postingan ngomel lagi. Terakhir kali saya menggerutu lewat tulisan ini, yang mana sudah berbulan-bulan silam. Apa? Menurut kalian blog saya isinya soal curhat dan ngomel semua? Wah, saya terharu. Ternyata ada yang sungguh perhatian pada konten blog saya. *disambit jemuran*

Anyway...

Mungkin kalian sudah tahu bahwasanya saya ini orangnya insekyur. Terbiasa dikomentari orang kanan-kiri semenjak kecil atas penampilan saya yang kurang kurus, kurang tinggi, kurang putih, rambutnya kurang lurus dan kurang rapi, atau kurang punya alis membuat dua puluh sekian tahun hidup saya penuh perjuangan menyelamatkan sisa-sisa self-esteem. Saya berusaha fokus pada apa yang bisa dilakukan, yang mana saat itu adalah belajar dan belajar (karena masih sekolah) dan hasilnya sebagaimana tertulis pada postingan ini. Toh komentar-komentar mereka juga tidak bisa saya bantah. Because, you know, when people are saying bad things about you often enough, you will start to believe that you are a misfit and something is wrong with you. Mau berlagak sok yes dengan upload video bilang "Kalian semua suci sempurna, aku penuh dosa cela" juga nggak bisa.

Nanti malah jadinya udah buruk rupa, kemlinthi (banyak gaya) pula.

Jangan salah sangka. Banyak juga orang-orang di sekitar saya yang nggak ikut-ikutan melemparkan komentar dan celetukan rese. Tapi masalahnya, beberapa dari kawan-kawan dan kenalan tersebut justru melakukan sesuatu yang efeknya sama seperti golongan di paragraf satu: membuat saya kesal dan mengorek-orek self-esteemThis phenomenon is what I call as:

"The holy 'But'."

Entah memang karakter manusia Indonesia yang pasif-agresif, atau mereka memang sulit ikhlas dalam mengatakan suatu hal baik, saya kurang tahu. The holy "But" ini adalah suatu kondisi di mana ada seseorang yang mengucapkan kalimat pujian atau upaya penghiburan kepada saya, namun selalu lebih dulu diawali dengan menyebutkan unsur yang dianggap negatif berdasarkan tolok ukur masyarakat.

Contoh:

  • "Kamu itu nggak obesitas, kok. Tapi ya emang berisi gitu, kelihatan sehat."
  • "Kamu memang nggak cantik, tapi menyenangkan."
  • "Kamu nggak cantik sih, tapi kamu anaknya ngangenin."
  • "Kamu padahal nggak cantik, tapi ternyata enak diajak ngobrol."
  • "Kamu ini nggak cantik, tapi punya karakter kuat."
  • "Kamu nggak jelek kok, tapi bakal cantik kalau pakai jilbab." ― this one takes the "Indon-est of all typical Indon compliments" cake.

Oke. Jadi sejumlah orang-orang di sekeliling saya memiliki pendapat bahwa saya ini orangnya terlihat sehat, menyenangkan, ngangenin, enak diajak ngobrol, dan berkarakter kuat (tolok ukur 'kuat'-nya dari mana, saya nggak tahu). Opini yang cukup positif, bukan? BUT WHY COULD NOT THEY LEAVE IT AT THAT? Kenapa harus diberikan tambahan (yang mana tidak diharapkan) berupa free reminder bahwa saya ini tidak cantik atau kurang ramping? Maunya apa sih? Ugly―or less pretty―people know best that they are not pretty, let alone beautiful, without you telling them every time you see one.


Jika menyangkut postingan mbak di blog ini, katanya "You would be perfect for someone who deserve you". Cuma kok ya agak gimana gitu, saya anehnya justru agak tidak terima kalau tiba-tiba ada yang menganggap saya ini sempurna, padahal banyak orang sepertinya kebelet 'merevisi' saya secara total layaknya skripsi draf pertama. Dan sampai sekarang, terus terang saya mengidap torn and mixed feelings menyangkut apa yang disebut sebagai inner beauty. Alias 'kecantikan terpendam', atau 'cantik dari dalam'. Kurang paham juga sebetulnya makna frase tersebut seperti apa. Selain itu, semakin lama, saya kian kerap bertemu mereka yang memiliki pendapat bahwa "Inner beauty itu bohong. Orang-orang yang bilang kalau inner beauty lebih penting pasti jelek aja. Udah gitu males merawat diri, nggak mau olahraga makanya badan luber ke mana-mana. Kalau inner beauty itu nyata, beauty pageant nggak akan pakai standar tinggi atau berat badan tertentu."

Ribet juga ya.
Udah jelek, masih bonus dikatain males. Hahaha.

Tapi melalui tulisan ini saya hanya ingin menyampaikan satu hal. Nggak usah melebar ke mana-mana, sesuai judul saja. Guys, kalian kalau ingin menyemangati atau memuji seseorang itu mbok yao tolong yang tulus. Nggak usah pasif-agresif. Nggak usah sok adil nan berimbang dengan merasa wajib menyertakan hal negatif ketika melontarkan kalimat penghiburan, kalian bukan lagi bikin resensi film atau buku.

  • "Kamu ini orangnya seru ya."
  • "Kamu tuh pendengar yang baik."
  • "Kamu enak diajak ngobrol, dari masalah Uttaran sampai konflik Timur Tengah."
  • "Kamu gampang bikin orang sayang, ya."

Udah. Cukup.
Nggak usah ditambahin yang aneh-aneh.
(Tulisan ini juga udah cukup, sebelum ketambahan yang aneh-aneh.)

z. d. imama

Saturday, 22 October 2016

Magic Knight Rayearth: a '90s series

Saturday, October 22, 2016 5

Setelah pindah kos-kosan sebagaimana yang terkisah di tulisan ini, saya, untuk pertama kalinya dalam sejarah menjadi gadis rantau, akhirnya mendapatkan akses internet yang layak. Patut disyukuri bahwa kos-kosan saya yang sekarang menyediakan fasilitas free wi-fi (dengan password luar biasa rumit sampai-sampai saya sudah nggak ingat lagi). Apalagi letaknya persis di atas kusen pintu kamar saya, sehingga sudah dapat dipastikan teritori kekuasaan pribadi saya kejatah sinyal kenceng banget.

Sebagai OKSWB (Orang Kebanjiran Sinyal Wi-fi Baru), tentunya saya tidak lupa membangkitkan kembali semangat juang #HambaTorrent yang dahulu pernah berkobar membara dalam jiwa... ketika masih menjadi exchange student di Jepang. Apa mau dikata, itu adalah satu-satunya masa di mana saya bisa memiliki akses internet dengan kecepatan dewa. Sedih, kan.

