Thursday, 29 December 2016

BIRTHDAY.. and I.

Thursday, December 29, 2016 9

Bulan Desember adalah bulan kelahiran saya. Hence this blog's name, people. Beberapa sahabat terbaik saya, termasuk guru SMA sendiri (yang mana saya telah memberikan hadiah ulang tahun berupa.. MEMINTA IDOLANYA MENGUCAPKAN SELAMAT ULANG TAHUN), juga lahir di bulan ini. Saya sih hepi-hepi aja lahir di penghujung tahun.. soalnya bisa menganggap diri sendiri lebih muda dari kawan-kawan yang lahir di tahun yang sama. Hahaha. Apalagi nama bulannya bagus. "December" atau "Desember" itu entah kenapa di benak saya punya kesan yang menenangkan. Dibandingkan Januari pun, aura "restart" pada bulan Desember menurut saya pribadi lebih terasa.

My parents stopped celebrating my birthday (with simple festivities like lunch with extended family members and some kids from the neighborhood) after I turned... I don't exactly remember, FIVE? Or seven? Anyway, things got real sour when my father lost his job (until now, but I'm used to it) so birthday parties were out of the question. It would be telling lies if I say I was totally fine with that. I envied my classmates, who brought a cake to the classroom on lunch break on their birthday. I envied my friends, who invited their "BFFs" over for celebration and were allowed to have "Sweet Seventeen" party. I hated that I was always asked to chip some money in for the sake of throwing "birthday surprise" for other people but they never did the same when my birthday came.

Yeah, friendship is aaaaaawesome.

I was insecure (still am) and somewhat emo and the loneliest day in my life turned out to be my own birthday. Kan kampret. Kebiasaan ini pun berlangsung bertahun-tahun lamanya, yang menyebabkan saya suka keki sendiri tiap kali bulan Desember datang kembali. Saya kepengin juga dong, ulang tahun saya punya kesan yang menyenangkan. Atau minimal, tidak dihabiskan dengan nge-down sendirian kayak manusia nggak bersyukur (kalau kata tetangga). Akhirnya saya memberanikan diri untuk iseng-iseng mengadakan Birthday Project, sebagaimana tertera di postingan beberapa bulan silam.

Masalahnya adalah:

Saya lupa sama sekali tentang proyek ini.

Maklum seumur-umur nggak pernah excited menghadapi ulang tahun. Sekalinya bikin acara udah seketika kelupaan aja. But I met some people and asked them, though (biarpun jumlahnya kayaknya nggak nyampe 22). Beberapa mengatakan hal yang menyenangkan, yang bikin anak insyekyur macam saya terharu-biru. Tapi ya ada juga yang agak males-malesan jawabnya. Hahaha. Entah malu entah nggak pernah mau repot-repot memikirkan impression mereka terhadap saya. Coba yuk kita rekap satu per satu. Sebisanya saja juga nggak apa-apa... 


Saya main bareng Yohanna, biasa dipanggil Yoyo, salah satu adik angkatan di kampus yang kebetulan sama-sama menggemari peridolan Jepang khususnya talent-talent Johnny's Entertainment. Yoyo bilang saya ini orangnya enak untuk diajak ngobrol tentang apa pun―hal senada juga diutarakan adik angkatan SMA, Belinda dan Tika. Ellya, yang seangkatan dengan saya pun mengamini. Tetapi dengan sangat menyesal, saya harus jujur bahwa kemampuan "enak diajak ngobrol tentang apa pun" itu sesungguhnya punya syarat akbar: sudah cukup nyaman dengan lawan bicara. Seandainya mas-mas kantor sebelah mendadak ngajakin bahas pernikahan di dalam elevator sih yang ada saya bengong sepanjang dia ngomong.

Beberapa teman-teman yang dapet kenal berkat kemajuan teknologi (baca: Internet) juga sempat saya temui. Di antaranya ada Kak Chika, yang rajin meninggalkan jejaknya di blog ini (dan sekaligus merampok sekian banyak serial di pertemuan pertama). Katanya sih, saya ini sama persis kayak di foto. Oke minimal saya nggak akan kena tuduhan penipuan berdasarkan potret diri lah ya. Kemudian ada Mbak El, yang bilang kalau saya anaknya ghumash sekali dan kalau cerita heboh. #KemudianHening #MaluSampaiTahunDepan. Mbak Azza malah mengatakan bahwa saya lembut-lembut manis, yang mana sukses membuat saya ingin membenamkan diri ke perut bumi lalu berpetualang dikejar T-rex saking malunya. Sementara menurut Mas Wahid (yang jawabannya paling males di antara responden lain), saya tuh orang Solo banget. Mbuh iki karepe jane kepiye. Bebas, Mas. Bebas.

