Sunday, 25 August 2019

Attending "The Junctions of Fiction": Yuki Kajiura Live Vol. #15 in Hong Kong

Sunday, August 25, 2019 0

Sosok dan nama Kajiura Yuki saya kenal saat masih duduk di bangku pendidikan Sekolah Dasar. Itu pun baru sekadar tahu. Terima kasih sebesar-besarnya saya haturkan kepada serial anime Gundam SEED yang dengan ending song terbaiknya, あんなに一緒だったのに (Anna ni Issho datta no ni―Although we were always together), membuat saya menyadari eksistensi grup duo See-Saw. Ishikawa Chiaki mengisi vokal, sementara sosok di belakang keyboard yang bertanggung jawab dalam aransemen dan segala tetek-bengek penulisan lagu adalah Kajiura Yuki. Memang secara konsep, See-Saw ini persis Ratu tapi versi wibu. Gimana ya. Cewek berdua. Satu orang vokalis, satunya lagi keyboardist merangkap panitia umum. Kurang mirip apa. Sekarang grupnya sama-sama udah bubar pula.

Semenjak hari bersejarah yang terjadi kurang lebih sepuluh tahun silam itu, saya berusaha mengikuti karya-karya Kajiura Yuki. TERNYATA BUANYAK BET. Diskografinya tidak sedikit berupa musik serta lagu-lagu untuk serial anime, drama, bahkan gim. Musik yang lahir dari tangan Kajiura Yuki terbilang... kompleks. Rincian genre yang tertera di laman Wikipedia ada seabrek: baroque pop, contemporary classical, world music, electronic, folk, orchestral, new-age, ambient, electronica, dark ambient, progressive rock, progressive metal, operatic pop... dan masih banyak kategori lain yang saya sama sekali nggak ngerti apa deskripsinya dan bagaimana teori definisinya. Saya cuma tahu bahwa semua musiknya, yang mana pun penggolongan mereka, terdengar sangat indah dan megah di telinga.

Masih ingat Kalafina? Grup vokal trio yang beberapa kali saya singgung namanya dalam blog dan baru pecah kongsi awal tahun 2018 silam saya bela-belain beli tiket VIP pas datang ke AFAID 2013 lalu, juga diproduseri Kajiura Yuki. Masa-masa saya berandai-andai halu, berharap bisa datang menyaksikan langsung konser yang kerap dinamai "Fiction Junction"―pseudonym Kajiura Yuki saat berkarir solo―pun berlangsung sekitar satu dekade lamanya. Hingga hari Minggu bersejarah tanggal 4 Agustus 2019 silam terjadi, di mana saya berada dalam Asia-World Expo, Runway 11, Hong Kong, menatap sosok komposer kesayangan menggeber lagu demi lagu bersama tim band serta vokalis-vokalisnya dalam konser bertajuk "Yuki Kajiura Live Vol. #15 ~The Junctions of Fiction~" dengan muka beler lantaran tidak berhenti menangis.

LOOK WHAT YOU MADE ME DO, KAJIURA YUKI.
*In Taylor Swift's voice*

Jajaran vokalis dari kiri ke kanan: Joelle, Kaida Yuriko, Keiko, dan Kaori.

Playback Historia: opening theme mengalun dari speaker sewaktu saya menapakkan langka perdana ke dalam ruangan konser, mengikuti arahan staf penyelenggara. Pada detik yang sama, kenyataan yang semua masih terasa ngambang di awang-awang, menghantam benak saya. Menyadarkan diri di mana lokasi saya berada. Apa yang hendak saya lakukan. Apa yang bakal saya alami tidak lama lagi. Ujung-ujung jari tangan dan kaki saya terasa sedingin es. One of my ultimate, seemingly distant and unreachable wish that has been dormant for a decade or so, is about to come true. I'm here. I'm living the ten years old dream. What the hell.

Jam di layar ponsel menunjukkan 17:15. Lampu ruangan dipadamkan. Penonton bersorak riuh dan bertepuk tangan. Bulu kuduk saya meremang. Overture mengalun. Panggung masih remang-remang cenderung gelap ketika siluet Keiko muncul tepat di tengah-tengah berbarengan dengan dimainkannya The main theme of 'Kimetsu no Yaiba', lagu tema serial animasi yang masih tayang di televisi Jepang saat postingan ini saya unggah. Barangkali hal ini akan sulit dipahami orang-orang yang sejak awal bukan merupakan penggemar, namun partisipasi Keiko pada tur Yuki Kajiura Live Vol. #15 punya arti luar biasa besar setelah bubarnya Kalafina. Apalagi dengan setlist yang menempatkan dia sebagai vokalis utama di lagu perdana. This appearance, my friend, marked Kubota Keiko's comeback to the scene. Her return to Kajiura's troop. Emerged from the dark, silhouette first and then came into the light, standing right in the middle of high stage while beautifully doing melismatic singing. It was an outstanding moment. Incredibly moving, even soul-stirring―at least to me. Then Joelle, Yuriko, and Kaori joined on stage to perform the chorus together before medleying the song with to destroy the evil.