Beberapa minggu yang lalu terbersitlah pikiran iseng: ingin menonton film dan serial-serial lama yang pernah ditonton di televisi tapi saya masih terlalu kecil untuk bisa memproses ceritanya secara keseluruhan. Juga serial lama yang luar biasa tenar tapi saya nggak nonton, entah karena belum lahir atau nggak sampai di layar kaca Indonesia aja. Untuk serial Barat, yang belakangan ini saya tonton adalah Buffy the Vampire Slayer (Sarah Michelle Gellar pas masih abege lucu banget aduh mak saya ini hanyalah bongkahan upil kering), dan tentu saja F.R.I.E.N.D.S. Sejujurnya kepengin iseng coba nonton Baywatch juga tapi kok rating IMDB-nya nggak bagus, despite its huge popularity.

Nah, tentunya tidak afdol jika tidak mengulik produk-produk #BudayaTimur sekalian. Memang pada dasarnya saya tumbuh bersama dan dekat dengan komik-komik serta animasi Jepang seperti Rurouni Kenshin (Samurai X), Inu Yasha, Digimon, serta sekian banyak judul-judul lain. Meski sempat bingung, akhirnya kali ini pilihan diputuskan jatuh kepada salah satu karya masterpiece penulis manga favorit saya, CLAMP.

Magic Knight Rayearth

Magic Knight Rayearth (MKR) ini pernah ditayangkan di RCTI sekitar tahun 1996, lho. Di Jepang sendiri animasinya rilis tahun 1994, hanya selisih setahun dari manga-nya yang pertama kali terbit pada 1993. Saya tidak sempat nonton karena masih terlalu kecil, sih.. Komiknya juga pernah dirilis oleh Elex Media Komputindo, tapi tidak sempat saya beli karena lagi-lagi saya masih kelewat kecil sehingga belum paham barang bagus. Huhuhu. Satu-satunya sumber informasi awal yang saya punya tentang MKR adalah sebuah artikel majalah Bobo lawas yang dibelikan ibu untuk saya berlatih membaca. Di sana, dimuat review film animasi terbaru yang sedang disiarkan di televisi lokal. Semenjak saat itu saya senantiasa dihantui keinginan terpendam untuk bisa menonton serial anime ini... yang akhirnya baru terkabul di pertengahan akhir tahun 2016. Wow. Percayalah pada kekuatan impianmu, teman-teman.

Saya membaca materi originalnya (manga) sudah sejak lama, tapi baru seminggu belakangan ini akhirnya bisa menonton adaptasi anime-nya. Jalan cerita keduanya memang tidak 100% sama, tapi garis besarnya identik. Mengisahkan tentang petualangan tiga gadis remaja bernama Shidou Hikaru (yang berambut merah; lihat gambar di atas), Ryuuzaki Umi (yang berambut lurus panjang warna biru), dan Hououji Fuu dalam menyelamatkan Cephiro, sebuah 'dunia lain' yang berada di ambang kehancuran. Cephiro merupakan dunia yang eksistensinya disokong oleh seorang Pilar, yakni manusia terpilih yang dituntut harus selalu berdoa untuk perdamaian dan keseimbangan dunia, demi kebahagiaan semua warga Cephiro. Masalahnya adalah, Putri Emeraude, Pilar yang sekarang sedang menjabat, sedang diculik dan disekap oleh Zagato, mantan Pendeta Tertingginya sendiri. Maka Cephiro pun jadi gonjang-ganjing.

Supaya dapat menyelamatkan Cephiro, Hikaru, Umi, dan Fuu dituntut untuk menjadi Magic Knight yang legendaris dan membangkitkan tiga dewa yang bersemayam di beberapa tempat keramat dalam Cephiro. Masing-masing dewa ini memiliki kekuatan yang berbeda dengan berbasis pada elemen alam. Selece, yang berelemen air dan mengambil perwujudan naga, dibangkitkan oleh Umi. Kemudian Windam, dengan perwujudan burung raksasa bersayap empat dan berelemen angin, dibangkitkan oleh Fuu. Terakhir, dewa berelemen api berwujud entah serigala entah singa, Rayearth, berhasil dibangkitkan oleh Hikaru. Mirip kisah game RPG klasik.

Saya nggak nemu gambar lain yang meletakkan ketiga dewa dalam satu frame..
*menangis*

Menariknya, dewa-dewa ini ternyata mampu menjelma jadi robot-robot raksasa yang bisa 'ditunggangi' saat kondisi mendesak, atau ketika pertarungan tidak dapat diselesaikan dalam wujud manusia biasa. Buset. Saya sendiri tidak habis pikir sampai sekarang, kenapa tim CLAMP, penulis kisah MKR, bisa terpikirkan untuk memasukkan unsur-unsur sebanyak dan sekompleks ini ke dalam komik yang genre-nya 'hanya' shoujo manga. Bagi kalian yang awam, akan saya bantu jelaskan. 'Shoujo manga' itu secara mudahnya adalah 'komik cewek'. Ditujukan untuk anak-anak perempuan, maka ceritanya mayoritas sederhana dan manis-manis seperti membahas cinta pertama atau naksir-naksiran sama kakak kelas. Nggak banyak ribet di sana-sini, apalagi perang robot.

But of course, CLAMP never listens. Rule never applies to CLAMP. Heck, nobody can actually rule you when you manage to create a mecha design with this level of badass-ery:

Dari kiri ke kanan: Selece, Windam, Rayearth (robot form).
BOW TO THEM, PEASANTS.

Karena pada dasarnya MKR didesain sebagai komik cewek, tentu kurang greget jika tidak menghadirkan karakter-karakter cowok heartthrob yang memesona. But it isn't CLAMP if they do not exceed your expectation. Jika biasanya lelaki-lelaki kece dalam anime dan komik lain hadir dalam bentuk eceran (sebiji-dua biji, seringnya sih mereka nanti rebutan perhatian tokoh utama ceweknya), di MKR semua tokoh cowoknya ganteng-ganteng, keren, punya kepribadian kuat, dan reliable. Sulit untuk nggak naksir mereka. Cuma sayangnya kok ya dua dimensi. This is why my love life is such a tragedy. Sekalinya ada yang bisa bikin jatuh cinta eeeh... ternyata tokoh fiksi. #CurhatColongan

Namun dari sederet tokoh-tokoh lelaki yang luar biasa dalam MKR, tentu ada dong yang menjadi favorit. Bagi saya, itu adalah Lantis, seorang ksatria sekaligus ahli sihir papan atas Cephiro, dan secara kebetulan adalah adik dari Zagato. Tunggangannya merupakan seekor kuda hitam magis yang bisa dipanggil sewaktu-waktu. Cihuy abis. And this is how Lantis looks like:

That sharp jaw. Those piercing eyes. Good Lord.