Saya juga sempat jalan-jalan ke Ragunan bersama Dhino (pengalaman perdana ke kebun binatang ibukota negara haha), ngobrol banyak sampai serak, ketawa-ketiwi haha hihi sampai udah makan pun lapar lagi, dan ujung-ujungnya―berhubung dia paham bahasa Jawa―saya justru mempromosikan secara berapi-api band indie kacau bikinan teman SMA saya di kampung halaman: Fisip Meraung, yang ulasannya sempat saya tulis di blog ini juga. Amek, you should pay me for spreading people's awareness about your #RakjatKetjil band. Dhino bilang, saya ini tipe orang yang pintar dan mandiri. Barangkali kelak di kehidupan berikutnya, saya akan terlahir kembali sebagai mesin ATM.

...Siapa lagi ya, yang main sama saya lalu berkenan ngasih feedback tentang personal impression? Lupa. Seriusan. Tampaknya memang sudah nasib jadi orang yang awkward dalam pergaulan. Mau tanya "What do you think about me?" saja malunya setengah mati. *guilty grins*


But even good things could happen in my birthday this year. Walau seumur-umur nggak pernah merayakan ulang tahun semasa remaja sampai dewasa (secara hukum) dan di kalangan pertemanan pun cuma tersisa memori menyebalkan, kali ini saya mendapat kejutan manis: ditraktir makan siang oleh Pak Bos pada hari ulang tahun. Makan siangnya enak banget pula. Sebagai bocah kos-kosan yang hidup bermodalkan Indomie, dapat tawaran makan gratis di restoran adalah perkara yang layak disujudsyukurkan. Apalagi malamnya saya juga ditraktir seseorang―sebut saja namanya B―makan salmon (boleh nambah pun). Yaa Rabb.. dipikir-pikir gampang banget dibikin seneng ya, saya ini? Anaknya sungguh murah.

2016 may fuck up the world, but personally, I think this year is more packed with good things and nice surprises. Because at the very least, 2016's birthday of mine is not going to be a day I dread remembering.

Buruan libur tahun baru kenapa sih, Pak Bos?

z. d. imama

Friday, 23 December 2016

Attachments (should be) for e-mails only

Friday, December 23, 2016 9

Sebagai self-proclamation, saya anaknya terbilang sulit sekali baper pada orang lain. Gampang terpesona sih iya. Gampang banget malah. Semudah memencet tombol 'Like' dan 'Share' di postingan Facebook. Lihat ada mas-mas random lagi main sama kucing liar di warung nasi uduk saja sudah langsung meleleh. Sama benda mati macam Jaeger dan Gundam bisa tergila-gila. Tapi meskipun demikian, saya susah baper apalagi jatuh cinta. Jadi kalau misalnya kalian memergoki saya bikin tulisan galau atau berbunga-bunga di Twitter atau Facebook yang terasa mencurigakan, kemungkinan besar itu cuma 1) hasil fantasi, atau 2) terinspirasi dari peristiwa yang terjadi pada orang lain. Harap tenang, pemirsa. Lagian anak insekyur dengan low self-esteem macem saya ini kalau baperan kok ya agak-agak kontradiktif gitu rasanya.

Meskipun saya terbiasa men-detach aspek perasaan setiap kali curhat, ngobrol, dan main dengan orang (khusus lawan jenis, tentu saja, sebab orientasi pribadi masih heteroseksual).. saya entah sejak kapan punya kecenderungan meng-attach memori ke benda-benda mati. Kayaknya kebiasaan ini sudah dimulai dari jaman sekolah, karena waktu itu niatnya sih untuk memperkuat ingatan, jadi serpihan informasi 'disebar' dan 'ditempel' ke segala penjuru. Maklum, di negeri ini kan siswa rata-rata dijejali materi hapalan superbanyak, bahkan pelajaran eksakta pun diminta menghapal alih-alih pemahaman konsep. Pantas saja kalau kata hasil survey data, nilai PISA Test Indonesia 42% di bawah Level 2 yang mana jadi patokan standar.

Sampai mana kita tadi?

Oh, well.

*Tenggelam dalam kenangan*

Walaupun terdengar seru, sebenarnya kebiasaan saya ini sedikit banyak juga merepotkan. Gimana nggak? Melihat suatu gedung, misalnya, yang terbersit di benak bukannya nama gedung tersebut tapi justru, "The Building Where He Ripped Me From My Sanity". Atau lagi beres-beres kamar dan bongkar lemari baju kemudian nemu dress tertentu. Ingatan saya lebih mengenal pakaian itu sebagai "The Dress I Wore That Night When You Borrowed My Money and Never Give It Back". Kan kampret. Baperan enggak, tapi dihantui kenangan ke mana-mana. Kecenderungan meng-attach memori ini membuat saya tidak mudah lupa terhadap banyak hal, termasuk perkara-perkara yang tampaknya lebih baik dikubur di masa lalu. Apalagi didukung oleh kemampuan ingatan audio saya yang tokcer; sekali dengar bisa terngiang-ngiang berhari-hari, keingetan terus sampai mati.*

Attachments, should be limited only for e-mails.