One of the best shivers in my life, to date.


Membekali diri dengan segepok tisu adalah keputusan bijaksana. Wajah saya sudah klomoh total di lagu berikutnya, Old-fashioned fairy tale. Lagu-lagu yang dilantunkan Kajiura Yuki dan keempat vokalisnya malam itu terbilang komplit. Terbagi dalam segmen-segmen terstruktur. Tiap segmen punya jatah masing-masing, mulai dari soundtrack yang liriknya didominasi Kajiurago―bahasa artifisial buatan Kajiura Yuki pribadi yang tidak punya aturan khusus dan sekadar terdiri dari silabel-silabel nirmakna―hingga lagu-lagu berbahasa Inggris seperti maupun Jepang.


Sesi MC secara umum dilakukan dalam bahasa Jepang, dengan selingan sekelumit bahasa Inggris dan Mandarin. Kajiura Yuki memperkenalkan satu per satu anggota band dan para vokalisnya, menjelaskan konsep Kajiurago supaya para noobs nggak bingung, serta ngobrol-ngobrol ringan yang tidak jarang memancing tawa penonton. Sepanjang konser ada sekitar enam sesi MC. Lumayan ngasih saya keleluasaan untuk bernapas lega, nggak mewek terus-terusan. Ya Allah, saya sayang bangettt sama budhe satu ini.

Setlist lengkap Yuki Kajiura Live Vol. #15 ~The Junctions of Fiction~ 2019 in Hong Kong:

  • M1. The main theme of 'Kimetsu no Yaiba' + to destroy the evil (special arrangement, from 'Kimetsu no Yaiba')
  • M2. Old-fashioned fairytale (from 'Kubikiri Cycle Aoiro Savant to Zaregotozukai')
  • M3. Fake wings (from '.hack//SIGN')
  • M4. I swear
  • M5. Forest (from 'El Cazador de la Bruja')
  • M6. Sweet Song (from 'Xenosaga II')
  • M7. Petals and butterfly (from 'Fate/Stay Night: Heaven's Feel part II [lost butterfly]')
  • M8. he comes back again and again (from 'Fate/Stay Night: Heaven's Feel part II [lost butterfly]')
  • M9.  absolute configuration (from 'Puella Magi Madoka Magica: Hangyaku no Monogatari')
  • M10. 星屑 (Hoshikuzu)
  • M11. 風の街へ (Kaze no Machi e) (from 'Tsubasa: Reservoir Chronicle')
  • M12. Elemental
  • M13. Storytelling
  • M14. Moonlight Melody (from 'Princess Principal')
  • M15. L.O.R.D main theme (from 'L.O.R.D: Legend of Ravaging Dynasties')
  • M16. Fiction
  • M17. vanity
  • M18. in the land of twilight, under the moon (from '.hack//SIGN')
  • M19. Luminous Sword (from 'Sword Art Online')
  • M20. she has to overcome her fear (from 'Sword Art Online')
  • M21. maybe tomorrow (from 'Xenosaga III')
  • Encore: M22. The world (from '.hack//SIGN')
  • Encore: M23. stone cold (from 'Sacred Seven')
  • Encore: M24. Zodiacal Sign (from 'Aquarian Age')

Saya nggak sanggup berkata apa-apa lagi. I feel like words are inadequate to express what I feel. What I witnessed that lovely evening. Attending this live show means huge to me. Makin baper karena penyelenggaraan konser hari itu berdekatan dengan ulang tahun Kajiura Yuki, sehingga pada sesi menjelang encore, penonton bersama-sama menyanyikan Happy Birthday to You (ini tuh judul lagu sebenernya apaan deh?) secara terus-menerus hingga mereka semua naik panggung kembali. I love this warmth of a fandom.

Berangkat masih bisa selfie, pulang-pulang sudah ambyar berserakan nggak karuan dan cuma sanggup foto barang-barang bukti sambil mungutin serpihan-serpihan hati. Even now, I'm still in my withdrawal phase. Entah bakalan bertahan sampai kapan.

    
Perbedaan Before-After yang sungguh nyata.

