, ,

The Discography Girl


Kehadiran Spotify di Indonesia beberapa tahun belakangan cukup menimbulkan tren baru di kalangan manusia-manusia penghuni internet (maksudnya netizen, tapi saya bosan pakai istilah itu). Berbondong-bondong bikin playlist pribadi, yang kemudian dibagikan tautannya ke bermacam platform media sosial. Nggak apa-apa. Nggak ada masalah. Bagus, malah. Tapi di sini saya ternyata kembali tidak mampu mengikuti tren. Kembali tidak gaul.

Halah. Memangnya kapan sih saya pernah sukses di pergaulan?

But anyway... begitulah adanya. Saya kesulitan―dan kurang, bahkan menyerempet tidak, nyaman―mendengarkan yang namanya 'kompilasi'. Iya, memang ini kelakuan agak snobbish sekaligus sok elitist. Bahkan benih-benih sikap tersebut sudah nongol sejak jaman masih duduk di bangku Sekolah Dasar dan kaset BIG menduduki tahta hakiki di tape player mobil hampir semua orang yang pernah saya temui. Ada rasa penasaran dan tidak terima di benak saya, suara lirih yang mengatakan, "Masa sih musisi ini lagu yang seru cuma ini? Lainnya nggak?"

Snob abis.

Saya juga saat sedang pasang headset suka nggak sadar kanan-kiri

Dibandingkan kompilasi yang sering membuat saya fidgety (mentally), saya lebih damai dan bahagia saat mendengarkan diskografi. Serius. Bahkan urutan track pun tidak saya utak-utik, seratus persen patuh mengikuti bagaimana si musisi mengemas karya mereka. Biasanya sih paling-paling satu album saja, tapi kalau kebetulan bisa mendengarkan musik secara terus-terus dalam waktu lama ya kadang-kadang dari rilisan terakhir hingga lagu debut terputar semua. Apalagi kalau diskografi sang musisi baru selemparan gombal. *Batuk rejan sambil melirik Lorde*

Jadi step-by-step yang biasanya saya lakukan setelah setiap kali memasukkan ear-in headset ke dalam masing-masing lubang telinga adalah sebagai berikut:

  1. Kenali mood pada waktu itu (ini penting).
  2. Musiknya mau dipakai menemani nguprek laptop atau perjalanan?
  3. Tentukan musisi mana yang sedang ingin didengarkan.
  4. Buka diskografinya, putuskan album mana yang paling sreg.
  5. Pencet play.

Ya sudah. Memang cuma demikian, kok. Nice edge dari menjadi tipe pendengar diskografi ini adalah, ada beberapa musisi yang saya sampai hapal di luar kepala semua lirik lagunya. Hapal pula lagu apa lokasinya ada di album mana dan dirilis tahun berapa. Paham betul urutan rilisnya seperti apa. Sungguh expertise sepele yang tidak kontributif terhadap perkembangan Curriculum Vitae diri sendiri.

Segelintir musisi yang paling sering saya sambangi diskografinya untuk didengarkan sehari-hari: Arashi (tidak tersedia di Spotify maupun streaming services pada umumnya), KalafinaLorde, ONE OK ROCK, Linkin Park, Imagine Dragons, Ayumi Hamasaki, Fall Out Boy, Pentatonix, daaan... Taylor Swift (yang belakangan ikut bergabung lagi ke streaming services).


Come on, people. Judge me hard.



Ada yang lebih suka menyetel diskografi juga nggak dibandingkan bikin playlist? Nggak mungkin kan saya sendirian saja? Atau jangan-jangan memang begitu? Huhuhu.

z. d. imama
Share:

16 comments:

  1. Halo Kak Zulfa!

    Aku juga termasuk yang suka dengerin lagu dari diskografi. Tapi bukan berarti lebih memilih diskografi dibanding playlist sih. Tapi yang pasti selalu aku dengerin dari diskografi adalah One ok rock, Perfume, Figura renata, Banda Neira, BigBang, Bruno mars, Jay Park, dan beberapa musisi lainnya eheh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga nggak benci playlist sih. Cuma memang lebih nyaman dan tingkat kepuasan lebih tinggi saat mendengarkan lagu dari diskografi dibandingkan playlist. Alhasil daripada bikin playlist, lebih pilih nguprek diskografi.

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. *Sigh*
      Baru mau dibalas sudah ilang aja...

      Delete
  3. kebetulan bukan spotify user aktif, jadi gak punya playlisy khusus, tapi emang memudahkan banget lho spotify, pernah gak bawa lagu anak2 di mobil, akhirnya cari2 di spotify dan semua senang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Spotify memang enak kalau mau iseng-iseng cari lagu random. Saya saja pernah hunting soundtrack telenovela di situ. Hahaha.

      Delete
  4. Saya lebih seneng kompilasi sih, di play random pula haha ya terkecuali untuk G n R, eh itu pun sesekali sih diplay satu album penuh dan tanpa random

    ReplyDelete
  5. Kalau saya lebih suka yang play list sih hehe... walau sesekali nyoba yang diskografi..

    ReplyDelete
  6. Kalau saya kebalikan ekstrem berarti, saya ga pernah pakai playlist. Dulu waktu jaman koleksi mp3 di hardisk, semua diload lalu di shuffle. Jadi abis Guns n Roses bisa Didi Kempot, abis itu Waljinah, abis itu Ariana Grande. Dulu temen sebelah kamar menjuluki saya kayak di kios mp3 bajakan hehehe... Sekarang begitu ada Spotify/Apple Music jadi lebih bener, tinggal ngikut playlist yang udah dibuatin.

    ReplyDelete
  7. Kalau aku tergantung mood. Kalau sedang ingin mendengarkan si Charlie Puth (misalnya), ya aku dengarkan satu album penuh. Atau mood sedang galau, ya tinggal ke playlist kompilasi khusus lagu galau. Eaaa...

    ReplyDelete
  8. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
  9. Aku bukan penggemar musik jadi jarang ndengerin lagu. Pas lagi iseng pengen denger musik sih senengnya ngumpulin satu judul lagu yang dinyanyiin oleh beberapa orang dengan versi beda-beda. Ya jadinya agak wagu dan monoton.

    Kalau untuk naikin mood pas kerja, lebih seneng streaming di smoothjazz.com, malahan ngga tau siapa yang nyanyi dan judulnya apa.

    ReplyDelete
  10. Hahaha I'm not judging, I do the same thing! Also we have similar taste in music. That's cool. ;)

    ReplyDelete
  11. Aku anaknya playlist banget sih. :))))

    ReplyDelete
  12. Memang lebih enak Discography sih ketimbang playlist. Karena ya... kebanyakan kan yang di playlist itu lagu yang hits semua (bisa juga 'single' ya), sedangkan ada banyak lagu-lagu yang di Discography yang nggak kalah enaknya dengan lagu yang dijadikan single.

    Dan lebih enak lagi kalau album itu dibuat jadi album konsep gitu (kayak ada alur ceritanya), misalnya Drones (Muse), A Thousand Suns (Linkin Park).

    ReplyDelete

Have you left me any comments? No? Why? Do not hesitate to write down your feedback so I can visit your blog in return!