Bukan ke orang lain, karena bisa-bisa aja dia nanti kepincut yang lain, yang lebih cakep, lebih kaya raya, lalu meninggalkan kita. Bukan ke sebuah relationship tertentu. Manusia bisa berubah, hubungan dan tingkat kedekatan bisa merenggang. Ngotot memaksakan hubungan alias ikatan juga nanti jatuhnya dapat status doang tapi nggak ada signifikansi apa-apa secara spiritual. Halah. Bukan pula terhadap barang-barang kepemilikan karena toh pas disamperin malaikat Izrail juga nggak bisa bawa apa-apa (padahal sebenernya saya pengin bawa beberapa buku favorit saya.. kan lumayan buat dibaca di kuburan sambil nunggu hari kiamat). Dan tentu bukannya dengan sengaja justru meng-attach memori ke benda-benda tak berjiwa, yang mana secara otomatis akan membuat barang-barang itu tidak lagi sekadar 'benda mati'.

Lha ning kudu piye aku raiso mandek...

Seringkali, saya menikmati nostalgia yang didapat dari attached memories ini sih. Teringat hal-hal menyenangkan, konyol, bodoh, bahkan memalukan yang terjadi di suatu tempat. Atau saat saya mengenakan sesuatu. Atau memegang sesuatu. Rasanya seolah-olah saya tengah menebar horcrux. Memori yang dilekatkan pada benda-benda tadi seolah menjadikan saya immortal, padahal yang mengerti kisah khusus di balik eksistensi mereka ya cuma saya sendiri. Oh, bagi yang nggak tahu apa itu horcrux, silakan buka halaman ini. Saya tidak akan menghakimi, tapi kok BISA-BISANYA SIH NGGAK FAMILIER DENGAN ISTILAH POP-CULTURE SE-MAINSTREAM ITU? #TetepNgomel

Ada nggak yang punya kebiasaan menyusahkan seperti saya ini?

z. d. imama

*Terms and conditions: hanya ketika saya fokus 100% dalam mendengarkan informasi terkait.

Wednesday, 14 December 2016

I am A Hero.. But Not Really.

Wednesday, December 14, 2016 18

Saya menulis postingan review bebas (major) spoiler ini dengan perasaan gondok. Bukan karena saya baru saja menyaksikan karya jelek, tapi saya kesal bukan main justru karena mempertanyakan kenapa film seasyik ini kalah exposure dengan Train to Busan, yang mana juga saya ulas beberapa bulan lalu. Padahal secara tanggal rilis, I am A Hero keluar lebih dulu. Mungkin masalah kurang promosi worldwide juga sih. Dan sebagai sesama zombie flick dengan latar sentral negara Asia, sulit untuk tidak membandingkan I am A Hero dengan Train to Busan yang memperoleh acknowledgement sebesar itu (bahkan dapat pujian dari Stephen King). And that alone already puts this movie at a disadvantage.

But I have to be fair. I am A Hero offers another Asian version of zombie movie that is really, really fresh, very Japanese, and much LESS STRESSFUL for the audiences than Train to Busan. Some scenes are quite funny, even. Seriously. And I love everything which doesn't make me suffer from stress. Plus, I am A Hero succeeds in making zombies one serious threat, showing―and convincing―us how terrifying they are again.

Saya juga cukup gembira karena minimal dalam I am A Hero tidak ada karakter anak kecil bersuara cempreng nan berisik yang merengek-rengek (disebabkan oleh alasan apa pun). Sumpah saya tidak bisa bersimpati kepada tokoh Su An di film Train to Busan itu. Bawaannya pengin lempar dia keluar gerbong. Go ahead, people. Hate me and judge me.

Poster resmi filmnya.

Protagonis di I am A Hero adalah Suzuki Hideo (diperankan oleh Oizumi Yo), seorang pria berusia pertengahan 30-an yang menyukai komik dan punya cita-cita menjadi komikus terkenal. Masalahnya, naskah-naskah dia belum ada yang tembus serialisasi majalah, meski 15 tahun silam Hideo pernah berhasil meraih Newcomer Award di sebuah kompetisi komik. Sehingga Hideo pun mau tidak mau harus puas menjadi salah seorang anggota tim asisten komikus lain bersama tiga orang kolega. Sambil berusaha tetap optimis, tentu saja. VIVA LA GENERASI OPTIMIS!!

Berhubung penghasilan asisten komikus cenderung pas-pasan, Hideo pun menumpang tinggal di apartemen murah yang disewa pacarnya, Tekko (diperankan oleh Katase Nana), yang mulai tampak jenuh dengan kondisi status quo. Di mata Tekko, Hideo yang 'gitu-gitu melulu dari dulu' makin tidak bisa diharapkan. Walau secara penulisan huruf kanji nama "Hideo" mempunyai makna "pahlawan" alias hero, di dunia nyata dia dipandang tak lebih dari seorang pecundang kebanyakan mimpi. Hobinya doang yang keren: punya hunting rifle beneran sekaligus lisensinya, yang disimpan di dalam lemari tersembunyi. Ada satu kutipan kata-kata Tekko kepada Hideo yang saya suka sekali: "At this point, what you're having is not a dream anymore. It's a delusion!" 

Ketika masih mesra.

Life of the proletarians.