Semoga budhe Kajiura Yuki sehat selalu dan panjang umur, senantiasa menikmati proses berkarya, tetap mengeluarkan musik demi musik di tahun-tahun mendatang. To imagine that I'm going all out and becoming this worked up for a lady in her 50s―and not, you know, young, emerging male pop star in his 20s with impressive abs or biceps or whatever―is WILD. But I'm just a prisoner of love. *in Utada Hikaru's voice*

z. d. imama

Friday, 2 August 2019

A very spoilery review of Meitantei Conan 23rd movie: Konjou no Fist

Friday, August 02, 2019 5

Bicara tentang film-film bioskop Meitantei Conan, entah sejak kapan―kayaknya sih mulai dari film keduabelas―segala pola, repetisi, hingga hal-hal ajaib yang muncul membuat perspektif saya dalam memandang film Conan berubah. Pindah genre. Jadi komedi. Sehingga, alih-alih kesal atau gondok saat berhadapan dengan adegan atau dialog yang dih-apaan-banget-anjir, saya menerima hal-hal itu sebagai sebuah lelucon. Conan dilempar keluar kabin pesawat oleh penjahat? Ahzek. Conan mendadak bisa menyanyikan suatu lagu secara pitch perfect padahal dia sejatinya paling buta nada? Bagooos. Conan naik skateboard dan sanggup mengimbangi kecepatan mobil sport yang sedang ngebut bahkan ngobrol dengan pengemudi mobilnya? Mantap gan.

It works wonder to me.

Sebagai penggemar veteran serial berkepanjangan ini, tentu saya tidak pernah melewatkan kesempatan nonton filmnya yang diboyong ODEX ke Cinemaxx dan CGV. Begitu pun dengan film terbaru tahun ini. Meitantei Conan: Konjou no Fist―yang dialihbahasakan menjadi Detective Conan: The Fist of Blue Sapphire―jelas wajib saya saksikan. Maklum, haus hiburan. Saya berangkat tanpa menyimak trailer maupun teaser sama sekali. Biar lebih greget. Woro-woro bahwa film ini berlatarkan di Marina Bay Sands, Singapura bikin saya makin antusias. Ekspektasi saya hanya satu: landmark populer milik negara tetangga itu jelas akan hancur berantakan. Luluh lantak jadi puing. Lemme witness!!

PERINGATAN:
Sebagaimana judul tulisan di atas, ulasan ini akan berhias screenshot dari trailer serta teaser clip, bertaburan spoiler dan komentar-komentar menyebalkan penuh rasa cinta, dedikasi, dan kasih sayang. Proceed only when such things are your kink. I mean, when you're into that stuffs. If that's your interest.

"Sudah siap? Pokoknya jangan di-salty-in yah!!!" - Kaito Kid.

Film dibuka dengan sebuah adegan pembunuhan yang terjadi terhadap cici-cici pengacara Singapura setelah dia ngobrol di restoran hotel dengan bapak-bapak dandy kumisan bernama Leon Lowe, dalam bahasa Inggris yang sama sekali nggak punya nuansa Singapura. Baik logat maupun struktur bahasanya. Where's the Singlish??? Gak riset gara-gara sibuk berkubang day job kayak Ika Natassa atau gimana nih?? Yaudah gapapa. Namun kemudian bom meledak di parkiran, orang-orang berhamburan panik, dan Merlion pun tiba-tiba muntah darah memancurkan air berwarna merah. Wow, mejik! Muncratnya ngegas banget, pula. Tapi tenang. Gak ada korban jiwa. Tujuan adegan tersebut akan terkuak di akhir cerita.. yang sebenernya tetep menggelikan.


Balik ke Jepang dulu. Conan merengek-rengek di hadapan Haibara Ai agar dikasih antidote sementara APTX4869 supaya dia bisa naik pesawat ke Singapura sebagai Kudo Shinichi, jalan-jalan bareng Suzuki Sonoko dan Mouri Ran yang mau nonton pertandingan karatenya Kyogoku Makoto. Adegan ini kian menyakinkan anggapan saya bahwa posisi Haibara Ai didegradasi secara drastis dari rekan a.k.a partner ke tukang obat at your convenience. Bedebah. Tentu saja, Ai nggak kasih. Good girl. Jangan mau diperalat seenaknya demi agenda pacaran Shinichi! Di perjalanan pulang dari rumah Profesor Agasa Hiroshi sambil bersungut-sungut, Conan malah bertemu Kaito Kid yang menyamar sebagai Ran, dan diculik.

Bangun-bangun udah di Singapura aja.
Di dalam sebuah koper besar yang terbuka di tengah-tengah ruang publik.
Lengkap dengan kulit sekujur tubuh mendadak jadi item keling. I shit you not.


