The Postcard Gallery of Mine (Season 02)


Jumpa lagi dengan episode pajang-memajang kartupos! Supaya agak kekinian dan ala-ala serial televisi long-running, pada judul postingan saya beri embel-embel 'season two' di belakang. Cakep ya? Cakep, dong. Nggak apa-apa lah sesekali banyak gaya. Ngomong-ngomong, kemarin ada yang mencolek saya via Twitter dan menanyakan suatu hal yang FAQ-ish. Yoih. Frequently Asked Questions yang sering ada di situs-situs resmi e-commerce atau homepage layanan jasa itu.

"Kalau mau kirim kartupos ke luar negeri, pakai perangko berapa, kak?"

Sebentar ya saya mau naik mimbar dulu. Potong kue. Syukuran. Langsung berasa penting gara-gara jadi tempat bertanya. Terharu. Anyway, begini kira-kira yang saya ketahui: jika berpatokan pada informasi di situs Kominfo untuk Tarif Layanan Pos Universal tahun 2013, biaya pengiriman kartupos ke negara-negara di Asia Pasifik sebesar Rp6,000-Rp7,000. Ke benua Afrika dan Eropa Rp7,000 sementara untuk benua Amerika adalah Rp8,000. Namun ketika saya pergi ke kantor pos besar, salah seorang petugasnya menjelaskan bahwa harga tersebut sudah diperbarui (tapi nggak ketemu-ketemu mana sumber dokumennya di internet). Tarif baru yang ditetapkan oleh PT. Pos Indonesia―berdasarkan keterangan si bapak petugas―menjadi Rp7,000 ke negara-negara benua Asia, ke Afrika dan Eropa Rp8,000, lalu untuk benua Amerika Rp9,000. Hanya saja kalau kalian malas mikir (atau kebetulan apes bertemu petugas pos yang tidak well-informed dan insecure dengan jumlah perangko yang kalian gunakan), bisa pakai selembar perangko seharga Rp10,000. Selesai perkara.

"Kirim kartupos dalam negeri perangkonya berapa?"

Nah ini yang agak tricky.

Seperti yang pernah saya bilang di tulisan sebelumnya, persentase sampainya kartupos yang dikirim ke alamat domestik justru lebih kecil (berdasarkan pengalaman pribadi). Masalah jadi merembet tidak hanya tentang apakah perangkonya cukup atau tidak. Ada tambahan penyebab kegalauan: seandainya kartupos kamu kandas di tengah jalan, ikhlas kehilangan berapa duit? Saya sih biasa menggunakan perangko Rp3,000 terutama untuk alamat yang masih satu provinsi. Kadang saya naikkan hingga Rp4,000 kalau tujuannya di provinsi lain. Khusus Indonesia timur berhubung jauh banget gila, saya tambah lagi jadi Rp5,000. Pokoknya segitu-gitu aja.

Mari lanjut ke update kartupos yang berhasil tiba di genggaman saya.


Kartupos kedua yang saya terima dari mbak Anggie. Saya sudah pernah memajang yang pertama, dan rasanya kok agak nggak adil juga kalau cuma salah satu yang saya pamerkan pasang. Sayang di bagian depan maupun belakang kartupos tidak dijelaskan tentang payung-payung itu, merupakan kerajinan daerah mana dan apa namanya. Maklum, gini-gini saya masih relatif buta masalah kebudayaan lokal masyarakat negeri sendiri. Sepintas penampilannya tampak seperti payung-payung kertas yang sering muncul di film-film Cina nggak sih? Lucu-lucu dan warna-warni. Cakep. deh.


Kiriman dari mas @snydez. Terus terang, merupakan salah satu kartupos pertama yang saya peroleh semenjak terjerumus dalam kegiatan adiktif bak narkoba ini. Kenapa kok baru dimasukkan galeri sekarang? Ketlisut, bos. Saya sempat lupa di mana meletakkan kartupos tersebut. Baru ketahuan rimbanya minggu lalu, ketika membersihkan beberapa sudut-sudut tersembunyi di kamar. Senang sekali pas ketemu. Saya kira sudah lenyap ditelan bumi karena keteledoran diri sendiri. Biarpun senang dapat kartupos, rada-rada sedih juga karena tulisan di bagian belakang hemat banget. Saya tipe yang hobi baca-baca tulisan remeh-temeh (termasuk kertas pembungkus tempe dan gorengan), makanya tiap terima kartupos yang rame obrolannya―dengan tulisan acak-adut sekalipun―pasti kegirangan.