Seiring dengan Hideo menjalani hari-hari mediokernya sebagai manusia medioker, the ball of plot rolls forward. Tokyo dijangkiti penyakit misterius yang membuat penderitanya mengalami gejala mirip flu. Namun tak lama berselang, orang-orang yang terjangkit akan bertingkah agresif bahkan menyerang manusia lain. Virus ini―berdasarkan informasi yang menyebar di forum-forum internet―disebut virus ZQN (dibaca "zokyun") dan menular melalui kontaminasi darah. Hideo pun mendapati dirinya harus kabur seorang diri dari zombie outbreak yang sudah tidak lagi terkendali, sebelum akhirnya berpapasan dengan anak SMA bernama Hayakari Hiromi. Mereka pun melarikan diri berdua menuju ke Gunung Fuji, sebab menurut diskusi di forum internet, virus ZQN tidak tahan terhadap hawa dingin.

All hell already broke loose.

Mending ngibrit bersama daripada sebatang kara.

Dalam perjalanannya mencari kitab suci menuju Gunung Fuji, Hideo dan Hiromi bertemu Yabu (diperankan oleh Nagasawa Masami) beserta sekelompok survivor yang bertahan di kompleks taman hiburan sekaligus pusat perbelanjaan Fuji Outlet Park. Meski awalnya senang karena dapat teman, Hideo lama-lama sadar bahwa komunitas survivor ini pun sedang kisruh karena saling berebut komando, dan betapa senapan berburu yang dimilikinya menjadi incaran semua orang. Padahal seumur-umur, hunting rifle itu belum pernah dia tembakkan pelurunya barang sekali pun. You know, Japanese and their strict law on weaponry blah blah blah.

Sangar-sangar begini ternyata perawat, lho.


Geng para manusia yang berhasil bertahan hidup.

I am A Hero, yang mana diangkat dari komik berjudul sama, disutradarai oleh Sato Shinsuke, seorang veteran dalam membuat adaptasi live action untuk komik genre action. Film Sato sebelumnya yang saya suka banget adalah GANTZ dan Toshokan Sensou. Menurut saya, karya-karya Sato hampir selalu dapet movie experience-nya. I am A Hero pun demikian. Begitu banyaknya film bertema zombie outbreak menyebabkan penonton menyadari bahwa ada semacam formula alias rumus tipikal, tetapi BAGAIMANA rumus-rumus itu digulirkan bersama kisah adalah suatu hal yang menarik untuk disimak. And I am A Hero pulls it off. It has a believable story which won't even care to explain anything that our protagonist doesn't give a damn. The center of the story is crystal clear: Hideo. That's it.

THIS MOVIE IS ALSO A VISUAL FEST. Dear Lord, it is beautiful beyond belief and amazingly scary at the same time. Wide shots bertebaran di mana-mana, dengan puluhan bahkan mungkin ratusan figuran, sehingga memberikan kita sebagai penonton gambaran situasi chaotic yang sangat nyata dan mendetil. It stuns me to no end, how this movie chooses to rely on practical effects instead of CG. When you see a zombie coming, you see a person. It's always someone in (extraordinarily well-done) makeup that looks so real. Nothing feels fake enough to remind your brain that this is only a movie.

Never let your guard down, fellas. Threat comes when it's least expected.

Life lesson learned: DO NOT peek into someone's house when you can't enter.

And have I said that, despite having several funny scenes, I am A Hero is brutal? Let me tell you: IT IS UNFORGIVING. Film ini tidak malu-malu dalam memperlihatkan 'perjuangan' manusia melawan para zombie, dari menggunakan benda tumpul, benda tajam, hingga senjata api. Garang abis. Train to Busan memang lebih memilih fokus pada karakter-karakter manusia (yang masih belum terinfeksi), namun I am A Hero justru tidak enggan memberikan spotlight tersendiri pada zombie-zombie mereka. Sebab setiap zombie tadinya adalah manusia, dan setiap manusia memiliki keunikan tersendiri. And the distinctive nature of each zombies is what makes them so scary.

Walau terus terang saya lumayan bete dengan tokoh Hiromi yang nyaris sepanjang durasi 157 menit jadi constant liabilities instead of support, saya cukup menyukai bagaimana cerita I am A Hero diakhiri. Barangkali kalian akan ada perasaan, "Lah kok udah tamat gini filmnya? Terus gimana?" tetapi saya pikir ending-nya justru masuk akal. Kadang-kadang memang hidup penuh ketidakpastian kok. Hahaha. Barusan semoga bukan numpang curhat, ya.

Our unheroic "hero".

Nilai I am A Hero, menurut saya, adalah 8.8/10. Tolong dimaklumi poinnya tinggi, habis saya suka sekali. Beneran. Barangkali malah lebih suka ini ketimbang Train to Busan (due to major reason mentioned before: nggak ada anak kecilnya). Berhubung I am A Hero nggak dirilis di jaringan bioskop Indonesia, untuk bisa menyaksikan ini kalian harus geledah internet dulu atau ngajak saya ketemuan, traktir makan, lalu kita transaksi data.