Emejinggg.

KALIAN MEREMEHKAN CHANGI, YHA. MEREMEHKAN KEAMANAN BANDARA INTERNASIONAL? "Ya udah nanti kamu diselundupin aja masuk koper" adalah guyonan lawas yang sering dilontarkan saat ada orang ingin ikut bepergian jauh namun tak mampu, tapi saya tidak menyangka akan diamini film ini. Tatkala Kuroba Kaito alias Kaito Kid berargumen, menjelaskan kecanggihan dan kemutakhiran koper yang sanggup ngebawa Conan masuk Singapura, saya tidak bisa menahan geli. Mampu kasih suplai oksigen sampai 24 jam? Kebal scan X-ray di gerbang keamanan bandara? Yaelah, gan. Justru bakal dibuka langsung di tempat noh sama petugas.

Sepanjang di Singapura, Kaito menyamar sebagai Shinichi―pilihan bijak, sebab pada dasarnya muka mereka berdua sama―dan Conan harus sok ngaku-ngaku sebagai bocah lokal Singapura keturunan Jepang bernama Arthur Hirai yang ditinggal orang tuanya sehingga hidup sendirian. Iyain aja deh. Toh semua karakter di sana juga percaya-percaya wae. Saya mah kagak. Penduduk Singapura yang berkulit sawo matang bukannya biasanya keturunan India atau Melayu.. Tim produksi film ini tuh mikir apaaaa? Mereka sangka Singapura isinya kebanyakan siapaaaa? Manusia kecil yang diklaim separo Yaban separo bule gitu mana mungkin gosong. Duh Gusti. It's already hilariously funny and we're just at the beginning.

Lanjut cerita dari mana lagi, ya.

Masih inget pembunuhan yang menimpa cici-cici pengacara di paragraf atas? Masalah bermula lantaran ditemukannya kartu bersimbol Kaito Kid di TKP insiden tersebut. Berhubung sejatinya Kaito Kid nggak pernah merasa melakukan itu, makanya dia repot-repot pergi ke negara kecamatan dan ngegondol Conan biar nggak kesusahan menguak misteri seorang diri. Masa udah kena fitnah masih harus berjuang sendokiran. Kasihan atuh. Motivasi Kaito ke Singapura makin besar karena pertandingan karate yang diikuti Kyogoku Makoto ternyata memperebutkan sabuk juara berhias batu safir biru legendaris seharga dunia-akhirat. Mana mungkin dia nggak tertarik kan?

Makanya lain kali bikin trademark icon yang gak gampang ditiru orang

Conan dan Kaito pun bekerja sama. Berkenalan dengan sesosok polisi lokal berpangkat sepele ceremende yang konon, kalau saya nggak lupa-lupa ingat, mengajukan diri secara sukarela untuk mengusut kasus pembunuhan sekaligus prospek pencurian batu safir oleh Kaito Kid. Namanya? Rishi Ramanathan. Gak ngerti sumpah siapa yang sok ngide bikin nama-nama karakter. Sama seperti Conan―eh, maksudnya Arthur―, kulit Rishi item keling sebadan-badan. Sipit juga iya. Bahkan matanya emang merem terus di mayoritas durasi film. Jujur aja penampakan Rishi ibarat anak haram Amuro Tooru dan Okiya Subaru. Hasil percampuradukan yang kualitasnya tidak lulus batas tuntas. Tapi biar desainnya ancur begitu, minimal Rishi banyak berjasa membeberkan semua informasi yang dia ketahui ke Conan, Kaito, serta tentu saja Mouri Kogoro.

Ternyata selain koaya roaya bermandikan harta, Leon Lowe juga anggota kepolisian Singapura. Khususnya sebagai ahli psikologi kriminal. Sabuk turnamen karate berada dalam pengawasan dia, dan bak Suzuki Jirokichi, Leon mengandalkan teknologi supercanggih yang seolah gak peduli berapa duit pas bikin sistemnya demi ngejagain batu permata dari tangan Kaito Kid. Saking ampuh dan cerdiknya perangkap Leon, Kaito nyaris terbunuh. Untung bisa kabur.

Semua tampak oke-oke aja.
Sampai Kaito dicegat Kyogoku Makoto yang mak jegagik nongol di pelataran gedung. Lari menyeruak dari balik kabut dan asap biar makin dramatis.



Sungguh strategi brilian, Pak Leon. Buat apa mengerahkan pengawasan polisi profesional dan ngabisin anggaran kalau tersedia bocah SMA overpowered yang secara sukarela bisa direkrut jadi tukang pukul? Cerdas. Groundbreaking. Saya salut!