Now you know why I'm swooning over this guy.

Dalam perkembangannya, kisah MKR ini banyak mengalami unexpected twists and turns yang menyenangkan tapi masih masuk akal dan sincere, tidak ada kesan dibuat-buat atau dipaksa. Dikemas dalam 49 episode serial animasi, masing-masing berdurasi 25 menit, pacing alur Magic Knight Rayearth ini enak untuk diikuti. Nggak terlalu ngebut kayak diuber-uber debt collector, tetapi juga nggak kebanyakan filler yang niatnya hanya demi manjang-manjangin cerita kayak Kapten Tsubasa yang satu tendangan bisa makan waktu satu episode penuh karena dikasih flashback dulu. Sementara itu versi komiknya justru lebih terasa ngebut secara alur dan gaya penceritaan, karena total hanya ada 6 volume buku.

Gambar/artwork versi animasi MKR pun cukup bagus, apalagi jika dibandingkan dengan kualitas gambar CLAMP di komiknya yang mewah menggelegar, rasanya tidak terlalu kedodoran dalam usahanya mengimbangi. Bagi saya pribadi, rating serial Magic Knight Rayearth ini 9/10 untuk versi animasi dan 8.5/10 untuk versi komik. Tinggi banget? Emang. Karena harus diakui, untuk sebuah kisah shoujo manga, MKR sebagus itu. Baik cerita, desain karakter, desain kostum dan senjata-senjata yang dimunculkan.. semuanya cakep! Bonus Lantis, pula.

Bagi kalian yang berminat membaca komik MKR, bisa cek di situs-situs scanlation seperti Mangafox dan sejenisnya (asalkan jangan lupa mengakali Internet Sehat kita yang tercinta). Recommended reading, if you ask me. Ingin nonton animasinya tapi bingung ingin download di mana? Tenang saja. Kalau domisili Jabodetabek dan bersedia ketemuan sama saya untuk membantu berpartisipasi dalam birthday project ini, bisa kok #SedotHore langsung dari external harddisk keramat milik saya. Hohoho.

*kabur sebelum digebukin massa*

z. d. imama

Monday, 10 October 2016

The Bra Dilemma

Monday, October 10, 2016 17

Sejauh ini, selama kurang lebih dua puluh tahun hidup di dunia, jenis kelamin saya masuk kategori perempuan. Belum bosen juga sih, jadi belum ada niatan menyeberang ke kategori sebelah. Meskipun terus terang rasa sakit dahsyat yang senantiasa menyerang setiap bulan secara rutin adalah faktor cukup signifikan bagi saya untuk mempertimbangkan opsi tersebut. Tapi apa daya angan-angan itu harus dipendam karena penghasilan cuma cukup buat bayar kosan, makan di warteg, dan jajan Chiki atau permen Sugus.

...Ini ngomongin apa coba.

Eniwei, sejak akil baligh di usia sembilan tahun (iya ini serius saya nggak bohong; dulu menstruasi perdana ketika masih anak ingusan kelas tiga SD dan itu sakitnya bukan main sampai mengira mau mati), isi lemari pakaian saya pun mengalami metamorfosis. Rak-rak yang semula hanya isi celana dalam dan kaos singlet mulai dihiasi sejumlah miniset. Atau menurut istilah teknisnya yang lebih baik dan benar: training bra. Bagi kalian umat manusia yang nggak tahu miniset bentuknya seperti apa, itu kan hampir selalu dipakai Awkarin ke mana-mana tampilannya mirip-mirip sports bra, yang banyak nongol di iklan-iklan clothing line macam Nike atau Adidas itu.

Biasanya, miniset ini ada gambar lucu-lucu seperti Hello Kitty atau ikon-ikon animasi sejenis karena memang target pasarnya adalah anak-anak SD yang kecepetan puber seperti saya rata-rata di usia 11-12 tahun sudah mulai menstruasi. Mungkin maksud dari gambar-gambar tersebut adalah suatu bentuk upaya mempermanis masa-masa awal pubertas yang terus terang lebih banyak paitnya daripada asiknya*.

Miniset di atas bukan punya saya, ya.

Memasuki SMP, ibu saya memutuskan untuk meng-upgrade isi lemari pakaian saya lagi. Miniset mulai dipensiunkan dan masuklah beberapa warga baru bernama bra alias BH; berasal dari kata buste hounder (bahasa Belanda) atau breast holder (bahasa Inggris). Oke, semenjak saat itu resmilah saya menjadi salah satu dari sekian banyak abege-abege yang tidak melewatkan ritual memakai beha dalam kegiatan berpakaian sehari-hari.

Sampai situ tidak ada yang istimewa.

Masalah muncul justru bertahun-tahun kemudian. Setelah saya lulus kuliah dan mulai bekerja. Ketika saya, di tanah perantauan, merasa kalau baju dalam yang tergeletak di lemari (entah sejak kapan) mulai perlu diganti karena sudah cukup sulit untuk dikenali wujud aslinya. Pada titik ini saya mendadak tersadar tentang suatu hal yang sifatnya terbilang krusial dan gawat: saya tidak mengetahui ukuran bra sendiri.

GAGAL PUBER, INDEED.

Bukan berarti saya semenjak SMP tidak pernah sekalipun memperbarui onderdil-onderdil di lemari baju, lho. Jadi ceritanya begini. Selama ini, berhubung ekonomi keluarga yang cenderung mati enggan hidup segan, ibu selalu membelikan saya pakaian dalam di pasar atau kios-kios sederhana yang letaknya di kampung halaman. Harganya tentu saja luar biasa murah meriah, apalagi kalau dibandingkan harga normal Jekardah. Lima belas atau dua puluh ribu rupiah saja sudah dapet. Saat sedang obral bisa lebih fantastis lagi... lima puluh ribu dapat empat, misalnya. Namun beha-beha yang dijual dengan nominal lebih rendah dari harga diri saya ini juga memiliki kelemahan akbar: mereka rata-rata hanya terklasifikasikan dalam tiga kategori.

  1. Beha untuk abege.
  2. Beha untuk mbak-mbak kantoran.
  3. Beha untuk emak-emak (mohon dibedakan dengan 'embak-embak').
Mari kita bahas satu per satu.