Hidup Yapan!

z. d. imama

Tuesday, 13 December 2016

Quick Look at RedDoorz: a review

Tuesday, December 13, 2016 6

Long weekend kemarin, seorang teman saya yang bernama A datang jauh-jauh dari luar kota ke Jakarta demi menyaksikan acara Pandji Pragiwaksono, "Juru Bicara Stand-Up Comedy World Tour". Berhubung kenalan dia yang ada di Jakarta sedikit kayaknya emang cuma saya, A minta tolong kepada saya untuk menemani mencari lokasi penginapan yang sudah dia booking beberapa hari sebelumnya. Usut punya usut, A memesan satu kamar di RedDoorz, yang memproklamasikan diri mereka sebagai Standardized Budget Accomodation. Jadi RedDoorz ini bukan hotel yang ada fasilitas ini-itu, tapi mereka sudah memiliki beberapa standar kenyamanan tertentu.

Iya kayaknya gitu.

Berhubung saya sendiri baru sebatas pernah dengar soal RedDoorz dan belum pernah melihat sendiri wujud aslinya, saya oke-oke saja menerima ajakan A ini meskipun Jakarta belakangan kalau siang panasnya ampun-ampunan. Hitung-hitung bisa dapat pahala bantu teman, sekaligus dapat materi untuk bikin postingan blog! Yey. Emang saya anaknya agak-agak kalkulatif, mohon dimaklumi. Untung lokasi RedDoorz yang dipesan A tidak terlalu sulit ditemukan, yakni belakang WTC Sudirman, Jalan Karet Bek Murad No. 73. Minimal kami tidak kelamaan muter-muter.

Di properti yang sama tersedia kamar untuk tiga jaringan akomodasi sekaligus.

RedDoorz merupakan sebuah jaringan akomodasi terjangkau yang belum lama berdiri, baru sejak pertengahan 2015. Saya menolak untuk menggunakan kata "murah", karena kalau nggak punya duit mah apa-apa tetep terasa mahal. Masing-masing properti RedDoorz yang tersebar pun memiliki 'pengelola' yang berbeda, dengan aturan yang berbeda pula. Beberapa RedDoorz melarang pasangan non suami-istri menginap dalam kamar yang sama, jadi di meja resepsionis tamu akan diminta menunjukkan bukti berupa surat nikah. Tapi tentu saja ada yang tidak mempermasalahkan hal itu, jadi sebaiknya sebelum memutuskan akan sewa kamar di RedDoorz mana, baca baik-baik aturan dan keterangan yang tertera di masing-masing properti (bisa dilihat di situs).

Resepsionis RedDoorz jadi satu dengan Upscale Suites.

Kolam ikannya sepi ikan. Kasihan...

Saat saya dan A tiba, di resepsionis sudah ada beberapa orang mengantri.

Jam check-in RedDoorz juga bervariasi di tiap properti. Ada yang sudah bisa masuk pukul 12:00 siang, ada pula yang lebih lambat. Untuk RedDoorz belakang WTC Sudirman ini tamu bisa check-in mulai pukul 14:00 (atau paling tidak setengah jam sebelumnya) hingga 21:00 WIB. Sementara check-out bisa dilakukan sejak pukul 07:00 pagi hingga 12:00 siang. Proses check-in berlangsung cepat dan mudah, cukup menunjukkan KTP dan pengunjung hanya diminta meninggalkan deposit senilai Rp100,000 saja, yang mana lebih murah dibandingkan RedDoorz Mangga Besar yang mematok deposit sebesar Rp300,000 seperti dikisahkan Mas Matius Teguh Nugroho di sini. Silakan dicek jika kepengin iseng-iseng melakukan perbandingan.

1) Soal kamar dan fasilitas.

Petugas pun mengantar kami menuju kamar pesanan A yang ternyata letaknya cukup tersembunyi. Lorong yang dilalui terbilang remang-remang dan agak sempit. Maklum, akomodasi murah, eh.. terjangkau. Tapi minimal tidak butuh waktu lama untuk sampai di kamar yang dituju. Penampakannya sebagaimana tampak di bawah ini:

Kasurnya sih bisa untuk berdua, tapi sisa ruangan jadi nyaris tidak ada :))

Karena kasurnya muat dua orang, teman saya dapat dua handuk, dua air minum dan basic toiletries.

Isi tas toiletries: sampo, kondisioner, bath gel, sikat gigi.

Jika saya boleh jujur, RedDoorz berlokasi di Jalan Karet Bek Murad No. 73 ini nilai kualitasnya saya kasih mentok di 7.3/10 sebagai akomodasi yang diklaim standardized. Kamarnya terlalu sempit untuk sebuah kasur double, sehingga rasa-rasanya ruangan habis ludes cuma keisi tempat tidur. Celah di antara ranjang dan gorden (yang juga diselipi bedside table mini itu) saya taksir hanya sekitar 50cm. Bahkan kayaknya kamar kosan saya masih lebih luas, deh. 