Jiper dong Kaito pas lihat siapa lawan yang nongol di depannya. Kyogoku Makoto kan pokoknya dewa banget. Nggak pernah kalah di 400 pertandingan. Semua orang yang kepapar tinju saktinya langsung mental dalam sekali hantam. Terbang. Bagai anai-anai bertebaran. Detik-detik menjelang gepeng kena bogem mentah, nasib Kaito diselamatkan oleh benda bulat misterius yang berekor kayak sperma komet dan bercahaya terang yang melesat secepat kilat ke arah Makoto. Ulangi: BENDA BULAT. BERCAHAYA TERANG.  MELESAT CEPAT. YANG LANTAS DITINJU MAKOTO SAMPAI PECAH BERANTAKAN.




Pada titik ini saya mengalami kesulitan bernapas. Kebanyakan terkekeh. Usut punya usut, benda bercahaya itu cuma bola sepak yang ditendang Conan dari atap bangunan di dekat TKP. Khan maen. Udah macem tendangan-tendangan khas komik Kapten Tsubasa. Namun seolah tidak mau kalah sangar, sepanjang durasi film ini penonton disuguhi kedahsyatan demi kedahsyatan karateka remaja yang terbukti sanggup mengalahkan Thanos dan Avengers sekaligus―minimal di box office.

  • Kyogoku Makoto menghajar segerombolan preman Singapura? Checked.
  • Kyogoku Makoto menghantam bola bercahaya hingga berkeping-keping? Checked.
  • Kyogoku Makoto berlari di tembok layaknya ninja? Checked.
  • Kyogoku Makoto berantem sampai menimbulkan kepulan debu? Checked.
  • KYOGOKU MAKOTO BISA MENGELUARKAN TINJU BERCAHAYA SAAT PERTARUNGAN PUNCAK???? CHECKED.

Widihhhh. Kacoooooo. Berasa nonton Prince of Tennis atau Dragon Ball, dah. Akan tetapi segala keajaiban ini bisa dimaklumi semuanya tanpa terkecuali karena ada kata 'Goku' dalam 'Kyogoku'. Saya ingatkan sekali lagi: ADA KATA 'GOKU' DALAM 'KYOGOKU'.


Leon Lowe yang sejak awal diposisikan seolah sebagai tokoh antagonis, penjahat, sekaligus otak di balik segala kekisruhan dan kerusuhan yang terjadi, ternyata memang demikian adanya. Jangan senang dulu. Penulis skenario Konjou no Fist tampaknya sama-sama terobsesi dengan plot twist, layaknya banyak penonton film bioskop di Indonesia, sehingga pada sepertiga―atau seperempat?―akhir cerita, dimunculin tuh sosok serigala berbulu domba dan bumbu pengkhianatan. Siapa lagi biang keroknya kalau bukan anak haram Amuro Tooru-Okiya Subaru Rishi Ramanathan sang polisi random. Mata yang sejak awal cuma digambar segaris alias sipit pun mendadak melek. Melotot lebar saat Rishi memaparkan backstory tragis penyebab dia punya tujuan balas dendam.

Terus terang, ceritanya panjang dan kusut banget. Bahkan ada kandidat juara turnamen yang motivasi untuk duel versus Makoto begitu besar, hingga mau-mau aja direkrut penjahat. Wow. Benar-benar suatu tekad tak tergoyahkan. Nothing makes sense here, and yet the movie desperately and pathetically try to convince and explain that there is a logical sense in everything, which makes the movie maneuvering sharply from a (hopefully) suspenseful, serious, and mysterious story to something ridiculous and very much full-on comedy. Apakah ceritanya bagus? Nggak. Jelek banget, malah. Apakah menghibur? Suangattt. Infinity level out of ten.

Seperti ekspektasi awal saya: Marina Bay Sands remuk redam. GARA-GARA DIRUDAL BAJAK LAUT. Plus, nyaris ditubruk kapal tanker nyasar. Saya jadi paham alasan iklan turisme Singapura ikut ditayangkan bersama film ini. Demi menyakinkan calon pengunjung bahwa kondisi negara kecamatan tersebut nggak seabsurd apa yang ditunjukkan di layar lebar.

Since there's only one truth, I will make my confession: I had a fair share of laughter, Edogawa Conan Arthur Hirai. Thanks a bunch from your veteran fan. It's been long overdue that you give me an appreciation badge for sticking up all these years. Through your shitty moment to your shittier ones.

z. d. imama

My other posts in 'A very spoilery review' series:
  1. Resident Evil: The Final Chapter
  2. The Maze Runner: The Death Cure