Maaf ya, saya banyak maunya...


Terbang jauh-jauh ke Indonesia dari Kanada meski pengirimnya bukan Justin Trudeau. Iya, saya memang ngarepnya nggak tahu diri. Lebih nggak tahu diri lagi karena saya akan berkata jujur bahwa sebenarnya kartupos di atas memiliki style of aesthetics yang kurang sesuai dengan selera pribadi. Agak nggak puas melihat berbagai macam objek-objek wisata atau pemandangan alam yang dibagi-bagi ke dalam kotak-kotak kecil. Lebih suka kartupos yang cukup memuat satu attraction spot tapi gede. Barangkali mbak Donna yang mengirimi saya bermaksud pamer soal betapa banyaknya tempat-tempat menarik di Kanada. Ibarat orang datang kondangan yang mencampur-adukkan semua hidangan yang tersedia dalam satu piring karena ingin mencicipi menu A sampai Z.


Kesan pertama waktu menatap ilustrasi depan kartupos dari Amerika ini, benak saya langsung berseru-seru semangat, "Whoaaa! So Texas! Cowboy aesthetics 100%!!" Apalagi sebelumnya saya sempat menyaksikan Kingsman: The Golden Circle yang untungnya cukup menghibur walau berasa kayak nonton fanfiction dijadikan film bioskop. Ternyata sewaktu kartu tersebut saya balik untuk mengecek siapa pengirimnya dan cerita macam apa yang tertulis di sana, terbukti tebakan saya benar. Itu memang kartupos dari dan tentang Texas.

Pas nge-scan posisinya nggak pas... Terpotong, deh.

Dikirim oleh seorang ibu-ibu berusia 58 tahun. Namanya Darla. Sudah punya empat orang cucu (and no, my mother won't get one in near future). Saya kelak kalau sudah tumbuh dewasa jadi nenek-nenek kayaknya mau gini juga ah... ngabisin waktu luang―sekaligus duit, entah duitnya siapa―lewat berkirim-kirim kartupos. Lumayan sebagai kegiatan selingan. Mengasah keterampilan tangan juga kan kalau rajin nulis tanpa memanfaatkan teknologi komputer. Punya jari nggak dianggurin.


Finally. Russia! Lulusan Russian Studies yang berselingkuh dengan Yapan ini akhirnya memperoleh sepucuk kartupos dari negeri beruang merah, saudara-saudara rakhimakumullah. Nggak dapet dari kak Chika pas lagi jalan-jalan ke sana pun tak apa-apa, sebab kini saya telah mendapatkan penggantinya. Hehehe. Hehe. He. Jangan timpuk saya pakai matryoshka ya, Kak...

Sebagaimana yang kalian duga (atau mungkin malah sudah tahu), Sochi Olympic Park ini sengaja dibangun khusus untuk memfasilitasi Sochi Olympics dan Winter Paralympics 2014 silam. Agak rusuh sih penyelenggaraannya, banyak drama sebagaimana Olimpiade Rio de Janeiro 2016 kemarin. Banyak kok berita-beritanya berseliweran di portal internasional. Misalkan ditanya ingin ke Rusia atau tidak, ya bingung juga. Belum pernah menginjakkan kaki ke negara yang saya pelajari secara akademis, tapi gimana dong, lawan hawa dingin AC kantor saja sering keok dan harus berbungkus jaket tebal. Mau sok iye ke Rusia? Sungguh tidak sadar diri. Kewanen.


Lagi-lagi kartupos dari Puti sewaktu masih menimba ilmu di Grenoble, Prancis nun jauh sana. Tulisan di belakangnya (selain kiss mark membahana dengan lipstik hitam a la mbak-mbak goth) hanyalah harapan semenjana: semoga bisa sampai di tujuan. Living as an Indonesian teaches us to lower expectations, huh? Lmao.

Perangkonya nggak ada di tempat semestinya. Jangan tanya kenapa.