Oke sih, memang ada AC yang menyala lancar dan tempat tidurnya luas nan empuk (atas izin A yang baik hati setengah pasrah, saya sudah ngetes baring-baringan di atasnya dengan nista). Namun sirkulasi udara di kamarnya jelek banget sampai-sampai ketika kami masuk pertama kali, baunya sangat pengap. Tidak ada ventilasi yang memadai. Sinar matahari nggak dapat. Mau pagi, siang, sore, petang, malam, kalau ingin suasana terang yaa.. harus menyalakan lampu. KONEKSI WI-FI SUPERLAMBAT. Mirip jalanan Jakarta yang maju enggan mundur mana tahan. Sinyalnya timbul tenggelam pula. Mending nggak perlu dikasih wi-fi sekalian lalu menekan harga sewa kamar daripada begini. Ada TV layar datar dengan channel-channel lokal, lumayan kalau mau nonton film dari laptop atau HDD bisa tinggal colok.

2) Soal kamar mandi.

Kamar mandi, penunjang hidup umat manusia.

Saya adalah tipe manusia yang nge-judge orang lain berdasarkan kondisi lemari pakaiannya, kulkasnya, dan kamar mandinya. Sama satu lagi: manajemen files di harddisk-nya. Jadi ketika masuk hotel, penginapan, atau semacamnya, kaki saya langsung menuju kamar mandi lalu cek sana-sini. Ngetes ini-itu. Bahkan apakah cermin kamar mandi bisa dipakai ngaca atau penuh kerak saja saya teliti.

First impression: saya tidak impressed dengan kamar mandinya. Cenderung redup gitu. Apalagi shower terbilang tidak berfungsi baik karena airnya muncrat-muncrat ke mana-mana kayak orator demonstrasi di balik toa. Keran di samping toilet yang gunanya buat cebok pun mati. Dipencet kayak apa juga nggak keluar apa-apa. LAH GIMANA INI MASA TAMUNYA SURUH CEBOK DI WASTAFEL? Mana nggak disediakan gayung air pula. Untung teman saya A anaknya cukup tabah―atau hanya kelewat pasrah―dan dengan santai mengatakan, "Udah nanti aku bisa nampung air dulu di botol plastik dari wastafel buat cebok, kok."

*hening sampai tahun depan*


KESIMPULAN: Saya cenderung kurang menyarankan RedDoorz yang terletak di dekat WTC Sudirman ini. Yakin deh, ada akomodasi lain yang harganya mirip-mirip (mulai dari Rp200,000) namun dengan kualitas yang lebih baik. Tempat ini sebetulnya nggak buruk-buruk amat juga sih.. tapi bukan kualitas yang membuat kita ingin mengulang dua kali. Barangkali kemarin karena kebetulan long weekend dan semua orang sepertinya sungguh bernafsu pergi liburan, tempat yang masuk budget A dan dekat dengan lokasi show-nya Pandji ya hanya ini.

Di antara kalian ada yang pernah coba menginap di RedDoorz juga nggak?

z. d. imama

Monday, 5 December 2016

Moana: 103 Minutes of Pure Bliss

Monday, December 05, 2016 10

Saya suka sekali menonton film animasi.. yang menarik perhatian saya. Iya, saya anaknya agak picky soal film. Kalau nggak tergelitik untuk nonton ya dilewat. Bahkan meskipun saya cenderung suka dengan film animasi (apalagi Disney), penting bagi saya untuk menanti perasaan kepengin itu nongol ke permukaan jiwa (dan tentu saja dilengkapi dengan restu saldo rekening). Masalahnya, saya terus terang nggak pengin-pengin amat nonton Moana. Alasan saya shallow dan sederhana: judul filmnya pakai nama tokoh protagonis. Mungkin saya cukup trauma dengan booming beberapa waktu silam di mana judul-judul sinetron lokal semuanya merupakan nama tokoh protagonisnya yang rata-rata menye-menye, gemar disiksa dan enggan melawan, tapi ujung-ujungnya live happily ever after karena sosok cowok kaya nan tampan yang suka sama dia.

Tapi ini kan film Hollywood?

Ya namanya juga keburu males duluan. Saya bisa apa. Lagipula, setelah judul-judul yang lucu seperti Brave, Wreck-It Ralph, Tangled, Frozen, Big Hero 6, Zootopia.. masa terus mau pasang nama protagonisnya doang tanpa embel-embel apa pun? Bagi saya itu sangat kentang. Kena tanggung. Cuma, berhubung saya kena rayuan dari Kak Bonni Rambatan (yang namanya juga tertera dalam postingan ini), akhirnya hari Minggu kemarin, 4 Desember 2016, saya menyeret pantat besar ini dari kamar kosan menuju ke bioskop terdekat.

And it was one of the best decisions I've ever made in this shitty 2016.


Everything. Looks. Glorious. Setiap adegan rasanya sungguh screenshoot-worthy, dengan color palette dan aura film yang bikin saya kepengin buka kaos dan cuma pakai beha lalu menari hula-hula di studio sambil ngemil nanas. Sayang niat itu harus diurungkan karena nanti saya bisa diusir sekuriti... ditambah lagi di dalem studio bioskop AC-nya kenceng jadi saya takut masuk angin. Maklum gadis dusun.

