Friday, 25 January 2019

"The Great 50 Show", my first circus experience


Frankly speaking, I have no idea at all about circus. Sure I've seen some of the acts through movies, drama series, or even.. Gundam Wing (Trowa Barton, anyone?), but I didn't have any real life experience witnessing such performance. At least as far as my memories go. That's why, when I get my hands on the entrance ticket for The Great 50 Show in Tennis Outdoor Senayan, Gelora Bung Karno, Jakarta, I don't need to be told twice to drag my big ass there. Excitedly. And perhaps you have already guessed this: I was going alone. Single fighter fear no danger. 

Sesuai namanya, The Great 50 Show digelar selama 50 hari. Pertunjukan ini sudah berlangsung sejak 14 Desember 2018 hingga malam pamungkasnya 27 Januari 2019 nanti. Diselenggarakan oleh Oriental Circus Indonesia dan disponsori oleh Traveloka, tiket The Great 50 Show bisa didapatkan via situs dan aplikasi berlogo burung biru kurus nan ramping itu dengan harga diskon. Sedikit lebih murah dibanding beli langsung melalui loket yang tersedia di lokasi. Acaranya pun disebut-sebut melibatkan penampil dari berbagai negara Asia, di antaranya Cina, Mongolia, dan India. Makinlah penasaran. Sehingga begitu jam pulang kantor tiba, tanpa banyak ba-bi-bu dan berleha-leha sebagaimana yang saya kerap lakukan selepas kerja, saya bangkit dari kursi.

Cabut ke TKP.

Cuaca mendung berat. Nggak kalah beratnya dengan badan saya. Berhubung malas keluar duit (maklum, tanggal lanjut usia, tua bangka), saya berjalan kaki dari halte Transjakarta Gelora Bung Karno menuju Pintu 2, yang berdasar petunjuk, merupakan pintu terdekat. Wuidih anginnyaaaaaaa... rusuh abis. Tenda sirkus berwarna-warni cerah dengan lampu-lampu dekoratifnya tampak lebih mencolok, kontras dengan gelapnya langit. Sambutan dari welcome gate yang terasa khas sebagaimana terpampang di gambar pembuka tulisan ini sukses bikin antusiasme saya naik drastis. Mentok di ujung skala ukur.

Tiketnya oke. Kertasnya nggak terlalu tipis macam tiket parkir atau makalah kampus.

Mulanya, saya sangka penonton akan cukup sepi mengingat hari kerja. Iya siiih pertunjukan dimulai pukul tujuh malam, namun mempertimbangkan kemacetan Jakarta dan banyak sekali pihak-pihak yang lebih suka bersantai goler-goler melepas penat di kediamannya setelah nyari nafkah, ya mana saya menduga bahwa lumayan rame yang datang. Saat semua orang telah ambil posisi di bangku masing-masing beberapa puluh menit kemudian, ternyata terisi sekitar dua per tiga dari kapasitas total. Seneng deh liatnya. Saya kan baperan kronis, ya. Begitu tahu ada pementasan krisis audiens tuh bawaannya pengin nangis sendiri di pojok ruangan. Setidaknya dengan begini, kondisi psikologis saya terjamin baik-baik saja.

Pintu ke area pertunjukan baru akan dibuka pukul 18:30. Berhubung masih ada sedikit waktu sisa, saya mengamati sekeliling. Ada beberapa titik yang sengaja didesain untuk foto-foto demi memorabilia. Bahkan bisa diikutsertakan ke kompetisi yang digelar Traveloka pula (ya mereka sekalian promosi gratis kan... words of mouth dari testimoni pengunjung).

      
Lumayan tau sejeti. Bisa buat subsidi beli tiket pesawat ke Singapura.

Lapar? Haus? Ingin ngemil? Tenang, tersedia konter Eat&Eat yang juga menyediakan beberapa jenis camilan dengan harga masih masuk akal. Yah, kelas jajanan bioskop lah. Cappuccino dijual empat puluh ribuan, teh botolan dan air minum kemasan dibanderol belasan ribu rupiah.


Persis setelah saya selesai menjepret foto-foto ini, hujan turun. DERAS. Air seolah tumpah, disunthak dari langit. Angin berderu. Berada di dalam tenda yang didirikan di tengah-tengah tempat terbuka, terus terang saya sempat was-was. Gile serem banget, men. Bunyi angin tuh beneran hyuuuu... hyuuuu... gitu. Kondisi di luar, dilihat dari tempat saya berdiri mengantri siap-siap masuk area panggung, nggak beda jauh dengan arena Hunger Games di-setting hujan badai. Tinggal kurang binatang buas dilepas aja dah. But thank god the tents are constructed sturdily. Dihempas angin kayak gimana, berhasil nggak goyang atau kenapa-napa. Bocor sih ada, namun hanya di satu-dua titik tidak krusial yang agak jarang dipadati pengunjung. Tenang aja ya guys. Terjamin kok kualitas tendanya. Barangkali memang standar internesyenel.