- Beha Abege

Tipikal beha yang ditujukan bagi abege adalah variasi warna dan motifnya yang wow SUNGGUH MENTERENG saudara-saudara! Mungkin maksudnya memang supaya terlihat cerah ceria ya, sebagaimana jiwa-jiwa abege pada umumnya yang rebel-rebel gimana gitu. Sayang sekali saya agak-agak nggak sreg dengan model demikian karena sejatinya jiwa saya cenderung emo motif ngejreng dan warna badai agak sulit disamarkan dengan kaos singlet ketika memakai seragam OSIS yang putih polos. Tapi apa daya, yang bisa saya pakai kala itu ya cuma golongan ini...


- Beha Mbak-Mbak dan Emak-Emak

Beha dalam dua kategori ini, sementara itu, lebih kalem dibandingkan yang satunya. Warna yang dominan adalah hitam, putih, atau cokelat muda warna kulit yang lebih tren dengan istilah nude colors. Memang ada sih segelintir yang warnanya agak terang seperti merah atau biru navy, namun rata-rata polos gitu aja. Corak dan motif hore yang nyaris selalu ada di beha para abege mulai digantikan eksistensinya oleh renda-renda ala kadarnya untuk mempermanis. Ehem. Mungkin karena mbak-mbak dan emak-emak mulai kerap pamer-pamer beha ke orang lain. Sesuai ekspektasi usia, beha mbak-mbak didesain lebih besar dibandingkan beha abege, dan beha emak-emak tentunya lebih muat banyak daripada beha mbak-mbak.

Sudah. Begitu saja. Penggolongan hanya ada di tiga kategori. Masa bodoh dengan lingkar tubuh lah, cup lah... Di kios langganan ibu saya, jika kira-kira ketemu yang muat ya itu yang dibeli. Sekalipun usia masih abege tapi kebetulan bemper depan agak berlebih, maka mau tidak mau yang diserang adalah rak-rak pakaian dalam untuk mbak-mbak. Pokoknya dikira-kira ajalah. Simple logic.

Maka ketika dihadapkan dengan pertanyaan, "Lingkar tubuh dan cup-nya berapa?" oleh mbak-mbak pramuniaga toko pakaian dalam (yang hakiki) di Jakarta, saya pun terbengong-bengong. Lalu tertawa malu-malu. Kemudian mundur teratur. Menyelinap di balik pengunjung-pengunjung lain sebelum akhirnya abort mission untuk sementara. YA GIMANA BISA JAWAB ORANG AING SELAMA INI NGGAK PERNAH NGERTI BERAPA UKURAN BAJU DALAM SENDIRI??

Ketidaktahuan ini menemui akhir kisahnya pada minggu lalu, setelah menghabiskan suatu pagi di depan layar komputer mengulik simbah Google dengan kalimat kunci "How to do your own bra measurement".

Kenapa juga nggak dari dulu-dulu nyari infonya...
Entahlah. Namanya juga gagal puber.

Bukan punya saya, ini dapet ngambil dari simbah Gugel.

But then, apparently, knowing your own size is not enough. At least it turned out that way for me. Kenapa? Sebab, entah bagaimana, produsen pakaian dalam seolah memiliki standar yang tidak kembar bahkan untuk ukuran serupa. Gampangnya, sama kayak beli sepatu lah. Merek Bubblegummers (it's so 90s, guys!) nomor 36, misalnya, ternyata sedikit lebih kedodoran jika dibandingkan dengan merek Pro ATT berukuran sama. Masalahnya, fitting sepatu mah gampang ya. Pakaian dalam kadang-kadang diharamkan untuk dicoba-coba oleh sejumlah toko (kecuali korset) karena barangkali agak geli juga membayangkan satu beha pernah menampung tetek sejuta umat secara bergiliran...

Ujung-ujungnya tetap ada faktor untung-untungan. Apakah dia akan pas badan, agak sempit, atau justru sedikit terasa longgar. Haduh, Gusti. Lagipula, kan ukuran dada kanan dan kiri itu cenderung nggak sama (boys, if you haven't known about this particular natural weirdness of human anatomy: TAKE NOTES!), saya hingga hari ini masih belum tercerahkan mengenai sisi mana yang sebaiknya dijadikan patokan dalam memilih pakaian dalam.

Mendingan yang sebelah agak kesempitan tapi yang satunya ngepas? Atau pilih yang satu sedikit bernapas lega karena longgar sementara sisi sebelah muat bersahaja? Oh, dear Lord.

z. d. imama

*Berdasarkan pengalaman** pribadi.
**Hasil bisa bervariasi, tergantung tingkat kegaulan individu.

Friday, 7 October 2016

On being Luna Lovegood-ish (and not Hermione)

Friday, October 07, 2016 10

EARLY WARNING: 
This is a long, long, rambling. So read it at your own risk.
___

Saya mulai membaca buku Harry Potter ketika kelas empat SD, berkat hadiah dari wali kelas. Ketika itu buku Harry Potter and the Order of the Phoenix baru saja diterbitkan oleh Gramedia. Saya menamatkannya dalam semalam, dan ketagihan. Ingin melengkapi seluruh serinya. Berhubung harga buku Harry Potter lumayan mahal untuk anak SD, saya pun menghabiskan seluruh angpau hadiah ranking pertama  yang saya terima dari om dan tante untuk memborong seluruh seri yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Iya, keluarga saya memang tidak mengenal istilah 'dibelikan orang tua' untuk masalah hobi. Jadi ya sejak kecil saya dibiasakan menyisihkan uang saku sendiri jika ada barang tertentu yang ingin saya miliki.

Saat masih kecil, saya beranggapan bahwa saya adalah Hermione Granger


Ini bukan masalah sok ngaku-ngaku atau gimana. I had my reasons. And of course, I didn't mean it literally. Boro-boro belajar ilmu sihir di Hogwarts, mentransfigurasi cangkir menjadi tikus sesuai instruksi Profesor McGonagall, realitanya saya belajar di sekolah dasar swasta Islam yang melarang siswa-siswinya membaca novel-novel Harry Potter karena dianggap menyesatkan umat. Oke. Tapi ya dasarnya saya punya bakat keras kepala, tetap saja nekat membaca (bahkan mengoleksi) dengan dalih klasik: "Bodo amat yee..."

Saya memang cuma seorang siswi SD normal yang satu-satunya pelajaran paling extraordinary adalah Life Skill, di mana murid-murid diajari sejumlah keterampilan hidup seperti bagaimana menyeterika baju, menjahit pakaian sobek atau kancing lepas, memasak beberapa menu sederhana, hingga membuat beberapa prakarya berguna seperti... kotak tisu atau sarung bantal. Namun meski begitu, orang-orang di sekeliling saya (baik saudara, tetangga, kawan-kawan orang tua, hingga para guru) selalu mengatakan bahwa saya adalah anak pandai, berbakat, dan berpotensi. And basically I was kind of close to being called "the brightest kid of her class", the same way Hogwarts professors called Hermione "the brightest witch of her age". So yeah. I started thinking of myself as a Muggle version of Hermione... lengkap dengan unsur kearifan lokal di sana-sini.