Story-wise, kisah Moana terbilang sederhana. Atau lebih tepatnya, saya memilih menyampaikan cerita umum film ini secara simpel dan se-spoiler free mungkin. Moana, anak semata wayang kepala suku di pulau Motunui dipilih oleh samudera untuk mengembalikan jantung dewi Te Fiti yang dipercaya memiliki kekuatan penciptaan kehidupan. Dia harus berangkat bertualang mengarungi lautan luas meski ditentang keras oleh ayahnya, sebab kehidupan rakyat pulau Motunui mulai terancam dengan hilangnya ikan-ikan dan membusuknya hasil panen kelapa. Demi mengembalikan jantung Te Fiti, Moana perlu menemukan demigod bernama Maui, the one who stole the heart in the first place. Setelah mereka bertemu dan Moana tahu bahwa Maui ternyata hanya makhluk narsis yang baik hati, keduanya meneruskan petualangan dengan misi mengembalikan jantung Te Fiti yang dulu sempat dicuri Maui.

Baby Moana :3

Visual-wise, Moana sangat menyenangkan. Agak-agak mengingatkan pada Life of Pi, tapi yang ini versi animasi (namun karena mempertimbangkan bahwa Life of Pi sebagian besar gambarnya diambil di depan green screen, well.. you know what I mean). And have I said that almost every scene and cut from Moana is Instagram-worthy? Kalau saya yang jadi Moana, ngapain repot-repot mengarungi samudera mempertaruhkan nyawa. Mending foto-foto cantik di pulau Motunui terus diunggah ke media sosial.. siapa tahu dapet banyak likes terus bisa alih profesi ke endorser atau influencer. *dibacok massa*

Music-wise... ADOH CAKEP BANGET. Komposer utama Moana adalah Mark Mancina, yang mana sebelumnya saya sudah jatuh cinta dengan karya beliau lewat aransemen soundtrack film Tarzan (yang animasi tahun 1999, bukan yang ada Alexander Skarsgard dengan segala ototnya itu) dan August Rush. Lagu-lagu di Moana juga bagus-bagus, sampai-sampai tetangga kosan saya sudah lebih dari seminggu terakhir ini nge-blast album Original Soundtrack Moana tanpa henti dan tanpa lelah (yang mana baru kemarin saya sadari sebenernya dia nyetel lagu apa beberapa hari belakangan).

Character-wise, saya suka sekali betapa karakter Moana mengingatkan saya dengan Rapunzel di film Tangled. Bersemangat dan tidak menye-menye, tapi masih bisa merasa sedih dan meragukan apakah dia memang membuat pilihan yang benar. Hangat, menyenangkan, sekaligus manusiawi. Bagaimana Moana menunjukkan ekspresi lempeng di momen-momen tertentu makin membuat saya flashback ke Rapunzel. Bedanya, bentuk tubuh Moana sebagai anggota dari 'bangsa pekerja' lebih kekar dan berisi dibanding Rapunzel, yang cenderung thin and frail frame. And that is one more thing to love about her. Tokoh Maui sebagai rekan perjalanan Moana yang heboh, kepedean, dan sok yes pun benar-benar melengkapi. Bahkan ayam peliharaan Moana, Heihei, yang saya yakin 100% niatnya dibikin cuma buat comic relief pun tidak terasa seperti useless character.

The stupidest character ever in Disney's history. Hands down.

Partner in crime, not love interests.

Jika saya harus memberi nilai film ini, maka saya akan beri Moana skor 8.8/10. Poin harus saya potong 0.2 karena saya tetap nggak suka sama pemilihan judulnya. Hahaha. Maaf ya saya anaknya dangkal begini. But one thing is clear: if you happen to have not watched this movie yet, run to the nearest or cheapest cinema and buy yourself a ticket. It will be a fun ride, a happy movie experience. Moana sangat memanjakan mata dan telinga kita. Oke, minimal saya deh.

By the way, di awal penayangan kita akan disambut sebuah short movie yang juga menghangatkan hati, kyut, dan cukup menghibur. Jadi jangan telat masuk! Sayang kalau kelewatan. Kemudian di akhir film ternyata ada satu after-credit yang menurut saya sih lucu... Belakangan Disney, sejauh pengamatan saya, tampaknya makin cerdas dalam menyelipkan jokes-jokes dalam dialog mereka. Kebanyakan juga nyindir tipikal film mereka sendiri sih. Hihihi.

Terima kasih Kak Bonni atas ajakan nontonnya!

z. d. imama

Thursday, 1 December 2016

The Pain of ID Cards' Pictures

Thursday, December 01, 2016 9

Tulisan ini niatnya akan dijadikan postingan terakhir di bulan November, tapi ada daya, justru jadi postingan terawal bulan Desember. Tanpa sadar sudah akhir tahun aja nih 2016. Saya tampaknya mabok sepanjang tahun sampai-sampai nggak ngeh kalau tinggal sebulan lagi sampai kalender berganti ke 2017.

Anyway..