Now let's get on to talk about the show.

Foto-foto panggung berasal dari dokumentasi dan promosi di laman Traveloka.

Opening act-nya agak terlalu kalem. A bit too slow-paced. Butuh beberapa saat bagi saya untuk tersadar, "Oh oke udah mulai nih". Lambat laun, badut-badut dan penampilan pemain akrobatik makin seru. Ada banyak hal yang terasa familier, seperti lompat tali dan jungkat-jungkit yang digunakan sebagai properti dan set-up, tetapi dimainkan sedemikian rupa sehingga mengundang decak kagum, tawa, geleng-geleng kepala, bahkan rasa deg-degan saking cemas gimana kalau ada apa-apa. Weeeell, I know they practiced like crazy and they are trained individuals but I was still worried what if things go awry.

The live music was breathtaking. Saya baru mengetahui bahwa layaknya teater, sirkus juga diiringi musik berbagai instrumen yang dimainkan langsung dari samping panggung. Bukan pakai rekaman kayak penampilan grup idola. Mantap. Oh ya, nyaris lupa. Sepanjang berlangsungnya pertunjukan, penonton tidak diperbolehkan merekam video dan mengambil gambar. Ada sih makhluk-makhluk tak berbudaya yang nyolong-nyolong motret.. JANGAN DITIRU YA. Oke? Oke. Plis lah. We're better than that. Ganggu kenyamanan dan pengalaman orang yang duduk di belakang dan samping kalian juga kan.

Masih dari dokumentasi resmi untuk promosi.

Setelah babak pertama selesai, ada interval dua puluh menit sebelum babak kedua digelar. Mau pipis? Silakan. Jajan popcorn? Atau gula-gula kapas? Boleh. Rumpi-rumpi dikit? Gak papa. Sayangnya seorang penonton lain yang semula duduk di sebelah saya memilih menggunakan jeda tersebut untuk pindah bangku dan meninggalkan seluruh sampah-sampah bekas bungkus jajanannya di atas kursi yang dia tinggalkan. Wasyuuuuuuuuu. Jan njaluk dijejeli sendal tenan raine

Babak kedua kece parah. Anjayyyy. Terlebih pada sesi laser dance, yang benar-benar keren dengan segenap special stage effects-nya. Iringan musik bertempo cepat yang mengiringi sang penari, di beberapa bagian, mengingatkan saya akan intro lagu pembuka serial animasi Saint Seiya (sumpah nggak bohong; silakan tonton sirkusnya sendiri untuk kroscek dan konfirmasi keabsahan opini ini). Ada momen-momen yang bikin ingin menyambar mikrofon lalu berteriak sekencang mungkin, "Saint Seiyaaaaaaaaaaaaaaarrrrggghhhh!!" saking miripnya. Same shit same energy.

And don't get me started on the closing performance: Wheel of DeathThat's another thing for you to find out with your own eyes. Suara jeritan penonton dan tarikan napas tertahan muncul dari kanan-kiri hampir tanpa henti. It was THAT exciting, that intriguing. Banyak hal-hal menarik dan menyenangkan yang saya dapatkan sepanjang menyaksikan The Great 50 Show. Salah satu yang paling menonjol adalah tim sirkus ini tidak lagi membawa binatang ke panggung. Hewan-hewan yang konon kerap muncul di pertunjukan sirkus telah disubstitusi dengan boneka-boneka plushie berukuran besar, serta manusia berkostum. Kayak Barongsai gitu lho. Bukan a la kostum badut ulang tahun yang suka disewain buat minta duit di tepian jalanan Jakarta.

So many Wonder Women.

The Great 50 Show akan selesai pada akhir pekan ini. Jika ada yang belum sempat nonton (padahal ingin, atau penasaran), atau masih mikir-mikir, saya sarankan mendingan berangkat deh. At first glance the ticket may looks and sounds rather pricey, but I can attest that the show is so fun, engaging, and refreshing. Go get your share.

z. d. imama

1 comment:

  1. Aku pernah nonton sirkus bertahun-tahun lalu mbak waktu masih sd, itu jadi sirkus pertama dan (sejauh ini) yang terakhir yang pernah kutonton, masih pakai hewan betulan kayak gajah dan harimau. Misalnya rumahku di jakarta gitu pasti nonton sih, soalnya kemarin nonton highlight acara itu di tv kelihatan seru banget apalagi yang wheel of death itu.

    ReplyDelete