Saya bisa lancar membaca bahkan sebelum masuk Taman Kanak-Kanak (waktu itu kayaknya para orang tua belum seambisius sekarang, jadi playgroup dan PAUD belum heboh dan isinya paling main-main doang). Ayah dan ibu bahkan sempat disarankan kepala Taman Kanak-Kanak agar langsung mendaftarkan saya masuk SD saja. Esai-esai serta tugas-tugas mengarang saya selalu mendapatkan nilai tertinggi di sekolah, catatan pelajaran saya paling lengkap dan jadi langganan difotokopi khalayak umat satu kelas, dan guru kerap menunjuk saya untuk mengikuti lomba pidato, membuat cerpen, sinopsis, hingga resensi buku. Banyak orang mengatakan bahwa saya punya banyak potensi. Semasa kecil, saya tidak terlalu paham apa makna 'potensi', tapi kata itu terdengar bagus dan menyenangkan saat ditujukan pada saya.

Sama seperti Hermione, rambut saya ikal, berantakan, dan jelek―ini masih bertahan sampai sekarang. Buku adalah teman saya sebagaimana bola adalah temannya Ozora Tsubasa. Novel Harry Potter tidak pernah mendeskripsikan Hermione sebagai siswa yang cantik (meskipun kita semua tahu kalau Emma Watson cakep minta ampun), sehingga saya yang plain-looking at best ini juga tidak merasa kepedean karena telah mengidentifikasikan diri sendiri sebagai Hermione.


My value as a person came from my good grades. I was worth something because I was smart. Hey, I was a straight As student. My family financial condition did not allow me to find something else to excel at, so I excelled at school. No one told me that I had to get straight As for nearly every subject, but nevertheless I came up with that on my own. Or else, I would feel as if I had nothing to be defined as my 'strongest trait'.

Tapi kemudian saya menyadari sesuatu.

Memasuki masa remaja, posisi akademis saya tidak lagi di puncak. Being a member of an advanced class at school came together with its tough competition. Bukan berarti semua orang berlomba-lomba menjadi yang terbaik (meski harus diakui ada sejumlah rekan sekelas yang sangat obsesif dengan peringkat tertinggi), namun saya makin disadarkan bahwa sekeliling saya adalah anak-anak yang sama pintarnya. They have their own strongest point, and their ability was seen by my school as something more special than mine. While I crafted my own stories or essays, wrote for school paper, and conducted the student magazine, my other classmates were called forward in weekly ceremony on Monday for winning a national science competitionIt came to my realization that I was not that specialBeing in the middle of the herd, was painful to admit at first. A gifted child growing up into a so-so teenager. Probably would end up as a mediocre adult. And hey, who are her friends again? Does she even have a circle or anything?

Saya, yang tidak menikmati nongkrong di kantin, mulai dilabeli "anak aneh" oleh sejumlah orang di lingkaran pergaulan. Teman-teman sekelas. Saya, yang menggemari hal-hal yang cenderung kurang dinikmati di kalangan kawan-kawan, berangsur kehilangan tempat di tengah-tengah mereka. Bahkan pernah, anak cowok yang saya taksir semasa abege nggak bersedia bicara langsung kepada saya karena katanya ilfil berat. Hahaha. I then realized that I was that "straight A student who fails to get along with her peers". I had no BFFs. I had no 'squad' like Taylor Swift. I had no particular person who spends much time by my side, like Harry or Ron, for whatever reason.

I was never Hermione Granger.

I was a kinda Luna Lovegood.

(For lack of a better comparison.)


Well, characteristically I might not as distinctive as her, but Luna was sorted into Ravenclaw by The Sorting Hat, and my entrance examination result put me into a class full with bright students. We are kind of an 'outcast' in our own peers. Sure both me and Luna had friends, but none of them were close enough; none of them could meet me on daily basis. I had good friends, but mostly, people would find me doing something alone.

It sounds pretty suck and lonely, I know.


But when I started thinking of myself like I think of Luna Lovegood, everything got better. Luna is just... being Luna. She embraces herself. She is smart; at least clever enough for Sorting Hat to put her into Ravenclaw. She has her own good points and she doesn't even need validation from someone else. Mungkin dia memang agak dihindari oleh teman-temannya, tapi Luna tidak pernah menyingkirkan atau menolak siapa pun yang menghampirinya. She is kind to everyone who's willing to get close to her.

Perhaps I can do that. I can try to just be myself. Mungkin saya bisa berusaha menerima diri sendiri apa adanya―which is suuuper hard and I think I'm still failing. Berusaha hidup tanpa terlalu peduli-peduli amat terhadap validasi dari lingkungan sekitar. Barangkali saya bisa melatih diri untuk selalu bersikap dan berbuat baik; minimal tidak menyusahkan orang lain. Rambut saya mungkin kusut dan jelek dan berantakan, selera berpakaian saya mungkin mengerikan, hal-hal yang saya sukai mungkin dianggap aneh atau kekanakan bagi sebagian orang. But I can always try to live my life genuinely.

Maybe Luna Lovegood is not that bad.

(And she didn't have to experience a torture from Bellatrix Lestrange.)

z. d. imama

Thursday, 29 September 2016

Book-selling for a Train Ticket

Thursday, September 29, 2016 4

See those two babies up there?
I'm selling them.

Selamat menjelang weekend semuanya. Sesuai dengan judul blog post, saya berniat menjual dua buah buku fiksi kesayangan saya ini. "World War Z" karya Max Brooks dan "Metro 2033" dari Dmitri Glukhovsky. Agak berat rasanya melepas mereka dan melihat sosoknya hilang dari lemari, tapi karena saya ingin mencari downline berbagi bacaan bagus (sekaligus butuh uang), maka saya putuskan untuk menjual mereka. Mencarikan lemari lain yang akan menjadi tempat tinggal baru mereka.

Berhubung keduanya buku impor, isinya berbahasa Inggris ya. Jangan sampai salah duga terus kecewa karena merasa saya bohongi. Janganlah ada yang bersikap seperti pas saya akhirnya nonton film restorasi Tiga Dara di bioskop, di sepertiga awal film entah siapa menyeletuk kenceng, "Apaan kok nggak ada Tara Basro??" *siram kepala oknum tersebut pakai air soda*

Why do I want to sell them, you ask?