Sebagai manusia yang lahir di bulan Desember (hence this blog's head title: That December Girl), sejumlah kartu-kartu dan dokumen identitas saya akan kedaluwarsa pada bulan yang sama pula. Makanya perlu buru-buru diperbarui supaya tidak repot di kemudian hari. Desember tahun lalu, paspor saya habis masa berlakunya. Desember tahun ini, giliran SIM C saya yang harus diperpanjang. Bukannya takut kena tilang atau terjaring razia yang berujung uang melayang, tapi saya sebagai anak baik-baik mah memang berusaha taat aturan. Hehehe. Berhubung saya gadis rantau, saya berburu info kiri-kanan demi mencari tahu apakah perpanjangan SIM C bisa dilakukan di Jakarta, sehingga saya tidak harus pulang kampung dan tidak masuk kerja (yang berdampak gaji kena potong karena belum dapat jatah cuti tahunan).

Ternyata bisa! Thank God.

Mobil ajaib yang jadi malaikat penolong saya.
(Jadi maksudnya gimana? Dia ini mobil apa malaikat?)

Perpanjangan SIM melalui Pelayanan SIM Keliling (alias... PSK?) prosesnya cepat dan mudah. Saya hanya perlu menyerahkan selembar fotokopi SIM lama beserta aslinya dan fotokopi KTP ke petugas, mengisi formulir, kemudian menunggu giliran foto. Biayanya juga tidak mahal-mahal amat. Cukup Rp150,000 dan itu sudah termasuk ongkos pulang-pergi ke lokasi mobil PSK mangkal dengan naik ojek online. Entah sejak kapan layanan ini tersedia di Jakarta, tapi terus terang saya baru tahu dan merasa amat terbantu.

Nah, di babak berikutnya saya akan membahas hal krusial yang menjadi judul tulisan kali ini. Setiap kali mengurus surat dan dokumen-dokumen identitas, pasti ada yang namanya sesi foto. Okelah memang ada beberapa perkecualian yang memberi kita kesempatan untuk mengumpulkan sendiri foto diri yang kita mau, tapi untuk SIM, KTP, atau paspor tidak begitu. Kita harus mengantri sebagai rakyat jelata karena yang memotret adalah petugas bersangkutan dan dilakukan di ruangan yang tersedia.

MASALAHNYA:

Foto. Diri. Di. Dokumen. Identitas. Nggak. Pernah.  Bagus.

There. And to say that they are 'unflattering' is still an understatement. Hasil jepretan dari foto-foto KTP, SIM, maupun paspor ini kerap membuat saya syok karena yang kali pertama terlintas di benak saat melihat mereka adalah, "HAH ASTAGHFIRULLAH YA TUHAN SERIUSAN INI TAMPANG GUE?" saking mengenaskannya. I am no Olivia Munn alright, but I think I look better than sebongkah batu kali kusam yang permukaannya digambari sepasang alis dan dipakaikan wig keriting berponi.

Wait... or do I?


Setiap kali saya mulai merasa nyaman dan berdamai dengan (penampilan dan perwujudan) diri sendiri kok ya terus tiba-tiba harus ambil foto untuk identitas diri dan seolah diingatkan betapa jeleknya saya. Kray. Saya sungguh tidak paham. Ini yang salah siapa ya? Apakah ini dampak dari kamera yang digunakan petugas? Tapi jika dipikir-pikir, sekarang nyaris seluruh Satlantas dan kantor-kantor pemerintah menggunakan SLR/DSLR yang lumayan mihil untuk foto. Maka, meskipun kamera-kamera berbiaya tinggi itu rasanya sangat mubazir karena hanya dipakai untuk memotret wajah-wajah rakyat jelata tanpa memedulikan keseluruhan fitur dan fungsi yang ada, alasan "Kualitas kameranya jelek, sih!" tidak bisa lagi dianggap valid.

Lalu, jika begitu, jangan-jangan masalahnya memang terletak di tampang saya? Saya punya argumen yang melatarbelakangi perasaan insekyur ini. Setiap kali petugas bandara di pintu check in atau Polantas tengah melakukan pengecekan lalu surat-surat dan dokumen saya diperiksa, mereka nyaris selalu menatap muka saya dan foto identitas berganti-ganti sambil mengernyitkan kening. Seolah wajah yang terpampang nyata ke seluruh dunia ini membutuhkan revisi berkali-kali layaknya skripsi. Mau nggak mau kan jadi keki juga lama-lama? Sehingga akhirnya, setiap kali saya selesai memperpanjang masa berlaku suatu dokumen, dia akan saya simpan di dompet atau di laci dan tidak akan pernah saya tengok-tengok lagi kecuali jika terpaksa harus mengeluarkannya (untuk difotokopi atau untuk dikumpulkan ke pihak lain... *sigh*).

Kalau kata orang sih, "Cakep itu relatif, jelek itu nasib".

Jadi bagi kalian yang foto-foto di kartu identitasnya bisa cakep, saya iri deh. Sumpah. Iri dengki sekali. Kalian seharusnya bersyukur karena ada orang-orang yang ditakdirkan tidak seberuntung kalian, contohnya ya saya ini. Ahahaha ~

z. d. imama