By the way, untuk mbak Gea dan Pramesti yang tempo hari minta dikirimi kartupos, akan saya kabari setelah diposkan ya. Sedang ditulisin nih. Bagi teman-teman yang berminat dapat kartupos juga, syaratnya gampaaaang banget: silakan tinggalkan komentar di postingan ini dan masukkan alamat di kolom 'Leave Me a Message!' pada bagian samping blog. Agar mempermudah pelacakan―apalagi jika menulis komentar dengan nama samaran/anonim―jangan lupa pas ngirim alamat, beritahukan saya username yang dipakai saat berkomentar. Kalau identitasnya tidak terlacak, maka kartupos terpaksa diberikan ke pihak lain. Kalau cuma melakukan salah satu dari dua hal di atas, kartuposnya juga belum akan saya kirimkan. Jadi harus lengkap keduanya yah. Seriusan. Hehehe. Hehe. He. *diasingkan ke Timbuktu.*

z. d. imama

*P.S.: Seluruh kartupos pasti akan saya kirim, tapi saya tidak bertanggung jawab mengenai sampai-tidaknya ke tangan penerima. Kadang bisa cepat sampai. Kadang lama. Kadang superlama. Kadang raib ditelan bumi, hilang terbang hingga ke kahyangan. Soal kirim-mengirim kan tugas dan wewenang Pos Indonesia yaaa ~
Share:

28 comments:

  1. Jl. Komjen Pol M Jasin, Kelapa Dua Depok, Depok. Tepatnya di Saturday Coffee.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tolong dibaca ya mas petunjuk yang sudah dituliskan di atas.. Saya minta maaf karena tidak mengirimkan kartupos jika tidak sesuai prosedur. Makasiiih.

      Delete
  2. Tentang kartu pos, tahun kemarin aku pernah nyoba ngirim kartupos, dari Belitung ke Jakarta. Tapi kayaknya kebawa arus di laut, sampai sekarang gak ada kabar nyampe enggaknya. :))
    tapi semoga kalau dikirimi nanti, kartuposnya sampai dengan selamat sentausa.

    *semoga masih kebagian kuota kartuposnya :)))

    ReplyDelete
  3. Saya selalu gemas kalo ada kartu pos yg lucu2, seringnya bikin sendiri, desain sendiri. Tempo hari sempat beli di kantor pos pusat, tapi so last year bngt desainnya. Akhirnya memutuskan beli perangkonya aja, lebih lucu, lebih beragam. Ehehehe

    Saya punya banyak, tp saya nggak tau mesti dikirim ke mana. Boleh lah mbak kalo kita berkirim kartu pos. 💕

    ReplyDelete
  4. Belum pernah mengirim kartu pos ke siapapun, dan berkat mu aku juga ingin melakukannya..
    May i have one from you?

    ReplyDelete
  5. Saya mulai koleksi kartupos baru-baru ini. Pengen nyoba ngirim 1 ke seseorang atau nerima 1 dari seseorang juga, tapi masih ragu. Kalau nanti kuota kartupos buat saya masih tersedia, dan siapa tau keraguan saya bisa hilang setelah menerima kartupos dari mba, bolehlah nanti kita saling mengirimi kartupos x)

    ReplyDelete
  6. ((Lulusan Russian Studies yang berselingkuh dengan Yapan))
    Tulisan Nona Z ini penuh bau-bau skandal, ya.

    Thank you for keeping this sweet and historical art alive! Seneng banget liat tulisan di belakang kartu pos dari macem-macem orang yang tinggal di macem-macem kehidupan.

    Best of luck and have fun!

    ReplyDelete
  7. Kartu posnya lucu-lucu ya.

    Keren.

    Dulu sebelum terlalu sibuk dan ilang minat saya ikutan Post Crossing dan dapet beberapa kartu lucu juga.

    Saya suka banget payung kertas warisan Cina yang diIndonesiakan itu (serius nenek moyang kita kan mayoritas Cina dan India. Nggak percaya? Silakan ngaca dan perhatiin tampang orang Indo-Melayu pada umumnya: kalo nggak putih dan sipit, kalo nggak berkulit coklat dan mata belo, dan ada sebagian yang mix).

    Anyway saya pembaca Twitter kamu yang 95% pembaca bisu kecuali lagi pengen nyela atau lagi pengen baik, salam kenal (lagi).

    Besok JUM'AT! Bertahanlah hidup demi akhir pekan (kecuali kamu pulang ketemu nyokap pas akhir pekan, in which case kuucapkan 'selamat yah, semoga tabah dan beruntung').

    ReplyDelete
  8. I'd love to get one! I'll send one for you too! Tapi cuma domestik ya, Surabaya hehe.

