,

Reviewing what I'm reading: Tokyo Tarareba Musume


Baper ternyata tidak hanya dialami saat streaming video YouTube 720p pakai koneksi FirstMedia. Fenomena tersebut bisa terjadi apabila diperlakukan superbaik oleh orang yang kita suka (meski yang bersangkutan nggak suka kita), nonton film, bahkan baca komik. Faktor baper pun cukup bervariasi. Biasanya kalau bukan disebabkan oleh cerita yang memang disetel untuk jadi mengharu-biru―drama Korea misalnya―ya justru karena hal-hal yang disampaikan tidak jauh berbeda dengan kondisi yang kita alami. Minimal, pikiran-pikiran tersebut pernah terlintas di benak. Sehingga personal attachment-nya kuat. Seperti film Koe no Katachi yang sudah saya bahas beberapa waktu lalu.

Belakangan ini perasaan saya dibikin baper mampus, dijungkir-balikkan dan dibanting-banting oleh satu serial jousei manga―komik yang sasaran pembacanya adalah perempuan dewasa, mulai usia 20-an tahun―karangan Higashimura Akiko. Judulnya? Tokyo Tarareba Musume. Makna literal dari judul tersebut adalah Tokyo What-if Girls, meski untuk versi bahasa Inggris hanya diberikan penyesuaian sederhana menjadi Tokyo Tarareba Girls. This manga is so well-received in Japan and they made a live-action drama series based on the original material back in early 2017 (although it wasn't 100% faithful).

Promotional poster Tokyo Tarareba Musume drama series

Let me rant a bit about this one. The main focus of Tokyo Tarareba Musume is a 33 year-old woman who works as a scriptwriter for internet drama series (i.e Netflix) named Kamata Rinko. Sejak SMA, Rinko punya dua sahabat perempuan, Yamakawa Kaori dan Torii Koyuki, yang mana ketiganya sering berkumpul bikin girls night out untuk saling curhat dan mabuk bareng. Mengambil setting waktu di tahun 2014, Rinko berangan-angan ketika Tokyo Olympics 2020 kelak, dia sudah menikah dan memiliki anak. Padahal kondisi Rinko saat ini adalah jomblo. Mutlak. Boro-boro pacar, dating partner saja tidak punya. Sehingga deadline enam tahun yang disetelnya sendiri pun terasa cukup mencekik, membuat Rinko banyak bertanya-tanya, "Mungkin nggak yaa..?" atau berandai-andai, "Coba waktu itu aku jadian sama si X.." sewaktu hangout bersama Kaori dan Koyuki.

Such premise may sound simple, and it actually is, but the way story is carried out brings a straight jab to my gut. After a few chapters, we see that Rinko is at the lowest point of her life where she has no love life, no money, no confidence, and no jobs because it has been stolen from her by other candidates. She wants an exit. She wants an escape from her bitter reality and I can totally relate. Apalagi ditambah kehadiran Kagitani Haruki, cowok berumur 20-an yang berprofesi sebagai model sekaligus aktor dengan pseudonym KEY, yang senantiasa melontarkan komentar-komentar pedas dan menohok hati terhadap geng Rinko setiap kali mereka kumpul-kumpul.

Sampel first chapter Tokyo Tarareba Musume bisa dibaca di sini.

Baru kali ini ada orang yang malah nyuruh biar sakit hati sekalian.

Jika saya boleh jujur, mulutnya Kagitani memang pedes banget ngalahin Boncabe level 30. Bahkan lebih bikin sepet dari cowok temen SMA saya, Adit. Terdapat sejumlah adegan yang membuat saya ikut mencelos membaca ucapan-ucapan Kagitani terhadap Rinko saking kasarnya―meski ternyata perlakuan nggapleki sakpole tersebut memiliki latar belakang dan sebab-musabab yang tidak sederhana. Nggak akan saya ceritakan di sini soalnya nanti mega spoiler.

The revelation of everything in Tokyo Tarareba Musume is so well-done and well-constructed, that even the most annoying character, at the end of the day, can get you to sympathize. You don't have to agree with them all, but you understand why they're doing what they're doing. Each character feels incredibly human and real. Saya benar-benar menyukai bagaimana Higashimura-sensei memaparkan bahwa seseorang (a guy, in this particular story) bisa saja tampak dan terasa seperti orang baik secara keseluruhan, namun berengsek di momen-momen krusial. Bisa bayangin, nggak? Punya kenalan―atau bahkan mantan―yang kepribadiannya menyenangkan, humoris, perhatian, nggak suka ngamuk ketika lagi berantem, tapi ternyata... bapuk? Semacam itu lah.

Telan saja segala frustrasi dan kesedihan bersama alkohol.


Nggak ngerti lagi mau ketawa atau nangis...

Salah satu kekuatan Tokyo Tarareba Musume (sekaligus gaya storytelling Higashimura-sensei) yang menurut saya sangat mencerminkan 'What-if Girls' selaku judul cerita, adalah penggunaan metafora. Rinko selaku tokoh utama kerap mengungkapkan hal-hal yang menjadi beban pikiran dan kegelisahannya lewat pengandaian-pengandaian unik, tetapi tepat sasaran. Contoh, nih. Jika kisah romansa diibaratkan sebagai suatu pertandingan, maka Rinko merasa bahwa selama ini dirinya, Koyuki, dan Kaori adalah atlet yang duduk di bangku cadangan, tidak ikut bermain, namun menertawakan serta mengatai atlet-atlet lain yang sedang berjuang. Man, that's a good metaphor. And to some extent, it also feels like a slap across my face. Higashimura Akiko juga menggunakan ilustrasi-ilustrasi metaforik seperti sambaran petir, gedung runtuh, adegan tembak-tembakan, bahkan penyelamatan regu pemadam kebakaran sebagai alat visualisasi emosi yang dialami Rinko. Says Mangacritic (which I totally agree with): this sequence, too, is genius. Anyone who’s ever read too much into an email, a voice mail, a text, or a friendly conversation knows exactly how Rinko feels in that moment and can laugh—or cringe—in self-recognition.

Well... I'm one of those 'anyones'.

Tokyo Tarareba Musume is amusingly raw. Dibandingkan Kuragehime (Princess Jellyfish) yang merupakan serial karangan Higashimura-sensei sebelumnya, Tokyo Tarareba Musume menggali lebih dalam tentang emosi dan benturan-benturan hidup masing-masing karakter, membuat saya selaku pembaca lebih sering mengalami keterlibatan psikologis. Ada momen di mana saya ingin mengguncang-guncang bahu seorang tokoh, gregetan kebelet menjambak, bahkan ada saat-saat di mana saya tidak sanggup melanjutkan membaca. Ya gara-gara baper campur tertohok. If you want to read a slice-of-life which nudges on self-worth, self-esteem, personal goal, friendship, loyalty, also is unapologetic about portraying relationship failures, I can say that Tokyo Tarareba Musume will be something to enjoy. And to be drown in guilt...y pleasure.

"I fool myself counting the 'good enoughs', but no matter how many 'good enoughs' I can count, my life is not happy. One thing that I want won't happen."

Adult life is such a mess.

z. d. imama
Share:

No comments:

Post a Comment

Have you left me any comments? No? Why? Do not hesitate to write down your feedback so I can visit your blog in return!