SEBAB. SAYA. INGIN. PULANG. KAMPUNG. Saya sudah lama nggak balik ke kampung halaman dan kepengin pulang. Tapi masalahnya tiket kereta jarak jauh relatif mahal. Apalagi kalau ambil tiket yang dibatalkan calon penumpang lain karena harus bayar administrasi penggantian nama, sehingga saya butuh dana tambahan. *termenung menatap slip gaji yang semenjana (meski di saat yang sama tetap bersyukur masih dapat pekerjaan)* 

1) World War Z - Max Brooks

Buku pertama yang ingin saya lepas adalah ini. And this, people, is a damn good book. Saya hampir hipertensi mendadak setelah nonton adaptasi film World War Z-nya Brad Pitt gara-gara kualitasnya jomplang banget dengan materi orisinil dari novelnya. Supaya lebih afdol, saya sertakan foto tampak kaver belakang (yang kaver depan kan sudah di atas sono).


World War Z dari Max Brooks ini akan saya lepas seharga Rp130.000 (seratus tiga puluh ribu rupiah). Kondisi bukunya masih SUPER MULUS LUS LUS bak kulit bintang iklan Nivea hampir seperti baru. Jika dipersentasekan mungkin 95-99%. Iya, saya sepede itu. I'm pretty good at taking care of my books and it's one of my personal quality I can really be proud of.

Sebagai perbandingan, harga buku ini di Periplus adalah Rp200.000 dan bisa dicek di sini. Sementara kalau di Books and Beyond, harganya sedikit lebih mahal dari Periplus yakni Rp215.000. Kalau nggak yakin sama cuap-cuap saya silakan dilihat sendiri di laman ini. Lebih murah beberapa puluh ribu kan lumayan, bisa buat jajan dan nongkrong-nongkrong kece.

Lanjut ke buku berikutnya.

2) Metro 2033 - Dmitri Glukhovsky

Buku ini tergolong apa ya... sci-fi? Atau ada unsur dystopian? Atau malah keduanya? Yah, saya memang kurang jago dalam memetak-petakkan buku, tapi buku ini seru banget. Saya hingga lulus kuliah cuma kenal karya novelis-novelis Rusia klasik macam Leo Tolstoy, Fyodor Dostoevsky, atau Nikolai Gogol, tapi kemudian saya putuskan untuk mencoba memperluas ranah saya ke novel Rusia kontemporer lewat Metro 2033 ini dan... langsung menyesal kenapa nggak baca dari dulu-dulu! Berikut foto kaver belakangnya:


Buku ini dijual di Periplus seharga Rp369.000 (bisa dikonfirmasi di sini), sementara Books and Beyond pasang harga Rp342.000 dan dapat dicek langsung lewat sini. Lumayan mahal ya? Wajar sih. Metro 2033 ini cukup banyak halamannya, nyaris dua kali lipat tebal buku World War Z. Berhubung buku saya ada defect alias cacat yang agak signifikan, yakni kaver belakang sedikit terlipat ujungnya (sebagaimana terlihat di foto atas), saya akan jual Metro 2033 ini Rp180.000 (seratus delapan puluh ribu rupiah) saja. Kurang lebih 50% lebih murah dari harga baru, lho! Persentase kondisi buku, setelah mempertimbangkan cacat kaver, yaa... 85% lah.

Bagi kalian yang berminat membeli (atau mau tawar-menawar harga selama nggak banyak-banyak), bisa kontak e-mail saya di coldbutterbeer@gmail.com atau via LINE di chocolatefudgecake. Tolong bantu sebarkan juga ke kenalan, sahabat, gebetan, mantan, mantan gebetan, selingkuhan, atau tetangga kalian yang gemar baca buku fiksi berbahasa Inggris supaya saya mampu beli tiket kereta untuk pulang kampung.

Saya kangen Emak, teman-teman.
Tolong bantu saya biar bisa pulang.

Sekian dan terima kasih.

_________

[ UPDATE ]
2016/09/30: I hereby declare that this is now a CLOSED OFFER.
Whoa. Whew. Saya... terharu. Respon yang saya terima jauh, jauh, lebih baik dari yang terbayang di benak ketika membuat postingan ini. Terima kasih banyak kepada Koh Jet, Kak Macan Wigit, Mbak Elmira, Mbak Adis, Kori, dan Adit yang sudah berkontribusi menyebarkan informasi. *hugging virtually*

z. d. imama

Tuesday, 27 September 2016

Fisip Meraung: Aset Kota Solo?

Tuesday, September 27, 2016 7
Gondhilku kecanthol lawang! Suwek! Suwek! Suweeeeeeekk!! Rakuat nggo tuku gondhil, tuku gondhil... Nggo tuku gondhil...

Segelintir baris di atas adalah lirik dari salah satu lagu Fisip Meraung yang berjudul "Gondhil", dari album "Bis Tingkat". Bagi kalian yang tidak familiar dengan istilah 'gondhil', saya akan berbaik hati membantu menjelaskan. 'Gondhil' itu adalah sebutan untuk kaos kutang, atau bahasa kerennya tank top, atau model baju atasan yang potongannya longgar dan menyebabkan ketiak kita bisa merdeka dalam tempo jang sesingkat-singkatnja. Alhasil karena longgar, maka tidak jarang lubang lengan yang ngglembreh dan kewer-kewer itu berpotensi nyangkut di pegangan pintu (saya sendiri pernah mengalami tank top sobek karena lubang lengannya tersangkut, jadi saya paham betul level realita lirik lagu di atas).

Apa dan siapa sih, Fisip Meraung ini?

Kalau ditanya seperti itu, jawaban saya secara umum agak-agak template-ish. "Band indie asal kota Solo, yang namanya diambil dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNS". Udah. Gitu aja. Tapi bagi diri saya pribadi, tidak pernah sekalipun saya menganggap Fisip Meraung sebagai band indie pada umumnya, melainkan lebih ke arah "band koplak hasil proyekan salah satu teman sekelas saat SMA", yang lagu-lagu ajaibnya sering saya dengarkan setiap kali saya sedang suntuk, butuh hiburan, atau sekadar ingin melupakan nestapa hidup.

Ini foto Fisip Meraung saat tampil di halaman mal yang letaknya di seberang rumah saya di kampung halaman. (Iya, saya kalau pulang kampung, mau belanja atau main ke mal tinggal gulung-gulung nyeberang jalan. Luar biasa, kan.)