    ReplyDelete
  9. Halooo, terima kasih mba untuk infonya. Jadi pengen ngirim kartu pos buat si mas yang lagi di Jepang. Terus mau juga dikirimin kartu pos lucunya, ayo mba kita barter! Hehehe.

    ReplyDelete
  10. Mau satu dong mb kartu pos nya. Saya belum pernah pegang kartu pos. Kalau mb berkenan mungkin mb akan jadi orang pertama yang mengirimi saya kartu pos. Hehe

    ReplyDelete
  11. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf ya, saya tidak kirimkan kartupos untuk yang menuliskan alamat di kolom komentar karena tidak bisa di-trackback via email. Petunjuk sudah dituliskan jelas seperti di atas :)

      Delete
  12. Maaauuuuuu kartu posnya ��

    ReplyDelete
  13. "Saya kelak kalau sudah tumbuh dewasa jadi nenek-nenek kayaknya mau gini juga ah... ngabisin waktu luang―sekaligus duit, entah duitnya siapa―lewat berkirim-kirim kartupos. Lumayan sebagai kegiatan selingan. Mengasah keterampilan tangan juga kan kalau rajin nulis tanpa memanfaatkan teknologi komputer. Punya jari nggak dianggurin."

    berasa tertampar, ya tentang jari ya tentang menua 😆 Salut kepada bu Darla, semoga ketika tua nanti saya pun bisa tetap aktif kreatif 💚

    ReplyDelete
  14. Waaa always exciting to see other' postcard collection! Terima kasih sudah berbagi~

    ReplyDelete
  15. Halo mba..
    Sebelumnya sy mau berterima kasih atas infonya. Jadi ikut tertarik dan kepengen ngerasain ngirim suratnya. Dan berharap mba jg mau jadi org pertama buat ngirimin sy surat hehe

    ReplyDelete
  16. Mau juga dikirimin kartu pos kak

    ReplyDelete
  17. halo kak zi! one of your twt followers here. i like your words, terlebih yang nyleneh lucu garing dan yang mental breakdown gitu, rasanya sangat relatable. laughing at our miserable life makes it more bearable, isn't it? moreover i think i kinda have the same pov with you about many things.. well.. ehem.

    btw this is not the first time i want to join your mini post-crossing. cuma kemarin dulu ngga tau kenapa kok rasanya malu (low self-esteem kills). sekarang aku coba buat speak up kalo aku mau juga dikirimin postcard! yeay! and if you're really sending me a postcard i hope it wont get lost on the way so i can write back to you (dont expect too much tho, i live not far from your hometown). but i dont know how this works, so i can just leave my address here? nggapapa kah?

    hopefully you'll read my comment even more reply to me. wishin' you good days ahead, best regards. xoxo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo. Untuk alamat bisa dimasukkan ke widget di side bar sebagaimana petunjuk yang sudah dituliskan di atas yah. Saya belum merasa terima alamat dengan identitas "Erena", tapi kalau ternyata sudah drop alamat dengan nama/identitas lain tolong diinfokan.

      Terima kasiih!

      Delete
    2. my mistake sorry huhu, barusan sudah leave-you-a-message kak, thank you!

      Delete
  18. mau juga dikirimin, hehe. kayanya seruuu!

    ReplyDelete
  19. Mauu jugaa ikutan dikirimin.. kirim2 an :)

    ReplyDelete
  20. Sering ngirim pake kartu pos dulu, ikut tts atau sayembara hahaha. Mau dong dikirimin kartu posnya :) ola jl.prawirotaman iii no.662a, mergangsan, diy. Makasiiih yah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo mbak Ola, mohon maaf saya tidak kirimkan kartupos untuk yang menuliskan alamat di kolom komentar karena tidak bisa di-trackback via email. Silakan ikuti petunjuk yang sudah tertulis jelas di postingan yah... terima kasih :)

      Delete
  21. Mau donk ya kartu pos nya. Hmmm...terakhir pernah kirim-kiriman kartu pos pas jaman sekolah tp kek nya bakalan seru deh kl tukeran kartu pos lagi. Dan seneng aja ngebacain tulisan remeh temeh di bagian kartu pos nya itu...

    ReplyDelete

Have you left me any comments? No? Why? Do not hesitate to write down your feedback so I can visit your blog in return!