Tadi saya kan bilang kalau bagi saya Fisip Meraung adalah band proyekan salah satu teman sekelas saat SMA. Nah, orang itu adalah yang berkemeja kotak-kotak di tengah (lihat foto atas). Namanya Megananda, lebih akrab dipanggil Amek. Saya sekelas dengan Amek saat masih kelas dua SMA, dan percayalah, waktu itu sudah terlihat tanda-tanda bahwa segala ide yang terceplos darinya niscaya bernuansa keajaiban dan keabsurdan. Di Fisip Meraung, selain memainkan bas, Amek juga yang biasa dapet tugas menyanyi. Jadi ya, suara vokal ala kadarnya yang kalian dengar pada lagu-lagu Fisip Meraung itu milik Amek.

Selain Amek, ada Taufik Cahya Sudirman atau Topik, di posisi gitar (dan vokal bagian sahut-menyahut). Di belakang drum ada Radius Bonifasio, yakni satu-satunya personil yang saya paling nggak kenal. Nama 'Fisip Meraung' pun asal-usulnya sederhana: karena mereka bertiga pada saat band ini terbentuk adalah mahasiswa FISIP UNS. Dampak dari males mikir nama band yang miyayeni (layak) ini pun salah satunya menyebabkan mereka sampai dipanggil pihak kampus karena disangka UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) resmi. Walah.

Bicara mengenai Fisip Meraung, kekuatan dan keajaiban utama mereka adalah lagu-lagunya. Liriknya menggunakan bahasa Jawa ngoko dan durasi tiap lagu rata-rata adalah satu sampai dua menit! Contoh lagu terkilat dari Fisip Meraung yang pernah saya dengar adalah "Nggugah Sahur" (Membangunkan Sahur), yang durasinya―kalau tidak salah ingat―hanya SEKIAN PULUH DETIK. Itu sih, cuma ditinggal menguap juga udah bubar duluan lagunya.


Foto barusan adalah kaver album religi mereka.
Sudah kepengin facepalm lalu membalikkan meja, belum?

Dua lagu milik Fisip Meraung yang dibuat di masa-masa awal, "Gedang Goreng" (Pisang Goreng) dan "Ngentasi Memean" (Mengangkat Jemuran), bahkan dibuatkan 'video klip' semenjana dan diunggah di YouTube. Silakan coba lihat sendiri dua buah video yang saya sertakan di bawah supaya kalian mampu memahami betapa jelata dan rakjat ketjilnya konsep Fisip Meraung.

1) Fisip Meraung - Ngentasi Memean


Sekadar trivia, gerombolan anak-anak cowok yang makan di warung pakai mangkok ayam (entah isinya bakso entah mi ) adalah teman-teman sekelas saya. Di antaranya yang terdekat dari kamera dan mengenakan helm adalah Rizal Nugraha (yang kemudian kuliah di ITB), di sebelahnya ada Ivan Dhimas, dan yang pakai hoodie abu-abu namanya Yesa. Nggak tahu deh waktu itu mereka dibujuk pakai apa kok mau-maunya membantu Amek bikin video klip beginian. Hahaha. Oh, dan baju putih yang dikenakan Amek di awal video? That's 'gondhil'.

2) Fisip Meraung - Gedang Goreng


"Gedang Goreng" bisa dikatakan sebagai lagu sulung Fisip Meraung. Sesepuh. Pionir. Angkatan awal. Apapun sebutannya. Judul lagu ini juga mencikalbakali nama fan club Fisip Meraung yang dinamakan Gedang Rockers. Embel-embel 'rockers' di belakang mungkin dikarenakan nuansa rock yang mendominasi sebagian besar lagu-lagu Fisip Meraung, walau setiap kali ditanya masalah genre, jawaban mereka pasti konsisten: humourcore. Alias musik guyon.

Saya mengenal Fisip Meraung semenjak eksistensinya masih berupa proyek sampingan yang santai dan cenderung main-main yang merekrut gerombolan teman-teman saya untuk meramaikan 'video klip' sederhana bikinan sendiri. Hingga kini, ketika mereka telah berkali-kali manggung ke berbagai tempat, bahkan diundang menjadi band pembuka Tulus dan Payung Teduh, dengan Facebook Page mereka sudah mendapat lebih dari tujuh ribu likes  dan dimuat dalam berbagai artikel koran-koran lokal. Di mata saya, Fisip Meraung tetap sama.




Reaksi saya ketika mendengarkan lagu-lagu Fisip Meraung masih tidak berubah. Tertawa geli bercampur kesal, merasa heran, bisa-bisanya mereka terpikirkan untuk membuat lagu dengan lirik se-ndeso dan senyata ini??? Selain lirik "Gondhil" di awal tadi, mari kita tengok lagu "Kecopetan" yang ada di album "Spesial Sambat":

Aku bar kecopetan, tapi aku rapopo
Mergone dompete kui ora ono isine

Baru saja kena musibah kecopetan, tapi kita bisa dikatakan baik-baik aja karena memang sebetulnya dompet yang dicopet itu nggak ada isinya. Man, it's just freaking TOO REAL.

Bagi kalian yang berminat menyimak lagu-lagu Fisip Meraung, bisa main ke laman Tumblr mereka di sini karena kadang mereka suka drop link untuk free download. Ngakunya band udah kaya, jadi nggak butuh-butuh jualan amat. Lagipula, menurut klaim mereka, Fisip Meraung adalah aset Kota Solo layaknya kimcil racing dan Serabi Notosuman, sehingga barangkali nggak bagus juga kalau terlalu mata duitan... #Sotoy

z. d. imama

Monday, 19 September 2016

1/3 of My Friends are Getting Married

Monday, September 19, 2016 14

Belakangan ini saya mulai melihat feed laman profil Facebook dihiasi foto-foto pernikahan teman-teman. Sekadar memperjelas, "1/3 of my friends" di sini tidak sebatas pada mereka yang angkatan sekolah atau kuliahnya sama seperti saya, tapi bisa juga kakak kelas yang beberapa tahun lebih senior, atau bahkan adik-adik angkatan. Intinya, mereka adalah orang-orang yang saya kenal dan mengenal saya (masalah ingat kalau kenal atau nggak, itu urusan lain).

Dari situ saya mengamati, ternyata perilaku manusia saat mengunggah foto-foto pernikahan cenderung mirip dengan ketika mereka mengunggah foto-foto wisuda atau kelulusan. Satu album bisa dipenuhi puluhan hingga ratusan gambar, namun ketika kita buka satu per satu ternyata gitu-gitu aja tipe fotonya. Sebagian besar orang yang difoto sama, pose sama, background pun sama. Klik tombol "next" berkali-kali pun serasa tidak ganti-ganti halaman sampai mengira Facebook lagi error... eh ternyata memang foto yang diunggah identik semua. Yah barangkali sedang euforia, maklumi sajalah.


Biasanya, album foto-foto pernikahan akan dengan sukses mengundang segudang reaksi dari teman-teman saya yang lain. Baik itu berupa likes atau komentar. Lazimnya pula, komentar-komentar yang tertulis di bawah postingan tidak akan absen dari seputar:

  • Mengucapkan selamat kepada mempelai. "Waaah selamat yaa.. udah nikah nih, ciyeeee."
  • Mendoakan mempelai dengan template standar berbau agamis. Seringnya sih antara "Tuhan memberkati" dengan segala variasinya ("GBU/God bless") dan "Semoga pernikahannya sakinah mawaddah warrahmah... berbakti pada suami ya, amiiin." (Kalau versi yang lebih kekinian, atau mungkin males ngetik aja, bagian "sakinah mawaddah warrahmah" akan disingkat menjadi "samawa").
  • Mengomentari sang mempelai. "Aduh cantik banget", "Waaah gantengnyaaa..", "Baju sama dandanannya baguuus..".
  • Ungkapan rasa kecewa. "Lhoo kok aku nggak diundang???"
  • Numpang curhat. "Aaaah jadi kepengin nyusul nikah juga, nih!"
  • Lempar umpan ke pasangannya, seolah mereka itu ikan di empang pemancingan. "Eh ini konsep nikahannya bagus juga yak, *tag akun pasangan*"
  • Nge-tag teman dan kenalannya yang masih belum punya pacar sambil pura-pura peduli (padahal aslinya apaan). "Woy giliran elo kapan? *tag akun teman*"



Di luar itu, biasanya bergantung dari kreativitas masing-masing aja. Tapi ya, you know what I mean, mayoritas ya akan terlihat seperti layaknya contoh nyata yang diambil langsung dari Facebook di atas. (Well, at least I attempted to censor their names. Jangan tuntut saya, plis.)

"Elo ngapain, sih? Sirik amat lihat orang bahagia!" 

Lho, jangan salah. Saya pun tadinya sempat berpikir demikian. Menanyakan, "Apa jangan-jangan gue iri ya?" kepada diri sendiri saking enggannya meladeni pertanyaan basa-busuk "Kapan nyusul nikah?" atau "Calonnya mana?" dan sejenisnya ketika berkumpul dengan sanak saudara atau kawan lama di resepsi pernikahan. Ujung-ujungnya, saya memilih nggak muncul dalam acara-acara seperti itu dan bahkan tidak meninggalkan likes atau komentar untuk foto-foto yang diunggah. Diem aja lah kayak orang-orangan sawah.

Setelah bersemedi di bawah arus air terjun shower, saya pun menyadari bahwa ternyata saya memang merasa iri! Iri gara-gara kepengin nikah juga? Oh, sayangnya bukan.


There. I said it.


Saya yang sekarang mungkin justru lari terbirit-birit kalau diajak nikah (meski sesungguhnya juga nggak ada yang ngajak). Saya belum siap. Belum siap berepot-repot ria menahan diri nggak ngupil biarpun hidung gatel pas ketemu calon mertua supaya direstui. Belum siap menghadapi drama-drama yang terjadi di kala mempersiapkan acara (yang nikah maunya apa, nyokap sendiri maunya apa, ibu mertua maunya apa, tantenya pasangan maunya apa...). Belum siap menerima protes, perlawanan, bahkan gunjingan sanak saudara kalau gaya pernikahan yang saya mau tidak sesuai dengan standar mereka. Kalau mau diteruskan, alasan ketidaksiapan saya bisa lebih panjang lagi.

Tapi di sisi lain, saya juga kepengin.

Kepengin pakai baju bagus ala-ala wedding dress yang roknya panjang melambai-lambai dan nggak ada seorang pun berpikir kalau saya overdressed. Kepengin ada orang lain yang mendandani saya, biar sesekali ini tampang bisa kelihatan cakep... nggak terus-menerus terlihat seperti keset Welcome yang sabutnya sudah amburadul.



Atau, boleh juga yang seperti ini:


Jadi ya, saya memang iri.

Tapi perasaan itu hanya sebatas hasrat tak kesampaian saya untuk bisa kelihatan cakep di dalam foto, yang mana shutter-nya dipencet oleh pihak yang memang memiliki standar estetika fotografi. Bukan sekadar ibu-ibu numpang lewat yang hasil bidikannya blur semua lantaran terburu-buru hendak melanjutan agenda belanja yang saya interupsi. Kepengin merayakan sesuatu bersama orang-orang yang saya anggap teman, yang mana sepertinya angan-angan ini agak intensify karena seumur-umur nggak pernah dapet birthday surprise ataupun mengadakan sweet seventeen-an. Maafkan impian babu yang terlalu sederhana ini, tapi memang begitulah adanya.

"Yakin nggak ngebet nikah? Nanti keburu nggak laku kalau milih-milih." - Masyarakat.

Terus terang saja saya merasa bukan tipe orang yang terkesan dengan konsep "mari menikah supaya berbahagia". I've seen enough failed marriage which brings nothing but despair. Sehingga saya berpendapat bahwa pernikahan itu adalah berbagi, baik kebahagiaan, kesulitan, atau kesedihan. Bukan sumber kebahagiaan. Bagi saya, seorang manusia harus mampu merasakan bahagia bahkan ketika dia sendirian. Jika menikah supaya bahagia tapi ternyata realita nggak seindah fantasi, ujung-ujungnya mungkin akan menyalahkan pasangan, seolah-olah menjadi bahagia atau tidak itu bukan tanggung jawab diri sendiri.

Lagipula saya nggak terburu-buru. Baru lulus kuliah ini. Baru mulai jadi roda gigi korporasi. Punya life goals macam "paling telat umur segini harus nikah" saja enggak. Selama ada orang yang bisa saya jadikan tempat 'pulang', di mana saya nggak perlu cemas menjadi diri sendiri sejelek apa pun, saya nggak terlalu ambil pusing soal pernikahan. Mengenai julukan 'nggak laku' yang mungkin akan dihembuskan saudara atau tetangga... maaf ya, Bapak, Ibu, tapi saya sih sudah biasa. Toh single serving melulu kayak pisang Sunpride di Indomaret. Jadi mohon siap-siap mental aja kalau misalnya kelak direcokin kanan-kiri.

Huhuhu.

Saya mau cari duit sajalah. Sampai saya punya kemampuan berak emas seperti dalam dongeng The Goose Who Laid Golden Eggs, saya mau kerja saja layaknya sekrup-sekrup kapitalisme pada umumnya. Supaya kelak bisa pakai baju bagus, sepatu kece, difotoin cakep, tanpa harus nunggu acara-acara semacam resepsi pernikahan.

Udah gitu aja.

z. d. imama